Kya….gomennasai… (_ _")
Aku benar-benar lelet update *dirajam*
Ok, langsung aja tanpa membuat minna penasaran *PD amat* ^o^"
Latar: tahun ke-7 sebelum pertempuran melawan Voldemort.
Disclaimer: seandainya HARRY POTTER punya saya, Hermione akan menikah dengan Draco, *ngarep*
tapi ini tetap punya tante J K ROWLING. Saya hanya pinjam karakternya bentar.
summary: takdir yang selalu mempermaikan perasaan mereka, akankah dapat menjadi sesuatu yang pantas untuk di pertahankan? (maaf, summary nya gaje banget)
kata kunci: "DON'T LIKE DON'T READ"
tapi mohon tanggapannya,*tampang polos memohon*
warning:
bahaya, tekan back atau anda akan mual dan membanting fanfict gaje saya.
Rated: untuk saat ini rating T, tapi pada chapter berikutnya tidak dapat di pungkiri akan rating M, karena terdapat kata-kata kasar dan makian yang tak pantas. *author di hajar*
ok
selamat membaca.
Chapter 2
.
.
.
Pagi yang mendung mengawali hari para penghuni Hogwart,
dengan wajah memelas mereka memasuki kelas, tampak jelas di
fikiran mereka saat ini adalah tempat tidur yang hangat atau sofa empuk di dekat perapian
yang menyala, bagaimana tidak,
suhu pagi itu
sangat dingin padahal belum turun salju.
"MALFOY...TAK BISAKAH KAU MANDI
LEBIH CEPAT, AKU BISA
TERLAMBAT!" bentak Hermione sambil menggedor pintu kamar mandi di asrama ketua murid. Ini adalah hal kedua yang dibenci Hermione di sini selain Draco Malfoy yaitu, kamar mandi yang hanya satu walaupun sangat luas.
"Malfoy, jika kau belum juga keluar, pintu ini akan ku
hancurkan!" ancam Hermione kesal.
"Lakukan saja kalau kau mau!" sahut Draco menyeringai yang tiba-tiba saja sudah membuka
pintu kamar mandi, tampaknya
ritualnya terganggu oleh suara nyaring partnernya.
"Minggir!" ketus Hermione dan menarik Draco keluar.
"Hei...tangan mu mengotori ku!" umpat Draco seraya menepuk lengan baju mandinya. Hermione
hanya memutar bola
matanya, mendengus sebal dan membanting pintu kamar mandi
sekeras mungkin, bersyukurlah
pintu itu terbuat dari kayu terbaik kalau tidak pasti sudah tidak akan terpasang
lagi pada engselnya.
Siang itu kelas transfigurasi dihuni oleh warga Gryffindor dan Slytherin. Seperti
biasa ada aura ketidaksukaan pada masing-masing kubu!
"Sial, hampir saja aku terlambat!" umpat Hermione kesal, sementara Harry dan Ron yang duduk mengapitnya mengernyit ngeri, mereka tau jika Hermione marah, akan sangat berbahaya.
"Apa yang terjadi, Mione?" tanya Harry ngeri.
"Dia melakukan ritual sihir kutukan di kamar mandi hingga aku harus menunggu satu jam lebih, tak bisakah pagi ku tenang tanpa orang seperti itu, huh?" omel Hermione kesal.
Sesekali ia melirik ke arah Draco yang tengah asik tertawa licik bersama teman-
temannya.
Harry dan Ron yang sudah langsung mengerti siapa yang dimaksud oleh Hermione hanya terkikik geli dan
langsung berhenti ketika si gadis mendelik angker pada mereka.
Hening, semua murid diam dan fokus pada pelajaran yang disampaikan Prof. Mcgonagall, Tentu saja, inilah keahliannya entah apa yang diperbuatnya tapi dia dapat membuat murid-murid yang mendengarnya fokus.
