Chapter 2 :Difficulty

Tanggal 28 Juli 2210, di suatu kediaman di Hokkaido.

Sosok pemuda dengan kimono putih serta tali merah yang membentuk pita di pakaiannya sedang menatap tajam ke arah pemuda yang lebih tinggi darinya. Dengan ketukan jari yang menghiasi heningnya suasana, ditambah ekspresinya kelam karena orang di depannya. Pemuda yang selalu dipanggil Saniwa atau tuan dalam bahasa Jepang lainnya sengaja berdiam diri, duduk, dan menatap intens ke arah depannya. Sengaja untuk memberi tekanan kepada pedang di depannya.

Pemuda yang di depannya hanya cengar-cengir tidak jelas. Sosok pedang buatan Gojou Kuninaga tidak pernah trauma dengan hukuman yang selalu diberikan oleh Aruji-sama nya. Selalu? Karena Tsurumaru selalu menjadi bahan penyebab dari semua permasalahan di honmaru milik tuannya. Katakan pada kondisi halaman mereka yang hancur karena terlalu banyak lubang jebakan yang dibuat oleh pedang bangau itu. Saniwa selalu meminta Yagen Toushirou untuk membuatkan obat sakit pinggang karena ia hampir setiap hari masuk ke lubang sialan itu. Tidak lupa dengan Heshikiri Hasebe milik Oda Nobunaga yang bersedia untuk memijatnya.

"Anda tahu kalau saya punya jiwa baik bagaikan malaikat, bukan? Tsurumaru Kuninaga-san." Akhirnya Saniwa membuka mulutnya dan melontarkan sebuah pertanyaan untuknya.

Baik bagaikan malaikat neraka. Tsurumaru menjawabnya dalam hati dan mengangguk perlahan.

"Membersihkan halaman belakang dalam satu bulan adalah hukuman Anda yang telah membuat ruang pedang baru menjadi berantakan. Sekarang Anda boleh meninggalkan ruangan saya."

"Tu-tunggu dulu!" Tsurumaru mencoba membela dirinya. "Jadi, kau tidak perlu aku dalam misi Divisi Dua?"

"Tentu saja saya memerlukan Anda untuk itu. Tapi, Anda tetap menjalankan hukuman itu sesuai waktu yang telah saya tentukan." Jawab Saniwa santai seraya tersenyum senang melihat Tsurumaru tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Setidaknya Anda sudah bertemu dengannya, bukan?"

Ekspresi Tsurumaru kembali ceria seperti sedia kala. Saniwa sudah mengetahui sejarah di antara mereka. Bukan hanya sejarah dengan Tokugawa Mochinaga, ia mempelajari semuanya demi pedang miliknya. Berterima kasihlah kepada Uguisumaru dan Hirano yang bersedia untuk menceritakan semuanya kepada sang Tuan. Walaupun sulit untuk membujuk Uguisumaru, Saniwa tetap mendapatkan informasi itu dengan bayaran camilan dan ocha termahal di Jepang.

"Terima kasih, Aruji." Ucap sosok pedang itu seraya membungkuk badannya sebagai tanda hormat. "Kalau begitu, aku pergi." Tsurumaru meninggalkan ruangan dan seulas senyum tulus dari tuannya.

.

.

.

Pedang bernama Tsurumaru Kuninaga berjalan menelusuri teras halaman belakang honmaru dengan senyuman lebar miliknya. Bukan senyuman karena mendapatkan ide untuk menjahil para penghuni di sana, tetapi senyuman lebar seperti senang menyambut mentari di hari ini. Para pedang milik Saniwa yang melihatnya hanya bisa menatap tanpa berkata satu huruf pun. Pedang milik Okita Souji, Yamatonokami Yasusada dan Kashuu Kiyomitsu, sudah membuat seribu bahan untuk dijadikan gosip mereka. Ralat, pedang Yamatonokami hanya mengikuti arus yang dibuat oleh Kashuu.

Tidak hanya dijadikan bahan gosip, pedang lainnya mencari kesempatan untuk melirik Tsurumaru yang terlihat lebih anggun ketimbang hari sebelumnya. Heshikiri yang berdiri di pojokan halaman belakang langsung mengucapkan syukur kepada Tuannya yang sudah mengubah Tsurumaru menjadi pedang indah seperti rumor di masa lalu. Akhirnya ia dapat menurunkan tensi darahnya untuk hari ini.

"Oi, Tsurumaru." Seseorang mencoba untuk menarik atensi pedang anggun serba putih itu. Ketika kedua manik emas melirik ke arah sumber suara, terlihat sosok tantou bersurai hitam bersama orang yang membuatnya ia bahagia. Orang itu tersenyum lembut ke arahnya, sama seperti dahulu.

Beberapa pedang yang menyadarinya langsung melontarkan banyak jenis tatapan kepada sosok pedang bersurai biru muda itu. Dari tatapan syukur karena kehadirannya sampai tatapan menusuk dari orang-orang yang sudah jatuh hati kepada pedang bangau itu.

"Yo, Yagen, Ichigo." Tsurumaru menghampiri mereka berdua. "Kau mengajak kakakmu untuk mengelilingi honmaru?" Tanya Tsurumaru ke Yagen.

Yagen mengangguk dan menjawab, "seperti sebelumnya, kita harus memperkenalkan honmaru besar kita ke pedang yang baru saja datang." Jeda, Tsurumaru dapat melihat senyuman jahil dari Yagen. "Tak kuduga kalau calon kakak iparku adalah sosok Tsurumaru Kuninaga."

"shhh Yagen!"Suara dari Ichigo pun terdengar setelah Yagen mengucapkan hal tersebut. Tatapan tajam yang menusuk sekarang sudah menembus ke tubuh Ichigo saat ini.

"Tenanglah, Ichi-nii. Aku hanya senang dengan seleramu. Sedikit liar memang menantang."

"Oi! Aku bukan hewan liar!" Protes Tsurumaru kepada Yagen.

"Sudahlah. Jangan dibahas lebih luas lagi, Yagen." Ichigo pun memutuskan untuk memotong percakapan dari mereka bertiga karena Yagen mulai berbicara hal vulgar menurutnya. Pedang bersurai biru itu berterima kasih atas minimnya pengetahuan Tsurumaru akan hal tersebut. Yagen hanya tersenyum jahil ketika ia melihat wajah kakaknya yang semakin merah.

"Hei Yagen. Boleh tidak kalau aku menukarkan pekerjaanku denganmu?" Yagen memandang Tsurumaru dengan ekspresi heran ketika pertanyaan itu dilontarkan darinya. Pandangannya pun semakin tajam dan kecurigaan pun muncul setelah sadar dengan hal yang dilakukan Tsurumaru hari ini. Ditambah sepasang mata ungu nya melihat sebuah cangkul di tangan kanan Tsurumaru.

"Menukarkan pekerjaan atau membantu untuk menyelesaikan hukumanmu?"

"A..ahahahaha.. itu.." Seperti dugaan Yagen, Tsurumaru terkena hukuman dari Saniwa. Yagen hanya menghela napas dan tersenyum kecil karena sudah wajar melihat Tsurumaru terkena hukuman hampir di tiap hari nya.

"Ya sudah. Karena aku sedang senang, aku akan menukarkan pekerjaanku dengan hukumanmu." Yagen mengambil cangkul yang ada di tangan Tsurumaru. "Aku belum menunjukkan kebun, tempat pemandian, dapur, dan kamar kami kepada Ichi-nii."

"Siap, laksanakan!" Tsurumaru memberi pose hormat kepada Yagen dengan semangat.

