FATE OF MY ADOLESCENCE
Rate: T
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Fate Series [Type Moon]
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Genre: School, Friendship, Family, Romance, Drama
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary: Naruto hidup dalam kesendirian sejak kecil karena perpisahan orang tuanya. Dia bukanlah seseorang yang mudah bergaul ataupun bersosialisasi. Dalam kehidupannya, hanya basket yang dapat membuatnya bertahan dari masa kecil dan masa muda nya yang kesepian. Namun suatu hari, dirinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera di kaki kirinya. Banyak hal yang telah dilaluinya hingga saat ia menginjakkan kaki di bangku tahun kedua SMA.. Sobu Gakuen. Kehidupan nya dimulai saat bergabung ke sebuah Klub…
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Chapter 2: Me and My Sister
Sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi disini tapi satu hal yang pasti adalah…, sebenarnya klub ini sama sekali tidak memiliki kegiatan apapun selain duduk membaca buku hingga kami diperbolehkan pulang oleh Koyuki-sensei. Jujur kalau aku boleh berkomentar…, tempat ini benar benar tidak cocok untukku.
Hanya ada aku dan Tohsaka disini. Tak satupun dari kami membuka topik pembicaraan. Bahkan jika kuingat sudah tiga hari berlalu sejak aku bergabung dengan klub ini akan tetapi tiap sore nya selalu sama saja. Kami hanya duduk di kursi sambil membaca buku tanpa mempedulikan satu sama lain.
Terkadang kami berperang pendapat dan saling menjatuhkan martabat. Meski sudah terlihat jelas siapa pemenangnya. Sungguh… Aku tidak bisa mengalahkan gadis dingin yang mirip seperti Ratu Es ini. Dia benar benar bisa menepis semua kalimat yang kulontarkan kepadanya dan membalikkannya jadi tiga kali terasa lebih sakit untukku.
"Namikaze-kun.., berhenti melirikku dengan lirikan matamu yang menjijikkan itu."
Dia bahkan menyadari kalau dirinya sedang kulirik. Apa dia ini benar benar seorang cenayang? Dan jangan panggil aku dengan nama itu!
"Kau tahu? Apa kau tidak bosan dengan kesunyian ini tiap harinya?"
"Hmm… Yang kau katakan ada benarnya, tapi jujur aku lebih baik duduk dalam kesunyian ini daripada harus mendapat lirikan menjijikkan dari seorang penyendiri menyedihkan sepanjang waktu."
"Oi, Bisakah kau hentikan kata kata mu yang selalu menyakitiku?"
"Ara, aku tidak mengatakan itu dirimu, aku tidak bermaksud menyinggungmu… Maaf jika kau tersinggung dan juga maaf kalau semua yang kukatakan kepadamu itu benar adanya."
Aku kembali terdiam oleh kata katanya. Kau jelas baru saja menyinggungku dengan perkataanmu itu, apa kau tidak bisa lihat situasinya.
"Harus kuakui kau memang ahli dalam memberikan kata kata yang mampu membunuh mental seseorang. Tapi sayangnya aku ini sudah terlatih untuk menerima hinaan semacam itu.."
Jawabku dengan sedikit bangga. Aku menoleh ke arah Tohsaka dan melihat dirinya sedang memasang ekspresi jijik kepadaku sekaligus khawatir.
"Ternyata benar kau seorang M, Namikaze-kun…"
"Aku bukan seorang M..! Dan hentikan memanggilku dengan nama 'Namikaze'! Namaku di sini tercatat sebagai 'Murakami Naruto' bukan 'Namikaze Naruto'.."
Ya memang benar nama di absen ku sendiri adalah Murakami Naruto. Seseorang telah merubah identitas keluargaku di sekolah ini sejak aku masuk di tahun pertama. Seseorang itu tak lain adalah ayahku atas keinginanku yang untuk kali ini entah kenapa langsung dikabulkan. Lagipula kurasa dia juga tidak menginginka seorang pun tahu bahwa aku adalah anaknya
"Baiklah, Murakami-kun… Jadi bisa kau jelaskan kenapa kau bisa tahan dengan semua kata kata ku kepadamu meski itu menyakitimu? Kau sudah jelas seorang M…"
"Kukatakan sekali lagi aku bukan seorang M… Aku hanya terlatih oleh hinaan semacam itu karena masa kecil serta masa SMP ku yang tidak berakhir baik di semester terakhir tahun ketiga.."
"Jadi kau dulu sudah sering menerima kata kata semacam itu? Dan hal itulah yang membuat tahan dengan semua ucapanku?"
