Sahabat, sampai mati !
.
.
.
Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei.
.
.
.
Warning : Horor(gagal, sepertinya), Typo(masih eksis banget), dll..
.
.
Selamat mambaca…
.
.
.
Tugas dan malam dengan hujan turun dengan deras, sungguh tidak sesuai sekali. Kenapa? Karena sungguh lebih baik untuk berbaring diatas kasur dengan selimut dan jangan lupakan menyetel musik dan berlabu ke dunia mimpi. Tapi itu harusku tunda sampai tugas kuliahku usai.
Sebagai mahasiswa tingkat empat memang sungguh melelahkan karena banyak tugas yang dosen berikan pada mahasiswanya. Terutama Takumi-sensei yang tidak peka pada mahasiswanya dengan memberikan banyak tugas. Sudah harus menjalani banyak sesi pemotretan ditambah dengan tugas yang menggunung, ya itulah nasibku. Nasib seorang Kise Ryouta yang tampan ini. Narsis?. Sudah sifatku ko.
Aku pun berhenti mengeluh dan mulai focus kembali dengan laptop dihadapanku. Sialnya, udara semakin mendingin karena hujan yang turun sangat deras sekali. Aku pun mematikan pendingin ruangan dalam kamarku karena aku tidak mau ditemukan besok tengah tertidur diatas meja belajar karena terbuai udara nan sejuk dan nyaman untuk berlabu kealam mimpi dengan tugas yang tidak selesai dan mendapat ceramahan dari Takumi-sensei karena tidak mengumpulkan tugas yang deadline besok.
Aku pun berpikir sepertinya enak kalau membuat coklat panas untuk menemaniku mengetik tugas. Akhirnya aku pun keluar kamar dan membuat coklat panas didapur.
Ting…Nong…
Bel apartemenku berbunyi. Aku pun melirik jam yang ada di dinding dapur dan jam menunjukan pukul 11 malam, sungguh siapapun itu ia tidak tahu etika bertamu. Dengan malas aku pun menuju pintu dan membukakan pintu itu.
Terkejut. Karena aku melihat sosok sahabatku yaitu Aomine Daiki tengah berdiri didepan apartemenku dengan kondisi basah kuyub dan aku bisa melihat kalau ia gemetar.
"Astaga Aominechi kenapa basah-basahan gini sih, ayo masuk." Aku pun menarik tangan Aomine dan langsung berlari ke tempat jemuran handukku dan setelahnya kembali ke tempat Aomine dan memberika handuk itu pada Aomine.
"Keringkan tubuhmu Aominechi dan segeralah mandi air hangat ya."
Dua puluh menit berlalu dan aku sudah menyiapkan dua gelas coklat panas untukku dan juga untuk Aomine. Tidak lama, Aomine keluar kamar mandi dengan mengenalan pakaianku yang sengajaku pinjamkan padanya. Aku dan Aomine pun duduk bersama di ruang tengah.
"Aominechi kau habis darimana ssu ? kenapa bisa basah kuyub sih ?"
"…"
"Mou.. aku malah dicuekin ssu."
"Ryouta, aku boleh menginap disini ?"
"Eh?... ya baiklah."
"Terima kasih."
"Ya ya… aku ada tugas ssu, jadi terserah kau mau langsung tidur atau disini nonton tv dulu kalau aku dikamar ya."
Aneh. Satu kata, itu yang ada dipikiranku karena Aomine yang biasanya bawel jadi sangat irit ngomong. Apa mungkin ia ada masalah, yasudahlah besok saja ditanyanya. Aku pun kembali mengerjakan tugas-tugasku.
Pegal-pegal semua tubuhku karena harus terus mengetik dan membaca buku secara bergantian untuk mengerjakan tugas dan aku pun melirik ke kasurku dan melihat Aomine sudah tertidur. Rasanya memang sangat aneh bukan hanya karena Aomine yang lebih irit ngomong tapi kemana sifat jahilnya yang biasa. Bisanya ia, tidak akan segan-segan mengerjaiku saat mengerjakan tugas walau aku sudah merengek minta untuk tidak diganggu tapi malam ini, Aomine sungguh berbeda dan aneh sekali. Aku pun merebahkan tubuhku disebelah Aomine. Tidak lama, aku sudah terlelap masuk ke alam mimpi.
Krak…Krak…Krak…
Suara berisik itu membangunkanku, aku pun melirik kearah Aomine yang masih tertidur lelap disebelahku. Dia memang kebo masa gak denger suara berisik sih. Aku pun mengedarkan pandanganku keseluruh isi kamarku, dan kulihat adalah sesosok orang yang tengah duduk dimeja belajarku tengah memperhatikan fotoku dan Aomine saat kami berfoto setelah kelulusan SMA. Jarinya mengetuk-ngetuk meja, dan semakinku perhatikan sosok itu sangat mirip dengan seseorang yang kukenal.
DEG.
Seluruh tubuhku mendadak kaku dan keringat dingin membasahi tubuhku. Sosok itu adalah…
'AOMINECHI!' Terikanku didalam batin.
