Tittle : Beautiful Crimson

Author : exgulliver

Genre : Romance, Friendship

Rated : T

Cast :

- Kyuhyun

- Yesung

- Find it by urself ^^

Pairing : KyuSung, maybe? xD

Summary : Pertemuan pertama sang model terkenal dengan sang pelukis ternama. Nasib baik nampaknya tidak begitu memihak karena mereka justru terlibat dalam sebuah perdebatan. Tapi tunggu, mengapa takdir terlihat mempunyai rencana yang berbeda untuk keduanya? Lalu bagaimana dengan nasib sang 'Guardian Angel'?

Disclaimer : This story is mine *w* ok, hanya meminjam nama oppars saja ~

.

.

Warnings : Typos, BL, OOC, skinship, dont like dont read :3 paii

.

.

.

~~~Happy Reading~~~

###===Beautiful Crimson===###

.

.

.

Senja yang temaram di ufuk barat, menciptakan sebuah lukisan alam yang begitu cantik dan anggun. Sebuah pemandangan yang kini menjadi pusat perhatian dua orang namja berparas tampan. Di sebuah rooftop sederhana dengan satu kursi berbentuk ayunan dan satu buah meja persegi beserta empat kursi berwarna putih, dua namja tersebut berdiri berdampingan ditepi pagar setinggi satu meter yang berguna sebagai pelindung disetiap sisi rooftop.

Namja yang memiliki postur tubuh lebih tinggi terlihat lebih menikmati pemandangan dihadapannya sekarang. Bibirnya mulai melontarkan kata-kata pujian terhadap keindahan karya seni Tuhan didepan matanya.

"Ah~ senja selalu tampak cantik dari segi manapun.." ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Seolah-olah sedang merasakan roh sang senja merasuki dirinya. Suasana senja selalu memberikan kehangatan khusus baginya.

Seorang namja berkacamata yang berdiri disampingnya menoleh menanggapi. "Untuk orang yang begitu tergila-gila dengan seni, kurasa ucapan itu terdengar sangat klise.""

"Benarkah? Tapi tidaklah hyung merasa bahwa langit crimson itu mengingatkan kita pada kehangatan musim gugur?" sang lawan bicara mengeluarkan argumennya yang hanya ditanggapi dengan sebuah decakan bosan dari sang kakak.

"Kau selalu melihat semuanya dengan sudut pandang seni, ckck terlalu rumit!"

"Seni bukan hal yang rumit untuk dipahami selama imajinasimu berkembang, hyung."

"Tsk.. jangan membahas imajinasi didepanku. Bicaralah soal bisnis dan aku akan membuatmu membisu mendengar pendapatku.." ujar sang kakak membanggakan diri.

Jujur saja, namja berkacamata itu memiliki nilai yang sangat rendah dalam hal seni dan sebagainya. Namun, jika membahas segala aspek bisnis dari berbagai bidang, tak perlu ragu memberinya nilai A+.

"Dan aku yang akan terlihat bodoh karena topik utamanya adalah bisnis, begitu?"

"Kau bisa menyebutnya seperti itu, Mr. Kyuhyun."

Namja yang bernama Kyuhyun tersebut mengeluarkan tawa bassnya. Kembali mengalihkan pandangan obsidiannya ke ufuk barat.

"Apa persiapan pameran besok sudah selesai?"

"Sudah, pihak EO mengatakan kalau aku hanya perlu datang dan menghadiri jumpa pers sebelum pameran dibuka." jawab Kyuhyun. "Apa hyung akan datang?" tanyanya kemudian.

Ia begitu tahu betapa sibuknya sang kakak. Bagaimana namja yang cukup pendiam itu memiliki banyak tanggungjawab di perusahaan keluarga mereka.

Sebagai seorang seniman, Kyuhyun sangat bersyukur karena ia tidak perlu berkutat dengan berkas-berkas yang menurutnya sangat membosankan dan membingungkan. Menuangkan imajinasi ke dalam sebidang kanvas jauh lebih menarik minatnya.

"Haruskah aku datang?"

"Kibum hyung~.." nada suara Kyuhyun berubah manja. Kedua maniknya kini menampilkan 'puppy eyes' yang ia pelajari dari Lee Sungmin, temannya sesama seniman.

Kibum sangat paham bahwa adiknya tengah merajuk. Ia pun menghela nafas malas, "Arra.. aku akan datang setelah urusan di kantor selesai. Kau puas?"

