CKLEK!
Pintu ruang kerja Yifan yang terbuat dari kayu jati yang kokoh itu terbuka dengan kasar, hingga terdengar suara debuman yang cukup keras, karena benturan pintu kayu dengan dinding.
Yifan yang setengah terkejut itu hanya bisa mengelus dada saat mendengar suara benturan tersebut.
"Hai, Say―"
PLAK!
"―auw!" Sehun mengaduh kesakitan. Ucapannya terpotong begitu saja, saat Jongin sudah melangkah dengan kecepatan cahaya menuju tempatnya berdiri dan langsung memukul kepalanya.
"Dasar brengsek." Jongin menggumam gemas sambil memberikan serangan pada perut Sehun yang mulai muncul abs.
"Ouch―hentikan itu, Sayang!" Sehun memekik kegelian sambil menghalau tangan-tangan nakal Jongin dari tubuhnya. Dengan sigap, tangan kekar Sehun menangkap telapak tangan Jongin dan menguncinya.
Jongin yang merasa tak senang karena pergerakannya yang tak bebas akibat kuncian di tangannya pun mulai memberontak. Namun pemberontakannya itu sama sekali tidak berarti bagi Sehun. Jongin hanya bisa memberengut kesal―mengingat bahwa ia tak bisa membalas sikap Sehun yang seenaknya dan fakta bahwa ia tak jauh lebih kuat dari Sehun, meski mereka sama-sama pria.
"Bisakah kau bersikap sedikit lembut pada kekasihmu ini?" tegur Sehun pada Jongin sambil memandangi Jongin yang sedang menyembunyikan wajahnya.
Yifan yang masih duduk―dengan gelisah―di atas kursi kerjanya itu hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Dia muak dengan adegan lovey dovey yang mungkin akan terjadi di hadapannya. Tidak―Yifan tidak cemburu atau iri. Karena pada dasarnya, Yifan bukanlah tipe pria yang percaya pada hal picisan seperti cinta. Hidupnya hanya dipenuhi dengan lembaran-lembaran perjanjian yang harus ditandatanganinya.
"Kau sendiri bersikap seenaknya padaku, Bodoh!" seru Jongin kesal. "Kau tahu kan? Aku sedang ada dalam proyek di kampusku dan kau justru menyeretku ke Paris tanpa persetujuan dariku. Kau bahkan memerintahkan pengawalmu untuk bersikap kasar padaku, jika aku berontak? Cih, kekasih macam apa itu? Apakah itu yang kau maksud dengan lembut hah? Aku sudah muak dengan sikapmu yang seenaknya saja, Oh Sehun!" Jongin memaki Sehun panjang lebar.
Sehun hanya mengerjap dua kali sebagai balasannya. Ia sering bertengkar dengan Jongin dan selalu berakhir dengan Jongin yang ngambek selama semalaman, namun keesokan harinya, pria itu akan kembali terlihat ceria dan seolah semuanya baik-baik saja. Sehun tak pernah melihat sosok Jongin yang emosional dan meledak-ledak seperti barusan.
"Aku. Minta. Putus. Oh. Sehun."
Pu-tus?
PUTUS?!
Putus yang berarti bahwa Sehun dan Jongin tidak lagi menjadi sepasang kekasih? Hell no! Sehun tidak akan semudah itu melepas Jongin dari rantai yang sudah mengikat mereka.
Namun, permintaan Jongin seakan mutlak―tak terbantahkan. Maniks matanya yang kecoklatan itu menunjukkan tekad yang kuat dan Sehun yakin bahwa kekasihnya sedang serius sekarang.
Tapi yang lebih penting di atas segalanya, Sehun jauh lebih serius dalam hubungan mereka. Ia akan mempertahankan Jongin―meski itu berarti bahwa ia pun harus membelah Samudera Pasifik.
"Aku tidak akan pernah melepasmu, Kim Jongin." Sehun menatap Jongin tajam.
"Kau milikku―dan selamanya akan begitu."
Yifan hanya bisa memijat pelipisnya dari tempat duduknya. "Dasar pasangan aneh."
―
rappicasso
presents
an alternate universe fanfiction
le fiancé idéal
.: chapter two :.
starring
Kim Jongin | Oh Sehun | Xi Luhan | Wu Yifan | Park Chanyeol | Byun Baekhyun
―
"Bersikaplah yang sedikit manis, Sayang."
"Kenapa? Kau tak suka jika aku seperti ini eh?"
"Bukannya begitu. Hanya saja, aku―"
"Kalau kau ingin mencari kekasih yang manis, kencani saja penjual permen. Selesai kan?"
Sehun hanya bisa menghela nafas panjang. Ia lebih baik mengalah dan diam untuk sementara waktu, karena itu adalah cara yang paling ampuh untuk menjinakkan kekasihnya yang memang terkenal ganas dan liar. Pria berkulit pucat―nyaris albino―itu menyandarkan punggungnya pada jok belakang mobil yang ditumpanginya, lalu mulai mengeluarkan ponsel pintarnya untuk memeriksa dokumen-dokumen yang berada di dalam folder miliknya.
