.

.

"The man at the bus stop"

.

.

.

.

Sembari mengalungkan syalnya, Baekhyun berpikir dengan heran mengapa kedua orang tuanya bisa dibilang masih terlalu protektif terhadap dirinya yang bahkan sudah hampir menginjak usia dua puluh itu. Baekhyun sudah berstatus mahasiswa, dan sudah masuk semester kedua pula, pemandangan yang aneh jika ia masih membawa kotak bekal makan, dan parahnya, berwarna merah muda.

Baekhyun mendengus, dibandingkan dengan kakaknya dia memang bisa digolongkan pendek, ah tidak, dibandingkan seluruh populasi lelaki umumnya di Korea, baiklah, Baekhyun menyerah, dia memang pendek, kecil, biar saja ratusan ribu lelaki tampan dan tinggi di luar sana menghujatnya, Baekhyun memang pendek dan penuh dosa(?), mendengus untuk kedua kalinya, Baekhyun berharap kali ini ia tak lupa benda-benda penting lagi, yah sayangnya lagi, selain pendek Baekhyun juga pelupa, lihat saja bagaimana dia sibuk membuka buku notes nya untuk membaca jadwal kelas untuk hari ini, Baekhyun sudah coba untuk mengingat, bahkan semalaman ia selalu mengulang-ulang jadwal kelas dari senin sampai kamis, seperti biksu yang komat-kamit membaca doa, namun pada akhirnya Baekhyun tetap lupa, dan untuk membantu kerja otaknya yang lemah tersebut akhirnya muncul gagasan untuk menyalin apapun di buku notes yang selalu ia bawa, kemanapun, kapanpun, Baekhyun boleh lupa apapun di dunia ini, asalkan tidak buku notes-nya tersebut.

Penyakit lupa bukanlah datang tanpa sebab, Baekhyun ingat ia sempat dirawat di rumah sakit sesaat setelah ia diterima di universitas, membuatnya harus istirahat total dan melewatkan satu semester pertama, yah, Baekhyun sempat menunda awal masuk kuliahnya, dan itu karena hal konyol, seingatnya ia terjatuh, jatuh dari tempat tinggi yang ia tidak mengingat dimana itu, namun yang ia ingat ia bangun di ranjang rumah sakit, kepala diperban, cairan infus menetes, yah, apalah daya Baekhyun yang penuh dengan kelemahan dan ketidakberdayaan tersebut, tak kaget pula Baekhyun sendiri paham kenapa mahasiswa laki-laki berandalan suka menggoda dan mencubit-cubit pantatnya jika sesekali ia lewat di sekitar lapangan bola, atau ketika berjinjit untuk mengambil buku di rak-rak paling atas di perpustakaan, bahkan tak jarang pula ketika ia masuk kelas beberapa lelaki di pojok kelas yang sedang berkerumun dan menghisap rokok bersiul untuknya, satu lagi namun bukan yang terakhir, dosen filsuf yang umurnya sudah lewat setengah abad yang seringkali menyuruhnya bolak-balik menumpuk tugas yang berujung pada meminta nomor ponsel.

Baekhyun memang lelaki dengan jutaan pesona.

.

"Uh, maaf." Baekhyun merasa bahunya ditubruk, seseorang dengan perawakan tinggi besar yang membuat Baekhyun mendongak dengan memicingkan mata. Yah mereka memang sedang berada di halte sekarang, dan tak aneh pula jika semuanya segera beranjak terburu ketika bus sudah mulai terlihat menepi, namun menubruk seseorang yang bersosok mungil sungguh tidaklah sopan, hampir saja Baekhyun mengumpat, alisnya sudah menyatu, bibirnya telah mengerucut. "Kau tak apa? Maaf, maafkan aku…" tangan si lelaki penabrak menyentuh lembut bahu yang ditabrak.

Baekhyun seharusnya mengomel, bukan terbengong.

Mata dan warna rambutnya senada, cokelat gelap dan berkilau, Baekhyun terka lelaki di hadapannya menggunakan soft lens, Baekhyun memperhatikan matanya yang sedikit menurun syarat dengan rasa bersalah, senyumnya kalem, kontras dengan suara bass berat yang Baekhyun dengar. "Kau akan naik bis juga?"

