Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Story © Ayuha chaan.

Warning : AU! OOC! And maybe some miss and typo(s) with amburegul Plot.

RnR and Happy Reading!

But, don't flame me if this fic is a junk and OOC tingkat tinggi.

[Pergantian POV]

-00-

Kupikir dengan statusku yang berubah dimata ibu, dia akan berhenti mengurusi semua masalah pribadiku.

Ternyata memang nol besar.

Rasa keingintahuan ibu terlalu besar dan sulit sekali untuk di hancurkan.

Pemuda bermata oniks itu terduduk kalem di sofa rumahnya. Jemarinya sedikit memijat-mijat pelipisnya. Hembusan berat keluar begitu saja dari bibir merahnya.

Hanya sebuah deheman saja yang dapat mengembalikannya dari rasa gamangnya.

"Lalu, apa yang membuatku tiba-tiba terseretkan ke rumah ini?" desis gadis merah muda yang sedari tadi hanya berdiri di hadapan pemuda bermarga Uchiha itu.

Well, Sasuke tidak benar-benar mengerti keadaan karena kejadian itu terjadi begitu saja.

Dimulai dengan datangnya sang ibu dengan tiba-tiba.

"Kupikir kau sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Uchiha-san." Wajah Mikoto menoleh dengan slow ditemani dengan keringat dingin yang keluar.

Mikoto mengangguk lemah sembari mendengar celoteh dua sejoli berbeda kelamin yang terbalut pakaian khas Uzumaki itu. Mereka mendesis Mikoto dan Sasuke dengan kata-kata yang pedih, membuat Mikoto meringis dalam hati.

Setelah kepergian para Uzumaki, Mikoto menggeletukkan gigi depannya. "Ini salahmu Sasuke," dan dengan kekuatan kakinya, ia melangkah ke arah yang bersamaan dengan arah kaki putranya yang sudah pergi sedari tadi.

Ia paham, Sasuke pasti akan pergi ke tempat sana. Dan dengan diantar oleh helikopter milik klan Uchiha, Mikoto pun sampai.

"Aku ingin kau menjadi pacarku," ucapnya.

Gadis merah muda yang bernama Sakura itu melongok, tidak paham akan apa yang tengah diucapkan lidah si bungus Uchiha itu. "Untuk apa aku menjadi pacarmu? Ah, maksudku. Kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya."

Sasuke mendesah tertahankan. "Aku tahu," akunya. "Tapi ini demi ibuku. Dia sangat ingin tahu tentang diriku. Bahkan mencoba menjodohkanku. Dan kupikir, jika aku memiliki pacar, dia akan berhenti mengurusiku," lanjutnya dengan terus terang.

Sakura ikut mendesah. "Aku tidak bisa."

"Mengapa?"

"Aku sudah punya orang yang kusukai."

"Lalu?"

Perempatan jalan pun tertempel di jidat luas Sakura. "Tak bisa kah kau mengerti?"

Sasuke mengangguk tanda mengiyakan. "Tapi, dia hanyalah seseorang yang kau sukai."

"Onna-chaaan~ ibu buatkan kue untukmu. Ibu harap kau tidak keberatan dengan kue ini," ucap Mikoto kegirangan—yang berhasil memotong pembicaraan mereka—sembari menyodorkan setoples penuh kue yang tampaknya lezat.

"Ah, iya terimakasih," Sakura berkata dengan sopan.

Mata Mikoto berbinar. "Coba kau ceritakan siapa dirimu, apa golongan darahmu, kau dari keluarga mana, kelas berapa, tipe lelaki yang kau sukai, hmhm?"

Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ibu, kau jangan banyak bertanya. Yang penting dia ini—," Sasuke lupa! Dia tidak tahu nama gadis ini. Oniks pekatnya pun bergulir untuk memfokuskan pada emerald hijau Sakura.

Sakura mendesah. "Namaku Sakura, Haruno Sakura. Senang berkenalan dengan anda," katanya sopan sembari membungkuk. "Bahkan nama saja kau tak tahu," bisik Sakura pada Sasuke sebelum ia duduk di samping Sasuke.

"Mulai sekarang, kau harus memanggilku ibu, Sakura-chan~," titah Mikoto.

Sasuke langsung kelabakan. "A-apa yang ibu maksud?"

"Hohoho. Pacar Sasuke adalah anak ibu," dan Sasuke hanya bisa menepuk jidatnya. "Dan kalian harus selalu pulang bersama."

==00==

Hari masih pagi.

Gadis musim semi itu sudah berjalan di trotoar menuju gedung sekolah yang tinggal beberapa langkah lagi.

Tak biasanya dia sudah mendatangi sekolah sepagi ini. Tapi demi cowok jutek itu, dia harus datang sepagi ini.

Pasalnya, ibu dari cowok super jutek itu membawakan bekal untuknya. Agar tidak diketahui oleh siapapun, ia harus datang pagi-pagi dan mengambilnya di atap sekolah.

