warning : gaje, aneh, typhosss (saking banyaknya), GS, alur kecepatan, tata bahasa dan diksi mungkin tak sesuai EYD, detail cerita kurang mendalam dll
saya pinjam nama cast dari Super Junior, Shinee, TVXQ, JYJ, SNSD, SM The Ballads, dll
semua cast bukan milik saya, akan tetapi cerita ff ini punya saya
dilarang copy paste, atau mencuri ide dari ff ini, dilarang bash cast ff ini
a kyumin ff
UNWANTED HERO
"Ya ... sampai kapan kalian akan bermain berdua dan mengacuhkan aku di sini?" sewot yeoja imut bermarga Lee yang duduk di sisi sebuah sofa panjang. Bibir shape M nya kini sudah terpout sempurna, lengkap dengan pandangan kesal dan kening yang ditekuk rapat.
"Memangnya siapa yang menyuruhmu kemari. Kau pikir kami senang menampungmu yang sedang marah-marah seperti itu?" jawab seorang namja yang ada di sana.
"Hei, monster kulkas, kau sudah berani denganku ya?" yeoja manis itu beranjak dari duduknya kemudian menghampiri namja jangkung yang masih setia duduk di depan layar LED 32 inch nya, asyik bermain PS dengan yeoja lain yang ada di sana.
"Changmin oppa, sabar. Jangan buat Minnie eonnie tambah emosi. Dan Minnie eonnie, tolong jangan marah-marah lagi. " yeoja yang menjadi lawan bermain PS namja bernama Changmin itu mencoba menenangkan namja itu.
"Ah, sudahlah aku mau makan saja. Hyunnie chagi, kau saja yang menemani Sungmin." Changmin beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju dapur, surga makanan baginya.
"Minnie eonnie, mianhe. Maafkan Changmin oppa ne."
"Huh ... kalau bukan namjachingumu, pasti dia sudah kuhajar Seohyunnie." Sungmin mengambil stick PS yang ditinggalkan Changmin dan mulai memencet-mencet tombol di sana dengan asal.
"Sebenarnya eonnie ada masalah apa? Daritadi kutanya hanya cemberut saja." yeoja bernama Seohyun itu meneguk jus jeruk yang sudah tinggal setengahnya.
"Masalah lama Seohyunnie, masalah mobil." Sungmin masih 'asyik' memencet tombol-tombol stik itu, namun kali ini dengan lebih kasar.
Mendengar penjelasan Sungmin, Seohyun hanya tersenyum. Yeoja yang berumur setahun lebih muda dari Sungmin itu terkadang justru mempunyai pikiran yang lebih dewasa dari Sungmin.
"Kurasa memang belum saatnya eonnie mempunyai mobil sendiri. Bukankah enam bulan lagi eonnie genap 17 tahun. Pasti nanti di usia itu eonnie akan dibelikan mobil oleh Jinki samchon dan Keybum imo." hibur Seohyun, mengelus lengan Sungmin lembut, memberi kekuatan.
"Tapi masalahnya, aku butuh mobil itu sekarang. Aku tidak bisa diam saja melihat yeoja bernama Kim Jae Joong itu kembali menjadi idola dan digilai semua namja di sekolahku, terlebih..." ucapan Sungmin terhenti, air mukanya berubah menjadi sendu.
"Terlebih apa eonnie? Eonnie menyuka seseorang?" tanya Seohyun semakin antusias.
Sungmin menghela napas panjang. Matanya memandang ragu kepada Seohyun.