"Yay! Sangat puas hyung~" dan kini sikap kekanakan Cho Kyuhyun seolah terlepas dari kungkungan image seorang seniman ternama. Memeluk erat sang kakak seperti bayi koala yang sangat menyayangi induknya.

Kibum mengerang tak nyaman. "Yakk Yakk! Cho Kyuhyun, lepaskan aku! Ingatlah berapa umurmu itu!"

"Wae?" Kyuhyun melepas pelukannya dan memberi wajah innocent tanpa dosa.

Kibum bersumpah, ekspresi itu membuatnya ingin menggigit matahari senja yang sekarang berada di ufuk barat. Jika saja Tuhan mengizinkan.

"Aku baru 23 tahun, hilangkan angka duanya dan anggap saja aku sebagai adik kecilmu yang manis, eum~?" mata bulatnya berkedip-kedip berusaha memberi kesan imut seorang anak kecil.

"Ada apa dengan matamu itu, Mr. Kyuhyun? Menakutkan sekali~!" Kibum bersikap seolah-olah seluruh tubuhnya meremang melihat tampang merajuk sang adik semata wayang.

"Aish! Hyung tidak asik!" bibirnya terpout kesal karena aktingnya yang gagal total. Tak ada yang bisa ia lakukan selanjutnya kecuali menerima suara tawa dari Cho Kibum.

.

.

.

###

.

.

.

"Kim Yesung, bangunlah!" seorang namja berambut blonde dengan sebuah brosur ditangan, kini sedang berusaha membangunkan namja lain yang tengah terlelap diatas sofa panjang.

Usaha pertamanya gagal total karena namja yang terlihat imut dan manis itu hanya menggeser posisi tidurnya. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan segera bangun.

"Yakk! Kim Yesung, bangun sekarang atau aku akan menyetujui kontrakmu dengan Perusahaan Animasi Jepang itu sekarang!" metode kedua, tak ada yang lebih jitu selain memberi ancaman.

And see.. namja berparas baby face itu kini menampilkan ekspresi tak percaya dengan mata yang membulat sempurna.

Tertarik secara paksa dari dunia mimpinya yang baru berjalan 30 menit bukanlah hal menyenangkan. Apalagi setelah dirinya bekerja dari jam 4 pagi sampai 3 sore seperti hari ini.

Semalam bahkan ia hanya tidur selama 3 jam, dan kini Sang Manager ―Leeteuk― dengan begitu sopannya berteriak memberi sebuah ancaman yang sangat ia benci.

"Jika hyung berani menyetujuinya aku akan pergi dari Korea sekarang juga!" protesnya pada sang manager yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Jika saja namja blonde itu bukan kakaknya, pasti ia sudah habis dimaki oleh Yesung.

"Ye? Katakan padaku bagaimana caramu pergi keluar negeri tanpa pesawat?" Leeteuk berdiri memangku tangan dengan nada bicara meremehkan.

Ia tahu pasti, Yesung tidak akan mau naik pesawat walau hanya satu detik. Bahkan jika ia dibayar dengan satu kontainer uang dollar.

"A-aku bisa naik kapal!"

Leeteuk menyeringai dengan santai, "Oh ya? Dan tenggelam dimakan ikan hiu karena kau bahkan tak bisa berenang, begitu?"

Great! Yesung merasa dirinya sudah kalah telak dalam sesi debat kali ini. Ia bertanya pada dirinya sendiri dan menggerutu dalam hati, kenapa juga dia harus benci naik pesawat?

"Sudahlah! Pokoknya kalau hyung sampai menanda tangangi kontrak itu, aku akan membencimu se-la-ma-nya!" ujarnya memberi penekanan diujung kalimat.

Leeteuk menggeleng maklum. "Arra.. tapi Yesungie, kenapa kau menolak mentah-mentah tawaran mereka? Bukankah perusahaan animasi itu termasuk yang terbaik di Jepang? Jika mereka menggunakanmu sebagai salah satu modelnya, itu juga keuntungan untukmu menembus pasar jepang."

"Ah hyung~ jebal.. perusahaan itu memintaku melakukan sesi pemotretan yang tidak waras!" tutur Yesung tak suka.

"Tak waras?"

"Ne! Bagaimana bisa disebut waras jika mereka memintaku melakukan pemotretan dengan baju maid ala para gadis dalam anime? Itu gila!"