"Saku-chan, ohayou. Tak biasanya kau datang sepagi ini," suara bagai pangeran itu! Ya, suara orang yang sangat ia dambakan.

"A- Iya. Hari ini ada beberapa urusan yang harus kukerjakan terlebih dahulu. Ja-jadi, aku datang cepat hari ini, ehehehe," ucapnya canggung disambung dengan kekehan garing.

Pemuda itu tersenyum ramah. "Fighting," dan kemudian dengan sopan pergi perlahan-lahan membuat ada sesuatu yang berdebar pada tubuh gadis musim semi yang dipanggil Sakura itu.

Sakura mempercepat langkahnya, mengingat waktu terus bergulir selama ia berdiam diri nge-blushing ria. Sesekali ia melirik jam tangan berwarna senada rambutnya sembari berlarian menuju atap sekolah.

"Lambat," sebuah suara menyadarkannya kalau ia sudah sampai di atap.

Sakura mengatur napasnya yang naik turun lalu perlahan namun pasti ia berjalan menuju cowok jutek itu. Napasnya masih tersenggal-senggal, namun ia mencoba bersuara. "Masih untung aku kemari."

Jidat Sasuke berdenyut. "Aku pikir kita tidak satu sekolah! Kalau aku tahu, aku takkan mau membuatmu menjadi pacar pura-puraku."

"Tapi, bagaimana caranya ibumu bisa tahu kalau kita ini satu sekolah, sementara kita sendiri saja tidak tahu kalau kita satu sekolah?" pertanyaan terlontarkan.

Sasuke sedikit mendengus. "Ibuku itu nyonya besar dari Uchiha corps. Ia bisa dibilang punya semuanya. Itulah mengapa ia bahkan bisa mengetahui identitas seseorang dengan waktu yang singkat. Apalagi kalau orang itu ada hubungannya denganku, pasti ibu dengan secepat kilat mencari-cari informasi tentangnya."

"Sasuga Uchiha Clan," Sakura hanya bisa berdecak kagum dan itu yang membuat Sasuke sebal.

"Sudahlah. Aku sudah tidak ingin berhubungan denganmu lagi. Tapi, tolong ambil saja bento buatan ibuku ini," Sasuke menyodorkan kotak bekal dengan balutan sapu tangan merah muda yang imut dan Sakura meraihnya.

"Itu harusnya menjadi kalimatku! Aku tak mau bertemu denganmu lagi."

==00==

"Hwaa! Tampaknya lezat!" ucap gadis berambut pirang ketika melihat ke kotak bekal yang baru saja Sakura buka. "Apa kau membuatkan satu untuk sensei?"

Sakura menggeleng dengan cepat. "Untuk apa?"

"Ha? Kau bahkan tak membawakan sensei bento? Lalu mengapa hanya kau saja yang bawa?"

Aku juga sebenarnya tidak membawanya, ehehe. Sakura membatin dengan kekehan garingnya.

"Uhmmm, Uenaak! Ini enak sekali, Sakura. Besok, bawakan lagi!" titah Ino, gadis bermarga Yamanaka yang pirang dengan bangs menutupi satu mata ala gangsta, setelah mencoba satu gigitan dari bekal yang berada di meja Sakura.

Sakura keringatan. Sumpah, itu bukan dia yang buat. "Ano, Ino. Aku tak mau membawakannya lagi. Ini pun karena aku tadi telat bangun dan tidak sempat sarapan. Kau tahu, membawa bekal itu sangat menyusahkan," Sakura mencoba merangkai beberapa kalimat yang bisa dijadikan alasan.

"Hmm," Ino tampak menimang-nimang. "Kau bodoh atau apa. Tadi pagi kapten tim basket kita datang ke kelas kita dan mencarimu. Saat kubilang kau belum datang, dia begitu antusias kalau sudah melihatmu dari pagi-pagi sekali."

Sakura meneguk ludahnya dengan susah payah. Apakah ia tidak benar-benar bisa berbohong?

"Ah sudahlah. Mungkin tadi pagi kau benar-benar ada masalah," Sakura dapat menghembuskan napas lega ketika mendengarnya. "Oh ya, mengapa tak kau coba untuk memberikan bekal untuk si kapten?" dan akhirnya wajah Sakura pun termuncratkan oleh ronaan kemerah-merahan.

"A-apa sih. A-aku tidak bisa memasak, kau kan sangat tahu aku."

"Ehh? Lalu, bekal ini?"

Mungkin aku terlahir tanpa bakat untuk membohongi orang yang kupercaya. Batin Sakura meringis pedih.

"Sensei ya. Dia kan yang buat?" Sakura awalnya tak terpikirkan oleh hal itu, tapi akhirnya dia pun sadar kalau masih ada alasan seperti itu. Sakura pun mengangguk dengan cepat.

Ino membisikkan sesuatu pada telinga Sakura kemudian. Membuat Sakura kaget setengah mampus.