Baekhyun tersentak, ya tentu saja dia akan naik bis, bukan pesawat ulang-alik. Dan apa gunanya menunggu lima belas menit hingga kakinya terasa kesemutan begini? Tentu saja dia akan naik, dan dia harap dia bisa mengomel sesuai dengan apa yang ada di pikirannya, namun naas, tak ada omelan, tak ada protes,

Baekhyun menurut saja ketika pergelangan tangannya ditarik oleh si lelaki yang baru ia temui hari itu, dan masuk ke dalam bis bersama.

.

Bis menuju kampus memang selalu penuh di pagi hari, dan lagi Baekhyun merasa terintimidasi, badannya yang cukup kecil dan bergelayutan di pegangan bis yang cukup tinggi, Baekhyun sempat beberapa kali oleng, namun anehnya, jika biasanya ia akan terhuyung atau membentur besi pembatas,

Kali ini punggungnya akan menemui tubuh hangat yang sepertinya dengan tak keberatan menahannya.

"U-uh, maaf…" Baekhyun berujar, saat lagi-lagi punggungnya menyentuh bagian tubuh depan seseorang yang lebih tinggi yang berdiri di belakangnya.

"Tak apa…" si jangkung itu menjawab, dengan nada ramah.

Membuat Baekhyun tak bisa tak membayangkan wajah kalemnya disertai dengan senyum manis yang terbentuk dari bibir tebalnya.

"Um… Kau akan pergi kemana?" Baekhyun bertanya, mencoba bernada biasa, meskipun agak terbata.

"S University." si lelaki itu menjawab singkat, Baekhyun menoleh setelahnya.

"Huh? Sama denganku?" nada bicara Baekhyun menaik satu oktaf, yah, kurang lebih seperti itu. "Sepertinya ini pertama kalinya aku melihatmu."

"Begitukah?" dia tersenyum lagi.

"Yah… Siapa namamu?"

Yang ditanyai hanya tersenyum, cukup lama, membuat Baekhyun hampir saja membuka bibirnya namun si lelaki jangkung mendahului. "Park Chanyeol, namaku Park Chanyeol."

"Ah… Chanyeol-shi…" Baekhyun mengangguk, tersenyum kemudian. "Aku Baekhyun, Byun Baekhyun."

Lelaki itu mengangguk, kemudian memandang ke arah lain, ke luar jendela mungkin, Baekhyun tak bisa memastikan karena bus mendadak berhenti, membuat tubuhnya terhentak, dan lagi, mendarat tepat di dada datar lelaki jangkung yang berada di belakangnya ini.

.

.

Bosan, kelas filosofi memang selalu membosankan, Baekhyun terkadang heran sendiri kenapa ia harus memilih ilmu seni terapan dulu, seharusnya ia memilih kelas yang lebih menarik, musik mungkin? Atau drama, atau apapun yang membuatnya tak menguap dua tiga kali selama pelajaran baru berlangsung selama lima menit, Baekhyun sengaja membuka bukunya lebar-lebar di meja, menutupi ponsel yang terbuka di antara lipatan buku, ia mengetik sesuatu, dikirimkannya satu pesan ke nomor sahabatnya, kyungsoo.

'Yah! Kau tidak lihat aku sedang menyalin tugas untuk dikumpulkan siang ini?'

'Sial kau Kyungsoo, aku hanya mengirim satu emoticon kenapa kau jadi marah begini?'

'Sudah aku sibuk, kau sebaiknya chat yang lain saja, gbye.'

'Kau typo tuh.'

'Tidak, gbye itu singkatan good bye. Hidup di jaman apa kau begitu saja tak tahu.'

'Tuh kau masih bisa membalas, berarti tidak sibuk.'

Attachment gambar masuk, Baekhyun terdiam, gambar pisau dan kepala ayam terpotong membuat Baekhyun terpaksa menyudahi chatnya.

.

.

Jam istirahat biasanya dipegunakan Baekhyun untuk mengisi perut, menghabiskan waktu di perpustakaan untuk melengkapi tugas atau sekedar berkumpul dengan temannya. Namun entahlah hari ini sepertinya kakinya punya kemuan sendiri, diturutinya langkah-langkah yang entah akan membawanya kemana.

Fakultas olahraga sudah ia lewati, sengaja memutar arah dan menyusuri tempat-tempat yang jarang ia lalui. Setelahnya fakultas seni, dengan gedung yang begitu rumit menyambungkan antar satu sama lain, Baekhyun sempat bingung, yah, lupalah Baekhyun dengan penyakit gampang lupa-nya, dan apa daya ia hanya membawa badan dengan roti coklat di tangan kanan dan botol minum di tangan kiri, tanpa buku notes pentingnya, Sial! Baekhyun baru ingat ia bepergian dengan tidak membawa buku notes, dengan cepat Baekhyun memutar arah, dan baru sadar pula bahwa jarak yang ia tempuh untuk kembali ke kelas, kurang lebih sama dengan waktu perjalanan naik bis dari rumahnya menuju kampus.

