Kuro dorobō
Disc © Masashi Kishimoto
Chapter 2
Rated : T
Pair : NaruXOc
Warning : OOC, abal, Gaje, typo(s), EYD tak beraturan, imajinasi liar Author
-Ivera-
"Ayo Sasuke, Naruto, maju terus..." teriak seorang manusia hijau(?) a.k.a Maito Guy dari pinggir lapangan sepak bola,
Sasuke terus berlari menggiring bola ke arah gawang, tak jauh dari sana Naruto terus mengikuti pergerakan Sasuke, "Terima ini dobe." teriak Sasuke mengoper bola, dan diterima dengan baik oleh Naruto, dengan gesit Ia melewati bek , Iapun menendang bola ke Arah gawang lawan, namun sebelum Ia menendang dari arah samping seorang lawan menendang Kaki kiri Naruto tepat di tulang keringnya, membuat Naruto terjatuh dan mengerang kesakitan, "Arrgghhh.." teriak Naruto menahan sakit,
"Naruto-nii" teriak seorang gadis dari bangku penonton yang tak lain adalah Uchiha Fuma,
"dobe/Naruto" teriak teman-temannya,
Wasit meniup peluit untuk menghentikan permainan, Ia memberikan Kartu merah pada pemain tadi, dan menghampiri Naruto,"Kau masih bisa bermain?" tanya wasit itu, Dan dibalas dengan gelengan kepala,
Naruto dibawa tandu ke arah pinggir lapangan, Fuma mendekati Naruto untuk melihat keadaannya," daijoubu desuka?" tanya Fuma khawatir, Naruto hanya mengangguk pelan dan akhirnya pingsan,
-d'Vermouth-
Esoknya Naruto datang ke sekolah menggunakan kruk, Kakinyapun kini di gips karna tulang keringnya sedikit retak akibat tendangan yang terlampau keras,
"Ohayou Minna!" teriak Naruto masih dengan keceriaan yang sama meski tengah Sakit,
"Ohayou Naruto, Waw kau pakai tongkat? Sebegitu kerasnya kah Dia menendangmu?" tanya Kiba jahil, dan mendapatkan deathglere gratis tanpa diskon dari Naruto,
"Mau coba? Aku akan menendangmu dengan kaki Kananku" ujar Naruto dengan Nada kesal,
"Jika Kau masih sakit kenapa sekolah?! Istirahat saja," ujar Sasuke yang ntah kenapa perhatian,
Semua yang ada disana menatap Sasuke seolah Sasuke adalah Alien, "Apa?! Itu perkataan adikku." elak Sasuke dan tentu saja tak ada yang percaya. Ayolah kemana Uchiha yang terkenal jenius itu, Adiknya kelas 2 dan Naruto kelas 3 lagipula Naruto datang setelah Mereka, bagaimana Fuma bisa tau Naruto akan sekolah?! Sepertinya Kau akan dicoret dari daftar keluarga Uchiha Sas, "Yang Sakit itu kakiku, Aku masih bisa berfikir, tapi Arigatou teme sudah mengawatirkanku" ujar Naruto dengan cengiran khasnya, Sasukepun ikut tersenyum namun sangat kecil sampai tak ada yang menyadarinya,
-Ivera-
"Akhirnya Aku tahu arti surat ini!" ujar Shikaku kegirangan, Ia melangkah pergi menuju Ruang kepala polisi untuk melaporkannya,
'tok. tok. tok'
"Ya masuk,"
Shikaku melenggang masuk seraya memberi hormat terlebih dahulu, "Uchiha-san, Saya telah memecahkan surat itu." ujar Shikaku,
"Hontou? Baiklah kita dengarkan analisamu"
"Khem, begini isi suratnya adalah 'Kita Lihat siapa yang lebih tangguh di dalam Kabut, menyisakan dinginnya Es yang membeku, jembatan Aneh yang akan menjadi saksi, hanya yang cerdik yang akan menang' Kita garis bawahi 'lebih tangguh di dalam kabut' Kata 'Tangguh' mendefinisikan orang yang Kuat, dan 'Kabut' mungkin waktu atau daerah, mungkin juga keduanya, 'Menyisakan dinginnya Es yang beku' itu bisa jadi TKP dan 'Jembatan Aneh yang akan menjadi saksi' itu sudah sangat jelas bahwa tak jauh darisana ada jembatan dan yang terakhir 'Yang cerdik yang akan menang' meski tak yakin tapi mungkin saja itu adalah kata kuncinya, dan saya belum bisa memecahkannya," ujar Shikaku menjelaskan Analisanya,
"Jadi, dimana Dia akan beraksi?" tanya Fugaku yang sepertinya tak Sabaran,
"Kirigakure, di daerah paling dingin dan bersalju Nami no Kuni, targetnya adalah pembuat Seni patung Es, Momochi Zabuza" jawab Shikaku serius,
"Bisa dijelaskan dengan lebih terperinci lagi?"
"Kita jelaskan Satu persatu,'Tangguh' mendefinisikan seorang yang Kuat, dan menurutku dia adalah orang yang kuat, karna dia mantan Atlet cabang kendo dan bisa saja Zabuza Momochi akan bertarung dengan Kuro dorobō karna didalam surat itu ada kalimat 'siapa yang lebih tangguh', lalu 'Kabut' yang saya yakini adalah daerah dimana dia beraksi, Itu ada di Kirigakure daerah paling berkabut di Jepang, lalu 'menyisakan es yang membeku' mungkin itu petunjuk tentang pekerjaan Zabuza Momochi, dan yang paling akhir,'Yang cerdik yang akan menang' mungkin Dia ingin mengadu kecedikannya denganku" ujar Shikaku panjang lebar,
"Begitu, Tapi kapan waktu Dia akan beraksi?"