"Katakanlah seperti itu,"
"Hmm… Benar benar pria yang menyedihkan,"
"Terserah.."
Aku bingung dengannya. Apa tidak ada hal lain yang bisa kita bicarakan berdua selain hal hal yang menyangkut tentang penghinaan untukku?
Seperti yang diketahui bahwa sekolah ini sudah kuanggap sebagai penjara sejak adanya perintah dari sang sipir penjara Koyuki-sensei kepadaku untuk bergabung ke klub ini. Lalu klub ini dan gadis yang berada dalam satu ruangan denganku ini bisa kuanggap sebuah hukuman dan siksaan dalam penjara.
"Kau mau kemana?"
Tanya Tohsaka saat kukemasi barang barangku dan bangkit dari kursiku.
"Aku mau pulang, aku sudah bosan duduk disini sepanjang waktu sambil mendengarkan ocehan gadis dingin sepertimu.."
"Hmm.. Terserah. Tapi kuanggap yang terakhir itu sebagai pujian untukku."
Aku terdiam sesaat memahami kata kataku lalu membuang muka. Cih.. sampai akhir pun dia masih bersikeras membuatku terdiam oleh kata katanya ternyata.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Waktu sudah menunjukkan pukul 17:02 PM dan aku baru saja sampai di depan gedung apartemenku setelah aku berjalan dari seberang jalan. Kuperhatikan jalanan di depan gedung apartemenku ternyata cukup ramai pada jam jam ini. Lalu ketika kualihkan pandanganku ke depan..., aku terdiam…
Seorang gadis berseragam Konoha Gakuen berdiri di depan pintu masuk gedung apartemenku. Dia terlihat tengah menunggu seseorang. Dan aku sudah tahu siapa yang ditunggu oleh gadis itu ketika gadis itu menatapku dalam diam. Aku mengenalinya… jelas. Bagaimana bisa aku tidak mengenali adik perempuanku sendiri.
Sudah berapa lama ya sejak terakhir kali aku bertemu dengannya? Mungkin sudah 6 bulan lamanya. Sejujurnya aku sendiri terkejut ketika melihat dia ternyata datang mengunjungiku. Bukankah dia membenciku?
"Ada apa kau datang kesini? Kau tidak datang untuk mengunjungiku kan?"
Tanyaku berdiri tepat di sampingnya hampir melewatinya. Aku bahkan tak menoleh kan kepalaku. Dia juga tak menatapku meski kini ia sedang bicara denganku.
"Untuk kali ini…, aku memang datang mengunjungimu… lagi."
Jujur saja aku terkejut dengan jawabannya.
"Ada masalah apa sampai kau mengunjungiku?"
Saat aku menanyakannya…, entah apa yang terjadi tapi aku mendengar sedikit nada kekecewaan darinya.
"Apa kau berpikir aku mengunjungimu hanya saat aku atau kami sedang ada masalah saja?"
"Hmm… Entahlah? Bukankah itu yang selalu terjadi?"
Tanyaku balik sambil menundukkan kepalaku.
Faktanya, Naruko memang membenciku. Aku tidak tahu apa alasan pastinya kenapa dia membenciku. Hanya saja yang jelas dia menganggapku ini menyedihkan, rendah dan menjijikkan. Namun saat dia ada masalah…, aku heran kenapa dia selalu datang ke apartemenku.
"Kau benar, aku memang sedang ada masalah…" jawabnya sambil mengerutkan keningnya memalingkan wajahnya dariku.
"Jadi masalah apalagi kali ini yang kau timbulkan? Kuharap tidak berhubungan dengan sekolahmu. Karena seperti yang kau tahu, aku sangat buruk dalam berinteraksi dengan orang pada umumnya apalagi jika aku disuruh menghadap sensei mu di sekolahmu."
"Bisakah setidaknya kau mempersilahkan ku untuk masuk ke apartemenmu? Aku sudah menunggu disini selama 1 jam, kau tahu..?"
Aku mendengarkan permintaannya barusan dan menatapnya sejenak sebelum akhirnya aku menghela nafas pasrah. Meski dia tak menyukaiku, dia tetaplah adikku sendiri…, kurasa.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Kami berdua sampai di depan pintu masuk apartemenku. Tak bisa dibilang bagus, lebih terassa sederhana jika kau mengintip ke dalamnya. Aku merogoh saku ku untuk mengambil kunci apartemenku lalu kubuka pintu apartemenku dan terlihat lah isi apartemenku yang kurasa tidak ada yang spesial di mata orang orang pada umumnya.
"Masuklah…"
"Umm.."