Sementara Sehun yang mulai sibuk dengan ponselnya, Jongin pun bisa bernafas lega. Ia hanya butuh ketenangan saat ini. Ia benar-benar tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Entah kenapa, ia selalu tak berkutik saat Sehun melemparkan tatapan mautnya. Jongin bahkan sempat berpikir bahwa Sehun telah meracuninya dengan mantra-mantra agar tunduk dan patuh saat menatap matanya. Ah, itu hanyalah sebagian kecil dari fantasi gila Sehun. Mana mungkin Sehun melakukan hal semacam itu, padahal ia saja tak percaya dengan ada peri dan nenek sihir.
Jongin menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil. Tatapannya jatuh pada jalanan di luar. Sebagian besar orang Eropa tidak terlalu menyukai berkendara dengan kendaraan pribadi, karena itu berkesan terlalu mencolok. Paris siang itu terlihat ramai hanya dengan para pejalan kaki dan taksi yang berlalu lalang. Tidak terlalu banyak mobil pribadi yang terlihat sedang melintas. Jongin tahu betul watak Sehun yang angkuh dan sombong itu. Ia yakin bahwa menggunakan mobil pribadi―limited edition pula!―di siang hari begini adalah salah satu cara baginya untuk menunjukkan betapa kayanya dirinya. Jongin memutar bola matanya bosan. Sebenarnya, bukan hanya Sehun yang memiliki sifat seperti itu. Mungkin hampir seluruh keluarga besarnya memilik watak yang sama dengan Sehun―yah, kecuali Yifan. Kakak tiri Sehun itu selalu terlihat lebih tenang dan pendiam. Ia juga bukan tipikal orang yang senang menyombongkan diri. Hanya saja, Jongin tidak terlalu dekat dengan pria itu.
Ah, memangnya siapa saja anggota keluarga Sehun yang kenal baik dengannya?
NIHIL.
Saat Jongin diajak ke sebuah pertemuan keluarga Sehun saja, Jongin sudah mendapat pandangan pergilah-dari-sini-kau-sungguh-menjijikkan dari sepupu-sepupu Sehun yang berdandan bak ratu-ratu Inggris. Cih, mimpi saja kalian. Justru Jongin-lah yang merasa muak dengan tingkah mereka. Mereka bersikap jual mahal, seolah mereka adalah berlian dan Jongin hanyalah kuningan. Sungguh menggelikan.
Jongin sama sekali bukan tipe pria seperti itu. Meski ia cukup populer di kampusnya, namun ia cenderung bukan tipe pemilih dalam berteman. Ia berteman dengan siapa saja―sesuai dengan proporsinya. Ia akan lebih senang menghabiskan waktunya di kampus bersama Baekhyun dan Chanyeol―dua teman sejurusannya yang terkenal freak, tukang jahil dan berisik. Sementara saat ia ingin pergi ke klub malam dan pesta-pesta, ia lebih memilih mengajak gadis-gadis cantik seperti Krystal dan Sulli. Dan yang paling penting, Jongin tidak pernah menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.
Sialnya, hampir seluruh anggota keluarga Sehun itu memiliki perangai yang berkebalikan dengannya. Mereka menganggap bahwa Jongin tidak sepantasnya bersanding dengan Sehun, hanya karena penampilan Jongin yang terlihat biasa saja―yah, saat pertemuan keluarga itu, Jongin memang berpakaian semi-formal, karena Jongin bukan tipe orang yang suka bermuluk-muluk. Namun penderitaan Jongin tidak hanya sampai disana. Jongin masih saja mendapat cemoohan dari keluarga besar Sehun. Dan sampai detik ini pun, keluarga Sehun―terutama neneknya―masih belum menyetujui hubungan keduanya.
Jongin menghela nafas kasar.
Sementara Sehun hanya meliriknya sekila―penasaran.
Sesungguhnya, Jongin sudah lelah dan ingin menyerah pada hubungannya dengan Sehun―jika ia bisa. Dan sayangnya, sepertinya ia tak akan pernah bisa menyerah begitu saja. Sehun seperti selalu memiliki seribu satu cara untuk mempertahankan hubungan mereka. Jongin selalu saja hanyut pada tatapan Sehun yang tajam sekaligus meneduhkan.
Dan selain itu, Jongin merasa bahwa Sehun adalah satu-satunya sosok yang tepat untuk mendampinginya. Di balik semua topengnya yang angkuh, dingin dan sombong, sesungguhnya Sehun adalah sosok yang penyayang dan pengertian. Pria pucat itu selalu memiliki cara-cara tersendiri untuk membuat Jongin tersipu malu atau merasa tersanjung. Sehun adalah satu-satunya sosok yang sudah mengenal sifat busuknya dan masih tetap mencintainya. Jongin yang sebelumnya seorang playboy dan bisa saja menggaet banyak wanita di luar sana, lebih memilih menyerahkan dirinya untuk menjadi bottom seorang Oh Sehun.
