RAIN

Jaehyun x Taeyong

.


Ia membenci hujan.

Lee Taeyong. Pemuda berusia enam belas tahun itu memang tak pernah menyukai fenomena alam yang satu itu. Baginya hujan itu mengerikan dengan awan mendung dan petir menyambar yang terkadang menemani, membuatnya semakin tak menyukai hal satu itu. Meski ia suka pelangi setelah hujan, meski ia begitu mencintai bau tanah yang basah setelah hujan, entahlah, ia tak pernah menyukai hujan itu sendiri.

"Yongyongie~"

Taeyong menoleh, melihat Jaehyun menyapanya dengan tidak sopan. Ia memukul kepala Jaehyun dengan buku yang ia pegang, buku yang sudah ia gulung sedemikian rupa. Tak keras, tapi cukup menciptakan protesan dari orang itu bersama gerutuan dari bibirnya.

"Aku ini lebih tua darimu. Panggil aku hyung, Jaehyun bodoh," seru Taeyong pada sosok yang kini memegang kepalanya yang sakit terkena pukulan maut.

Jaehyun cemberut. "Huh. Iya, iya," katanya. "Padahalkan itu panggilan sayangku untukmu, Yongyongie~"

Taeyong yang mendengar Jaehyun masih tak memanggilnya dengan benar langsung melayangkan pandangan tajamnya pada Jaehyun, yang entah kenapa tidak pernah mempan ia gunakan pada bocah itu, karena Jaehyun malah memberinya cengiran lebar. Taeyong mengalihkan pandangannya, matanya masih disibukkan dengan acaranya memandang ke luar jendela.

Ya, di luar sedang hujan. Yang ia sesali mengapa harus terjadi sekarang. Ini sudah saatnya pulang dan hujan ini akan menghambatnya untuk cepat sampai di rumah. Benar-benar menyebalkan.

Moodnya yang seharian tadi sudah bagus, langsung berubah seketika, karena hujan ini.

"Setiap hujan, kau sensi sekali, sih, hyung. Seperti wanita sedang PMS," ujar Jaehyun lagi dengan tak berdosanya. Ia memang suka sekali asal bicara.

Alis Taeyong berkedut. Kesal.

"Ya! Apa maksudmu, ha?" Taeyong berteriak marah mendengar yang satu itu, hendak memukul kepala Jaehyun dengan gulungan bukunya lagi, tapi sosok itu sudah kabur lebih dulu sambil tertawa-tawa. Sementara Taeyong hanya mencibirnya kelakuannya.

Jaehyun. Jung Jaehyun.

Pemuda itu adalah adik kelas sekaligus temannya yang benar-benar suka seenaknya. Aneh sekali Taeyong bisa tahan berlama-lama berteman dengan orang seperti itu.

Di balik ekspresi kalem, kesan misterius dan cool city guy yang selalu ia tampilkan, Taeyong sendiri sebenarnya sosok yang cerewet, manja, dan peduli dengan sekitarnya. Tipe tsundere yang sulit untuk mengungkapkan maksud secara eksplisit.

Ia begitu suka menari, ia begitu mencintai musik, dan–tentu saja–tidak suka belajar. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dan itu yang membuatnya menjadi anak yang biasa-biasa saja di sekolah ini. Atau setidaknya itulah yang dirasakannya. Tidak seperti Jaehyun.

Banyak orang yang memanggil temannya itu jenius. (Taeyong juga salah satu mereka tapi ia bahkan tak mau mengakuinya. Gengsi). Jaehyun pintar—meskipun sikap pemalasnya tidak jauh beda dari Taeyong, tapi ia bisa tetap mendapatkan nilai yang begitu bagus di sekolah. Dia juga terkenal sebagai satu-satunya ahli waris dari perusahaan raksasa milik keluarga Jung yang bergerak di berbagai bidang. Wajahnya? Jangan ditanya. Dia tampan, dan senyumnya bisa melelahkan hati tiap para gadis yang melihatnya. Dan seakan belum cukup, ia juga memiliki bakat dalam tarik suara dan mengolah bahan makanan. Jung Jaehyun itu personifikasi dari kata mendekati sempurna.