Dia menganggukkan kepalanya dan melewati ku masuk ke dalam apartemen. Aku terdiam menatap dirinya yang sekarang berjalan membelakangiku sambil kututup pintu apartemenku.
"Kurasa cuaca hari ini cukup dingin…, aku akan membuatkanmu cokelat panas. Kau duduklah dan buat dirimu nyaman."
"Kau tidak perlu repot repot."
"Aku tidak merasa repot, kau disini bertamu kan? Lagipula apa salahnya aku perhatian terhadap adikku sendiri."
Mungkin aku telah salah mengatakan hal itu barusan karena nampak sekarang Naruko sedang memasang ekspresi jijik ke arahku.
"Guh.. A-Apa yang kau pikirkan? Menjijikkan…, dasar siscon…, mesum…, penyendiri menyedihkan."
Ucapannya itu menyakitkan. Sudah kubilang kan? Dia tidak menyukaiku. Pada saat seperti ini aku hanya bisa menatapnya dengan sebuah tatapan datar tak berarti.
Tak lama kemudian, dia diam duduk diatas sofa sambil memeluk kakinya yang ia tekuk di atas sofa. Saat aku melihat ke aranhnya, aku dengan jelas bisa melihat celana dalam yang ia kenakan. Tapi anehnya aku tidak merasakan apapun dari hal itu. Hah~… Adik perempuan memang merupakan sebuah keberadaan yang aneh di dunia ini.
"Apa kau lihat lihat!?"
Tanyanya cepat ketika menyadari tatapanku.
"T-Tidak.."
Aku langsung memalingkan wajah ketika mendapat tatapan itu. Setelah selesai membuat dua cokelat panas itu, aku berjalan ke arahnya lalu meletakkan dua gelas cokelat panas itu di meja yang ada di depan sofa.
"…Aku tidak bisa menghabiskan keduanya.."
Kata Naruko melihat dua gelas cokelat panas itu.
"Ha? Siapa yang menyuruhmu untuk menghabiskan keduanya? Ini satu untukku.."
"Hmm.. Kau tidak memberinya obat tidur kan?"
Entah apa yang mendasari pertanyaan itu. Bagaimana dia bisa mengira kalau kakaknya akan memberinya sebuah minuman yang sudah diberi obat tidur?
"Hah!? Untuk apa aku melakukan itu?"
Tanyaku mengerutkan kening sambil menatapnya kesal.
"Kau kan siscon!"
"Siapa yang siscon? Sejak kapan aku menyukaimu? Aku bahkan tidak suka keberadaanmu disini yang mengganggu aktivitas ku."
Naruko tiba tiba saja terdiam sambil membulatkan matanya. Aku menyadari hal itu ketika aku melihat ke arahnya. Aku mengerutkan kening sambil meanatapnya heran, tak lama kemudian raut wajahnya berubah menjadi sedih dengan sebuah senyuman pahit.
"Souka… Jadi aku memang mengganggumu ya?"
Tanyanya menundukkan kepalanya. Aku tidak tahu ada apa dengannya tapi kulihat kedua matanya berkaca kaca saat menunduk dan tatapannya menandakan kesedihan mendalam.
Karena panik dan kebingungan harus berbuat apa atau harus menanggapi seperti apa, akhirnya aku malah berdiri tanpa kusadari.
"A-Aku akan mengambil camilanku…"
Lalu ketika aku hendak pergi mengambil camilanku, tiba tiba sebuah tangan menarik bajuku. Tangan itu adalah milik Naruko. Kemudian saat aku menengok ke belakang untuk memastikan apa yang terjadi, aku melihat Naruko tengah memasang ekspresi yang sama dengan mata yang lebih berkaca kaca. Ketika aku melihat wajah itu, seolah aku dibuat mematung karenanya. Dia seolah menghipnotisku untuk mendekat dan berusaha untuk tidak meninggalkannya.
Aku kembali duduk di samping Naruko sedangkan tanpa seijinku, Naruko langsung meletakkan kepalanya di bahuku.
"Onii-chan…, pulanglah ke rumah…"
Ketika aku mendengar permintaannya itu…, yang terlintas di kepalaku hanya satu… tidak akan.
"Naruko… Kau sendiri sudah tahu kan kalau aku tidak akan kembali ke rumah itu,"
"Kenapa…? Apa karena kau tidak suka keberadaanku dan Menma niichan disana…?" tanya nya dengan nada yang terdengar lirih.
"Kau tahu kan, kalau Menma membenciku? Tou-san juga tidak pernah pulang. Apa gunanya aku disana lebih lama?" tanyaku memalingkan pandanganku dari Naruko.