.

.

"Lagian kenapa sih kau ini keliling kampus begitu, mau cari apa?" omel kyungsoo, dipijatnya kaki sahabatnya yang kini sedang terduduk di ranjang ruang kesehatan dengan dada naik turun, terengah-engah, sial memang nasib Baekhyun hari ini, setelah menghabiskan berjam-jam mengitari kampus, ia tentu saja akan lupa rute untuk kembali ke fakultasnya sendiri, jadilah dia tersesat, berlarian karena dipirknya ia telah melewatkan hampir setengah jam kuliah terakhirnya, dan naas pula ia sempat tersandung dan terjatuh, asal ingat saja bahwa hidup ini bukanlah seperti di drama-drama, tak satupun orang menolong, akhirnya harapan terakhirnya hanyalah kyungsoo.

"Aku hanya ingin berjalan-jalan tadi…" Baekhyun berujar dengan nada rendah, suhu badannya yang awalnya tinggi karena habis berlarian kini sudah menurun, ia ambil sebotol minuman, menenggaknya, kemudian merebahkan punggung di bantal. "Kyungsoo-yah, omong-omong, hari ini aku bertemu seseorang di halte bis."

"Oh… Jadi karena itu kau mencarinya keliling kampus?" pertanyaan Kyungsoo terkesan mencibir.

"Yasudah aku tidak jadi cerita."

Baekhyun yang membuang muka membuat Kyungsoo terkikik, ia mengambil posisi nyaman di tempat duduk, tangannya kembali terjulur memberi pijatan ringan di betis Baekhyun yang masih bau obat pereda nyeri. "Oke… Oke… Lalu? Seperti apa orangnya? Seksi? Roknya pendek? Cantik?"

"Dia laki-laki…"

Tangan Kyungsoo yang tadinya memijit sempat terhenti. "Ooh…."

"Dan dia sangat tinggi."

Kyungsoo menarik tangannya kali ini, lalu berdeham. "Lalu?"

"Ya… Dia satu bis denganku… Dan dia juga kuliah disini."

Kyungsoo terdiam, menunggu Baekhyun melanjutkan.

"Dia satu kampus dengan kita, tapi aku rasa baru kali ini aku melihatnya…" Baekhyun menerawang, tak melihat sahabatnya. "Atau aku sudah pernah melihatnya tapi kemudian lupa? Duh, menyebalkan memang otakku yang suka lupa ini."

"Hahah, atau memang dia anak pindahan mungkin? Siapa yang tahu?" Kyungsoo tersenyum saja. "Kau tidak mengajaknya mengobrol? Kau tak menanyainya sesuatu?"

"Aku ingat menanyakan namanya."

Kyungsoo terdiam, kali ini pandangannya lurus menatap dua bola mata sahabatnya. "Siapa?"

"Park Chanyeol."

Suasana hening sesaat, ah tidak, itu berlangsung beberapa saat, hingga bibir Kyungsoo yang awalnya terkatup terbuka perlahan.

"Iya, Park Chanyeol."

"Baek…"

Melihat ekspresi aneh Kyungsoo Baekhyun jadi menaikkan alis, heran. "Apa? Kau menakutiku Kyungsoo, ada apa?"

"Baek, kau –

- Kau ingat nama seseorang setelah hanya sekali mendengarnya."

Mulut Baekhyun seketika terbuka lebar tanpa suara, retinanya melebar saking terkejutnya.

"Besok kau harus menemuinya lagi Baek, kau, harus… Aw!"

"Aku bahkan tidak ingat dengan amnesia akutkuuuu! Kyungso-yahhhh!" Baekhyun berseru histeris, iyah, senang dan aneh dan entahlah, kedua tangannya mencengkeram lengan Kyungsoo, membuat sahabatnya itu tertawa, ah tidak, memekik kesakitan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Chap1 done ^^

… syedih banget yang review prolog cuma delapan :'

But still, thanks yah… Guest, claraaaa1992, CBHSChanbaek614, CBHS, baektiful, ketekchan, restikadena90, kyuraapark

teheeee

Lanjut next chapter? ^^

xixixixi