"Itu dia masalahnya, Saya belum sepenuhnya memecahkan surat ini, mungkin kalimat terakhir menunjukan waktu, tapi kapan?!" ujar Shikaku dengan frustasi, Iapun pamit untuk kembali ke ruangannya,
-Ivera-
"Aku tak mengira kakiku akan cidera, bagaimana Aku bisa beraksi dengan kaki seperti ini?!" ujar Naruto, Ia kini menatap kaki kirinya yang digips, perlahan Ia membuka gips yang membalut kakinya, Ia mencoba berdiri, Ia berjalan sedikit demi sedikit dan ternyata bisa, Senyum senang tersunging di bibirnya,
"Masih bisa beraksi" ujarnya kesenangan, meloncat-loncat, lupa akan kakinya yang masih cidera, "Awww..." raungnya baru sadar,
-Ivera-
Momochi Zabuza, Kini tengah mengukir balok es membentuk sebuah gunung fujji,
'tap. tap. tap.'
Suara langkah kaki menghentikan pekerjaan Zabuza, Ia menengok ke belakang dan tersenyum, Ia melihat putrinya a.k.a Haku Momochi (Anggap aja begitu xD)
"Tou-san, Cuaca semakin dingin, lebih baik Kita pulang, Aku sudah menyiapkan makan malam untuk Tou-san" ujar Haku, Zabuza hanya mengangguk dan membereskan peralatan kerjanya,
-Ivera-
"Menyisakan dinginnya es yang membeku" gumam Shikaku,
'Mungkinkah?!' batin Shikaku, Ia membelalakan matanya saat menyadari sesuatu, Ia berlari ke Arah ruangan Fugaku
BRAAKKK
"Sumimasen Uchiha-san, Saya sudah mengetahui kapan Dia beraksi," ujar Shikaku setelah dia mendobrak pintu ruangan Fugaku,
"kapan?!" tanya Fugaku, meski Ia sedikit kesal karna ketidaksopanan Shikaku namun sekarang itu tak penting,
"Yang dimaksud 'menyisakan dinginnya Es yang membeku' itu adalah dimana waktu Zabuza pulang ke rumahnya, 'menyisakan' itu artinya Zabuza meninggalkan pekerjaannya, dan Zabuza pulang ke rumahnya sekitar pukul 07.30" jelas Shikaku,
Fugaku melihat jam tangannya dan terbelalak kaget, "Shimatta! Ini sudah pukul 07.00, Nara-san kuperintahkan kau Kirigakure," ujar Fugaku,
Shikaku bergegas pergi, Ia menaiki mobil polisi dan melajukannya dengan kecepatan tinggi,"Kusooo! kenapa harus macet disaat seperti ini," grutu Shikaku, Ia melihat ke Kanan dan ke Kiri mencari jalan alternatif,
"itu Dia," ujarnya tersenyum senang saat melihat sebuah gang yang hanya cukup untuk satu mobil,
-Ivera-
Zabuza dan putrinya Haku kini tengah makan malam bersama, wajah mereka terlihat bahagia, "Selamat Malam Momochi Zabuza-san," Sapa Seorang pria dengan jubah hitamnya a.k.a Kuro dorobō yang ntah datang darimana,
"Siapa Kau?!" ujar Zabuza, Ia meraih Katana yang di pajang di Dinding, Menarik Haku kebelakangnya,
Kuro dorobō hanya menyeringai senang, "Orang-orang memanggilku 'Kuro dorobō'," ujarnya membungkuk memperkenalkan diri,
"Ku-kuro dorobō?! si pencuri itu?! Mau apa Kau kesini?!" tanya Zabuza, Ia mengeratkan gengaman Katananya,
"Tentu saja untuk mengambil Katana yang Kau pegang itu" jawab Kuro santai,
"Dan Aku tak akan membiarkanmu mengambil Katanaku." Zabuza membuka sarung Katananya dan menerjang Kuro. Kuropun mengikuti jejak Zabuza, Ia membuka sarung katana yang dibawanya menangkis serangan Zabuza,
"Wow.. wow.. Aku memintanya baik-baik" ujar Kuro, Ia meloncat kebelakang, Ia harus waspada terhapad Zabuza, karna dia mantan atlet Kendo,
"Hiyaaaaa.." Zabuza berlari ke arah Kuro, Katana Mereka beradu mengeluarkan percikan api akibat saling bentur,
Mereka sama kuat, saling terjang, saling tangkis, saling hindar, saling tebas, Hingga akhirnya Zabuza kehilangan kewaspadaannya, melihat celah itu Kuro mengayunkan Katananya, 'Crass' Luka melintang terukir di dadanya, tidak fatal namun efektif untuk mengunci pergerakan Zabuza, "Tou-san!" teriak Haku, Ia menghampiri tou-sannya namun sebelum itu tangannya di cengkram oleh kuro,
"Momochi Zabuza, Aku tanya, dimana orang-orang yang memiliki Katana yang sepertimu?" tanya Kuro, Ia membuat Haku menjadi sandra, agar Zabuza berbicara,
"A-aku ti-tidak tahu, tolong lepaskan putriku" jawab Zabuza,
"Tidak, sebelum kau memberitahukanku dimana orang-orang pemilik Katana itu" ujar Kuro, Ia semakin menempelkan Katananya ke leher Haku, sampai sedikit mengeluarkan darah,
"Ku-kumohon..." Zabuza memelas namun Kuro tak bergimang, Ia seperti tengah bersiap menebas kepala Haku, Zabuza membelalakan matanya sedangkan Haku menutup matanya,
Namun sebelum niatnya tuntas suara samar-samar mobil polisi mendekati rumah Zabuza,"Ck. pengganggu." ujar Kuro, Ia melepaskan Haku dan pergi dari sana tak lupa membawa Katana milik Zabuza, Sebenarnya Ia bisa saja lebih lama disana namun akan sulit kabur dari kejaran polisi dengan Kondisi kakinya yang masih sakit,
BRAAKKK
"Jangan bergerak!" ujar sang polisi setelah mendobrak pintu, namun yang dilihat para polisi hanya Zabuza yang terluka dan disebelahnya ada Haku yang tengah menangis,
Shikaku yang juga sampai disanapun ikut mencari, Ia berlari ke arah jembatan yang tak jauh darisana, Sampai Ia melihat seluet Hitam juga tengah berlari ke arah jembatan,"Kuro dorobō, berhenti." teriak Shikaku,
