Ichizuki
Terimakasih kepada aMiciZia Vi miRac0Li (Furubha), Kira ketsueki, Namikaze lin-chan, dan Meyra Uzumaki yang telah menyempatkan diri memberikan review untuk cerita ini.
Sekarang akan saya lurusnya inti dari cerita ini. Maaf chap pertama mungkin kurang berkesan, karena saya memang tidak terlalu bisa dalam memulai sebuah cerita.
Semoga chap dua ini bisa menjelaskan inti dari ceritanya.
Terimakasih.
Happy Reading…
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
KATAI
By Ichizuki_Takumi
Pairing : SasuNaru, dkk
Rated : T
Genre : Drama/Romance
Warning : AU, BL, OOC, tidak memeperhatikan EYD
DON'T LIKE! DON'T READ !
Chapter 2
"Aku pulang…" seru Naruto saat memasuki kediamannya.
"Kau sudah pulang, Naru-chan?" tanya Kushina, ibu dari Naruto.
"Iya," Naruto berjalan menuju dapur, tempat dimana ayah dan ibunya sedang berkumpul.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" ujar Minato tanpa mengalihkan pandangannya dari Koran yang sedang ia baca.
"Seperti biasa. Tidak ada yang menarik," ujar Naruto sambil duduk di kursi yang ada di depan Minato.
"Tousan, Naru kan baru pulang," ujar Kushina sambil mengaduk masakannya dan melirik Minato sejenak.
"Tidak apa Kaasan, aku sudah biasa di tanyai seperti itu."
"Naru, kau cepat ganti baju sana," perintah Kushina.
"Ya," ujar Naruto datar. Naruto pun beranjak dari tempatnya, kemudian menaiki tangga menuju ke atas.
"Hari ini Naru-chan aneh sekali, tidak seperti biasanya. Biasanya kan dia tidak bisa diam, apa ada yang salah?" tanya Kushina pada Minato.
"Biasalah masalah anak muda. Paling masalah cinta," canda Minato.
"Apa benar ya?" gumam kushina pada dirinya sendiri.
"Hmm," Minato hanya tersenyum melihat kekhawatiran istrinya.
-15 menit kemudian-
Naruto turun dari tangga kemudian berjalan menuju dapur dan segera duduk dikursi meja makan.
"Naru, kau ada masalah?" tanya Kushina to the point, sambil duduk disamping suaminya.
"Em? Masalah apa?"
"Yah, mungkin masalah cinta?"
"Cinta? Aku tidak ada masalah dengan cinta."
"Kalau begitu kau kenapa?"
"Aku tidak kenapa-kenapa. Memangnya kenapa Kaasan?"
"Hari ini kau terlihat aneh," kata Kushina sambil menopangkan tangan kirinya di dagu.
"Sebenarnya ada sedikit yang aku pikirkan," ujar Naruto sedikit berpikir.
"Ceritakan saja pada Kaasan dan Tousan, mungkin kami bisa membantu," tawar kushina. Sementara Minato hanya memandang Naruto yang ada dihadapannya.
"Itu…tentang diriku," ujar Naruto.
Mendengar ucapan Naruto, Kushina terlihat bergetar. Inilah yang ditakutkannya. Melihat istrinya seperti itu, Minato pun menggenggam tangan Kushina erat, mencoba menenangkan dirinya. Mendapat perlakuan demikian, Kushina memandang wajah suaminya sejenak dan memandang Naruto kembali.
"Sebenarnya, apa ada yang salah dengan Naru, ya?" tanya naruto pada dirinya sendiri.
"Salah gimana?" ujar Minato yang melihat istrinya semakin bergetar.
"Ano, itu…kok Naru..belum…ann…itu.."
"Ngomong yang jelas dong, kami jadi tidak mengerti maksudmu," ujar Minato.
"Aku kan malu, Tousan."
"Kenapa harus malu, kita kan keluarga, jadi tidak usah dipendam sendirian," jelas Minato.
"Hmm…kenapa ya, Naru belum juga ada tanda-tanda masa puber?"
Kushina menundukkan kepalanya. Tangannya yang dipegang Minato menjadi dingin dan semakin bergetar.
