Ini dia chapter ke-2 sekaligus chapter terakhir fic ini. Untuk IVFA 2nd Periode: GAME.

Disclaimer:

Vocaloid © Yamaha

Kagamine Len & Rin, Megurine Luka, Kaito © Crypton Future Media LTD

Kamui Gakupo © INTERNET Co. LTD

Golden Star © Hime Uguisu

Summary:

For IVFA 2nd Periode: GAME. Last Chapter. Peraturan dari Golden Star itu sangat mudah. 'Bertahan hidup hingga akhir permainan dan kumpulkan lencana emas apapun yang terjadi'. Sebuah peraturan yang sangat sederhana, bukan? M for Bloody Scene. RnR


Golden Star

A

Vocaloid Fanfic

By

Hime Uguisu

For

Indonesian Vocaloid Fanfiction Award

2nd Periode: GAME


Di antara rimbunnya pepohonan yang bahkan sulit ditembus cahaya, terlihat sosok pemuda pirang di sana. Ia berdiri di tepi sungai kecil dengan air jernih yang mengalir dengan teratur. Ia mengadahkan kedua tangannya demi mengambil air untuknya minum. Setelah merasakan segarnya air melewati kerongkongannya, ia menghentikan kegiatannya. Beralih menatap sekelilingnya. Mencoba mencari sesuatu untuk dimakan. Perutnya sangat tersiksa oleh rasa lapar. Kemarin ia hanya memakan buah yang dapat ditemukan di sana. Tapi tentu saja itu tak cukup.

Bunyi cipratan air berhasil menyita perhatiannya. Mata emerald itu menatap tajam ke sumber suara. Ia mendapati sesuatu yang membuatnya tersenyum. Beberapa ekor ikan melompat dan kembali berenang dalam sungai itu. Ia pun mengambil pedangnya. Membersihkan pedang itu dengan air sungai dari bekas noda darah yang telah mengering. Setelah pedang itu cukup terlihat bersih, ia pun mulai mencoba menurunkan sebelah kakinya ke sungai.

"Ternyata sungai ini memang dangkal," ucapnya saat sebelah kakinya itu berhasil menyentuh dasar sungai. Ia pun menurunkan sebelah kakinya lagi. Tinggi air sungai itu rupanya hanya sampai lututnya. Karena jernihnya air, ia dapat melihat dasar sungai dengan cukup baik. Matanya mulai mencari-cari di mana ikan-ikan itu berada. Berjalan perlahan ke tengah sungai yang hanya memiliki lebar sekitar 4 meter. Tiba-tiba ia dapat merasakan sesuatu bergerak menyentuh kakinya.

"Ketemu!" serunya. Pedang itu segera digenggam kuat. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati seekor ikan berenang tak jauh dari kakinya. Bola matanya bergerak mengikuti gerakan ikan itu. Napasnya tertahan dan pedangnya siap untuk menembus apapun di hadapannya. Perlahan ia mulai memasukan ujung pedangnya ke dalam air. Semakin dekat dengan ikan yang masih bergerak di tempat. Saat gerakan ikan itu terhenti, Len segera menusuk tubuh ikan itu. Mengangkat pedang yang diujungnya kini terdapat seekor ikan air tawar berukuran sedang.

"Berhasil. Ternyata cara membunuh manusia juga dapat diterapkan untuk membunuh hewan," ujarnya bangga. Len pun berjalan menuju tepi sungai. Ia duduk di tepi sungai untuk membersihkan ikan tersebut. Setelah selesai, barulah ia berdiri dan berjalan menjauhi sungai. Mencari-cari ranting pohon yang bisa digunakannya sebagai pengganti kayu bakar. Usai mengumpulkan ranting itu menjadi tumpukkan, ia merogoh sakunya. Mengambil korek api yang memang selalu ia bawa. Menyalakan api tersebut dan membakar tumpukan beberapa ranting di hadapannya. Len pun menusukkan ikan tadi pada pedangnya lagi dan mulai membakar ikan itu di atas api.

.

.

.

