Last chapter
PLAKK!
Manik emerald itu menatap Kirio dengan tatapan kesal.
"Kau jahat!" Seru wanita bermanik emerald itu. Iapun melepaskan cincin yang melingkar manis di jari manisnya.
"Mulai saat ini, kita tak punya hubungan apa-apa lagi!" Ucap Karin.
"A-apa maksudmu, hime?"
"Apa maksudmu? Apa maksudmu dengan ini, Kirio-kun!" Seru Karin sambil menyodorkan HP-nya.
Manik amethyst milik Kirio membulat ketika melihat foto yang di dalamnya Kazune sedang menempelkan jarinya di ujung bibir Kirio.
"I-ini-"
"Sudahlah! Aku pulang dulu! Ayo Suzune!" Ucap Karin. Iapun menyeret Suzune lalu pergi meninggalkan mansion megah itu. Sedangkan Kirio, ia hanya bisa menatap punggung Karin dengan tatapan nanar.
Meet you again
Disclaimer: Kamichama Karin and Kamichama Karin chu! Belong to Koge donbo and this plot belongs to Hayashi Hana-chan
Rated: T
Genre: Family; Romance; Humor; Drama; Hurt/comfort (maybe)
Character: Karin hanazono; Kazune Kujyou; Suzune Kujyou; Kirio Karasuma; Kazusa kujyou; Jin Kuga; Michiru Nishikiori; Himeka Kujyou; Rika Karasuma; Yii Miyon; Yuuki Sakurai and other charas (maybe)
Pairing: Kazune X Karin; slight Kazune X Kirio (ini tanpa disengaja), Kirio X Karin, Jin X Kazusa; Michi X Himeka; Kirio X Kazusa (jujur, entah kenapa ini yang terlintas dipikiran Hana)
Warning: OOC; OC (maybe); gaje; miss-typo; humor garing; a little bit shounen ai. XD
Summary:
Hai, minna-san. Namaku Hanazono Suzune. Aku adalah seorang anak yang sangat mirip dengan Kujyou Kazune yang merupakan seorang penyanyi yang terkenal. Akupun sangat menyukai ojiisan itu dan bahkan jika aku itu seorang cewek dan seumuran dengannya, aku akan mengejar dia. Namun aku heran dengan mamaku. Kenapa mama terlalu membenci ojiisan itu? Apa karena wajahku mirip dengan ojiisan itu? Sehabis itu, kenapa mama menangis setiap malam? Apakah kalian tahu penyebabnya? (Summary gaje) mind to RnR?
.
.
Check it out, minna-san ^^
.
.
Kini, tampaklah 3 sosok berada di ruangan tamu di mansion megah milik keluarga Kujyou itu. Kita bisa melihat sosok pria bersurai hitam yang sedang meraung – raung tidak terima karena perbuatan anarkis sang –mantan – tunangan. Lalu, sang pria Kujyou sedang berfikir entah apa dan wanita yang sangat mirip dengan pria itu sedang tersenyum sendiri.
"Huwaaa~! Kujyou! Ini semua salahmu!" seru Kirio seperti anak kecil, bahkan anak kecil tidak sampai segitu kali -_-" #jduakk!.
"Kok salahku?!" Protes pria bermarga Kujyou itu.
"Iyalah. Salahmu! Jadi salah siapa? Kazusa? Karin? Suzune?!" Seru Kirio.
"Gyahahahaha!" Tawa Kazusa menggema- membuat kedua pasang bola mata berbeda warna itu menatap Kazusa dengan tatapan heran.
"Kau kenapa, Kazusa?" Tanya pria Kujyou itu heran.
"Daijobu, niisan. Hontou ni daijobu," ucap Kazusa.
"Hontou? Itu dari siapa? Boleh aku lihat?" Tanya Kazune lalu merampas benda berbentuk persegi panjang berwarna hitam yang biasa kita sebut dengan smart phone.
Rahang tegas itu mengeras ketika melihat sebuah foto yang di dalamnya Kazune yang menyentuh ujung bibir Kirio. Manik sapphire itu menatap apa yang di depannya dengan tatapan horor. Sangat horor.
"Kau kenapa, Kujyou?" Tanya Kirio heran.
"Ka-zu-sa." Ucap Kazune disertai background berwarna biru dongker menuju ungu dan menatap wanita itu dengan tatapan seperti ingin menerkam wanita itu.
"Hehehe, gomen-ne niisan, kau tau kan, emhh, kalau aku itu seorang fujoshi?" Ucap Kazusa yang sebenarnya takut dengan aura biru dongker yang menguar dari tubuh pria -cantik #plakk!- bermarga Kujyou itu.