Merasa dipanggil Kuropun menengok ke belakang,'Ck. Shikaku Jisan' batin Kuro, Ia terus mempercepat langkah Kakinya, tak mau kalah Shikaku juga melakukan hal yang sama, Sampai di daerah penuh Kabut Kuro dorobō meloncat ke arah tumbuhnya banyak pepohonan dan akhirnya hilang di kegelapan malam, meninggalkan Shikaku yang tengah kebingungan, "Kuso! Lolos lagi, tapi ada yang aneh dengan cara berlarinya, Kulihat kaki kirinya seperti susah digerakan, Apa dia terluka oleh Momochi Zabuza, jika benar, berarti akan ada darah yang tertinggal disini dan jika di selidiki, maka identitasnya akan terbongkar" gumam Shikaku menganalisis,
-Ivera-
"Ukkhhh... Kakiku sakit lagi, kenapa harus bertemu Paman Shikaku sih, Sulit untuk mengelabuinya." ujar Naruto yang tengah memegang Kakinya yang terasa sakit lagi,
"Aku harus istirahat total, jika tidak, pasti akan ada yang curiga padaku," gumam Naruto, Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, melirik Katana yang baru dicurinya,
"Setidaknya Aku sudah punya dua Katana Mereka" ujarnya tersenyum kecil,
-d'Vermouth-
"Tidak ada darah lain selain darah Momochi Zabuza di TKP, berarti besar kemungkinan kaki kirinya tengah terluka, jadi Aku harus mencari orang-orang yang kaki kirinya terluka, pasti di Jepang banyak orang yang terluka kaki kirinya." gumam Shikaku yang kini tengah duduk di kursi ruang kerjanya seraya membaca Kasus penyelidikan,
-d'Vermouth-
"Apa Anda yakin 'Kuro dorobō' tak mengatakan apapun?" tanya seorang polisi di bagian introgasi a.k.a Morino Ibiki,
"Saya yakin Tuan, pencuri itu hanya berkata 'ingin mengambil Katana Tou-san'," jawab gadis yang tak lain adalah Haku,
-Flashback Haku on-
"Ha-haku-chan, ji-jika polisi mengintrogasimu jangan katakan a-apapun" ujar Zabuza menahan rasa sakit,
"Ke-kenapa Tou-san melindungi pencuri yang telah melukaimu?" tanya Haku tak terima,
"I-ini demi Ki-kita, Tou-san Mohon," ujar Zabuza menggenggam kedua tangan Haku,
"Ha-ha'i" jawab Haku, dan akhirnya Zabuza jatuh pingsan,
-Flashback Haku Off-
"Ya sudah, Terima Kasih Nona, Jika ada yang Anda ingat, silahkan Hubungi Kami." ujar Ibiki, Haku hanya menganggukan kepala tanda mengerti,
-d'Vermouth-
Naruto datang ke sekolah masih dengan tongkat, dan kakinya masih di perban, "Ohayou Minna!" teriaknya ceria,
"Oii Naruto kau masih sakit? Bukannya Dokter waktu itu memberitahumu akan sembuh hanya beberapa hari?" tanya Kiba penasaran,
"HaHa kemarin aku terjatuh di kamar mandi, ya jadi kakiku sakit lagi." jawab Naruto dengan tawa canggung.
'Sebenarnya sih luka ini tambah parah akibat main kejar-kejaran dengan Ayahnya Shika' batin Naruto
"(krauk) dari (krauk) dulu kau selalu ceroboh Naruto (krauk, glek)" ujar Chouji, Yang lain hanya mengangguk membenarkan,
"Ha.. Ha.. begitulah." jawabnya,
-Ivera-
-Saat Istirahat-
"A-ano, Na-naruto-kun" sapa gadis lavender yang tak lain adalah Hinata,
"Ya ada apa Hinata?"
"A-ano i-ini Aku bu-buatkan Bento untukmu" ujar Hinata memberikan sekotak bento,
"Huaaa... Arigatou Hinata, Kau memang teman yang baik." ujar Naruto dengan mata yang berbinar-binar,
"I-iya sa-sama-sama, ka-kalau begitu Aku pergi dulu." ujar Hinata dan berlari pergi untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah,
Tanpa Mereka sadari sedari tadi Mereka diawasi oleh seorang gadis a.k.a Fuma, "Harusnya Aku tau Naruto-nii tak mungkin menyukaiku, dia mungkin hanya menganggapku adik, lagipula Hinata-san jauh lebih Cantik dariku, dia ramah, pendiam, feminim, tak sepertiku" gumamnya sedih,
"Ho, ternyata benar kau menyukai dobe imotou," ujar Sasuke yang ntah dari kapan ada disana,
"Sa-sasuke-nii, se-sedang apa kau disini?" tanya Fuma panik, wajahnya kini sudah merah padam menahan malu,
"Harusnya Aku yang bertanya. Kau tengah memata-matai Pangeran Bodohmu itukan?!" ujar Sasuke dengan seringai jahilnya,
"Urusai," ujar Fuma, Ia menghentakan kakinya kesal dan berlalu pergi meninggalkan Sasuke,
"Ya setidaknya Si Dobe lebih baik daripada teman-temanmu yang lain." gumam Sasuke sambil menatap Naruto yang tengah tertawa dengan teman-temannya,
-Ivera-
Shikaku kini tengah memeriksa data orang-orang dengan luka di Kaki kiri, "Sebanyak inikah yang terluka kakinya?" gumamnya frustasi, Ia harus memeriksa satu per satu dari tumpukan berkas yang ada dihadapannya,
"Kuro dorobō, Hm. menurut analisaku Ia seorang pemuda, mungkin sebaya dengan Shikamaru, Dia juga pintar menyamar, jenius terbukti dari cara kerjanya, dan juga pintar bela diri, dilihat dari Momochi Zabuza yang terluka," gumam Shikaku, Ia menyortir orang-orang menurutnya mencurigakan, sampai matanya tertuju pada berkas data yang menarik perhatiannya,
