Bad Boy, Good Boy
A Jaehyun x Taeyong―Jaeyong―fanfiction
by chrysantscent
Taeyong dalam keadaan naked, menungging di tempat tidur adalah salah satu keindahan dunia. Butt-nya tidak terlalu berisi seperti gadis-gadis, but still as good as his pretty face di mata Jaehyun. Dengan tangan Jaehyun memisahkan dua bongkahan itu agar bisa melihat lebih jelas celah kecil mengerutnya.
"Don't tease me, Jaehyun. Hurry up!"
Taeyong sepertinya sudah sangat tidak sabar sampai tanpa sengaja memohon begitu. Suara beratnya sarat akan nafsu, Jaehyun suka.
Jaehyun mencondongkan tubuh, memeluk Taeyong dari belakang. Jangan tanya tangannya. Itu sudah menjalar kemana-mana menyentuh tempat-tempat tertentu dengan tak senonoh. Dia bahkan menggigit area bahu dan leher menimbulkan bunyi krauk sebelum berhenti tepat di samping telinga Taeyong untuk berbisik, "You like this, baby? I'll make you moan and groan. I'll even make you shed a tear. Baby, I can do alright, right? I'll make love to you all through the night."
Memastikan barang pribadinya terlumasi hingga licin, Jaehyun bersiap menusuk masuk…
"Fuck!"
Dan terbangun dengan tubuh dibanjiri keringatnya sendiri. Tak heran jika kalimatnya tadi terdengar sangat murahan dan menjijikkan.
Jaehyun mengusap rambutnya yang basah oleh keringat dan menenangkan pacuan jantungnya. Sesuatu di bawah sana benar-benar sudah hard di balik celana pendek yang dia pakai. Jaehyun mulai merasa lelah dengan semua bayangan sialan, yang sudah seperti mimpi buruk ini sejak insiden di ruang ganti.
Jaehyun menatap adik kecil kebanggaannya sambil cemberut. "Why you do this to me? Kupikir kau hanya akan bereaksi pada gadis seksi, bukannya seorang pria menyebalkan yang sama sekali tidak ada seksi-seksinya menurutku."
Jaehyun mencintai gadis-gadis, sungguh. Pada dasarnya dia tidak akan bisa menolak gadis cantik, meski favoritnya tetap gadis berseragam, punya image anak baik dengan mata besar mereka yang berbinar polos. Dan jika bisa yang punya payudara dengan ukuran D cup.
Sejauh ini, Jaehyun tidak pernah bereaksi pada laki-laki manapun, dengan alasan apapun. Memang ada saat di mana dia sedang di kamar mandi lalu sengaja mengintip properti milik orang di sampingnya dengan ujung mata. Tapi itu hanya untuk membandingkan ukuran. His dick usually bigger and better, after all, jadi dia tidak pernah tertarik lebih jauh. Nope. Sebenarnya, Jaehyun cukup yakin bahwa dirinya seorang hetero karena dia bahkan tidak penah memikirkan sesuatu yang menjurus pada gay things saat melakukan itu.
Masalah besarnya sekarang, sepertinya Jaehyun sudah tidak begitu yakin lagi dengan dirinya sendiri.
"What a shitty day!"
Kelasnya membosankan. Jaehyun keluar dari sana menggunakan dalih pergi ke kamar mandi dengan niat tidak akan kembali. Salah satu tempat persembunyian favorit Jaehyun untuk melarikan diri dari dosen sialannya adalah perpustakaan. Tidak ada seorang pun kecuali para nerd dan orang kurang kerjaan sepertinya yang datang ke sana, tidak akan ada yang berani mengganggu dirinya juga. Jaehyun akan tidur di sudut gelap. Orang yang berusaha membangunkannya adalah orang paling sial di dunia karena mengharapkan kematiannya datang lebih cepat.
Tapi siapa sangka dia akan menemui orang yang tidak dia harapkan di sana?
Secara kebetulan, seorang Lee Taeyong masuk dalam jarak pandang saat dia masuk, sedang membaca dengan tenang ditemani setumpuk buku tebal di atas meja.
Jaehyun tersenyum manis dan menarik sebuah kursi di sampingnya. Niatannya untuk tidur tiba-tiba lenyap.
"Well, well, well, lihat siapa yang kita temukan di sini."
Taeyong mendongak kaget, lalu melanjutkan membaca tanpa mempedulikan orang yang menyapanya. Tapi sebelumnya Jaehyun berhasil menangkap sedikit kedutan jengkel dan ketidaksukaan di matanya yang besar dan bulat hitam itu.
