Futago
A story about Minseok, and Sehun
By Cekerjongin2
Standard disclaimer applied
Warning: Yaoi, alur maju mundur, abal, OOC, typo(s)
Note: {{…tanda itu artinya flashback …}}artinya flashback end. Di cerita ini seluruh cast sebaya
Happy reading!
.
.
.
Xiumin meletakan benda persegi panjang itu di telinga kanannya. Menunggu suara wanita menyapanya.
"Hallo, nak Xiumin? Ada perlu apa?" akhirnya wanita itu mengangkat panggilannya. Xiumin sedikit ragu untuk mengatakan hal ini.
"Nyonya Oh, bolehkah aku mengundurkan diri? Maaf, anakmu benar-benar membuatku takut."
Belum ada jawaban selama beberapa sekon. Xiumin menggigit bibir bawahnya.
"Kumohon nak Xiumin… bantu aku. Aku akan memberimu 5% sahamku jika kau bertahan."
Sekarang Xiumin terdiam. Ia memainkan kuku-kukunya.
"Apa kau tidak kasihan dengan anakku? Tolong nak Xiumin… bantulah keluarga kami. Apa pun yang kau minta akan kuberi."
Tidak ada pilihan lain. Xiumin membutuhkan uang dan Keluarga Oh membutuhkannya.
"Baik, aku akan berusaha sekuat yang aku bisa," Xiumin mendengar helaan napas lega di seberang sana.
"Terima kasih nak Xiumin… terima kasih," kedua sudut bibirnya terangkat.
"Ah jangan berterima kasih, nyonya. Aku kan dibayar olehmu."
"Kau benar-benar lelaki yang baik nak Xiumin. Hubungi aku jika kau ada perlu," pamitnya sebelum Xiumin mendengar suara pip.
.
.
.
Xiumin menatap buku berwarna coklat yang ia curi dari rumah Sehun beberapa hari yang lalu. Buku itu adalah buku diary milik Sehun. Oke, mungkin ini terkesan kurang ajar dan tidak sopan -faktanya ia sudah meneriaki majikannya di hari pertama dia bekerja.
Tapi, tindakan Xiumin ini didorong oleh rasa penasaran yang begitu besar. Lagipula, tidak mungkin ia menanyakan ini pada Sehun yang sinting itu. Dan lagi, ia tidak mau terlalu merepotkan nyonya Oh yang sibuk mengurus perusahaan. Jadi, menurut Xiumin, inilah satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang terjadi dari sudut pandang Sehun.
Xiumin membetulkan letak bantalnya. Mencari posisi yang nyaman untuk membaca buku ini. Laki-laki berbaju navy itu pun membuka buku itu setelah Xiumin menemukan posisi nyaman. Membaca diary itu dengan posisi tengkurap.
10th November 2012.
Lebih dari 2 tahun aku dan Minseok menjalin hubungan special. Dan hari ini aku berhasil mewujudkan salah satu mimpiku. Aku, Oh Sehun. Berhasil menyematkan sebuah cincin emas di jari manis Anh Minseok. Kami bertunangan hari ini. Hari ini dia cantik seperti biasanya. Aku mencintaimu. Semoga kita dapat bersama hingga akhir hayat kita.
Setelah selesai membaca halaman satu, Minseok pun menggerakan tangganya ke halaman ke dua.
12th November 2012.
Hari ini aku berkunjung di rumah kami. Minseok benar-benar arsitek yang hebat. Kami sangat nyaman berada di sana. Halaman yang luas dengan bunga cantik yang ditanam oleh Minseok, danau buatan, letaknya yang cukup jauh dari keramaian kota membuat rumah ini begitu sejuk dan menenangkan. Setelah menikah aku akan tinggal di sini dengan Minseok.
{{…
Sebuah mobil mewah berwarna putih telah terparkir rapi di halaman rumah ini. Dua orang penumpang turun dengan pandangan terpesona melihat tempat yang mereka kunjungi. Satu bertubuh kurus dan tinggi, dan sisanya bertubuh pendek dan berisi.