"Kau yang menyebarkan foto ini, hm?" Tanya Kazune. Manik sapphire itu menatap tajam ke arah wanita bersurai blonde bermanik bak air laut itu.
"I-iya, niisan." Jawab Kazusa takut.
"Kenapa kau menyebarkannya, Kazusa imouto tersayang?" Ucap Kazune dengan nada -sangat- manis namun menurut Kazusa -sangat- menyeramkan.
"Aku hanya iseng, niisan." Jawab Kazusa takut.
"Ya ampun kalian kenapa, sih?!" Seru Kirio lalu mengambil (baca: merampas) benda berbentuk persegi panjang itu dari tangan besar milik Kazune. Manik amethyst itu menatap horor ke arah foto yang ada di dalam hp itu.
"I-ini kan yang ada di hp Karin!" Seru Kirio. "Jadi kau yang memfotonya!"
"Ehehehehe." Yang menjawab hanya bisa cengar-cengir tidak jelas yang bisa kita artikan kalau wanita itulah yang memfotonya dan sekaligus menyebarkannya.
"Hwaaaaaa! Bagaimana ini!" Teriak Kirio seperti orang kesurupan. Kita bisa lihat, rambut hitamnya berantakan, ada yang ke atas, ke kiri, ke kanan hingga ke lantai(?). Kalau menurut Hana, lebih keren Jin Kuga yang seperti itu, sedangkan ini, melebihi orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa -_-".
(Jin: hahahaha, makasih. Makasih. Horee!
Hana: *speechless* aku tarik lagi kata-kataku.. -_-"
Jin: *pundung*)
"Baiklah! Baiklah! Aku akan ke apartement Karin, dan menjelaskan semuanya!" Putus Kazune. Ya, walaupun ada sedikit keraguan di ucapannya itu.
Hahh, seandainya hubungannya dengan Karin tidak seperti ini, dia pasti bisa meluruskan semua kesalah pahaman ini. Namun, mau bagaimana lagi? Hubungannya dengan Karin sudah terlanjur retak akibat perbuatannya sendiri.
Pria itu menghela nafas berat. Memori demi memori terlintas di fikirannya.
"Baka!" Geram Kazune sambil mengacak rambut honey blonde miliknya.
Seandainya saja, ia tak melakukan hal itu, hubungannya dengan Karin pasti akan baik-baik saja, bahkan ia dapat merasakan sebuah hal yang namanya pernikahan.
Penyesalan itu pasti datangnya terlambat. Itulah yang didapatkan pria itu.
.
.
.
Disisi lain..
Tampaklah sosok wanita bersurai brunette bermanik bak batu emerald yang sedang mengurus bahan makanannya. Jemari lentik itu melakukannya dengan sangat baik, mulai dari memotong cabai dan memasaknya.
Ya, itu memang sudah biasa bagi wanita bermarga Hanazono itu, tapi..
"Hiks." Sebuah isakan kecil keluar dari matanya. Pecahan memori itulah yang membuat air asin kembali turun dari manik emerald itu.
"Mama kenapa?" Terdengar suara sosok pria kecil bersurai honey blonde bermanik bak batu emerald yang sedari tadi hanya bisa menatapnya heran.
"Da-daijobu, ne Suzu-kun. Mata mama perih karena memotong cabai ini." Tuh kan? Bohong lagi!
"Masalah Kirio-jiisan no baka itu ya ma?" Tebak Suzune.
Karin hanya diam 1001 kata. Manik emerald itu semakin mengeluarkan air asinnya.
Pria kecil itu mendengus kesal. "Untuk apa mama hidup sama Kirio-jiisan no baka itu! Dia itu menyebalkan, mama!" Ucap Suzune.
"Dan apalagi, Suzu pernah dengar kalau Kirio-jiisan itu playboy." Ucap Suzune.
"Dia bukan tipe playboy seperti ayahmu, nak." Ucap Karin pelan -sangat pelan.
"Mama bilang apa, ne?" Tanya Suzune.
"Ah! Bukan apa-apa!" Ucap Karin melanjutkan aktivitasnya.
Manik emerald yang mirip dengan sang ibunda itu menatap sosok sang ibu dengan tatapan mengintimidasi. Tidak, tidak mungkin dia salah dengar. Pasti wanita yang dipanggilnya mama itu bilang sesuatu, namun bukan berkenaan dengan topik utama mereka.
Ting.. Tong...