Kushina POV
'Bagaimana ini, apa yang harus ku katakana?' ku dongakkan kepalaku untuk memandang wajah suamiku yang terlihat tenang. Begitu tenang, bahkan dia sempat tersenyum kepada Naruto.
'Ya, aku harus tenang. Aku harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanku. Ini juga demi kebaikan Naru….. meski dia akan membenciku nantinya.'
Ku mantapkan hatiku yang sedang galau. Perlahan getaran ditubuhku mulai mereda. Merasakan itu, Minato memandang diriku. Dia tersenyum dan kemudian mengangguk tanda bahwa sudah saatnya untuk mengatakan semua. Aku membalas anggukannya kemudian kualihkan pandanganku pada Naruto.
"Anehkan? Padahal aku sudah besar. Apalagi tinggiku yang diatas rata-rata anak perempuan lainnya," ujar Naruto.
Dia terlihat polos saat menceritakan itu semua.
"Masa ada yang bilang kalau Naru ini laki-laki? Atau Naru memang laki-laki ya? Tapi, tidak mungkinkan, ha..ha..ha.." ujar Naruto sambil menertawai ucapannya.
Naru, maafkan Kaasan.
"Naruto," ujarku mencoba untuk tenang.
"Ya?"
"Ada yang ingin Kaasan bicarakan."
"Emm?" terlihat Naruto mengangkat sebelah alisnya tanda bingung.
Ku tatap wajah suamiku sekali lagi, mencoba memberanikan diri mengatakan semua kebenaran yang ada.
Minato menganggukkan kepalanya lagi, kemudian kualihkan pandanganku pada Naruto.. Toh, sudah seharusnya Naru mengetahui semuanya, sebelum semuanya terlambat.
"Sebelumnya maafkanlah Kaasan."
"Dan Tousan," sambung Minato.
Aku memandang Minato tanda tak mengerti.
"Maafkan kami berdua," lanjut Minato. Dia mengeratkan genggamannya padaku tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto.
'Terimakasih Minato, karena, kau juga mau menanggung kesalahanku ini.'
"Kaasan dan Tousan ini apa-apaan sih, masa tiba-tiba minta maaf begitu? Naru kan jadi bingung."
Ku tarik napas dalam-dalam dan kemudian ku keluarkan perlahan.
"Sebenarnya…" ujarku pelan. Aku tidak sanggup mengatakannya. "Kau saja Minato," ujarku akhirnya. Ku tundukkan wajahku untuk mengalihkan pandanganku dari wajah tak berdosa milik Naruto.
"Sebenarnya ada apa Tousan?" tanya Naruto.
"Sebenarnya kau itu laki-laki, Naruto," Minato mengatakannya tanpa basa basi. Terlalu tenang bahkan. Tidak ada keraguan sedikitpun di tiap perkataannya. Dia mengatakannya dengan mata yang teduh. Tidak seperti aku, yang berani berbuat tetapi tidak berani menanggungnya.
"M-Maksud Tousan, Naru mirip laki-laki kan?" tanya Naruto mencoba menyangkal apa yang dikatakan Minato barusan.
"Aku serius Naruto, sebenarnya kau itu laki-laki," terang Minato.
"Kaasan…" ujar Naruto padaku. Dia mencoba mencari kebenaran dari perkataan Minato barusan.
"Tousan mengatakan yang sesungguhnya. Kau itu….Laki-laki, Naruto," akhirnya aku bisa mengatakannya juga. Aku harus berani menanggung semua perbuatanku ini.
*Braaakk…*
Aku terkejut saat ada suara yang mengusik keheningan saat ini. Ternyata itu adalah kursi yang diduduki Naruto. Dia terlihat terkejut dan langsung berdiri, sehingga kursi yang di dudukinya tadi terjatuh.
Mata shappire Naruto terbelalak memandang kami berdua. Antara percaya dan tidak percaya terlihat jelas di mata biru itu. Setelah itu Naruto berlari keatas, menuju kamarnya.
"Naru-" perkataanku terhenti karena tangan Minato yang menarikku untuk tetap ditempat. "Naruto?" kali ini aku menghadap Minato dengan nada yang bisa dibilang bertanya.
"Duduklah," ujarnya tenang. "Biarkan dia menenangkan diri sebentar," ujarnya sambil menuntunku untuk duduk disampingnya.