Dasar si bangau. Pintar juga dia cari kesempatan untuk kabur dari hukuman, ucap Yagen dalam hati. Yagen langsung meninggalkan kedua pedang besar dan pergi menuju halaman yang rusak akibat ulah Tsurumaru.

"Ichigo! Aku kangen kamu!" Pelukan erat dari pedang milik Adachi Sadayasu pun diberikan kepada Ichigo setelah Yagen meninggalkan mereka berdua. Tidak peduli dengan banyak pandangan menusuk ke Ichigo, ia pun membalas pelukan itu. Perlahan-lahan ia menghirup aroma tubuh Tsurumaru dari tengkuknya, memuaskan diri dari kerinduan yang tak terbalas selama berabad-abad.

"Anda benar-benar menunggu saya." Sengaja ia tidak bernada seperti bertanya. Ia percaya bahwa Tsurumaru ingat dengan janji mereka yang sudah dibuat.

Tsurumaru membalasnya dengan anggukan. Dekapan ia lepaskan perlahan, melihat wajah Ichigo yang hampir lebih tinggi darinya. Berkat tanpa alas kaki tinggi yang sering ia gunakan pada saat misi, ia bisa melihat wajah tampan Ichigo dari sudut yang pas.

"Jadi, bisakah Anda tunjukkan tempat lainnya, Tsurumaru-dono?" Tanya Ichigo dengan posisi hormat seperti dulu. Tsurumaru semakin senang karena Ichigo tetaplah Ichigo yang dulu.

Tsurumaru menarik tangan kanan Ichigo dan mengajak ke kebun. "Ayo! Akan kuperkenalkan saudara-saudara ku juga!" Ajaknya semangat.

Ichigo mengikuti langkah Tsurumaru seraya mendengar cerita darinya. Sang bangau bercerita banyak hal di honmaru. Mulai dari sifat Tuan yang tidak sesuai dengan wajah manisnya, Hasebe yang terlalu keras dihonmaru, sampai menceritakan adik-adik Ichigo yang sudah menunggu lama akan kedatangannya. Dari cara ia bercerita, Ichigo mengetahui bahwa Tsurumaru sangat dekat dengan adik-adiknya selama ini. Bahkan ia mengetahui kesukaan Gokotai selain menyayangi harimau miliknya.

"Midare juga membuat kalung kerang untuk kedatanganmu. Lalu, Gokotai juga berusaha lebih kuat agar ia bisa melindungi kakak-kakaknya. Kau punya adik yang peduli denganmu ya."

Ichigo pun mengangguk. "Sepertinya mereka sudah punya kakak selain diriku." Ucapnya sambil memandang Tsurumaru. Tsurumaru yang menyadari maksud dari Ichigo langsung memalingkan wajahnya. Ia malu jika wajahnya yang memerah terlihat oleh Ichigo.

"A-aku hanya suka anak kecil! Jangan berpikir hal aneh." Ucap Tsurumaru yang terdengar seperti membela dirinya.

Ichigo hanya tersenyum melihat Tsurumaru menjadi salah tingkah. Yang merasa dilihat langsung memasang wajah cemberut dan berkata, "apakah pria tampan suka menggoda orang lain? Mikazuki juga seperti itu kepadaku."

"..Mikazuki Munechika?—"

"Tsuru-san!" Belum sempat Ichigo menanggapi gerutu dari Tsurumaru, seseorang menarik atensi sang bangau. Pemuda dengan penutup mata sebelah kanan dan tinggi menghampiri mereka berdua. Di saat itu juga Ichigo baru sadar bahwa ia sudah sampai di kebun ketika ia melihat pemuda itu membawa keranjang dengan isi tomat yang baru saja dipetik olehnya.

"Oou! Mitsu-bou!" Tsurumaru pun menyahut panggilan dari pemuda itu. Pemuda bersurai hitam dan lebih tinggi dibandingkan dengan Ichigo itu tersenyum ramah kepada nya. Karisma dari pemuda itu membuat Ichigo berpikir bahwa ia adalah ancaman baginya. Ia bisa merasakan bahwa pemuda itu juga tertarik dengan pemuda yang ia panggil dengan sebutan 'Tsuru-san'.

Posesif menjalar dan mencoba membunuh akal sehat Ichigo. Namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan hal itu.

"Kau tahu kan pedang ini? Atau haruskah aku memperkenalkannya?" Tanya Tsurumaru seraya memeluk lengan Ichigo.

"Kau selalu menceritakannya tiap jam, Tsuru-san." Jawab pemuda itu dengan senyum ramahnya yang masih melekat di wajahnya. "Selamat datang di honmaru, Ichigo-kun. Terima kasih sudah menjaga Tsuru-san yang nakal selama kami tidak ada di zaman kalian."

"Mitsu-bou!"

Ichigo membalas senyuman dari Shokudaikiri dan berkata, "tidak apa. Itu sudah tugas saya, ehm..." Ichigo tidak dapat melanjutkan ucapannya karena tidak mengetahui nama lengkap pedang bersurai gelap itu. Pemuda yang belum Ichigo tahu namanya tertawa kecil karena lupa memperkenalkan dirinya kepada Ichigo.

"Namaku Shokudaikiri Mitsutada, pedang Osafune yang dulunya pemilik Date Masamune." Shokudaikiri memperkenalkan dirinya seraya mengambil salah satu tomat hasil panennya kepada Ichigo. "Kau pasti lelah karena sudah dibawa keliling oleh Tsuru-san. Cobalah, ini baru saja dipetik." Tawarnya dengan senang hati.

Ichigo pun mengambil tomat dari Shokudaikiri. Rasa cemburu seketika mereda karena sifat santai dari Shokudaikiri selalu menenangkan suasana. "Terima kasih, Shokudaikiri-dono." Ucap Ichigo berterima kasih seraya memakan tomat yang ada di tangannya.

Kedua mata emas Ichigo sedikit melebar ketika indra pengecapnya menyentuh daging tomat yang segar. "Tomat ini sangat bagus, Shokudaikiri-dono."

"Tentu saja! Kami berempat termasuk Tsuru-san menanamnya dengan baik sehingga Aruji dapat menikmatinya." Ucap Shokudaikiri yang bangga dengan tanaman yang ia tanam.

"Berempat?" Ichigo memasang wajah bertanya.

"Ah! Kau belum berkenalan dengan Kara-bou dan Sada-bou!" Seru Tsurumaru ketika menyadari hal yang baru saja ia lupakan. Jika saja ia tidak ingat, ia sudah membawa Ichigo untuk berkeliling kembali.

"Benar juga. Kara-chan dan Sada-chan pasti juga akan berterima kasih kepadamu, Ichigo-kun. Mereka juga menunggu kehadiranmu."

Ichigo sedikit terkejut mendengar cerita dari Shokudaikiri. "Saya merasa terhormat untuk mendapatkan hal itu." Ucapnya seraya menaruh tangan di depan dadanya, pose hormat yang tidak pernah ia ubah sejak dulu.

Shokudaikiri melihat sekitar kebun untuk memanggil salah satu orang dari cerita barusan. Sada-chan yang ia maksud sedang tidak bertugas di sini melainkan bekerja di kandang kuda bersama pedang lainnya yang juga mendapatkan tugas , Sada-chan itu akan ke sini ketika pekerjaannya sudah ia laksanakan.

Ketika mata kanan emas yang terang layaknya milik Tsurumaru mendapatkan yang ia cari, sang pemilik mata itu langsung memanggil sosok itu.

"Kara-chan! Ke sini!" Shokudaikiri memanggil sosok pemuda berkulit cokelat eksotis yang juga sedang memetik tomat di kebun. Ichigo dapat menebak kalau tinggi pemuda itu lebih pendek dibandingkan dengannya. Namun tato berbentuk naga hitam di lengan kiri pemuda itu membuat Ichigo sedikit terintimidasi. Ditambah tatapan tajam layaknya pemimpin yakuza menusuk ke arahnya.