Terdengar suara bel yang menandakan bahwa ada orang yang ingin bertamu ke rumah mereka.
"Suzune, buka pintunya, sayang." Pinta Karin.
"Haik." Pria kecil itupun berlari kecil menuju pintu apartemen mereka.
"Okaeri-na-" pria kecil itu mematung ketika melihat sosok pria berbaju serba hitam berdiri tepat di depan pintu apartemen mereka.
"Se-setan! Huwaa! Mama, ada setan yang mau memenggal kepala Suzune! Huwaa!" Teriak Suzune ketakutan. Sebentar dulu, sejak kapan setan bisa memenggal kepala manusia? *sweatdrop*
"Sshh, ini aku. Kujyou-jisan." Ucap pria berbaju serba hitam itu pelan dan bahkan berbisik.
"Ku-Kujyou-jisan?" Pria kecil itu sweatdrop dan tak lama setelah itu pingsan ditempat.
Sedangkan pria itu, ia sweatdrop dengan tingkah Suzune yang menurutnya 'berlebihan'. Ya, iyalah! Siapa yang tidak pingsan ketika bertemu dengan idola fanatiknya.. -_-"
"Dimana! Dimana?!" Teriak Karin yang ditangan kanannya sedang memegang panci penggorengan dan tangan kirinya memegang sendok sayur.
"Su-Suzune!" Teriak Karin yang melihat sang anak tepar tak berdaya(?) di depan pintu.
"Kau.. Kau apakan anakku, hah?!" Teriak Karin. Wajah wanita itu merah menahan amarah yang membuncah di dalam dirinya. Manik emerald itu tampak mengeluarkan api, dan menatap ke arah pria berpakaian serba hitam dengan tatapan ingin membunuh dan mengubur pria itu dalam-dalam.
"A-aku-" belum sempat mengucapkan sesuatu, sebuah batu gilingan yang entah dari mana dapatnya melayang di kepala pria itu.
"Aghh! Ittai!" Ringis pria itu, menahan sakit fisik gara-gara batu itu mendarat dengan sangat mulus tepat di jidat -lebar #jduakk!- milik pria itu.
Bagh!
Bugh!
Bagh!
Bugh!
"Kau gila! Baka! Habislah kau hari ini!" Teriak Karin yang duduk di atas badan pria itu dan memukulinya dengan sendok sayur dan panci penggorengan.
"Ittai! Ittai! Hentikan!" Seru pria itu.
Bagh!
Bugh!
Bagh!
"Mati kau! Mati kau, setan!" Seru Karin yang masih menduduki tubuh pria itu.
Tangan besar milik pria itupun menggenggam kedua tangan wanita yang berada di atasnya.
"Aku bukan setan, baka!" Ucap pria itu.
"Ughh. Ma-mama? Ku-Kujyou-jiisan?" Ucap Suzune yang baru saja sadar dari pingsannya.
"Ma-mama, itu Kujyou-jiisan." Ucap Suzune sweatdrop melihat Karin duduk diatas tubuh pria itu.
"Hah?" Karin cengo di tempat. Lalu membuka kaca mata milik pria itu.
Manik sapphire dan emerald itu menatap satu sama lain. Dari tatapan itu, mereka seolah-olah bertelepati menyampaikan sebuah perasaan yang namanya rindu. Detak jantung mereka berdentum lebih keras seperti drum yang sedang dimainkan di sekolah Hana (All charas: apa hubungannya coba? -_-"). Dan semburat merah tercetak dengan jelasnya di pipi masing-masing pihak.
Ternyata kalian masih saling mencintai, heh?
"Ekhemm, mama, kalian dilihati oleh semua orang." Ucap Suzune menghancurkan suasana romantis diantara sang ibu dan idola fanatiknya. Jujur, ia sangat cemburu ketika melihat adegan itu.
Dasar, penghancur suasana romantis! -_-"
Merekapun tersadar dan menatap ke arah sekelilingnya.
'Ya ampun.' Batin Karin cengo ketika melihat orang – orang, mulai dari ibu – ibu hingga kakek – kakek pun berbisik – bisik dan memandangi mereka seperti pencuri yang tertangkap basah karena ketahuan mencuri sandal pak ustadz (?). (all: apa maksudmu, bakaHana?!). Dan hal tersebut membuat Karin berdiri dari singgasananya(?), dan meminta maaf kepada semua orang di tempat itu.
Wanita itupun mengulurkan tangannya dan membawa pria itu ke dalam apartement miliknya, lalu mengambil handuk basah, air dingin dan baskom kecil untuk mengompres luka lebam hasil karyanya.
