Title : Kiss Me Here

Main cast : Tao , Kris

Pair : Taoris

Genre : Angst, Romance

KISS ME HERE

Chapter 2

Tao mengemasi semua pakaian yang perlu ia bawa dan melemparkannya dengan sembarangan ke dalam koper. Setelah yakin bahwa tak ada satupun helai pakaian yang ia miliki tertinggal, ia mengedarkan pandangan ke apartemennya yang kecil.

Hanya ada satu ranjang ukuran single yang bahkan tidak muat untuk kakinya yang panjang, disampingnya ada laci berisi persediaan kondom juga obat penghilang rasa sakit yang sering ia konsumsi sepulang 'kerja', di seberangnya terdapat sebuah kursi sofa yang sudah tidak empuk lagi. Tao menghela nafas. Ia merapikan isi kopernya. Hanya berisi baju. Ia tak memiliki apapun selain ini. mungkin hanya sedikit aksesoris seperti kalung, gelang, anting, dan cincin yang bisa menunjang penampilannya. Sepatu pun hanya yang ia kenakan sekarang. Sepatu boots warna hitam sederhana.

Memang benar. Hidupnya sudah bertambah baik sejak ia 'bekerja'. Pelan tapi pasti ia sudah berhasil menyewa flat sederhana. Lumayan. Daripada ia harus tidur di jalanan. Ia bisa makan tiga hari sekali. Beruntung kalau pelanggannya mengajaknya makan malam sebelum memulai kegiatan mereka. Tetapi Tao tak pernah menangis. Ia sudah memilih jalan ini dan tak ada yang perlu disesali. Juga keputusan yang telah ia ambil barusan.

Ia akan pergi ke Seoul. Korea selatan. Bagaimanapun Suho dan Lay terlihat sebagai orang baik-baik. Yah, mungkin tidak benar-benar baik karena mereka memiliki rumah produksi video dewasa. Tapi siapa peduli? Yang Tao butuhkan sekarang adalah hidup yang lebih baik. Ia ingin mengenyahkan semua kenangannya akan kedua orangtuanya. Orangtua yang telah membuang putra mereka sendiri. Tao mencengkeram dadanya yang tiba-tiba terasa perih. Mengingat keduanya hanya menambah sakit hatinya saja.

Ia menutup kopernya dengan satu hentakan keras. Di ambang pintu, ia menatap kamarnya untuk yang terakhir kali. Kemudian ia menutup pintu keras-keras. Siapa yang tahu ia akan kembali kesini? Mungkin, nanti.

Taksi yang membawa Tao telah sampai di bandara Qingdao. Ia belum pernah ke luar negeri sebelumnya. Ia harap perjalanan pertamanya ini menyenangkan.

"Kau terlambat" tegur Lay.

Tao menyeringai. "Maaf, Maaf. Qingdao terlalu indah untuk ditinggalkan"

Ia menjumpai Suho dan Lay di ruang check-in. Keduanya telah siap. Seperti dirinya, Mereka tak membawa terlalu banyak barang.

"Barangmu sedikit sekali" Suho memperhatikan penampilan Tao."Kau yakin tak ada yang tertinggal?"

Tao mengangkat bahu. "Hanya ini yang aku miliki"

"Baiklah…." Lay berkali-kali mengecek jam tangannya. "Sudah saatnya kita berangkat. Ayo"

Mereka bertiga berjalan menuju boarding pass dimana banyak calon penumpang sudah mengantri. Tiba-tiba Tao teringat pada ibunya dan ia ingin menangis. Ia menyeka air matanya cepat-cepat sebelum Suho atau Lay memperhatikan. Ia sudah bukan anak cengeng lagi. Ia akan menghadapi apapun yang ia temui di Seoul nanti.

"Kau baik-baik saja?" tanya Suho yang berdiri di belakangnya. Tao menoleh kearah pria yang tersenyum ramah itu. ia membelai punggung Tao dengan lembut, seakan menenangkan. Tao hanya membalas semua itu dengan senyum lemah.

"Yeah, aku baik-baik saja. Mungkin hanya cemas" jawab Tao.

"Jangan takut" bisik Suho.

Takut? Tao tidak memungkiri bahwa ada sedikit rasa itu dalam dirinya. Tapi tak ada keraguan lagi di hatinya. Tak ada lagi Tao yang cengeng dan penakut. Hanya ada Tao yang pemberani, tegar, dan… seksi. Ia telah jatuh ke dunia hitam. Dan ia tak mengharapkan siapapun untuk menariknya kembali. Kalau perlu ia akan menyelam dan tenggelam. Sampai ia jatuh ke dasar.