"―ngin. Kim Jongin."
Jongin menoleh saat mendengar sayup-sayup suara di tengah acara melamunnya. "Ya?" Jongin mendadak linglung, seolah tak sadar bahwa sedari tadi ia sedang berada di dalam mobil yang sama dengan Sehun.
"Kita sudah sampai," balas Sehun cepat.
"Oh?" Jongin celingukan kesana kemari. Ia memandangi jalanan di sekitarnya yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang mirip dengan pertokoan. Mobil mewah Sehun yang dikemudikan oleh supirnya, berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang mirip seperti butik. "Kau mengajakku kemana sih?" tanya Jongin bingung.
"Butik," jawab Sehun singkat. "Cepatlah turun. Di dalam butik sudah ada Kyungsoo yang menunggumu. Dia yang akan menjelaskan semuanya padamu."
Jongin baru saja hendak mengeluarkan protesnya.
"Aku harus segera kembali ke kantor. Ada rapat dadakan dengan Divisi Litbang," balas Sehun yang seolah-olah mampu membaca pertanyaan yang muncul di otak Jongin.
Jongin mengangguk paham dengan wajah yang sedikit ditekuk.
"Cepatlah. Kyungsoo sudah menunggumu."
"Ha? Siapa namanya?"
"Kyungsoo. Namanya Do Kyungsoo. Tenang saja, dia adalah orang Korea."
―
Oh, untung saja, Jongin tidak perlu bertemu dengan salah satu asisstant shop lokal, sehingga ia tak perlu menggunakan bahasa Prancis―yang jelas-jelas, ia sangat payah dalam penggunaannya. Ia langsung disambut oleh seorang pria yang nampak lebih dewasa darinya, namun memiliki postur tubuh yang lebih mungil.
"Anda pasti Tuan Kim?" tebak pria mungil itu yang diduga Jongin sebagai Do Kyungsoo.
Jongin tersenyum semanis mungkin. Ia dididik untuk bersikap ramah pada siapapun―entah pada orang asing sekalipun. "Ya, dan Anda pasti Do Kyungsoo?" balasnya.
Pria mungil itu mengangguk sambil tersenyum. "Tolong, jangan bersikap terlalu formal padaku," tegur Kyungsoo lembut.
"Dan Kyungsoo Hyung juga tak perlu bersikap formal padaku. Aku kan bukan siapa-siapa disini." Jongin tertawa kecil.
"Kau pelanggan kami dan pelanggan adalah raja. Jadi, aku harus bisa melayanimu sebaik mungkin." Kyungsoo tersenyum manis. "Lagipula, kau adalah tunangan Tuan Oh, jadi―"
"Ralat. Aku kekasihnya, bukan tunangannya." Jongin tersenyum canggung. Ia berbicara sesuai fakta. Orang-orang beranggapan bahwa Jongin adalah tunangan Sehun, padahal hubungan mereka saja belum direstui oleh keluarga Oh. Apakah gosip itu muncul dengan sendirinya atau Sehun yang sengaja membual untuk memperbaiki citranya? Cih, dasar picisan.
Kyungsoo tertawa ringan. "Jika kau kekasihnya, sudah pasti kau memiliki rencana untuk menikah dengannya, kan? Masalah apakah hal itu akan terwujud atau tidak, itu adalah kehendak Tuhan dan kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti jalannya."
Jongin mengangguk sekilas.
"E-eh, maafkan aku. Kenapa aku jadi mengguruimu sih?" Kyungsoo kebingungan sendiri.
"Tak apa, Hyung. Jangan merasa sungkan," balas Jongin santai.
"Aku jadi tak enak padamu. Bagaimanapun juga, keluarga Oh adalah pelanggan setia di butik ini. Jadi yah, jika aku membuatmu tak nyaman―yah kau tahu sendirilah."
Senyuman Jongin mencapai matanya―membuat matanya menyipit manis. "Aku sungguh tidak keberatan. Aku justru senang karena ada orang yang mau mengajakku bicara. Kupikir, aku akan merasa kesepian di Paris," ungkap Jongin jujur.
"Eh? Kenapa? Bukankah Tuan Oh memiliki banyak saudara? Kau bisa berbicara dengan mereka kan?"
"Mereka sama sekali bukan tipeku." Jongin tertawa canggung. Ia tak mungkin membuka aib keluarga kekasihnya yang menunjukkan seolah-olah mereka tak mau berhubungan dengan masyarakat dari kalangan biasa. "Aku tidak suka dengan segala sesuatu yang berbau dengan formalitas. Yah, kau tahulah―pesta-pesta dansa dengan jas formal itu terdengar sangat kuno dan memuakkan," jelas Jongin. Yang satu ini, ia benar-benar jujur.