Benar. Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh memaksa Naruto untuk segera menerima kodratnya sebagai seorang lelaki. Dia butuh waktu. Dia memerlukan waktu untuk menerima semua kenyataan ini.
"Minato," kutenggelamkan wajahku didada bidang suamiku. Mencoba mencari kehangatan agar aku bisa mengahadapi semua ini.
"Cup..cup..cup.." ujarnya menenangkan.
"Kau ini," ujarku sedikit tersenyum dalam tangisku karena perbuatannya yang seperti menghibur anak kecil.
"Hihi," tawanya lirih. Kemudian dia mendekapku erat. Menyalurkan semua kehangatannya padaku.
'Terimakasih, Minato. Kau sungguh suami dan ayah yang sangat pengertian. Terimakasih.'
End of Kushina POV
'Bohong. Pasti itu bohong. Kalau aku laki-laki, terus selama ini aku apa?' batin Naruto. Saat ini Naruto sedang berada didalam kamarnya. Dia menghempaskan dirinya diranjang dan menutupi wajahnya dengan bamtal. Air mata mengalir dipipinya, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan orang tuanya barusan.
'Aku ini perempuan. Mana mungkin seorang anak perempuan tiba-tiba bisa berubah menjadi laki-laki?' seru Naruto dalam hati.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar Naruto. naruto menghiraukan ketukan itu. Dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
*Cklek*
Pintu kamar Naruto terbuka, menampilkan seorang wanita cantik yang diketahui adalah ibu Naruto.
"Naru," perkataan Kushina begitu lembut, sehingga membuat Naruto tidak bisa marah pada ibunya.
"Kaasan….apa benar Naru ini laki-laki?" tanya Naruto sambil mendongakkan wajahnya agar dapat melihat Kushina.
Kushina duduk ditepi ranjang Naruto. "Naruto," ujar Kushina sambil memindahkan kepala Naruto ke pangkuannya. "Maafkan Kaasan ya. Ini semua gara-gara Kaasan," ujar Kushina sambil mengusap air mata yang ada dipipi Naruto.
"Tapi kenapa," tanya Naruto sambil memejamkan matanya, mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.
"Sebenarnya saat kaasan mengandung dirimu, kaasan terobsesi sekali untuk mendapatkan seorang anak perempuan," Kushina berkata dengan lembut sambil membelai rambut Naruto. "Sehingga saat anak yang kaasan lahirkan adalah laki-laki, kaasan begitu syok. Karena itulah tousan menyuruh kaasan untuk menganggap dan memperlakukanmu seperti anak perempuan. Dan anggapan bahwa kau adalah anak perempuan terbawa sampai sekarang," ujar Kushina sambil menahan dirinya agar tidak bergetar. "Gara-gara kaasan kau jadi seperti ini. Maaf…maaf…" air mata tidak bisa dibendung lagi oleh Kushina. Dia menangis hingga air matanya menetes di pipi Naruto.
Merasa ada sesuatu yang basah, Naruto segera membuka matanya dan sedikit terkejut melihat Kushina yang meminta maaf sambil menangis seperti itu.
"Kaasan," ujar Naruto sambil mengusap air mata Kushina. Dia bangkit dari pangkuan Kushina tanpa berhenti mengusap air mata Kushina. Kemudian Naruto memeluk ibunya erat. "Bukan salah Kaasan. Naru tidak menyalahkan kaasan," ujar Naruto sambil menitikkan air mata. "Naru mengerti perasaan kaasan, jadi Naru mohon, kaasan jangan menangis. Dan jangan salahkan diri kaasan,"
"Tapi, apakah Naru memaafkan kaasan?" tanya Kushina.
"Tidak," Kushina tercekat mendengar perkataan putranya. Naruto melepaskan dekapannya dari Kushina dan kemudian memandangnya. "Kecuali kaasan mau menerima Naru sebagai anak laki-laki."
*Grep*
Kushina langsung mendekap lagi Naruto dengan erat. "Terimakasih Naruto. Terimakasih," ujar Kushina disela tangisnya. Tapi kali ini bukan tangis kesedihan, tetapi tangis kebahagiaan karena anaknya dengan bijak mau memaafkan dirinya.