Taeyong tak tahu secara pasti sejak kapan ia dekat dengan Jaehyun. Yang ia ingat hanyalah awal pertemuaan mereka yang benar-benar membuatnya jengkel, karena pemuda itu terus memaksa padanya agar uluran tangan untuk berkenalan darinya disambut. Tipe pemuda keras kepala yang suka seenaknya.

Ah, mari berhenti membicarakan bocah itu.

Taeyong menghela napas berat. Setelah membereskan barang bawaannya, dia beranjak dari duduknya. Karena yang tersisa di kelas hanyalah dia.

Ia melirik lagi ke luar jendela. Dan helaan napasnya semakin keras. Karena hujan di luar semakin deras. Sama sekali tak ada tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

Ia benar-benar benci hujan.

.


"Taeyong-hyung!"

Taeyong memutar matanya bosan mendengar suara yang memanggilnya. Ia mencoba tak memperdulikannya karena jika ia lakukan, ia pasti akan bertambah kesal dan moodnya akan semakin buruk. Ia tak mau.

Langkah kakinya semakin ia percepat, tak ingin menunggu lebih lama meski kini hujan semakin deras dan cuaca semakin dingin tak bersahabat.

Ah, bodohnya ia lupa membawa jaket.

"Yongyongie-hyung!"

Suara itu lagi.

Kali ini dengan nada kesal karena tak digubris. Tapi biarlah, Taeyong tetap mencoba tak peduli. Ia tetap berjalan, hingga sebuah tarikan ia rasakan pada tangan kanannya, membuatnya menghentikan langkah. "Hei."

Taeyong menatap sosok itu bosan, "Apa?" tanyanya dengan nada ketus.

"Aku berteriak dari tadi tapi tidak hyung sahut," protes Jaehyun dengan wajah cemberut.

Taeyong memutar matanya, jengah dengan sikap kekanakkan Jaehyun, "Aku tidak dengar." Taeyong mencoba membela dirinya. Namun sepertinya itu tidak berhasil karena Jaehyun langsung menyebutnya pembohong saat mendengar alasan tak masuk akal itu. Suara Jaehyun tadi benar-benar keras, tak mungkin tak terdengar.

"Kenapa kau belum pulang? Jemputanmu belum datang?" tanya Taeyong sambil mulai melangkah lagi, di sini dingin dan Taeyong tidak kuat jika harus berlama-lama berdiam diri.

Jaehyun yang melihat hyungnya berjalan langsung mengikuti, berjalan di sampingnya dan menggeleng, "Jemputanku sudah datang sejak tadi, tapi aku menyuruh mereka pulang lagi karena aku ingin pulang sendiri," katanya. Ada nada bangga terselip di sana.

"Bodoh." Taeyong yang mendengarnya langsung berkomentar dengan nada pelan, tapi rupanya masih terdengar oleh Jaehyun.

Jaehyun terkekeh, "Hyung, harusnya kau bersyukur karena dengan begini ada aku yang menemanimu."

Taeyong mendengus, "Che, memang aku memintamu?" tanya Taeyong.

"Hyuuuuuuuung."

Taeyong tak mempedulikan rengekkan itu. "Jika aku jadi kau, aku pasti sudah sampai di rumah sekarang dan tidak perlu kedinginan di tempat ini."

"Hyung kedinginan rupanya." Senyum muncul di wajah Jaehyun seketika, setengah meledek, Taeyong tahu itu. "Mau pake jaketku?"

"Tidak, bodoh." Taeyong menjawab ketus, terus berjalan. "Aku tak mau disalahkan kalau kau sampai sakit."