"Untuk apa kau kesini, hm?" Tanya Karin dingin sambil mengobati pria itu.
Pria itu hanya diam dan menatap wanita itu dengan tatapan heran.
"Dari mana kau tahu apartement ku?" Nada itu masih terkesan dingin nan menusuk.
"Aku mau menjelaskan soal-"
"Yang waktu itu?" Tanya Karin. "Sudahlah! Aku sudah menganggap itu keputusanmu. Aku sudah menerimanya. Yang penting kau sama dia sudah bahagia, kan?" Ucap Karin dengan nada melembut. Bibir wanita itu membentuk sebuah lengkungan indah, ya walaupun terkesan dipaksakan.
Nafas Kazune tercekat mendengar ucapan itu. Jantungnya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Rasa penyesalan dan bersalah itu bermunculan. Bukan! Bukan ini yang ia maksud!
"Ahh, ia. Aku ke dapur dulu, ya. Jaa!" Ucap Karin lalu pergi meninggalkan Kazune di ruang tamu bersama sosok Suzune yang sedari tadi menonton acara TV kesukaannya.
Pria bermanik sapphire itu menatap ke arah pria kecil yang duduk di bawah itu.
'Apakah dia anak itu? Kenapa dia sangat mirip denganku?' Batin Kazune bertanya-tanya sambil menatap sosok pria kecil itu.
'Aku harus bertanya tentang kehidupan anak itu!' Tekad Kazune kuat.
"Emhh, Suzune." Panggil Kazune- yang membuat sang pemilik nama menolehkan kepala blonde miliknya dan menatap Kazune dengan manik emerald yang begitu polos.
"Doushite no, jiisan? Apa jiisan butuh sesuatu?" Tanya Suzune.
"Iie. Aku hanya ingin bertanya suatu hal." Ucap Kazune.
Alis milik pria kecil itu bertautan, menandakan pria kecil kita ini heran.
"Bertanya tentang apa, jiisan?" Tanya Suzune.
"Emhh, soal mamamu." Ucap Kazune disertai semu merah yang tampak samar disekitar pipinya.
"Mama? Memangnya ada apa dengan mama?" Tanya Suzune heran.
"Emhh, mamamu.. E-ettoo, mamamu sudah berapa lama berhubungan dengan Karasuma? Dan apakah mereka memang bertunangan?" Tanya Kazune dengan diselipkan nada tak suka.
"Engg, sekitar beberapa bulan yang lalu, jiisan. Mereka sudah bertunangan, tapi, mereka putus karena yang tadi siang itu. Kenapa, jiisan?" Ucap Suzune.
"Sou ka. Daijobu. Ettoo, papamu dimana?" Tanya Kazune hati-hati.
Seketika, wajah riang itu berubah menjadi sendu. Manik emerald itu menatap ke arah TV dengan tatapan nanar.
"Papa.. Hiks, Suzu sendiri tidak tahu siapa papa Suzu. Hiks, hiks, hiks." Isak Suzune. Air asin itu terus turun. "Mama tidak pernah memberi tahu Suzune soal papa. Hiks, hiks, padahal, Suzu.. Hiks, hiks, Suzu juga ingin tahu siapa papa Suzu." Ucap Suzune sambil terisak, menahan kesedihan yang dideranya.
Entah kenapa, hati pria itu seperti ditusuk oleh ucapan anak itu. Rasa bersalah itu mulai bermunculan.
GREP! Pria itupun merengkuh tubuh mungil pria kecil itu.
"Suatu saat, kau pasti akan mengetahuinya, Suzune. Kau tenang saja." Ucap Kazune menenangkan pria kecil itu.
Entah kenapa, ketika ia dipeluk pria itu, ia seperti merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Sosok yang ia inginkan kehadirannya saat ini. Sosok yang menjadi pelengkap dari sang ibu.
Air mata itu mulai bercucuran. "Hiks, hiks, papa." Isak Suzune. "Suzu rindu papa. Kapan papa kembali, ne?"
Deg! Jantung Kazune mencelos ketika mendengar ucapan pria kecil itu. Rasa bersalahnya mulai membesar. Setitik air asinpun keluar dari manik sapphire itu.
"Kalian kenapa?" Terdengar suara merdu menginterupsi perbuatan mereka. Manik emerald itu menatap pria kembar identik berbeda umur itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Da-daijobu, mama. Kami tidak apa-apa, kok." Ucap Suzune lalu menyeka air matanya.
"Iya. Kami tidak apa-apa." Ucap Kazune.