Jaehyun berpikir jika ini saat yang tepat untuk membalas dendam atas apa yang telah pemuda itu lakukan pada harga dirinya yang berhasil dibuat babak belur semalam.
"Apa yang membawamu ke sini?" Suara datar dingin menusuk tulangnya melemparkan sarkasme.
Jaehyun mendesah dramatis. "Aku memang biasa ke sini untuk tidur." Dia menaruh kedua tangannya di belakang kepala dengan punggung bersandar nyaman di sandaran kursi. "Tapi untuk kali ini sepertinya aku datang karena melihat seseorang yang sedang duduk sendirian. Aku mendapat dorongan menjadi Prince Charming yang akan menyelamatkannya dari kebosanan."
Taeyong mendengus dengan jijik. "Bermimpi saja terus, asshole."
Jaehyun menyeringai. Taeyong bisa mengatainya seperti itu pasti karena tempat ini sepi. "Jangan terlalu serius begitu, buddy. Itu tidak baik untuk kesehatan." Jaehyun mencabut satu rambut Taeyong dengan iseng. "Tidak heran kau sudah punya uban meski masih muda."
Taeyong memelototinya dan berdiri, berbalik untuk pergi. Jaehyun meraih lengannya sebelum dia bisa berjalan pergi terlalu jauh.
"Baiklah, baiklah, maaf, oke? Duduk lagi, jangan pergi dulu. Aku ingin bicara."
Taeyong kembali ke kursinya yang baru dia tinggalkan dan menatap Jaehyun. "Bicara? Kau sehat? Aku kira kita tak punya topik yang bisa kita bicarakan bersama."
Untuk beberapa alasan, tatapan tajam Taeyong yang seakan bertanya membuat Jaehyun nervous. Dia bisa saja balas melotot, atau mengeluarkan lelucon lagi, tapi ini? Jaehyun justru bergerak tidak nyaman di kursinya seakan butuh bantuan seseorang karena tak tahu apa yang harus dia katakan, atau lakukan.
"Yeah. Kita bisa bicarakan apa saja, kan? Sesuatu yang umum tentang dirimu seperti jumlah saudara, makanan dan film kesukaan, hobi, uhh..."
Jaehyun cepat-cepat menutup mulut dan mencoret daftar absurd dari kepalanya tentang apa yang ingin dia tahu dari Taeyong yang hendak dia ucapkan, saat melihat pemuda itu mengerutkan kening dan menatapnya dengan sipitan mata penuh curiga.
Hening menggantung di udara sebentar. Taeyong menilai Jaehyun pada awalnya, untuk melihat apakah Jaehyun sedang mencoba mengolok-oloknya, atau justru benar-benar tulus bertanya dan ingin membuat hubungan mereka lebih baik. Taeyong memutuskan menjawab kemudian.
"Aku tidak punya saudara, anak tunggal. Ayah dan ibuku asli orang Korea tapi sangat sibuk. Warna kesukaan tidak ada yang khusus, tapi aku lebih suka warna-warna monochrom. Makanan manis adalah favoritku. Aku suka berenang, bersih-bersih dan memasak untuk menghilangkan stress. Aku juga punya ketertarikan khusus pada rap, dance, dan fotografi. Giliranmu."
Kalimat itu adalah kalimat terpanjang dari Taeyong yang pernah Jaehyun dengar. Satu yang tanpa umpatan dan kesan tak bersahabat. Cukup menarik. Rasanya aneh tidak ada kesan permusahan di antara mereka, tapi Jaehyun berniat membuat ini lebih aneh lagi. Dia mengangkat alis. "Aku kira kau tidak mau tahu apa-apa tentangku?"
Taeyong mendengus.
"Right. So… aku sudah jadi yatim piatu sejak kecil dan tak punya saudara ataupun kerabat lain yang mau mengakuiku. Kau mungkin takkan percaya, tapi aku suka matematika dan ilmu pasti. Warna kesukaan… putih? Aku tidak yakin. Aku selalu suka makanan western dan Italia. God, memikirkan pizza dan spaghetti carbonara sekarang membuatku lapar. Hobiku main basket dan menyanyi, mungkin? Selain membolos kelas Park ssaem yang membosankan itu. Suaranya bahkan lebih ampuh dari lullaby. Bukannya mengerti aku malah mengantuk mendengarnya bicara." Jaehyun memutar matanya dan berdecak.