Dan senyuman Jaehyun semakin lebar, "Aigo, hyung. Rupanya kau mengkhawatirkanku, ya?" ujar Jaehyun sambil memeluk tubuh kecil hyungnya itu dalam dekapan erat.

"Ya! Jangan memelukku sembarang, Jung Jaehyun!" protes Taeyong.

"Biar saja."

"Jaehyun! Kau mau membunuhku?"

"Tentu saja tidak."

"Lalu apa? Ayo lepaskan! Pelukanmu terlalu erat."

"Hehehe. Aku kan hanya ingin membuat tubuhmu hangat, hyung." Bukannya terlepas pelukan itu malah semakin erat. "Aku tahu hyung tak suka dingin dan aku juga tahu hyung akan ketakutan saat ada petir. Maka dari itulah, aku menyuruh supirku pulang, agar aku bisa menemanimu."

"Bodoh." Taeyong berkomentar pelan lagi, meski begitu sebuah senyum kecil tetap muncul di wajahnya. Sebelum berubah menjadi cemberut, "Lagian siapa yang bilang aku takut petir? Tidak!"

Jaehyun melepas pelukannya. Matanya memandang Taeyong dengan senyum lebarnya, sudah terlalu biasa dengan kelakuan tsundere hyungnya itu. Kedua tangannya bergerak untuk menangkup ke dua sisi wajah Taeyong. "Hei, hyung."

"Apa?"

Jaehyun tersenyum lebih lebar, mengembungkan kedua pipinya lucu dan berkata, "Cium."

"Tidak!" ujar Taeyong sambil mendorong tubuh Jaehyun, berjalan cepat menjauhi pemuda itu. berharap agar sapuan merah di pipinya tak sempat terlihat. Jaehyun dan permintaan bodohnya.

"Ya, hyung! Aku hanya minta cium. Kenapa kau malah kabur?" Jaehyun berteriak protes. Ia berjalan dengan gontai tak berniat menyusul Taeyong. Rasanya sebal, suasana romantis tadi hancur dalam sekejap. Jaehyun mengumpat, menendang apapun yang ada di depannya dengan sebal sampai ia mendengarkan teriakan dari kejauhan.

"Ya, Jaehyun bodoh! Jika kau ingin aku cium cepatlah ke sini. Peluk aku! Aku kedinginan!"

Seketika Jaehyun langsung berlari ke arah hyungnya, dengan senyumnya yang paling lebar.

Chu!

"Ya, hyung! Kenapa hanya di pipi—"

Chu!

"Berisik! Diamlah dan peluk aku."

Dan Jaehyun melakukannya dengan senang hati, seringainya semakin lebar.

Tanpa ia tahu, Taeyong juga tersenyum dalam dekapan hangat sang kekasihnya. Ya, Jaehyun adalah kekasihnya. Sejak dua bulan yang lalu.

Hujan mulai berhenti, dan yang kini menghiasi langit adalah pelangi. Yang kenapa terlihat berkali-kali lipat lebih indah dari biasanya. Apakah karena melihatnya dengan orang yang dicintai? Entahlah. Taeyong merutuk dirinya karena entah sejak kapan ia berubah jadi se cheesy ini.

Salahkan Jung Jaehyun dan semua kelakuannya.

"Ayo pulang."

"Hm."


END


Maaf kalo ini aneh dan tidak jelas. Hng.

Jadi, kalo misalnya Lil' Something itu kumpulan drabble canon, yang ini bakal dibuat AU/AR-nya. Hehehe.

Makasih ya, yang udah fav, follow, review dan masukannya:

remahkhongguan. lovejaeyong1401. Black Readers. Kyunie. restiana. troalle. Guest. Jaemin Noona. WhitieGirllikeVichu. Arisa Hosho. dtime.

Suka? Tidak suka? Punya prompt buat cerita berikutnya? Ditunggu reviewnya ya~ Hoho.