"Ceritakan saja eonnie, siapatahu aku atau mungkin Changmin oppa bisa membantu." senyum teduh Seohyun membuat Sungmin yakin untuk menceritakan masalah paling pribadi yang sudah lama ia simpan rapat di dalam hatinya itu kepada sahabat massa kecilnya yang sudah hampir 14 tahun berteman dengannya. Ya, Seohyun dan Sungmin memang sudah berteman selama itu. Dimulai ketika mereka berdua dulu tinggal di kompleks perumahan yang sama. Sungmin yang kesepian karena Heechul selalu sibuk sendiri dengan teman-teman sebayanya kemudian mulai mengakrabkan diri dengan Seohyun yang setahun lebih muda darinya. Darisana merekapun mulai akrab. Bahkan setelah kepindahan keluarga Sungmin ke rumah yang lebih luas, ia dan Seohyun masih menjalin kontak dan terkadang saling mengunjungi. Hingga Seohyun pun berpacaran dengan salah satu namja yang tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan Seohyun, Shim Chang Min, tetap tidak menghalangi kedekatan Sungmin dan Seohyun.
"Hah...Kau masih ingat dengan namja yang bernama Jung Yun Ho?" buka Sungmin. Seohyun terlihat berpikir sesaat.
"Ah, namja paling tampan di sekolah eonnie. Incaran semua yeoja itu?" ucap Seohyun antusias.
"Ne...namja itu juga merupakan namja yang eonnie sukai." Sungmin menghela nafasnya panjang.
"Dia adalah namja yang nyaris sempurna. Tampan, cerdas, berbadan atletis, kaya. Dan kau tahu Hyunnie, di sekolah eonnie begitu banyak yeoja yang cantik, kaya, cerdas dan bertubuh indah. Dengan susah payah, eonnie selalu berusaha untuk menjadi yang tebaik dibandingkan yeoja-yeoja itu. Menjadi yeoja yang paling diakui di penjuru sekolah, dan itu bukanlah perkara yang mudah. Hingga, ditahun kedua eonnie bersekolah di sana, akhirnya eonnie mendapatkan apa yang eonnie mau. Tinggal sedikit lagi eonnie mendapatkan Yunho oppa, jika saja yeoja itu tidak datang di sekolah eonnie." Sungmin terdiam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.
"Maksud eonnie, yeoja bernama Kim Jae Joong itu?"
"Ne, dia murid pindahan dari Jepang. Wajahnya...ya ... sebenarnya standar, tapi mereka bilang dia sangat cantik. Dia juga bisa dibilang ya ... tidak bodoh ... puteri pemilik salah satu perusahaan perhiasan terbesar di Asia. Dan juga sudah mempunyai mobil sendiri. Dan itulah masalahnya. Ternyata Yunho oppa sangat menyukai yeoja mandiri. Yeoja yang ke mana-mana tidak perlu di antar supir pribadi sepertiku. Ah ... kesal rasanya kalau mengingat ini. Hanya karena mobil aku kalah dari yeoja itu. Yeoja itu memang sudah genap 17 tahun sekarang, makanya dia sudah membawa mobil sendiri kemana-mana. Huh ... ingin rasanya menjambak-jambak rambut yeoja itu."
PRAK
"Ya...Lee Sung Min, apa yang kau lakukan pada stik PS ku ..." marah Changmin melihat benda kesayangannya dibanting dengan sadis oleh yeoja Lee itu.
"Kenapa, tidak kau tidak terima Changmin ah? Kalau begitu, besok kuganti, kalau perlu dengan stik yang lebih bagus dari ini."
PRAK
"Eonnie, kenapa stik pasangannya kau banting juga?" tanya Seohyun sambil memandang Sungmin dengan sorot mata khawatir.
"Dasar yeoja gila, pokoknya aku minta ganti sekarang juga." Changmin semakin kesal dengan ulah Sungmin. Sementara Sungmin hanya menyeringai dan terlihat puas dengan hasil karyanya.
"Yasudah, aku pulang dulu. Rasanya sudah sedikit lega bisa membanting stik mu itu Min." Sungmin melangkah meninggalkan Changmin dan Seohyun di sana.
"Hati-hati di jalan eonnie." ucap Seohyun.
"Jangan pernah kembali kemari lagi." kali ini Changmin yang berucap kesal.
