Chapter I
Si Gila Haruno
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning :OOC, Aneh, typos everywhere, gaje, etc.
Genre : Romance
Pairing : SasuSaku
Summary : Haruno Sakura tidak memiliki teman, teman bukanlah hal menarik baginya. Ya, siapa yang butuh teman saat ia sudah kerepotan dengan Geronuso, Scyrra dan lainnya.
By Snowincherry
Kebijaksanaan pembaca disarankan
.
.
.
"Sakura! Makanlah sarapanmu, jangan hanya menggoyang-goyangkan kakimu terus!" Ibunya, Haruno Mebuki berkali-kali memeringatkan anak tunggalnya untuk makan sarapannya dengan benar. Anak tunggalnya itu hanya memandang sarapannya yang berupa omelet dan roti bakar sambil mengayun-ayunkan kakinya, seperti anak kecil.
Sakura tersenyum, "Aku tidak lapar, bu. Aku masih kenyang, bagaimana jika ibu memberikan makanan ini ke Geronuso? Mungkin setelah memakan masakan ibu yang enak, ia akan berhenti mengangguku," katanya dengan suara halus namun juga terkesan kekanakkan. Seperti igauan dalam tidur namun lebih indah dan teratur.
Mebuki menggelengkan kepalanya, tanda menyerah. Sakura selalu seperti ini, "Kau hanya makan sedikit kemarin, bagaimana jika kau pingsan nanti? Ibu tidak mau ke sekolahmu lagi karena kau membuat masalah!"
Kizashi hanya terkekeh saat mendengar penjelasan anaknya yang polos itu, "Kau yakin Geronuso akan menyukai masakan ibumu, sayang? Kalau iya, ayah tidak segan untuk memberikan sarapan ayah juga," katanya dibalik koran yang ia baca.
Perkataan pria itu jelas ini membuat Mebuki tersinggung, "Apa maksudmu, Kizashi? Masakanku tidak enak, begitu?!" gerutunya marah.
Sakura kembali tersenyum, "Geronuso menyembunyikan pitaku, ayah. Mungkin dia marah karena kemarin aku langsung tidur tanpa mengajaknya mengobrol dulu,"
"Geronuso jahat sekali, apa perlu ayah menghukumnya?"
Sakura menggeleng, "Tidak perlu ayah, aku akan berangkat sekarang," gadis bersurai merah muda pucat itu turun dari kursinya dan mencium kedua pipi orang tuanya. Berangkat sekolah tanpa menyentuh sarapannya sama sekali.
"Sakura! Kau lupa dengan bekalmu!" seru Mebuki tapi Sakura sudah pergi.
Gadis itu berangkat sekolah dengan langkah biasanya sambil menggumamkan lagu-lagu yang muncul di otaknya.
.
.
.
Sakura tidak memakai uawabakinya. Uwabakinya tidak ada saat ia akan menyimpan sepatunya, jadi ia hanya memakai kaos kakinya ke kelas. Apa Geronuso sangat marah kepadanya hingga ia menjahilinya di sekolah juga? Padahal kemarin ia benar-benar kelelahan karena mencari Reiko-san, kucing hitam yang selalu menghadang jalannya saat pulang sekolah. Kucing manis yang selalu kelaparan padahal sudah bulat seperti bola basket.
"Haruno-san? Kenapa tidak memakai uwabakimu?" Iruka-sensei yang perhatian bertanya lembut padanya. Dari suaranya, semua orang tahu jika ia memperlakukan Sakura seperti anak SD, bukan anak SMA kelas dua.
Sakura tersenyum lalu melihat kakinya yang hanya dibalut kaos kaki berwarna-warni, kesukaannya, "Geronuso menyembunyikannya, sensei. Dia marah karena aku tidak mengajaknya mengobrol sebelum tidur kemarin," jawabnya dengan suara pelan.
"Maafkan aku, sensei. Aku akan mencari uwabakiku nanti saat istirahat," lanjutnya. Iruka hanya mengangguk dan menyuruhnya pergi ke kelas sebelum pelajaran pertama dimulai.
"Geronuso," gumam Iruka saat Sakura tidak terlihat lagi. Ia tahu itu hanyalah imajinasi Sakura yang bebas seperti anak kecil.
Awalnya tingkah Sakura yang tidak normal ini menjadi masalah bagi pihak sekolah, hamper semua orang yang menganggap siswi itu gila karena sering bergumam hal yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Padahal gadis itu cantik sekali, rambutnya panjang hingga mencapai sepinggang dengan bergelombang sedikit di bagain bawahnya. Rambutnya berwarna merah muda pucat dan matanya beriris hijau seperti dedaunan segar di hutan, seperti jelmaan dewi musim semi. Yeah, dewi musim semi yang gila.