"Di rumah terasa sangat sepi karena Menma dan Tou-san juga jarang pulang ke rumah."
Kata Naruko yang nampaknya sama sekali tak mempedulikan perkataanku yang sebelumnya. Aku kembali memasang ekspresi malas sambil merasakan tangannya menyentuh tangan kiriku.
"Tidak bisakah kita tidak usah membahas masalah ini lagi… dan biarkan saja…?"
Tanyaku kepada Naruko ketika dia hendak kembali membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Permintaan cepatku barusan langsung dibalas sebuah gelengan oleh Naruko dengan ekspresi yang semakin lesu.
"…Tidak. Aku ingin membahasnya disini, onii-chan…"
Sikapnya semakin aneh hari ini. Aku berani bersumpah bahwa sebelumnya dia tidak pernah seperti ini sejak kami aku ada di bangku kelas 3 SMP sedangkan dia di kelas 2. Dia juga turut membenciku…, mungkin karena alasan yang sama dengan Menma. Meski begitu… aku jadi teringat bahwa saat dia kecil…, dia sangat manja padaku bahkan dia lebih dekat denganku ketimbang Menma dulu.
"Jika kau memintaku untuk pulang lagi… aku tidak bisa, Naruko. Aku bosan dengan kehidupanku di rumah itu,"
"Jadi kehidupan seperti apa yang kau inginkan, onii-chan? Bukankah kau mencintai dirimu yang penyendiri dan anti sosial itu? Jadi bukankah tidak masalah jika ayah dan ibu berpisah? Kau mengatakan itu tapi sebenarnya keinginanmu menentang ucapanmu sendiri…"
Ya benar, dia mungkin benar. Mungkin saja aku menipu diriku sendiri, tapi aku sendiri punya alasan untuk itu.
"…Kurasa tidak ada orang yang bisa mengira bahwa dirinya akan lahir di keluarga seperti ini, Naruko…, aku sendiri dulu membenci mereka bahkan sampai sekarang. Lantas apa? Apa dengan membenci mereka juga kehidupanku akan terulang menjadi lebih baik? Lebih baik aku mencintai diriku yang apa adanya ini…"
Tanyaku memalingkan wajahku dari tatapan Naruko. Dia tidak mengerti apa yang kumaksudkan sebenarnya. Karena semua sudah terjadi, aku hanya mencoba mencintai diriku yang apa adanya sekarang daripada harus membenci kehidupanku.
Ketika aku kembali melihat ke arahnya, dia menunjukkan sebuah senyum pahit yang entah kenapa dapat membuatku terluka.
"Jadi… kurasa kau sudah menemukan kehidupanmu,"
"Hmm… Seperti itulah," jawabku lesu.
"Mungkin kau bukan lagi orang yang sulit berinteraksi dengan orang lain seperti dulu… Kau juga akhirnya memiliki teman teman yang kau percayai kan, onii-chan?"
"Tidak juga… Yang kurasakan selama ini cuma kesendirian,"
Aku menjawabnya dengan bangga meski kalimat yang kukatakan itu sebenarnya sangat menyedihkan untuk didengar oleh adikku sendiri. Hahaha.. Aku bisa menebak pasti sekarang dia sedang menatapku jijik seolah mengatakan bahwa aku ini benar benar menyedihkan.
"O-Oniichan.."
"Hmm..?...Eh..?"
Ada yang aneh. Saat ini Naruko bukannya menatapku jijik dan justru menatapku iba. Perlahan kulihat tetesan air mata jatuh dari mata sebelah kirinya dan bisa kurasakan kalau dia sekarang sedang serius denganku. Tak lama kemudian, entah apa yang merasukinya…, Naruko perlahan mendekat memajukan tubuhnya ke arahku membuatku terpojok di sudut sofa.
Aku tak bisa berkata kata pada saat itu. Dia membuatku tidak bisa kemana mana. Jantungku berdegup dengan kencang, mataku terbuka lebar dan perasaanku kacau. Wajahnya perlahan maju dan dia juga mulai menutup matanya perlahan. Sejujurnya aku benar benar bingung dengan apa yang terjadi disini…
Adikku… tengah berusaha mendekatkan wajahnya ke wajahku seperti berniat mencium bibirku. Hingga pada saat terakhir ketika dirinya hampir menciumku, aku tersadar dan langsung memalingkan wajahku ke samping sambil menutup dan memblokir bibirnya dengan telapak tangan kananku.
