Title : "Two Foolish Brothers"

Author : oohpuuut

Genre : Drama, sad, romance.

WARNING! NC, Yaoi, & dirty talk!

Cast :

Sehun

Luhan

Chanyeol

Baekhyun

Support cast..

Last... Sorry for typo ^^


- Chapter 2 -


Luhan tidak main-main dengan ucapannya. Hari ini ia kembali lagi ke kantor tempat Sehun bekerja.

"Maaf, Anda siapa?" resepsionis yang berdiri dibalik meja bertanya pada Luhan.

"Aku Luhan, dan aku belum membuat janji dengan Direktur karena aku bukan pengusaha atau rekan bisnisnya, kenapa? Kau mau menyeretku keluar?" ucap Luhan cepat.

Petugas resepsionis itu tersenyum. "Ah~ jadi Anda Xi Luhan? maaf saya belum hafal wajah anda, silahkan masuk ke ruangan Direktur, beliau ada di dalam kantornya."

"Ne?"


"Kau tahu? Aku bukan lah orang yang punya banyak waktu luang, jadi langsung saja ke inti masalahnya." Sehun berbicara tanpa menatap Luhan, ia sibuk menulis sesuatu pada tumpukan kertas di mejanya.

"Cabut tuntutanmu."

"Itu bukan wewenangku."

"Lalu?"

Sehun berhenti menulis, ia menatap Luhan yang sedang berdiri di hadapannya dengan wajah datar dan tatapan yang seolah bisa menembakan laser pada Sehun.

"Bukan aku yang menutup Club itu, mungkin Presdir Byun. Memang apa masalahnya sampai Club itu ditutup?"

"Bocah sialan itu!"

"Bocah sialan?" tanya Sehun.

"Byun Baekhyun, dia mengadu pada Ayahnya dan menyebar fitnah bahwa kami yang menghajarnya di Club. Polisi menutup Club kami setelah menerima laporan palsu itu, hahaha uang memang diatas segalanya."

"Jangan berbelit-belit! Aku tidak paham."

"Baekhyun dipukuli gangster! Bukan kami! Tapi dia malah mengadu pada Ayahnya kalau kami yang memukulinya! Aku tidak tahu apa alasannya, tapi dia benar-benar berengsek!"

"Jaga ucapanmu! Tuan Xi."

Luhan terdiam. Ia yakin, tidak pernah menyebutkan marganya saat memperkenalkan diri.

Kenapa dia tahu margaku?

"Kau yakin tidak mengenalku?" Luhan berucap lirih.

Ia ingin bertanya tapi takut Sehun akan mengusirnya lagi.

"Kenapa bertanya lagi?"

"Karena.. kau mengetahui margaku, dan lagi aku tidak pernah membuat janji untuk bertemu denganmu tapi kenapa aku bisa dengan mudah masuk ke sini? Kau yang membuatkan janji itu?"

Sehun tersenyum. "Tuan Xi, jaman sekarang kita bisa membeli informasi seseorang dengan mudah seperti mendapatkan permen loli. Asalkan, ada uang."

Sehun berdiri lalu berjalan sampai di depan Luhan. Mereka kini berdiri saling berhadapan. Dari dulu sampai sekarang, ukuran tubuh keduanya memang berbeda, Sehun yang selalu lebih tinggi dibanding Luhan.

"Aku membeli informasi tentang dirimu, aku bisa mendapatkannya dalam satu kedipan. Karena apa? aku punya banyak uang."

"Picik." Umpat Luhan.

Sehun menyeringai, ia mencondongkan wajahnya mendekati Luhan.

"Aku akan menolongmu untuk mendapatkan kembali Club itu.. asalkan kau penuhi satu syarat ini."

Luhan mendorong tubuh Sehun sampai ia mundur beberapa langkah.

"Syarat?"

"Bekerja lah disini."

.

.

.

Karena aku tak ingin kau bekerja di tempat seperti itu, hyung.


"Berhenti dari Club? Kenapa?" Chanyeol hampir tersedak saat meminum soda yang Luhan berikan.

"Suapaya tuntutannya dicabut."

"Lu! Arrgh!"

"Tenang yeol, aku akan sering-sering mengunjungimu ke Club. Lagi pula, orang itu menawarkanku pekerjaan lain jika aku mau berhenti dari Club."

"Pekerjaan apa?"

"Entah.. tapi aku akan bekerja di perusahaan itu."

"Apa!? wahh kalau begitu ajak aku!"

Luhan memukul kepala Chanyeol.

"Kau pikir aku kesana untuk jadi Direktur atau Manager? Paling Cuma cleaning service!"

"Terus kenapa kau mau menerima tawarannya?"

"Karena ada satu alasan lain."

"Apa itu?"

Luhan tersenyum lalu mengusap kepala Chanyeol yang sebelumnya ia hantam dengan kepalan tangannya itu.

"Kau tidak perlu tahu, Park dobby.."

"Issh!"

.

.

.

Karena aku ingin bertemu dengannya, aku merindukannya.