Saat itulah Jaehyun melihatnya. Ini dimulai dengan kedutan kecil di sudut bibir, senyum kecil, lalu kekehan yang berubah menjadi tawa terbahak-bahak, lengkap dengan menunjukkan deretan gigi putih.
Pada saat itulah Jaehyun tahu bahwa dirinya―Telah? Sedang?―jatuh cinta.
Kepala Taeyong terlempar ke belakang, kulit lehernya yang terlihat membuatnya begitu, sangat, seksi, belum lagi suara rendahnya yang terdengar merdu saat tertawa. Jaehyun belum pernah melihatnya tertawa seperti itu sebelumnya, bahkan saat dia sedang bersama teman-teman luar biasanya.
"Ssst, tolong tenanglah sedikit, ini perpustakaan."
Perkataan seorang wanita yang lewat membungkam mereka.
Jaehyun dan Taeyong saling memandang, kemudian sama-sama mencibir punggung wanita itu saat dia berbalik meninggalkan mereka dengan jari tengah terangkat.
"Wah, sepertinya aku membawa pengaruh buruk untukmu, eh?" Jaehyun menyeringai saat melihat ekspresi geli Taeyong.
"Sepertinya begitu." Senyumnya memudar sejenak dan dia berbalik termenung. Dia menatap Jaehyun simpatik. "Jadi kau yatim piatu? Aku tidak tahu…"
Kasihan. Itulah salah satu hal yang paling Jaehyun benci di dunia ini, dan dia juga benci dipandang menyedihkan seperti itu, terutama oleh seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
Jaehyun mengangkat bahu. "Don't pity me. Itu sama sekali tak mengganguku. Semuanya sudah terjadi. Aku bisa bertahan hidup sampai sekarang. Berkelahi juga bisa menghasilkan uang, banyak yang mempekerjakanku untuk itu."
Jaehyun berbohong. Sedikit. Itu jelas masih mempengaruhinya kadang-kadang, menghantuinya setiap saat karena merasa seperti anak yang tidak diinginkan. Melihat orang lain bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya, mengobrol dengan penuh semangat dan tertawa bersama membuat hati Jaehyun tetap sakit. Perasaan sendirian itu benar-benar mengerikan. Mengetahui bahwa takkan ada yang peduli padanya bahkan meski dia mati nanti, adalah yang mengubah Jaehyun menjadi sosok yang selalu memandang sinis setiap hal seperti sekarang. Jaehyun hanya ingin menikmati hidupnya dengan bebas. Mencoba untuk itu dengan tak mendengarkan pendapat buruk orang lain tentang dirinya.
Taeyong menatap Jaehyun sebentar. Ada orang yang mengatakan bahwa mata adalah jendela menuju hati seseorang. Tidak ada yang bisa ditutupi dari sorot mata seseorang. Jaehyun berharap bahwa orang yang menciptakan omong kosong itu adalah seorang pembohong. Atau jika tidak, Jaehyun cukup baik untuk berpura-pura saat ini.
"Begitu."
Hanya itu yang Taeyong katakan setelah Jaehyun menceritakan masa lalunya yang menyakitkan padanya. Tepat saat Jaehyun akan mengakhiri diskusi mereka ini, karena ini semakin terasa aneh sekarang, Taeyong malah bertanya.
"Kau ingat saat kita bertemu di ruang ganti?"
"Yeah, why?"
Taeyong menunduk menatap meja. "Aku mendapat telepon dari ayahku. Aku membencinya. Aku benci tiap kali harus berbicara dengannya karena itu selalu bisa membuat moodku buruk. Itulah kenapa aku marah saat kau malah menjadikannya bahan candaan."
Jaehyun tidak yakin dengan apa yang harus dilakukannya dengan suasana di antara mereka yang semakin aneh ini. Kenapa mereka sudah seperti teman akrab begini? Taeyong bahkan menceritakan rahasianya pada Jaehyun yang hanya bisa duduk tercengang di sana, seperti orang tolol.
Jaehyun berhasil meminta maaf, meski tak bermaksud sepenuhnya. "Sorry, aku sudah mengataimu… well, fake? Aku hanya tidak tahan melihatmu seperti itu, karena pasti sangat melelahkan. You're just not being yourself, that's irritating me. Orang lain mungkin tidak bisa melihat, tapi itu sangat jelas untukku. Jangan khawatir, aku akan menutup mulutku tentang itu."