Alis itu tertarik keatas- menatap kedua orang itu dengan tatapan aneh. Lalu, iapun menghela nafas berat.
"Makanan sudah siap. Kalian mau makan? Mari makan!" Ajak Karin.
"Hah? Makanan sudah siap?! Asiikk!" Teriak Suzune riang. Pria kecil itupun berlari kecil ke arah meja makan, meninggalkan sosok 2 orang dewasa yang tengah memandangnya.
"Karin." Panggil Kazune pelan - membuat sang pemilik nama menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Hm? Ada apa?" Tanya Karin.
"Engg, Suzune, Suzune sebenarnya anak siapa? Siapa ayahnya?" Tanya Kazune balik.
"Bukan urusanmu." Ketus Karin lalu meninggalkan pemilik manik bak batu sapphire itu.
Pria itupun menghela nafas berat. Wanita itu masih marah padanya. Itulah kesimpulan yang dapat ia ambil.
Kaki jenjang milik pria itupun melangkah ke arah meja makan. Manik sapphire itupun menatap ke arah hidangan yang sudah tersaji di depannya. Iapun mendudukkan diri di hadapan Karin.
"Ittadakimasu!" Seru Suzune lalu melahap dengan rakus makanan yang berada dihadapannya.
"Makannya pelan-pelan, Suzune!" Tegur Karin.
"Uhukk, uhukk, uhukk." Tuh kan. Apa yang kubilang! Pikir Karin kesal dengan perbuatan Suzune.
"Ehehehehe. Gomen-ne, mama. Oh, ia, jiisan tidak makan? Kalau tidak, biar Suzu yang makan, ne." Ucap Suzune polos.
Pletak! Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala kuning Suzune.
"Ittai!" Ringis Suzune sambil memegangi kepala blonde miliknya.
"Kau tidak boleh seperti itu, Suzune! Tidak sopan!" Tegur Karin.
"Ehehehe. Gomen-ne mama, jiisan. Suzune hanya becanda kok." Ucap Suzune sambil tersenyum riang.
"Ahahaha. Tidak apa-apa, kok." Ucap Kazune tertawa kekeh dengan perilaku Suzune dan Karin.
"Ojiisan kenapa tidak makan croquette nya? Ojiisan tidak suka masakan rumahan, ya?" Tanya Suzune polos.
"Bukan seperti itu Suzune." Ucap Kazune.
"Lalu, apa menurut jiisan masakan mama seperti racun, ya?" Ucap Suzune yang sukses mendapat hadiah gratis yang kedua yaitu jitakan yang lebih keras lagi dari pada sebelumnya.
"Ittai, mama! Jangan menjitakku lagi! Sakit tahu!" Ringis Suzune.
"Fokus dengan makananmu, atau aku akan membuangnya ke tempat sampah, Hanazono Suzune!" Ucap Karin disertai penekanan di setiap ucapannya.
Bulu Suzune mulai meremang mendengar ucapan sang ibu dan sukses membuat pria kecil itu fokus dengan makanan yang berada dihadapannya.
Kazune yang melihat adegan itupun mulai meyakinkan diri bahwa makanan itu masih -sangat- aman untuk dimakan. Dan hal yang membuatnya semakin yakin adalah Suzune memakannya hingga habis dan tidak terjadi apa-apa.
"Kau pikir aku menaruh racun ke makananmu, heh. Kalau kau tak mau makanannya, aku akan memberikannya dengan senang hati pada tong sampah terdekat." Ucap Karin yang sukses membuat Kazune melahap makanan yang berada dihadapannya.
'Tidak buruk juga. Ternyata Karin sudah pandai memasak.' Batin Kazune. Iapun terus melahap makanan yang dihadapannya.
"Karin." Panggil Kazune.
Pemilik manik emerald itupun menoleh ke arah orang yang di depannya.
"Ada apa? Kau mau meleceh masakanku lagi, heh?" Sindir Karin.
"Tidak. Masakanmu sangat enak. Aku menyukainya." Ucap Kazune tulus, bahkan sangat tulus.
Rona merah samarpun menjalar di kedua pipi Karin. Jantungnya pun mulai berdegup abnormal ketika mendengar ucapan Kazune. Jujur, dari hatinya yang paling dalam, ia sangat senang dengan ucapan pria itu. Namun, tidak mungkin dirinya memeluk pria itu, mengucapkan terima kasih dan mengecup pipi pria itu sebagai tanda terima kasih. Mau ditaruh dimana image-nya?