"Karyamu tidak diragukan, Minseok-ah!" puji penumpang bertubuh kurus. Sedangkan Minseok atau penumpang bertubuh gembul hanya tersenyum sambil berjalan mendekati pintu berbahan kaca.
"Aku yakin akan betah di sini," sekali lagi Minseok hanya mampu tersenyum mendengar pujian dari pemuda itu.
"Di mana pun aku tinggal, asal itu denganmu aku akan betah Sehun-ah," pemuda yang bernama Sehun terkekeh mendengar gombalan dari Minseok.
"Kau ada-ada saja," komentarnya sambil mengacak-acak rambut pada kepala Minseok dan membuat sang pemilik rambut ber-pout ria.
"Jika kau melihat danau buatannya, kau pasti terkesima!"
"Oh ya?" goda Sehun dan langsung mendapat pukulan kecil di pundaknya.
"Ish! Kau ini!" Sehun terkekeh. Tangannya yang kurus menggenggam pergelangan Minseok.
"Ayo tunjukan danau buatannya dan lihat wajahku yang terkesima."
Mereka pun berjalan menuju danau buatan yang berada di sisi tenggara rumah mereka. Dan memang benar Sehun terkesima dengan danau buatan itu. Begitu sejuk, asri dan nyata.
"So lucky to have you, Minseok-ah," ungkap lelaki itu sebelum menghadiahi Minseok sebuah kecupan di pipi.
…}}
Xiumin membalik lembar demi lebar buku diary itu mencari sesuatu yang penting dalam hidup Sehun. Karena dari tadi ia hanya menemukan curhatan-curhatan tidak penting tentang bagaimana bahagianya Sehun dengan Minseok.
Dasar pasangan yang sedang kasmaran!
Xiumin berhenti di sebuah halaman dengan tulisan tangan yang berbeda. Bukan berbeda penulisnya, Xiumin yakin yang menulis diary ini masih orang yang sama. Namun, tulisan tangan pada halaman ini lebih jelek dan tidak rapi dari halaman-halaman sebelumnya.
.
14-02-2013
Tadi pagi aku bertemu denganmu di rumah kita. Di siang hari aku juga masih bermain dengamu di halaman rumah kita bersama Jongin dan Baekhyun. Karena hari ini kita akan melakukan foto pre-wedd.
Tapi, semua itu berubah ketika suara ambulance memasuki gendang telingaku. Aku datang ke rumahmu, yang kulihat adalah keluarga dan teman-temanmu menangis. Aku tidak menemukanmu di setiap sudut rumah. Aku hanya menemukan fotomu yang besar dengan bunga-bunga cantik menghiasinya.
Saat aku menanyakan di mana keberadaanmu, mereka menyuruhku untuk bersabar karena kau telah meninggal. Padahal aku ingin memberikan sekotak coklat untukmu. Lelucon macam apa ini, Anh Minseok? Aku tidak suka! Aku lebih suka merayakan hari valentine tanpa hal seperti ini. Sekarang aku ketakutan. Aku sangat takut, aku takut kehilanganmu, sayang. Tolong datang dan perintahkan mereka untuk menghentikan drama ini.
{{…
Sehun berjalan ke sana ke mari di antara orang-orang berbaju hitam yang datang ke rumah Minseok. Kau bisa mengatainya gila karena dia memang seperti orang gila, berjalan tak tau arah dengan sekotak coklat di tangannya.
"ANH SOHEE! SOHEE NOONA!" teriak Sehun ketika ia melihat gadis berwajah mirip dengan Minseok yang sedang menangis sama seperti yang lainnya. Gadis bernama Sohee itu menoleh ke arah Sehun yang berjalan mendekatinya.
"Ada apa Sehun-ah?" tanyanya dengan suara serak saat Sehun telah berdiri di sampingnya.