Dengan satu helaan nafas panjang, ia melangkahkan kakinya. Mengikuti intruksi Lay di depannya. Mereka melewati pintu kaca dimana dari situ ia bisa melihat banyak burung besi yang akan mengantarkannya ke dunia baru. Sama sekali baru. Dunia yang lebih hitam dan kelam.

Ia menoleh ke belakang untuk yang terakhir kali. Ia memejamkan mata dan berbisik pelan.

"Selamat tinggal Qingdao, Ayah, Ibu. Aku tidak akan merindukanmu"

.

Beberapa jam duduk di pesawat, Lelah dan mengantuk. Setelah sampai di bandara Incheon, Suho dan Lay langsung membawanya ke dalam mobil mewah. Mereka meluncur ke suatu tempat. Selama perjalanan, Tao dibuat kagum oleh pemandangan di Seoul. Memang tidak jauh beda dengan Qingdao. Tapi kota ini jauh bernuansa modern. Semuanya bersih dan tertata rapi. Tao pernah ingat, waktu kecil ia pernah merengek-rengek pada ibunya untuk liburan ke Seoul. Mengingat ini, ia tersenyum. Ia memang berhasil ke Seoul, tapi tanpa ibunya. Senyumannya berubah getir.

"Bagaimana? Seoul indah,kan?" tanya Suho dari kursi depan. Pria itu menoleh ke belakang dan menyaksikan mata Tao yang berbinar-binar melihat jalanan Seoul.

"Yeah, aku beruntung bisa kesini" jawab Tao.

"Ini bukan perjalanan wisata. Ingat, kau datang kesini untuk bekerja" ujar Lay dari bangku sopir.

"Tenang saja. Sebelum kau membayar sisa yang sepuluh juta yuan itu, Aku tidak akan kabur" balas Tao. Lay memelototinya lewat kaca spion. Suho tertawa.

"Omong-omong. Tao?" Suho memanggilnya. Tao melirik pria berambut merah itu.

"Yeah?"

"Selamat datang di Seoul"

.

Mobil itu sampai di sebuah gedung apartemen mewah. Tao hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat bangunan mewah yang ada di hadapannya. Orang macam apa mereka ini? Tao berdecak kagum. Suho tersenyum melihat tingkah anak itu.

Mereka naik lift dan berhenti di lantai sebelas. Tao tak bisa lagi menahan siulannya ketika mereka memasuki apartemen itu. Lantainya terbuat dari keramik putih yang dingin ketika Tao menginjakkan kaki di atasnya. Terdapat sofa yang kelihatannya sangat nyaman. Juga televisi berukuran dua puluh lima inch disertai perangkat elektronik lainnya. Tao melihat sebuah dapur yang dilengkapi bar mini. Ada empat pintu yang Tao tebak sebagai kamar.

"Kau bisa istirahat dulu. Kamarmu disana" Suho menunjuk sebuah pintu yang berseberangan dengan pintu yang baru saja dimasuki Lay. Tao mengangguk. Suho meninggalkannya memasuki dapur. Ia mengambil dua gelas air putih dingin dari kulkas. Ia meneguknya dan memberikan segelas lagi pada Tao.

"Terima kasih" Tao mengambil gelas dan meminumnya. Lay keluar dari kamar dan menyodorkan lembaran kertas pada Tao. Ia tidak tahu apa itu, tapi ia menerimanya dan tersedak ketika ia membaca baris yang tertulis di kertas itu.

"Hei hei, kau tidak apa-apa? Tanya Suho khawatir sambil Menyodorkan tissue.

"Ohok..! yeah yeah, aku tidak apa-apa" jawab Tao, Ia mengelap air yang muncrat dengan tissue itu.

"Kita akan mulai syuting besok. Hafalkan semuanya. Waktumu hanya semalam" ujar Lay.

"A-apa ini?"

Lay memutar bola matanya. "Masih tanya? Itu adalah skenario untuk syuting besok!"

"Skenario? Apakah kita membutuhkan itu? yang harus aku lakukan hanya tidur dengan siapapun itu, bercinta sampai klimaks dan selesai,kan?"

"Anak muda, kau pikir kau bekerja dengan siapa? Kalau yang kau pikirkan tentang video dewasa hanya itu, kau salah! Semuanya membutuhkan perencanaan. Jalan cerita. Skenario! Hanya rintihan dan lenguhan saja tak akan mampu menghasilkan pundi-pundi uang! Aku menuntutmu untuk total!"

"Lay, jangan kasar seperti itu. Wajar kalau Tao tidak tahu,kan? Dia masih-"

"Masih apa? Masih kecil? Aku tahu dia baru berusia delapan belas tahun. Dan apa yang ia kerjakan? Dia tidak mungkin senaif itu!"