Yesung teringat saat pertama kali perusahaan animasi itu datang menemuinya. Pada awalnya sang model hanya mengangguk setuju mengenai tempat dan bayaran yang dibicarakan, tapi ketika konsep itu mulai dijelaskan.. Yesung masih ingat dengan jelas. Ia mengucapkan kata 'Andwae shireoyo!' dengan wajah panik lalu pergi sambil membanting pintu.

"Tsk.. bukankah kau tidak keberatan sebelumnya? Tahun lalu kau bahkan melakukan pemotretan crossdressing untuk Majalah Swiss.."

"Yah karena saat itu aku tidak perlu memakai pakaian yang seksi. Pokoknya aku tidak mau menerima tawaran perusahaan animasi itu, titik!" putus Yesung mutlak.

Leeteuk menghela nafas putus asa. Percuma merayu adiknya yang sangat keras kepala ini. Hanya membuatnya semakin darah tinggi saja.

"Baiklah baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi. Oh ya, besok kau ada jadwal menghadiri pameran seni di Incheon." Ia menyerahkan brosur yang dibawanya kepada Yesung.

"Kita berangkat jam 8 dari Seoul. Hanya ada beberapa pemotretan dari majalah W, setelah itu kau bebas seharian."

Mendengar kata 'bebas', ekspresi wajah Yesung berubah sumringah. Ia tersenyum sangat manis, "Bebas? Jinjja?"

"Eum.. kau bebas sehari besok."

"Huwaaaa~~ aku harus menggunakan waktuku sebaik mungkin!" celotehnya dengan nada kegirangan. Ia mulai membayangkan berbagai hal menarik yang akan ia lakukan besok.

Sebagai seorang model yang cukup terkenal, mendapat hari libur bukanlah sesuatu yang mudah untuk Yesung. Dalam sehari ia bahkan hanya tidur selama 3-5 jam. Sisa waktunya ia gunakan untuk bekerja. Dari satu tempat pemotretan ke pemotretan yang lain. Tak kurang dari 20 macam baju dapat ia kenakan ditubuh rampingnya setiap hari. Belum lagi jika ada acara fashion show.

Di usianya yang kini menginjak 25 tahun, apa dia mengejar harta? Apa ia begitu tergila-gila dengan prestise? Sejujurnya bukan itu alasannya.

Mengapa ia memilih menyibukkan diri dan tenggelam dalam dunia modeling? Tak ada sebab lain kecuali hal itulah yang satu-satunya dapat ia lakukan dengan baik.

Di dunia ini, satu-satunya yang dapat ia ajak berpegangan tangan sebagai sebuah keluarga hanyalah Leeteuk. Sang ibu telah pergi ke surga saat umurnya 4 tahun dan sang ayah menghilang tanpa kabar 2 bulan kemudian.

Kejamnya dunia, sulitnya kehidupan, ia tahu persis bagaimana semua itu sangat menakutkan. Setelah kerja keras yang penuh perjuangan, kini ia bisa menjadi seseorang yang lebih layak. Setidaknya dengan bekerja sebagai model, ia dan kakaknya dapat hidup dengan baik meski hanya berdua.

.

.

.

###===Beautiful Crimson===###

.

.

.

Gaya berpakaiannya hari ini sudah sangat modis dan berkelas. Mengenakan sebuah tuxedo berwarna hitam dengan kemeja putih, celana panjang serta sepatu yang senada, rambut hitam yang dibuat lurus namun masih dalam kategori rapi, make up tipis yang menampilkan kesan innocent, tak lupa seulas senyum manis menghiasi wajah imu― ah, maksudku tampannya. Begitulah penampilan seorang model terkenal yang kita tahu.. Kim Yesung.

Tak jauh darinya, kerumunan wartawan sedang memanfaatkan sebuah teknologi dalam mengambil gambar yang kita tahu bernama kamera. Suara bidikan kamera yang saling bersahutan tersebut seolah memberi tanda bahwa sang objek gambar merupakan sesuatu yang mempesona.

Yesung tersenyum tipis pada mereka. "Hyung, dimana para kru majalah W itu?" bisiknya pada sang manager yang kini berdiri tepat disampingnya.

"Mereka ada di galeri belakang dekat kolam. Mereka meminta kita menunggu 10 menit lagi karena persiapannya masih dilakukan." Leeteuk balas berbisik.