"Kaasan, cep..cep..cep.." ujar Naruto sambil mengusap punggung Kushina.
"Kau ini. Persis ayahmu," ujar Kushina sembari tersenyum.
"Hehe.." Naruto ikut nyengir karena mendengar kikikan pelan dari Kushina.
"Wah-wah, mana anak laki-laki Tousan?" tanya Minato yang memasuki kamar Naruto. sedari tadi Minato mendengar pembicaraan mereka didepan kamar Naruto.
"Tousan," Naruto melepaskan pelukannya pada Kushina dan berlari untuk memeluk Minato.
"Hahahaha, kau ini," ujar Minato karena tiba-tiba dipeluk oleh Naruto.
Minato memandang Kushina sambil tersenyum. Kushina membalas dengan senyuman tertulusnya. Terlihat kelegaan yang tersirat diwajah Kushina. Minato mendekatkan diri pada Kushina tanpa melepaskan pelukan dari Naruto. Kemudian mereka bertiga berpelukan, menumpahkan semua rasa kebebasan yang tersirat dari diri masing-masing.
"Oh iya, Naruto," ujar Minato sambil melepaskan pelukan mereka. "Masa kau tidak menyadari kalau kau itu laki-laki sih?" tanya Minato sambil menyeringai meremehkan.
"Tidak," ujar Naruto polos.
"Padahalkan kau punya itu," ujar Minato sambil menunjuk celana Naruto.
"Tousan, mana aku tau kalau punya itu ternyata laki-laki," seru Naruto dengan wajahnya yang bersemu merah. Sementara itu Kushina hanya tersenyum mendengar percakapan suami dan putranya.
"Wah, anak kita terlalu polos, Kushina," ujar Minato sok khawatir.
"Kau itu, jangan suka menggoda Naruto, ah," ujar Kushina masih dengan senyumannya.
"Jadi, selama ini Naru banci dong," ujar Naruto.
"Wahahahahaha," tawa Minato dan Kushina pun pecah, membuat Naruto menggembungkan kedua pipinya.
"Naruto-Naruto, kau ini ada-ada saja," ujar Kushina disela tawanya. Narutopun ikut tertawa karena dirasa pertanyaannya barusan sangat konyol.
"Oiya, tousan, kok di akte kelahiran Naru, tulisannya perempuan ya?" tanya Naruto pada Minato.
"Hehe…" Minato nyengir mendapat pertanyaan seperti itu.
"Jangan-jangan tousan menyabotase semuanya ya?" seru Naruto. "Berarti selamanya Naru perempuan?"
"Tenang Naruto, yang asli tousan simpan," ujar Minato mencoba menenangkan teriakan Naruto yang melebihi toa.
"Dasar tousan," mereka pun kembali tertawa.
Satu kebenaran akhirnya terkuak. Membuat jalan hidup jadi bercabang, sehingga mempermudah dalam menemukan jalan terdekat menuju kebahagiaan.
b[*_*]d
Hari ini Naruto masuk ke sekolah seperti biasanya. Dia tetap berpenampilan sebagai anak perempuan. Sebelum sampai di kelasnya dia berpapasan dengan orang yang ingin ditemuinya. Sasuke.
"Kebetulan. Sasuke, ikut aku," ujar Naruto sambil menarik tangan Sasuke agar mengikutinya. Sasuke hanya pasrah ditarik seperti itu oleh kekasihnya.
Naruto membawa Sasuke ke atap. Sesampainya disana Naruto segera melepaskan tangannya dan memandang wajah datar kekasihnya.
"Sasuke, ada yang ingin aku bicarakan," ujar Naruto.
"Hn," ujar Sasuke sambil memandang bola mata berwarna shappire milik orang yang ada dihadapannya.
"Aku…" Naruto memberi jeda pada perkataannya.
"…"
"Aku ingin kita…" Naruto menelan ludah sebelum melanjutkan perkataannya. "…Putus."
*Ctaarrr*
Seakan ada petir yang menyambar di ulu hati Sasuke setelah mendengar pernyataan dari Naruto. Dia terkejut, sangat terkejut, tapi raut wajahnya tidak memperlihatkan bahwa dia terkejut. Wajahnya tetap datar seakan tidak ada yang terjadi.