Kyungsoo tertawa. "Kau sungguh mirip dengan Tuan Oh. Ia tak pernah suka dengan segala hal yang kaku seperti itu. Tapi kau tahu sendirilah bahwa Granny sangat berpengaruh dalam aspek kehidupan keluarga besarnya―tak terkecuali Tuan Oh," jelas Kyungsoo.
Jongin mengangguk paham. Ia juga tahu kalau Sehun kurang suka dengan keluarganya. Dulu Sehun sering mengeluh karena keluarganya yang terlalu sering mengatur ini dan itu.
"Aduh, kenapa aku jadi bergossip seperti ini sih?" Kyungsoo nampak menggumam panik.
Jongin tertawa kecil melihat pria mungil bermata bulat itu panik sendiri.
"Ayo kuantar kau ke ruang rias. Tuan Oh berpesan padaku untuk mendandanimu se―ekhem," Kyungsoo berdeham pelan. "―manis mungkin."
Jongin langsung menekuk wajahnya. "Memangnya, untuk apa sih?"
"Tentu saja untuk acara jamuan makan malam."
Oh, sial.
―
"Kau tidak bilang untuk mengajakku ke acara jamuan makan malam." Jongin merajuk. Bokong seksinya masih setia duduk di atas jok mobil mewah milik Sehun dan pria berkulit tan itu sama sekali tidak berniat untuk turun, sekalipun Sehun sudah membukakan pintu mobil untuknya―dan itu sudah cukup untuk merendahkan harga diri Oh Sehun.
Sehun mendengus. "Memangnya kenapa? Kau adalah kekasihku. Sudah seharusnya kau menemaniku ke suatu acara resmi."
"Aku kekasihmu, bukan robotmu!" Jongin memekik tak suka. "Kau tahu, aku muak dengan semua ini, Oh Sehun. Aku tak pernah suka datang ke acara-acara resmi seperti ini―apalagi harus bertemu dengan keluargamu yang menyebalkan itu." Jongin sungguh tak segan-segan untuk menyindir keluarga kekasihnya itu.
Sehun tersenyum kecil, lalu merendahkan tubuhnya―membuat ia berlutut di samping pintu mobil mewahnya. Oh sungguh, jika bukan karena kekasih manisnya yang suka merajuk ini, mungkin Sehun tidak mau bersikap seperti ini. Sehun menggenggam tangan Jongin. "Aku juga muak dengan semua ini, Jongin. Aku lelah dan ingin merasakan kebebasan, maka dari itu aku memilihmu sebagai pendampingku. Aku selalu merasa bebas dan lepas saat bersamamu."
Mau tak mau, hati Jongin tersentuh. Ia sadar betul bahwa kekasihnya memang punya mulut yang manis―kadang ia memuji seseorang hanya untuk meminta bantuan, tapi saat Jongin menatap mata sipit Sehun, ia tahu bahwa Sehun serius dengan ucapannya. "Baiklah, aku akan ikut denganmu kali ini. Tapi aku tak bisa mentolerir lagi, jika kau sampai menyeretku ke acara-acara seperti ini tanpa ijin dariku. Mengerti?"
Sehun tersenyum sambil memberikan remasan lembut pada telapak tangan Jongin. "Tentu."
―
"Kau bersama kekasihmu eh?"
"Ya, begitulah."
Jongin berdecak pelan saat Sehun berbincang dengan seorang pria berambut coklat dengan iris mata abu-abu―sepertinya dia adalah orang Prancis―dalam bahasa Prancis yang jelas-jelas sama sekali tidak ia mengerti.
"Bisakah kau tunggu disini sebentar? Aku ingin berbincang sebentar dengan rekan kerjaku." Sehun menoleh pada Jongin yang memasang wajah muramnya.
"Hn." Jongin hanya menggumam samar, lalu berjalan ke arah pilar terdekat. Ia dan Sehun sekarang sedang berada di loby sebuah hotel berbintang lima di Paris untuk menghadiri jamuan makan malam―entah dengan siapa. Jongin menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar tersebut dan mulai mengutak-atik ponselnya.
"Jadi, ini adalah usahamu yang kesekian kalinya untuk membujuk Nenekmu eh?" Pria bermata abu-abu itu menyilangkan tangan di depan dadanya―berpose seperti bos yang terlihat angkuh.
"Cepat atau lambat, aku harus bisa membuat Granny menyetujui hubunganku dengan Jongin," balas Sehun.
"Kenapa harus pemuda itu sih? Jelas-jelas, Nenekmu tidak suka padanya. Lagipula, sikap liarnya itu kelihatan sangat sulit diatur."
Sehun menggumam mengiyakan.