Pemuda itu menghampiri tiga pemuda yang berkumpul tak jauh darinya. Tak lama kemudian, sosok itu sudah sampai di tempat tujuannya.

"Kara-bou. Ini adalah pedang yang pernah aku ceri—"

"Jangan dilanjutkan, Kuninaga. Aku sudah tahu siapa dia. Tachi buatan Awataguchi tak seharusnya di sini." Suara gesekan pedang terdengar di dekat mereka. Pantulan cahaya dari pedang tersebut membuat mereka bertiga sadar bahwa pemuda berkulit eksotis itu mengarahkan ujung pedangnya ke hadapan Ichigo. Kedua manik emas milik pemuda yang dipanggil Kara-bou terlihat tajam layaknya binatang buas bertemu dengan mangsa nya.

"Kara-chan, tolong hentikan! Walaupun Ichigo-kunadalah tachi buatan Awataguchi, bukan berarti dia sama seperti Onimaru Kunitsuna!" Shokudaikiri mencoba menghentikan temannya yang sedang mengamuk, namun usaha nya sia-sia. Kedua manik milik Ichigo melebar ketika Shokudaikiri menyebut nama pedang yang ia kenal.

Bukan sekadar kenal, ia dan pedang itu sama-sama berasal dari penempa dengan marga Awataguchi. Onimaru Kunitsuna adalah pedang buatan Awataguchi Kunitsuna yang terkenal karena termasuk Tenka Goken. Ichigo sempat meminta untuk berlatih dengannya sebelum Onimaru pergi karena ada yang tertarik dengan pedang kuat itu. Maka dari itu, Ichigo terkejut ketika mendengar bahwa Onimaru pernah bertemu dengan Tsurumaru sebelum dirinya.

Sekali lagi, ia kalah dari salah satu pedang Tenka Goken itu.

"Hentikan? Kau ingin Kuninaga celaka lagi hanya karena kita membiarkan tachi Awataguchi ada di sini, Mitsutada?!"

"Ichigo-kun bukan pedang seperti Onimaru! Dia bahkan menyelamatkan Tsuru-san yang masih terikat masa lalunya dengan Adachi Sadayasu, Kara-chan." Di tengah perdebatan Shokudaikiri dan Ookurikara, seseorang datang untuk menghentikan mereka.

Pemuda bersurai biru tua namun berbadan lebih kecil seperti pedang jenis tantou datang di tengah kedua saudara nya. Tsurumaru bersyukur akan kedatangannya. "Hentikan Micchan, Kara! Baru kali ini aku melihat kalian tidak rukun."

Anak kecil itu menyadari kalau ada orang lain selain dua pemuda yang baru saja berdebat. Tanpa basa-basi, anak itu menundukkan tubuhnya dan meminta maaf kepada Ichigo, "maafkan Kara, Ichigo Hitofuri-san. Kara terlalu peduli dengan kami sehingga ia seperti ini agar Tsuru-san tidak terluka lagi di masa lalu."

Ichigo hanya bersikap maklum. Walaupun banyak pertanyaan muncul di kepala nya, ia harus tetap bertingkah wajar. Jika ia tidak mengendalikan emosi nya dengan baik, ia sudah siap menampar pemuda cantik di sampingnya karena ia terlalu banyak menyimpan rahasia di belakangnya.

"Tidak apa-apa. Onimaru Kunitsuna-dono memang pedang Awataguchi. Akan tetapi, penempa pedang itu bukanlah Awataguchi Yoshimitsu-dono yang menempa diri saya dan adik-adik saya. Jadi, kami tidak ada memiliki hubungan penting dengan beliau." Ucap Ichigo menjelaskan. Entah ini disebut jujur atau bohong, karena kenyataannya Ichigo mengetahui orang itu. Begitu juga sebaliknya. Namun mereka hanya mengenal sebagai pedang yang sama-sama dibuat oleh keluarga Awataguchi.

Di saat itu juga, Ichigo merasakan tangan ditarik oleh pemuda di sampingnya dengan paksa. "Mitsu-bou, Kara-bou, Sada-bou, aku pergi melanjutkan tugasku dulu ya. Sampai nanti!" Seru Tsurumaru seraya menarik Ichigo untuk menjauh dari sekumpulan Dategumi yang belum bisa mendinginkan suasana hati mereka.

Di saat itu juga, Ichigo menyiapkan seribu pertanyaan yang ia susun untuk Tsurumaru. "Anda kenal dengan Kunitsuna-dono? Sejak kapan?" Pertanyaan itu ia lontarkan setelah ia melepaskan genggaman Tsurumaru dengan paksa. Tsurumaru yang menyadari nada pertanyaan Ichigo yang terlalu datar baginya langsung memberhentikan langkahnya. Ia pun berbalik ke arah Ichigo deengan ekspresi ragu terlukis jelas di wajahnya.

Ia merasa bersalah karena sudah tidak menceritakan hal itu kepada sang pangeran Awataguchi. "Kami pernah bersama di keluarga Adachi. Ia sangat membenci ku karena Sadayasu-sama mati ketika ia memilih ku sebagai pedang perangnya. Ia sudah berpikir kalau aku adalah pembawa sial untuk tuannya." Cerita Tsurumaru secara singkat agar ia bisa melanjutkan untuk menyelesaikan tugas Yagen yang sudah ditukar olehnya.

"Anda membenci nya?" Ichigo bertanya kembali. Tsurumaru yang mendengar pertanyaan itu langsung merasa sedikit lega karena nada pertanyaannya tidak datar seperti sebelumnya.

"Bukan benci. Tapi.. aku tidak pernah berani kalau berurusan dengan Tenka Goken."

Walaupun Tsurumaru adalah pedang terkuat di Dategumi sesuai rumor nya, Ichigo tetap menyangka kalau pedang tersebut akan berkata seperti itu. Tenka Goken adalah nama yang susah didapatkan oleh sembarang pedang. Jika ada yang mendapatkan sebutan itu, kekuatannya pasti sudah diakui oleh semua masyarakat di Jepang. Ichigo Hitofuri pernah menjadi salah satu pedang yang mendapatkan sebutan itu, namun ia dikalahkan oleh kehadiran Onimaru Kunitsuna.

Ichigo tidak kecewa akan hal tersebut karenaia sudah dikenal pedang kuat yang setara dengan Tenka Goken.

.

.

.

.

Satu minggu sudah berlalu. Siapa yang tidak menyangka bahwa Ichigo Hitofuri dimasukkan ke Divisi Dua oleh Saniwa tanpa melewati misi individu. Saniwa sudah berkonsultasi kepada Konnosuke walaupun rubah kecil itu hampir tidak setuju dengan ide nya. Walaupun pedang itu adalah sosok Ichigo Hitofuri, Konnosuke mengkhawatirkan pedang itu karena ia sudah lama tidak bertarung di medan perang. Jika ada musuh dari revisionis sejarah, terutama pedang ootachi, menyerang dia, kemungkinan untuk menang menjadi 50 persen.

Akan tetapi, keras kepala Saniwa mengalahkan debat Konnosuke. Ditambah sejarah yang diserang oleh revisionis adalah tempat Adachi Sadayasu. Sebenarnya, ia ingin meminta Mikazuki untuk masuk Divisi Dua hanya untuk sementara saja karena dia adalah satu-satunya yang bisa menjinakkan amukan dari Tsurumaru. Namun, pedang ciptaan dari Sanjou Munechika itu sedang menjalankan misi yang panjang bersama Divisi Satu.

