Arahabaki? Aku tidak tahu apapun soal itu. Ingatanku tentangnya berhenti ketika aku berusia tujuh tahun. Tidak, aku tidak bohong jika aku tidak ingat apapun sebelum aku berusia tujuh tahun. Sampai sekarangpun aku masih meragukan eksistensiku di dunia ini.—Eksistensi Nakahara Chuuya, 7 tahun, 29 April.
#
.
#
Nakahara Chuuya, 16 tahun, 20 Juni.
Sementara Dazai dan Odasaku berjalan didepanku sambil membicarakan sesuatu, aku memutuskan untuk menatap punggung mereka dari belakang, bukannya tidak ingin ramah. Hanya saja aku terlalu malas untuk sekedar mengikuti arah pembicaraan mereka.
Dazai tertawa mengejek, "Chuuya semakin tinggi ya~" aku mendelik dan membalasnya dengan kata-kata kasarku. Odasaku hanya menghela nafas berat, sudah terbiasa.
Butuh dua jam dari markas Port Mafia menuju rumahku—atau lebih tepatnya aprtemenku— bisa saja aku menggunakan motorku untuk pulang, itu bisa menyingkat waktu satu setengah jam perjalanan. Namun Dazai tak selalu mengizinkan itu terjadi.
Dazai sering menggagalkanku ketika hendak menggunakan motor. Dan kami akan pulang bersama dengan berjalan kaki. Biasanya dia akan mengajakku memotong jalan dengan memasuki gang-gang kecil, mengambil jalan pintas ditengah bangunan, dan bahkan memanjat tembok apartemen orang lain.
Lucunya aku dengan keras kepala selalu menurutinya, jangan katakan aku masochist. Aku bukan tipe seperti itu.
Sudah dua tahun sejak aku mengenalnya, dan sikapnya semakin buruk saja. Dia masih sama, menyukai hal-hal tidak berguna dan sering mengeluh ini itu. Terkadang aku penasaran bagaimana Odasaku bisa terus bersabar dengan sikapnya yang super menjengkelkan itu.
Odasaku berjalan menuju arah barat, meninggalkan aku dengan makerel gila ditengah jalan. Dazai kembali menggodaku. Dia menyidir soal tinggi badanku lagi, dan memanggilku dengan sebutan 'Chibiko'. Aku berteriak dan berlari mengejarnya. Dazai tertawa terbahak-bahak sambil terus berlari menjauh. Aku memaksa kakiku berlari mengejarnya, tapi tiba-tiba langkahku terhenti, aku tidak tahu kenapa, tetapi aku merasa takut.
'Berapa sisa waktu yang kami miliki?'
#
.
#
Nakahara Chuuya, 18 tahun, 10 Januari
Aku tidak menyadari apapun kecuali suara bising kendaraan dijalanan kota. Bukan masalah berapa banyak aku meneguk alkohol, atau masalah mobilku yang meledak tadi sore.
Sial. Aku tidak tahu, dan itu tidak penting.
Ketika aku keluar, langit sudah petang. Aku berjalan terhuyung-huyung, menabrak pejalan kaki lain, pagar pembatas jalan, dan dinding.
Aku tidak peduli, aku ingin melupakan semuanya.
Suara Tachihara terngiang ditelingaku. 'Chuuya-san, Odasaku-san….' Ingatanku langsung berputar gila sambil terus berlari kecil menuju rumah sakit khusus Port Mafia. Lorong rumah sakit terlihat gelap dan panjang. Aku melewati seorang berpakaian perawat mendorong alat-alat medis. Hatiku berdengup kencang.
Saat aku datang, wajah mereka pucat. Mereka terlihat seperti orang mati. Aku bertanya tidak sabar, dimana Dazai. Namun mereka hanya menggelengkan kepala.
Di dalam ruangan yang sedikit terbuka, Odasaku terbaring disana. Pada saat itu aku mendengar kobaran api, suara ledakan keras dan jeritan tertahan anak-anak. Aku memegang kepalaku dan terjatuh.
'Kau terlambat, ini salahmu. Eksistensimu di dunia ini tidak berguna…' Tidak. Itu bukan suara Dazai.
...Itu suaraku.
Aku tersiksa oleh momen tak terkira, aku tidak ingin mempercayainya. Tapi Odasaku terbaring disana. Dia terbaring diruangan yang dipenuhi manusia yang sudah menjadi mayat. Dan Dazai menghilang entah kemana.
Keparat!
Kelompok bernama Mimic itu sudah lenyap, begitu juga dengan 'eksekutif termuda' yang ternyata seorang pengecut. Cih. Bullshit sekali mulut dan tindakannya. Harusnya aku bunuh saja dia hari itu. Ah, sialan kepalaku bertambah berat rasanya.
Saat aku menyebrang jalan, seseorang memegang tanganku hingga aku berhenti. Siapa kau? Tidak, tidak. Aku tidak peduli dengan siapapun. Biarkan aku bernafas. Rasanya terlalu sesak. Sial. Berapa kali aku harus berteriak. Aku tidak ingin menyakiti siapapun sekarang, aku juga tidak ingin tersakiti.
Jadi tolong, menjauhlah…
Aku terus berjalan dengan air mata yang mengalir. Lucu sekali. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis.
Tubuhku ambruk. Aku tidak peduli dimana aku terjatuh. Biarlah, aku yakin salah satu dari mereka pasti akan datang membawaku kembali. Kelopak mataku terasa berat, perlahan pandanganku semakin buram, air mata yang menggenang dipelupuk mataku adalah sebabnya. Saat butiran bening itu mengalir dan jatuh menyentuh tanah, saat itulah aku terpejam.
.
.
END.
A/n: Hyyh noteXNakahara Chuuya done. (lol) yang ini baru keliatan kek notes haha. Walaupun masih ga ngena ya gak.. Wkwkw.
Btw sungguh saya terkejut masih ada yang baca ff omelas sama unbk kkkkk~~ terimakasih buat yang menyempatkan membaca. T.T Maaf belum bisa update hehe.
Intinya terimakasih ya buat yang menyempatkan membaca~~