"Dan jika kau ingin harta warisan Nenekmu jatuh padamu―"
Sehun menguap bosan.
"―seharusnya, kau bergerak cepat. Kau bisa saja kalah cepat dari Yifan. Bagaimanapun juga, kau adalah yang lebih berhak mendapat harta warisan Nenekmu. Yifan hanyalah orang baru dalam keluarga kalian."
"Yifan bukan masalah besar bagiku. Lagipula, dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun dan tidak ingin menjalin hubungan dalam waktu dekat. Kau tahu sendiri, jika cabang perusahaan yang diurusnya sangatlah banyak dan mengalami kemajuan yang pesat," ucap Sehun panjang lebar. "Dan kalaupun Yifan tidak mencari kekasih, aku yakin jika ia memiliki kans yang besar untuk mendapat harta warisan tersebut. Jasanya pada perusahaan sudah terlampau besar."
Pria bermata abu-abu itu mendekat ke arah Sehun dan menepuk bahunya. "Darah tak bisa digantikan dengan emas, Oh Sehun. Ingatlah itu."
Sehun hanya diam.
Pria berdarah Prancis itu membisikkan sesuatu pada Sehun. "Dan jika kau mau, kau bisa mendekati Luhan lagi. Dia masih berharap banyak padamu dan kujamin Nenekmu pasti akan lebih merestui hubungan kalian."
"Cih. Dasar murahan," cibir Sehun tak suka.
Pria itu tertawa. "Sudahlah, aku harus pergi dulu. Semoga beruntung, Tuan Muda."
―
"Apakah temanmu tadi juga akan ikut serta dalam jamuan?" tanya Jongin sambil menoleh ke arah samping kirinya―tepat ke arah Sehun.
Sehun masih memandang lurus ke depan sambil tetap berjalan. "Bukan. Kami hanya kebetulan saja bertemu," jawab Sehun.
Jongin mengangguk paham. "Lalu, dengan siapa kita akan makan malam? Rekan kerjamu yang lainnya?" tanya Jongin penasaran.
"Bukan," balas Sehun singkat. "Tapi, dengan Granny."
Jongin langsung menghentikan langkahnya. Tubuhnya mematung. Astaga, ia harus bertemu lagi dengan Nenek Sehun yang sangat kejam dan membenci dirinya. Wanita tua itu adalah penggila kesempurnaan, jadi saat terjadi kesalahan sedikit saja pada makan malamnya, ia akan berceloteh sepanjang dua hari ke depan. Jongin ingat betul saat ia bertemu dengan Nenek Sehun untuk yang pertama kalinya. Saat itu, ia masih jauh lebih muda dan tak mengerti tata cara yang benar saat berada dalam jamuan makan malam. Alhasil, Jongin membuat keributan kecil yang membuatnya disindir habis-habisan oleh wanita yang disebut Granny itu. Sepulangnya dari acara jamuan makan malam, Jongin langsung menangis semalaman di dalam pelukan Sehun. Jongin trauma untuk bertemu dengan keluarga Sehun lagi. Namun lama-kelamaan, Jongin seolah sudah kebal dengan sindiran halus yang ditujukan padanya. Memberontak pun sia-sia, dan menyerah pun sudah tak ada gunanya.
Sehun yang menyadari bahwa Jongin tak lagi berjalan beriringan dengannya pun ikut berhenti dan menoleh ke belakang. "Kenapa kau hanya diam saja disana, Sayang?" tegur Sehun sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa tidak bilang untuk bertemu dengan Granny? Aku tidak mau bertemu dengannya!" Jongin langsung menjerit frustasi.
Sehun menghela nafas panjang, lalu berjalan menghampiri Jongin. "Memangnya, ada apa?"
"Aku malas saja meladeni Nenekmu itu. Aku ingin melawan, tapi bagaimanapun juga dia adalah nenek dari kekasihku. Aku ingin diam saja, tapi dia pasti mengataiku 'dasar lemah!'. Aku lelah, Oh Sehun." Jongin menjambak pelan rambutnya yang sudah ditata sedemikian rupa oleh Kyungsoo.
Sehun bukannya merasa prihatin, ia justru tersenyum gemas melihat tingkah Jongin. "Kau hanya perlu bersikap manis di hadapan Granny. Jangan biarkan ia mencari sisi lemahmu. Mengerti?"
"Aku bukan tipe yang seperti itu! Aku bukan orang yang bisa menjaga diri hanya untuk mencari perhatian orang lain, Oh Sehun."
"Ya, aku tahu itu. Dan itulah kenapa aku menyukaimu." Sehun mengecup bibir Jongin lembut. "Sekarang, ayo kita masuk. Jika kau mundur sebelum berperang dengan Granny, dia akan semakin menindasmu," jelas Sehun.
Jongin menarik nafas dalam-dalam. "Baiklah, kalau begitu."