"Kenapa noona menangis? Ada acara apa ini? Di mana Minseok?" Sohee tersenyum sedih pada Sehun.
"Kau harus sabar, Sehun-ah. Minseok telah meninggal. Dia tenggelam di danau, bukannya kau tahu itu?" Sehun tertawa mendengar penjelasan dari Sohee. Sehun tertawa seperti orang gila.
"Kau pasti sangat terpukul, Sehun-ah."
"Leluconmu sungguh menggelitik, noona! Ayo katakan dimana Minseokie! Coklat ini akan leleh jika kalian terus menerus menyembunyikannya dariku."
"Sehun… kau harus mencari pengganti Minseok. Dia telah tiada…," raut wajah Sehun berubah menjadi marah.
"Hentikan semua ini noona! Jangan bermain-main denganku! Minseok baik-baik saja!" teriaknya yang membuat banyak pasang mata memperhatikannya.
"Bubar! Pergi kalian! Kenapa kalian semua menangis huh?! Dan di mana Minseok-ku?" Sehun membentak sekelompok orang itu seperti orang gila. Sohee memegang tangannya, mencoba untuk meredam amarah Sehun.
"Sehun tenanglah! Jangan seperti ini, kau harus ikhlas…."
"Tenang noona bilang? Bagaimana aku bisa tenang jika kau bilang Minseok sudah meninggal? Kau gila?" Sehun mendengus sebal.
"Cepat katakan di mana Minseok sebelum aku merusak acara ini!" titahnya yang cenderung mengancam Sohee.
"Dia ada di makam. Dia sudah tidur lelap di sana, Sehun-ah," Sehun menatap tajam Sohee setelah mendengar jawaban itu. Itu bukan jawaban yang ia mau. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum miris.
…}}
Xiumin terdiam beberapa detik untuk mencerna kalimat yang tertulis pada buku itu. Laki-laki berambut hitam itu menghela nafas setelah ia tahu 'jalan cerita' kehidupan Sehun.
Ia tahu betapa sedihnya perasaan Sehun. Tapi, seharusnya Sehun harus merelakan Minseok karena itu memang takdirnya. Matanya merah karena menahan air mata. Ia kasihan dengan pemuda bernama Sehun itu.
Ia harus menolong keluarga Oh. Ia harus menyadarkan Oh Sehun bahwa tunangannya telah meninggal. Apa pun resikonya Xiumin harus melakukan itu. Tekadnya sudah bulat. Bukan karena uang atau pamrih. Ini semua karena rasa simpati pada kehidupan Oh Sehun.
Cukup sampai di sini membaca diary Sehun. Mungkin Xiumin bisa melanjutkannya besok.
Xiumin terduduk. Hendak menutup buku itu lalu menyimpannya di laci. Tapi, beberapa lembar foto terjatuh dari diary itu dan menginterupsi kehendaknya. Dipungutnya lembaran kenangan itu. Kemudian melihat gambar yang tercetak di foto itu.
Foto pertama, Sehun dan… seorang dengan wajah mirip dengan Xiumin.
"Bersama Minseok di Jepang," gumam Xiumin membaca deretan huruf di bawah foto itu. Ya, dapat dilihat warna warni pohon sakura menjadi back ground foto itu.
Xiumin terdiam beberapa detik. Sekarang ia tahu kenapa Sehun mengira ia adalah tunangannya. Itu terjadi karena wajahnya dan sang tunangan sangatlah mirip. Bahkan nama aslinya dengan tunangan Sehun juga sama. Hanya marga saja yang berbeda. Ia adalah Kim Minseok sedangkan tunangan Sehun adalah Anh Minseok.
Apa ini kebetulan? Kenapa begitu mirip?
Xiumin tidak ingin memusingkan masalah kenapa ia mirip dengan tunangan Sehun. Ia lebih memilih untuk memikirkan ide yang baru saja muncul dari otaknya.
Tapi, ia membutuhkan bantuan seseorang. Xiumin menutup matanya. Mencoba mencari nama yang berhubungan dengan Sehun selain Oh Sena -majikannya- dan Anh Minseok.