CUP
Naruko membuka matanya dan dia terkejut. Nampak terlihat dari matanya yang terbuka lebar saat menyadari apa yang baru saja hampir dia lakukan kepadaku. Dia cepat cepat menjauh dariku dan pindah ke ujung sofa lainnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya akan apa yang kulakukan barusan. Aku sendiri tidak begitu mengerti karena yang kulakukan hanyalah memblokir bibirnya.
"…J-Jadi begitu ya.."
Ucapnya dengan mata berkaca kaca sambil mengalihkan wajahnya dari tatapanku.
"B-Begitu apa..? Harusnya aku yang bertanya… Apa yang baru saja akan kau lakukan!?"
"Menciummu.."
"Hah? K-Kau sedang tidak sehat ya…? Kita ini saudara! Kurasa tidak pantas bagi kita untuk berciuman…"
Aku mengatakannya dengan ekspresi yang sedikit marah… serupa dengan nada bicaraku. Namun yang ditunjukkan nya hanya ekspresi yang semakin menyakitkan untuk dilihat. Dia terlihat sedih juga putus asa ditambah dengan senyum masam yang dia buat.
"…Onii-chan…"
"A-Ada apa?"
"Apakah salah kalau aku mencintaimu?"
Deg! Aku bisa merasakan degup jantungku semakin cepat ketika Naruko mengatakan itu. Apa barusan aku salah dengar…? Dia bilang kalau dia 'mencintaiku'?
"T-Tunggu dulu, apa maksudmu barusan Naruko? Maksudmu cinta sebagai saudara kan?"
"Tidak… Aku mencintaimu selayaknya seorang gadis kepada seorang laki laki.."
Yang bisa kupikirkan sekarang adalah mungkin Naruko sedang sakit atau mungkin dia sedang mabuk? Ah, tidak tidak.. orang mabuk justru cenderung akan berkata jujur. Dia pasti sedang sakit.
"T-Tapi k-kita adalah saudara kandung, Naruko…" kataku sedikit menjauh sambil memalingkan wajahku dari tatapan intens Naruko.
"Jadi kau tidak bisa menerimaku?"
"T-Tentu saja tidak.."
Aku menjawabnya dengan tegas sambil masih dalam posisiku yang memalingkan wajah dari tatapannya. Hal ini benar benar membuatku terkejut juga shock. Pernyataan cinta dari adikku sendiri barusan jika didengar oleh orang lain pasti akan berbahaya. Ini bisa menimbulkan sebuah kontroversi. Aku terdiam tak berani menatap Naruko selama beberapa saat.
Tak lama kemudian aku mendengar sebuah tawa geli yang keluar dari gadis yang berada di hadapanku. Ya… Gadis itu adalah Naruko. Saat ini tawanya semakin keras membuatku mengerutkan kening karena bingung dan heran. A-Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia tiba tiba saja tertawa. Dia melihat ke arahku pada jeda saat dirinya tertawa sambil mengatakan,
"Baka… Baka…! Kau pikir aku serius barusan? Hahahaha.. Aku hanya sedang bercanda! Mana mungkin aku menyukaimu? Seorang niichan yang penyendiri, menjijikkan dan menyedihkan yang bahkan tak punya satupun teman…"
"Eh..?"
Aku kembali terdiam beberapa saat sebelum akhirnya aku menyipitkan mataku melihat dengan ekspresi kesal ke arah Naruko. Aku paham situasinya sekarang. Dia hanya sedang mengerjaiku dengan tindakan tindakan gila serta palsunya itu. Barusan itu dia hanya acting.
"Jadi yang barusan itu kau hanya mengerjaiku?"
Dia mengangguk.
"Termasuk memanggilku onii-chan dengan nada yang manja?"
Dia kembali mengangguk.
"Jadi kau hanya bercanda dan tidak mencintaiku kan?"
Dia mengangguk lagi untuk ketiga kalinya.
Aku ingin marah kepadanya karena sudah bercanda seperti itu. Namun apa daya karena disisi lain aku juga lega mendengar bahwa dia hanya bercanda saja. Bayangkan apa yang terjadi di antara kita berdua jika yang tadi itu sungguhan.?
"Dasar… kau pikir gadis cantic sepertiku akan menyukaimu… niichan ku yang menyedihkan, menjijikkan dan kurang pergaulan. Kau harus tahu tempatmu, niichan.."
"Hae hae.. Aku paham.." jawabku dengan ekspresi malas.
END OF NARUTO POV
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Naruto sekarang terduduk di sofa dengan perasaan lega sedangkan Naruko ada di bagian sudut lain sofa dan juga tengah duduk sambil menonton televisi. Wajah Naruko sendiri tengah diliputi kebosanan karena tidak ada acara TV yang mampu menghiburnya. Sedangkan Naruto masih terdiam dengan perasaan lega meski kejadian itu sudah lewat 20 menit yang lalu. Dia tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 17:45 PM.