"Kenapa," akhirnya Sasuke angkat bicara. "Kenapa kau menginginkan kita putus?" ujar Sasuke meminta pertanggung jawaban atas perkataan Naruto.
"…" Naruto menundukkan kepalanya.
"Kau sudah bosan denganku? Apa aku selingkuh? Atau kau sudah menemukan penggantiku? Apa orang itu lebih baik dariku yang dingin ini? Atau jangan-jangan kau itu memang…Play girl."
*Plak*
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih Sasuke. Naruto terlihat bergetar sambil memandang wajah Sasuke.
"Apa itu anggapanmu selama ini padaku? Kau pikir aku sehina itu?" seru Naruto beruraikan air mata, karena dia tidak bisa lagi menahan air matanya untuk terjatuh.
"Lalu apa alasanmu?" ujar Sasuke sambil mengelus bekas tamparan Naruto. Naruto kembali menundukkan kepalanya. "Kau hanya ingin mempermainkan cintaku?" tanya Sasuke karena tidak juga mendapatkan jawaban dari Naruto.
"Sasuke," bentak Naruto. "Jangan anggap rendah rasa cintaku. Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku berbuat seperti itu padamu," ujar Naruto sambil mengusap air matanya yang tidak juga berhenti.
"Maafkan aku," Sasuke mendekap Naruto dan menenggelamkan wajah Naruto di dada bidangnya. "Aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Aku sudah terlalu menyukaimu," ujar Sasuke sambil mengusap rambut panjang Naruto.
Naruto menggelengkan kepalanya. "Aku mengerti."
"Kalau begitu ceritakanlah, kenapa kau mau putus dariku?" tanya Sasuke.
"Mulai besok aku akan pindah sekolah, aku akan pindah dari kota ini," ujar Naruto seraya melepaskan pelukan dari Sasuke. "Ini demi kebaikan kita juga," lanjutnya.
"Tapi kenapa harus putus? Kita kan masih bisa berhubungan jarak jauh?"
"Maaf, aku sungguh tidak bisa. Lebih baik kau mencari cinta yang lain, mencari orang yang lebih baik dariku."
"Hanya kau yang terbaik untukku, Naruto. Tak ada yang lain yang bisa mengisi hatiku selain kau."
"Tidak Sasuke, aku sungguh tidak bisa. Ini permohonan terakhirku, aku mohon lupakan aku dan carilah cinta sejatimu."
"Apakah kau akan kembali kesini?"
"Kurasa tidak. Dan kau tidak perlu tau aku pindah kemana."
"Baiklah kalau begitu," ujar Sasuke. 'Apa boleh buat, aku hanya bisa berbohong. Aku tidak mau kehilanganmu Naru. Hanya kaulah yang ada dihatiku. Meskipun kau menyuruhku mencari cinta yang lain, aku tidak akan bisa melakukannya, lebih baik aku memendam perasaanku ini dalam-dalam. Karena hanya kau yang bisa mengisinya. Tak akan ada orang lain selain dirimu,' batin Sasuke.
"Terimakasih," ujar Naruto lega. "Aku ada sesuatu untukmu," katanya sambil mengambil sesuatu didalam tasnya. Kalung. "Ini untukmu. Ini hanya sekedar kenang-kenangan bahwa kita pernah bertemu," ujar Naruto sambil nyengir lebar.
"Hn," Sasuke pun menerima kalung itu.
"Ok, aku pergi dulu," ujar Naruto sambil membelakangi Sasuke dan beranjak dari sana.
"Naruto."
"Ya-" Naruto berbalik dan sebuah ciuman memotong perkataan Naruto. Sasuke menciumnya dengan lembut. Setelah melepas ciuman singkat itu, Sasuke segera mendekap tubuh Naruto.
"Jangan lupakan aku," ujarnya pelan.
"Tidak akan," kata Naruto disertai senyum tulusnya.
"Hn."
"Dasar Teme, jangan terlalu pelit ngomong, kau ini," ujar Naruto sambil mengacak rambut pantat ayam Sasuke.