Xiumin menghela napas. Dan dapat!
Jongin dan Baekhyun. Sepertinya mereka teman dekat Sehun.
Dengan cepat ia meraih ponselnya yang berada di meja nakas. Kemudian meminta nomer Jongin atau Baekhyun pada nyonya Oh.
.
.
.
Pukul 12 siang. Menurut Xiumin ini adalah waktu yang tepat untuk menelpon Jongin, teman Sehun. Ia duduk di meja makan rumahnya dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Halo? Siapa?" suara lelaki menyapanya di seberang sana.
"Halo, selamat siang. Aku adalah pegawai nyonya Oh dan aku butuh bantuanmu. Namaku Xiumin."
"Oh? Bantuan? Bantuan apa?"
"Tentang Oh Sehun. Bisakah kau membantuku?"
"Tentu saja aku bisa. Apa yang harus kulakukan?"
"Tolong ceritakan tentang masa lalunya bersama Minseok dan danau."
"Hmm… oke. Tapi, baterai ponselku lemah. Bagaimana jika kita bertemu di café x depan kantor polisi gangnam jam 4 sore?"
"Baik. Terima kasih. Mohon bantuannya Jongin-ssi."
"Apa ini ada hubungannya dengan kondisi kejiwaan Sehun? Sebagai teman kecilnya aku sangat prihatin. Ck sial! Sampai nanti, Xium-"
Pip. Sepertinya ponsel milik Jongin telah kehabisan daya.
.
.
.
Mengenakan baju putih bergaris hitam dan sebuah coat berwarna hitam pula. Xiumin turun dari bus yang ia naiki dan berjalan menemui Jongin di café x.
Jam tangannya sudah menujukan jam 4 lebih. Sepertinya Jongin telah menunggunya di café. Xiumin menambah kecepatan kakinya kemudian mendorong pintu kaca sehingga lonceng di belakang pintu itu berbunyi.
Di dalam sana hanya ada 2 orang lelaki. Dan pasti itu Jongin dan Baekhyun. Xiumin telah mengetahui wajahnya dari foto yang tersimpan di buku diary Sehun. Xiumin berjalan mendekati meja mereka.
"Annyeonghaseyo. Maaf, apa kalian telah menunggu lama?"
"MINSEOK!" teriak keduanya. Xiumin sudah menduga reaksi mereka akan seperti ini. Ia duduk dengan mereka.
"Aku Xiumin," mereka melongo.
"Yang benar?" kata lelaki bermata sipit di depannya. Sepertinya ia adalah Baekhyun. Karena suaranya tidak sama dengan suara lelaki yang ditelpon Xiumin tadi siang.
"Ya, aku memang mirip tunangan Sehun yang telah meninggal. Mungkin itu latar belakang nyonya Oh mempekerjakanku," Baekhyun menganggukkan kepalanya paham.
"Jadi, Sehun mengira kau adalah Minseok?" tanya Jongin -lelaki berkulit tan yang duduk di samping Baekhyun. Anggukan kepala Xiumin adalah jawaban.
"Lalu apa yang harus kulakukan untukmu, Xiumin-ssi?"
"Tolong ceritakan kronologi kematian Anh Minseok. Ini penting untuk rencanaku. Aku juga butuh bantuan kalian untuk menjalankan rencana ini."
"Baik. Aku kasihan dengan tante Sena. Kami akan membantu sekuat tenaga kami," Baekhyun tersenyum pada Xiumin.
.
.
{{…
Hari itu adalah bulan Pebruari. Sehun, dan Minseok berencana untuk melakukan pengambilan foto pre wedding di atas danau buatan. Ada Jongin dan Baekhyun di sana. Karena Jongin adalah fotografer dan Baekhyun adalah stylish mereka.
