Sebelumnya terimakasih yang sudah mau membaca :). Perlu di ingatkan pada setiap chap Hinata memiliki pasangan yang berbeda dan chap satu dengan yang lain tidak terlalu berhubungan meski ada beberapa poin yang bersangkutan tapi itu tidak akan merubah plotnya. Terimakasih... Dan Selamat membaca :)
Judul : Naruto Namikaze
Warning : Typo, Dll.
Pairing : Naruto X Hinata
Naruto merasa sangat beruntung. Atau memang ia selalu beruntung? Tidak juga pikirnya. Pokoknya ia merasa sangat beruntung pada hari ini. Jam ini, menit ini dan detik ini. Tidak berlebihan ko, mendapatkan pemandangan yang begitu indah di depannya, membuat Naruto merasa semuanya setimpal.
Matanya menyipit saat melihat pemandangan indah itu berlari-lari. Dan seperti... menuju arahnya? Tunggu...! Naruto menegakan tubuhnya saat pemandangan itu semakin dekat dengannya. Semakin dekat.. Dan semakin..
"Namikaze-san" Sosok itu terlihat membungkuk dengan kedua tangan menahan bobot tubuhnya di lututnya sendiri.
"Namikaze-san!" Sahut sosok manis itu. Dilihat dari dekat semakin manis saja pikir Naruto. Apa... Sosok manis itu berbicara padanya? Tentu saja! Dasar bodoh!
"A...a.. Hinata-chan hehe" Naruto menggaruk kepalanya meski tidak gatal. Melihat itu Hinata menegakkan tubuhnya lalu mengatur nafasnya kembali.
"Ano... Kau di panggil Gay-Sensei" Jelas Hinata. Naruto menatapnya dengan tatapan yang Hinata tidak begitu mengerti.
"Benarkah?" Hinata mengangguk.
"Hm..." Naruto bergumam dan Hinata menunggu.
"Aku..." Naruto menggantungkan ucapannya.
"Tidak mau!" Tegas Naruto, lalu ia pergi ke arah pohon rindang dan duduk dikursi yang terletak didepan pohon.
Hinata hanya mematung. Dia harus bagaimana? Kenapa Naruto tidak mau? Ia pun mengalah dan kembali menghampiri Naruto. Andaikan Hinata tahu, kalau pemandangan dirinya memakai pakaian olah raga adalah pemandangan indah bagi kaum adam. Makanya Naruto ingin menahan Hinata untuk tidak kembali ke lapangan. Dia merasa tak suka, terlalu banyak mata mesum disana. Setidaknya disinikan hanya dirinya saja. Hehe...
"Kau kenapa Namikaze-san?" Sepertinya tertawa mesumnya tadi keluar dari pikirannya. Naruto menggelengkan kepalanya. Lalu menepuk kursi disebelahnya mengisyaratkan Hinata untuk duduk disampingnya. Hinata pun patuh lalu duduk.
"Ti... Dak..." Kenapa Naruto merasa dirinya begitu senang seperti ini. Hinata menoleh tak mengerti.
"Emm... Namikaze-san sepertinya aku harus kembali ke lapangan" Ucap Hinata.
Naruto langsung menoleh."Tidak! Duduk saja disini!" Sahutnya tegas.
"Tapi..."
"Tenang saja, Gay-Sensei tidak akan marah. Lagipula tadi kau sudah ikut bermain bola, bukan?" Tanya Naruto, Hinata pun mengangguk. Memang benar juga pikirnya.
"Ah... Panggil aku Naruto saja! Jangan margaku!" Tegas Naruto. Hinata menatap ragu namun akhirnya memilih mengangguk saja. Ia tidak mau berdebat, melelahkan menurutnya.
"Hmm... Hinata-chan saat kau kuliah nanti kau ingin mengambil jurusan apa?" Tanya Naruto. Wah... To The Point sekali Naruto ini.
Hinata menerawang, sebenarnya dirinya tak begitu dekat dengan Naruto tapi Ino bilang ia harus berhati-hati karena Naruto itu seperti rubah. Selalu menyakiti wanita katanya. "Designer. Fashion desaigner" Sahut Hinata.
"Begitu..." Naruto terlihat berpikir.
Lalu tanpa ditanya ia pun berucap "Kalau aku... Aku ingin menjadi seorang arsitek hehe" Sahutnya. Hinata hanya terseyum simpul. Membuat Naruto gemas sendiri. Naruto pun langsung membalikan tubuhnya Sembilan puluh derajat ke arah Hinata.
"Hinata-chan~~ Uh sudah cukup tingkah cool dariku !" Hinata hampir melonjak kaget karena teriakan Naruto. Naruto langsung memberikan senyum menggodanya seperti biasanya.
