Cerita ini milik miiyamii, bukan Kimaru- Z. Kimaru- Z tidak mungkin bisa membuat fic seindah dan sekeren ini.
Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
...
"Baik, Sir." Dan tanpa perlu diperintah dua kali wanita pirang efisien itu segera meninggalkan ruang kerja sang atasan untuk melaksanakan pekerjaannya.
...
"Mereka sudah puluhan kali menelpon dan menanyakan di mana anda berada Ma'am." Dengan sopan si pelayan memberitahu majikannya mengenai beberapa telepon di rumah itu yang terus berdering sejak tiga jam yang lalu.
Si pelayan adalah seorang laki-laki bertubuh tegap, berusia tiga puluh tahunan yang memiliki bekas luka mengerikan seperti serangan binatang buas pada sisi kiri wajahnya. Dalam balutan seragam pelayan kunonya, laki-laki itu tampak tenang dan professional. Dia berdiri di belakang Sang Nyonya yang sedang duduk santai, menikmati udara sore, di kursi panjang antik di halaman belakang.
Karena tidak ada tanggapan dari sang majikan si pelayan pun melanjutkan, "Saya sudah mengatakan pada mereka bahwa anda sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Tapi mereka tetap memaksa ingin berbicara dengan anda."
"Siapa?" si Nyonya bertanya dengan nada dingin yang anggun.
"Akasuna No Nagato, orang yang terpilih menjadi Mentri Pertahanan dalam system pemerintahan Amerika yang baru."
"Apa yang dia inginkan dariku Kabuto?"
Kabuto mendesah mengingat beberapa potong pembicaraan antara dirinya dan asisten Akasuna melalui telepon beberapa waktu lalu. "Dia ingin anda menjadi sponsor, membantunya mendanai proyek yang sedang dia jalankan."
"Proyek yang berhubungan dengan senjata canggih pemusnah massal? Benarkah itu Kabuto?" tebak Lady Haruno Sakura sambil menoleh ke arah pelayannya.
Kabuto mengangguk pelan. "Mereka berencana menciptakan manusia super, sekelompok tentara kuat yang dijadikan senjata untuk menakuti dunia."
Lady Haruno Sakura mendengus. "Manusia. Hhh. Apa mereka tidak bisa berhenti menciptakan sesuatu yang akan menghancurkan kaum mereka sendiri?"
"Jadi ... Anda menolak membantunya?" Tanya Kabuto.
"Telpon dia sekarang, dan katakan padanya aku tidak tertarik," jawab Lady Sakura. "Pastikan dia tidak berusaha menghubungi atau mencariku lagi."
"Baik Ma'am."
"Dan Kabuto!" Panggil Lady Sakura lagi ketika Kabuto hendak undur diri dari tempat itu.
"Kosongkan semua jadwal untuk minggu depan. Besok kita akan meninggalkan Yordania dan kembali ke London."
Kabuto mengerutkan kening, tak mengerti dengan perubahan jadwal dadakan Sang Nyonya. Kalau tidak salah tiga hari yang lalu wanita itu mengatakan bahwa dia ingin tetap berada di Yordania selama sebulan, setelah itu mereka akan pergi ke Palestina untuk memberi beberapa bantuan moril dan materil kepada warga sipil korban konflik perang.
"Aku ingin berada di Nasse House-The Crown, sebelum tanggal 23 Maret."
"Dua puluh tiga maret, Ma'am?"
Lady Sakura melemparkan sebuah senyuman muram pada Kabuto.
"Dua puluh tiga maret adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan ... Gaara," ucap Lady Sakura sendu.
"Ah." Kabuto mengangguk paham, ekspresinya berubah sedih mengingat kejadian seratus tahun yang lalu, malam tragedi terbunuhnya Sang Tuan, pembantaian seluruh penduduk kota oleh Lady Sakura, dan juga malam perubahannya sebagai manusia immortal.
"Aku ingin berada di sana sebelum tanggal dua puluh tiga, agar aku bisa merayakan hari ulang tahun pernikahanku dan Gaara yang keseratus tiga," tambah Lady Sakura.
