a u r a
a story by : cheesyjd
enjoy reading!-
"Doyoung? Honey? Kamu gak apa-apa?"
Sesaat setelah Doyoung membuka matanya, ia melihat Ten berada tepat di atasnya. Posisi mereka berdua sangat sangat ambigu sekarang. Doyoung menatap Ten dengan tatapan apa-kau-ingin-memerkosa-ku yang membuat Ten menyadari posisinya dengan Doyoung. Ten lalu bergerak turun dari tempat tidur Doyoung lalu mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Doyoung.
Doyoung bangun dengan kepala yang sedikit agak pusing. Ia menggosok matanya, cahaya matahari sangat silau mengenai matanya. Sedangkan Ten memandangnya cemas. Doyoung melemparkan tatapannya di meja yang ada di samping tempat tidurnya. Semangkuk air dan sapu tangan basah. Siapa yang demam?
"Apa yang kau lakukan barusan, Ten?" Tanya Doyoung bingung. Ten mirip mama-nya Doyoung, secara tiba-tiba.
"Kau demam." Jawab Ten singkat sambil meletakkan punggung tangannya di dahi, pipi dan di hampir seluruh wajah Doyoung. Ia bisa mendengar nada ke-khawatiran dari kata yang diucapkan Ten tadi. Doyoung memandang Ten dengan tatapan aneh.
"Apaan? Aku bahkan tidak merasa tanda-tanda kalau aku demam." Sanggah Doyoung sambil berusaha bangun dari tempat tidur, meskipun ia merasa pusing. Tapi Ten kemudian memegang ujung bahunya dan menahan dia untuk bangun. Dan Doyoung masih memandang Ten dengan tatapan yang sama.
"Aku serius, Doyoung. Aku bisa mendengar suara rengekanmu dari kamarku. Dan saat aku datang, kau benar-benar demam." Jawab Ten sambil memandang Doyoung dengan serius. Doyoung agak sedikit terkejut, tapi dia tersenyum dan melepaskan tangan Ten dari bahunya. Dia berdiri, meregangkan badannya sambil melihat Ten yang masih duduk dengan ekspresi 'bodoh'nya.
"Aku tidak apa-apa, Tennie."
"Kau harus beristirahat di rumah, Doyoung!" Sanggah Ten cepat. Ten cuman takut kalau-kalau nanti Doyoung pingsan di kampus.
"Tidak, aku ingin pergi ke kampus." Doyoung bukanlah Doyoung kalau dia tidak keras kepala. Dia lalu menyambar handuknya yang berada tepat di belakangnya lalu dengan santainya menepuk pundak Ten yang masih duduk itu
"Mandi sana, nanti kita telat."
Mood Doyoung hari ini benar-benar bagus. Dia merasa hari-hari selanjutnya di kampus akan sangat menyenangkan karena dia akan melihat Jaehyun. Sebelumnya juga seperti itu, tapi karena sekarang dia dan Jaehyun bisa dibilang dekat, ia makin semangat untuk pergi ke kampus sekarang.
Tapi Ten sangat menyebalkan sekarang ini. Dari awal dia dan Ten berangkat dari rumah dan di jalan sekarangpun Ten tidak berhenti mengomeli Doyoung yang tetap memaksakan dirinya untuk pergi ke kampus dengan alasan Doyoung itu sakit dan Ten tidak ingin Doyoung nanti pingsan di kampus. Padahal Doyoung yakin dia tidak sakit. Sangat sehat malahan.
"Aku sangat sangat sangat membencimu, Kim." kesal Ten yang berjalan di belakangnya sambil menyilangkan tangannya di dada. Dia benar-benar kesal karena teman se-rumahnya ini sangat menyebalkan. Tapi Doyoung malah berjalan dengan santai seolah-olah tidak mendengar kata Ten di belakangnya itu.
"Kau dengar aku?! Yak! Doyoung!"