"Demi cangkang abadi ddangkoma, aku tidak mau lagi bekerja sama dengan mereka jika keterlambatan seperti ini terulang lagi, hyung!" entah Yesung sedang membuat lelucon atau mencoba melontarkan sebuah umpatan, konotasi yang ia gunakan terdengar konyol ditelinga Leeteuk.

"Sudahlah, 10 menit bukan waktu yang lama. Sekarang berpura-puralah kau menikmati lukisan-lukisan di sini. Para wartawan itu terus memperhatikanmu!"

"Arrayo!" Yesung mendengus kesal. Hanya dengan membalikkan badan, kini sosok itu telah berubah seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat permen kapas. Senyumnya mengembang dengan manis. Tentu saja moment itu tak akan dilewatkan oleh para wartawan di sana.

.

.

.

###

.

.

.

"Wah~ Kyu, kau memang luar biasa!" seorang namja berwajah imut dengan pita kupu-kupu dilehernya sedang memuji keindahan lukisan Kyuhyun. Bibirnya mengulas senyum puas.

"Terima kasih, Sungmin hyung.." namja Cho itu menganggukkan kepalanya untuk berterima kasih pada rekannya.

Manik Sungmin kembali menelaah lukisan dihadapannya. "Senja ini terlihat hidup. Jika seseorang berdiri dihadapannya, rasanya seperti senja ini benar-benar berada didepan matamu. Kau bisa merasakan kehangatannya saat memandangnya lebih dalam.." ujarnya memberi komentar.

"Aku selalu membuat setiap lukisanku terlihat nyata, hyung. Semua moment yang indah itu akan terlihat lebih baik jika dituangkan dalam sebidang kanvas daripada selembar foto." sahut Kyuhyun yang ditanggapi anggukan setuju dari Sungmin.

Jika sudah bicara soal seni, tak ada yang perlu dirisaukan dari seorang Cho Kyuhyun. Sosoknya yang terkesan manja dihadapan sang kakak, dalam sekejab akan berubah menjadi seniman berwibawa yang penuh kejutan.

"Kyuhyun~sshi, maaf mengganggu." seorang staff EO berlari kecil mendatangi Kyuhyun dan Sungmin.

"Ya, ada apa?"

"Jumpa persnya akan dimulai sebentar lagi, lebih baik Anda segera menuju galeri utama."

"Oh, baiklah. Aku akan ke sana." Kyuhyun berbalik untuk menatap Sungmin, "Ayo hyung, kita ke galeri utama sekarang."

"Oke, kajja!"

Kedua seniman itupun berlalu dari hadapan lukisan senja milik Kyuhyun.

.

.

.

###

.

.

.

"Ok, bagus!" teriakan seorang pria berkacamata google dengan tubuh tambun menghentikan gerakan Yesung yang sedang berpose disamping kolam renang.

"Sekarang, Yesung~sshi, tolong masukkan kedua kakimu ke dalam air. Berpura-puralah seolah kau sedang menunggu kedatangan seseorang sampai akhirnya merasa bosan dan memainkan kakimu didalam air. Apa kau mengerti maksudku?"

"Nde?" Yesung mengerjap bingung menanggapi instruksi sang fotografer. Apa pria 40 tahunan itu sungguh memintanya memasukkan kaki ke dalam kolam?

"Masukkan kakimu ke dalam air dan berpura-puralah kau sedang menunggu seseorang. Kau paham?"

"Ne hyungnim!" kedua onyx bulan sabitnya mengeluarkan tatapan ragu. Sekilas ia memandang kakaknya yang berdiri disamping sang fotografer.

'Aku harus bagaimana, hyung? Aku takut..' tatapannya seolah sedang berbicara pada Leeteuk.

'Tenangkan dirimu. Tidak apa-apa.. semua akan aman. Aku ada di sini mengawasimu.'

Meskipun Leeteuk hanya membalas keresahannya dengan sebuah tatapan meyakinkan, Yesung mengerti apa yang ingin Leeteuk katakan. Bibir plum sang model bergerak tanpa suara mengucapkan kata, 'jinjja?'

Leeteuk mengangguk yakin membalas pertanyaan tersebut. Selain naik pesawat, adik kesayangannya itu begitu takut dengan air yang terlalu banyak. Itulah mengapa Yesung tak pernah mau belajar renang.

Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, akhirnya Yesung memasukkan kedua kakinya ke dalam air. Rasa dingin dari air kolam tersebut langsung menjalar melalui syarafnya ke seluruh tubuh. Ia memejamkan mata sesaat. Badannya sedikit bergetar merasakan gerakan air kolam yang menciptakan sebuah friksi menakutkan bagi Yesung.