Ada apa dengan revisionis sejarah dan Aruji? Ichigo yang menjadi pedang baru di honmaru harus mempelajari banyak hal untuk mengetahui tujuan Tuannya yang mengumpulkan pedang-pedang untuk menyerang revisionis. Beruntung ada Yagen yang dapat menjelaskannya secara rinci.

Pada tahun 2201, mesin waktu berhasil diciptakan oleh pemerintah Jepang. Di waktu itu juga, Saniwa termasuk orang yang membantu untuk mengerjakan proyek tersebut. Mereka menciptakan alat tersebut dengan tujuan untuk mengubah sejarah yang tidak mereka inginkan seperti kalah terhadap Uni Soviet waktu Perang Dunia Kedua sehingga mereka tidak mendapatkan hak veto dari PBB.

Awalnya, Saniwa menyetujui ide tersebut dan memasuki kelompok revisionis sejarah. Ia pun menciptakan alat penempa pedang yang dapat menampilkan roh pedang tersebut. Namun, alat tersebut belum sempurna sehingga yang ditampilkan hanya bentuk roh pedang yang rusak. Walaupun begitu, mereka masih bisa mengubah sejarah dan kekuatan pedang tersebut tidak rusak seperti tampilannya.

Pemikiran Saniwa berubah ketika salah satu rekannya hilang setelah ia berhasil mengubah salah satu sejarah di suatu zaman pada saat kegagalan shinsegumi. Ia tidak menyangka bahwa rekannya adalah keturunan dari salah satu anggora shinsegumi yang selamat dari penjajah Jepang (revisionis menggantikan Hijikata Toshizo dengan orang yang tidak penting dalam sejarah agar Hijikata tetap hidup dan Jepang bebas dari penjajah). Akhirnya, Saniwa keluar dari revisionis dan menciptakan alat baru yang dapat menampilkan roh pedang sesungguhnya. Butuh waktu sekitar 8 tahun untuk mendapatkan hasil yang sesuai keinginannya. Sampai sekarang, Saniwa menjadi buronan di negaranya sendiri. Pemerintah Jepang bahkan menyerahkan semua aparat keamanan untuk mencari nya. Beruntung ia masih bisa bersembunyi. Tidak lupa dibantu oleh alat buatannya yang dapat menyembunyikan GPS dan rumahnya agar tidak terdeteksi oleh orang lain maupun peta online.

Saniwa mengirimkan Divisi Dua dan Konnosuke ke zaman Kamakura pada saat matahari terbenam, di mana zaman itu adalah zaman ketika klan Adachi sedang berada di puncaknya. Dan juga Sadayasu yang dulunya dicintai oleh Tsurumaru tewas akibat tebasan dari klan lain.

Anggota-anggota dari Divisi Dua yang sudah diubah oleh Saniwa yaitu : Izuminokami Kanesada sebagai kapten, Horikawa Kunihiro, Yagen Toushirou, Tonbokiri, Tsurumaru Kuninaga, dan Ichigo Hitofuri. Mutsunokami dipindahkan oleh Saniwa ke Divisi Tiga yang baru saja dibuat olehnya. Pedang itu dibutuhkan di sana karena sikap kepemimpinan dan pikiran yang tidak mudah hancur karena panik.

"Hee.. kita satu divisi ya, Ichi-nii. Aku bisa tunjukkan kekuatanku lebih mudah dibandingkan pada saat latihan." Ucap Yagen yang sedang jalan bersebelahan dengan kakaknya.

Sang kakak tersenyum dan berkata, "tunjukkan nanti pada saat ketemu musuh, Yagen." Yagen pun tersenyum lebar ke arah kakaknya. Pedang bernama Horikawa yang selalu memerhatikan orang lain merasa senang ketika Yagen bersikap lebjh ceria dari biasanya. Waktu awal Divisi Dua terbentuk, Yagen selalu bersikap dingin ke semua orang.

"Bersyukur kalau Ichigo-san ada di divisi kita ya, Kane-san?" Bisik Horikawa kepada pemuda yang ada di sampingnya.

Pemuda yang di sampingnya mengangguk dan berkata, "aku jadi sedikit mengkhawatirkan Bakamutsu itu. Apakah Aruji perlu kacamata untuk menempatkan si bodoh itu menjadi kapten Divisi Tiga?"

"Oya.. Izuminokami mengkhawatirkan sahabatnya?" Tsurumaru menimbrung percakapan kedua pedang milik Hijikata Toshizo sekaligus menggoda Izuminokami. Yang digoda pun spontan memasang wajah kemerahan karena malu.

"Bo-bodoh amat! Yang penting bebanku menjadi ringan berkat Aruji!"Bela pemuda bersurai hitam panjang itu. Mendengar bela diri dari sang kapten, Tonbokiri pun tertawa dan menanggapi, "tidak apa jika kita mengkhawatirkan teman sendiri, Izuminokami-dono."

Ichigo ikut tertawa dan berkata, "divisi ini memiliki kerja sama tim yang hebat ya."

Merasa tersanjung dengan pujian sang pangeran, mereka pun tersenyum senang karena nya. Izuminokami langsung merangkul pedang baru itu dan berkata, "pantas saja Tsurumaru berubah drastis. Ia telah jatuh cinta sama pemuda baik ini."

"Hei! Izuminokami teme!" Tsurumaru merasa tersinggung dengan ucapan sang kapten.

"Sudahlah kalian semua. Kita sekarang berada di medan perang." Yagen mencoba mengingatkan teman-teman satu divisi nya. Kedua netra ungu milik Yagen semakin tajam karena ia menyadari tempat mereka saat ini adalah hutan. Pohon-pohon selalu diambil keuntungannya oleh musuh untuk bersembunyi dan menyerang secara tiba-tiba.

"Ah, sial! Aku hampir saja terlalu santai dengan misi." Izuminokami mengeluarkan pedang dan menajamkan pandangannya di sekitarnya. Ia memberi aba-aba kepada divisi nya untuk menggunakan formasi yang sudah ia siapkan bersama Konnosuke dan Aruji.

Formasi yang telah dibuat tidak terlalu rumit. Apapun posisi yang mereka bisa kondisikan asalkan Tonbokiri, Tsurumaru, dan Ichigo tidak terjebak dalam hutan dan pergi ke sebuah padang rumput. Tempat itu adalah tempat perang terakhir yang dijalani oleh Adachi Sadayasu. Saniwa mempunyai tujuan meletakkan Tsurumaru di ladang rumput selain ia adalah golongan pedang besar. Tsurumaru harus ada di sana karena ia mengetahui sejarah Sadayasu di detik beliau menghembuskan napas terakhirnya.

TANG!

Bunyi pedang beradu akhirnya terdengar. Yagen menahan musuh berukuran wakizashi dan membunuhnya tanpa menunggu lama. Disusul Izuminokami dan Horikawa yang menyerang ootachi dengan teknik mereka berdua. Sudah terbiasa dengan ukuran besar, mereka merasa mudah untuk mengalahkannya. Namun mereka masih memiliki celah cukup besar. Itu adalah penilaian dari Ichigo yang kagum ketika melihat teknik mereka.

Ketiga pedang itu ditinggal di tengah hutan. Tsurumaru mengambil alih formasi yang telah dibuat oleh kaptennya. Walaupun beberapa pedang seukuran uchigatana hingga yari menyerang di tengah perjalanan mereka, tetap saja bukan alasan untuk terlambat ke padang rumput yang mereka tuju. Mereka harus tiba di sana sebelum matahari bangun dari tidurnya.

"Apakah masih jauh, Tsurumaru-dono?" Tanya Tonbokiri yang masih membasmi musuh-musuh di depannya.