Taeyong terlihat sangat cute, duduk di sana, gelisah, gugup dan syok menatap Jaehyun untuk melihat reaksinya. Sekarang, Jaehyun tidak keberatan untuk mengakui berbagai gay things yang ada di pikirannya tentang sosok itu.
Taeyong menelan ludah. "Ini adalah pertama kalinya aku benar-benar bisa bicara dengan seseorang mengenai ini. Jujur saja, aku tidak pernah sangka itu kau. Kau benar Jaehyun, ayahku, Abojiku yang terhormat, dia memiliki harapan tinggi padaku. Aku harus menjaga nilai dan kelakuanku selalu sempurna untuknya. Satu-satunya yang aku syukuri adalah dia masih memperbolehkanku berenang, meski aku juga harus melaporkan kemajuanku di club padanya, dengan syarat tambahan itu takkan mengganggu nilai-nilaiku. Dia menunjukkanku seperti sebuah barang pada teman-temannya di pesta, mengatakan betapa sempurnanya dan membanggakannya aku. Aku harus menjunjung tinggi nama keluarga, karena aku anak tunggal dan satu-satunya yang akan mengambil alih bisnis keluargaku di masa depan. Semuanya benar-benar memuakkan."
Jaehyun bersiul. "Whoa, it's sounds very frustrating. As expected, to a young master like you. Tak heran kau selalu memilih menghabiskan waktu berjam-jam di kolam renang sekolah setelah pulang sekolah. Apa tinggal di rumah sangat menyiksa?"
Dengan cemoohan, Taeyong menjawab, "Menyiksa? Lebih dari itu. Aku merasa seperti ada di neraka. Aku tidak diberi kesempatan untuk bicara dan menentukan apa yang kuinginkan. Ini hidupku tapi harus menjalaninya sesuai perintah ayahku. Aku merasa tak jauh berbeda dengan boneka, atau lebih parah, budak ayahku."
"Baiklah, daripada kau menjadi budak ayahmu seperti itu, bagaimana jika kau jadi budakku saja? " Jaehyun menyerigai dan mengedip genit padanya. Just to light up the mood.
"In your dreams, bastard."
Taeyong memukul kepala Jaehyun main-main, tidak tahu saja dia memang sudah jadi budak untuk menghangatkan tempat tidur si pemuda Jung dalam mimpinya.
Setelah itu, Taeyong melihat jam dan berkata ada kelas jadi harus pergi. Setelah mengucapkan selamat tinggal, sampai ketemu nanti di kamar mereka. Sounds ambiguous, right?
Semuanya berubah menjadi lebih baik tanpa disangka hanya dengan pembicaraan singkat, mereka bahkan membuat rencana untuk makan malam bersama. Taeyong, yang menawarkan. Itu permulaan yang bagus, tapi tetap saja, ada hutang yang masih harus dibayar.
Jaehyun sudah mulai memikirkan bagaimana dia akan menjalankan rencana balas dendamnya dari sekarang. Dia harus menuntaskan itu malam ini juga.
"I can't wait," gumamnya sambil berseringai.
Taeyong mengajaknya ke salah satu Restauran Itali yang terlihat mahal. Jaehyun yakin tidak akan bisa membayar satu porsi makanan di sana tanpa harus menghabiskan setengah dari tabungannya, tapi kali ini Taeyong berkata dia yang akan bayar. Jaehyun not sure for what that is, tapi tidak bisa menolaknya.
Tempatnya benar-benar cozy, dan yang Jaehyun butuhkan benar ada di sana, taplak meja putih yang menjulur ke bawah hingga menutupi sampai setengah kaki meja. Mereka mengambil satu meja di sudut terpencil. Bukannya duduk saling berhadapan, Jaehyun justru memilih duduk bersampingan dengan Taeyong.
Saat Taeyong membolak-balik buku menu, Jaehyun mulai menyelipkan tangannya ke bawah meja menuju selangkangannya. Taeyong tersentak kaget dan menatap Jaehyun dengan tak percaya. Matanya membulat sebelum menatap tajam.
"Pesan sesuatu, Taeyong. Jangan biarkan wanita cantik ini menunggu terlalu lama." Jaehyun menatap si pelayan yang merona karena digoda. "Spaghetti Carbonara dan segelas orange juice untukku." Jaehyun melontarkan senyum padanya, lalu pada Taeyong di saat yang sama dia menarik resleting celana pemuda Lee itu turun, memijat sesuatu yang sudah bangun di bawah sana dari balik kain.