"Hn, Dobe," ujarnya sembari merapikan kembali rambutnya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sebentar lagi tousan akan kemari untuk mengurus kepindahanku. Jaga diri baik-baik ya, Teme," Naruto tertawa, mencoba melunakkan suasana.
"Hn, kau juga," ujar Sasuke disertai dengan senyumannya. Senyum tulusnya.
"Selamat tinggal," itulah ucapan terakhir Naruto sebelum akhirnya dia menghilang dibalik pintu, yang merupakan jalan satu-satunya keatap.
Sasuke masih termenung disana, mencoba untuk menabahkan hatinya.
Hari ini adalah hari kepindahan Naruto beserta keluarganya ku Suna. Keluarganya memang sudah merencanakan kepindahannya ini agar Naruto bisa menjadi seorang laki-laki. Apabila dia tetap berada di kota Konoha, entah keributan apa yang terjadi jika mengetahui Naruto adalah seorang anak laki-laki.
Sebenarnya sangat sulit bagi Naruto untuk meninggalkan teman-temannya. Namun tidak ada pilihan lagi baginya selain pindah dari sana. Apalagi meninggalkan cinta sejatinya. Serasa hati seperti disayat, dia harus meninggalkan kekasihnya itu. Tidak hanya itu, dia juga harus memendam dahkan membuang jauh-jauh rasa cintanya pada Sasuke, itu demi masa depan mereka. Masa depan yang memang sudah seharusnya terjadi.
![ToT]!
-Satu tahun kemudian-
Sasuke POV
Hari ini adalah penerimaan murid baru. Kini aku mendaftarkan diri disekolah yang ada di Tokyo. Sekolah yang menjadi impian si Dobe. Mungkin saja dengan ada disini, aku bisa bertemu lagi dengannya.
Padahal aku sudah berjanji untuk melupakannya, tapi hati ini berkata lain. Aku sungguh tidak bisa melupakannya. Hanya dia yang bisa mengisi ruang kosong dihatiku ini.
Di sekolah ini aku mengambil kelas berasrama. Tentu saja alasannya karena rumahku jauh dari sini. Lagi pula aku tidak mau ada penguntit apabila aku menyewa sebuah apartemen. Sudah cukup aku mendengar teriakan yang mengerikan dari orang-orang bodoh itu. Aku juga tidak membutuhkan mata-mata yang selalu berjalan mengikutiku dibelakang. Terimakasih banyak.
Kali ini aku berjalan menuju tempat perkumpulan untuk siswa berasrama, setelah tadi berkumpul untuk murid baru di aula. Ya, hanya siswa. Asrama disekolah ini hanya diperbolehkan untuk laki-laki, karena sekolah ini tidak mau terjadi hal yang tidak ingin terjadi hal yang tidak menyenangkan sehingga menurunkan reputasi sekolah ini.
Setiap asrama ditempati oleh empat orang, begitulah yang kudengar dalam pidato dari kepala asrama. Dan jangan lupakan peraturan yang ada. Peraturan yang runtut, dari A sampai Z, sampai-sampai aku malas untuk mendengarnya.
Aku mengedarkan pandanganku kesegala arah, sampai pandanganku bertemu dengan mata onyx yang sama sepertiku. Dia tersenyum padaku.
'Sai,' gumamku dalam hati. Aku berpikir kenapa aku sampai bertemu orang seperti itu disini. Apa tiada hidup (?) tanpa orang seperti dia? Nasib mungkin. Dan semoga saja nasibku tidak bertambah sial dengan sekamar dengannya.
Kualihkan pandanganku darinya dan kembali focus pada kepala asrama yang dari tadi belum juga selesai berpidato. Orang yang membosankan.
Akhirnya setelah mendengar panjang lebar ocehan dari si ular, aku bisa segera tidur dikamarku juga. Kulangkahkan kakiku menuju kamar yang sudah ditentukan. Kalau teringat siapa yang akan menjadi teman sekamarku, aku jadi malas. Semoga saja bukan orang berisik seperti Rock Lee. Bagiku dia adalah orang paling berisik disini. Tadi aku berpapasan dengannya. Satu lagi teman lama yang tidak ingin aku temui. Semoga nasibku tidak seburuk yang aku kira.