Chanyeol pergi ke Club yang sempat ditutup beberapa hari yang lalu, beruntung pimpinan perusahaan ikan itu mau mencabut tuntutan mereka. Ia tidak tahu bagaimana cara Luhan membujuk Direktur dingin dan seangkuh itu, yang jelas ia berhutang budi pada pria bertubuh mungil itu.

Chanyeol kembali membenahi peralatan di Clubnya. Ada beberapa barang yang rusak seperti gelas, meja, dan kursi kayu karena kemarin sempat terjadi pertengkaran disini. Baru beberapa hari, tapi debu di atas kursi dan lantai sudah menebal.

Brak..

Chanyeol mendengar sesuatu di dalam Club, padahal hanya ia seorang yang berada di sana.

"Mungkin tikus.." gumamnya.

"Sialan kau menyebutku tikus!"

Suara asing itu terdengar di belakang Chanyeol. Ia pun menoleh dan mendapati seorang pria bertubuh lebih pendek darinya dan hampir sama dengan Luhan. Matanya sipit dan mulutnya merah tipis, namun dari keseluruhan wajah itu terlihat sempurna.

"Kau kan..." mata Chanyeol melebar saat sosok di balik bayangan hitam itu terlihat jelas "Byun Baekhyun! Sialan kau!"

Srett..

Ia menarik kerah baju Baekhyun, bersiap untuk memukulnya.

"Wooo.. tenang! Tenang.." ucap Baekhyun.

Perlahan Chanyeol melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Baekhyun.

"Aku bersalah, makanya aku kesini untuk meminta maaf."

"Huh?"

"Kenapa? Aneh ya putra seorang Direktur ternama meminta maaf terang-terangan pada orang sepertimu?"

"Sialan!" Chanyeol kembali (hampir) menyerang Baekhyun.

"Baiklah, iya aku minta maaf, sungguh."

"Cih.. kau sungguh licik!"

Baekhyun menerawang ruangan itu dengan mata sipitnya.

"Kotor sekali!" ucap Baekhyun.

"Kenapa? Kau tidak pantas di tempat seperti ini? Huh?"

Baekhyun tertawa mendengarnya.

"Responmu terlalu cepat Tuan Park! Hahaha iya, memang seharusnya aku tak berada disini, tapi bagaimana ya? aku ingin membantumu."

"Membantu? Jangan bercanda, moodku sedang tidak bagus."

"Sungguh, kau harus membersihkan tempat ini kan? Biar ku bantu membersihkannya!"

Chanyeol menaikkan kedua alisnya. Ia ragu dengan ucapan Baekhyun, memangnya apa alasan Baekhyun sampai mau membantunya membersihkan tempat ini. Minta maaf? Bisa saja ia memberikan bantuan berupa uang atau menggantikan barang-barang yang rusak tanpa mengotori tangannya yang berjari lentik itu. Pasti ada alasan lain ia berada di sini.

"Boleh?" Baekhyun bertanya.

"Terserah!"

"Terima kasih Tuan Park!"

Chanyeol tersenyum singkat sebelum mengambil lap dan sapu di sudut ruangan.

"Kenapa kau memfitnah kami?" Chanyeol bertanya sambil mengelap meja.

Baekhyun yang sedang menata gelas-gelas jangkung itu menjawab, "Karena aku takut dengan Ayah."

"Maksudmu?"

"Kalau Ayah tahu aku terlibat masalah dengan gangster lagi, dia akan menghukumku."

Chanyeol melempar lap ditangannya. Lalu menatap Baekhyun.

"Kau benar-benar keterlaluan! Kau membuat 30 orang menjadi pengangguran dengan ketakutanmu itu!"

"Aku tahu, aku kan sudah minta maaf dan mencabut tuntutannya kenapa kau masih marah!?"

Chanyeol kembali mengambil lapnya lalu melanjutkan kegiatan mengelap mejanya tanpa menghiraukan ucapan Baekhyun.

"Dasar!" umpat Baekhyun.

Di dalam ruangan yang hanya disinari cahaya temaram, keduanya sibuk membereskan tempat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Baekhyun diam-diam menyelinap masuk ke dalam ruangan kecil di lantai dua, tubuh mungilnya menghilang dibalik bayangan hitam karena lampu disana tidak ada yang menyala. Ia berada di ruang kerja Chanyeol, disana terdapat satu buah komputer yang tersambung dengan kamera CCTV.

Perlahan ia menghidupkan komputer itu, mencari file yang berisikan video yang tertangkap CCTV. Namun sebelum ia berhasil dengan rencana 'mencuri video CCTV'nya itu, Chanyeol sudah berada di ambang pintu, menyandarkan bahunya ke pintu sambil memperhatikan gerak-gerik Baekhyun.

"Aku tahu ada yang tidak beres denganmu, Baekhyun." Suara bassnya terdengar.

Baekhyun terperangah, dengan cepat ia berdiri lalu menatap Chanyeol dengan wajah menegang.