Andai Sakura memberikan perhatian sedikit pada lingkungan sekitarnya, selain hewan khayalannya semata dan dirinya sendiri. Ia bisa menyadari bahwa selama ini ia diganggu oleh semua murid di Konoha Shippu Gakuen Den, bukan Geronuso atau semacamnya.
"Si gila itu bertingkah lagi,"
"Sial, kenapa dia yang seperti itu menjadi anak kesayangan banyak sensei?"
"Huh, sia-sia saja kita menyembunyikan uwabakinya, menyebalkan sekali,"
Bisik-bisik itu menarik perhatian Iruka jadi ia mendekati murid-murid itu dan memberikan hukuman yang pantas bagi mereka karena telah mengerjai murid lainnya.
.
.
.
"Kalian akan memiliki teman baru lagi," Hatake Kakashi, sensei tertampan yang memiliki banyak fans muridnya berujar seperti biasa. Tidak bersemangat dan menganggap semua hal membosankan.
Kelas 2-5 sontak rebut, berbisik-bisik tentang siapa murid baru yang akan menjadi teman mereka.
"Perempuan atau laki-laki ya?"
"Kuharap dia laki-laki dan sangat tampan!" salah satu gadis berambut pirang berkata keras.
"Apa? Dia pasti perempuan! Dan tentu saja cantik!" salah satu murid membantah tegas.
"Oh ya?" semua murid perempuan mendengus menghina. "Terakhir kali kita memiliki murid baru perempuan, dia kelainan jiwa," ejek salah satu murid berambut merah bernama Karui.
Semua mata selain Kakashi-sensei melirik murid perempuan yang duduk di pojok kelas. Murid perempuan yang tidak memakai uwabakinya dan hanya memperhatikan langit berwarna biru cerah.
"Sudah, sudah. Silahkan masuk, Uchiha!" kata Kakashi, merasa tidak habis pikir kenapa banyak orang yang tidak menyukai murid kesayangannya itu.
Pintu kayu itu bergeser dan masuklah pemuda tinggi dan tegap. Rambutnya hitam kebiruan dengan sedikit berantakan di bagian belakangnya, matanya tajam dengan alis berbentuk sempurna. Wajahnya bersih tanpa bekas jerawat yang menjadi momok para remaja dan hidungnya mancung, beberapa gadis membisikkan 'Bibirnya kissable dan sempurna,'.
Murid baru yang tampan. Sebuah keberuntungan bagi semua murid perempuan.
"Uchiha Sasuke, salam kenal,"
Semua orang kecuali tiga orang di kelas itu menahan nafasnya. Semua orang tahu apa itu marga Uchiha itu, mereka adalah penguasa perekonomian di Jepang. Hampir semua sektor yang berperan dalam kemajuan Jepang berada di bawah pengaruh tangan dingin mereka dan salah satu pewaris Susanoo Aquilla Group menjadi teman mereka?
Benar-benar sebuah keajaiban.
"Sasuke-sama!"
"Uchiha-sama!"
"Jadilah kekasihku!"
Hampir semua gadis berteriak seperti itu kecuali Sakura sedangkan murid laki-laki masih tampak tidak percaya bahwa Uchiha Sasuke akan menjadi salah satu teman mereka selama setahun lebih ke depan.
"Nah, ini adalah kebiasaan mereka yang harus kau maklumi, Uchiha. Buat dirimu senyaman mungkin di kelas ini. Apa kau melihat kursi kosong? Duduklah di sana,"
Sasuke memutar matanya, Kakashi memang tidak memiliki gairah hidup sama sekali jadi ia langsung menuju ke meja pojok. Meja di depan gadis berambut merah muda pucat itu tampaknya kosong dan ia tahu itu tempatnya.
"Oke, mari kita mulai pelajaran kita,"
Sasuke segera mengalihkan perhatiannya dari gadis yang terus melamun memperhatikan langit.
.
.
.
Sakura tidak mengerti kenapa banyak anak-anak yang bergosip disekitarnya. Mereka bilang ada murid baru di kelas 2-5 tapi Sakura tidak ingat ada murid baru yang dikenalkan dikelasnya. Oh, ia tampak jahat karena tidak tahu siapa murid baru di kelasnya sendiri.
Tapi ia memedulikan dimana uwabakinya, jadi ia di toilet perempuan lantai dua. Memperhatikan setiap sudut yang ada, menebak-nebak dimana bayangan uwabakinya sekarang.