End of Sasuke POV
Sasuke terus berjalan tanpa mempedulikan sekitarnya. Terkadang dia mendapati beberapa anak yang terus menatapnya saat dia melewati mereka. Sementara Sasuke hanya mendengus dalam hati. Ingin rasanya dia membentak mereka karena terus memandanginya. Karena dia tidak mau cari masalah, dia mempercepat lajunya agar segera sampai ke kamar yang akan ditempatinya nanti.
Naruto POV
Akhirnya aku diterima disini juga. Sekolah impianku. Aku belajar mati-matian untuk dapat masuk kesini. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Tanks God.
Ku rapikan semua barang yang masih berada dalam koper ke lemari yang sudah disediakan. Aku adalah murid sekolah Tokyo yang mengikuti program asrama. Tentu saja itu ada tujuannya.
Aku ingin hidup mandiri, selain itu, aku ingin memantapkan diriku sebagai seorang laki-laki. Baru kali ini aku akan merasakan hidup tinggal satu atap bersama laki-laki selain tousan. Rasannya gimana ya, jadi deg-degan. Semoga saja teman sekamarku bukan orang yang berkeingintahuan kuat.
Kini rambutlu pendek acak-acakan. Tubuhku juga bertambah tinggi dari yang dulu. Ternyata pertumbuhan anak laki-laki itu cepat ya. Dan suaraku pun bertambah rendah. Tapi meski begitu tubuhku masih krempeng. Sepertinya aku perlu olahraga untuk membentuk ototku ini. Wah-wah, sepertinya pikiranku mulai seperti anak laki-laki pada umumnya.
Yosh, aku harus jadi cowok yang maco. Tapi tidak usah berotot besar, karena itu mengerikan. Dan yang perlu disayangkan adalah sifatku yang terkadang masih seperti anak perempuan. Huuuhh.
*Cklek*
Ku balikkan tubuhku untuk melihat siapa yang datang. "Selamat datang," aku terpaku sesaat.
'Sasuke,' batinku. Orang yang masih aku cintai. Maaf, aku memang sudah tidak pantas untuk mencintainya, tapi apa boleh buat, hatiku tidak bisa dipungkiri. Aku tidak mau jadi gay. Sepertinya ini kutukan karena dulu aku selalu menggoda pasangan homo dikelasku, Shikamaru dan Kiba. Oh, iya, bagaimana ya kabarnya saat ini?
Bodoh, jangan pikirkan hal seperti itu saat ini, yang palig penting, kenapa ada Sasuke disini? Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia sampai mengenaliku?
Tidak, bersikaplah tenang Naruto. Kau bukan anak gadis lagi, yang kebingungan saat bertemu mantan pacarnya. Huuuffhhh. Ok, sekarang aku tenang. Sekarang sapa dia, anggap saja belum kenal. Bereskan.
"Hai, sepertinya kita teman sekamar," kataku mencoba sebiasa mungkin.
"Hn," ujar Sasuke sambil menuju ke ranjang yang akan ditempatinya, yang berada di dekat jendela.
Seperti biasa, jawabannya hanya singkat. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk lebih banyak berbicara, dasar Teme.
"Namaku Namikaze Naruto, salam kenal," kulihat dia membelalakkan mata saat mendengar nama itu. Gawat. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau aku juga harus mengenalkan diriku. Semoga saja dia tidak curiga.
"Hn, nama yang aneh," kurang ajar, beraninya kau menghina namaku, Teme. Padahal dulu kau tidak mempermasalahkan namaku.
Sabar-sabar. "Kau belum mengatakan namamu," ujarku menahan kedutan yang muncul di dahiku.
"Uchiha Sasuke. Panggil saja Sasuke."
Kau pikir aku akan memanggilmu dengan sebutan apa? seperti fans girlmu? 'Sasuke sama. Sasuke kun. Sasu-chan. My Princes. Pujaanku,' hiaks, menjijikkan tau. Panggilan yang pantas untukmu itu, 'Saskayam'. Hem, sepertinya panggilan itu pantas juga untuknya.
"Salam kenal Saskayam," ujarku ramah sambil membungkuk.
Ku dongakkan kepalaku untuk melihatnya karena dia tidak juga mengucapkan sepatah katapun. Ku lihat dia memberikan death glare andalannya.
"Apa kau bilang, Dobe," katanya penuh penekanan.