Sebelum pengambilan foto mereka berdua melakukan latihan terlebih dahulu. hal itu dilakukan karena mereka meminta di foto di atas perahu kayu berukuran kecil. Dan Jongin pikir itu susah jika dilakukan sambil berdiri. Mereka harus melatih keseimbangan mereka.
"Sehun-ah," panggilnya dan membuat pemuda berkemeja denim dengan t-shirt berwarna putih di dalamnya menatap Minseok.
"Ya sayang?"
"Sebenarnya aku fobia air," Sehun membenturkan kedua alisnya. Air wajahnya berubah menjadi panik.
"Ck, lalu kenapa kau meminta foto pre-wedd di atas danau?" Minseok tersenyum kemudian mengelus pipi Sehun dengan tangan kanannya.
"Jangan khawatir… aku pasti bisa melawan rasa takutku," Sehun hanya menghela napas dan tetap memandangnya.
"Pasti kau tidak bisa berenang kan?" Minseok terkekeh lalu mengangguki pertanyaan dari Sehun.
"Kalau begitu pakailah pelampung! Aku takut kau tenggelam…."
"Kau mau mempermalukanku di depan Jongin dan Baekhyun? Tidak mau!" laki-laki dengan sweater oat meal itu mem-pout bibirnya imut.
"Lagipula ada kau di sini… jika aku tenggelam kau pasti menolongku, iya kan?" mereka berdua tersenyum.
"Tentu, apa pun akan kulakukan untuk melindungimu," Sehun menempelkan hidung mereka.
"Bahkan jika itu mengorbankan nyawaku sendiri," Minseok terkekeh geli.
"Chessy!" tangannya mendorong Sehun menjauh dengan lembut.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," sanggah Sehun cepat. Minseok merebut beanie hat warna hitam yang Sehun pakai dan memasangnya di kepalanya.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," cicitnya menirukan Sehun seraya menjulurka lidahnya. Sehun mencubit pipi chubby-nya karena gemas.
"SEHUN! KE SINI SEBENTAR!" mereka mendengar teriakan Baekhyun dari pinggir danau. Sehun memutar bola matanya.
"Mengganggu," Minseok terkekeh mendengar keluhan Sehun.
"ADA APA?" teriaknya menyahuti Baekhyun.
"COBALAH BAJUMU!" Sehun mendengus.
"Kenapa tidak tadi saja?" Minseok tersenyum dan mendayung perahu itu hingga berada ke pinggir danau.
"Sudah sana! Temui Baekhyun! Aku di sini saja," perintahnya sambil mendorong bahu Sehun pelan.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu?" Sehun menatap Minseok khawatir. Minseok membenarkan letak beani hat hasil rampasannya.
"Tenang saja! Jangan negative thinking!" Minseok melempar wink pada Sehun.
"Cepat temui Baekhyun! Kau tahu kan dia benci menunggu?"
"Baiklah kalau begitu," Sehun menghela napas lalu beranjak dari perahu kayu tersebut.
"Hati-hati!" serunya setelah jarak mereka terhitung 10 meter.
.
.
.
Satu jam setelah Baekhyun memanggilnya. Sekarang Baekhyun menyuruhnya kembali ke danau untuk memanggil Minseok.
"Dasar tukang suruh!" omelnya sambil melangkah menuju danau buatan di belakang rumah.
Sehun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru danau. Tapi ia tidak menemukan Minseok. Dengan cepat ia mengambil benda persegi dari sakunya lalu menelpon tunangannya itu.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif," suara operator perempuan memberitahu Sehun. Sehun mendesah kemudian menelpon Baekhyun.
"Halo?"
"Minseok tidak ada di danau. Apa dia ada di rumah?"
"Benarkah? Biar kutanya Jongin…," Sehun memilih untuk duduk di kursi taman berwarna putih dan memperhatikan danau itu lagi.
"Jongin bilang tidak ada siapa-siapa selain kami di rumahmu. Coba kau telpon!"
"Sudah, Baekhyun-ah!"
"Lalu di mana?"