"Benar benar membosankan…"
Naruto yang tersadar karena rengekan bosan Naruko langsung menoleh ke arah gadis itu dengan ekspresi kesal.
"Maaf kalau tempatku ini memang membosankan, tapi tak jauh berbeda dengan di rumah itu kan?"
"Ya… Bahkan belum ada satu jam sejak aku masuk ke apartemen ini tapi sudah sebosan ini. Apa kau tidak punya hal lain yang bisa menghiburku?"
Tanya Naruko tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV. Naruto yang mendengar itu langsung menoleh dan menatap Naruko dari bawah sampai ke atas dengan ekspresi yang terlihat jengkel.
"Aku baru menyadari kalau kelakuanmu yang asli ternyata benar benar menyebalkan. Harus kuakui aku memang lebih suka saat dirimu berakting senang memanggilku 'Onii-chan'.."
"Guh… Hentikan itu dasar kau siscon, hentai, baka, menjijikkan. Jawab pertanyaanku tadi dan jangan abaikan aku,"
"Apa yang kau mau? Yang kumiliki…, yang paling berharga disini…, hanya laptop gaming, koleksi komikku, novel serta action figure dari One Piece yang ada di kamarku semua,"
"Hmm… Boleh juga, kalau begitu akan kuambil kamarmu untuk malam ini sebagai tempatku tidur,"
"Hmm… Oke… hmm.. eh? A-Apa!?"
Dan ketika Naruto menoleh cepat ke arah Naruko saat menyadari ucapannya, Naruko sudah lebih dulu melompat ke belakang sofa dan berlari masuk menuju kamar Naruto sedangkan Naruto hanya bisa diam memperhatikan saat kamarnya baru saja dibajak oleh adiknya sendiri.
Naruto terdiam beberapa detik saat menengok ke pintu kamarnya yang sudah terdengar suara pintu terkunci. Tak lama kemudian, dia kembali memposisikan tubuhnya menghadap ke depan dengan tatapan kosong.
"Aku menyesal mempersilahkan dia masuk ke apartemenku.."
Lalu di dalam kamar Naruto, Naruko dengan wajah gembira bersandar di pintu. Dia melihat ke seluruh sudut kamar Naruto dan tak menemukan adanya yang spesial lewat satu kali pengamatan.
"Naruko! Jangan sentuh koleksi action figure ku!"
Mendengar suara teriakan kakaknya yang memberinya peringatan, Naruko langsung membalas,
"Iya aku tahu!"
"Aku akan pergi ke minimarket… Apa kau mau titip sesuatu?"
"Tidak!"
"Kau yakin?"
"Iya!"
"Hmm.. Tak usah ngotot.. kalau begitu aku pergi dulu.."
Terdengar suara pintu apartemen terbuka lalu tertutup dalam beberapa detik. Naruko yang masih bersandar di pintu sekarang sendirian. Dia melihat foto yang terpajang di meja Naruto dari jauh. Foto itu adalah foto dirinya, Naruto dan Menma ketika masih kecil. Lalu entah kenapa…, dia teringat kejadian tadi saat dia hampir mencium Naruto.
Jika harus jujur…, yang tadi itu…, bukanlah akting yang dilakukan oleh Naruko. Tubuhnya tadi bergerak sendiri dan semua yang diucapkannya tadi…, tak ada yang tahu apakah itu sebuah akting atau jujur dari lubuk hatinya. Yang tahu hal itu hanya Tuhan dan Naruko sendiri.
Dia tertunduk dengan ekspresi yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata.
"Onii-chan no baka!"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Naruto sekarang sudah berada di dalam minimarket setelah ia harus berjalan kurang lebih 15 menit dari apartemennya. Tak membuang waktu lagi dia langsung mengambil apa saja yang dia butuhkan dan membawa nya ke kasir. Lalu setelah dia membayar semua yang dibelinya, tiba tiba saja ia tertarik dengan bagian buku dan majalah.
Pandangannya langsung jatuh pada majalah mingguan shounen yang memang selalu menarik perhatiannya. Dia bergegas kesana lalu mengambil majalah mingguan shounen jump itu dan membacanya. Dia terlihat begitu antusias untuk membacanya sampai tidak menyadari bahwa ada orang lain yang berdiri di sampingnya. Jaraknya sekitar dua meter darinya.