Setelah yakin, tak ada uwabakinya di sana. Sakura mencarinya di sekitaran koridor, jam makan siang membuat koridor menjadi sedikit lebih sepi dari biasanya karena mereka ada di kantin atau di kelas masing-masing, ada juga murid yang memilih memakan bekal siangnya di taman sekolah.
"Haruno-san!"
"Ah, Shizune-senpai," Sakura balas menyapa gadis berambut hitam legam dan lebih tua lima tahun darinya. Penjaga UKS yang sangat baik dan ramah kepada semua orang.
"Apa kau mencari uwabakimu?" tanya Shizune perhatian.
Sakura tersenyum, "Geronuso menyembunyikannya, senpai. Dia marah karena aku tidak mengajaknya mengobrol sebelum tidur kemarin," jawabnya dengan suara pelan.
"Uh, ya. Dan kurasa kau lebih baik membeli uwabaki yang baru, Geronsoa pasti menyembunyikannya dengan baik hingga kau belum mendapatkannya sekarang,"
Alis Sakura mengkerut sedikit, "Namanya Geronuso, senpai. Dia akan marah jika tahu bahwa namanya tidak disebut dengan benar. Apa aku perlu mengejanya? Baik, G-E-R-O-" ia mengeja nama Geronuso tapi segera dihentikan oleh Shizune.
"Baik, baik, Sakura. Ini adalah uwabakimu yang baru, kau tidak perlu mencari uwabakimu lagi," Shizune menyerahkan kantung kertas kepadanya.
"Tapi Shizune-senpai-"
"Kau bisa menggantikan uangnya besok, okay? Kali ini, jangan memedulikan Geronosa," Shizune menepuk bahu mungil depannya pelan lalu kembali ke ruang kerjanya yaitu UKS.
"Senpai, namanya Geronuso," sekali lagi Sakura mengoreksi penyebutan nama itu.
.
.
.
"Sialan kau, Teme! Kembali ke Jepang tanpa memberi kabar, huh?!" Uzumaki Naruto menggerutu dan menonjok bahu pemuda disebelahnya main-main.
Sasuke memutar matanya, ia menghindar dari tonjokan main-main sahabat sepermainannya. Uzumaki Naruto.
"Benar-benar dramatis, semua orang membicarakan tentangmu. 'Oh, Uchiha Sasuke menjadi murid baru di sekolah ini,', 'Uchiha Sasuke akan menjadi murid kebanggaan sekolah ini', 'Oh, Uchiha Sasuke sangat tampan dan ia adalah prince charmingku,' dan aku sebagai sahabatmu menjadi orang bodoh saat tahu kau kembali lagi ke sini," kata Naruto dengan selipan suara perempuan yang dibuat-buat semenjijikkan mungkin.
"Tapi serius, kenapa kau pindah ke Jepang. Kupikir kau menyukai London? Gadis-gadis di sana cantik-cantikkan dan kau sudah berusia delapan belas di sana! Kau bisa bersenang-senang dengan mereka!" pekik Naruto.
Lagi-lagi Sasuke memutar matanya.
"Teme! Katakana sesuatu! Kau tidak mungkin masih mengalami jet lag kan?!" pekik Naruto histeris karena tidak mendapatkan respon dari pemuda disebelahnya.
Sasuke berdecak, "Bisa kau tutup mulutmu itu, Dobe? Aku mencoba mencari ketenangan di sini," gerutu Sasuke dan dibalas kekehan Naruto.
"Itu karena kau tidak memberitahu kepada sahabatmu tentang kepulanganmu ke Jepang. Siapa tahu minggu lalu, aku bisa ikut menjemputmu di bandara,"
Uchiha Sasuke, pewaris kedua SA Group baru kembali dari London yang menjadi tempat tinggalnya selama empat tahun belakangan ini. Padahal setahu Naruto, Sasuke tak akan kembali ke Jepang sebelum ia menguasai SA Group cabang Eropa atau keputusan ayahnya yang menentukan siapa yang akan meneruskan kerajaan SA Group itu.
"Apa Fugaku-ji san sudah menentukan siapa penerusnya?" bisik Naruto, lebih kepada dirinya sendiri dari pada ditujukan kepada sahabatnya.
"Aku ada keperluan di sini hingga lulus SMA nanti, ada hubungannya juga dengan SA Group," kata Sasuke singkat.
Naruto mengangguk, mereka sama-sama memperhatikan taman sekolah yang dikunjungi beberapa siswa-siswi untuk memakan makan siangnya. Bekal Naruto yang ia bawa dari rumah dan roti melon yang dibeli Sasuke di kantin telah habis hingga mereka hanya berbincang-bincang. Mereka berbeda kelas, Naruto di kelas 2-7 sedangkan kelas baru Sasuke adalah kelas 2-5, setelah Naruto mendengarkan gossip tentang Uchiha Sasuke yang pindah ke Konoha Shippu Gakuen Den, ia langsung menyeret Sasuke untuk makan siang bersama di taman.