Kabuto mengangguk, dia lalu berpamitan masuk ke dalam kastil untuk melanjutkan pekerjaannya.
...
"Apa?!" Pekikan marah kembali keluar dari mulut Akasuna No Nagato saat mendapat laporan dari sang asisten bahwa Lady Sakura tidak tertarik untuk menjadi sponsor proyek mereka.
"Maaf Pak. Lady Sakura tidak tertarik menanamkan modal pada proyek kita," jawab Ino muram sambil menunduk dalam-dalam. Dia agak ciut menghadapi kemarahan atasannya. Mantan Jendral itu benar-benar terlihat mengerikan sekarang.
"Apa-apaan wanita tua itu?" Geram Nagato sembari menangkup wajahnya, lalu menjalankan tangannya ke kepala, meremas rambutnya frustrasi.
"Mr. Yakushi, orang kepercayaan Lady Sakura mengatakan bahwa Beliau sekarang sedang berada di salah satu rumahnya di Yordania, dan kedepannya beliau memiliki jadwal yang sangat padat, seperti menjalankan misi kemanusiaan, membantu masyarakat korban perang, jadi Lady Sakura tidak memiliki waktu untuk melihat prospek menguntungkan pada proyek kita," jelas Ino sedikit takut menghadapi reaksi lanjutan kemarahan Nagato.
Nagato mendengus, dengan sebelah tangannya dia memberi isyarat pada Ino untuk keluar dari ruangannya.
Sekarang Nagato sangat bingung, proyek tentara masa depannya akan benar-benar gagal.
Nagato ingin mengabaikan dan menghina Lady Haruno Sakura seperti yang dia lakukan pada Shimurai Danzo, tapi Nagato pikir dia tidak akan bisa mengabaikan wanita Inggris itu. Dia sangat membutuhkan uang si wanita Haruno untuk menyelamatkan proyeknya.
Menurut laporan yang diterimanya dari Yamanaka Ino, Lady Sakura memiliki kekayaan, uang milyaran dollar, yang berada di beberapa bank di Amerika, Inggris, Swiss, dan Rusia. Belum lagi insvestasinya pada berbagai macam bidang usaha, seperti pertanian, peternakan, industri makanan instan, persenjataan, pakaian, dan masih banyak lagi. Menurut berberapa sumber sipil terpercaya, kekayaan Lady Haruno Sakura itu berasal dari warisan turun temurun. Sembilan puluh tahun yang lalu Ibu dari Sakura yang merupakan janda dari seorang ilmuan cerdas Inggris yang terkenal pada masanya, membeli sebuah tanah yang luas yang disebut The Crown, konon katanya tanah itu adalah sebuah kota kecil yang ditinggalkan oleh sebagian warganya karena pernah terjadi pembantaian di sana. Ibu dari Lady Sakura kemudian mempekerjakan beberapa orang untuk mengelola tanah yang luas di The Crown. Seperti menjadikan sebagian tanahnya sebagai ladang pertanian gandum dan padi, dan sebagian tanahnya lagi dijadikan tempat peternakan kuda. Setelah usaha pertanian dan perternakannya sukses, Ibu dari Lady Sakura kemudian merambahkan sayapnya keusaha bisnis yang lain.
Wanita Haruno adalah wanita dengan insting bisnis yang hebat, itulah yang ada dipikiran Akasuna No Nagato saat dia membaca profil Lady Haruno Sakura , usaha dan segala kesuksesannya. Namun ada yang janggal ... Dari semua data yang ada, Nagato tidak menemukan satupun foto dari Ibu Lady Haruno Sakura , dan nama Ayahnya pun tidak ada. Dokumen rahasia dari pemerintah Inggris mengatakan bahwa Ayah dari Lady Sakura, adalah seorang ilmuan yang terkenal pada masanya, namun mereka tidak menuliskan namanya. Selain itu, semua foto tentang Lady Sakura yang beredar di publik, adalah foto Lady Sakura saat masih cantik dan berusia dua puluh tahunan, tidak ada fotonya yang baru. Dan ... Wanita ini tidak memiliki data tanggal kelahiran? Apa-apaan? Dan ... Apa tidak ada laki-laki dalam keluarga Haruno?