"Tak kusangka akan bertemu denganmu di sini, Len." Suara seorang pria terdengar dari belakang. Len yang duduk di tepi sungai untuk mengambil air dapat melihat pantulan sosok di belakangnya. Di sana terlihat pantulan dari seorang pria yang lebih tua darinya dengan rambut berwarna biru. Melihatnya, mata emerald Len pun terbelalak. Sebelumnya ia tak pernah terlihat sekaget ini.

"Kau!" serunya. Ia langsung bangkit seketika. Memegang pedangnya dan memposisikan pedang itu di depan wajahnya.

"Hey, hey, kau tak perlu sekaget itu, kan? Santailah sedikit. Kita kan sudah lama tak bertemu," ucap Kaito, pria berambut biru itu, yang terlihat sangat santai. Berbeda sekali dengan ekspresi Len. Ini pertama kalinya pemuda itu menunjukkan emosinya.

"Aku tak akan pernah bisa santai jika melihat wajahmu! Berani sekali kau menampakkan diri di hadapanku setelah apa yang kau lakukan padanya!" bentak Len. Diayunkannya pedang itu ke arah Kaito yang ada di depannya. Kaito berhasil menghindar dari serangan tiba-tiba yang Len arahkan padanya.

"Jadi kau masih marah padaku soal kematian saudara kembarmu itu, ya? Sudahlah, lupakan saja. Lagipula gadis itu sudah terlanjur mati, kan?" ujar Kaito. Mendengarnya, Len seperti tersambar petir. Bagaimana mungkin pria bernama Kaito dapat mengatakan hal sekejam itu soal Rin, saudara kembarnya? Padahal Kaito adalah kekasih sekaligus orang yang paling dicintai oleh Rin. Padahal Kaito selalu berusaha melindungi Rin. Bahkan Kaito pun selalu bersikap baik padanya. Namun, mengapa seorang Kaito yang baik hati itu dapat dengan tega membunuh saudara kembar yang paling disayangi oleh Len? Mengapa ia tega membunuh kekasihnya sendiri lalu pergi meninggalkannya begitu saja?

"Tutup mulutmu, manusia brengsek!" Len segera berlari dengan cepat menyusul Kaito yang berlari semakin menjauh darinya. Suara tawa yang terdengar dari mulut pria bersurai biru itu bagaikan api yang selalu berhasil menyulut sumbu kemarahannya. Len menebaskan pedangnya berkali-kali, walau ia tahu itu tak akan berhasil mengenai pria di hadapannya.

"Kenapa, Len? Kenapa kau tega mengarahkan pedang itu padaku?" tanya Kaito yang berpura-pura kecewa. Kalimat itu jelas saja membuat Len merasa segala kebencian dalam hatinya ditarik keluar.

"Kubilang tutup mulutmu! Aku tak mau mendengarnya dari seorang pembunuh rendahan sepertimu!" Mereka masih tetap seperti itu. Len yang dikuasai oleh amarahnya dan terus menyerang Kaito, sementara Kaito yang tampak tenang dengan mudah menghindari semua serangan pedang dari Len.

"Kau sebut aku 'pembunuh', hah? Memangnya kau pikir kau sendiri bukanlah pembunuh? Kau bahkan terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin, Kagamine Len," balas Kaito. Ia tersenyum sinis dan menodongkan pistol miliknya.

"Pistol? Huh, kau tak akan berhasil melawanku dengan benda macam itu." Len ikut mengeluarkan pistol yang ia peroleh setelah bertarung melawan Gumi. Tangan kirinya siap menekan pelatuk pistol itu, sementara tangan kanannya masih menggenggam pedang miliknya.

"Begitu, ya? Kalau begitu, ayo kita selesaikan ini dengan cara seperti seorang samurai." Kaito melemparkan pistol miliknya. Ia menghunuskan pedang miliknya yang tersimpan dalam sarung pedangnya. Kini tangan kanannya memegang pedang seperti Len. Mengerti, Len ikut melemparkan pistol milik Gumi itu.