-JOY-
Sementara di tempat lain, di sebuah rumah yang bisa dibilang agak kumuh, seorang namja muda nampak sedang memarkirkan sepeda gunungnya di halaman yang tidak terlalu luas itu.
"Kyu oppa sudah pulang..." sambut seorang yeoja kecil berusia sekitar sepuluh tahun yang menghambur menghampiri sang oppa yang sudah berjongkok dan siap menyambut pelukan sayang dari yeodongsaengnya.
"Ehm...Jino sudah wangi, sudah mandi ne?" tanya Kyuhyun sambil menghirup wangi khas anak-anak dari tubuh dongsaengnya.
"Ne oppa… tadi Jino juga sudah memasak dan membersihkan rumah. Lihat oppa, bersih kan." Kyuhyun memandang berkeliling memastikan ucapan dongsaeng kecilnya itu.
"Daebak ... Jino semakin pintar saja." Kyuhyun mengacak rambut yeodongsaeng semata wayangnya itu denga gemas. Sementara sang adik memamerkan senyum penuhnya, bangga dengan pujuan dari oppanya.
"Oiya, apakah eomma sudah pulang chagi?" tanya Kyuhyun sambil menggandeng Jino memasuki rumah sederhana mereka.
"Belum, katanya eomma harus menyelesaikan membuat pesanan makanan di rumah Shindong ahjussi sampai malam." Jino melangkah menuju meja tempat membuat minum, menuangkan teh pekat ke dalam gelas sedang, kemudian diserahkannya kepada oppanya.
"Gomawo Jino chagi, oiya, oppa punya sesuatu untukmu." Kyuhyun mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas gendongnya.
"Apa ini oppa?" tanya Jino dengan wajah penasaran.
"Buka saja, Jino pasti suka." Kyuhyun tersenyum sendu memandang dongsaeng cantiknya itu.
Tangan mungil Jino dengan cekatan membuka bungkusan. Matanya berbinar gembira begitu melihat apa yang ia dapatkan dari sana.
"Wah... sepatu baru ... hore... gomawo oppa... Jino senang sekali, karena sudah hampir sebulan ini sepatu Jino sudah rusak, kalau untuk ke sekolah pasti kemasukan tanah dan kerikil." cerita Jino sumringah, mengacung-acungkan sepasang sepatu kets mungil berwarna biru itu ke udara.
"Nah, Jino harus berjanji untuk lebih rajin belajar ne." Kyuhyun kembali mengacak rambut lurus Jino, sementara sang empunya mengangguk, mengiyakan perintah oppanya.
"Sana belajar, oppa mau mandi dulu." Kyuhyun kemudian pergi menuju kamarnya yang sama sekali tidak bisa dibilang luas. Karena kamar itu hanya cukup untuk menampung sebuah tempat tidur single dan sebuah lemari sedang. Selebihnya hampir semua buku kuliah dan barang-barang kepunyaan Kyuhyun tergeletak begitu saja di lantai kamar.
Kyuhyun menghempaskan dirinya di kasur sempit itu. Memandang ke arah jam dinding yang sudah menunjuk pukul 17.30 sore. Seharian ini ia belum sesaatpun beristirahat. Jadwal kuliah yang padat, dilanjutkan dengan kerja sambilan di apotek membuat tubuhnya terasa begitu lelah. Dan ini belum selesai, karena setiap malam Kyuhyun juga harus bekerja di tempat pembuatan tofu, meskipun gajinya tidak terlalu besar, tapi dia sangat membutuhkan uang, bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk eomma dan dongsaeng cantiknya, Jino yang masih membutuhkan biaya untuk sekolah.
Kyuhyun termenung, ingatannya tertuju pada kejadian siang tadi saat ia hendak berangkat kerja sambilan menuju apotek, tepatnya saat ia menolong yeoja yang mau bunuh diri itu. Ia berusaha mengingat, apa penyebab yeoja itu mau bunuh diri.