Hah. Memikirkan semua tentang keluarga Haruno membuatku pusing. Keluh Nagato dalam hati. Dengan segera dia menyambar telepon yang terhubung ke ruangan, dia meminta Ino memanggil dua orang kepercayaannya untuk menghadap. Profesor Uzumaki Karin , wanita empat puluh tahunan yang merupakan ketua tim proyek para ilmuan, dan Kapten Akasuna No Sasori , putra tunggal Nagato, yang merupakan pengawas jalannya proyek dan juga salah satu yang akan menjadi kelinci percobaan dalam proyek tentara masa depan.
...
"Well. Papa, jadi kau gagal membujuk wanita kaya raya untuk menjadi sponsor kita?" Lelaki muda tampan berambut merah itu nyengir pada Ayahnya, setelah Nagato menjelaskan pada dia dan Karin tentang masalah mereka.
"Oh. Diamlah Sasori," keluh Nagato frustrasi.
Sasori terkekeh. Walau dalam balutan seragam militer, pemuda itu tampak begitu mempesona dan nakal dengan binar ceria di matanya, dan seringai jahil di bibirnya.
"Jadi anda ingin kami berdua terbang ke Yordania, membujuk Lady Haruno Sakura agar mau menjadi sponsor untuk proyek kita?" Tanya Profesor Uzumaki Karin , seperti biasa, dengan ekspresi datar yang serius.
"Ya. Dan aku tidak mau tahu. Pokoknya kalian harus mendapatkan dia sebagai sponsor kita," tegas Nagato.
"Kenapa Papa? Ini tidak seperti dirimu yang biasanya. Wanita itu sudah menolak untuk membantu proyek, kenapa kau masih ngotot mengejarnya Pap?"
"Dia tambang emas. Dengan mendapatkan Lady Haruno Sakura sebagai sponsor, kita tidak perlu takut kekurangan dana untuk proyek kita. Dia memiliki dollar yang bahkan lebih banyak dari semua jumlah uang yang ada di seluruh Bank di Amerika," jelas Akasuna No Nagato.
"Wow. Wanita tua kaya heh? Aku penasaran apakah wanita itu seorang Cougar*?" Sasori terkekeh ketika dia mendapatkan pelototan kesal dari Ayahnya dan Profesor Karin.
"Baiklah Pak. Kami akan menemui Lady Haruno Sakura , berusaha untuk membujuk dan mendapatkan beliau menjadi sponsor," ucap Profesor Karin.
Nagato tersenyum puas. Telpon di atas meja kerjanya berdering. Dari Yamanaka Ino, asistennya.
"Sir. Beberapa orang kita di Yordania mengabarkan bahwa Lady Haruno Sakura dan Mister Yakushi Kabuto, meninggalkaan Yordania dengan pesawat jet pribadi. Mereka pergi menuju London. Dan kemungkinannya mereka akan tinggal di The Crown."
Nagato mengangguk sebagai respon atas laporan Ino. "Terimakasih Ms. Yamanaka," ucapnya sembari menutup telponnya. Dengan sedikit binar harapan yang ada di matanya, Nagato mendongak menatap dua orang kepercayaannya. "Perubahan rencana. Kalian tidak akan ke Yordania, kalian akan terbang ke London daan langsung pergi ke Nasse House, The Crown."
...
"Wow. Apa ini serius? Wanita itu tidak memiliki semua ini kan?" Sasori tidak bisa menyembunyikan kekagumannya-dia memang tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya-saat mobil Audi SUV merah yang dia dan Karin tumpangi memasuki kawasan The Crown. Dia berdecak kagum melihat luasnya lahan dan berbagai macam bangunan yang ada di The Crown.
"Aku harap kau tidak akan bertingkah seperti itu di hadapan seorang Lady, Kapten," sindir Karin tidak terlalu suka pada kelakuan Sasori yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Ayahnya. Dia duduk anggun di kursi penumpang , di samping Kapten muda itu.