"Mencari apa?" Chanyeol berjalan mendekatinya.

Baekhyun dengan cepat mematikan komputer, lalu membanting monitornya sampai hancur.

"APA YANG KAU LAKUKAN!" bentak Chanyeol.

"Aku akan menggantinya, besok akan ku ganti!"

"Bukan itu yang ku mau! Tapi alasan kenapa kau datang kesini? Kenapa kau merusak komputerku? Dan kenapa kau mau mencabut tuntutan itu!?"

Baekhyun berniat ingin lari dari ruangan itu, namun tangannya sudah digenggam kuat oleh Chanyeol.

"Lepas!"

"Jawab!"

"Aku hanya ingin menghilangkan bukti! Puas!"

"Bukti apa?"

"Video CCTV itu! Video saat aku berkelahi dengan para gangster itu! Aku tahu ayahku tidak sebodoh itu untuk mengabulkan permintaanku agar mencabut tuntutannya! Aku hanya takut ayahku akan memeriksa tempat ini! Hanya itu!"

Chanyeol melepaskan genggamannya pada tangan Baekhyun. Terlihat tanda merah dikulit tangan Baekhyun, ia menggenggamnya terlalu kuat. Chanyeol sedikit menyesal.

"Kenapa kau tidak bilang?"

"Nanti kau akan mengadukannya ke Ayahku!"

Chanyeol terkekeh.

"Kau tertawa?" protes Baekhyun.

"Bukan, menangis!"

"YAK!"

"Semua ketakutanmu itu berbahaya! Kau harus diterapi!"

Baekhyun memajukan bibirnya. Ekspresinya saat berada dalam mood yang buruk sangatlah imut.

"Kau pikir aku kelainan mental?"

"Kurang lebih.."

"YAK!"

"Kau benar-benar berbahaya, kau takut akan sesuatu, dan ketakutanmu itu berimbas pada orang-orang yang tak bersalah. Kau tahu?"

"Aku tahu!"

"Lalu kenapa kau melakukannya?"

"Karena aku terpaksa!"

Suasana yang mulanya dipenuhi cekcok dan pertikaian antara Baekhyun dan Chanyeol, berganti jadi lebih tenang dan keduanya malah saling curhat tentang masalah masing-masing.

"Jadi, kau memang butuh teman curhat, Baek. Kau terus memendam masalahmu, dan saat kau berpikir tidak ada jalan keluar, kau akan melakukan sesuatu yang nekat! Kalau kau punya teman curhat, setidaknya kau bisa mendapat bantuan dan bebanmu akan berkurang."

Baekhyun tersenyum.

"Aku tak tahu kau bisa seasik ini kalau mengobrol."

Chanyeol mengangkat kedua bahunya. "Itu satu dari sekian kelebihanku."

"Kau tahu kelebihan lain yang baru ku temui pada dirimu?"

"Apa?"

"Narsis! Kau terlalu narsis!"

Keduanya terdiam, namun detik selanjutnya mereka tertawa sampai terbahak-bahak.


Hari ini adalah hari pertama Luhan masuk kerja di Perusahaan Golden Fish. Mungkin ini yang disebut takdir? Sebelumnya Sehun dan Luhan menganggap tempat itu tidak lebih dari pasar ikan yang bau amis, tapi karena takdir itulah keduanya malah masuk ke dalam pasar yang berbau amis itu. Tidak bisa menolak atau pun meronta, karena salah satu cara agar mereka bisa menghancurkan Golden Fish adalah dengan menggerogotinya dari dalam.

Luhan masuk ke dalam kantor yang megahnya seperti mall, bedanya tidak ada trolling atau ranjang belanjaan disini. Ia mengenakan baju kemeja putih dan celana hitam, rambutnya ditata rapih ke atas tanpa poni. Tampan? Iya, manis? Sangat. Dirinya bisa menghipnotis wanita bahkan pria yang meliriknya.

Termasuk Sehun.

"Kau jauh lebih rapih." Kurang lebih seperti itu komentar Sehun untuk penampilan Luhan.

"Terima kasih."

"Hemm.. aku sudah memilih tempatmu bekerja, sepertinya akan cocok."

Luhan memperhatikan Sehun yang sedang mengecek lembaran kertas.

"Security."

"Apa? Security?"

"Yup! Bukan kah kau petugas keamanan di Club itu? Kau pasti handal di bidang ini, deal?"

"Kapan aku mulai bekerja?"

"Hari ini."


Club milik Chanyeol mulai beroperasi, berkat bantuan Luhan, kini ia dan 29 orang lainnya bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Club yang Chanyeol dirikan memang tak melanggar aturan hukum dan asusila apa pun, setiap tahunnya ia akan membayar pajak, minuman yang dijual adalah alkohol asli dan aman, Clubnya juga membatasi usia pengunjung yang hanya boleh dimasuki orang dewasa 20 tahun ke atas.

Luhan datang ke Club Chanyeol hanya untuk sekedar minum-minum. Ia duduk di kursi paling pojok dan minim pencahyaan.