"Uzumaki Naruto, teman Shikamaru, catatan hmm Dia anak yang tidak menonjol dalam akademik, tapi Dia menonjol dalam bidang non akademik khususnya sepak bola, tak ada yang mencurigakan," gumamnya, Ia melemparkan data Naruto ke tempat data-data orang tak dicurigai,
-Ivera-
"Apa-apaan Sasu-nii itu, Aku tak menyukai Naru-nii! hanya mengaguminya saja, apa salah?! iyakan aku hanya mengaguminya" gumam Fuma, siswa-siswi yang melihatnya sedikit menjauh, 'Cantik-cantik gila' begitulah batin siswa-siswi yang berpapasan dengan Fuma,
"Bagaimana kaki kiri Saya Dokter?" tanya Naruto sesaat setelah diperiksa,
"Sebenarnya Saya cukup terkejut karna kakimu semakin parah." ujar dokter itu,
Naruto hanya tertawa kecil,"Haha kemarin saya jatuh di kamar mandi." jelas Naruto, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal,
"Pantas saja, lain kali hati-hati, ini resepnya, dan jangan ceroboh" nasehat Dokter,
"Ha'i, Arigatou Dokter" ujar Naruto beranjak keluar dari ruangan praktek dokter,
Dari arah berlawanan terlihat Zabuza tengah menaiki kursi roda, yang di dorong oleh Haku,
'Deg'
Zabuza membelalakan matanya saat berpapasan dengan Naruto,
'Di-dia?! Tidak, 'Dia' telah mati 10 tahun yang lalu, Aku yakin, karna Aku yang membunuh'nya',' batin Zabuza masih dengan syoknya,
-Flashback Zabuza On-
"Maaf Nak, Aku harus membunuhmu," ujar seorang pria dengan menggenggam katananya a.k.a Zabuza,
Terlihat seorang Anak berambut pirang, namun wajahnya tak terlihat hanya terdiam pasrah,
'Jleeb'
Katana itu membus tepat di jantung anak itu, tak ada erangan kesakitan saking cepatnya Zabuza membunuh, "Kau boleh menghukumku dari Surga sana" gumam Zabuza,
-Flashback Zabuza Off-
"san.. Tou-san.. TOU-SAN" panggil Haku sedikit menaikan suaranya 1 oktaf,
"Ah ya?" tanya Zabuza kaget,
"Tou-san kenapa, sedari tadi diam saja, ada yang difikirkan?" tanya Haku khawatir,
"Tidak, Tou-san hanya mengantuk," jawab Zabuza, tersenyum menenangkan,
Naruto hanya tersenyum menyeringai saat melihat ekspresi Zabuza, "Kau akan dihantui rasa bersalah Momochi Zabuza," gumam Naruto
-Ivera-
Hari Minggu di Tokyo, atau lebih tepatnya di Apartemen mungil Naruto, pukul 07.15 pagi.
'drrt.. drrt.. drrt..'
Suara Handphone terdengar di Kamar Naruto, dengan malas Ia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon, "Hoam, Moshi-moshi" ujar Naruto malas.
"Naru-chaaaann... Ini Kaa-chan, Tou-san dan Kaa-chan sedang ada di Bandara Tokyo, Kami akan sampai di Rumah sekitar 30 menit, Tunggu Kami, dan jangan keluyuran." ujar suara seorang wanita yang mengaku Kaa-chan Naruto.
Seketika wajah mengantuk Naruto kini digantikan wajah panik, "Na-nani?! Kenapa Kaa-chan ada di Jepang?!" Tanya Naruto.
"Kau tak senang jika Kaa-chan dan Tou-san pulang?" tanya wanita di sebrang telpon sana dengan nada sendu.
"Bu-bukan begitu.." jawab Naruto cepat.
"Ya sudah, Tunggu Kami yaa" ujar lagi wanita itu dan memutuskan telponnya.
"Gawat, Aku harus kembali," Gumam Naruto, Ia melesat ke Arah kamar mandi hanya sekedar untuk mencuci muka, Ganti baju dan berangkat, tak lupa mengunci apartemen mungilnya.
'Wussshhhhh'
Suara Sepeda yang dikayuh dengan sekuat tenaga, Sang pengendara sepeda a.k.a Naruto sepertinya tak sayang nyawa karna dengan berani Ia melaju di tengah padatnya kendaraan dan pejalan Kaki, dan saking paniknya Ia tak merasakan sakit pada kaki kirinya yang tengah dalam masa penyembuhan -_-"
'Hosh.. hosh.. hosh.. hosh..'
Iya mengambil nafas sebanyak-banyaknya sesaat setelah sampai di sebuah rumah mewah bergaya Eropa modern, di depannya tertulis 'Kediaman Namikaze'
'Brakk'
Ia membuka pintu rumah dengan paksa setelah memanjat gerbang yang setinggi 3 meter, Ntah bagaimana caranya mengingat kakinya belum sembuh total.
"IRUKA-SAN!" teriak Naruto menggema di rumah besar itu.
'drap, drap, drap'
Suara langkah kaki errr~ bisa dibilang lari, mendekati Naruto, "Ya-ya Tuan Muda" ujar seorang Butler bercirikan garis luka melintang di hidungnya a.k.a Umino Iruka.
"Sudah kubilang panggil aku Naruto saja, Ck. itu tak penting, sekarang yang terpenting adalah Kaa-chan dan Tou-san pulang ke Jepang, dan sekarang menuju kesini" ujar Naruto panik.
Iruka yang sedari tadi tenang malah ikut panik karna melihat sang Tuan Muda panik, "Stop Naruto-kun." ujar Iruka, Naruto yang sedari tadi mondar-mandirpun akhirnya terdiam.
"Baiklah, Naruto-kun, Kau harus ganti baju, mandi dan segala macam, agar Minato-sama dan Kushina-sama tak curiga, Lalu Saya dan para maid akan menyiapkan makanan sebagai sambutan untuk kepulangan Mereka," usul Iruka, dan langsung disetujui oleh yang bersangkutan.
"Ano.. itu, apa kaki kirinya sudah sembuh?" tanya Iruka, Ia menunjuk kaki kiri Naruto yang kini perbannya telah acak-acakan.
"Arrrgghhh... Awwww" Naruto langsung meraung kesakitan memegang kakinya.
'Seharusnya Aku tak nengingatkannya' batin Iruka sweatdrop.
