Disclaimer : Detektif Conan milik Gosho Aoyama.


Ruang Rindu

Cinta Pada Pandangan Pertama

By Enji86

Sore itu, Shinichi untuk kesekian kalinya, sebagai inspektur, berlari mengejar penjahat sendirian, sementara dia menyuruh anak buahnya mengejar menggunakan mobil. Penjahat itu agak berbahaya karena dia membawa senjata api rakitan. Penjahat itu berlari ke arah sungai di bawah jembatan diikuti oleh Shinichi. Setelah sampai di tepi sungai di bawah jembatan, penjahat itu berhenti dan berbalik kemudian menodongkan pistolnya ke arah Shinichi.

"Dasar polisi bodoh, kau terjebak sekarang" ucap penjahat itu.

"Huh, kau tidak akan bisa kabur, anak buahku pasti segera sampai ke sini. Kau tidak akan bisa lolos" ucap Shinichi percaya diri.

"Aku tidak peduli jika harus tertangkap. Yang kuinginkan adalah balas dendam padamu karena kau sudah menjebloskan adikku ke penjara" ucap penjahat itu.

Shinichi sedikit terkejut tapi dia berhasil menyembunyikannya di balik wajahnya yang masih penuh percaya diri. Otaknya sedang bekerja keras untuk menemukan strategi yang tepat untuk melumpuhkan penjahat di depannya.

"Hmm, kelihatannya kau sudah siap mati. Sekarang mati kau polisi sialan" ucap penjahat itu bersiap menembakkan pistolnya.

Tiba-tiba ada sebuah bola sepak yang menerjang kepala penjahat itu sebelum penjahat itu sempat menembakkan pistolnya. Terjangan bola itu memang tidak berefek besar pada penjahat itu karena kekuatan tendangannya lemah tapi cukup untuk mengalihkan perhatian penjahat itu sehingga Shinichi bisa menerjang penjahat tersebut ke tanah dan melumpuhkannya dengan sukses.

Shinichi mengambil bola sepak tersebut lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari asal muasal dari bola sepak yang menerjang penjahat tadi kemudian dia melihat anak buahnya berlari ke arahnya.

"Anda tidak apa-apa, inspektur?" tanya Mizuki.

"Aku baik-baik saja. Penjahatnya sudah berhasil kulumpuhkan. Kita bisa membawanya ke kantor polisi sekarang" jawab Shinichi.

"Ngomong-ngomong, kenapa anda membawa bola sepak?" tanya Daichi.

"Oh, ini..." ucapan Shinichi dipotong oleh suara seorang anak perempuan.

"Itu punyaku" ucap Suzuna membuat ketiga polisi itu menoleh ke arahnya dan kedua temannya.

Jantung Shinichi seperti berhenti berdetak melihat Suzuna, terutama rambutnya. Warnanya sama persis dengan rambut Shiho, bedanya Suzuna berambut panjang dan diikat ekor kuda.

"Zuzu, apa yang kaulakukan di sini?" tanya Mizuki.

"Tadi aku, Sakura-chan dan Nanako-chan sedang berjalan pulang lalu kami melihat om detektif ini mengejar penjahat jadi kami ikuti. Kami melihat om detektif ini ditodong pistol jadi aku menendang bola yang kubawa ke arah kepala penjahat itu untuk mengalihkan perhatiannya supaya om detektif ini bisa menghajar penjahat itu" ucap Suzuna polos diikuti anggukan kedua temannya.

"Anak ini, dia bisa memperkirakan semua itu. Dia jenius dan dia benar-benar anak kecil. Tidak seperti Conan yang aslinya adalah aku yang berumur 17 tahun. Siapa anak ini sebenarnya?" pikir Shinichi.

"Zuzu, kalau ibumu tahu kau dan teman-temanmu melakukan sesuatu yang berbahaya, dia bisa marah" ucap Mizuki.

"Eh, kami tidak melakukan sesuatu yang berbahaya kok. Kami hanya membantu om detektif ini. Aku juga pasti cerita ke ibu nanti" ucap Suzuna membela diri.

"Iya detektif Mizuki, kami kan cuma ingin membantu" ucap Sakura.

"Betul, betul" seru Nanako.

Ucapan-ucapan anak kecil ini membuat Shinichi teringat pada shonen tantei.