Setelah mereka tiba di Bandara London, Ino, asisten Nagato, langsung menelpon pihak Lady Haruno Sakura untuk menjadwalkan pertemuan. Hal itu mereka lakukan agar Lady Sakura tidak menolak untuk bertemu dengan Karin dan Sasori, wanita bangsawan seperti dia tentunya memiliki sedikit kesopanan dengan tidak mengusir tamu yang datang dari jauh untuk bertemu dengannya. Dan beruntung, Lady Haruno Sakura , dengan baik hati menyediakan sopir dan mobil tumpangan agar Uzumaki Karin dan Akasuna No Sasori bisa langsung ke The Crown.
"Nama Anda Hatake Kakashi kan?" Daripada berbicara dengan Kapten Sasori yang tidak pernah bisa serius, Karin lebih memilih berbicara dengan Sopir Lady Haruno Sakura yang sedang fokus menyetir. Dari nametag-nya Karin membaca kalau nama sopir itu adalah Hatake Kakashi .
"Iya Ma'am," jawab Kakashi sopan.
"Sudah berapa lama anda bekerja dengan Lady Haruno Sakura?" Tanyanya, Karin mencoba menggali informasi lebih dalam mengenai Lady Haruno Sakura , agar dia bisa mencari titik lemah wanita itu, dan mudah membujuknya untuk bergabung dalam proyek mereka.
"Dua puluh lima tahun Ma'am," jawab Kakashi berhati-hati, dia memiliki firasat tak enak, sebagian pikirannya mengatakan bahwa dia harus berhati-hati dalam berbicara.
"Hmmm. Sudah cukup lama rupanya." Uzumaki Karin mengangguk puas. "Kalau boleh tahu Lady Sakura itu seperti apa? Apa dia termasuk tipe wanita tua Inggris yang kaku dan kolot?"
Kakashi mengerutkan kening. "Yah. Kalau dia bisa disebut sebagai seorang wanita tua," dia berkata dengan suara yang sangat pelan, nyaris menyerupai bisikan, namun baik Karin maupun Sasori bisa mendengarnya, keduanya saling berpandangan bingung. "Lady Haruno Sakura memang tipe wanita Inggris yang kaku, tapi dia tidak kolot. Dia mengikuti semua perkembangan Jaman."
Mengikuti semua perkembangan jaman? Apa maksudnya?
Mereka semua kemudian terdiam. Mobil Audi itu berhenti disebuah rumah, bangunan kuno besar yang lebih mirip kastil dalam dongeng, yang memiliki halaman yang sangat luas.
Sambil turun dari mobil, Kapten Akasuna No Sasori bersiul kagum diantara giginya. "Jadi ini tempat tinggal Lady Kaya Raya? Wow. Pantas Papa ngotot ingin mendapatkan dia sebagai sponsor."
Pintu besar dengan ukiran indah itu terbuka. Dan seorang laki-laki berpakaian pelayan, dengan luka mengerikan seperti serangan binatang buas pada sisi kiri wajahnya, keluar menghampiri Profesor Uzumaki Karin dan Kapten Akasuna No Sasori .
Selama sepersekian nano detik laki-laki itu terpaku menatap Sasori, setelah itu dia menoleh ke arah Kakashi yang masih duduk di balik kemudi mobil.
"Terimakasih Kakashi, kau boleh pergi," katanya dengan datar dan dingin.
Kakashi mengangguk, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Nasse House.
Kabuto memandang kedua tamunya skeptis. Ekspresinya datar dan tak dapat ditebak.
"Sir. Ma'am. Selamat datang di Nasse House. Saya Yakushi Kabuto , pelayan pribadi Lady Haruno Sakura." Dia membungkuk sopan. "Silakan masuk," dia kemudian mengarahkan tamunya masuk ke dalam Nasse House.
Ruang tamu Nasse House yang menjorok kedalam, dihiasi oleh sofa polos berwarna merah darah dan kursi antik yang terlihat amat nyaman untuk diduduki, berhadapan langsung dengan ruang keluarga. Pintu bergaya Perancis yang berada di sebelah utara ruang tamu mengarah ke beberapa teras yang cukup luas, yang menjorok kearah padang rumput besar.