"Kau terlihat mengerikan duduk di situ!" Chanyeol datang sambil membawa sebotol wine.

"Makanya pasang lampu juga disini!"

"Pelanggan disini tidak akan suka! Itu kan tempat mereka bercumbu, makanya gelap!"

Luhan melirik sofa yang ia duduki dengan tatapan jijik, lalu ia pindah ke sofa lain.

"Pantas saja aku mencium bau amis.. seperti sperma." Bisik Luhan.

Chanyeol terkekeh.

"Kau ini! Adegan 'itu' tentu tidak dilakukan di luar bodoh! Kan ada kamar khusus!"

Luhan ikut tertawa, lalu ia meminum wine yang Chanyeol suguhkan padanya.

"Bagaimana dengan pekerjaan barumu?"

"Cukup baik." Jawab Luhan.

"Kau bekerja sebagai apa? jangan bilang cleaning service!"

"Tidak, ini bidang yang biasa aku lakoni."

"Apa?"

"Security."

Chanyeol menahan tawanya sebelum akhirnya meledak dan ia terpingkal-pingkal di atas sofa. Luhan menatapnya sebal.

"Yeol?" suara seseorang yang mulai Chanyeol kenal ini membuatnya menghentikan gelak tawanya.

"Siapa?" tanya Luhan.

Sosok itu berjalan mendekati Luhan dan Chanyeol, wajahnya tak terlihat jelas dari jauh karena lampu kerlap-kerlip yang menyoroti wajahnya. Namun semakin dekat, wajah itu semakin jelas.

"Oh, Baek!" sapa Chanyeol.

"Baek? Baek.. Baekhyun!?" Luhan terkejut.

"Yup!"

"Kau disini rupanya, Yeol!"

"Yeol?" Luhan berkata tak percaya dengan apa yang ia dengar.

Chanyeol dan Baekhyun memang sudah baikan, dan tampak tidak pernah ada masalah di antara keduanya. Hanya butuh waktu satu malam untuk membuat mereka sedekat ini. Kemarin sebelum pergi, Baekhyun meminta id Line milik Chanyeol, katanya ia butuh teman curhat. Dan karena itu lah semalaman mereka berdua saling berbalas chat sampai sedekat ini.

"Kalian kenapa bisa.." ucap Luhan masih tak percaya.

"Kita lupakan masa lalu, dan mulai berkenalan lagi!" ucap Baekhyun.

"Cih.. berkenalan!" gumam Luhan.

"Lu, dia sudah minta maaf dan memberikan bantuan untuk Club ini, dia kan sudah mencabut tuntutannya. Jadi sekarang tidak ada masalah diantara kita. Kau mau memaafkannya juga kan?"

"Kau membelanya?"

"Bukan, tapi aku hanya ingin kita baikan. Bagaimana?"

"Terserah! Aku pergi!"

Tanpa membalas permintaan Chanyeol, Luhan pergi keluar Club. Baekhyun menurunkan bibirnya yang sedari tadi tersenyum, berharap Luhan membalas senyumannya itu.

"Maaf, dia punya kepribadian yang buruk kalau moodnya sedang jelek." Chanyeol memberitahu.

"Tidak papa, aku juga kok! Kepribadianku jelek, sangat jelek malah!" ucapnya tersenyum lebar namun menakutkan.

Chanyeol merasa sedang menghadapi dua gadis perawan yang bengis saat ini.


Sehun sedang duduk seorang diri di kantornya. Cahaya matahari mulai redup dan menyisakan cahaya kekuningan yang masuk lewat kaca jendela kantornya. Di mejanya hanya terdapat tumpukan berkas dan satu buah komputer. Teman yang menemaninya 24 jam penuh. Tidak ada foto keluarga seperti yang terdapat pada meja kerja karyawan lain. Bukannya Sehun sudah membuang seluruh anggota keluarganya, melainkan untuk melancarkan aksi menyamarnya selama ini.

Ada satu tempat yang aman untuk menaruh foto keluarganya. Yaitu di dalam dompet, walau ukurannya kecil, setidaknya ia masih bisa melihat wajah sang Ayah dan kakaknya, Luhan.

Sehun membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar foto dari dalam sana. Ada empat wajah yang tercetak di dalam foto itu, wanita cantik yang memakai Hanbok pink adalah ibunya, pria yang mempunyai tatapan hangat di samping wanita itu adalah Ayahnya, dan dua orang pria kecil berpakaian tuxedo adalah dirinya dan Luhan. Mereka adalah keluarga kecil yang bahagia, senyuman di wajah mereka sangatlah tulus dan bahagia.

Sehun menangis.

Bukan hanya kali ini ia menangis saat melihat foto itu dan tenggelam ke dalam kenangan pada foto itu, Sehun selalu rapuh jika mengingat semua anggota keluarganya. Jika boleh, Sehun rela meninggalkan gelar Diretur dan semua uang yang ia miliki saat ini untuk ditukarnya dengan masa-masa indah itu.