"Sudahlah, Mizuki-san" ucap Daichi pada Mizuki kemudian mengalihkan pandangannya ke Shinichi. "Inspektur bolanya bisa kuambil?" ucap Daichi yang langsung mengambil bola dari tangan Shinichi tanpa menunggu jawaban dari Shinichi kemudian menyerahkannya pada Suzuna. "Nah, Suzuna-chan, ini bolamu, sekarang kau harus pulang bersama teman-temanmu. Oh ya, dia ini bukan detektif tapi inspektur" ucap Daichi sambil menunjuk ke arah Shinichi.

"Oh, begitu. Terima kasih, detektif Daichi. Sampai nanti detektif Mizuki" ucap Suzuna kemudian dia melangkah menjauh dari bawah jembatan bersama Sakura dan Nanako.

"Apa kalian mengenal mereka?" tanya Shinichi tiba-tiba, membuat Daichi dan Mizuki kaget karena dari tadi Shinichi diam seribu bahasa.

"Lebih baik kita bicara di jalan. Kita harus membawa penjahat ini ke kantor polisi sekarang" ucap Daichi.

"Sepertinya Daichi-kun lebih cocok jadi inspektur daripada Kudo-san" ucap Mizuki dalam hati.

Daichi membopong penjahat yang pingsan dan mendudukkannya di kursi belakang mobil polisi dan duduk di sebelahnya. Sementara Mizuki duduk di kursi pengemudi dan Shinichi duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi.

"Jadi siapa anak-anak itu?" tanya Shinichi membuka pembicaraan ketika mobil mulai berjalan.

"Oh, mereka itu hanya anak-anak yang suka main detektif-detektifan, terutama Suzuna-chan. Mungkin turunan dari ayahnya. Ayah Suzuna-chan adalah detektif polisi seperti kami. Sayang dia sudah meninggal 1 tahun yang lalu karena tertabrak bus ketika mengejar penjahat" jawab Daichi.

"Taka-niisan sangat mencintai pekerjaannya. Dia sangat bangga menjadi detektif polisi. Mungkin karena itu, Zuzu juga ingin menjadi detektif polisi seperti ayahnya" ucap Mizuki muram.

"Nii-san?" tanya Shinichi.

"Ya, Zuzu adalah keponakanku. Ayahnya adalah kakakku. Maaf kalau tadi Zuzu sempat mengganggu anda menjalankan tugas" ucap Mizuki.

"Ah, tidak mengganggu kok. Dia benar-benar menolongku tadi" ucap Shinichi sambil tersenyum tanpa alasan.

"Suzuna Yuzawa, huh? Anak yang menarik. Kasihan sekali dia, kehilangan ayahnya saat masih sekecil itu. Andai aku bisa jadi ayahnya... Tunggu... Apa sih yang aku pikirkan. Kurasa aku mulai gila karena masalah anak" pikir Shinichi.

Sesampainya di rumah, Shinichi tetap tidak bisa menghilangkan Suzuna dari pikirannya. Dia merasa dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Suzuna, tapi bukan cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita, dia masih normal, tapi cinta seorang ayah kepada anaknya. Dulu dia juga baru sadar kalau dia jatuh cinta pada Shiho setelah melihatnya dalam ukuran sebenarnya.

"Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih atas bantuannya tadi. Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi, Suzuna Yuzawa" ucap Shinichi dalam hati.

XXX

"Aku pulang" ucap Shiho setelah masuk rumah.

Suzuna yang mendengar suara ibunya segera berlari dari depan TV untuk menyambut ibunya.

"Kau kelihatan senang sekali, sayang? Apa ada hal menyenangkan yang terjadi?" tanya Shiho sambil menggandeng Suzuna kembali ke depan TV.

"Ya, tadi aku menolong seorang inspektur polisi melumpuhkan penjahat" ucap Suzuna ceria.

Senyum yang dari tadi terpampang di wajah Shiho menjadi lenyap. Shiho berlutut di hadapan Suzuna lalu memegang bahu serta menatap mata Suzuna.

"Zuzu, ibu kan sudah bilang, jangan melakukan hal-hal yang berbahaya" ucap Shiho serius.

"Tapi aku tidak melakukan hal yang berbahaya. Aku hanya menendang bola dari jauh ke kepala penjahat yang menodongkan pistol pada inspektur itu untuk mengalihkan perhatiannya agar inspektur itu bisa menghajarnya. Apanya yang berbahaya coba?" ucap Suzuna dengan muka cemberut.