"Ara…, Tak kusangka akan bertemu denganmu disini, Murakami-kun,"
Yang berdiri di samping Naruto tak lain dan tak bukan adalah Tohsaka. Dia yang pertama kali mengajak bicara Naruto meski tatapannya masih sibuk dengan majalah fashion yang dibacanya saat ini.
Naruto yang mendengar nama marga palsu yang ia gunakan disebut…, langsung menoleh ke samping kanannya.
"Hai, Tohsaka.."
Sapanya santai. Itu respon yang sangat biasa. Sebenarnya ia hanya telalu terpaku pada majalah manga shounen itu hingga tidak sadar siapa yang barusan ia sapa.
"Hmm…?"
Dengan cepat Naruto kembali menoleh ke samping kanan lalu menemukan Tohsaka yang masih sibuk dengan majalahnya. Naruto mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya dia percaya kalau itu adalah Tohsaka Rin. Gadis yang satu klub dengannya sejak tiga hari yang lalu.
"T-Tohsaka!"
Naruto langsung tergagap dan melangkah mundur.
"Bisakah kau tidak berisik? Reaksi mu itu terlalu berlebihan, Murakami-kun.."
"Tohsaka..! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto dengan sedikit berbisik agar tidak mengganggu orang lain yang datang ke minimarket itu.
"…Hanya membeli beberapa keperluan dan melihat lihat majalah fashion. Kau sendiri sedang apa disini?"
"S-Sama denganmu… Aku hanya membeli beberapa keperluanku,"
"Hmm…"
Sangat dingin seperti biasanya. Bahkan gadis itu tidak menoleh sedikit pun ke arah Naruto dan justru sibuk dengan majalah fashion nya sejak tadi.
"Kenapa kau bisa sampai ke minimarket ini..?"
"Memangnya kenapa kalau aku ada disini? Apakah itu menjadi masalah untukmu?"
"Tidak… Bukan, bukan itu maksudku. Hanya saja, kenapa bisa kau ada di minimarket yang jaraknya dekat dengan apartemenku? Kau ini sebenarnya tinggal dimana?"
"Untuk apa aku memberitahumu, Murakami-kun? Apa kau seorang penjahat yang berniat merampok tempat tinggalku? Atau kah kau berniat menjadi stalker ku?"
Naruto yang mendengarnya langsung malas untuk mengeluarkan lebih banyak pertanyaan. Dia membalikkan tubuhnya ke samping dan fokus dengan majalah manga shounen itu lagi.
"Kenapa? Kau tidak ingin tahu?" tanya Tohsaka kali ini saat melirik ke arah Naruto.
"Tidak, lupakan saja… Aku malas berbicara denganmu."
Tohsaka lalu memejamkan matanya sambil memalingkan pandangannya dari Naruto.
"Sebenarnya aku tinggal di apartemen yang gedungnya ada di seberang gedung apartemenmu…"
Mendengar hal itu, Naruto memasang ekspresi malas sambil membatin,
'Aku tidak bertanya dan dia malah memberitahuku… dasar gadis aneh! Eh, tapi tunggu dulu..'
"T-Tunggu! Kau bilang gedung apartemen di seberang gedung apartemenku? Bukankah disana berisi apartemen mewah?"
"Ya memang…"
Naruto hampir lupa dengan latar belakang Tohsaka. Dia lupa bahwa ayah Tohsaka sendiri adalah anggota Dewan Rakyat. Dia memiliki pengaruh besar di Jepang. Bahkan nama keluarganya sudah terkenal sejak dulu. Jadi bukanlah hal yang mengejutkan jika Tohsaka memiliki apartemen mewah miliknya sendiri disana.
"Nikmatnya jika dirimu banyak uang dan dilimpahi harta…"
"Hmm..? Bukankah dirimu sendiri begitu, Murakami-kun?" tanya Tohsaka menoleh ke arah Naruto perlahan.
"Cih… Aku sudah keluar dari rumahku dan hanya menerima uang secukupnya dari Otou-san ku sejak tahun kedua di SMA… Bahkan uang itu hampir tidak cukup. Kurasa dia ingin menyiksaku… Bahkan pernah beberapa kali dia sengaja tidak mengirimkan uang untuk membuatku pulang ke rumah…"
"Lalu bagaimana caramu memenuhi kebutuhan sehari hari saat Otou-san mu tidak mengirimkan uang?"
Tanya Tohsaka yang nampaknya kali ini cukup penasaran dengan Naruto.
"Kerja part time dan berhemat sebisa mungkin…!"
Jawab Naruto sambil mengepalkan tangannya bangga.