―
"Oh, kau sudah datang, Sehunnie." Malam itu, wanita yang berusia 70 tahun itu mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dengan payet-payet disana-sini yang membuatnya terlihat begitu cantik dan anggun. Grannya merentangkan tangannya agar Sehun bisa memeluknya.
Sehun pun segera memeluk neneknya dalam pelukan hangat. "Sehun rindu Granny," gumamnya pelan di telinga Granny.
"Aku juga merindukanmu," balas Granny. Wanita itu melepas pelukannya dan mundur selangkah untuk melihat pria yang berdiri di belakang Sehun. "Oh, jadi Jongin juga datang?" ucapnya dengan nada yang setengah menyindir.
Jongin mendongak. "Ya, Granny." Ia maju selangkah―berniat untuk sekedar memberikan salaman, namun Granny langsung membuang muka dan duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Jongin hanya bisa menggeram dalam diam. 'Dasar nenek sihir sialan.'
Sehun menoleh ke arah Jongin dan mengisyaratkan agar pemuda itu tetap bisa mengontrol emosinya. Sehun menarik kursi untuk Jongin dan mempersilakan kekasihnya itu untuk duduk.
Jongin hanya bisa pasrah dan menuruti instruksi Sehun.
Sehun pun duduk di kursi sisi sebelah kanan yang paling dekat dengan Granny. "Apakah Granny mengundang yang lain juga?" tanya Sehun.
"Tidak, hanya kau dan Yifan," jawab Granny lembut.
Jongin menggumam kesal.
"Setahuku, Yifan hyung masih menghadiri rapat dengan investor dari Arab Saudi. Kurasa, itu akan memakan waktu yang sangat lama," jelas Sehun.
"Ah, begitu ya," gumam Granny sambil memandang menerawang. "Apakah kau sudah lapar, Hun-ah? Bagaimana jika kita memulainya dulu dan Yifan bisa menyusul nanti?" tawar Granny.
"Terserah Granny saja."
Granny pun memanggil beberapa pelayan untuk segera menyiapkan makan malam mereka. Dan setelah semuanya siap, ketiga orang tersebut mulai menikmati makan malam dengan khidmat dan hanya diiringi oleh denting peralatan makan.
Namun keheningan kembali pecah saat Granny mulai membuka suara kembali. "Bagaimana kuliahmu, Jongin?"
Jongin yang sedang mengunyah santapannya nyaris saja tersedak. Ia buru-buru mengambil putih dan menenggaknya. "Kuliahku baik-baik saja, Granny," jawab Jongin sesopan mungkin―meski sebenarnya ia malas bertingkah manis di hadapan wanita tua itu. Jongin cukup terkejut, karena untuk pertama kalinya, Granny menanyakan sesuatu tentangnya.
"Kapan kau akan lulus eh?" Nada suara Granny mulai kedengaran seperti sedang menyindir Jongin. "Bukankah kau seumuran dengan Sehun? Lihat saja, sekarang Sehun sudah menjadi direktur utama di―"
"Sudahlah, Granny." Sehun mendesah pelan.
"―beberapa perusahaan keluarga. Aku benar-benar meragukan kemampuan otakmu." Granny tetap melanjutkan ucapannya―mengabaikan teguran Sehun.
Jongin menggeram rendah. Ia meremas kuat pisau dan garpu yang berada dalam genggaman tangannya. Lagi-lagi, ia dihina oleh wanita tua itu―dan dengan kata-kata yang cukup kasar pula.
Sehun meletakkan pisau dan garpunya. "Granny kan tahu sendiri jika aku mengambil program percepatan agar aku bisa segera membantu Yifan hyung untuk mengurus perusahaan," jelas Sehun.
"Tapi setidaknya, kekasihmu harus bisa mengimbangi cara berpikirmu dan cara berpikir keluarga kita, Oh Sehun. Dan sepertinya, Jongin tidak mampu akan hal itu," ucap Granny. "Kau lihat saja Xi Luhan. Dia jelas-jelas jauh lebih cerdas. Dia juga dididik oleh keluarga yang terhormat, jadi Granny bisa memastikan bahwa dia bisa mengimbangi cara berpikir keluarga kita."
Jongin hanya bisa tertunduk. Ia jengkel setiap kali ia harus dibanding-bandingkan dengan Luhan―pria yang sempat menjalin hubungan dengan Sehun dulu.
Granny menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya, lantas mengunyahnya hingga lembut. "Granny pikir, akan lebih baik jika kau menikah dengan Luhan saja―bukannya dengan Jongin, yang bahkan latar belakang keluarganya saja tidak jelas." Wanita itu tertawa hambar. "Pantas saja, ia tumbuh menjadi anak yang liar. Sungguh tidak sesuai dengan―"
"Maaf, Nyonya Besar Oh." Jongin mengangkat wajahnya. Matanya terlihat mulai basah karena air mata. "Saya tahu, orang tua saya sudah meninggal sejak saya kecil dan saya hanya diasuh oleh Bibi saya. Tapi satu hal yang perlu Anda ketahui―" Jongin mengusap matanya sendiri. "―saya selalu dididik untuk tidak memandang seseorang dengan sebelah mata. Hanya karena seseorang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, bukan berarti dia tidak layak mendapat kebahagiaan yang ia inginkan."