Tapi mantra sang Proffesor tidak terlalu berhasil hari ini karena ada sepasang muridnya yang tampak gelisah, sesekali melirik ke
arah masing-masing dan berbalik saat tatapan sang coklat madu bertemu dengan sang abu-abu.
HERMIONE POV
Argh...kenapa dia begitu menyebalkan. Tingkahnya, senyumnya, tatapannya, semua padanya menyebalkan.
Aku terus merutuki kehadiran si tunggal Malfoy itu, tanpa sadar aku sudah sampai di great hall. Ku sapukan pandangan ku keseluruh ruangan, ketika ku melihat ke arah meja Gryffindor senyum ku mengembang.
Aku duduk di depan kedua sahabat ku, Harry dan Ron. Hanya di saat berada di great hall aku dapat berkumpul dengan mereka karena tugas ku sebagai ketua murid terlalu padat.
"Hei, Mione!" sapa Harry ketika aku baru datang.
Aku tersenyum pada Harry dan mengernyit ketika mata ku menangkap sosok Ron si rambut merah yang berusaha memasukan beberapa jenis makanan sekaligus ke dalam mulutnya.
"wakhu hehafaruan, Mhonn!" Ron bergumam tak jelas karena tatapan ku, ku rasa ia berusaha bilang kalau ia kelaparan.
"Mione, bagaimana hubunganmu dengan si pangeran Slytherin?" tanya Ginny dengan senyum jahilnya.
"Owh...kami berteman baik, Gin!" ejek ku kesal.
"DRAKKIE. . ." teriak seorang gadis berambut pirang pendek dengan suara cempreng. Ku pastikan, dia pasti Pansy Parkinson, gadis penggoda!
Aku menoleh ke arahnya yang berlari ke meja Slytherin lalu bergelayut manja di lengan Draco Malfoy.
'Tingkahnya menjijikan!' sindir ku dalam hati.
"Mereka pacaran?" tanya Seamus yang saat itu duduk di samping kiri Ron.
"Mungkin," sahut Ron cuek.
"Bukan, aku saja pernah liat dia sedang berciuman dengan Blaise Zabini." bantah Ginny.
"Kau yakin?" tanya ku tak percaya.
Bagaimana mungkin aku percaya, karena setahu ku Pansy menyukai Draco.
"Aku tak mungkin salah lihat, Mione!" jawab Ginny meyakinkan.
'Ck! Dasar wanita genit!' gumam ku di hati.
Suasana kembali damai, semua makan dalam diam. Waktu pun berlalu begitu saja, menunjukan pukul 8 malam.
Di meja Gryffindor yang tertinggal hanya aku, Harry, Ron, Ginny dan Luna yang kebetulan duduk di meja Gryffindor.
"Sebaiknya segera balik ke asrama," kata ku memecah kesunyian.
Semua tampak mengangguk setuju lalu kami mulai beranjak pergi. Malam itu aku sendirian lagi ke asrama.
Huft! Aku ingin balik ke Gryffindor. Aku berjalan dengan cepat, meski aku sering menyelinap keluar malam-malam bersama Harry dan Ron, tetap saja aku takut apalagi sendirian. Hogwarts penuh misteri jadi aku tak mau ambil resiko.
Satu belokan lagi aku akan berhadapan dengan lukisan di pintu masuk asrama. Tapi seseorang yang tidak pernah ku duga ralat! tak pernah ku harapkan sebelumnya muncul memblokir jalan ku.
"Theodore Nott?" desis ku.
"Hi, Granger!" sahutnya.
Senyumnya terlihat tidak bersahabat, mau apa anak Slytherin disini?
"Woha, ada miss. Granger!" kata Blaise yang muncul setelah Nott.
"Sedang apa kalian di sini, hah?" ketus ku.
"Entahlah, mungkin...," gumam Blaise.
"Karna ingin menemuimu!" sambung Nott.
Ck, mau apa mereka. Pasti merencanakan sesuatu yang buruk.