Pukul 07.45
'Tok tok tok'
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Naruto yang tengah gugup,
"Naru-chaaaannnnn, Tadaima.." teriak seorang wanita berambut merah panjang a.k.a Namikaze Kushina yang dulunya bermarga Uzumaki.
"Okaeri Kaa-chan, Tou-san," sambut Naruto dengan senyum kakunya
"Kyaaaa... kau makin imut saja," teriak Kushina, Ia memeluk Naruto dengan erat, Sedangkan Naruto yang kini dipeluk hanya diam karna pelukannya yang sangat erat.
"Kaa-chan, Se-sak" ujar Naruto pelan, Kushina langsung melepaskannya.
"Hallo Naruto," sapa pria yang sangat identik dengan Naruto namun di pipinya tak terdapat kumis kucing seperti Naruto a.k.a Namikaze Minato sang Kepala Keluarga.
"Yo Tou-san" ujar Naruto, Ayah dan Anak ini meninjukan kepalan tangannya tanda saling menyapa (kalian pasti taulah),
"Minato-sama, Kushina-sama, Okaerinasai, Saya senang Anda berdua kembali ke Jepang," sapa Iruka sopan.
"Ah Iruka, sudah lama kita tak bertemu, bagaimana kabarmu? Apa Naruto selalu menyusahkanmu?" tanya Minato dengan ramah.
"Kabar baik, Naruto-kun tak pernah menyusahan Saya" jawab Iruka, Ia melirik Naruto dengan ekor matanya.
'Tidak menyusahkan. namun membuat orang khawatir adalah keahliannya ' batin Iruka melanjutkan.
"Yosh. sekarang waktunya kita sarapan pagi, Ayo" ajak Naruto.
"Tunggu Naru-chan, kenapa kakimu di perban dan kau memakai tongkat?" tanya Sang Ibu yang baru sadar.
"Oh ini, Saat bermain sepak bola tanpa sengaja pemain lawan menendang tulang keringku dan akhirnya retak, seharusnya sih sudah sembuh tapi beberapa hari yang lalu Naru jatuh di kamar mandi, dan akhirnya menambah retakannya" jawab Naruto setengah bohong.
'Dan terakhir karna kalian Aku harus mengayuh sepeda, memanjat gerbang, dan akhirnya kakiku terluka lagi' batin Naruto menyalahkan kedua orangtuanya, tak takut akan karma kamu nak.
"Ya sudah, ayo kita makan" ajak Naruto untuk kedua kalinya.
-Ivera-
Naruto dan keluarganya kini tengah duduk dihalaman kediaman Namikaze, terdengar canda tawa Mereka.
"Berapa lama Kaa-chan dan Tou-dan disini?" tanya Naruto.
"Kau tidak senang kami pulang?" tanya Kushina, wajahnya pura-pura kesal.
"Ayolah, Aku bertanya serius, biasanya Kalian hanya beberapa hari disini," ujar Naruto.
Minato hanya tersenyum melihat tingkah istri dan anaknya, "Kami hanya 1 minggu disini, untuk mengurus perpindahan perusahaan dari London ke Tokyo, Kami memutuskan untuk fokus mengawasimu, karna Kau masih remaja dan butuh banyak perhatian." ujar Minato menjelaskan pada anaknya.
"Hontou?!" tanya Naruto tak percaya.
"Iya, Tapi Kami bisa pindah kesini mungkin beberapa bulan lagi," jawab Kushina.
"Akhirnyaaaa Kita bisa berkumpul lagi," Naruto memeluk kedua orangtuanya.
-Ivera-
"Ohayou Minna!" teriak Naruto dengan semangat,
"Yo Ohayou, Kakimu belum sembuh?" tanya Kiba saat melihat Naruto masih memakai kruk.
"Ahaha Iya, tiba-tiba sakit lagi," jawab Naruto dengan tawa canggungnya.
"Dasar," gumam Kiba,
Narutopun dengan hati-hati duduk disebelah Sasuke, "Itu karna orangtuamu kan dobe?" tanya Sasuke, sambil tetap fokus membaca buku.
"Begitulah, seperti biasa Mereka datang mendadak, Aku sih tak masalah jika Aku tak mengalami cidera, tapi beda untuk kali ini, Aku mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh, dan hasilnya, tulang kakiku retak kembali," jawab Naruto sambil melihat kaki kirinya. (A/N : Disini Sasuke dan keluarga tahu Naruto tinggal di apartemen. awalnya Mikoto ga setuju dan mau memberitahu pasangan suami-istri Namikaze namun berkat akting Naruto yang patut diacungi jempol akhirnya Mikoto setuju untuk ga ngasih tahu Kedua orangtua Naruto dengan syarat tiap hari Ia akan dikirimi Bento oleh Sasuke (yang tentu saja awalnya Sasuke tidak mau) dan Naruto menyetujui syarat itu hingga rahasianya aman)
"Sepi ya," celetuk Ino pada kedua sahabatnya a.k.a Sakura dan Hinata.
"Iya, Sejak pencurian di Nami Kuro dorobō tak muncul lagi" ujar Sakura, Ia menopang dagu karna dilanda bosan.
"Bu-bukannya bagus tak ada pencurian? Polisi pun tak terlalu dipusingkan dengannya kan?" ujar Hinata, Ia malah mensyukuri karna Kuro dorobō sekarang tak muncul.
'Tentu saja tak akan muncul jika setiap hari ada saja hal yang membuatku terpaksa menggunakan kaki kiriku' batin Naruto sedikit dongkol.
Naruto kini tengah bermain gitar di balkon Kamarnya, Ia tengah dilanda kebosanan, mau bagaimana lagi, Ia tak mungkin bisa main bola dulu karna kakinya masih sakit, mencari keberadaan Katana 'Mereka' itu tak mungkin karna disini ada orangtua, dan para maid, "Ahh... bosaaaann" teriak Naruto, Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Naru, kita latihan kendo bagaimana?" ajak Minato dengan tiba-tiba. (ntah nongol dari mana, hanya Minato, Author dan Kami-sama yang tahu xD)
"Huaa.. To-tou-san" teriak Naruto kaget.
"Hm? Kau kenapa Naru?" tanya Minato dengan tampang tak berdosa.