"Mobil..." Kyuhyun tersenyum pahit, miris mengingat apa yang yeoja itu begitu inginkan hingga mau berbuat nekat, bahkan bunuh diri. Pelan Kyuhyun mengingat ucapan yeoja itu saat ia berusaha menolongnya turun dari jembatan.
Flashback
Kyuhyun akhirnya berhasil mendekati Sungmin setelah susah payah memanjat ke sana.
"Agashi, ayo kubantu turun. Lihat keluargamu begitu khawatir..." ajak Kyuhyun sambil mengulurkan tangannya, berusaha melunakkan kerasnya hati Sungmin.
"Aku tidak akan turun sebelum appa dan eomma ku menyanggupi untuk membelikanku mobil, sekarang juga. Dan kau, jangan coba menolongku. Arraseo!" jawab Sungmin dengan pandangan mengintimidasi yang justru terlihat begitu lucu.
"Memangnya berapa usiamu, hingga kau bersikeras mempunyai mobil sendiri. Dan apakah benda itu benar-benar sudah bisa kaufungsikan, karena menurutku, pelajar seusiamu lebih cocok menggunakan angkutan umum daripada mobil pribadi, kesannya terlalu mewah." Kyuhyun masih mencoba menasehati.
"Diam! Memangnya siapa yang meminta pendapat dari namja asing seperti dirimu? Sudah sana, pergi, aku sama sekali tak butuh bantuanmu." usir Sungmin sambil kembali mencari pijakan yang aman untuk dirinya.
"Dasar yeoja keras kepala. Oiya, bagaimana kalau aku tidak mau pergi dari tempat ini ha? Dan bagaimanapun juga aku akan berusaha membawamu turun." tantang Kyuhyun sambil terus mendekati Sungmin.
"Tidak, jangan mendekat ... andwae..." jerit Sungmin sambil menggelengkan kepalanya, mencoba beringsut mundur, namun sepertinya posisinya sudah terjepit dan tidak lagi memungkinkan baginya untuk bergerak.
"Kena kau." ucap Kyuhyun sambil menangkap tubuh Sungmin yang sudah nyaris lemas. Ia kemudian menggendong Sungmin di pundaknya.
"Andwae, lepaskan aku." Sungmin meronta, berusaha melepaskan diri dari gendongan Kyuhyun, susah payah Kyuhyun berusaha meredam rontaan yang Sungmin lakukan. Semuanya terasa agak sulit karena Kyuhyun juga harus berkonsentrasi mencari pijakan untuk turun dari tempat itu.
"Kalau kau bergerak terus, kita akan jatuh bersama. Kau mau kita mati konyol di bawah sana? Dan aku tahu, sebenarnya kau masih takut mati bukan?" tanya Kyuhyun sedikit mengintimidasi. Mendengar hal itu Sungmin terdiam, sepertinya tebakan Kyuhyun tentang ia yang sebenarnya belum siap untuk mati itu benar adanya.
Setelah bersusah payah selama beberapa saat, akhirnya Kyuhyun berhasil membawa Sungmin turun, diiringi dengan napas tertahan dari orang-orang yang semenjak awal menyaksikan kejadian itu.
End of flashback.
Kembali Kyuhyun tersenyum pahit. Bagaimana mungkin ada seorang pelajar yang mau bunuh diri hanya karena belum dibelikan mobil? Ironi sekali dengan kehidupan sulitnya. Bagaimana ia dan eommanya harus mengais rejeki untuk sekedar makan dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Betapa tidak bersyukurnya yeoja itu dengan hidupnya, sungguh, jika ia diberikan kesempatan hidup seperti yeoja itu, ia pasti akan memanfaatkan hartanya untuk hal-hal yang lebih berarti dan bermanfaat.
Ia kemudian teringat dengan cek yang diberikan appa dari yeoja itu kepadanya, berapa uang yang bisa dia dapatkan, satu juta won, sepuluh juta won, atau mungkin seratus juta won...