Tohsaka tersenyum mendengarnya entah kenapa. Timbul juga sebuah perasaan senang saat melihat Naruto dapat tersenyum bangga kali ini dan hal itu karena usahanya.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Lalu pada akhirnya, dirinya dan Tohsaka pulang bersama dari minimarket. Perjalanan itu nampaknya cukup meninggalkan kesan tersendiri pada mereka. Bahkan sebenarnya mereka sempat khawatir jika ada murid yang satu sekolah dengan mereka, melihat mereka berdua berjalan bersama di tengah malam. Namun pada akhirnya mereka berpisah tepat di depan gedung apartemen Tohsaka.
"Kalau begitu, aku duluan… Murakami-kun.."
"Ya... Selamat malam.."
"Hmm, selamat malam.."
Tohsaka masuk ke dalam gedung apartemennya sedangkan Naruto segera menyebrangi jalan ketika lampu merah. Lalu ketika sampai di seberang jalan dia melihat di perempatan bagian sudut lain jalan yang sedikit jauh dari tempatnya berdiri sekarang... Seseorang yang ia kenal betul tengah berada dalam satu mobil dengan seseorang.
"Hmm..? Bukankah itu Otou-san?"
Lalu dia bersembunyi sambil mendekat meski masih mencoba menjaga jarak. Dia bergegas karena sebentar lagi juga akan ada pergantian dari lampu merah ke lampu hijau.
"Dengan siapa? Otou-san… dengan siapa di dalam mobil?"
Lalu saat mobil itu melintas, dia melihat dari kaca yang terbuka, seorang gadis berambut pirang yang ia kenal juga dengan baik…
"Jeanne-senpai!?"
TBC
.
.
.
Author Note:
Ehem.. Ehem.. Shiba disini.. tes tes. Oke apa kabar semuanya? Chapter dua update kilat! Semoga responnya baik. Pertama tama saya mengucapkan terima kasih kepada reader yang sudah memfavorite, memfollow dan mereview fic baru saya yang bertemakan romance, friendship ini.
Ya fic ini memang awalannya di chapter satu mirip dengan anime Oregairu. Tapi di chapter dua sudah berbeda kan? Memang di fic ini juga akan menampilkan konfilk sekolah, keluarga serta basket seorang anti sosial yang tidak punya jalan untuk lari dari hidupnya. Unsur basketnya sendiri belum akan saya tampilkan…, mungkin di chapter 3 atau 4.
Di chapter ini saya menonjolkan sedikit adegan seorang adik yang disangka benci ternyata sayang bahkan cinta terlarang… Brocon akut bro! Kek Miyuki dari Mahouka Kokou. Tapi kalo Naruko disini tsundere imouto. Wkwkwkwk..
Di akhir chapter saya menampilkan Minato dan Jeanne… kalau penasaran, ya tunggu saja lanjutannya. Jangan lupa review gaes wkwkwk.
Lalu saya ingin membalas pertanyaan salah satu akun guest bernama uchikaze. Disini Naruto cedera kaki kiri pada kelas 3 SMP di semester pertama menjelang pertandingan basketnya. Dan di cerita ini, Naruto sudah tahun kedua di SMA. Bro, saya sudah pernah patah tulang sekali meski di tangan… tapi waktu untuk saya sembuh hanya butuh 3 bulan. Mungkin gak sampai.. dan itu cuma di gips saja. Teman saya juga ada yang patah tulang di kakinya… gak sampai tujuh bulan dia sudah main sepak bola lagi. Kalau yang ditanyakan kenapa dia gk main basket di tahun pertama SMA, itu karena dia tidak ingin lagi masuk ke tim basket meski dia ingin main basket. Yah agak rumit lah.. seiring berjalannya fic ini juga akan jelas.
Lalu masalah tentang POV. Sebenernya ini bukan sudut pandang author tapi sudut pandang tokoh utama. Saya buat seperti kalian merasakan apa yang dirasakan sang tokoh utama. Tapi ya saya menerima saran untuk menggunakan sudut pandang orang ketiga yang tahu segalanya. Jadi POV Naruto tetap akan ada tapi tidak selalu… saya akan coba mengikuti saran reader.
Lagipula banyak light novel yang menggunakan sudut pandang tokoh utamanya… contohnya? High School DxD dan Oregairu sendiri. Bagi yang baca novelnya pasti tahu.
Mungkin jika responnya baik dan diterima oleh para reader sekalian, saya akan update lagi dalam kurun waktu 2-3 hari. Untuk itu mohon saran dan review nya.
Terima kasih sekali lagi, minna-san..
See you in next chapter