DRACO POV
Tertangkap kau Granger Mud-blood. Kita lihat siapa yang akan menang dalam peperangan sejak 6 tahun yang lalu. Ku ukir senyum licik di wajah tampan ku. (narsisnya -_-" *di cekik draco*)
Kini Blaise dan Nott telah menghadang si Granger, aku berjalan perlahan mendekati mereka.
"Hei, Mud-blood jalang!" kata ku melecehkan.
Ku lihat ia mendelik angker ke arah ku. Dia kesal dengan panggilan ku. Ayolah Granger jangan buat aku tertawa, kau itu seharusnya senang karna aku telah memberimu panggilan kesayangan.
"Malfoy," Granger mendesis berbahaya.
"Sedang apa kalian di sini, heh?" tanya ku.
"Kami kesini karena diundang oleh miss. Granger tentunya." jawab Blaise santai.
"Wah wah...kau benar-benar wanita jalang Granger," kata ku sambil terus mendekat, "apa si weasley sudah tak memuaskanmu lagi?"
Aku tertawa puas dan di ikuti Blaise dan Nott. Ku lihat wajah si Granger sudah memerah dan hendak menangis.
"Hati-hati kalau bicara , ferret!" bentaknya dengan penekanan pada kata terakhir.
"Kau yang harus hati-hati Granger!" geram ku dan mendorongnya ke dinding.
"MALFOY!" lagi-lagi aku di bentak.
Cih, berani sekali dia. Ku letakkan tangan ku di samping kiri-kanannya hingga ia tak punya jalan untuk lari.
"Kenapa Granger, kau gugup?" tanya ku.
Untuk kesekian kalinya aku tersenyum licik.
"Mr. Filch," bisik Nott.
Seketika itu juga wajah kami berubah panik. Mr. Filch akan memergoki kami berkeliaran malam-malam. Tanpa pikir panjang aku menarik Hermione menuju asrama ketua murid dan di susul oleh Blaise dan Nott.
"LEPASKAN!" si Granger menarik tangannya dari genggaman ku dengan kasar lalu berlari ke kamar.
NORMAL POV
Hermione membanting pintu kamarnya lalu menguncinya. Di hempaskannya tubuhnya ke ranjang dan cairan bening yang hangat menetes di pipi mulusnya.
Hatinya begitu terluka, ia di pandang rendah dan di katai murahan di depan orang yang dibencinya. Draco Malfoy benar-benar telah menyakitinya.
\(-..-\(-..-\(-..-\(-..-\(-..-\(-..-\(-..-)
HERMIONE POV
Malfoy, kenapa kau begitu menyebalkan, menyakitkan, kau bagai duri dalam hidup ku. Terlalu menjunjung status darah yang kau anggap murni dan membuat ku seolah lumpur menjijikan. Kau benar-benar menyakitkan, kau memang iblis berwujud malaikat, Malfoy!
Malam itu aku tak dapat tidur, kata-kata laki-laki pirang pucat itu terus terngiang di telinga ku. Apalagi ia juga mengungkit masalah Ron, orang yang aku sukai.
Sudah jam 6 pagi, aku harus segera sarapan ke great hall, tapi aku tidak nafsu makan. Aku harus berendam di air panas dulu, aku sangat lelah.
Dengan berat hati, ku langkahkan kaki ku menuju ruang rekreasi. Tampaknya si Ferret belum bangun. Aku kembali berjalan melewati sofa-sofa empuk dan menuju kamar mandi.
Ku pandangi wajah ku di cermin selagi air panas beraroma teraphy mengisi bak mandi yang sangat besar, ibarat kolam renang.
Mata ku sembab, rambutku lebih berantakan dan aku sangat kusut. Semua ini gara-gara, Malfoy!
Ku coba merilex kan tubuh dan fikiran ku, cukup membantu juga. Tapi aku tidak bisa berlama-lama, aku segera bangkit dan membalut tubuh ku dengan handuk lembut bewarna merah.