"Hyung!" ucapnya terisak.

Hanya di dalam kantor ini, saat sepi, saat ia sendiri, Sehun akan menangis seperti anak kecil.

"Appa... hiks.. eomma... Luhan hyung!"

Di bawah taburan cahaya kuning pada waktu senja itu, Sehun menangis sambil menggenggam foto keluarganya yang mungkin sudah ratusan kali dicetak ulang olehnya.


Hari kedua Luhan bekerja di Perusahaan ikan ini. Sedikit semangat karena ada orang yang mirip Sehun di dalamnya. Ya, berkat akting Sehun yang berpura-pura tidak mengenal Luhan berhasil, kini Luhan ragu jika orang itu adalah Sehun.

Luhan langsung mengambil tempatnya sebagai security disana. Dengan wajah imutnya, banyak karyawan dan tamu perusahaan yang tidak percaya bahwa ia adalah security. Mereka mengira Luhan adalah manekin yang dipajang dengan kostum security.

Mata Luhan tak sengaja melirik Baekhyun yang sedang berjalan memasuki kantor. Ia menunduk agar Baekhyun tak melihatnya. Bisa mati karena malu jika Baekhyun tahu kalau ia kini adalah bawahannya, ditambah kemarin Luhan sudah kurang ajar dengan Baekhyun.

"Mereka mengambil ikan dengan pukat harimau! Aku dan teman-temanku akan bangkrut kalau begini caranya!"

Luhan mendengar teriakan dari seorang pria tua di dalam kantor. Sepertinya pria itu sedang melakukan protes karena tangkapan ikannya berkurang karena perusahaan ini kembali menggunakan pukat harimau untuk menangkap ikan.

"Jika Tuan terus membuat keributan, kami terpaksa menelpon polisi!"

Luhan mendengarnya, kata-kata yang tak asing. Sama seperti yang terjadi pada dirinya 12 tahun silam saat ia memprotes ke kantor ini karena kasus Ayahnya.

Luhan mengepalkan tangannya.

"Security!" petugas wanita memanggilnya.

Luhan harus meredam emosinya jika tidak mau rencananya hancur. Ia pun pergi menghampiri pria tua dan pegawai wanita itu.

"Tuan, lebih baik Anda ikut saya." Ucap Luhan.

"Tidak mau! Mana pimpinan disini! Aku ingin kalian menghentikan penangkapan ikan di pantai utara! Itu tempatku bekerja!"

"Tuan, Anda tidak boleh membuat keributan."

"Jika kalian terus menguras ikan dengan pukat harimau, bagaimana kami akan hidup?" pria tua itu terduduk lemas sambil terisak. "Kami juga punya keluarga untuk dihidupi.. kami sangat membutuhkan ikan-ikan itu! Kalian perusahaan besar kenapa membuat kami semakin sengsara?"

Melihat pemandangan yang memilukan itu membuat lutut Luhan ikut melemas. Ia teringat denga Ayahnya.

Ayah, apa kau menderita sepertinya selama ini?

Luhan menengadah, ia tidak ingin air mata itu jatuh.

"Ada apa?"

Baekhyun lagi-lagi datang disaat seperti ini.

"Tuan Byun, kami sedang berusaha menenangkan Bapak ini." Ucap pegawai itu.

Baekhyun melirik Pria berkumis tipis itu lalu berganti melirik Luhan.

"Eoh? Kau!"

Luhan mendesis karena ia ketahuan.


Baekhyun membawa Luhan ke restoran di dekat kantor itu. Ia ingin menyampaikan beberapa hal kepada Luhan.

"Ku dengar kau temannya Chanyeol?"

"Ya."

"Kalian dekat ya?"

"Tidak."

Baekhyun menatapnya sebal karena Luhan hanya menjawab antara Ya atau Tidak.

"Hey ini bukan kuis! Jawab yang benar!"

"Seperti apa?"

"Ya Tuhan kau menyebalkan sekali!"

"Memang."

"Kenapa kau bisa sampai bekerja disini?"

"Kau tidak suka? Pecat saja."

Baekhyun menghentakkan tangannya ke atas meja karena kesal.

"Jangan membuatku marah."

"Tidak."

"Baekhyun?" suara dingin milik Sehun terdengar.

Bukan Baekhyun saja yang menoleh, Luhan juga.

"Hay Sehun! Eh, Direktur! Kemari! Aku sedang mewawancarai pegawai baru kita."

"Cih.. pegawai baru kita? Memangnya dia siapa?" gumam Luhan mencibir.

"Aku mendengarnya!" ketus Baekhyun.

"Aku tahu." Jawab Luhan santai.

"Issh!"

"Hey! Kalian sedang bertengkar?" tanya Sehun setelah melihat raut keduanya yang masam.

"Dia yang memulai!" elak Baekhyun.

"Ya, aku memulainya."

"Yak!"

"Oke, aku tak mau ikut campur. Kalau begitu, aku pergi!"

"Sehun!" Baekhyun menarik tangannya.