"Ketahuilah, kau tak pantas bertarung dengan sok samurai seperti itu, manusia rendahan." Len menguatkan pegangannya pada pedang di tangan kanannya. Berlari menghampiri Kaito dengan serius. Kini mereka benar-benar hanya berjarak satu langkah kaki. Pedang itu saling beradu. Kekuatan tangan sang pemiliknya menjadi penentu nyawa mereka masing-masing.

"Sejak kapan kau jadi sekuat ini? Apakah ini bocah cengeng yang selalu kugendong pulang saat menangis dan tak mendapat teman?" Kaito melompat mundur secara tiba-tiba. Hampir saja membuat Len terjatuh.

"Len yang kau kenal sudah lenyap. Begitu juga dengan Kaito yang kukenal!" Pemuda pirang itu terus berlari menghampiri Kaito sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Ujung pedangnya yang tajam terlihat berkilat dan siap menembus apapun yang menghalanginya. "Kau tak pantas hidup, Kaito!"

"Benarkah? Padahal dulu kau adalah anak manis yang selalu tersenyum melihatku. Begitu juga dengan Rin," ujar Kaito yang hanya menggunakan pedangnya untuk menahan semua serangan dari Len. Ia sama sekali tak mencoba untuk menusukkan pedang itu pada pemuda pirang di hadapannya.

"Jangan pernah sebut nama Rin dengan mulut kotormu lagi!" bentak Len. Ia mulai terlihat lepas kendali. Terus menerus melayangkan pedangnya ke arah Kaito. "Berhentilah menghindar kau, pecundang!" Suara Len yang selalu terdengar datar itu menjadi semakin terdengar meninggi. Wajahnya yang selalu kehilangan emosi, kini dipenuhi oleh kemarahan.

Bagaimanapun juga, Kaito adalah mimpi terburuk yang pernah ia temui. Pria berusia 5 tahun lebih tua dari Len yang selalu menjaga ia dan saudara kembarnya sejak kedua orang tua mereka meninggal saat mereka berusia 12 tahun, telah menjadi seseorang yang sangat dipercaya olehnya. Kaito selalu melindungi mereka berdua. Menghiburnya. Bahkan sejak usia 12 tahun itu, ia sudah tinggal bersama Kaito hingga usianya 17 tahun.

Ya, hingga peristiwa itu terjadi. Kaito membunuh saudara kembarnya, Rin. Len yang baru pulang dari sekolahnya merasa waktunya terhenti kala melihat jasad Rin yang berlumuran darah di dalam rumahnya, dengan Kaito berdiri di sampingnya dan memegang pisau berlumuran darah. Dan yang Len lakukan saat itu adalah berlari sejauh mungkin dari rumah Kaito karena ia tahu, pria itu menatapnya dengan penuh niatan membunuh.

"Waktu itu, kau pasti berniat membunuhku juga, kan?" Pedang Len meleset menebas batang pohon kecil di samping Kaito.

"Anak pintar, tebakanmu benar sekali. Sayangnya kau terlanjur lari dan aku tak mungkin keluar dari rumah dengan penampilan seperti waktu itu." Kaito masih memasang wajah tenangnya. Tanpa disangka, Len menghentikan langkahnya. Ia terdiam di tempatnya saat ini. Kepalanya tertunduk menatap rerumputan hijau di bawahnya.

"Kenapa? Kenapa kau melakukan semua itu?" tanyanya dengan suara yang terdengar sangat dingin.

"Kenapa, ya? Mungkin karena kalian terlalu menarik untuk dibunuh?" Dan jawaban Kaito itu berhasil membuat Len kembali menatapnya. Sorot mata itu terlihat sangat mengerikan. Mata emerald-nya memancarkan kebencian yang sangat dalam pada pria di hadapannya. Tanpa berkata apapun, Len kembali berlari semakin cepat. Hingga pedangnya berhasil melukai lengan kanan Kaito saat pria itu berusaha melindungi diri. Ia tak berhenti sampai di situ, Len terus melayangkan serangan padanya. Beberapa luka sayatan mulai menghiasi lengan kanan dan kirinya. Bajunya pun ikut robek. "Sepertinya kau serius, ya?"