'Ini aman.. semuanya akan baik-baik saja, kuatlah Kim Yesung!' batinnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Ia kembali membuka onyx sabitnya. Sekuat tenaga mengabaikan perasaan gelisah yang terus melingkupi hatinya. Yesung menarik nafas dalam-dalam.

Namja itu sedang mencoba untuk bersikap profesional. Ia telah menerima kontrak ini, jadi betapa pun sulitnya, ia akan melakukannya.

Kim Yesung pun memulai pekerjaannya kembali.

"Yup, bagus Yesung~sshi! Ekspresimu terlihat nyata! Oh, great!" sang fotografer tersenyum puas melihat hasil kerja Yesung. Sang model ternama memang tak pernah mengecewakan.

10 menit berlalu dengan kata-kata pujian sang fotografer yang ditujukan pada Yesung.

"Baiklah, sudah cukup!" akhirnya kalimat yang ditunggu oleh Yesung pun terdengar mengalun dari sisi kolam dihadapannya.

"Kerja bagus Yesung~sshi! Aku sangat puas dengan semua pekerjaanmu! Kau yang terbaik!"

Buru-buru Yesung mengangkat kakinya dari dalam air. Ia membungkukkan badan ke arah sang fotografer. "Terima kasih hyungnim.." setidaknya ia masih harus memikirkan manner meskipun tubuhnya ingin segera menjauh dari kolam.

Leeteuk bergegas menghampiri dongsaengnya. Ia memberikan sebuah handuk kecil dan alas kaki pada Yesung. "Gwaenchana?" tanyanya khawatir.

"Gwaenchana hyung, aku baik-baik saja.." Yesung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku ingin ke kamar mandi sebentar.."

"Oh baiklah, kamar mandinya ada didalam. Masuklah dari pintu itu lalu berjalan ke arah selatan, kau akan menemukannya di ujung koridor."

"Gomawo hyung.." langkah kaki Yesung menuntunnya ke tempat yang ditunjukkan oleh Leeteuk. Ia ingin cepat-cepat menghindari kakaknya. Sejujurnya, tangan itu masih gemetar karena rasa takut yang tak dapat ia hilangkan dengan mudah.

.

.

.

###

.

.

.

15 menit kemudian Yesung keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih tenang. Tidak ada lagi kegelisahan yang merasukinya beberapa menit lalu.

Sebuah lukisan didekat pintu ke galeri belakang menarik perhatian Yesung. Tubuhnya memutuskan untuk berhenti dan mengamati lukisan tersebut.

"Pohon maple.." celetuknya tanpa sadar.

"Kau tahu itu pohon maple?" sebuah suara bass dibelakang punggungnya membuat Yesung sontak membalikkan badan.

.

Deg!

.

Jantungnya berhenti memompa selama sepersekian detik.

"Ah maaf.." orang asing itu menarik wajahnya sedikit menjauh dari Yesung. Sadar bahwa jarak mereka tadi cukup dekat hingga dapat merasakan deru nafas satu sama lain.

Sang model tersenyum canggung. "Tidak apa-apa.."

"Kau tahu itu pohon maple?" namja berkulit putih susu itu kembali mengulang pertanyaannya yang belum digubris oleh Yesung.

Lukisan dihadapannya sekarang adalah segelintir pemandangan musim gugur disalah satu sudut taman. Terdapat dua anak kecil yang tengah bermain ayunan bersama. Orang-orang cenderung memperhatikan kedua anak kecil itu daripada sebuah pohon maple kecil dibelakang mereka. Dan komentar sang model telah menggoda rasa penasarannya.

"Ne, aku tahu."

"Bagaimana kau tahu?"

Yesung mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan orang asing tersebut. Apa sekarang ia sedang diwawancarai oleh pengamatan tumbuhan?

"Karena pohon maple selalu identik dengan musim gugur. Aku juga menyukainya karena ia punya daun seperti bintang berwarna merah.."

"Lalu bagaimana dengan lukisan ini?" tanpa seizin Yesung, pria asing itu menggenggam tangannya dan membawa sang model ke hadapan sebuah lukisan abstrak tak jauh dari tempatnya tadi.