"To-tou-san mengagetkanku. la-lagipula sejak kapan Tou-san disini?" tanya Naruto menunjuk-nunjuk Minato.
"Saat kau berteriak kebosanan Tou-san sudah ada disini. Jadi, mau latihan Kendo bersama Tou-san?" Ajak Minato untuk kedua kalinya, dan dibalas anggukan antusias oleh Naruto.
-d'Vermouth-
"Hosh. Hosh. Hosh. A-aku menyerah" ujar Naruto kelelahan.
"Kita baru sebentar pemanasan Naru. Bukankah kau ingin mengalahkan Tou-san? Kau tak selemah itukan?" tanya Minato dengan sedikit memprovikasi.
"2 jam Tou-san sebut pemanasan?! Sudah Aku mau istirahat saja. Tapi lain kali Aku akan mengalahkan Tou-san" ujar Naruto ngambek, Ia mrlemparkan Shinai-nya sembarangan dan melenggang pergi dari dojou.
Minato hanya tersenyum melihat kelakuan kekanakan putranya,
《》《》《》《》《》《》
"Ingat Naru-chan. Kau harus jaga kesehatan, pola makan. jangan terlalu banyak makan ramen, jangan terlalu bergantung pada orang lain dan Perbaiki nilai akademikmu Naru-chan," nasehat Kushina.
"Ha'i, Ha'i. Sekarang Kaa-chan dan Tou-san berangkat saja, Tertinggal pesawat akan repot nanti," ujar Naruto dengan tampang malas, Pasalnya Ia masih kesal dibangunkan pagi-pagi hanya untuk mengantar orangtuanya ke Bandara,
"Jaga dirimu baik-baik" ujar Minato menepuk pundak Naruto.
"Hati-hati, Kaa-chan, Tou-san" gumam Naruto melihat Kedua orangtuanya menjauh.
"Naruto-kun. Ini data yang Anda minta. Apa Anda yakin akan beraksi besok malam?" tanya Iruka, Ia punya firasat buruk untuk ini.
"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja" ujar Naruto menenangkan seakan Ia tahu apa yang ada difikiran sang butler.
"ta-tapi..."
Naruto menepuk bahu Iruka menenangkan,"Aku akan baik-baik saja Iruka-san" ujarnya untuk kedua kalinya.
-d'Vermouth-
"Malam ini Aku akan beraksi dengan membawa harga diri seorang pencuri. Mengalahkan kearoganan Pemimpin Klan Hyuuga. Hentikan Aku jika kalian bisa" K.D
"Hn. Ayo Kita lihat pencuri Sombong" gumam Sang pemimpin klan a.k.a Hyuuga Hiashi.
-d'Vermouth-
(Kantor polisi pusat - Tokyo)
"Apa sudah ada petunjuk tentang identitas pencuri itu?" tanya Fugaku melirik Shikaku yang masih berkutat dengan surat yang dikirim Kuro dorobō.
"Masih buntu. tak ada petunjuk sama sekali, seakan jalanan yang ditutupi oleh kabut tebal." jawab Shikaku.
"Ah iya. Jam berapa kira-kira Kuro dorobō beraksi?" tanya Shikaku mengalihkan pandangannya kearah Sang kepala keluarga Uchiha.
"Hn. dalam surat tak disebutkan waktunya. Aku juga sudah berbicara pada Pemimpin Klan Hyuuga dan Dia setuju dengan penjagaan polisi tapi dia sendiri yang akan melindungi Katananya." jawab Fugaku panjang lebar.
"Itu sudah dapat diprediksi karna isi surat itu memang menantang para Hyuuga. Aku sedikit khawatir pada pencuri itu," gumam Shikaku namun masih dapat didengar oleh Fugaku.
"Kau mengkhawatirkan pencuri itu? Apa yang Kau fikirkan Shikaku?" tanya Fugaku sedikit tak suka.
"Hanya menyayangkan jika Pencuri itu ditangkap oleh para Hyuuga. Mau ditaruh dimana kebanggan kepolisian Jepang?" ujar Shikaku sambil beranjak pergi dari ruangan itu ,meninggalkan Fugaku yang tengah berfikir tentang kata-kata Shikaku beberapa saat lalu.
"Benar. Pasti masyarakat tak akan percaya pada kepolisian lagi. Aku berdo'a semoga saja Ia tak tertangkap," gumamnya. 'Apa yang kufikirkan?! bukankah malah bagus jika pencuri itu tertangkap?! tapi benar apa yang dikatakan Shikaku' batin Fugaku.
(Esok harinya - Sekolah)
"Ohayou Minna" teriak Naruto dengan semangatnya yang berlebihan.
"Ya Aku mendengar. Kuro dorobō menantang klan Hyuuga" ujar Ino sang Ratu gosip.
"Oh jadi benar. bagaimana tanggapan Tou-sanmu Hinata?" tanya Sakura pada Hinata yang sedari tadi diam.
"Eh?" tanggap Hinata
"Sakura tanya, bagaimana tanggapan Tou-sanmu saat menerima tantangan itu" ujar Ino
"Ah itu. Otou-sama tak memberitahuku" jawab Hinata dengan menundukan kepalanya.
"Mau sampai kapan Kau disana Dobe?! Kau menghalangi siswa lain yang akan masuk kelas" tegur Sasuke datar.
"Hah?! Ah. I-iya" ujar Naruto. Dia melangkahkan kakinya memasuki kelas.
"Ohayou Minna" sapa Naruto untuk kedua kalinya (karna yang pertama ga ada yang menanggapi)
"Hoam... Kau sudah menyapa kami 2 kali Naruto," ujar Shikamaru terbangun dari kuburnya *plak* maksudnya sleeping beauty-nya.
"Tak ada yang menanggapi sapaanku." gumam Naruto pundung.
"Yo. Ohayou Naruto." sapa Kiba dari arah pintu kelas.
"Huaaa... Kibaaaa, hanya kau yang mengerti diriku." ujar Naruto memeluk Kiba seraya menangis ala anime.
"Le-lepas Baka. Aku Normal," teriak Kiba menjauh dari Naruto. Membuat siswa yang ada dikelas hanya ber-sweatdrop ria melihat adegan konyol Mereka.