Luhan melirik pautan tangan mereka dengan tatapan dingin.

"Kenapa?" tanya Sehun sembari melepaskan tangan Baekhyun yang bergelayutan padanya.

"Nanti malam ada acara?"

"Eumm... tidak! Kenapa?"

"Pergi ke suatu tempat bersamaku!"

"Kemana?"

"Rahasia!"

"Cih! dia berakting so cute! Aku mual melihatnya!" gumam Luhan.

"Hey! Aku mendengarnya!" Protes Baekhyun, lagi.

"Aku tahu." Jawab Luhan, lagi.

Sehun hanya menghela nafas panjang melihat perdebatan mereka, lagi.


From : Dobby

Hey! Datang ke Club, ada acara kecil malam ini! Tampil yang rapih ya! sisir rambutmu itu rusa jelek!

Luhan tersenyum saat membaca pesan dari Chanyeol.

To : Dobby

Aku akan datang dengan jaket kuning dan rambut ikal!

Send..

Tak lama kemudian, pesan balasan dari Chanyeol sampai.

From : Dobby

Lakukan! jika kau ingin kujadikan rusa panggang!

Luhan melempar ponselnya ke atas tempat tidur sebelum pergi ke kamar mandi. Ia akan datang ke acara yang dimaksud Chanyeol, mencari sedikit hiburan tidak salah kan? Dengan kemeja merah kotak-kotak dan rambut yang disisir rapih berponi, membuat wajah imut Luhan semakin kuat terlihat.

Tak lupa ia menyemprotkan minyak wangi yang susah payah ia beli dengan uang tabungannya, baunya sangat Calm seperti bau musim semi. Setelah dirasa siap, ia pun pergi ke Club Chanyeol dengan segera.


"Malam ini ramai juga." Ucap Luhan yang sudah berada di dalam Club.

"Karena ini malam minggu bodoh!"

Chanyeol menyiapkan minuman dan makanan untuk pestanya malam ini.

"Ada apa sih?"

"Tunggu saja beberapa menit lagi."

Luhan mendengus.

"Nah mereka sampai!" seru Chanyeol melambaikan tangan ke arah pintu masuk dimana Baekhyun dan Sehun sedang berdiri.

"Kau membawaku kesini?" tanya Sehun nampak kesal.

Baekhyun mengaitkan tangannya pada tangan Sehun.

"Memangnya kau pikir kemana?" ucap Baekhyun sambil mengedipkan sebelah matanya. "Ayo masuk!"

Dengan enggan, ia masuk ke dalam Club dengan tangan yang ditarik Baekhyun.

"Hay Chan!" sapa Baekhyun.

"Kemarin Yeol, sekarang Chan! Cih.." lagi-lagi Luhan bergumam tak jelas.

"Yak! Kenapa kau tidak bilang akan mengundang orang ini juga kesini!" kesal Luhan.

"Karena kau tidak bertanya." Ucap Chanyeol dengan cengirannya.

"Senyum lagi! Mau kurobohkan gigimu itu huh!?"

"Ya Tuhan!" Chanyeol segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

"Luhan?"

Luhan menoleh kepada Sehun saat namanya disebut.

"Ommo! Kau mengundangnya juga?" bisik Luhan pada Chanyeol.

"Mereka bintang tamunya." Jawab Chanyeol membuat Luhan ingin segera mencabuti gigi-gigi besarnya itu.

"Terserah! Tapi aku akan pergi!" ketus Luhan.

Saat ia berjalan melewati Sehun, tangannya digenggam. Begitu hangat dan bisa menggetarkan seluruh organ ditubuh Luhan.

"Jangan pergi," bisik Sehun, Luhan menoleh. "ini perilaku yang tidak sopan, kau tahu?" lanjutnya.

Luhan pun berjalan ke samping Chanyeol, ia urungkan niatnya untuk pergi dari Club ini setelah melihat mata Sehun yang dingin menatapnya. Mungkin jika ia pergi, besok nyawanya bisa melayang.

Keempat orang itu duduk di sofa melingkar, ruangan yang cukup besar ini sengaja Chanyeol gunakan untuk pestanya malam ini. Bukan hanya Chanyeol yang mengatur acara malam ini, Baekhyun juga. Mereka hanya ingin membuat hubungan dari ke empat orang itu lebih baik lagi seperti hubungan Baekhyun dan Chanyeol.

"Nah! Karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita mainkan sedikit games!" seru Baekhyun.

Chanyeol yang bersorak seorang diri disana, karena Luhan dan Sehun hanya mendesah karena malas.

"Kalian berdua tidak suka!" Baekhyun menatap kesal Sehun dan Luhan.

Keduanya langsung duduk dengan tegap.

"Tidak!" jawab mereka serentak.

"Hey hey hey! Kalian jadi penurut!" seru Baekhyun.

"Aku hanya ingin semuanya cepat selesai.." gerutu Luhan.

"Aku mendengarnya!"