Dasar tsundere! -_-"
Disisi lain, Kazune merutuki dirinya karena mengucapkan hal itu. Kenapa ia bisa mengucapkan hal itu pada wanita dihadapannya.
"Abaikan saja ucapanku tadi." Ucap Kazune pelan.
"Tidak apa-apa." Ucap Karin sama pelan.
Tanpa mereka sadari, sosok pria kecil bersurai blonde memperhatikan tingkah kedua orang dewasa itu.
'Kujyou-jiisan dan mama kenapa, ya? Dan, kenapa wajah mama berwarna merah? Mereka kenapa, sih?' Batin Suzune heran.
'Ah! Aku akan bertanya ke mama dan Kujyou-jiisan ketika selesai makan!' Tekad Suzune.
.
.
.
Di waktu selesai makan..
Pria kecil bermanik emerald itupun bergegas menemui kedua orang dewasa itu.
"Mama, jiisan." Sapa pria kecil itu sambil tersenyum riang.
Pria yang dipanggil jiisan itu tersenyum tipis ke arah pria kecil di hadapannya. "Hai, Suzune. Ada apa?" Tanya Kazune.
"Ahh. Jiisan, mama. Suzu mau bertanya." Ucap Suzune mengutarakan maksudnya.
"Tanya apa?" Tanya Karin balik. Walaupun dirinya fokus ke cucian piringnya, tapi ia juga mendengar ucapan pria kecil itu.
"Tadi, di waktu jiisan bilang masakan mama enak, kenapa wajah mama memerah? Apa ada yang salah dengan ucapan Kujyou-jiisan?" Tanya Suzune yang sukses membuat perhatian Karin sepenuhnya ke arah Suzune.
"Maksudmu?" Tanya Karin. Jangan! Jangan bilang kalau pria kecil itu melihat rona merah sialan gara-gara pria -besar- nya itu!
"Tadi Suzu melihat wajah Kujyou-jiisan dan mama memerah. Dan kalian terlihat emmhh.. Malu-malu." Ucap Suzune polos yang sukses membuat rona merah menjalar di pipi kedua belah pihak.
"Ma-mama, mama tidak apa-apa kok, Suzu-kun. Mama lagi demam sepertinya." Bantah Karin.
"Hontou?" Tanya Suzune memastikan. Entah mengapa, ia merasa ada yang ditutupi oleh sang ibunda.
"I-iya, kami tidak apa-apa. Ya kan, Kazune-kun?" Tanya Karin yang memanggil nama pria bersurai blonde itu plus dengan surfix –kun tanpa ragu. Upps! Ia langsung menutup mulutnya, tidak percaya atas apa yang diucapkannya.
"Iya. Benar apa yang dibilang ibumu." Ucap Kazune dengan wajah pokerface miliknya. Namun sebenarnya, hatinya berbunga-bunga ketika wanita itu memanggilnya seperti itu.
Sedangkan Karin, iapun mulai melanjutkan acara mencuci piring -walaupun sebenarnya dia sudah siap dengan acara itu-. Jujur saja, rona merah itu semakin tampak di pipinya dan wajahnya semakin memanas.
"Wajah mama kenapa memerah seperti itu?" Tanya Suzune heran ketika melihat rona merah yang benar-benar tampak di pipinya.
Manik sapphire milik Kazunepun menatap ke arah Karin. Ia juga melihat sebercak(?) rona merah yang menjalar dari pipi wanita itu.
'Kau terlihat manis jika seperti itu, Karin.' Batin Kazune yang tersepona(?)-
(All: terpesona! *swt*
Hana: haik.. Haik.. Terpesona! XD)
Haik.. Hana ralat ulang (all: habisin word aja -_-")
'Kau terlihat manis jika seperti itu, Karin.' Batin Kazune yang terpesona dengan wajah Karin yang memerah. Bahkan, wajahnyapun juga ikut memerah.
"Aku tidak apa-apa, Suzune! Percayalah padaku!" Ucap Karin.
Pria kecil itu mulai menyeringai. "Apa jangan-jangan, mama dan Kujyou-jiisan saling menyukai?" Tanya Suzune.
BLUSH!
Kini, kita bisa melihat rona merah yang tercetak jelas di pipi milik Karin dan Kazune.
"Sudahlah Suzune! Aku tidak menyukai Kujyou-jisanmu!" Bantah Karin.
"Mama jangan bohong! Mama juga terpesona dengan Kujyou-jiisan, kan!" Ejek pria kecil itu.
Manik emerald itu menatap manik yang sama dengannya dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu, Hanazono Suzune?" Ucap Karin dengan nada horror.