"Eh Kau sudah dengar tentang Kuro dorobō Naruto? Dia menantang Pemimpin klan Hyuuga." ujar Kiba menghentikan acara konyolnya.
"Hmm Aku sudah dengar." jawab Naruto.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Kiba lagi.
"Bagaimana apanya?" Naruto balik bertanya karna tak mengerti.
"Apa menurutmu Dia akan berhasil mencuri?"
"Aku tak tau. menurutmu bagaimana teme?" tanya Naruto mengalihkan pandangannya pada Sasuke.
"Bisa iya dan tidak. yang kita bahas disini Kuro dorobō pencuri yang berulang kali lolos dari kejaran polisi. dan juga pemimpin klan Hyuga yang kuakui pemikirannya yang tajam" komentar Sasuke.
"Huh Kau tak seru teme." ujar Naruto kesal. 'Tentu saja aku yang akan menang' batin Naruto.
Mereka tak menyadari 2 orang Hyuuga a.k.a Hyuuga Hinata dan Hyuuga Neji yang kebetulan melewati kelas Mereka mendengar percakapan mereka. 'Aku akan menangkap pencuri itu. Aku akan membuktikan pada Oji-sama bahwa Aku bisa lebih baik dari Para keluarga utama Hyuuga, Aku bisa membuat Tou-san bangga dan Oji-sama mengakuiku' batin pria berambut coklat panjang itu.
-d'Vermouth-
(Kediaman Hyuuga - Malam hari)
"Pemirsa. Malam ini Kita akan menyaksikan aksi Kuro dorobō. Dibelakang Saya kini para polisi tengah melakukan penjagaan di depan kediaman Hyuuga. Apakah Kuro dorobō dapat melewati penjagaan itu atau Malam ini dia akan tertangkap. Kita akan menyaksikannya" ujar Seorang reporter berita.
'Khu.. khu.. khu.. Aku sudah ada didalam Baka' batin seorang pelayan (penampilannya mirip Ishida Bleach) yang ternyata adalah Naruto yang tengah menyamar.
'Kalau tidak salah Katana itu disimpan di dojou Hyuuga. Ukkh meski kemarin menyusup kesini tetap saja sulit menemukan dojou, rumah yang terlalu luas,' batin Kuro kini tengah mencari dojou kediaman Hyuuga.
'Sraakk'
Pintu dojou terbuka menampilkan Naruto yang masih menggunakan pakaian pelayan. Disana terlihat Hyuuga Hiashi tengah duduk menunggu Sang pencuri."Aku sudah menunggumu Pencuri sombong" ujar Hiashi datar.
"Suatu kehormatan bertemu anda Hyuga-sama. Berkenankah Anda memberikan Katana yang ada dibelakang tubuh Anda?" ujar Kuro. Dia membungkuk hormat pada Sang Pemimpin Hyuuga.
"Dalam mimpimu" Hiashi menarik Katana dari sarungnya yang sedari tadi di genggamnya.
"Hiaa.." Teriak Hiashi menerjang Kuro. Dengan tenang Kuro mengambil Katana yang ada disana (yang biasa digunakan oleh para Hyuuga untuk latihan)
'Trang' Bunyi logam berbenturan memberi efek percikan api.
"Tidak buruk Hyuuga-sama." ejek Kuro menampilkan seringainya. Namun bukan Hyuuga Hiashi namanya jika dengan mudahnya terbawa emosi.
"Akanku hancurkan wajah sombongmu itu Pencuri" ujar Hiashi. Dia kembali menerjang, Kali ini Ia mengincar bahu sebelah kiri yang terlihat lemah.
'Trang' Kembali beradu 2 buah Katana namun kali ini Sang pencuri lebih gesit dari sang pemimpin klan Hyuuga
"Ukkhh" lenguhan tertahan dari Hiashi saat bahu kanannya terkena sayatan Sang pencuri.
"Anda lengah Hyuuga-sama. Oyasumi" ujar Kuro sambil menyemprotkan pembius tepat diwajah Hiashi.
"Hmm kita lihat apa Katana ini seperti milik 'Mereka'." gumam Kuro. Perlahan Ia menarik Katana itu dari sarungnya.
"Hanya ukiran bunga lavender?!" ujar Kuro kecewa. Kembali Ia letakan Katana ditempatnya semula.
'Trang' Bunyi logam berbenturan kembali terdengar. Terlihat Kuro menangkis sebuah Katana dengan posis masih memunggungi sang penyerang (bayangin aja tangan kanan Naruto ada dibelakang sambil megang katana)
"Kau tau. Menyerang musuh dari belakang merupakan tindakan seorang pengecut. Hyuuga Neji-san" ujar Kuro. Ia membalikan tubuhnya dan tersenyum saat melihat wajah terkejut Neji.
"Bagaimana Kau tahu aku akan menyerang?" tanya Neji yang sudah kembali dengan wajah datarnya.
"Ayolah semua orang tahu aku ini pencuri. Sehari sebelumnya aku berkunjung kesini mengamati semua ruangan yang ada disini dan hari ini Aku menemukan ada yang berubah. lebih tepatnya ruangan yang ada dibawah tangga dekat dojou. Seharusnya Vas bunga ada disebelah kanan namun tadi aku melihat Vas itu ada dikiri. Anda ceroboh Hyuuga Neji-san" ujar Kuro menjelaskan tak lupa seringai menebalkan bertengger di bibirnya.
"Pengamatan yang mengagumkan untuk seorang pencuri." ujar Neji. Dalam hatinya Ia sedikit kagum dengan sang pencuri, dan Ia yakini pencuri ini adalah seorang jenius.
'Trang' Katana mereka kembali beradu. Kuro yang tak ingin buang-buang waktu langsung menyerang dengan cepat. Ia tak mau berurusan dengan Sang detektif jenius Nara Shikaku yang akan membuatnya repot,
'bruuk' Tubuh Neji ambruk setelah menerima sayatan dibagian Kaki, "Aku tahu alasanmu ingin menangkapku tapi aku tak ingin ditangkap olehmu karna alasan konyol itu. Jika Kau ingin diakui oleh Hyuuga Hiashi-sama itu sia-sia karna tanpa pembuktianpun Hyuuga-sama telah terbukti mempercayaimu dan mengakuimu" ujar Kuro. Ia mengarahkan ujung Katananya tepat dileher Neji untuk mengunci pererakannya.