"Hey! Kau ini anjing atau apa sih! Padahal suaraku sangat pelan! Kenapa masih terdengar!" kesal Luhan.

Baekhyun tak mau kalah, ia berdiri lalu berkacak pingggang. "Kau seperti anjing liar! Bengis!"

"Kau anjing hutan! Galak!"

"Kau anak anjing yang kehujanan!"

"Kau anjing yang dilindas mobil!"

"YAK!"

"YAKK!"

"STOP!"

Chanyeol dan Sehun berteriak, menghentikan perdebatan Luhan dan Baekhyun yang seperti akan berakhir nanti subuh.

"Dia menyebalkan!" Luhan mengambil segelas alkohol lalu meminumnya dalam sekali tenggak.

"Dia menyebalkan! Aku tidak mau baikan dengannya!" Baekhyun juga mengambil satu gelas alkohol lalu meminumnya hingga habis.

Chanyeol dan Sehun memperhatikan keduanya yang tak henti meminum alkohol. Jika seperti ini, keduanya akan cepat mabuk sebelum acara berakhir.

"Luhan! berhenti minumnya!" ucap Chanyeol.

"Kau juga Baekhyun!" Sehun merampas gelas alkohol ditangan Baekhyun.

"Sehunnie jahat! Chanyeolie~ aku mau bersamamu saja, Sehun jahat!"

"Mwo? Sehunnie? Hoekk! Kau menjijikan Byun Baek! Jangan berakting so cute! Aku mual!"

"Kau sendiri jangan so cute di depan Sehun! Dia milikku.. Chanyeolie dan Sehunnie miliku! Kau jangan menyentuh mereka!" ucap Baekhyun dengan setengah kesadarannya yang hilang.

"Milikmu? Hahahaha aku juga punya Sehunnie! Dia lebih tampan daripada Sehunniemu!"

Sehun menatap sendu ke arah Luhan. Ada pribahasa, Kebenaran dibalik alkohol dan itu benar adanya. Saat orang mabuk, mereka akan mengatakan segalanya dengan jujur. Dan Sehun senang Luhan berbicara demikian, ia tahu Sehun yang dimaksud Luhan adalah dirinya.

Namun rasa senang itu harus ia sembunyikan rapat-rapat.

"Mereka benar-benar mabuk." Chanyeol menatap keduanya yang sudah tepar di atas sofa.

"Kita tidak boleh ketinggalan." Ucap Sehun.

"Ne?"

"Mabuk, kita kesini untuk itu kan?"

Sehun lalu mengambil segelas beer dan meminumnya sampai habis.

"Okay! Kita tidak boleh kalah! Cheers!" Chanyeol mengangkat gelas beernya.

"Cheers!" seru Sehun.

Mereka menghabiskan berbotol-botol beer dan alkohol hingga tak tersisa satu orang pun yang tidak mabuk.

Tepat pukul 01.00 pagi, Sehun terbangun di atas sofa. Ia melihat Chanyeol, Baekhyun, dan Luhan yang masih tertidur di atas sofa sama sepertinya.

Tubuh Luhan yang menggeliat hampir membuatnya jatuh ke lantai, beruntung Sehun menghalanginya dengan sisa tenaga yang ia punya.

"Chanyeol!" panggil Sehun.

"Chan!"

Chanyeol terbangun karena Sehun menendang-nendang bokongnya.

"Kenapa?"

"Bantu aku membawa mereka ke kamar!"

"Kau mau kita memperkosa mereka?" ucap Chanyeol ngawur, rupanya ia masih belum sembuh dari mabuknya.

"Dasar! Cepat bangun! Mereka bisa masuk angin dan jatuh ke lantai kalau tidur disini!"

Chanyeol bangun lalu memandangi Baekhyun dan Luhan yang sedang meringkuk di atas sofa. Mereka sesekali menggigil karena udara dingin di dalam Club.

"Kau benar, ayo!" ucap Chanyeol, ia berniat mengangkat tubuh Luhan namun Sehun segera menepis tangannya.

"Kenapa?"

"Kau urus Baekhyun! Biar aku yang membawa Luhan!"

Chanyeol melirik Baekhyun, ia tersenyum.

"Baiklah!"

Mereka membawa Luhan dan Baekhyun ke kamar yang berbeda. Beberapa pelayan bahkan berpikir jika mereka adalah dua pasang kekasih yang akan bercinta malam ini.

Bruk!

Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun ke atas tempat tidur. Melihatnya dalam kondisi seperti ini membuat pria mana pun akan bergairah, walau pun tidak ada payudara dan paha putih terekspos, namun bibir dan kulit putihnya bisa mengalahkan payudara dan paha putih itu.

Chanyeol memperhatikan wajahnya yang seperti bayi tertidur. Tenang dan lucu.

"Aku sudah tidak normal lagi..." ucap Chanyeol.

Ia memang cowok tulen, awalnya, sebelum ia bertemu dengan Baekhyun. Sebenarnya Chanyeol sudah tertarik pada Baekhyun saat pertama kali mereka bertemu di kantor. Namun amarah Chanyeol lah yang terlalu berlebihan hingga menutup semua rasa sukanya pada Baekhyun.