"Tapi bagus kalau kau pindah ke sini, Teme," kata Naruto dan mata birunya tiba-tiba fokus pada murid perempuan yang berjalan riang melompat-lompat seperti kelinci, bibirnya menyunggingkan senyum dingin. Sasuke tidak menjawab dan memperhatikan hal yang tidak menarik perhatiannya.
"Kau bisa mengalahkan si gila dalam pelajaran sekolah,"
"Si gila?" gumam Sasuke namun bisa di dengar jelas oleh Naruto.
"Iya, si gila," Naruto menunjuk murid perempuan berambut merah muda pucat, "Si gila yang menjadi perwakilan sekolah kita di olimpiade matematika kemarin," ia memberitahu.
Sasuke tahu siapa yang ditunjuk oleh Naruto, murid yang duduk di belakangnya di kelas. Satu-satunya murid yang tidak menaruh perhatian kepadanya saat memperkenalkan diri di depan kelas tadi pagi. Dia tersenyum seperti orang bodoh dan orang-orang yang disekitarnya menyingkir seolah menjauhi sebuah kotoran berbau busuk.
"Kalau tidak salah, kau sekelas dengannya kan? Jauhi saja anak itu," Naruto memberitahunya sebagai sahabat yang baik, "Dia itu gila dan sepertinya punya kemampuan aneh,'
Sasuke mendengus. Seperti ia peduli saja dengan orang aneh itu.
.
.
.
Dan Sasuke memang harus sedikit peduli, demi nilai pelajaran biologinya karena ia kedapatan sekelompok dengan si aneh itu. Terkutuklah si Ororchimaru itu.
Reaksi semua murid di kelas 2-5? Benar-benar tak terbayangkan. Mereka yang biasanya selalu patuh dan menjadi murid baik selama pelajaran Orochimaru-sensei, sensei yang tak mengenal ampun di Konoha Shippu Gakuen Den. Mereka memperotes tanpa memikirkan akibatnya hingga semua murid diberikan tugas ganda, kecuali Sasuke dan si aneh itu. Mereka akan meneliti tanaman di sekitar mereka yang bisa bermanfaat di kehidupan manusia. Tidak sulit karena Konoha Shippu Gakuen Den memiliki taman sekolah yang selalu mereka bangga-banggakan.
Sasuke ingin tugasnya cepat selesai dan ia tidak memiliki beban lagi tentang tugas merepokan ini. Setelah semua murid pulang termasuk yang bertugas piket hari ini, ia berbalik. Mendapati murid aneh itu melipat tangannya di meja dan berpose seolah tertidur lelap. Mudah sekali ia tidur padahal di pelajaran sebelumnya, kelas seperti angin ribut.
Sasuke mengetuk mejanya dan murid aneh itu bergerak-gerak kecil seolah terganggu namun akhirnya kembali lagi ke posisi sebelumnya. Sasuke yang tidak dilahirkan dengan kesabaran ekstra kembali mengetuk meja itu lebih keras.
Hingga murid aneh itu mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke langsung ke matanya dengan tatapan kosong. Iris matanya yang berwarna cerah memantulkan bias-bias oranye dari langit senja.
Murid aneh itu masih mengunci mulutnya hingga Sasuke memecahkan keheningan diantara mereka, "Kapan kita mengerjakan tugasnya?" tanyanya dingin.
Si murid aneh malah menelengkan kepalanya ke samping, seperti orang idiot. Sasuke mengakui wajah si aneh ini sangat cantik tapi kelakuannya malah membuat nilai minus di matanya. Apa benar gadis ini yang menjadi wakil Konoha Shippu Gakuen Den di olimpiade matematika kemarin, seperti kata Naruto?
"Kau siapa?" tanya gadis itu dengan polos.
Sial.
"Aku tidak pernah melihatmu di kelas, apa kau sahabat Geronuso yang baru?" tanyanya dengan suara halus seperti gemerisik daun yang ditiup oleh angin lembut.
Sasuke mengangkat alisnya, siapa itu Geronu-
Murid aneh itu menjulurkan tangannya, seolah mengajak bersalaman dan Sasuke menyambutnya dengan malas. Ia sedikit berjengit saat merasakan telapak tangan gadis itu terasa sangat dingin, apa gadis ini berpenyakitan? batin Sasuke
"Haruno Sakura," si murid aneh menarik kedua sudut bibirnya dan Sasuke tahu benar bahwa ia sempat menahan nafasnya beberapa detik.
.
.
.
TBC
.
.
.