*Glek* gawat, kelepasan. Aku ini bodoh sekali sih, akukan berniat memanggilnya dengan nama itu di dalam hati. Sekarang matanya berkilat dengan aura hitam dibelakangnya.
"Hehe, kelepasan, Teme," bodoooh, kenapa aku memanggilnya dengan sebutan itu. Karena mendengar panggilannya, tanpa sadar aku membalasnya seperti dulu.
"Ucapkan sekali lagi," ujarnya sekali lagi. Kali ini dia berdiri dari ranjangnya.
"M-Ma-Maaf, Sasuke sama," aku ingin muntah mengucapkan kata itu.
"Hn, kali ini kumaafkan," ujarnya seraya duduk kembali di ranjangnya. Fiuuh, untuk kali ini aku selamat.
End of Naruto POV
'Kenapa aku tadi memanggilnya dengan sebutan 'Dobe', padahal itu panggilan sayangku padanya. Apa karena nama mereka sama, jadi tanpa sadar aku memanggilnya seperti itu. Bukan, aku memanggilnya seperti itu bukan karena nama mereka sama, tapi karena si Dobe ini memang bodoh. Jadi tidak ada salahnya memanggil dia seperti itu,' batin Sasuke.
*Cklek* pintu kamar itu terbuka dan menampilkan sesosok berambut hitam.
'Gawat. Nasibku memang sial,' batin Sasuke dan Naruto bersamaan saat melihat orang yang memasuki ruangan itu.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu saja," ujar Sai disertai senyumnya.
'Kau itu memang setan, penguntit, mesum, dan yang paling parah kau mempersulit hidupku, Sai,' seru Naruto dalam hati.
"Hai, Sasuke, ternyata kita sekamar ya. Aku sangat beruntung," ujar Sai pada Sasuke.
'Cih, beruntung untukmu. Bagiku petaka bisa bertemu denganmu,' batin Sasuke kesal.
"Em, siapa ini. Sepertinya aku kenal," Sai berjalan mendekati Naruto yang masih terdiam.
'Gawat, semoga saja dia tidak mengenaliku. Bisa hancur hidupku kalau dia sampai tau aku, karena hanya dia yang tahu kalau aku ini laki-laki. Apa belum tau ya? Peduli setan, sepertinya bahasaku sekarang kasar sekali, Hiiaaahh, pokoknya aku harus jaga-jaga,' batin Naruto.
"Sai," ujar Sai sambil mengulurkan tangannya didepan Naruto.
"Salam kenal, aku Namikaze Naruto," ujar Naruto sambil menjabat tangan Sai.
"Hmm, Naruto ya. Aku seperti pernah mengenal nama itu, tapi dimana ya?" ujar Sai sambil memegang dagunya tanda berpikir.
"Mungkin hanya perasaanmu saja," kata Naruto.
"Ah, aku ingat. Uzumaki Naruto,-" seru Sai.
*Bletak*
"Bukan, bodoh," geram Sasuke setelah menjitak kepala Sai dengan keras.
"Kau kenapa sih, sensitive banget," ujar Sai sambil mengelus kepalanya.
"Hn," ujar Sasuke dan kemudian membalikkan badannya.
"Mentang-mentang mantannya," gumam Sai lirih.
"Apa katamu?" geram Sasuke yang ternyata mendengar gumaman Sai.
"Huwaa, tidaak… Salam kenal ya, Naruto. Aku mau ambil barang dulu dibawah ya," ujarnya gelagapan. Setelah kembali menjabat tangan Naruto, dia segera berlari keluar kamar.
"Orang yang aneh," ujar Naruto sepeninggal Sai.
"Hn, juga pembawa sial," gumam Sasuke.
Naruto memandang Sasuke sejenak kemudian mengangkat pundaknya dan berjalan ke ranjangnya.
'Sepertinya tidak ada yang curiga. Semoga saja,' batin Naruto lega.
*TBC*
Gomen kalau pendek. Aku sudah mengusahakannya agar lebih panjang dari yang kemarin (baca : dari yang kemarin)
Semoga cerita ini dapat menghibur kawan".
Mohon bantuannya dalam melanjutkan cerita ini.
m( _ _ )m