"Baboya Cho Kyu Hyun." umpatnya mengingat jumlah uang yang seharusnya bisa untuk menghidupi keluarganya selama bertahun-tahun, tapi begitu saja ia sia-siakan.
Kyuhyun menggigit bibirnya.
"Tapi appa tidak pernah mengajariku demikian." gumamnya lagi. Kyuhyun kembali termenung, membayangkan wajah teduh appanya yang sudah damai di sana.
'Andai appa masih di sini.' setetes cairan bening menuruni pipi pucatnya, mengekspresikan kesenduan yang mendalam di lubuk hatinya.
-JOY-
"Dari mana saja kau Lee Sung Min?" tatapan tajam itu menyambut sang nona muda yang baru saja pulang dari acara ngambeknya.
Sungmin hanya memandang appanya sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya menapaki tangga, menuju lantai dua tempat kamarnya berada.
"Ais... anak itu semakin lama semakin bandel saja." gerutu Jinki sambil mendudukkan tubuhnya dengan kasar di kursi malas yang mejadi tempat favoritnya untuk bersantai.
"Ada apa yeobo, kenapa kau marah-marah seperti itu?" sang istri cantik, Keybum menghampiri suaminya sambil membawa dua gelas besar smoothies berbahan susu dan strawberry yang barusaja dibuatnya, kemudian duduk tepat di samping Jinki.
"Gomawo Key ah." ucap Jinki sambil menerima gelasnya. Keduanya terdiam sesaat, menyesap minuman lembut yang meyegarkan itu.
"Aku juga heran yeobo, kenapa semenjak bersekolah di bangku SMA, kelakuan Sungmin mejadi berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang dulu santun dan sederhana, berubah menjadi sosok yang keras kepala, seenaknya dan glamour. Dan aku sangat khawatir dengan tindakan-tindakan ekstrimnya seperti tadi siang." keluh Key sambil memandang suaminya keheranan.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Minnie. Jangan-jangan urusan asmara." tebak sang appa sambil sedikit menyeringai.
"Kau ini yeobo, masih sempat-sempatnya bercanda" Key tersenyum melihat ulah namja yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Ah, aku punya ide untuk mengembalikan Minnie kita seperti dulu lagi. Tapi kita butuh bantuan namja yang tadi menolong Minnie." Jinki tersenyum lebar, hingga matanya nyaris tenggelam tertelan pipinya yang cukup berisi.
"Kenapa harus dengan bocah itu?" tanya Key penasaran.
"Aku melihat kesungguhan, kebaikan hati, kesederhanaan dan kekuatan dalam dirinya. Jadi, mau kuberitahu rencananya?"
"Ne…ne...beritahu aku yeobo..." pinta Key manja.
"Sini aku bisiki." Jinki mendekatkan bibirnya di telinga Key, kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Key manggut-manggut sambil menyunggingkan smirk kecil.
T.B.C
kya ... ada beberapa KM moments di SM Town Beijing dan SS5 Manila ... wuih... saya senang ... setelah selama hampir sebulan ga ngeliat moment manis itu .. nampaknya dahaga akan hadirnya KM moment sudah sedikit terobati ..
Gomawo buat readerdeul yang sudah menyempatkan diri membaca ff ini, apalagi yang sudah memfollow dan memfavoritkan. Terlebih lagi yang sudah menyempatkan memberi review... *bow* :
= psssssssst = Kyuna36 = Guest1 = Guest2 = PaboGirl = Adekyumin joyer = cloudswan = Kyumin EvilAegyo =
= KyuWie = hongkihanna = dewi. k. tubagus = yelzasonia416 = manchester kyu = Heldamagnae =
= bunnyblack. FLK. 136 = dzdubunny = NurLarasati13 = Minhyunni1318 = Mimin97 = merli. san. 7 =
(semoga tidak ada kesalahan penulisan nama reviewer)
Sekali lagi makasih buat para reviewerdeul ...
Yang sudah membaca saya harapkan reviewnya...
thanKYU