"Kau gadis yang kuat, Mione!" kata ku pada diri ku sendiri.
Ku buka pintu kamar mandi dan mata ku menangkap sosok paling terkutuk di hogwarts, siapa lagi kalau bukan Draco Malfoy si musang putih. Dia duduk di sofa, matanya terpejam dan kakinya terpajang dengan anggunnya di atas meja.
'Sikap bangsawan, heh?' ejek ku dalam hati.
NORMAL POV
Satu menit setelah Hermione masuk ke kamarnya lagi, Draco terbangtn, menatap ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka. Draco bangkit dari posisinya dan melangkah ke kamar mandi. Dia sudah menunggu hingga ketiduran.
O.o.0.o.0.o.0.o.0.o.0.o.0
Pagi itu, Hermione tidak sarapan ke great hall. Ia hanya meminum secangkir coklat panas yang di buatkan oleh peri rumah yang telah di sediakan di asrama ketua murid.
~ Great Hall ~
"Mana Hermione, Harry?" tanya Luna pada Harry.
Harry hanya menggeleng tak tahu dan melirik ke arah Ron seakan bertanya, 'Kau tahu?'. Ronald mengedikkan bahunya, pertanda ia juga tak tahu.
"Kurasa ia sarapan di asrama saja." kata Ginny.
"Dia sangat sibuk yah?" tanya Neville.
"Kurasa begitu." jawab Harry prihatin.
"Wah wah. . .mana sahabatmu si mud-blood itu Potter?" tanya Draco yang telah berdiri di belakang Harry.
Harry menoleh kesal ke arah Draco yang seperti biasa, di apit oleh duo drum minyak, Crabbe dan Goyle. Lalu di belakangnya berdiri Theodore Nott dan Blaise Zabini.
"Namanya Hermione, Malfoy!" geram Harry kesal.
Ron berhenti makan dan mengepal tangannya, "Mau apa kau kesini, Malfoy?"
"Dia darah lumpur Potter!" kata draco sarkatis lalu menatap jijik ke arah Ron, "dan kau Weasley, aku mau kesini itu bukan urusanmu!"
"Pasti kau melakukan sesuatu pada Hermione, mengaku saja kau, Malfoy!" tuduh Ron seraya mengepalkan tangannya. Bersiap menerjang Draco jika mengatakan 'iya'.
"Kau menuduh ku, heh, Weasley?" dengus Draco.
"Ya, kenapa?" tantang Ron, "memang benarkan, kalau terjadi apa-apa pada Hermione, ku hajar kau, Malfoy!"
Ron sangat geram pada Draco, bukan hanya karena melindungi Hermione tapi juga karena Draco adalah orang yang paling ia benci di dunia ini.
"Cih, dasar miskin," desis Draco, "apa yang bisa kau lakukan, menyulam bokongmu?" kekeh Draco menyebalkan.
"KAU-" geram Ron dan hendak melompat menerjang Draco tapi langsung di tahan oleh Harry dan Neville.
"Pergi kau, MALFOY!" bentak Ginny. (baca: usir)
~ kelas ramalan ~
"Buka buku Ramalan halaman 393!" suruh Profesor trelawney.
Hermione membuka-buka bukunya dan berhenti di halaman yang di minta. Jujur saja, ia tidak suka dengan pelajaran ini, baginya ramalan itu sebuah penipuan. Tidak ada rumus atau teori pasti yang dapat membenarkannya, setidaknya ramalan terkadang tepat karena kebetulan.
Lucu memang, kau tak suka pelajarannya tapi kau tetap memilihnya, tapi itu lah Hermione. Sebenci apapun tapi nilai A harus ia dapatkan!
"Ramalan masa depan" gumam Draco yang secara sengaja duduk di samping Hermione.