"Ehehehe. Daijobu, daijobu. Suzu hanya becanda kok. Ehehehe." Pria kecil itu melambaikan tangannya di depan dada.
Wanita itupun kembali membelakangi sepasang kembar berbeda warna mata dan umur itu. Air asin mulai keluar dari manik emerald itu.
'Kau benar, Suzune. Aku masih menyukainya, bahkan mencintainya. Tapi, apakah dia benar - benar menyukaiku?' Batin Karin. Bibirnyapun membentuk sebuah lengkungan aneh. Senyuman miris. Itulah yang ia tunjukkan.
"Mama, mama kenapa?" Tanya Suzune heran. Ia melihat bahu wanita yang bernotabene ibunya bergetar pelan, seolah - olah wanita itu sedang menahan tangis.
"Mama, tadi aku hanya becanda. Maafkan aku." Ucap Suzune dengan nada penuh penyesalan.
"Tidak apa - apa, Suzune." Wanita itu kembali menghadap kedua pria itu. "Aku tidak apa - apa. Aku tahu kau sedang becanda, Suzune." Ucap Karin disertai senyuman miring yang tercetak di bibirnya.
"Aku ke kamar dulu, ya. Jaa!" Wanita itupun pergi meninggalkan ruangan itu – menyisakan kedua orang itu yang tengah menatapnya dengan tatapan heran.
"Hahh, mama kenapa, sih?" Tanya pria kecil itu yang sweatdrop dengan tingkah wanita itu.
Sedangkan pria bersurai blonde yang mirip dengannya itu hanya bisa menatap wanita itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
'Maafkan aku, Karin.' Batin Kazune.
.
.
.
Di sisi lain…
"Dasar baka Kujyou! Enak saja dia mencari kesempatan dalam kesempitan dengan Karin – ohimesama !" celetuk pria bersurai hitam bermanik bak batu amethyst yang tengah menatap nanar ke arah pintu apartement milik wanita bersurai brunette yang ber notabene –mantan – tunangannya itu. Sedangkan wanita bersurai blonde di sampingnya hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Diamlah, baka! Anikiku itu sedang menyelesaikan masalah, tahu!" ucap wanita itu setengah berbisik.
"Nani? Menyelesaikan masalah?! Menyelesaikan masalah apanya, heh? Menambah masalah yang benar!" decak pria bersurai hitam itu.
"Sudahlah! Ayo kita kesana!" ajak wanita bersurai blonde itu lalu menggenggam tangan besar milik pria bersurai hitam itu.
Manic ocean itupun melihat ke arah sekeliling – memastikan bahwa kegiatan mereka tak akan dilihat oleh siapapun, termasuk sang aniki.
Ya, anikinya. Abang kembarnya sendiri.
Memori pahit Kazusa terlintas dipikirannya. Dan akibat dari memori itu, air asin mulai berjatuhan dari manic ocean miliknya.
"Tapi, Kazune-kun. Bagaimana dengan Karin-chan?"
.
"Sou ka. Wokatta."
.
"Baiklah Kazune-kun, jika kau menginginkan itu,aku akan pergi. Simpan saja ucapanmu dalam angan-anganmu,"
.
"Sebenarnya kau adalah saudara kembar dari Kujyou Kazune. Dan aku bukan siapa – siapa dirimu, aku hanyalah seorang pembantu yang ditugaskan oleh nyonya besar untuk menjagamu hingga kau dewasa. Maafkan aku, nona Kazusa."
.
"Yang waktu itu? Sudahlah, nyonya Kujyou. Aku sudah menganggap yang waktu itu adalah kesimpulan. Dia lebih memilihmu daripada aku. Dan dia menganggapku sudah mati. Yasudah, semoga berbahagia."
.
Pria bersurai hitam itu menatap wanita yang menarik tangannya dengan tatapan heran.
"Kau kenapa, Kazusa?" Tanya pria itu.
"A – aku tidak apa – apa, hiks, hiks. Percayalah." Ucap Kazusa sambil terisak. Air asin itu terus mengalir dari manic blue ocean miliknya.
Pemilik manic bak batu amethyst itu benar – benar tidak tega melihat wanita yang ber notabene adik sang artis ternama itu. Iapun merogoh sakunya dan mengambil sapu tangan miliknya.
"Ki – Kirio –san." Lirih Kazusa.
"Sshh. Jangan menangis lagi." Ucap Kirio pelan.
"Apa yang membuatmu menangis, hm?" Tanya Kirio heran.
"E – ettoo, aku merasa bersalah padamu. Gomen." Ucap Kazusa lalu menundukkan pandangannya.