"Berisik, Ten." jawab Doyoung santai sambil dia menolehkan kepalanya pada teman baiknya itu. Ten mendengus kesal dan mengejar Doyoung, menarik tasnya untuk menyejajarkan langkah mereka. Doyoung protes
"Bisa tidak melakukan cara lain?"
"Bisa tidak mendengarkanku? Kau itu sakit! Bagaimana jika kau nanti tambah parah dan kau nanti mati?!" Semua kata-kata itu keluar dari mulut Ten begitu saja dengan lancar. Doyoung yang mendengarnya pura-pura kaget.
"Astaga.. apa kau baru saja menyumpahiku agar aku mati?"
"Tidak! Tidak seperti itu!" Doyoung selalu senang saat menggoda Ten, seperti ini. Ten menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan mata yang sedikit berkaca. Doyoung kemudian tertawa lepas dan merangkul Ten
"Hahahaha... Aku hanya bercanda, Tennie..."
"Jangan menyentuhku!" Kata Ten sambil berusaha melepaskan rangkulan Doyoung, tapi Doyoung malah mempererat rangkulannya dan itu malah membuat Ten semakin kesal.
"Ah, ayolah, Ten. Nanti aku akan men-traktirmu makan siang!
...
Ini masih terlalu pagi dan dingin untuk memulai aktivitas. Jalanan masih lenggang dan hanya satu atau dua kendaraan yang melintas. Salah satunya mobil milik Johnny. Johnny sedang mengantarkan Jaehyun ke rumahnya karena semalam Johnny menculik Jaehyun paksa dari cafe.
"Aku merasa sangat segar pagi ini, John. Aku tidak pernah merasa se-segar ini." Ucap Jaehyun memecah keheningan yang daritadi tercipta diantara mereka berdua. Wajah Jaehyun benar-benar segar hari ini dan wajahnya seolah-olah tersenyum tiap saat.
Johnny menghela nafasnya.
"Kau mungkin merasa segar. Tapi apa kau tidak kasihan pada anak itu?" Balas Johnny sambil mem-fokuskan pandangannya ke jalan. Meskipun jalan sepi, tapi dia harus tetap memperhatikan jalan.
"Kasihan?" Kata Jaehyun lagi sambil menatap Johnny dengan tatapan tidak peduli. Johnny mengangguk.
"Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanyalah bagaimana caranya aku bisa menjadi manusia seutuhnya lagi!" Sambung Jaehyun bersemangat sambil bertepuk tangan senang. Johnny hanya bisa menghela nafas. Dia menatap Jaehyun sekilas yang kini sedang memainkan ponsel di sampingnya.
Johnny benar-benar kasihan pada Doyoung. Johnny akui bahwa Doyoung memiliki aura yang benar-benar beda dari tiap orang yang ia temui. Auranya berwarna-warni, begitu hidup dan indah. Johnny sudah lama mengetahui itu, tapi ia enggan memberitahu Jaehyun. Ia hanya tak ingin Doyoung berakhir seperti Taeyong. Karena keserakahan Jaehyun, Taeyong tiada. Ini semua karena kutukan sialan itu. Tidak, ini semua karena salah Johnny sendiri.
"Ayolah, Jae! Kau tidak ingin dicap pecundang, kan? Kita harus masuk ke dalam rumah itu!"
Mereka masih terlalu muda waktu itu, saat dimana mereka masih terlalu penasaran untuk mencoba hal yang baru tanpa memikirkan konsekuensinya. Dan di sinilah Johnny dan Jaehyun, di dalam Hutan Setan yang selalu diceritakan oleh teman-teman kelasnya. Mereka ditantang untuk memasuki rumah penyihir dan keluar dengan keadaan hidup-hidup.
Jika Johnny adalah tipikal anak yang ingin dicap hebat, maka Jaehyun adalah sebaliknya. Saat teman-teman kelasnya memberi tantangan ini pada Johnny dan Jaehyun, maka Johnny adalah yang paling semangat menerimanya dan Jaehyun yang sangat menentang ini.