Wajah Taeyong sudah pucat saat ia mencoba memusatkan perhatiannya kembali pada buku menu, berkata dengan suara tertahan. "Spaghetti Bolognese dan mineral water." Dia tidak berani menyentak tangan Jaehyun saat ini meski ingin, tidak saat pelayan itu masih ada di sini, tanpa membuat semuanya terlalu jelas mengenai apa yang sedang Jaehyun lakukan padanya sekarang.
Saat dia pergi, Taeyong mendesis marah pada Jaehyun. "Apa yang kau lakukan, bastard? Get your hand fuck off of me NOW. Sebelum aku―fuck." Taeyong tersentak saat tangan Jaehyun malah masuk ke dalam, dan menarik barang pribadinya itu keluar hingga terbebas dari celananya.
Jaehyun tersenyum saat mulai membelai benda di tangannya dengan lambat tapi pasti, membuat gerakan melingkar di ujungnya dengan ibu jari. Sama dengan apa yang dia dapat dari Taeyong waktu itu. "Cobalah untuk tidak membuat terlalu banyak suara, Yongie baby. Kau tidak ingin tertangkap basah dengan keadaan memalukan ini kan?" bisik Jaehyun.
Jaehyun menyukai ekspresi ketakutan di mata Taeyong saat itu. Dia terlihat menikmati ini, menunggu apa lagi yang mungkin Jaehyun lakukan padanya, sekaligus takut akan konsekuensinya. Jaehyun mungkin kejam, tapi ini sepadan.
"Tenang, aku tidak akan menyakitimu, sebut saja ini, you know, balasan untukmu. Kau layak mendapatkan ini, Taeyong, setelah perlakuanmu padaku waktu itu. Just enjoy it, baby."
Taeyong menutup mata dan mengertakkan gigi, rahangnya mengeras. Dalam hati dia mengumpati tingkah gila Jaehyun.
"Feel aroused, don't you? Lihat, sudah sebasah apa kau sekarang." Jaehyun sangat menikmati ekspresi Taeyong saat ini. So sexy.
Tepat pada saat Jaehyun menaikkan gerakan tangannya, Taeyong terkesiap bahkan sampai mengerang pelan, pelayan tadi datang dengan membawa pesanan mereka. Taeyong membuka matanya yang terasa kabur, menggigit bibirnya dengan keras karena Jaehyun tidak juga menghentikan gerakan tangannya. Kedua tangan Taeyong terkepal kuat di atas meja, mencoba terlihat tenang meski sangat mustahil mengingat keadaannya sekarang.
Pelayan wanita cantik itu sepertinya melihat ekspresi tidak nyaman dan keringat yang dia keluarkan, mengasumsikan jika pelanggannya itu sedang menahan sakit. "Apa Anda baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Dia jelas termasuk jenis manusia yang tidak pandai membaca situasi. Jaehyun sampai ingin tertawa. Sepolos apa wanita ini?
Dengan perhatian yang terpusat padanya, Taeyong mulai panik. "Yeah, aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing, that's it."
Jaehyun tersenyum pada pelayan wanita itu tadi. Nama yang ada di name tag-nya adalah Siyeon, Park. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan teman baikku ini." Jaehyun terus menggerakkan tangannya, membuat irama yang lebih cepat lagi.
"Baiklah. Silahkan dinikmati makanannya." Dia tersenyum dan pergi.
Rencana jahat lain memenuhi pikiran Jaehyun.
Jaehyun melirik Taeyong. Begitu pelayan tadi menghilang dari pandangan, pinggulnya mulai bergerak dengan sendirinya, sementara dia berusaha menahan erangannya dengan menekan punggung tangan di depan mulut. "St-stop. Please, Jaehyun. Fuck. You bastard. I'll kill you―"
"Kau tahu, suaramu terdengar sexy saat mengumpat begitu. Mulutmu benar-benar kotor, ya? Tapi karena aku suka, maka aku akan memberi hadiah khusus yang aku yakin akan kausukai."
Jaehyun melepaskan tangannya dari tempat semula, dan bisa mendengar suara protes kecil. Taeyong terlihat lega sekaligus kecewa. Matanya berkilau karena nafsu, Jaehyun bisa melihat itu. Rambut hitamnya kusut karena tangannya sendiri, dan mulutnya sedikit terbuka. Jaehyun sampai tidak tahan.
Jaehyun membungkuk sedikit dan mencium bibir Taeyong, mengamati sekeliling setelah itu lalu dengan cepat menghilang di bawah meja. Sebelum Taeyong bahkan bisa mencerna fakta bahwa Jaehyun baru saja menciumnya, Jaehyun sudah menikmati hidangan di depannya.