"Terakhir tadi di danau…," Sehun memutar bola matanya.
"Ada berapa perahu yang ada di pinggir danau?" Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju perahu-perahu itu di letakan.
"Ada dua dari tiga," lelaki jangkung itu berjongkok seraya melihat danau itu lagi.
"Berarti dia sedang ada di danau. Menaiki perahu yang tidak ada itu."
"Tapi, tidak ada, Byun," jelasnya dengan nada malas. Lelaki berkulit putih itu berdiri dan memeriksa danau itu sekali lagi. Tidak ada siapa-siapa di tengah danau.
"Hanya ada sebuah perahu…," gumamnya dengan mata terbelalak.
Sebenarnya aku fobia air, penjelasan Minseok terdengar lagi. Jantung Sehun bekerja dua kali lipat. Perasaan aneh menyerbu hatinya.
"Baek…," Sehun menaiki perahu yang berada di sana.
"Ya?"
"Panggilkan ambulance. Aku akan mengecek ke tengah danau," pamitnya sebelum menyentuh warna merah dan menyimpan ponsel layar sentuhnya di saku.
Dengan keringat dingin Sehun mendayung perahu yang ia naiki menuju tengah danau. Tempat perahu yang dinaiki oleh Minseok mengapung.
Hanya butuh waktu 5 menit untuk ke sana. Napasnya tercekat ketika ia menemukan perahu itu tanpa seorang penumpang.
Tidak ada Minseok. Matanya terbelalak lagi.
"Tidak mungkin…," Sehun mengedarkan pandangannya. Yang ia temukan hanyalah air dan hijaunya pepohonan.
"MINSEOK! KAU DI MANA?" teriaknya seraya bangun dari duduknya.
"MINSEOK! MINSEOK! MINSEOK!" Sehun panik dan kehilangan keseimbangan.
Byur.
Ia tercebur di danau itu. Merasakan dinginnya air danau di musim dingin peralihan ke musim semi.
Sebuah benda berwarna hitam mengambang mendekati Sehun yang sedang berenang. Itu beanie hat miliknya yang dirampas oleh Minseok tadi. Pikiran buruk mengampirinya lagi.
Sehun mengambil beani itu, melemparnya ke perahu dan menyelam untuk melihat apa yang ada di bawah sana. Bersyukur air danau ini bening.
Rasanya seperti mimpi buruk. Sehun melihat tunangannya sedang tersangkut di akar pohon yang ada di bawah danau dengan mata dan kepalanya sendiri.
Ia berenang mendekati pujaan hatinya yang malang itu. Sehun pandangi seongok daging berkulit pucat itu selama bermenit menit. Seakan ia bisa bernapas di dalam air.
Minseok…. Panggilnya dalam hati. Kemudian ia memegang pipi chubby itu. Tidak lama, karena seseorang menariknya menuju permukaan air.
Sehun tidak dapat memberontak karena ia terlalu lemas. Pemuda kurus itu di bopong ke darat. Dan diletakan dalam posisi duduk di bawah pohon mangga. Tak lupa Jongin yang membalutnya handuk dan Baekhyun yang memberinya teh hangat.
Sebelum pemuda kurus itu menutup mata ia mendengar suara sirine ambulance dan seorang lelaki berbaju dokter mengangkat tunangannya dari dalam air. Membawanya masuk ke dalam mobil berisiki itu.
Sungguh, dalam hati Sehun ia ingin berlari dan masuk ke dalam mobil berwarna putih itu. Tapi, apalah daya badannya begitu lemah, dingin dan pandangannya menggelap.
…}}
.
Xiumin tercengang.
"Tragis sekali kan?" tanya Baekhyun dengan suara parau. Lelaki mungil itu menangis karena mengingat tragedi itu. Jongin memberinya sebuah tisu.
"Sangat," Xiumin menangis tak lama kemudian. Tapi, ia menghapusnya dengan punggung tangannya.