"Johnny. Aku takut. Ini sudah sore, kita harus pergi, di sini berbahaya..." bisik Jaehyun sambil memegang pergelengan tangan Johnny. Jaehyun benar-benar takut sekarang, dia ingin pulang, ibunya pasti mencarinya sekarang. Tapi Johnny tidak menghentikan langkahnya, dia malah terus berjalan hingga mereka berada di tangga rumah itu.
"Tidak! Kita sudah sampai sejauh ini. Kita tidak boleh menolaknya!" Tapi Johnny menggelengkan kepalanya, ia tetap pada pendiriannya. Ia akan masuk ke dalam sana, dan Jaehyun harus ikut serta. Jaehyun berusaha melepas pegangannya pada Johnny tapi Johnny mengeraskan pergelengannya dan Jaehyun semakin takut.
Johnny mempercepat langkahnya dan Jaehyun juga terpaksa mempercepat langkahnya mengikuti Johnny. Mereka akhirnya tiba di depan pintu rumah itu dengan jantung mereka yang berdetak sangat cepat. Johnny meraih knop pintu, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun, Jaehyun yang ada di sampingnya menyembunyikan wajahnya di dada Johnny.
Rumah itu sangat luas, gelap, dan kotor. Ruang tamu yang luas itu dipenuhi sarang laba-laba di mana-mana. Tidak ada tanda kehidupan. Dua pintu di sisi kanan dan kiri begitu gelap, kecuali pintu kanan, seperti ada cahaya warna-warni redup di dalamnya. Johnny dan Jaehyun terus melangkah, nyaris sampai di tengah ruangan.
prang!
"S-suara apa itu, Johnny?" bisik Jaehyun sambil mengadah kepada Johnny. Johnny menggeleng tidak tahu. Ia menelan saliva-nya takut-takut, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun.
krieet...
Keduanya tertegun, serempak menoleh kebawah. Itu suara yang ditimbulkan Jaehyun karena menginjak papan tua yang berdecit. Mereka berdua melihat dari pintu sisi kanan ruangan itu, sesosok hitam, pendek, dan bertopi keluar dari sana. Jaehyun dan Johnny tidak bisa berkata apa-apa. Itu benar-benar seperti penyihir yang digambarkan teman-temannya. Sosok itu terlihat menyeramkan karena dia wajahnya seperti marah, dan juga terlihat sangat tua. Ia mengangkat tangan kirinya yang bercahaya, seperti sihir mematikan yang akan memusnahkan mereka berdua.
Johnny tidak bisa bergerak, Jaehyun mengintip sedikit dan melihat cahaya putih itu. Jaehyun melihat penyihir itu melemparkan cahaya itu kearah mereka berdua. Ia tak ingin kehilangan Johnny, ia lalu mendorong Johnny sekuat tenaga menuju pintu tempat mereka masuk tadi dan berusaha menyelamatkan dirinya.
Tapi cahaya putih itu seolah menembus Jaehyun. Johnny melihatnya.
Johnny melihat semuanya.
"Jaehyun!"
Dan setelah itu, dia tidak ingat apapun lagi.
"Oi, Johnny." Suara stoic khas Jaehyun menyadarkan Johnny dari kilas balik yang ia alami. Ia menoleh ke arah Jaehyun dan mendapat tatapan kita-sudah-sampai.
"Maaf, aku melamun. Tapi untung kita tidak kecelakaan." Jawab Johnny jujur dengan senyuman lima jarinya. Jaehyun memutar bola matanya malas lalu keluar dari mobil.
"Aku akan meneleponmu nanti, jemput aku ya!"
"Uh, baiklah." Dan mobil Johnny melaju sedang di jalanan perumahan Jaehyun, membelah kesunyian pagi hari.
Ini memang baru pukul 06:30 tapi perpustakaan lumayan ramai. Memangnya apa yang akan dilakukan para siswa jika bukan untuk mengerjakan tugas? Mana mau mereka menginjakkan kaki di tempat yang sangat membosankan ini? Doyoung termasuk anak yang paling malas masuk kedalam sini.