"Tidak. Sebentar lagi kita akan sampai."

Kata sebentar menjadi tabu ketika kata itu diucapkan oleh Tsurumaru. Hampir semua penghuni honmaru tahu kalau pedang bangau itu suka mengulurkan waktu. "Saya harap Anda benar, Tsurumaru-dono." Ucap Ichigo yang sudah hampir kelelahan menghadapi para pedang milik revisionis sejarah.

Mereka sudah tiba dengan waktu yang singkat. Kali ini ucapan Tsurumaru tidak berbau omong kosong. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat mereka bahagia.

Di padang rumput itu sudah banyak pedang revisionis yang siap membasmi mereka bertiga. Jumlah pedang musuh adalah delapan, terdiri dari empat tachi, tiga ootachi, dan satu yari. Mereka tidak boleh lengah satu detik pun.

Ichigo langsung saja menyerang salah satu ootachi agar sisa stamina nya bisa terbuang tanpa sia-sia. Ia mengambil napas perlahan dan langsung fokus untuk menyerang musuh lainnya. Ia mempercayakan ootachi dan yari kepada Tsurumaru dan Tonbokiri.

Tsurumaru menyerang dua tachi dan satu ootachi, sedangkan Tonbokiri menyerang ootachidan yari. Butuh beberapa menit untuk mengalahkan mereka semua. Berkat musuh yang menyerang dalam hutan, stamina yang mereka gunakan menjadi sia-sia di sana. Hutan terlalu sempit untuk pedang besar.

"Kerja bagus, semuanya." Tonbokiri masih bisa berucap walaupun napasnya terengah-engah. Begitu juga lainnya. Tapi senyum lebar mereka dapat menghapus rasa letih. Kemenangan adalah segalanya bagi mereka.

"Maafkan saya yang baru saja memasuki medan perang. Seharusnya saya lebih baik dari ini." Ucap Ichigo yang menyesal dengan luka yang ia dapatkan. Salah satu tachi di bagian musuh berhasil melukai leher dan tepi perut Ichigo. Sudah beribu tahun ia tidak digunakan untuk menebas musuh.

"Ichigo, kau baik-baik saja?" Tanya Tsurumaru khawatir seraya menghampiri pemuda surai biru muda yang sedang terluka. Yang ditanya menjawab dengan menggelengkan kepala dan menjawab, "saya tidak akan mati, Tsurumaru-dono. Anda tidak perlu khawatir."

Senyum Tsurumaru terlihat di wajahnya. Bukan senyum senang atau lega dengan ucapan Ichigo. Menurut sang pangeran, senyuman itu sedikit dipaksakan oleh pemilik bibir tipis itu. Ichigo ingin bertanya tentang keadaan sang bangau namun digagalkan oleh sinar mentari yang baru saja bangun dari mimpinya. Mereka harus menjauh dari tempat ini sebelum klan Adachi menemukan mereka.

"Ichigo, Tonbokiri.." yang dipanggil oleh Tsurumaru langsung menoleh ke arahnya.

"Sebelum pulang, bolehkan aku melihat Sadayasu-samauntuk terakhir kalinya?"

.

.

.

.

Sore harinya, di suatu ruangan di honmaru.

"Terima kasih atas kerja keras kalian. Saya sangat berterima kasih, sungguh." Ucap Saniwa berterima kasih seraya merapikan laporan dari kapten Divisi Dua. Inti dari laporan yang dibuat oleh Izuminokami berisi jalannya misi yang baru saja diselesaikan oleh Divisi nya.

Tidak ada kendala berarti. Ichigo Hitofuri yang mengalami luka adalah kendala yang wajar di setiap pedang baru. Ditambah luka tersebut digolongkan sebagai luka ringan. Konnosuke bisa memperbaiki nya tanpa tangan dari saniwa.

"Kalau begitu, saya permisi." Izuminokami berdiri dari tempat duduknya yang sudah tersedia untuk tamu ruangan tersebut. Saniwa hanya membiarkan pedang tersebut pergi meninggalkannya. Senyum kecil yang terlukis di wajah Izuminokami sudah membuat sang Tuan senang.

"Aruji-sama." Konnosuke lainnya memanggil sang Tuan. Yang dipanggil pun menoleh ke arahnya. "Ada apa?"

"Saya mendapatkan informasi Konnosuke lainnya yang sedang bersama Divisi Satu. Mereka akan kembali ke honmaru pada pukul delapan malam." Ucap Konnosuke menjelaskan informasi yang baru saja ia dapatkan.

Saniwa mengerutkan dahinya setelah mendengar informasi tersebut. "Baru kali ini Divisi Satu tidak mengulurkan waktu untuk pulang ke honmaru. Apakah ada sesuatu? Apakah Yamanbagiri-san yang memerintahkan satu divisi nya untuk pulang lebih awal?" Tanya Saniwa kepada Konnosuke. Ia heran dengan keputusan Divisi Satu yang seperti ini. Terutama Yamanbagiri Kinihiro selaku kapten Divisi Satu tidak akan pulang sebelum melakukan sesuatu untuk warga sekitar yang diserang oleh para revisionis.

"Bukan Yamanbagiri-san, tapi Mikazuki-sanyang meminta nya." Jawab Konnosuke.

Saniwa hanya dapat memijat dahinya ketika mendengar pedang salah satu Tenka Goken itu. "Sudahlah. Lagipula saya tidak dapat menebak sifat pedang tua itu." Gumam Saniwa yang terdengar lelah ketika menghadapi pedang yang penuh dengan kejutan. Mungkin inilah penyebab Tsurumaru menjadi suka kejutan karena kakeknya yang tidak dapat ditebak perilakunya.

"Pastikan saja alat untuk kembali ke sini masih salam keadaan baik di tangan mereka." Titah Saniwa kepada Konnosuke.

"Baik. Akan saya sampaikan pesan kepada Konnosuke yang di sana."

.

.

.

.

Setelah meninggalkan ruangan Tuannya, Izuminokami pergi menuju ruang pedang Awataguchi. Ia juga ingin menjenguk kakak sulung keluarga itu. Rekan-rekannya juga sudah menunggu kedatangan sang kapten.

Sesudah sampai di ruang yang ia tuju, Izuminokami ditemukan bersama dua tantou bersurai pendek sebahu layaknya saudara kembar. Kedua tantou dengan tampilan seperti anak kecil itu menyapa nya. "Selamat sore, Izuminokami-san." Salah satu tantou bernama Maeda Toushirou menyapa nya duluan.

Izuminokami membalas dengan senyuman dan menjawab, "ou! Selamat sore. Apakah pekerjaan kalian di honmaru sudah selesai?" Tanya pedang uchigatana itu yang mencoba basa-basi dengan mereka berdua.

"Kami sudah menyelesaikannya sebelum divisi kalian pulang. Bagaimana dengan Anda? Sudah selesai mengumpulkan laporan ke Aruji-sama?" Kali ini Hirano menjawab sekaligus berbalik tanya ke Izuminokami.

"Sudah pasti. Sebagai kapten, aku harus menggunakan waktu dengan bijak." Jawab Izuminokami dengan bangga. Kedua anak yang di hadapannya tersenyum senang melihatnya. Biarkan si muda memuji dirinya. Pada kenyataannya, Izuminokami memiliki umur lebih muda dibandingkan mereka berdua.

"Oh iya. Apakah aku boleh menjenguk kakak kalian?"

"Tentu saja. Kami sudah menyiapkan ochauntuk Anda." Jawab Maeda seraya mengarahkan Izuminokami masuk ke ruangan. Izuminokami berpikir bahwa Ichigo adalah orang yang beruntung memiliki adik seperti mereka berdua.