"Kau punya otak untuk berpikir dan menjawab pertanyaanmu sendiri, kan?" Sekali lagi Len mencoba menyerang jantung Kaito. Namun ia gagal lagi dan mengenai bahu kiri pria itu.

"Kalau sudah menyangkut soal Rin, kau selalu cepat marah seperti ini. Padahal gadis itu biasa saja kok. Bahkan jelas sekali ia lebih menyayangi dan mempercayaiku dibandingkan kau. Tapi kau tetap menyayanginya lebih dari apapun," jelas Kaito. Itu adalah kenyataan yang tak pernah ingin didengar oleh Len. Walau ia sendiri telah mengetahui kenyataan menyedihkan itu.

"Apa kau sebegitu tak punya hatinya?!" teriak Len. Ia melompat dan menendang Kaito dengan sangat kencang hingga pria itu terjatuh membentur tanah. Sebelum Len berhasil menduduki tubuhnya seperti apa yang ia lakukan pada Miku, Kaito sudah terlebih dahulu bangkit, kembali menatapnya dan berjalan mundur.

"Aku memang tak punya hati. Hebat, kan?" jawab Kaito yang kembali mengumbar senyuman dan wajah polosnya. Len mengepalkan tangan kirinya. Sangat kuat hingga ia dapat merasakan tajamnya kuku mengenai telapak tangannya.

"Kau bohong. Aku yakin kau bukanlah orang yang akan membunuh hanya karena alasan itu. Jadi, jawab yang benar dong! Kenapa kau melakukannya?!" Len menarik kerah baju Kaito dengan kasar. Tangan kirinya mencengkram kain itu. "Tatap mataku dan jawab pertanyaanku dengan jujur. Kenapa kau membunuh Rin? Bukankah kau mencintainya seperti yang selalu kau katakan padanya?!"

"Seseorang tak butuh alasan untuk membunuh." Kaito memalingkan wajahnya dari tatapan mata Len. Kesal, Len pun menghajar pipi Kaito dan menarik kerahnya dengan semakin kuat.

"Jawab dan tatap mataku!" bentak Len lagi. Kaito tertunduk. Mulutnya tak mengucap sepatah katapun. Detik berikutnya pemuda berambut biru itu mendorong Len hingga ia terjatuh. Dan Kaito langsung mengarahkan pedangnya pada Len. Ujung pedang itu hanya berjarak beberapa centimeter dari mata kiri Len yang kini terduduk di tanah.

"Kalau kau berhasil membuatku nyaris mati, maka aku akan melakukan apapun yang kau mau dan menceritakan semuanya padamu. Tapi, jika aku yang membuatmu nyaris mati, maka kau harus menyerahkan semua lencanamu dan melupakan kejadian itu," tantang Kaito. Len tersenyum sinis mendengarnya.

"Deal!" jawab Len yang segera menepis pedang Kaito dengan pedang miliknya. Ia segera berdiri dan kembali mengarahkan pedangnya pada Kaito.

"Kau memang naif, Len" Kaito memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung pedangnya dan segera berlari untuk mengambil sesuatu yang tergeletak di tanah. Pistol miliknya dan milik Len yang tadi ia lemparkan. Lalu menekan pelatuk kedua pistol itu dan menembakkannya ke arah Len.

"Seperti yang kuduga, kau memang licik," balas Len. Ia dapat menangkis sebuah peluru dengan pedangnya, namun rupanya ia tak berhasil menangkis peluru satunya lagi. Hingga peluru timah itu berhasil menembus bajunya. Hampir saja menembus perutnya jika ia tak segera menghindar. Ia juga berusaha agar peluru Kaito tidak mengenai bahu kirinya yang kemarin ditikam oleh Miku.

"Kau tak ingin menangis walau terluka seperti itu, hm?" tanya Kaito yang jelas sekali mengucapkannya dengan nada mengejek. Len tak menanggapi ucapan pemuda itu, dan berlari menjauh. Ia terus menuju ke dalam hutan yang dipenuhi rimbunan pohon. Kaito pun mengejarnya dengan terus menembakinya. Sesekali Kaito mengganti amunisinya.