Tapi karena ia mendapat 'tugas ekstra' dari dosen Hwang, mau tak mau ia masuk ke sini. Ten menolak menemaninya karena ia masih marah dengannya, tapi Doyoung tidak terlalu peduli. Ten palingan akan mencarinya 20 menit kemudian. Yah, Doyoung juga membutuhkan kedamaian. Ia juga sekaligus merangkai daftar pertanyaan untuk wawancara Jaehyun nanti. Ah, Jaehyun. Mendengar namanya entah kenapa jantungnya berdebar.
"E-emm.. p-p-permisi?" Doyoung yang tadi sibuk bergelut dengan catatan-catatan refleks mengadahkan kepalanya, mencari-cari siapa yang mengajaknya bicara itu. Ia menemukan seorang mahasiswa dengan kacamata bulat yang lucu, dengan buku-buku tebal yang ia pegang dengan kedua tangannya karena buku itu sangat banyak. Cowok itu tersenyum kikuk dengan sweater abu-abunya.
"Bisakah.. aku duduk di sampingmu?" Tanya-nya lagi saat ia berdiam beberapa menit. Doyoung tersenyum.
"Oh! Silakan, biar aku yang menarik kursimu, karena tanganmu penuh dengan buku sepertinya kau kesulitan." Tawar Doyoung sambil menarik kursi disampingnya dengan senyum. Pria itu duduk dan menggumamkan kata 'terimakasih'. Tapi Doyoung langsung berbalik dengan catatannya yang tadi.
"Terimakasih, bukunya sangat berat tadinya. Ngomong-ngomong, namaku Dong Si Cheng. Tapi teman-temanku sering memanggilku Winwin." Winwin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tapi Doyoung mengabaikannya karena ia terlalu berfokus pada catatannya. Winwin merasa awkward dan menurunkan tangannya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa kau mengatakan sesuatu? Err..."
"Winwin."
"Ah, ya. Winwin, apa kau mengatakan sesuatu?"
"A-ah.. tidak ada."
Lalu kemudian hening.
20 menit kemudian, Ten masuk perpustakaan dengan tiga cup coffee yang ia baru saja beli di cafe campus. Ten jelas kaget saat melihat ada seorang asing yang baru ia lihat duduk di samping Doyoung, kelihatannya mereka agak sedikit.. akrab?
"Doyoung-ie! Hai! Dan... hai juga? Siapa namamu?" Kata Ten tanpa banyak basa-basi saat dia baru saja sampai di tempat duduk mereka dengan senyum khas-nya. Doyoung tersenyum pada Ten yang menarik kursi yang ada di depannya dan Winwin. Winwin juga tersenyum, tapi lebih ke senyum yang awkward.
"Namaku Win..win. Ah.. e-eh.. a-anu.. aku harus pergi... terimakasih Doyoung-sunbaenim sudah me.. mengijinkan aku duduk bersama.. aku permi..si..." Winwin tadinya berniat untuk pergi dari situ sejak Ten datang dan ia merasa tidak enak karena ia merasa suasana tambah awkward karena kehadirannya.
"Mau kemana? Winwin? Jangan terlalu terburu-buru. Aku membeli 3 gelas kopi tadi. Duduklah bersama!" Tapi Ten mencegahnya saat Winwin baru saja mengumpulkan bukunya dan Winwin duduk lagi di tempatnya semula. Doyoung menatap Winwin sambil tersenyum.
"Karena kau sudah bergabung bersama kami, aku rasa kita bisa jadi teman." Tambah Doyoung sambil menopang dagunya dan menatap Winwin sambil tersenyum hangat. Dan Ten, entah kenapa, merasa setuju dengan Doyoung. Ia mengangguk dan memberi Winwin segelas kopi yang tadi ia beli.
Winwin merasa senang.