==00==

Waktu pulang, waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa. Itu telah menjadi fakta di sekolah manapun. Bisa dilihat dari para siswa yang berhamburan keluar sekolah setelah bel berakhirnya pelajaran hari itu berbunyi.

Seperti biasa, Sakura selalu keluar kelas sendirian. Itu karena si kawan Yamanaka itu telah kabur bersama pacarnya entah kemana. Hal itu yang selalu membuat Sakura berharap kalau ia bisa mendapatkan pacar, supaya ia bisa pulang bersama orang yang membuatnya bahagia.

"Yo," ucapan itu membuyarkan pemikiran Sakura yang sedang mengimajinasikan kalau ia sedang ber-lovey-dovey ria bersama pacar khayalannya.

"Sa-Sasuke?! Ngapain kau di sini?"

Dengan wajah bodohnya, Sasuke berucap, "Menunggumu."

"Ti-tidak mungkin. Kau pasti sedang jatuh cinta pada pagar sekolah sehingga kau terus-terusan berdiri di samping pagar itu, 'kan?" ucapnya dengan pemikiran yang sudah absurd.

Kening Sasuke berdenyut-denyut. Dengan cepat, tangan kanan Sasuke berhasil menyentil kening lebar Sakura. "Aku bukan orang seaneh itu, bodoh."

"Aw. Sakit, bodoh. Mana mau aku pulang ber—."

"—Kumohon."

Manik Sakura melebar, ia tidak tahu kalau Sasuke memiliki sisi seperti ini.

"Ibuku pasti tidak akan tinggal diam kalau ia tahu aku tak bersamamu saat pulang. Apalagi kita resmi dianggap berpacaran olehnya," akunya.

Sakura berkeringat, pemikiran pulang bareng padahal baru saja ia imajinasikan, tetapi mengapa dengan orang ini? "A-apa sih. Me-memangnya ibumu penyihir apa? Mana mungkin dia bisa tahu kalau kau pulang bersama siapapu—."

"—Sudah kubilang, ibuku seperti punya semuanya."

Sakura bergeming. Tak ada tanda-tanda ia ingin melakukan suatu hal.

"Aku ingin kau kembali menjadi pacarku. Ah tidak, pacar pura-puraku."

Sakura gelagapan. "A-aku. Aku," Sakura masih canggung, ia tak tahu harus menjawab apa.

"Ah, Saku-chan, kebetulan sekali. Tadi pagi aku mencarimu tapi kau tidak ada. Untung saja aku bertemu denganmu di sini sebelum kau pulang," sebuah suara kalem membuyarkan percakapan serius yang tadi dibicarakan.

Sakura menoleh ke wajah sang empunya suara lembut itu. "Aku ingin pulang bersamamu, Saku-chan."

To Be Continued...

Horaaww..

Maaf singkat. Maaf telat apdet. Maaf maaf maaf orz.

Saya kemarin sedang hiatus, karena masalah pribadi, jadi saya gak lanjutin cerita saya yang manapun, hiks gowwmennn..

Arigatou gozaimashita untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu berharga kalian untuk membaca cerita saya yang absurd nampaknya. Tapi Insya Allah ngangenin wkwk

Oh ya, ini ada perbaikan judul. Soalnya judul yang kemarin ternyata kurang sreg aja gitu. Hehehee..

Sore jaa, mata ao yo! Sampai ketemu di chapter depaannn...

Semoga makin penasaran huhuhuu..

Oh ya satu lagi, saya mau minta review untuk perkembangan fict amburegul ini ya ARIGATUOUUU yo minna-san...

Salam manis,

Ayuha chaan.

Kolom Review:

hanazono yuri : Sudaaah :D

suket alang alang : Makasih udah dibilang keren :D iya hehe, udah dijelasin di ch ini yaaa.. untuk masalah itu, gomen. Tadinya saya bikin semuanya itu Kushina, lalu setelah beberapa kali diulang-ulang baca, ternyata saya baru sadar kalau ibunya Sasuke itu Mikoto, jadi saya ganti deh semua yang Kushina jadi Mikoto. Pas lagi enak-enak edit, eh mati laptopnya. Terus aku hidupin lagi, edit lagi. Dan mungkin ada yang kelewat deh, hiks. Maapkan. Dan oke sudah lanjut :D

Yoktf : Iya fict anget (dulu). Sudaah

: Sengaja ooc emang hehe, thx sudah suka Sasuke kami yang seperti ini. Sudaah yaa.

sakura uchiha stivani : sudahhh :D

: Mau tahu itu ooc atau enggak? Baca aja sampe habis yaa :'D

Lhylia Kiryu : Yosh! Akan kuperbaiki lagi kedepannya. Thx. Sudah lanjut.

shityrukoyach05 : Sudah :D

desypramitha26 : Oh ya hehehe.. thx udah dibilang kereenn.. sudah apdett..

An Style : Iya nichh ooc diaa wkwk. Makasih udah sukaa hehe. Iya lanjut kok. Maap gak kilat hiks.

hermanhs9d :Semoga endingnya sesuai keinginan deh..