"Hinata-chan kenapa kau begitu manis?!" Sahut Naruto, entah kenapa kalimat itu membuat Hinata takut. Otomatis ia pun berdiri namun tangannya di tahan oleh Naruto.
"Jangan pergi. Disini saja!"
"Aku tidak gigit ko.. Hehe" Tuh kan senyum itu lagi. Bagaimana Hinata tidak takut coba?
"Ano... Aku pergi saja. Sepertinya Naruto-san sedang tidak ingin diganggu" Ucap Hinata pelan. Takutnya kalimatnya membuat pemuda pirang itu tersinggung.
"Siapa bilang?!" Tarikan tangan Naruto begitu kencang membuat Hinata jatuh di pangkuannya. Yang benar saja, bagaimana kalau anak-anak dilapangan ada yang menyadarinya?
"Uh... Hinata-chan menurutku kau lebih manis dengan kacamata itu. Tapi kacamatanya masih di Sasuke yah? Sayang sekali" Dengan santai Naruto memeluk Hinata dari arah samping sembari menaruh dagunya di pundak gadis itu. Naruto sangat menyadari perubahan wajah gadis itu. Begitu merah bersemu. Naruto jadi ingin menggigitnya.
"Naruto-san tolong lepaskan" Ucap Hinata pelan. Sebenarnya ia juga merasa tak nyaman. Bagaimana pun kini dirinya tengah bermandikan keringat tapi Naruto tak terlihat jijik sedikitpun.
Tanpa menjawab rontaan Hinata, Naruto menggoda lagi "Hinata-chan jangan sering-sering berlari saat olahraga" Hinata mengerutkan alisnya bingung.
"Diluar sana banyak laki-laki yang melirik dadamu dengan mesum. Aku tak suka Hinata-chan~~" Hinata otomatis melirik Naruto dengan takut, sedangkan Naruto malah gemas sendiri melihat gadis manisnya bersikap seperti itu.
Naruto pun mencium kilat pipi Hinata yang bersemu merah. Membuat wajah itu semakin merah. Dan dalam hitungan detik Hinata merasa dunianya menghitam ia benar-benar kalah akan serangan Sang Rubah.
"Hinata-chan.." Naruto menepuk pipinya pelan.
"Hinata-chan~~Jangan pingsan dulu..." Naruto pun langsung membopong Hinata dipangkuannya.
"Seharusnya jangan pingsan dulu, aku kan belum melakukan apapun" Lalu Naruto mencium pipinya lagi. Tapi kali ini dengan gigitan gemasnya. Membuat pipi manis itu basah oleh air liurnya.
Naruto tertawa mesum "Dasar Gila aku kasihan pada Hinata" tanpa mendongak Naruto menjawab " Hehe... pesonaku memang kuat. Buktinya Hinata-chan saja pingsan"
Sosok diatas itu menjawab dengan kesal namun malas "Dia pingsan bukan karena terpesona. Tapi karena takut akan kemesuman mu Naruto!"
"Sudahlah Shikamaru, kau kan sedari tadi melihat ku dengan Hinata-chan, kau boleh menyontek trik ku kalau sedang bersama Ino" Sahut Naruto sembari memandangi wajah Hinata dengan kagum.
Shikamaru yang sedari tadi diam diatas pohon rasanya ingin turun saja apalagi melihat tindak tanduk sahabatnya yang awalnya sok cool. Jika ia turun bisa saja ia membuat kesal Naruto tapi tidak dengan Hinata. Ia tidak mau membuat seorang gadis malu karena melihat dirinya sedang digoda. Hah... Seharusnya ia turun saja sedari tadi. Kesal Shikamaru.
"Yang benar saja" Gumam Shikamaru malas.
Naruto pun berdiri dengan Hinata yang berada di bopongannya.
"Sudah yah Shikamaru, aku akan mengantar Princess ke Ruang kesehatan Bye" Shikamaru hanya melihat Naruto dari ujung matanya.
"Princess sepertinya kau harus dicium supaya bangun hehe" gumaman pelan nan mesum Naruto masih terdengar oleh Shikamaru. Membuat Shikamaru hanya bisa menghela nafas sembari melihat awan disela sela dedaunan.
"Hinata yang malang" Ia pun menutup matanya kembali.
****** The End*****
Terimakasih sudah membaca, maaf jika sebelumnya Asuka begitu banyak typo, Asuka mengetiknya di Handphone. Jadi mempost ceritanya tak bisa di edit. Asuka mengalami kesulitan saat memasuki FFN, gagal masuk account lah, mengedit gagal bahkan p mempost cerita pun harus dari handphone yg satunya lagi. Maaf malah curhat. Sebelumnya terimakasih sudah membaca cerita Asuka.
Salam Kenal :)