Profesor trelawney ngotot menyuruh ketua murid duduk bersebelahan, katanya jika tidak, hogwarts akan mendapat sial setahun penuh. Semakin membuat Hermione kesal saja, seakan-akan kesialannya adalah keberuntungan bagi yang lain.
"Setelah dibaca, sekarang segera praktekan!" suruh Prof. Trelawney lagi.
Semua muridnya menatap bola kristal masing-masing lalu membayangkan orang yang ada di sampingnya. Dengan terpaksa Hermione membayangkan Draco begitu juga sebaliknya. Tapi Hermione tetap tak bisa mendapati masa depan Draco di bola kristal itu, dia merutuki semuanya, pelajaran aneh!
Sementara itu, Draco berhasil membaca masa depan Hermione. Tapi apa benar yang dilihatnya adalah masa depan?
Draco melihat ia dan Hermione berciuman dan ada Voldemort dan kedua orang tuanya yang menatap mereka.
"Kau mencium ku, Granger?" lirih Draco.
"Apa?" Hermione terhenti, "apa yang kau katakan, Malfoy?"
"Kau akan mencium ku, bodoh!" ulang Draco kesal.
"Jangan mimpi, masa depanmu saja tak ada, Malfoy." ketus Hermione.
"Bukan masa depan ku yang tak ada, tapi otakmu yang sudah hilang!" ejek Draco.
DRACO POV
Ck!
Gara-gara melihat adegan kissing ku dengan si Granger di bola ramalan tadi aku jadi merasa aneh. Hei, jangan bilang aku terangsang. Aku bukan hypersex yang akan terangsang hanya karena itu.
Ketika tengah berjalan di koridor menuju kelas ramuan, aku di cegat Pansy Parkinson dan di tarik ke sebuah kelas kosong. Keh, dia pasti sudah rindu dengan belaian ku. (author: benar2 pede tingkat dewa! -_-")
NORMAL POV
"Drakkie...," dengan nada manja Pansy memeluk Draco.
"Ada apa, heh?" ujar Draco malas.
"Aku kangen," seketika itu juga Pansy mendaratkan bibirnya ke bibir Draco dan bukan Draco namanya jika ciuman tiba-tiba itu tidak menjadi ciuman panas.
Terdengar erangan dari luar kelas itu dan mereka beruntung karena tidak ada yang lewat koridor itu. Dewi Fortuna masih menyertai mereka, tapi, hei...dewi Fortuna telah di tendang jauh oleh Hermione.
Ya, Hermione melangkah dengan anggunnya melewati kelas tersebut dan berhenti ketika mendengar suara aneh dari dalam ruangan kelas. Rasa penasaran yang amat sangat tinggi membawa Hermione masuk dan memergoki Draco Malfoy dan Pansy Parkinson sedang bercumbu panas.
Seketika wajah Hermione memerah karna kesal dan malu yang bercampur jadi satu. Beberapa detik ia mematung di depan pintu lalu tersentak ketika Draco menyadari kehadirannya.
"Granger?" Draco melepaskan pelukannya dari Pansy.
"Mud-blood!" geram Pansy.
Hermione hanya diam lalu berlari keluar kelas, ia butuh sendiri. Ia tak peduli lagi dengan kelas ramuan, dengan kencang Hermione lari ke tepi danau hitam.
DRACO POV
Sial, kenapa aku merasa perlu mengejarnya. Gadis jalang itu telah cari masalah dengan ku, membuat mood ku hilang saja.
"Drakkie...?" rengek Pansy.
"mood ku sudah hilang," kata ku cuek lalu pergi mengikuti arah si Granger.
Ketika berjalan pergi, ku dengar Pansy merutuk tak jelas. Berani taruhan, ia pasti menyalahkan si Granger.
Lumayan lama aku berjalan akhirnya aku menemukannya di tepi danau hitam. Ku coba mendekat tapi langkah ku berhenti ketika melihatnya berpelukan dengan Ronald Weasley.