"Aku memaklumi jika Sehun terpukul. Tapi, aku ikut prihatin jika sampai saat ini ia masih tidak dapat menerima kematian Minseok," Jongin mengangkat cangkir kopinya lalu menyesap cairan berkafein itu.
"Lalu apa rencanamu?" tanya lelaki berkulit tan itu dan membuat Xiumin teringat akan rencananya.
"Dengan wajah yang mirip dengan tunangannya aku ingin…," Xiumin mengambil napas dalam-dalam. "Maaf, tapi ini demi kebaikan Sehun," Xiumin mengigit bibir bawahnya. Sedikit ragu dengan apa yang ingin ia utarakan.
Baekhyun menggenggam tangannya yang dingin. Lalu lelaki cantik itu tersenyum memamerkan eye smile-nya.
"Tidak apa-apa Xiumin-ah. Jangan takut. Kami tidak akan marah. Kami tahu niatmu ini baik. Niatmu untuk membantu teman kami supaya sadar."
Xiumin termotivasi setelah mendengar apa yang Baekhyun ucapkan. Xiumin ikut tersenyum.
"Aku ingin berpura-pura menjadi Minseok. Dan menasehatinya."
Jongin meletakkan cangkirnya.
"Not bad," pujinya sambil mengangguk-angguk.
"Kami akan membantumu, tenang saja. Janji!" tambah Baekhyun.
Xiumin jadi berpikir bahwa Sehun dan Minseok beruntung memiliki teman sebaik mereka.
.
.
.
Keesokan harinya di jam yang sama. Jam 4 sore. Baekhyun sudah memberi Xiumin pakaian yang sering Minseok pakai dan membawa lelaki berpipi gembul itu ke rumah Sehun.
"Kau naiklah perahu itu," Baekhyun menunjuk perahu berwarna putih kusam yang berada di pinggir danau.
"Kami akan 'mengganggu' Sehun supaya ia melihat ke arah danau," Xiumin mengangguk dan memberi oke sign.
Kemudian mereka bertiga berjalan berlain arah. Xiumin menuju danau. Sedangkan, Jongin dan Baekhyun memasuki kediaman Sehun.
"Sehun! Sehun!" teriak mereka dengan nada senang. Tanpa dibukakan pintu mereka masuk ke rumah Sehun.
Sang pemilik rumah sedang duduk di ruang tamu saat itu. Mereka mendapatkan tatapan datar saat itu juga.
"Apa kabar, Sehun-ah?" Baekhyun dan Jongin duduk di dekat Sehun.
"Kau terlihat sangat kurus," lanjut Baekhyun.
"Hey! Bagaimana jika kau memasakkan Sehun sesuatu!" perlu diketahui bahwa kalian bisa melihat danau dari ruang makan yang tidak jauh dari dapur.
"Ide bagus!"
Dan mereka pun menarik Sehun dengan paksa menuju ruang makan. Sehun sendiri hanya pasrah diperlakukan seperti itu.
.
.
Di tempat lain. Xiumin telah siap melakukan aktingnya di atas perahu. Ia mendayung perahu itu tidak jauh dari tepian. Dengan tujuan supaya Sehun menyadari keberadaannya.
Lelaki chubby itu mengedarkan pandangannya. Melihat pemandangan yang ada di sekitar danau itu.
Sehun sudah duduk di meja makan. Dia menatap datar Jongin dan Baekhyun.
"Kau mau spagetti, Sehun-ah?"
"Hm… jangan lama-lama," Sehun menjawab pertanyaan Baekhyun dengan malas. Dengan semangat Baekhyun berjalan menuju dapur.
Jongin sendiri duduk di depan Sehun. Membuat lelaki kurus itu menopang dagunya dan merlihat ke arah lain. Ke arah jendela… ke arah danau.
Betapa terkejutnya Sehun ketika ia melihat sesosok lelaki gembul di danau itu. Sosok itu memakai sweater oat meal dan beanie hat berwarna hitam! Beani hat milik Sehun. Bahkan Sehun lupa di mana beanie itu berada.