"Kurasa kau berbohong." Ucap Kirio pelan namun meyakinkan.
Manic blue ocean itu menatap pemilik mata bak batu amethyst itu dengan tatapan tak percaya. "Ma – maksudmu?" Tanya Kazusa.
"Aku yakin. Kau dan Kujyou pasti menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?" Tanya Kirio dengan tatapan mengintimidasi.
"A-aku tidak menyembunyikan apapun darimu, tuan Karasuma!" tegas Kazusa namun dengan nada bergetar.
"Lalu, kenapa Kujyou terkejut ketika melihat Karin?" Tanya Kirio to the point.
Wanita itu terdiam seribu bahasa. Manic oceannya menatap ke arah lantai. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.
"Kenapa Suzune itu mirip sekali dengan Kujyou? Aku heran dengan itu." Ucap Kirio heran.
"Maksudmu?" Tanya Kazusa.
"Ketika aku melihat Suzune, aku seperti melihat Kujyou dalam diri anak itu." Ucap Kirio.
"Se – sebenarnya.."
Wanita itu kembali terisak. Jujur, ia tak sanggup untuk menahan air asin yang terus keluar dari manic ocean miliknya.
"Aku tahu aku salah. Aku ingin minta maaf pada Karin – chan." Ucap Kazusa pelan.
"Minta maaf? Maksudmu?" Tanya Kirio heran.
"Kau tahu, tentang Kazu – nii menghamili mantan pacarnya?" Tanya Kazusa.
"Hmmm, aku tahu itu. Kenapa?" Tanya Kirio heran.
"Hiks, hiks, se-sebenarnya, sebenarnya." Wanita itu kembali terisak. Ya, rasa penyesalan dirinyalah yang membuatnya seperti ini.
"Sebenarnya Karin – chan itu, hiks, hiks, mantan pacar Kazu –nii." Ucap Kazusa pelan, namun dapat membuat sang pemilik mata bak batu amethyst itu mematung.
'Mantan pacar Kazune? Apa jangan – jangan?'
.
.
.
To be continue or discontinue this fict?
A.N:
Hana: Konbanwa ne minna-sama, Hana is coming back! XD
Karin: bakaHana, kenapa kau telat sekali meng-update fict abal bin gaje milikmu ini, heh?! *nyolot*
Hana: khukhukhukhu.. ternyata ada juga chara yang nge – fans sama fict aku ini.. *smirk*
Karin: *muka pucat* ada kantong muntah?
Suzune: *nyodorin kantong muntah ke Karin*
Kazune: *speechless sendiri* *baca teks skenario* *sweatdrop* ceritamu aneh, bakaHana -_-"
Hana: *pundung di pojokan*
Hahaha.. Abaikan aja yang diatas desu yo! XD
Ettoo, arigatou gozaimasu atas reviewer dari minna-san. Banyak banget yang menyukai fict ini.
Hana senang banget review dari kalian. Tapi maafin Hana kalau mengecewakan, update lama, dll. Karena Hana lagi terkena WB akut. Hana aja udah speechless sendiri. Dan yang minta update kilat, Hana minta maaf sebesar-besarnya karena keterlambatan fict ini. Mungkin saja chapter depan bakal lebih terlambat (bagi yang meminta).
Sebenarnya Hana pengen mengubah chap ini, tapi entah kenapa Hana malas gitu. Hehehe.. XD kalau menurut kalian diubah atau tidak?
Etto, gomen-ne Hana tidak bisa membalas review kalian satu persatu. Hontou ni gomen-nasai.
Dan spesial untuk guest-sama (guest 1 dan 2), Hana tau banget kalau fict Hana ini emang abal2an, gaje, dll. Hana boleh tidak minta satu hal? *puppy eyes* boleh tidak Hana minta satu fict karya kalian? Jadi Hana bisa melihat dimana letak kesalahan fict Hana yang kata kalian 'SANGAT BURUK' itu. Hana ingin belajar dari kalian yang 'MUNGKIN' Author professional. Maklum saja Hana ini kan masih pemula dan masih membutuhkan bimbingan dari kalian yang merupakan 'AUTHOR SENIOR'. Ok? ;)
Dan untuk para author-senpai, arigatou sudah mau mengkritik fict Hana ini. Arigatou gozaimasu.. *ojigi*
Dan untuk para si-ders, arigatou sudah read fict Hana ini. Hana mohon kalian review fict Hana ini.
No bacot again..
.
.
.
Mind to Review, please? *puppy eyes*