Saat Kaito berhasil memasuki area dengan rerimbunan pohon itu, ia terdiam. Keheninganlah yang hanya dapat ia rasakan di sana. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Mata blue sapphire-nya mengawasi keadaan. Berusaha mencari sosok pemuda pirang yang diincarnya. Matanya terus mencari ke sekeliling hingga menatap ke bawah. Ia menyadari satu hal. Baju dan celana Len terlihat agak basah tadi. Dan kini ia melihat jejak tetesan air di atas tanah. Ia tersenyum dan berjalan mengikuti tetesan itu dengan waspada.

"Hilang?" Kaito menautkan alisnya saat mendapati jejak tetesan air itu menghilang tepat di depan sebuah pohon besar. Matanya lalu menatap pohon itu dari bawah sampai atas. Kembali senyuman licik terlukis di wajahnya kala melihat bekas air masih menempel di batang pohon itu. "Seperti yang kubilang tadi, kau memang naif, Len," gumamnya. Kaito pun mengarahkan pistolnya dan menembak ke atas pohon. Saat mendengar suara benda jatuh, ia segera mengalihkan pandangannya. Berjalan perlahan mengikuti arah datangnya suara tadi. Berharap mendapatkan tubuh Len yang terjatuh di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sepatu pemuda pirang itu.

"Sial! Ternyata hanya sepatunya. Kemana dia?" Kaito menatap ke atas tempat jatuhnya sepatu itu. Ia tak dapat melihat apapun di sana selain dedaunan. Lalu matanya beralih menatap sekitar tempat jatuhnya sepatu Len tadi. Ia melihat sedikit genangan air di sana. "Berarti tadi dia memang di atas sana. Lalu bagaimana ia bisa turun dari pohon tanpa aku sadari?"

Tak dapat menemukan Len di pohon itu, Kaito pun beralih mencarinya di tempat lain. Ia melangkah dengan hati-hati menjauh dari pohon itu. Matanya tetap mengawasi keadaan. Tangannya siap menekan pelatuk pistolnya kapanpun. Indera pendengarannya tiba-tiba dikagetkan dengan suara gesekan dedaunan. Ia segera melihat ke arah sumber suara. Mendapati sesuatu yang berkilat di antara rimbunnya daun di sebuah pohon besar tak jauh darinya. Jika diperhatikan dengan baik, kilatan itu persis sekali dengan kilatan pedang saat terkena sinar matahari. Kaito pun segera menembaknya. Namun lagi-lagi, bukanlah tubuh Len yang terjatuh. Itu hanyalah sebuah pisau.

"Sialan, ia mencoba mempermainkanku!" gerutu Kaito dengan frustasi. Ia menatap pohon tempat jatuhnya sepatu Len, dan pohon tempat jatuhnya pisau tadi. Letaknya tak berjauhan. Batangnya pun hampir tersambung, hanya terdapat sedikit jarak di sana. Kaito yakin sekali Len tidak berpindah tempat lewat tanah, tetapi ia berpindah tempat lewat batang-batang pohon itu. "Ia pasti sengaja membawaku ke tempat seperti ini!"

Kaito berjalan ke pohon sebelah tempat jatuhnya pisau itu. Mencoba memperkirakan di pohon mana sekarang Len berada. Lagi, ia melihat kilatan seperti pisau tadi. Kini ia tak berpikir lagi dan langsung menembaknya. Senyuman lebarnya hilang seketika saat mendapati itu adalah pisau yang sama seperti pisau tadi.

"Berapa pisau lagi yang ia punya?!" Kaito akhirnya menembak setiap pohon secara brutal. Tak peduli apakah yang akan terkena oleh pelurunya nanti. Berkali-kali ia tembaki pohon-pohon itu, hanya daun atau ranting pohon yang jatuh. "Kuso!" Tepat saat Kaito hendak menembak pohon berikutnya, gerakannya terhenti. Kedua pergelangan tangannya ditahan dan ia pun ditendang dari belakang hingga tersungkur.