"MINSEOK!" seru Sehun seraya berdiri dari duduknya dan mulai berlari keluar dari rumahnya. Membawa langkah kakinya menuju danau. Baekhyun dan Jongin mengikutinya di belakang. Mereka berdua tersenyum karena rencana mereka berhasil.
Sehun telah berada di pinggir danau. Pandangannya terfokus pada Xiumin yang sedang mendayung perahu.
"Minseok! Cepat menepi! Kau bisa tenggelam!" Xiumin menoleh dan tersenyum manis.
"CEPAT! JANGAN BUANG-BUANG WAKTU!" teriaknya sambil berjalan hendak memasuki danau. Melihat keadaan ini Jongin dan Baekhyun menarik Sehun supaya tidak memasuki danau itu.
"Lepaskan! Aku ingin ke Minseok!" Sehun memberontak keras membuat mereka berdua kualahan.
"Tunggu sebentar! Minseok pasti ke sini!" Jongin memberi tahu.
Tak lama kemudian, Xiumin menepikan perahunya dan berjalan mendekati Sehun.
"Sehun-ah…," panggilnya lembut. Baekhyun dan Jongin melepaskan pegangan tangan mereka. Membiarkan Sehun mendekati Xiumin.
Sehun setengah berlari mendekatinya. Memeluknya dengan erat saat lelaki itu sudah ada di depannya.
"Aku tahu kau pasti kembali," ujar Sehun seraya mengecupi puncak kepala Xiumin.
"Aku kembali sebentar…," Xiumin melepaskan pelukan mereka dan menatap Sehun.
"Sebentar?" Xiumin mengangguk.
"Ini bukan tempatku Sehun. Aku sudah bahagia di surga… kau jangan menungguku, oke? Carilah pasangan lain," jelasnya sambil membelai pipi Sehun. Sehun terdiam beberapa sekon.
"Ini yang kau minta? Jadi selama ini aku salah?" Xiumin tersenyum.
"Iya, kau bisa kan mengabulkan permintaanku?" Sehun mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu kabulkan permintaanku juga," Xiumin memegangi kedua pipi Sehun. Menatap mata sipit itu dengan sayang.
"Apa itu?"
"Biarkan aku menciummu… untuk yang terakhir kali. Kumohon…," Xiumin menutupi rasa kagetnya dan mengangguk ragu.
Sehun memejamkan matanya kemudian mulai mendekatkan wajahnya ke wajah bulat Xiumin. Pipi Xiumin memerah dan entah kenapa ia reflek menjauhi Sehun.
Sehun merasakan itu. Ia membuka matanya dan menatap Xiumin tajam. Tangannya yang berada pinggang Xiumin meremas daging di sekitar sana dengan kasar. Xiumin meringis kesakitan.
"Kau…," desisnya yang membuat Xiumin menciut dan ketakutan. Xiumin menggigit bibir bawahnya dan merutuki langkah bodohnya.
Apa yang harus kulakukan?
.
.
.
Bersambung….
.
.
A/N:
Apa chapter ini udah cukup ngejawab pertanyaan kalian? ._.
Enggak ya? Mungkin next chapter ._. tapi ini udah cukup jelas kan? ._.
Maaf update-nya lama /.\ janji deh kalo reviewnya bagus bakal update minggu depan /.\
Satu review kalian sangat berarti bagi kelangsungan ff ini/?
Thanks, don't forget to leave your review! ^0^
Thanks to:
Frozenxius ; RiiMagnae ; Initial D 0326; hyona21 ; AQuariisBlue ; ririnssi ; Yuuhee ; xiuminlover ; ; xiuuu ; xhlm ; XiuMinSeok ; luhanhan8 ; RevitaKuzo ; kriswu393 ; NSYoonji ; Blacknancho ; FayFier ; HuangMinseok ; ; NathalieVernanda ; mimseok ; shiningxiu ; twentae ; VeAmilla
Review please?