'Mud-blood jalang!' maki ku dalam hati.
0.o.0.o.0.o.0.o.0
"Dari mana saja kau?" tanya ku dengan kasar ketika si Granger memasuki ruang rekreasi asrama.
"Bukan urusanmu, Malfoy!" jawabnya ketus.
Ia tak memperdulikan ku dan berlalu menuju kamarnya. Cih, kau kira semudah itu kau pergi Granger?
"Kau benar-benar tak tau malu, heh, Granger?" ejek ku.
Ku lihat ia berhenti dan menoleh ke arah ku. "Apa maksudmu, Ferret?" dia terpancing.
"Kau masih menggoda si Weasley, ha?" aku mendekatinya, "bukannya dia sudah pacaran dengan si Brown?"
"Kau BRENGSEK!" bentaknya lalu berlari menuju kamarnya.
Ck, kau yang brengsek Mud-blood. Kau belum tau siapa aku, heh? Akan ku hapuskan Mud-blood sepertimu dari dunia ku. Sejak awal kau memang tak pantas berada di sini Granger. kita lihat seberapa hancurnya kau jika menyangkut si merah miskin itu.
~('_')~
NORMAL POV
akhir pekan, tidak ada pelajaran, hari bebas dari buku yang mengandung bacaan-bacaan rumit. Tapi bukan bagi ketua asrama puteri kita, bisa dilihat kini ia tengah menekuni buku-buku tebal di sebuah meja di perpustakaan.
"Sudah ku duga kau disini, Mione."
Hermione mendongakkan kepalanya ke arah asal suara. Ronald Weasley berdiri sambil nyengir tidak jelas.
"Ada apa Ron?" tanya Mione sekenanya.
Ron duduk di bangku di depan meja Hermione, bersiap untuk bercerita. Sementara sang gadis kembali menekuni bukunya.
"Masalah pesta topeng di akhir tahun nanti," bisik Ron.
"Lalu?" Mione tetap menatap ke arah bukunya.
"Kita kan harus cari pasangan," kata Ron ragu, "apa kau sudah mendapat pasangan?"
Hermione menghembuskan nafas lalu menutup bukunya.
"Belum, kenapa?" Mione menatap intens ke arah Ron.
"Ku rasa Neville mau mengajakmu, Mione." kata Ron antusias.
Hermione hanya ber-oh ria lalu kembali membuka bukunya. Ini tidak seperti yang diduganya tadi, dia merutuki dirinya sendiri.
"Hanya itu?" Ron mengernyit, "kau mau tidak?"
"Belum ku fikirkan Ron, lagi pula acaranya masih tiga bulan lagi." kata Hermione santai.
"Iya sih, tapi mending segera ditentukan dari pada bernasib sama seperti di tahun ke empat." setelah mengatakan itu, Ron terdiam.
Hermione menatap aneh pada Ron, membuat pemuda berambut merah itu berkeringat dingin.
"Seperti di tahun keempat, aku juga sudah memiliki pasangan yang kapan pun akan selalu bersama ku!" dusta Hermione.
Ron mengernyit, "Benarkah, siapa?"
"Nanti kau juga akan tau!" tukas Hermione.
Ron terdiam dan menelan ludah lalu tersenyum ngeri, sepertinya sahabatnya itu sedang bad-mood dan Ron bukanlah orang yang berani mengganggu Mione ketika marah. Dia pamit lalu meninggalkan Hermione yang masih setia dengan buku-bukunya.
"Kau bodoh Ron!" gerutu Hermione selepas kepergian pemuda Weasley itu.
Beberapa detik kemudian terdengar gelak tawa tertahan dari rak di balik tempat Hermione berada.
"Siapa?" tanya Hermione jengkel sekaligus penasaran.
"Malang sekali nasibmu Mud-blood!" Draco keluar dari arah sumber suara.