"Ini kuambil lagi," Len, pemuda yang tadi menendang Kaito dari belakang, menginjak punggung Kaito dengan kaki kanannya dan mengambil paksa kedua pistol yang masih dipegang oleh Kaito. Dengan cepat, Kaito membalikkan tubuhnya. Kini ia dapat melihat sosok Len yang tersenyum memegang kedua pistolnya. Satu pistol tepat mengarah ke kepala Kaito, dan satunya lagi mengarah ke jantung pemuda berambut biru itu.

"Kau kalah, Kaito!" seru Len dan kini ia menembakkan pistol itu ke arah kedua kaki Kaito untuk menahan pergerakan pemuda itu. Len melempar satu pistolnya, dan mengambil pedang dari sarung pedangnya yang selalu terikat dengan ikat pinggangnya. Mengarahkan ujung pedang itu di depan mata kiri Kaito, persis seperti yang Kaito lakukan padanya sebelum ini.

"Cih, aku benci mengakui ini!" Kaito mengalihkan pandangannya dari Len. Ia menggigit bibir bawahnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, namun sama sekali tak ada genangan air di kelopak mata itu. Len menginjak perut Kaito dengan kaki kanannya.

"Kau kalah, jadi aku perintahkan kau untuk menatapku dan menceritakan semua yang selama ini kau tutupi dariku!" bentak Len. Kaito menahan rasa sakitnya itu.

"Pertama, ada satu hal yang kau tak ketahui soal keluargaku. Keluargaku yang selalu bersikap baik padamu itu. Mereka adalah pembunuh bayaran. Dan kau tahu? Mereka yang membunuh kedua orang tuamu," jelas Kaito. Mata emerald Len terbelalak dan ia menginjak perut Kaito dengan lebih keras secara tiba-tiba.

"Apa kau bilang? Apa sejak awal kau tahu semua itu? Lalu kenapa mereka tak membunuh aku dan Rin juga?!" tanya Len. Mata itu semakin berkilat karena kebencian.

"Mereka tak membunuh kalian karena memang mereka hanya diperintahkan untuk membunuh orang tua kalian. Aku tahu soal itu. Karena itu aku kaget saat orang tuaku malah membawa kalian tinggal di rumah kami. Saat itu aku benar-benar merasa kasian pada kalian. Sungguh, aku tak tega jika mengingat bahwa yang membuat kalian menderita adalah orang tuaku. Karena itu, aku sangat menyayangi kalian. Bahkan aku tulus mencintai Rin," lanjutnya lagi. Len terdiam. Ia melemaskan kakinya, dan berhenti menginjak Kaito.

"Lalu kenapa kau tega melakukan itu?" Len bertanya dengan nada lirih. Mendengar semua itu membuatnya hancur.

"Karena orang tuaku memaksa. Aku tak bisa menolak mereka. Aku ... terpaksa," jawab Kaito. Air mata yang sejak tadi ditahan olehnya pun berhasil keluar. Membasahi pipinya yang selalu dibasahi oleh darah.

"Kau tahu? Aku jadi pembunuh bayaran karena kau. Karena kau telah merampas Rin yang sudah seperti cahaya hidupku. Karena kau sudah membuat hidupku menjadi gelap, maka tak ada yang dapat kulakukan selain terus tenggelam dalam kegelapan," ujar Len. Ia melemparkan pistol terakhirnya dan bersiap menusuk Kaito.

"Aku tahu aku salah. Karena itu, aku tak akan melawan saat ini. Kau boleh membunuhku dan mengambil lencana di saku celanaku sesukamu. Aku pantas diperlakukan seperti ini." Kaito menutup matanya dengan air mata yang masih menetes. Tepat saat Len hendak menusuk jantung itu, ia mengurungkan niatnya. Entah kenapa ia tak dapat melakukannya. Kaki dan tangannya lemas seketika. Ia terduduk di samping tubuh itu. Bahkan tangannya sampai melepaskan pedangnya ke tanah begitu saja. Matanya ingin sekali mengeluarkan air mata, namun rasanya tak bisa. Air matanya sudah kering. Ia sudah lupa bagaimana cara menangis. Hatinya sudah terlalu gelap untuk merasakan emosi kesedihan seperti itu.