Di ruangan tersebut, kedua netra biru nya dapat melihat rekan-rekannya duduk mengelilingi meja lingkaran berukuran besar menurutnya. Mereka juga sudah menggunakan pakaian santainya seperti jaket jersey maupun yukata. Berbeda dengan Yagen yang hanya melepaskan seragamnya dan menggunakan kemeja tanpa dasi. Ia pun terlihat sudah menggunakan kacamata nya lagi.

"Yo! Ichigo, Tsurumaru, bagaimana kabar kalian?" Tanya Izuminokami seraya duduk di kumpulan mereka.

"Saya baik-baik saja. Hanya goresan—"

"Oi! Kenapa kau menanyakan aku juga?" Belum saja Ichigo menyelesaikan jawabannya untuk sang kapten, Tsurumaru sudah menginterupsi.

Izuminokami meminum ocha buatan Hirano dan Maeda sejenak sebelum menjawab pertanyaan Tsurumaru dengan kesabaran yang tinggi. Dibantu dengan pijatan pundak dari asisten setia nya yaitu Horikawa yang datang di waktu tepat. "Berterima kasihlah kepada ku karena aku tidak menuliskan di laporan bahwa kau menangis karena kepergian Adachi Sadayasu."

"Dia memang pantas untuk ditangisi. Tidak ada laki-laki tangguh seperti dia." Ucap Tsurumaru yang mencoba membela Tuan lama nya.

"Anda yang tidak mengeluarkan air mata untuk beliau, Tsurumaru-dono." Seseorang menginterupsi percakapan antara Izuminokami dengan Tsurumaru. Pemuda dengan jaket jerseydominan putih dan biru adalah sumber suara nya.

Semua mata tertuju kepadanya, termasuk adik-adik Ichigo di ruangan itu. Mereka terkejut dengan nada suara yang tidak terdengar ramah seperti biasa. Bahkan Yagen tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

Pada saat Tsurumaru meminta teman-teman satu divisinya untuk melihat Sadayasu dari jauh, hanya Ichigo yang tidak menyetujuinya. Sempat terjadi perdebatan kecil namun diredakan oleh sang kapten. Hasil akhirnya, mereka mengabulkan permintaan Tsurumaru dan harus melihat nya meneteskan air mata.

Mereka tidak senang jika harus melihat rekannya menghabiskan waktu untuk menangisi masa lalunya.

Yang terpancing dengan ucapan Ichigo pun membuka mulutnya lagi. "Apa maksudmu?"

"Adachi Sadayasu sudah mati. Untuk apa Anda menangisi mayat tidak berguna itu? Apakah tidur bersama mayat membuat Adachi Sadayasu hidup kembali?"

BRAK!

"Tsurumaru!" Semua orang meneriakkan nama nya setelah ia menghajar Ichigo secara tiba-tiba. Hampir semua teh jatuh dan membasahi tatami di ruangan tersebut. Sekarang, tidak ada yang berani dengan kemurkaan sang bangau. Bahkan sang kapten maupun Tonbokiri yang terkuat di divisinya hanya bisa angkat tangan bila itu terjadi. Sekarang kejadian itu terjadi di depan mereka.

"Ah, genggaman Anda lemah. Apakah ini balas dendam yang pernah saya lakukan kepada Anda?" Yang posisi nya sedang terbaring di bawah Tsurumaru pun melontarkan pertanyaan berbau sarkasme.

"Kau sudah mengkhianati Tuanku. Apakah sebegitu bagusnya kau dibandingkan dengan Sadayasu-sama?" Tsurumaru tidak membalas pertanyaan dari Ichigo. Ia malah bertanya balik kepada pemuda yang ada di bawahnya.

Yang ditanya hanya tertawa kecil ketika mendengarnya. Ia mendorong pemuda yang ada di atasnya dengan pelan, menurutnya. Yang melihat dorongan itu hanya bisa membuka mulutnya karena kekuatan Ichigo masih terlalu kuat di saat ia terluka seperti ini. Tsurumaru pun terlempar dan menabrak shoji di ruangan itu. Alhasil, shoji itu pun terlepas dari tempat seharusnya.

"Saya bisa menunjukkannya sekarang, jika Anda mau."

Oh, berani-berani nya dia menantangku. Kau sudah menginjak ranjau, Ichigo Hitofuri. Pikir Tsurumaru seraya menampilkan senyuman remeh miliknya. Ia pun berdiri dari tempat jatuhnya, melihat tachi buatan Awataguchi itu dengan tajam. Yang ditatap seperti itu hanya santai menanggapi nya. Sudah biasa ditatap seperti itu.

"Jika kau mau patah, akan kuladeni, Ichigo Hitofuri."

Tsurumaru pun keluar meninggalkan ruangan tersebut. Ichigo menyusul pedang itu namun beberapa tangan mencoba menghentikannya. "Ichi-nii, Tsurumaru-san terlalu kuat. Aku takut kalau Ichi-nii benar-benar patah dan meninggalkan kami lagi." Ucap salah satu pedang bernama Midare Toushirou seraya mengeratkan pegangannya.

"Tenang saja, Midare. Kau lihat saja tadi kalau Ichi-nii kita jauh lebih kuat." Ucap Yagen yang mencoba menenangkan saudara nya.

Ichigo pun tersenyum mendengar kepercayaan dari Yagen. Ia tersenyum ke arah Midare dan berkata, "saya tidak akan mati dan meninggalkan kalian." Lalu, ia pergi meninggalkan ruangan itu.

"Hei, Kane-san, ayo kita lihat pertarungan mereka berdua. Kane-san pasti penasaran juga kan?" Tanya Horikawa dengan semangat.

Seringai Izuminokami pun tumbuh setelah mendengarnya. Semua Divisi Dua menyusul untuk melihat pertunjukkan yang jarang seperti ini. Mantan Tenka Goken bertarung melawan pedang didikan dari salah satu pedang Sanjou Munechika, ruang latihan punya kemungkinan akan hancur akibat pertunjukkan tersebut.

Semua anggota Divisi Dua berkumpul di ruang latihan. Ichigo dan Tsurumaru sudah mengarahkan pedang mereka satu sama lain. Tidak ada suara yang mengganggu suasana tegang itu. Bahkan Izuminokami yang selalu berisik jika melihat pertarungan bisa tutup mulut karena udara di sekitarnya menjadi lebih berat.

Tak lama kemudian, suara benturan pedang pun terdengar. Terlihat bahwa Tsurumaru telah mencuri start dan mendapatkan celah dari lawan. "Celahmu terlalu lebar!" Teriak Tsurumaru dan mencoba menebas perut Ichigo. Semua orang yang menyaksikannya sudah berpikir kalau serangan itu dapat mengenai tubuh Ichigo.

Suara benturan pedang terdengar kembali. Celah Ichigo sengaja dibuat untuk memancing Tsurumaru ke posisi yang tidak memungkinkan untuk mengayunkan pedang lagi. Setelah menangkis serangan dari Tsurumaru, ia menyerang pinggang sang bangau dengan Nakago pedangnya yang sudah dibungkus dengan Same-kawa. Serangan itu berhasil dan Tsurumaru segera jatuh ke lantai.

Namun serangan dari Tsurumaru datang tiba-tiba. Salah satu kakinya menyerang wajah Ichigo sehingga dagu Ichigo yang terkena serangan tersebut. Alhasil, tubuh Ichigo terlempar jauh sampai ke sudut ruangan.

"Heh.. membosankan." Suara dari Tsurumaru bagaikan sebuah minyak menetes di permukaan api kecil di hati Ichigo. "Ternyata dugaanku benar. Dari dulu, aku sudah berpikir kalau Yoshimitsu hanya sebuah nama biasa." Dan api pun terpancing oleh ucapan merendahkan dari Tsurumaru.