Yakushi Kabuto mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di ruang tamu. "Silakan menunggu di sini, Sir, Ma'am. Sepuluh menit lagi Lady Sakura akan menemui anda berdua," kata Kabuto kemudian berpamitan pergi.
...
"Kau lihat tadi Kabuto ... Dia ..."
"Dia memang mirip Sir Gaara, Ma'am. Tapi saya bisa memastikan kalau dia bukan Sir Gaara."
Sebelum membiarkan Lady Sakura bertemu dengan tamunya, Kabuto terlebih dulu menemui Sang Nyonya di kamarnya untuk meyakinkan bahwa yang mereka lihat itu adalah orang lain-Seorang Perwira muda Amerika yang memiliki wajah yang serupa dengan Sir Gaara-Bukan Sir Gaara.
"Iya Kabuto, Iya! Aku tahu dia bukan Gaara. Gaaraku sudah meninggal seratus tahun yang lalu," kata Lady Sakura kalut, dia berjalan mondar-mandir dengan kecepatan yang mengagumkan di depan Kabuto. "Dia hanya seseorang yang mirip Gaara. Bahkan kita masih menyimpan jasad (tengkorak dan tulang-belulang) Gaara di Laboratorium. Tapi ... Kenapa dia bisa semirip itu dengannya?" Lady Sakura berhenti. Dia menatap Kabuto putus asa.
"Entahlah Ma'am."
"Wajahnya ... Matanya ... Bibirnya ... Rambutnya. Dan bahkan senyumannya! Dia benar-benar mirip Gaaraku!" Kenang Lady Sakura. Tadi saat sedang berlari di hutan di sekitar jalan raya The Crown, Sakura tidak sengaja melihat mobil Audi salah satu bawahannya yang membawa dua orang tamu ke Nasse House. Sakura ingin mengabaikan mereka dan melanjutkan acara larinya, tapi tepat di saat itu Kapten Akasuna No Sasori menurunkan kaca jendela mobil Audi bagian belakang. Sakura tertegun melihat laki-laki muda itu.
Kapten Akasuna No Sasori , sangat mirip dengan mendiang suaminya, Sir Haruno Gaara .
"Apa yang harus kulakukan Kabuto? Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Aku sangat mencintai suamiku, Gaara, dan aku sangat merindukannya. Aku tahu anak muda itu bukan Gaara, tapi bagaimana mungkin aku tidak menganggapnya sebagai Gaara kalau rupa mereka sama?" Dia berbicara dengan ekspresi penuh penderitaan.
"Saya tidak tahu Ma'am. Tapi saya harap anda bisa bersikap dan berbicara sewajarnya di hadapan tamu kita ini," kata Kabuto perihatin.
"Akan kuusahakan. Akan kuusahakan."
...
"Aku yakin nenek tua itu adalah tipe orang yang suka membuat orang lain menunggu." Kapten Akasuna No Sasori menggerutu tak jelas, dia duduk gelisah di sofa di samping Profesor Uzumaki Karin .
Profesor Karin mendengus. "Tenanglah Kapten. Aku yakin di dunia kemiliteran kau sudah diperkenalkan dengan materi yang bernama kesabaran," dia menyipitkan mata pada Kapten Sasori. Profesor Karin yang dari tadi duduk anggun dan tenang, mempersiapkan diri untuk bernegosiasi dengan Lady Haruno Sakura , merasa terganggu dengan kecemasan Kapten Sasori.
Bagaimana orang seperti dia bisa masuk militer.
"Dalam militer, aku memang sudah dilatih dengan materi kesabaran Profesor, tapi itu biasa digunakan untuk menghadapi musuh dalam medan tempur. Bukan untuk menunggu Nenek-nenek sombong, yang belum jelas mau membantu kita atau tidak."
"Maafkan aku kalau Nenek-nenek sombong ini sudah membuatmu menunggu begitu lama, Mister." Sebuah suara merdu yang datang dari arah tangga, membut dua kepala itu tersentak dan menoleh.
Mata Hazel Kapten Akasuna No Sasori melebar tak percaya ketika melihat si penegurnya, seorang perempuan yang memakai rok pinsil hitam dan blouse berwarna merah menyala dengan belahan dada rendah. Rambut pinknya di sanggul menyamping, dengan menyisakan helaian rambut tipis pada sisi lain dari sanggulnya.