"Kau sepertinya anak baru di sini ya, Win?" Tanya Ten di sela Winwin meminum kopinya. Winwin mengangguk.
"Aku pindahan dari China. Aku sebenarnya baru dua bulan di sini. Aku memilih kuliah di sini karena aku suka." Jelas Winwin yang tidak terlalu panjang. Ten mengangguk mengerti.
"Oh iya, kenalkan namaku Ten." Tambah Ten lagi sambil memasang pose peace sign yang membuat Doyoung tersedak.
"Kau kenapa, hah?" Tanya Ten sengit. Doyoung menggeleng menahan tawanya.
"Kau pasti tidak ingin tahu nama panjangnya, Win." Bisik Doyoung pada Winwin yang melongo. Ten memukul meja perpus keras-keras, sehingga penjaga perpus menatapnya tajam. Tapi Ten benar-benar tidak peduli.
"Ten Chittaphon Leechaiyapornkul." Kata Ten dengan bangganya memperkenalkan diri.
"A-ah.. maaf? Bisa kau ulangi?"
Ten dan Doyoung saling berpandangan, lalu tertawa kecil kemudian, sedangkan Winwin menatap bingung mereka berdua.
Awalnya, Winwin kira pindah ke Seoul adalah ide yang buruk, belajar bahasa baru dan kampus baru. Tapi ternyata tidak sesulit itu. Memang dia agak kesusahan, tapi ia bertemu Yuta yang mengajaknya bicara sejak dia pindah dari China. Yuta adalah tipe orang yang hangat bagi Winwin. Senyumannya secerah matahari pagi, dan dia sangat lembut dan protektif pada Winwin. Ternyata Yuta juga dulunya pindahan dari Jepang. Sesama anak pindahan, Yuta tahu bagaimana Winwin berjuang untuk mempelajari banyak hal, dan Yuta ingin membantunya mempelajari hal itu.
Namun pada pagi ini, Winwin bertemu Doyoung dan juga Ten yang entah kenapa langsung bisa akrab dengannya. Winwin merasa aneh, tapi juga senang. Setidaknya dia bisa mengumpulkan teman-teman sekarang.
"Oh, ya, Winwin. Kenapa kamu mengambil buku besar banyak sekali?" Tanya Doyoung disela-sela ceritanya dengan Ten, Winwin. Winwin ber-oh-ria dan mengambil salah satu buku besarnya itu dan menaruhnya di tengah-tengah mereka bertiga. Ten dan Doyoung menatapnya bingung.
"Aku menulis untuk klub horor di kampus." Winwin memulai. Ten menatapnya kagum,
"Woah, Winwin-ah! Kamu menulis untuk klub horor? Keren. Biasanya anak baru susah diterima di sana. Aku dulu berjuang mati-matian loh untuk itu."
"Ah, itu karena aku berteman dengan ketua klub, Yuta-hyung."
"Yuta? Nakamoto Yuta?" Kali ini Doyoung yang terkejut. Yuta adalah tipikal orang yang sulit diajak berteman dan benar-benar misterius. Sangat mengejutkan Winwin bisa menjadikan teman dengan mudah. Winwin mengangguk meng-iyakan
"Apa tema untuk tulisanmu itu?" Doyoung kembali bertanya
"The Mannequin" Jawab Winwin singkat sambil membenarkan letak kacamatanya. Ten mengangguk antusias.
"Oh! Aku pernah mendengar urban legend itu sebelumnya. Dulu, katanya ada dua orang anak yang memasuki hutan terlarang dan mendatangi rumah penyihir, kan? Kemudian salah satu anak itu menjadi seperti manekin!" Sambung Ten berapi-api mendengar cerita Winwin. Winwin mengangguk.
"Manusia manekin itu sebenarnya sejenis kutukan. Ketika seseorang terkena kutukan ini, mereka akan menjadi manekin, datar, dingin, dan pucat. Mereka memang bisa tertawa, tapi benar-benar tidak bisa menangis. Kutukan ini bisa disembuhkan, dan seperti yang tertulis dibuku ini, manusia manekin itu membutuhkan aura. Aura yang mereka butuhkan haruslah aura yang berbeda dengan aura lainnya." Sambung Winwin membenarkan cerita Ten. Ten mendengarkan dengan antusias dan Doyoung mengangguk mengerti.