"Kalau kau tak bisa melakukannya, maka aku akan membantumu. Seperti yang selalu dilakukan oleh Kaito yang kau kenal," ucap Kaito. Kini senyuman hangat yang terlukis di wajah itu. Bukanlah senyuman licik atau sinis seperti sebelumnya. Dan itu membuat Len semakin tersiksa. Perlahan Kaito meraih tangan kiri Len yang masih terlihat berdarah karena pelurunya. Lalu Kaito meraih pistol yang tergeletak di samping tubuhnya. Membuat Len memegang pistol itu. Kaito memegang tangan itu lagi, dan membantu Len untuk memegang pistolnya dengan baik. Mengarahkannya tepat di kepalanya. "Sayonara, Len," bisiknya. Setelahnya ia menekan pelatuk pistol yang dipegang oleh Len. Membiarkan peluru timah itu menembus kepalanya. Melihatnya, Len bahkan tak dapat melakukan apapun.

"Sayonara, Kaito-nii," balas Len dengan senyuman pahit dan tatapan mata yang penuh dengan kasih sayang. Itu adalah terakhir kalinya ia akan memiliki tatapan seperti itu. Dilepasnya pistol hitam yang dipegangnya. Kini ia mulai merogoh saku celana Kaito untuk mengambil lencana. Matanya terbelalak lagi saat mendapati berapa jumlah lencana yang dimiliki oleh Kaito.

"Ia memiliki 10 lencana?! Kalau begitu sudah tak ada peserta lain di sini? Kalau begitu permainan ini.."

"Kagamine Len, silakan ikuti aku." Len menoleh saat mendengar suara perempuan yang pernah ia dengar sebelumnya. Matanya memantulkan sosok wanita bersurai merah muda yang tersenyum ke arahnya.

"Anda, Luka, kan? Pelayan setia Gakupo yang mengantarkan kami ke hutan ini?" tanya Len. Wanita itu kembali tersenyum ramah.

"Tepat sekali. Karena itu, silakan ikuti aku. Kita akan ke mansion Gakupo-sama sekarang," ajaknya. Menurut, Len pun mengikuti gadis itu.

.

.

.

"Sesuai perkiraanku, kaulah yang akan jadi pemenang," ujar Gakupo saat Len dan Luka sampai di ruangannya. Ruangan yang terdapat banyak layar monitor tempat Gakupo mengawasi semua peserta. Di sana sosok itu terbaring lemah di atas ranjang luasnya dengan selang infus yang terhubung di tangan kirinya. Di sampingnya terdapat tabung oksigen yang siap digunakan kapanpun. Selain itu juga terdapat alat-alat medis lain yang menunjang kehidupannya.

"Gakupo-sama, jangan banyak bicara dulu." Luka segera berlari menghampiri tuannya itu.

"Tak apa, Luka. Aku memang sedang menunggu kematianku. Tubuhku ini rasanya sudah hancur berkeping-keping. Sakit sekali." Gakupo pun beralih menatap Len.

"Kau telah berhasil, Kagamine Len" ucap Gakupo sambil tersenyum. Ia menarik napasnya, dan tak mengembuskannya kembali. Mata itu tertutup perlahan. Membuat Luka terlihat sangat panik. Ia berusaha mendengarkan detak jantung pria itu, namun tak bisa. Sudah tak ada detak jantung yang terdengar lagi. Len hanya terdiam menatap semua itu. Ia kini menatap kosong ke arah layar monitor di hadapannya.

"Jadi ia mengawasi semuanya dari sini. Ia melihat semua kejahatanku dari sini," gumam Len. Tanpa ia sadari, Luka sudah berdiri di dekatnya dan menepuk bahunya.

"Selamat, Kagamine Len. Kau adalah pemenang dari Golden Star ini."

.

.

.

The End


Puaaah..gaje! *gegulingan*. Saya beneran bisa namatin chapter ini! *walau tetep aja jadi gaje gitu*

Oh ya, buat yang bingung, dua pisau yang ada di pohon itu pisau yang Len ambil waktu lawan Miku.

Yosh, mind to review? ;)