Perempuan itu sangat rupawan. Dia memiliki kecantikan yang klasik. Mereka seperti melihatnya, seolah keluar dari sebuah film bisu yang kuno.
"Dia Lady Haruno?" Bisik Profesor Karin pada dirinya sendiri, seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Mereka semua pikir Lady Haruno adalah seorang perempuan paruh baya yang tegas dan keras kepala. Tapi perempuan yang sedang menuruni tangga ini ... Hell yeah, aku berani bertaruh kalau dia baru dua puluh tahunan.
"Dia tidak seperti nenek-nenek," komentar Kapten Sasori. Mata hazelnya terkunci pada tatapan mata hijau kelam perempuan itu.
Profesor Karin dan Kapten Sasori sama-sama berdiri untuk menyambut Lady Haruno Sakura .
"Anda Lady Haruno ?" Tanya Profesor Karin ragu ketika Sakura berhenti tepat di depan mereka.
"Haruno Sakura ," koreksinya. Suaranya dingin dan tajam. Tatapannya masih terpaku pada Kapten Sasori. "Itulah aku."
"Well. Anda sudah tahu tentang maksud kedatangan kami kesini kan, Madam?" Profesor Karin mengerutkan kening melihat Lady Sakura mengabaikannya dan malah saling tatap-menatap dengan Kapten Sasori.
"Tentu." Akhirnya dia menoleh ke arah Karin. "Silakan duduk," katanya sembari berjalan ke arah kursi antik yang letaknya beberapa kaki di depan sofa yang diduduki Karin dan Sasori, dia lalu duduk disana.
"Saya Profesor Uzumaki Karin , ketua tim ilmuan untuk Proyek pengembangan tentara masa depan," Profesor Karin memperkenalkan diri dengan cara seseorang yang Profesional. "Sedangkan dia ... Kapten Akasuna No Sasori, Pengawas proyek kami sekaligus orang pertama yang akan mencoba alat ciptaan kami."
Sebelah alis Lady Sakura terangkat tinggi. Dia menatap Sasori dengan ekspesi heran. Sementara Sasori hanya menanggapinya dengan kedipan jahil dan cengiran nakal.
"Kau serius ingin menjadi seekor kelinci percobaan?" Tanyanya tak percaya.
"Kelinci percobaan?" Sasori mengerutkan kening.
Sakura memberinya sebuah senyuman muram. "Kau setuju untuk menjadi orang pertama yang mencoba alat itu. Bukankah itu namanya kelinci percobaan?"
Sasori mendengus. "Itu proyek Ayahku. Tentu saja aku mau membantu dengan senang hati. Menjadi kelinci percobaan? Itu tidak masalah."
Lady Sakura mendesah.
"Mrs. Haruno." Profesor Karin berdehem, mencoba menarik kembali perhatian Haruno Sakura. Dia mulai kesal karena merasa diabaikan. "Bisakah saya menjelaskan prospek masa depan proyek kami, dan keuntungan apa yang akan anda dapatkan jika bersedia menjadi sponsor dari proyek tentara masa depan ini."
Lady Sakura menoleh ke arah Profesor Karin. Dia menatapnya dengan ekspresi bosan.
"Tidak perlu repot-repot Profesor, aku yakin asisten Mentri Pertahanan, Akasuna No Sasori sudah menjelaskan hal itu panjang-lebar pada Kabuto," ucapnya datar.
Profesor Karin mati-matian menahan diri unruk tidak menggertakan giginya pada Lady Sakura. Dia merasa tidak dihargai karena Sang Lady lebih memperhatikan Sasori dari pada dia.
Lady Sakura kembali menoleh ke arah Kapten Sasori. "Dua minggu lagi aku akan pergi ke Amerika untuk mengurus sesuatu. Mungkin aku bisa mengunjungi tempat proyek kalian sebelum memutuskan apa yang harus kulakukan."
Tbc...
Sakura's lover, rie uchi.
Thanks for Review :)