Granny nampak tercengang dengan ucapan berani seorang Kim Jongin.
Jongin bangkit dari duduknya. "Tapi dengan ucapan Anda malam ini, saya sudah cukup tahu bahwa Anda bukanlah orang yang berpendidikan baik. Saya yakin keluarga Anda bahkan tidak jauh lebih baik daripada keluarga saya."
DEG!
Sehun langsung mendongak dan menatap horor ke arah kekasihnya.
"Saya permisi dulu." Jongin membungkuk sekilas.
Namun sebelum Jongin melangkah pergi, pria itu kembali berucap, "Oh ya, Nyonya Besar Oh, apakah Anda sudah lupa dengan tata krama di meja makan? Tidak seharusnya Anda berbicara saat di meja makan, Nyonya Besar."
Jongin tersenyum mengejek, sebelum ia benar-benar melangkah pergi.
―
"Dasar wanita brengsek." Jongin menggumam pelan di tengah isak tangisnya. Ia sedang berada di luar hotel yang baru saja ia kunjungi. Ia berusaha menahan isak tangisnya tadi, karena ia tak ingin terlihat semakin lemah di hadapan Granny. Dan kini, ia menumpahkan segalanya. Ia sudah lelah dihina seperti itu, padahal ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.
Apakah tidak dibesarkan oleh orang tua kandung itu adalah sebuah kesalahan?
Memangnya, anak mana yang rela ditinggal oleh orang tuanya?
Tidak ada, kan?
Jongin kecil sama sekali tak punya pilihan. Kematian kedua orang tuanya adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan dan Jongin hanya bisa menjalaninya. Pantaskah wanita dewasa seperti Granny menyalahkan Jongin atas sesuatu yang tak pernah dilakukannya?
Jongin merasa Granny benar-benar sudah kelewatan padanya. Wanita itu sudah membawa-bawa masalah keluarganya―yang jelas-jelas, Granny saja tidak mengetahuinya dengan baik. Jika ia hanya dibanding-bandingkan dengan Luhan, Jongin tidak terlalu mempermasalahkannya. Jongin rela dihina, asal itu bukan keluarganya.
"Maafkan aku, Ayah, Ibu, aku tak bisa menjaga nama baik kalian." Jongin menggumam pelan sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Masa bodoh, jika orang-orang memandanginya. Ia hanya sudah lelah berpura-pura tegar.
Dan apa-apaan ini? Apakah Sehun tidak berusaha mengejarnya?
Ah, Jongin tahu. Pasti nenek sihir itu yang sudah menghalangi Sehun untuk menemui Jongin.
Jongin seharusnya sudah tahu hal ini. Kekasihnya tak lebih dari boneka Granny. Sehun terlalu patuh pada ucapan neneknya, karena bagaimanapun juga, Sehun tak ingin dicoret dari daftar ahli waris keluarga Oh. Ah, seharusnya dari awal saja Jongin menyadari ini semua―tentang betapa liciknya Sehun dan rumitnya keluarga Oh. Tapi kini Jongin sudah terlalu jauh masuk ke dalam pusaran cinta Oh Sehun.
"Kau Jongin, kan?" Sebuah suara mendadak membuat perhatian Jongin teralihkan.
Jongin menoleh ke sumber suara―masih menunjukkan wajah yang sembab. "E-eh? Yifan hyung?"
Yifan tersenyum sekilas. "Kenapa kau ada di luar sini? Bukankah seharusnya kau berada di dalam bersama Sehun dan Granny?"
Jongin mengusap tengkuknya. "Aku malas melanjutkan makan malam."
Yifan mengernyit selama beberapa detik, kemudia seolah bisa menangkap makna yang tersirat di raut wajah Jongin. "Ah ya, aku bisa mengerti." Meski ia tak terlalu dekat dengan Jongin, namun ia tahu betul tentang masalah Granny yang belum juga merestui hubungan Sehun dan Jongin. "Bagaimana kalau aku mengantarmu ke suatu tempat? Kita bisa jalan-jalan, mungkin?" tawar Yifan.
Mata Jongin nyaris melompat keluar. Jalan-jalan? Di Paris? Ditemani dengan pria tampan seperti Yifan―yang bahkan lebih tampan dari Sehun? "Eh, bukankah kau harus pergi menemui Granny juga, Hyung?" tanya Jongin memastikan.
Yifan tertawa kecil. "Makan malam dengan Granny bisa kulakukan kapan saja. Yang langka adalah menghabiskan waktu dengan calon adik iparku," balas Yifan ringan. "Lagipula, bisa kupastikan kalau kau belum sempat menikmati suasana Paris kan?"