"Mempercayaiku?! Mengakuiku?! Tahu apakau tentangku Pencuri?!" teriak Neji kesal.
"Jika Hyuuga-sama tak percaya padamu untuk apa Dia membiarkan Putrinya bersekolah denganmu?! Dia melakukan itu karna percaya Kau akan melindungi putrinya. Sadarlah Hyuuga Neji-san. Aku ini seorang pencuri yang mengetahui segala hal mengenai orang yang akan menjadi targetku. Ah sepertinya Aku terlalu membuang waktu percuma. Oyasumi Hyuuga Neji-san" kembali Kuro menyemprotkan obat bius, membuat Neji jatuh pingsan.
'Sraakk' pintu dojou dibuka dengan keras.
"Cukup sampai disini Kuro dorobō. Kau sudah terkepung" ujar shikaku menodongkan pistolnya.
"Ah Nara-san lama tak berjumpa. Sebenarnya aku ingin lebih lama berbincang denganmu namun Aku masih banyak urusan. Jaa matta nee" ujar Kuro menghilang dalam kepulan asap meninggalkan sebuah kertas.
'Katana ini tak cocok untuk seorang pencuri sepertiku. Aku tak jadi mengambilnya :p ' K.D
Shikaku meremas kertas itu kesal karna merasa dipermainkan.
"Geledah semua tempat. Aku yakin Pencuri itu masih ada disini" teriak Shikaku yang sudah diambang batas kesabaran.
'Ck. Paman Shikaku tak pernah menyerah' batin Kuro yang kini tengah berlari dikoridor rumah khas jepang itu.
"Itu Kuro dorobō. Dia berlari menuju gerbang selatan" teriak salah Satu polisi yang memergoki Kuro dorobō (disini Naruto udah pake jubah kebanggaannya, ga nyamar lagi)
'Huaaa.. secepat itukah Aku ditemukan' batin Kuro tenang. Ia kemudian masuk ke salah satu ruangan yang ada disana.
'Sraaakk' pintu itu terbuka. Kuro dengan cepat kembali menutup pintu itu setelah Ia masuk
"Siapa?" suara seorang gadis terdengar saat Kuro masuk.
'Ga-gawat. Aku lupa ini kamar Hinata.' batin Kuro sedikit panik. (Naruto menghafal struktur kediaman Hyuga dan ruangan-ruangannya jadi Dia tahu kamar-kamar yang ada di dekat dojou)
-d'Vermouth-
(Hinata pov)
Aku kini tengah membaca buku di Kamarku. Aku tak terlalu peduli dengan teriakan polisi dan para anggota klan Hyuuga yang tengah mengejar sang pencuri fenomenal itu,
'Sraak'
Tiba-tiba suara pintu kamarku terbuka, kulirik pintu kamarku,"Siapa?" tanyaku.
Aku tak tahu siapa yamg masuk kedalam kamar karna memang kamarku dibiarkan gelap. Hanya lampu tidur yangku nyalakan untuk sekedar menerangiku saat membaca.
(Hinata pov end)
'Ga-gawat. Aku lupa ini kamar Hinata' batin Kuro sedikit panik.
"Siapa itu?" tanya Hinata untuk kedua kalinya.
Perlahan Kuro berjalan kearah suara itu,"Aku adalah seorang malaikat yang dikirim Tuhan" jawab Kuro seadanya. karna Ia tak memprediksi ini akan terjadi.
"Ma-malaikat? Ja-jangan bercanda" ujar Hinata. Ia kemudian menekan stop kontak yang tak jauh dari sana. Matanya terbelalak saat lampu telah menyala. Didepannya terlihat Kuro dorobō tengah tersenyum manis.
"Ku-kuro dorobō" gumam Hinata syok.
"Suatu kehormatan Anda mengenal saya Hime" ujar Kuro. Ia berlutut bak pangeran, meraih tangan Hinata dan mengecupnya singkat.
'Blussshhh'
Ia mematung, Wajahnya bak kepiting rebus diperlakukan seperti itu oleh Sang pencuri. Kesempatan itu tak dibuang sia-sia oleh Kuro untuk Kabur melalui jendela,"Semoga kita bertemu lagi Hime" ujar Kuro dan menghilang didalam kepulan asap meninggalkan setangkai mawar putih.
Hinata yang akhirnya tersadarpun melangkah menuju jendela kamarnya, Ia meraih mawar putih yang ada disana,"Kuro dorobō kah?" gumam Hinata kemudian mencium mawar itu.
'tok tok tok'
Suara ketukan pintu terdengar. Hinata buru-buru menyimpan bunga itu dalam laci meja belajarnya. "Siapa?" tanya Hinata.
"Saya Hyuuga Kou. Hinata-sama" ujar seseorang dari balik pintu, (pengawal sekaligus pelayan pribadi Hinata)
Kemudian Hinata membuka pintu kamarnya,"Ada apa Kou-san?" tanya Hinata.
"Tidak ada apa-apa. hanya saja Saya khawatir pada Anda karna disini tengah dilanda kepanikan akibat pencuri." ujar Kou sejujurnya.
"Jangan terlalu berlebihan. Oh iya, Apa Otou-sama berhasil mempertahankan Katana milik keluarga kita?" tanya Hinata.
"Katana tak jadi dicuri namun Hiashi-sama dan Neji-san terluka karna sayatan Katana pencuri itu, namun Hinata-sama tak perlu khawatir karna Hiashi-sama dan Neji-san sudah diberi pertolongan" jawab Kou menjelaskan situasi yang dialami Sang pemimpin Klan dan Sepupu dari Hyuuga Hinata.
"Yokatta.." desah Hinata lega.
-d'Vermouth-
"Haha tentu saja Kita akan bertemu lagi. Kitakan sekelas. dasar Naruto baka" ujar Naruto yang kini tengah berjalan menuju apartemennya. TBC