"Baik, baik. Itu memang tidak berbahaya. Maaf ya, anakku yang paling jenius" ucap Shiho sambil tersenyum kemudian menarik Suzuna ke pelukannya.

Mendengar pujian ibunya, Suzuna kembali tersenyum.

"Aku tidak akan melakukan hal-hal yang berbahaya, Bu. Aku janji" ucap Suzuna.

"Ibu tahu dan ibu percaya padamu. Sekarang waktunya ibu membuat makan malam. Kau mau membantu?" tanya Shiho sambil melepaskan pelukannya.

"Tentu. Malam ini kita makan apa?" ucap Suzuna ceria.

"Hmm, di kulkas ada daging sapi, jadi bagaimana kalau kita masak daging balado, masakan yang berasal dari Indonesia itu lho" ucap Shiho.

"Oh, yang pakai cabe merah itu ya. Pasti enak" ucap Suzuna.

Setelah itu mereka berdua sibuk menyiapkan makan malam di dapur dengan gembira.

XXX

Keesokan harinya Mizuki datang mengunjungi Shiho dan Suzuna untuk makan malam. Setelah Suzuna naik ke tempat tidur, Mizuki langsung mengajak Shiho mengobrol atau lebih tepatnya mendengarkan curhatnya. Mereka berdua akrab karena usia mereka sama.

"Sungguh menyebalkan sekali. Yang kukerjakan hanyalah menulis laporan, laporan dan laporan. Kalau begini kan aku tidak bisa mempraktekkan ilmu silat yang kupelajari dengan susah payah untuk melumpuhkan penjahat" ucap Mizuki berapi-api.

"Mizuki-chan, sebenarnya kau jadi polisi untuk mengayomi masyarakat atau untuk mempraktekkan ilmu silat?" tanya Shiho sok bingung.

"Shiho-chan, aku serius!" seru Mizuki.

Shiho tertawa mendengarnya.

"Oke, oke. Jadi inspektur baru yang masih muda itu selalu menyelesaikan kasus dan mengejar penjahat sendirian tanpa melibatkan anak buahnya termasuk kau, begitu?" tanya Shiho.

"Ya, begitulah" jawab Mizuki.

"Ngomong-ngomong soal inspektur, apakah dia inspektur yang sama yang ditemui Zuzu kemarin?" tanya Shiho.

"Ya, inspektur yang sama. Saat itu dia juga sedang mengejar penjahat SENDIRIAN" jawab Mizuki.

"Kalau begitu lebih baik kau bilang saja terus terang pada inspektur itu tentang perasaanmu atau kau bisa meminta Daichi-kun untuk mengatakannya" ucap Shiho.

"Kami tidak bisa melakukannya. Bagaimanapun juga dia atasan kami dan sebagai polisi kami harus mematuhi perintah atasan" ucap Mizuki.

"Wah, repot juga ya. Btw, kapan kau mau menikah dengan Daichi-kun?" tanya Shiho mengalihkan pembicaraan.

Mendengar pertanyaan Shiho, muka Mizuki menjadi merah.

"Err, itu... kami belum membicarakannya" ucap Mizuki.

"Mizuki-chan, usiamu kan sudah 26 tahun. Tunggu apalagi? Aku saja menikah dengan Taka saat usiaku 18 tahun" ucap Shiho.

"Yah, pernikahan kalian itu benar-benar mengagetkanku tapi aku akan membicarakannya dengan Daichi-kun segera" ucap Mizuki.

"Malam sudah larut, apa kau mau menginap?" tanya Shiho setelah melirik jam dinding yang ada di ruangan itu.

"Ah, kau benar. Memang sudah larut. Lebih baik aku pulang sekarang" ucap Mizuki bangkit berdiri diikuti oleh Shiho.

"Hati-hati ya dan semoga sukses dengan inspektur itu" ucap Shiho di depan pintu.

"Ya. Terima kasih makan malamnya" ucap Mizuki dari jendela mobilnya yang terbuka kemudian dia menjalankan mobilnya menuju apartemennya sementara Shiho menutup dan mengunci pintu rumahnya.


Catatan Penulis :

Terima kasih banyak pada amelia, 4869, reno, edogawafirli, RunaRin, Nachie-chan atas apresiasinya pada chapter pertama.

Lho, lho, lho, kok semuanya pada nggak mau Ran hamil sih? Kan kasihan? (Sok sedih)

Jangan lupa komen ya, pembaca sekalian!