First time bagi Jaehyun melakukan ini. Melihat benda itu sedekat ini. Wow, pikirnya. Melihat benda itu bergetar saat Jaehyun menelusurinya dengan jari-jari panjangnya. Setengah menggoda.
Sekarang, semua umpatan Taeyong sudah berhenti berganti suara helaan napas berat. Meski Jaehyun tidak yakin Taeyong akan berterimakasih, justru akan menonjoknya setelah semua ini, dia tetap melakukannya.
Jaehyun menundukkan kepalanya lalu mulai mencicipi itu dengan lidahnya, memunculkan erangan rendah dari Taeyong. Selanjutnya adalah adegan yang biasa terlihat di film dewasa. Jaehyun feeling sooooo gay right now, but he like it.
Taeyong yang hampir putus asa, mulai meminta lebih dengan ikut aktif bergerak.
Jika ada orang yang melihat ke arah mereka, mereka akan tahu apa yang terjadi di bawah meja yang hanya tertutup taplak putih ini. Selain karena kaki Jaehyun yang terlihat, suara dari kegiatannya juga erangan teredam Taeyong juga akan menarik perhatian. Tapi sepertinya tidak ada yang mau repot-repot peduli. Mereka ada di sudut tak terlihat, dan orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Jaehyun tidak bisa menelan semuanya tanpa tersedak, tapi dia sudah punya banyak pengalaman blowjob dari gadis-gadis, memberinya sedikit pengetahuan bagaimana cara mereka saat melakukan ini yang paling dia sukai.
Jaehyun mencintai suara-suara yang Taeyong buat sekarang, membuatnya semakin bersemangat sekaligus feel aroused? Tidak mungkin dia bisa keluar dari restoran itu jika dia tak mengurus adiknya juga yang mulai bangun, jadi tangannya juga mulai bekerja memanja dirinya sendiri.
Jaehyun merasakannya tubuh Taeyong tegang dan menggumamkan beberapa kata random yang tidak jelas seperti; "Cukup... stop! I'm― I can't... Jaehyun bastard! I'll―"
Jaehyun tidak bisa menggambarkan perasaan senang yang dirasanya saat Taeyong mulai bergerak tak terkendali atas keinginannya sendiri. Dia bisa merasakan dia datang di saat yang sama hanya dengan membayangkan bagaimana keadaan mereka saat ini terlihat.
"Nh. Fuck."
Jaehyun membersihkan dirinya dengan serbet dari meja sesudah itu. Membenarkan kembali apa yang sudah dia kacaukan. Jaehyun segera memeriksa sekeliling mereka sebelum kembali duduk tenang di kursinya. His don't like the taste. Dia sengaja membagi rasa pahit dimulutnya dengan mencium Taeyong lagi, membuat rasa pahit itu sedikit lebih manis karenanya.
"So, Yongie baby, what do you think? Was that hot, or was thathot?"
Jaehyun menyeringai penuh kemenangan. Berbanding terbalik dengan Taeyong dengan matanya yang terasa berat.
"Fuck you. Aku sangat lelah; secara mental, emosional, dan fisik. Aku akan memukulmu setelah tenagaku kembali." Dia menatap spaghetti-nya. "Kau juga membuat makananku dingin." Taeyong menatap Jaehyun dengan tatapan menuduh.
"Kita bisa pesan lagi jika kau mau."
Dia yang bayar? Tidak mau. "Go die, idiot."
"Unfortunately, I prefer to eat this now, and eat you later before I go die."
Taeyong memutar mata.
Mereka menyelesaikan makan malam dalam keheningan.
Itu sudah cukup malam saat mereka sampai di asrama. Saat Jaehyun bersiap untuk tidur, Jaehyun melirik ke tempat tidur sebelah. Taeyong sudah ada di bawah selimut dengan punggung menghadap Jaehyun. Tidak diragukan lagi dia masih kesal, bahkan marah, padanya.
"Hey, Taeyong."
"Tidak. Aku tidak akan memaafkanmu bahkan jika kau mengemis padaku sekarang, Jaehyun."
Baiklah. Jaehyun memang pantas mendapatkannya.
"I think I'm falling for you."
Lanjut?
Lebih panjang dari harapan dan lebih kotor ew. Banyak kalimat umpatan dan adegan tak senonoh yang harap dimaklum. I'll add one more chapter, soon. Terimakasih fav, foll, reviewnya. Ciao
Mind to review?