"Oh! Oh! Jika sang manusia manekin mendapat aura spesialnya, bagaimana?" Tanya Ten terlewat antusias. Winwin menjelaskan dengan sabar,
"Ini seperti web-komik unTouchable, kau tahu? Tapi bedanya, manusia manekin ini mengambil auranya sedikit demi sedikit melalui tatapan mata yang sangat intens. Jika sang manusia manekin telah bertemu 'aura'nya, ia akan merasa sangat segar dan ingin terus bertemu dengan sang 'aura'. Sedangkan orang yang aura-nya diambil, merasa letih, demam.."
"Kemudian apa yang terjadi saat si manusia manekin itu mendapatkan Aura yang dia butuhkan untuk menjadi manusia lagi?" Tanya Doyoung lagi.
"Manusia manekin itu akan berubah menjadi manusia lagi. Tapi bagi manusia yang diambil aura-nya, entah ia akan mati ataukah ia tetap bertahan. Aku tidak tahu pasti juga."
"Apa ada yang seperti itu?" Tanya Doyoung seakan-akan tak percaya dengan penjelasan Winwin, tapi Ten 100% sudah percaya. Mana ada kutukan seperti itu?
Doyoung merasa aneh. Tiba-tiba saja, entah kenapa. Ia merinding.
"Yuta-hyung bilang, ada. Dia bahkan ada di sekolah ini." Jawab Winwin. Dan ini sontak mengagetkan Doyoung dan Ten. Mereka tahu kalau Winwin itu seperti 'anak indigo', dia tahu segala tentang hal ghaib.
"W-woah... siapa dia?"
"Eumm... entahlah."
"Uhuk-uhuk!" Jaehyun yang tadinya meminum air dengan damai dan tenang di dapur, bersiap-siap menuju kampus dengan Johnny tiba-tiba tersedak meminum air saat dia akan pergi.
Johnny yang sibuk menggeledah kulkas mencari buah-buahan, melihat Jaehyun dan langsung menghampirinya.
"Kau tak apa?" Kata Johnny perhatian sambil mengelus punggung Jaehyun. Jaehyun mengangguk mengiyakan.
"Aku tak apa, berhentilah seperti itu, rasanya seperti kau itu homo. Uhuk-uhuk" Canda Jaehyun disela-sela ia sedang tersedak. Langsung saja Johnny menampar punggung Jaehyun
"Mati aja lo."
Johnny, semenjak kejadian itu, merasa menyesal dan hutang nyawa pada Jaehyun. Jaehyun-lah yang harus menanggung ini semua, padahal ini semua salahnya. Jadi dia ingin menjaga Jaehyun dengan baik.
"Ahahaha... ampun."
"Kenapa kau bisa tersedak?" Tanya Jaehyun yang masih berdiri di sampingnya, memiringkan kepalanya memastikan Jaehyun baik-baik saja.
"Ah... ya.. aku tersedak, karena ada yang membicarakan ku."
Johnny mengernyitkan dahinya.
"Kau mabok. Ayo cepat, nanti kita telat."
"Okay."
...
to be continued...-
A.N ;
Waduh, idenya benar-benar ga masuk akal dan makin ngaco. Manusia manekin? You kidding me xD ? Mungkin aku sedikit tidak kreatif karena terinspirasi webtoon untouchable. Karena ide absurd ini muncul di kepalaku pada siang hari, beneran, aku tidak memikirkan webtoon itu pada saat itu. Tapi entah kenapa aku sadar kalau ini mirip unTouchable. Geez, Kuharap para readers tidak lari karena ide-ku yang absurrrddd dan juga membosankan. Maafkan ide saya yeoreobun.. *bow*