Hermione mendelik angker, untuk yang kesekian kalinya ia merutuki nasibnya. Bertemu dengan Draco adalah hal yang paling sial dalam hidupnya. Hermione mendengus kesal lalu kembali membaca seolah Draco tidak ada.
"Kau pasti berharap kalau Weasley mengajakmu ke pesta!" seringai terpampang jelas di wajah pucat Draco.
Hermione tak mengacuhkannya, berlagak membaca padahal sebenarnya ia sedang merutuki pemuda pucat dengan seringaian khas itu.
Kesal karena tidak di respon, Draco mendekat dan merebut buku yang dibaca sang gadis berambut coklat bergelombang itu.
"Kau mengabaikan ku, heh?" Draco kesal,"kau kira kau siapa?"
"Aku sedang tak ingin berdebat denganmu, Malfoy!" lirih Hermione, "kembalikan buku ku!"
Hermione berusaha merebut kembali bukunya namun gagal karena Draco mengangkat buku itu tinggi-tinggi. Hermione yang notabane lebih pendek darinya tak mungkin menggapainya.
".ku!" desis Hermione berbahaya, menekankan setiap kata yang ia lontarkan.
"Coba saja kalau kau bisa!" tantang Draco dengan seringai liciknya.
Wajah Hermione sudah memerah saking kesalnya, dengan tiba-tiba ia menarik dasi Draco dengan sangat kuat agar pemuda itu tertunduk. Draco yang tidak menduga partner ketua muridnya akan melakukan hal itu.
Draco yang terkejut apalagi karena tarikan itu seakan mencikiknya mencoba kembali keposisi tegapnya sebelum Hermione mecapai buku itu.
'Sedikit lagi, ukh sial' umpat Hermione ketika dia gagal menggapai buku itu.
"Tak semudah itu nona-tahu-segalanya!" bisik kemenangan draco memanasi telinga Hermione.
"JANGAN RIBUT DI PERPUSTAKAAN KU!" hardik Madam Pince dari kejauhan.
"Sudahlah, aku tak mau mendapat detensy hanya karena kau mud-blood!" kata Draco lalu melemparkan buku yang ditangannya ke sembarangan arah.
"Terkutuklah kau, ferret!" geram Hermione lalu pergi meninggalkan pemuda pucat itu.
B E R S A M B U N G
Nyah…. Ampuni aku…*sujud2*
Alasannya gini:
Aku ada kegiatan OSPEK/PKKMB slama 4 hari penuh…jadi ga sempat nulis… T^T
Inspirasi dalam otakku tiba-tiba aja menghilang…akhirnya chapter 2 tak memuaskan…
Ga ada waktu ke warnet…. *author kere*
Ok. Cukup alas an ku dalam pembelaan ini :D
Balasan ripiu….
Craziest Laziest : wkwkwkwk aku jga ga tega nyiksa mione, tapi mau gimana lagi, Draconya keganjengan *di cekik Draco*
Arigatou…ya, aku juga baru sadar itu panggilannya u.u *author bego*
Atacchan : hahahaahah maaf maaf…aku bener2 sering lupa membedakan 'P' dan 'B; dalam kata 'gugup' u.u
Aku akan berjuang membasmi miss typo! *semangat 45*
Natsu Hiru : Q.Q *terharu*
Arigatou natsu-san, walau tak suka harpot tapi masih mau baca fict ku dan nge ripiu…
Lily love : wkwkwkw namanya juga malfoy. Harga diri number one! :D
Maaf…updatenya lama… u.u"
Nao : pupus…iya, akan ku perhatikan lagi, arigatou… ;)
Ms.Felton : hahahahaha aku suka aku suka kegajean anda! *nyengir gaje*
Hei hei cukup aku yg di perlakukan lembut ma draco! *plak* XD
Rufie : maaf… aku lelet… T.T
Yupz, makasih atas review nya ea…aku jadi lebih semngat T^T9
Jagan bosan ripiu ea…*memelas*