"A-apa ini?" Yesung tak bisa memahami lukisan macam apa yang kini menjadi pusat perhatiannya. Apa sebuah garis lurus yang memiliki beberapa tetesan cat tak beraturan itu bisa disebut lukisan?

"Kau tidak mengerti maksud lukisan ini?"

Yesung menggeleng pelan. "Aku tidak bisa melihat apapun kecuali garis lurus yang penuh tetesan cat tak beraturan. Apa ini juga sebuah lukisan?"

Onyx sabit Yesung menatap ke arah manik sang namja asing. Ia bisa melihat jelas bagaimana ekspresi namja itu mengeras. Apakah ucapannya salah? Yesung hanya berbicara jujur karena memang ia tidak mengerti soal seni.

"Apa pekerjaanmu?" nada bicara yang berubah dingin membuat Yesung semakin heran.

Ia sedikit gugup mendengarnya, "A-aku seorang model.."

Sang lawan bicara memberi senyum meremehkan kepada Yesung. "Pantas saja. Kau terlalu bodoh untuk memahaminya. Aku tahu, lukisan yang paling menarik dalam dirimu hanyalah sekoper uang, benarkan? Menjual penampilan."

.

Jleb!

.

Nafas Yesung tercekat ditenggorokan mendengar komentar menohok tersebut. Ia membulatnya onyx sabitnya dengan pandangan terluka. Kata-kata namja itu telah menyakiti sesuatu didalam hati sang model.

Sekoper uang? Menjual penampilan? Sungguh, Yesung tak mengerti. Mengapa pria asing ini tiba-tiba mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu? Bahkan dipertemuan pertama mereka!

Apa ketidakpahamannya tentang seni memberi hak pada pria itu untuk menghujat dirinya? Memberi nilai negatif atas pekerjaannya.

"Nde?!" bariton Yesung yang sebelumnya terdengar lirih kini meninggi. Onyxnya menatap tajam pria tersebut. "Maaf Tuan, aku bahkan tidak mengenalmu. Bagaimana kau bisa bicara seperti itu, huh? Apa ada yang salah dengan pekerjaanku!?"

"Beruntunglah karena sekarang aku sudah sangat lelah untuk sekedar berdebat. Jika saja tidak, mungkin kata-kata tak berperasaanmu tadi sudah ku balas dengan makian."

"Tuan, kalau Anda tidak mengenal saya dengan baik, tolong jangan bicara tanpa berpikir seperti itu. Saya bekerja bukan karena sekoper uang seperti bayangan Anda. Apa yang saya lakukan adalah hal terbaik yang lebih membanggakan daripada cara Anda berkomentar."

Yesung menghembuskan nafasnya kasar. Mencoba mengatur emosinya yang ingin meledak. Ia tidak boleh marah-marah sekarang. Para wartawan masih berkeliaran dan tak ada yang tahu keadaan macam apa yang mungkin mereka abadikan dalam gambar.

"Kuharap di masa depan kita tidak perlu bertemu lagi, Tuan. Selamat tinggal." Dengan perasaan kesal Yesung melangkah pergi meninggalkan pria tersebut. Ia terus berdoa agar Tuhan mengabulkan ucapannya yang terakhir. Cukup sekali ini ia bertemu dengan pria yang tidak tahu etika dan berbicara seenaknya.

Suasana hatinya sudah jatuh ke lembah paling dasar. Membuatnya merasa enggan untuk melakukan segala rencana liburan singkatnya hari ini. Lebih baik ia berbaring diranjang king sizenya dan memejamkan mata seharian. Masa bodoh dengan rangkaian hal menyenangkan yang sudah ia susun kemarin.

Sementara itu, namja asing tersebut menatap kepergian Yesung dengan tatapan penyesalan. Ia sadar bahwa ucapannya tadi memang keterlaluan. Sejujurnya ia tidak menyangka akan berbicara seperti itu. Ia sendiri juga terkejut.

"Mianhae.." suara bassnya terdengar berbisik entah pada siapa.

.

.

.

###===TBC/END?===###

.

.

.

Hi Hello Annyeong~ chapter 1 sudah selesai di publish ^^ masih terlalu awal untuk menulis banyak hal, jadi kalau ingin tahu kelanjutannya, aku butuh pendapat kalian. Silahkan review~ mau komentar baik-buruk tidak apa-apa :)

.

Gomawo untuk kalian yang sudah mau mengikuti ceritaku :) /bow/ aku update kilat karena dukungan kalian :*