"Aku sepertinya tertarik padamu..." Chanyeol terus bergumam seorang diri.

Ia berniat turun dari atas tempat tidur dan mencari kamar lain sebelum akhirnya Baekhyun terbangun dan menarik tangan Chanyeol.

"Baek? Kau bangun?"

Srett!

Baekhyun menarik Chanyeol hingga ia terjatuh di atas tubuhnya, untung tangan Chanyeol berhasil menyangga tubuhnya sendiri agar tak menindih tubuh kecil Baekhyun. Lalu Baekhyun melingkarkan kedua tangannya dileher Chanyeol.

"Kalau begitu, buat aku tertarik padamu!" bisik Baekhyun.

"Baek? Kau masih mabuk?"

Chu~

Tanpa aba-aba apa pun, Baekhyun langsung menyambar bibir Chanyeol dengan ciuman ganasnya. Ia melumat bibir dan lidah Chanyeol. Chanyeol sendiri masih diam, membiarkan otaknya terebih dahulu mencerna apa yang sedang terjadi detik ini.

Baekhyun menghentikan ciumannya.

"Jangan mengabaikanku, Chan~" rengek Baekhyun.

"Y-ya?"

"Issh! Kau tidak bisa berciuman ya? payah!"

Chanyeol meniup poninya, merasa direndahkan, Chanyeol pun menarik tengkuk Baekhyun lalu meraup bibirnya. Menciumnya dengan lebih panas.

"Mmmppth! Haahh.."

Baekhyun kehabisan nafas setelah beberapa menit mulutnya bermain dengan mulut Chanyeol.

"See? aku bahkan jauh lebih handal darimu." Ucap Chanyeol.

"Terserah!"

Keduanya tersenyum, lalu kembali melanjutkan kegiatan panas mereka.

Tepat di kamar sebelah, Sehun sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi wajah damai Luhan yang tertidur.

"Lelap sekali tidurmu, hyung.." gumamnya.

Sehun berjalan ke arah jendela, membuka gorden kamar itu untuk melihat pemandangan yang mungkin bisa menghiburnya. Namun belum juga ia mendapatkan hiburan itu, suara dari teriakan Luhan membuatnya langsung berlari menghampiri pria bermata rusa itu.

"Luhan?"

"Appa! Tolong aku! Sehunna! Aku tidak bisa berenang!" rupanya Luhan mengigau.

Sehun terdiam dan wajahnya menjadi pucat setelah mendengar ucapan Luhan. Pasti Luhan sedang memimpikan masa lalu mereka yang kelam itu, masa dimana Sehun gagal menolong Luhan dan membuatnya dibuang ke lautan. Keringat dingin mulai bercucuran di tubuh Luhan.

"Sehunna! Aku takut hiks.."

Air mata terlihat meleleh dari sudut matanya yang terpejam.

"Hyung..." lirih Sehun, ia ikut menangis dalam diam "Maafkan aku.. hiks.."

"Appa! Eomma! Hiks... Sehunna! Sehun! Oh Sehun!"

Tangis Sehun semakin menjadi saat namanya Luhan sebut berulang kali. Ia sadar, orang yang selama ini Luhan butuhkan hanyalah dirinya. Sehun merasa sangat jahat dan menyalahkan dirinya yang dulu tak mau mencari keadaan Luhan karena menganggapnya telah mati. Sehun menyesal, sangat menyesal.

Sehun naik ke atas tempat tidur lalu ikut berbaring di samping Luhan, ia memegang pipi Luhan lalu mengusap air matanya. Sehun merengkuh Luhan ke dalam pelukannya, lalu ia menangis di ceruk leher Luhan.

"Aku disini, hyung.." lirihnya.

"Jangan menangis lagi, sekarang aku ada di sampingmu."

Luhan mulai tenang, dapat dirasakan dari nafasnya yang mulai teratur. Ia kembali tertidur dengan tenang di dalam pelukan Sehun, mimpi buruknya mungkin sudah berganti dengan mimpi yang lebih indah.

Sehun sendiri mulai terlelap dengan kedua tangan yang masih erat memeluk pinggang Luhan. Kedua anak manusia yang sebenarnya rapuh ini saling menghangatkan, menyuntikan semangat, dan memberi harapan. Mereka hanya belum sadar, bahwa mereka benar-benar membutuhkan satu sama lain.

Mereka adalah potongan puzzle yang saling melengkapi.

.

.

.

TBC

Wesssss Fast update? Buat gue ini udah se-fast yang gue bisa haghag :v oke, mohon reviewnya ^^ karena yang bikin gue semangat ngelanjutin ff ini hanyalah kalian :"D

Acak-acakan ya? jelasss style gue! TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG MAU MELUANGKAN WAKTU UNTUK MEMBACA FF INI! SIAPA PUN KALIAN... AKU SAYANG KALIAN! Wkwk :3