"Tsurumaru..." Geraman api terdengar ketika Ichigo bangkit dari tempat jatuhnya. Yagen yang menyaksikannya sudah menduga kalau kakaknya akan marah besar ketika mengejek sang pencipta nya. Namun, kemurkaan sang kakak tidak pernah ia jumpai sampai sekarang.

"KUNINAGA!" Dan api itu membesar. Tidak ada orang yang dapat melihat serangan Ichigo yang terlalu cepat, bahkan Yagen sendiri selaku pedang tercepat di divisi nya. Suara adu pedang terdengar, disusul suara rusaknyashojikarena Tsurumaru terlempar lagi oleh Ichigo.

Ichigo yang sebelumnya lemah lembut kepada sang bangau indah itu menjadi brutal bahkan melebihi pedang Oodenta Mitsuyo. Walaupun pedang itu menyeramkan, ia tidak pernah menyakiti orang yang dia sayangi seperti Maeda. Semua orang sudah tahu tentang pedang dari Divisi Satu sekaligus Tenka Goken seperti Mikazuki Munechika.

Di samping ruang latihan adalah ruangan Uguisumaru dengan Ookanehira. Teh Uguisumaru terjatuh ketika melihat dua pedang yang ia kenal bertarung di hadapannya. Ookanehira yang melihatnya pun mencoba menghentikan mereka berdua, namun dihentikan oleh Uguisumaru.

"Tenang saja. Mereka akan baik-baik saja."

"Tenang apanya? Tsurumaru akan dibunuh oleh dia!" Ookanehira memberontak kepada saudara nya. Dilihat dari posisi Ichigo dan Tsurumaru saat ini, Tsurumaru sudah tidak dapat melarikan ataupun menyerang balik. Kedua tangan pedang buatan Gojou Kuninaga itu sudah dicengkeram kuat oleh salah satu tangan Ichigo. Di saat itu juga, pedang Ichigo bisa saja diayunkan dan dapat mematahkan Tsurumaru.

Tsurumaru tidak dapat menendang kakinya ke arah Ichigo. Entah kenapa ia tidak menggerakkan kakinya. Sakit pun terasa ketika ia mencoba mengayunkan kedua kakinya.

"Menyerah saja, Tsurumaru-dono. Saya sengaja menyerang pinggang Anda sehingga salah satu kaki Anda tidak dapat bergerak. Yang satu lagi, Anda diam-diam terluka pada saat misi sebelumnya." Ucap Ichigo yang sedang berada di atasnya.

Uguisumaru tersenyum mendengar ucapan dari Ichigo, "seperti biasa, kau teliti di segala hal." Yang merasa terpuji pun tersenyumsenang mendengarnya.

Tsurumaru tidak dapat memberontak ketika Ichigo mencoba menggendong tubuhnya dengan kedua tangannya. Sebelum itu, ia menaruh pedangnya dan pedang Tsurumaru ke sarung masing-masing. Pada saat ia sudah siap untuk membawa Tsurumaru, suara langkah kaki terdengar keras menghampiri mereka.

"Wow. Tidak bisa disangka kalau kau lebih kuat daripada Tsurumaru."Ucap Izuminokami spontan.

Tonbokiri yang melihat Tsurumaru yang tidak memberontak pun berbicara, "Ternyata Anda benar, Ichigo-dono. Tsurumaru terkena cidera pada saat melawan ootachi."

Pada saat setelah mereka menyelesaikan misi, Ichigo berkata kepada Tonbokiri dan Izuminokami bahwa Tsurumaru harus dibawa ke ruangan Saniwa untuk menyembuhkannya. Tetapi, mereka berdua tidak mempercayai nya karena Tsurumaru tetap berjalan seperti biasa. Bahkan mereka meminta Horikawa dan Yagen untuk pura-pura tidak sengaja menyentuh ataupun menendang kakinya untuk memastikan hal tersebut. Namanya juga Tsurumaru yang masih keras kepala, ia tetap terlihat baik-baik saja. Yagen yang paling tahu tentang medis juga berkata bahwa ia baik-baik saja.

"Yagen,"

Ygen pun menoleh ke arah sumber suara. "Ada apa, Ichi-nii?"

"Kau bisa menyembuhkannya tanpa dibawa ke tempat Aruji-dono, bukan?"

.

.

.

.

Tsurumaru dibawa ke oleh Ichigo ke ruangan pedang Awataguchi. Pedang Tsurumaru pun diletakkan ke ruang Dategumi. Ichigo berdoa agar Izuminokami dapat menahan amukan dari pedang berkulit tan yang ganas itu.

Dengan bantuan dari Yagen, Tsurumaru dapat berbaring di atas futon tanpa merasakan sakit seperti sebelumnya. Yang duduk di sampingnya hanya dapat mengelus surai putih itu dengan perlahan. Raut wajah pemuda itu sedikit pilu ketika harus melihat Tsurumaru menyembunyikan luka nya.

"Apakah Anda masih tidak mempercayai saya sehingga harus menyembunyikan banyak hal dari saya?"

"Maaf." Suara isak akhirnya terdengar. Tsurumaru mengambil tangan yang ada di kepala nya lalu menaruhnya ke pipinya yang basah. "Maafkan aku, Ichigo. Kau pasti kesulitan jika hidup bersama ku. Makanya, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapanmu. Tapi malah jadi seperti ini.."

Suara isak pun semakin keras. Namun Ichigo menyukai hal ini. Ketika Tsurumaru berani mengeluarkan air matanya, ia merasa bahwa Tsurumaru sudah mempercayai nya. Ia mengelus pipi itu dan mengusap air matanya.

"Anda memang menyusahkan bila dibandingkan dengan adik-adik yang saya miliki." Jeda, ia mengangkat tubuh Tsurumaru agar ia dapat duduk dan menghadapnya, Kedua tangan Ichigo menangkup wajah indah layaknya bidadari.

Kembali lagi, emas bertemu emas, dan perasaan bertemu dengan perasaan yang sama. Impian Ichigo sudah dikabulkan berkat Saniwa yang membangkitkannya kembali.

"Jika tidak ada kesulitan, untuk apa saya hidup. Hidup bertujuan untuk menyelesaikan kesulitan."

Tsurumaru mengerutkan dahinya, bingung dengan maksud dari ucapan Ichigo. Jadi dia hidup untuk dirinya? Sama seperti Sadayasu lakukan untuknya?

"Jadi, kau rela mati untukku?" Tanya Tsurumaru yang penuh dengan harapan. I berharap Ichigo dapat menggantikan sosok Sadayasu yang sudah ia khianati janjinya.

Tanpa ragu, Ichigo menjawab pertanyaannya, "saya tidak mau menyia-nyiakan nyawa saya dan tetap melindungi diri Anda dan adik-adik saya selama hidup. Bukan meminta Anda untuk tidur bersama mayat yang membisu.

Intinya, saya tidak akan meninggalkan Anda."

Jawaban dari Ichigo bukanlah harapan dari Tsurumaru. Akan tetapi, ia tidak kecewa dengan jawaban yang sudah Ichigo lontarkan untuknya. Senyuman lebar terlukis di bibirnya. Setelah itu, dekapan dari Tsurumaru pun datang untuk sang pangeran.

"Terima kasih sudah menemuiku, Ichigo."

Disusul dengan ciuman hangat dari sang pangeran yang tidak peduli dengan keberadaan adik-adiknya yang sedang berada di ruangan. Toh, Yagen dan Atsushi Toushirou membantu dirinya untuk menutup kedua mata Gokotai dan Akita Toushirou. Midare tidak dapat membantu karena sudah kegirangan melihat adegan seperti yang ada di acara tv.