Jongin mengangguk samar.
"Nah, kalau begitu, ayo pergi saja bersamaku."
to be continued...
replies:
babesulay: iya dear. saya mau fokus ke ff ini dulu. kalau ff buat event ini sudah kelar, mungkin saya bisa langsung lanjutin no money kok. btw thanks for ur review :)
Mizukami Sakura-chan: Semoga rasa penasarannya sudah terjawab di chap ini hehe. btw thanks for ur review :)
Kamong Jjong: eh masa bikin ngakak? padahal saya nggak ngelawak wkwk. chapter awalnya masih pendek dulu, sekarang udah lebih panjang kan? btw thanks for ur review :)
novisaputri09: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
Kim In Soo: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
amalia1993: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
myungricho: ini udah lebih panjang kan? hehe. btw thanks for ur review :)
hyura . kim . 5: rasa penasarannya udah terjawab belum nih? wkwk. btw thanks for ur review :)
Keepbeef Chicken Chubu: ikutan pukpuk deh haha. btw thanks for ur review :)
maknaelovers: aduh jadi ikut seneng deh hehe. ini sudah dilanjut ya. makasih doanya ya kkk~ btw thanks for ur review :)
putrifibrianti96: iya, saya juga semangat sama eventnya hehe. hm ini cinta segi banyak kkk~ btw thanks for ur review :)
mole13: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
afranabilah19: kasian uri Jongin kkk~ iya, Chanyeol ngefans tuh sama Jongin kkk~ btw thanks for ur review :)
jonginisa: ini udah lanjut ya. udah lebih panjang juga kan? kkk~ btw thanks for ur review :)
Jongin48: posesif atau gimana ya? kayaknya baru terjawab di akhir cerita kkk~ btw thanks for ur review :)
chotaein816: ini udah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
eviaquariusgirl: saya lebih setuju kalo Jongin sama Kris /slapped/ btw thanks for ur review :)
gyusatan: MAKACYIIIIHHH. saya ingin bikin karakter Jongin yang liar dan lebih tegas disini. jadi fluffnya itu di bagian Jongin yang suka marah-marah ga jelas gitu (?) btw thanks for ur review :)
melizwufan: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
maya han: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
Jongkwang: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
laxyovrds: ini udah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
Akasuna no Akemi: ini udah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
askasufa: iya, karakter sehun sama kayak ayahnya hehe. hm pertanyaannya udah terjawab di atas ya. iya, jongin yang emosional itu lucu, sekaligus seksi (?) btw thanks for ur review :)
LM90: aduh saya tersanjung ada yang suka sama saya /.\ love you too ya wkwk. ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
adilia . taruni . 7: rasa penasaranya udah kejawab belum nih? wkwk. btw thanks for ur review :)
ling-ling pandabear: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
uthienz . keykimkibum: ini udah lebih panjang kan? kkk~ btw thanks for ur review :)
yukarivivi: saya juga sukaaa kkk~ btw thanks for ur review :)
Baby Magnae: makasih atas doanya ya. btw thanks for ur review :)
thiefhaniefha: sehun kan emang selalu begitu kkk~ btw thanks for ur review :)
Guest: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
utsukushii02: iya, kasian Jongin kkk~ btw thanks for ur review :)
azzahra: makasih pujiannya /.\ iya, judulnya pake bahasa prancis dan artinya Kekasih Sempurna. btw thanks for ur review :)
kae: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
bapexo: ini malah cinta segi banyak kkk~ btw thanks for ur review :)
nhaonk: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
Guest: hai! salam kenal juga ya! aku juga hunkai-kriskai shipper loh /tos/ btw thanks for ur review :)
metamorf: kalo mereka putus, kan ceritanya selesai gitu aja kkk~ iya nih, Chanyeol nyempil-nyempil kkk~ btw thanks for ur review :)
kyuubi chan: Sehun kan kejam kkk~ hm Sehun sayang kok, tapi... rahasia kkk~ btw thanks for ur review :)
Guest: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
JeonYeona: ini sudah lanjut ya. btw thanks for ur review :)
―
dee's note:
semua review―baik yang login ataupun enggak―terpaksa saya balas disini saja ya. saya lagi menghemat kuota, biar tetep bisa update fic huhuhu ;-; anyway, saya seneng banget karena reviewnya bisa mencapai 40 ke atas. makasih banyak /ciumin/
dan saya juga mau ngasih tahu tentang arti judul yang saya ambil. le fiance ideal itu adalah bahasa prancis yang memiliki arti kekasih sempurna
buat yang menantikan Angel Without Wings, mungkin akan saya publish lusa hehe
jangan lupa tinggalkan review ya dear. review kalian benar-benar sangat membantu dan memberi support buat saya. terima kasih ^^
xoxo,
rappicasso