Sosok itu kemudian berbalik dan menatapku, sungguh sosok itu mirip sekali dengan sosok Aomine. Tubuhku gemetar ketakutan, dan sosok itu tiba-tiba menunjuk kesebelahku dengan sisa tenaga yang ada aku melirik kesebelahku yang seharusnya ditempati Aomine yang tertidur, dan Aomine masih pada posisi tidurnya disebelahku. Lalu aku melihat lagi sosok yang mirip dengan Aomine itu dan sosok itu menghilang. Aku menahan nafasku dan berniat untuk membangunkan Aomine karena sungguh aku sangat ketakutan sekali.
"Aomin-"
TIDAK ADA.
Aomine sudah tidak ada disebelahku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung bangun dan berlari keluar kamar, namun saat aku mau membuka pintu depan rasanya kepalaku pusing dan semua menghitam.
.
.
.
Aku terbaring lemas diatas lantai gym sekolahku dengan keringat bercucuran.
"Kau sudah menyerah , Kise ?"
"Huff… Aominechi kuat seklai ssu.. Aku bahkan belum pernah menang one on one denganmu ssu."
"Kalau gitu kau harus banyak berlatih lagi, bodoh."
"Jangan mengataiku bodoh ssu… Aominechi noh yang bodoh masa ulangan matematika saja dapet nilai 1 ssu, kaya aku dong dapet nilai 3 ssu."
"Cih, kau sama bodohnya dapet nilai 3 aja bangga."
"Daripada 1."
"Kise Teme!"
"Hahahahahaha." Aku dan Aominechi akhirnya tertawa bersama.
"Ne Aominechi kau ajari aku ya ssu biar bisa jago main basket juga ssu."
"Ya ya tapi aku tidak terima orang yang cerewet kalau lagi diajarin."
"Mou aku kan ga cerewet ssu."
"Kau cerewet."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
"Ryouta."
"Eh?"
"Terima kasih."
"Untuk apa ssu ?"
"Terima kasih karena kau sudah menjadi sahabatku."
"Mou kita kan-"
"-SAHABAT SAMPAI MATI/SSU." Ucapku dan Aominechi berberengan.
.
.
.
Aku pun membuka kedua mataku. Ternyata mimpi. Aku pun melihat sekitar dan ternyata aku tengah berbaring diatas sofa ruangan tengah.
TUNGGU.
Kenapa aku bisa disisni ?
"Kau sudah bangun, Ryouta."
DEG. Suara itu, suara Aomine. Aku melihat Aomine berdiri didepanku dengan membawa selimut ditangannya.
"Kenapa kau tidur didepan pintu depan bodoh, kau bisa flu kalau tidur disitu dengan cuaca sedingin ini."
"A-a-aominechi… K-kau tadi kemana ?"
"Aku kemana ? oh aku habis dari dapur untuk minum karena haus. Dan keluar dari dapur malah menemukanmu tertidur ddidepan pintu depan."
"J-jadii-itu benar k-kau ?"
"Apanya ?"
"T-tidak apa."
"Akanku ambilkan kau air putih dulu didapur."
Aku melihat Aomine berjalan kearah dapur. Sungguh semuanya begitu aneh.
DRRT….DRRRT…..DRRRRT….
Aku melihat ponselku bergetar dan ternyata telfon dari Momochi. Aku melihat jam dan ini sudah jam 3 pagi. Tumben, sekali Momochi telfon jam segini.
"Moshi-moshi, Momocchi ?"
["KI-CHAN!"]
"Ha'i."
["Ki-chan… Dai-chan… Dai-chan, dia meninggal. Dai-chan meninggal karena kecelakan jam 11 malam tadi dan ia meninggal setelah dibawa kerumah sakit."]
BRAK.
Ponselku terjatuh diatas lantai. Aku mencubit lenganku dan sakit. Berarti ini bukan mimpi. Momoi yang juga sahabatku seperti Aomine menelfonnya dan mengatakan kalau Aomine meninggal. Padahal sekarang Aomine berada diapartemennya tengah menginap dan juga mengobrol dengannya tadi bahkan kini Aomine tengah mengambilkannya air minum didapur.
Jam 11 Aomine datang ke apartemennya dan Momoi mengatakan kalau jam 11 Aomine mengalami kecelakaan. Apa maksudnya ? apa Momoi mengerjainya. Sungguh tidak lucu.
Aku pun bangun dan berniat untuk kedapur untuk melihat Aomine, dan memastikan kalau Momoi tengah mengerjaiku. Saat sampai di dapur, kosong. Dapurnya kosong, tidak ada seseorang didapurnya. Aku lemas dan jatuh terduduk karena tubuhku gemetaran.
"Ryouta."
Suara itu. Suara Aomine. Aku pun menengok kebelakang dan-
ASTAGA
- sosok Aomine berdiri didepanku dengan wajah penuh darah bahkan wajahnya hancur.
"Ryouta, Kita sahabat sampai matikan."
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA."
END
Apa coba ini ?
Niatnya mau buat horror tapi kayanya gagal -_-
Nah, silakan berikan rewiew'an reader-san yang sudah membaca fic aneh nan ajaib ini…
Sankyu…