.

.

.

.

Di malam hari, pada saat Ichigo menjalani hukuman baru dari Saniwa karena sudah merusak dua shoji di honmaru nya. Sebelumnya, ia mendapatkan ceramah panjang lebar dari Heshikiri Hasebe yang membosankan. Mau tidak mau, ia harus mendengar tiap ceramah nya sebagai tambahan hukuman untuknya.

Beruntung adik-adiknya sudah menyisihkan makan malam untuknya. Perut pun mengeluh untuk dijamu setelah menyelesaikan hukumannya. Segera ia pamit ke Uguisumaru dan saudara nya untuk menuju ke ruangannya. Tsurumaru sudah tidak berada di sana karena Shokudaikiri sudah membawa nya pulang ke ruang Dategumi.

"Ichi-nii!" Suara yang pernah Ichigo kenal meneriakkan namanya di sepanjang teras halaman belakang honmaru. Sosok pemuda berpakaian yang kurang lebih seperti keluarganya, berwajah manis dan bersurai abu-abu itu memanggilnya seraya berlari ke arahnya.

"Honebami!" Ichigo pun meneriakkan nama pemuda itu setelah menyadari bahwa itu adalah adiknya sendiri. Di belakang Honebami, terlihat lima buah pedang menyusul dirinya. Yamanbagiri Kunihiro, Higekiri, Hizamaru, Oodenta Mitsuyo, dan Mikazuki Munechika. Mereka termasuk Honebami Toushirou adalah anggota Divisi Satu yang terkenal sebagai divisi terkuat yang pernah Saniwa bentu.

Walaupun mereka terlihat santai, tensi udara semakin naik ketika mereka mendekat ke arah Ichigo dan Honebami. Wajar bagi Ichigo untuk merasakannya karena mereka terbiasa untuk waspada namun harus menutupinya agar musuh tidak menyadari hal tersebut.

"Sebagai kakak, saya bangga bahwa Honebami memasuki Divisi Satu." Ucap Ichigo seraya mengelus surai abu-abu milik adiknya. Setidaknya ia tidak terlalu khawatir seperti pada saat ia mendengar cerita Namazuo bahwa Honebami kehilangan sebagian memori nya akibat terbakar di masa lalu.

"Aruji saja yang kasihan kepadaku dan masuk ke divisi ini." Honebami mencoba untuk tidak terlihat kesenangan ketika kakaknya memuji dirinya. Ichigo hanya tertawa ketika melihat ekspresi Honebami. Ia merasa senang bahwa sifat Honebami tidak ada yang berubah.

"Oya, Ichigo Hitofuri ya? Divisi Dua benar-benar bekerja keras demi honmaru ini, benarkan, Pizzamaru?" Pemuda cantik bersurai pirang berbicara kepada sosok pemuda bersurai hijau muda.

"Hizamaru da, Anija." Hizamaru pun juga terkesima ketika melihat sosok Tenka Hitofuri yang kedatangannya ditunggu oleh Aruji dan anak-anak seperti pangeran yang ada di buku dongeng milik Imanotsurugi.

Sepadan dengan susah payah Aruji beserta pedang-pedangnya. Bahkan Divisi Satu belum tentu bisa mendapatkan pedang Ichigo Hitofuri.

"Perkenalkan, aku Hizamaru. Dan kakakku bernama Higekiri. Selamat datang di honmaru, Ichigo Hitofuri."

Ichigo menampilkan senyum menawan miliknya dan berkata, "terima kasih. Dan selamat datang kembali, Divisi Satu."

"Sudah. Jangan banyak berbincang lagi." Ada sosok yang menginterupsi percakapan mereka. Oodenta Mitsuyo, dengan wajah suramnya, melangkah ke arah mereka. "Walaupun kau pernah menjadi Tenka Goken, buktikan kalau kau berguna di honmaru ini." Ucapnya yang terdengar mengancam pemuda bersurai biru muda itu.

Divisi Satu pernah diberi misi untuk mencari pedang Ichigo Hitofuri, namun mereka tidak membuahkan hasil seperti Divisi Dua. Mereka harus menerima kegagalan untuk pertama kali.

"Dia bukan Onimaru Kunitsuna yang kuat, Oodenta." Akhirnya orang itu bicara juga, batin Ichigo seraya menatap ke arah pedang terkuat di honmaru. Mikazuki Munechika, pedang buatan Sanjou Munechika sekaligus salah satu Tenka Gokenyang paling indah di Jepang. Walaupun Ichigo pernah hidup di zaman yang sama dengan Mikazuki, ia tidak pernah mendengarkan cerita masa lalu dia kepada pedang Sanjou itu.

Rumor pernah mengatakan bahwa Sanjou Munechika adalah guru dari Gojou Kuninaga. Ia juga mendengar kalau Tsurumaru berhubungan erat dengan salah satu pedang Sanjou. Setelah mendengar cerita dari Tsurumaru sendiri, iatidakmenyangka kalau pedang itu adalah pedang yang berada di hadapannya, sedang menatap tajam bahkan Ichigo merasa dikuliti olehnya.

Tidak seperti dulu yang bersikap ramah, Mikazuki menjadi lebih arogan kepada nya.

"Yah.. walaupun begitu dia tetaplah tachi dari Awataguchi. Tsuru ya bisa berbahaya jika ia mendekat." Ia berjalan di samping Ichigo, lalu berhenti sejenak. Salah satu tangan mendarat ke atas pundak Ichigo.

"Jika kau mendekati Tsuru kesayanganku lagi, aku tidak segan untuk membasmi semua pedang Awataguchi." Bisikan mengancam itu mencekik pernapasan Ichigo. Ia tidak dapat berkata apa-apa, bahkan untuk menatap pedang itu pun tidak mampu. Beruntungkedua tangannya bereaksi untuk menutupi kedua telinga Honebami sehingga yang ditutup telinga nya tidak dapat mendengar bisikan dari Mikazuki.

"Oi, Mikazuki. Cepat bergerak!" Suara dari pedang di belakangnya yang menggunakan jubah putih itu memerintahkan pedang buatan Sanjou Munechika itu. Apakah pedang bernama Yamanbagiri Kunihiro itu dapat mendengarnya?

"Hai' wakatta, kapten Yamanbagiri." Setelah itu, semua anggota Divisi Satu kecuali Honebami pergi meninggalkan Ichigo.

"Mikazuki tadi mengatakan apa, Ichi-nii?" Tanya Honebami penasaran. Ichigo hanya tersenyum dan berkata.

"Dia ingin berbicara masa lalunya bersama, nanti malam. Sekarang pergilah menuju Aruji-dono." Honebami menuruti perkataan Ichigo setelah mendengar jawaban bohong darinya.

Dia harus membuktikan ke Mikazuki Munechika kalau seorang Ichigo Hitofuri berhak untuk berada di samping sang bidadari buatan Gojou Kuninaga.

Di saat itu juga, ada sebuah percakapan antar Mikazuki dan Yamanbagiri.

"Kau tidak akan serius untuk melakukannya, bukan?"

Yang ditanya hanya tertawa dan berkata, "cinta itu candu, Yamanbagiri yo."

.

.

.

To be continue...

Author's note :

Halohaaaa, coretankecil kembali lagi. Akhirnya ku bisa menyelesaikan chapter ini. Sebenarnya aku pernah kehabisan ide. Berkat selalu nonton film baru, imajinasi ku berjalan lagi dengan lancar bagaikan jalan tol :v. Ditunggu komentarnya yaaa. Saran/kritik yang membangun membuat aku semangat untuk membuat kapal IchiTsuru!

-coretankecil