"Apa kau tidak pernah menonton video dewasa sebelumnya, Tao?" tanya Suho tiba-tiba, membuat wajah Tao memerah.

"Erm-soal itu-"

"Pertanyaan macam apa itu?! tentu saja dia pernah!"

"Hentikan!" Tao menghentikan Suho yang akan membalas argumen Lay lagi. ia menghela nafas. Kenapa jadi bertengkar begini?

"Maaf atas kenaifanku, Tuan produser. Terima kasih telah melibatkan aku dalam pembuatan film ini. Nah, sekarang aku mohon pamit karena aku akan mempelajari skenario ini"

Dengan itu,Tao memasuki kamarnya sendiri. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasanya nyaman sekali. ia lelah. Ia ingin tidur. Tetapi kemudia ia teringat dengan skenario sialan itu dan memutuskan untuk membuka matanya lagi.

"Baiklah, Tao. Bertingkahlah layaknya seorang actor. Ew, dari pelacur menjadi aktor. Lumayan"

.

Baiklah. Dilihat dari manapun. Dibaca dari manapun. Skenario ini memang penuh dengan unsur pornografi. Tao membenamkan wajahnya ke bantal empuk. Kakinya menendang-nendang kasur. Ia mengangkat wajahnya lagi yang sekarang semerah tomat.

Jadi, setelah ia baca, Tao dapat menyimpulkan bahwa besok ia akan diikat, disiram air, dijilati, ditampar, disetubuhi dan sebagainya. Tidak masalah. Semua itu sudah pernah ia rasakan. Diikat oleh pelanggannya di ujung ranjang agar terlihat seperti diperkosa? sudah. Dilumuri tubuhnya oleh es krim dan dijilati seperti anjing? Tidak jarang. Ditampari pantatnya yang bulat sampai merah? Sering. Disetubuhi sampai pingsan? Hei, itu pekerjaannya setiap malam.

Tapi, apakah ia sanggup melakukan semua itu di depan banyak pasang mata? Di depan Suho dan Lay. Tak hanya itu. Pasti banyak kameramen yang akan merekam adegan mereka di atas ranjang. Siapkah ia melakukan semua itu? tiba-tiba saja Tao mengeluh. Tidak mungkin Ia mundur sekarang. Seharusnya ia tahu konsekuensinya sejak awal setelah mendengar apa kata Suho di hotel dulu.

Tao mengangkat bahu dan melemparkan skenario itu dengan asal. Ia akan melakukannya. Persetan dengan rasa malu. Apakah pelacur seperti dirinya masih punya rasa malu? Ia mematikan lampu dan mengatur selimutnya.

"Besok, ya…." bisik Tao.

Debaran di jantungnya sudah terasa. Tao menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

"Argh! Yang terjadi, terjadilah!"

.

Tao terbangun oleh gedoran keras dari pintu kamarnya. Ia menggeliat dan mengutuk siapapun yang telah membangunkannya. Itu pasti Lay.

"Bangun! Waktunya syuting!" teriak Lay.

Nah, apa kubilang? Batin Tao

Tao mengangkat tubuhnya dari kasur dan masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan diri sebersih-bersihnya. Ia tidak mau terlihat kotor dan bau di depan lawan mainnya nanti. Juga di depan Suho,Lay, juga staff yang akan membantu jalannya proses syuting. Ia teringat soal siapa yang akan menjadi lawan mainnya nanti. Ia belum menanyakannya pada Suho kemarin. Ia melupakannya dan melanjutkan menggosok gigi. Siapapun partnernya nanti, ia tidak bisa menolak. Seperti yang ia katakana semalam. Yang terjadi,terjadilah.

.

Setelah perjalanan singkat dengan mobil, Suho, Lay, dan Tao tiba di sebuah gedung tinggi yang mewah. Apakah ini juga milik mereka? Tak heran mereka begitu kaya. Mereka memasuki lobi dimana hanya ada penjaga keamanan yang membukakan pintu dan seorang perempuan berpakaian rapi di balik meja tamu. Tao dibawa naik ke lantai lima dimana ada lorong yang di kanan kirinya terdapat banyak sekali pintu. Gedung ini mirip hotel. Lay membuka salah satu pintu dan Tao membelalak melihat apa yang ada di depannya.

Sebuah ranjang besar berwarna putih terbentang di tengah ruangan yang luas itu. banyak kamera dan peralatan syuting lain yang Tao tidak tahu apa namanya. Orang-orang berlalu lalang dan sibuk mempersiapkan segalanya. Ia melihat ada satu bilik yang tercipta berkat suatu penyekat ruang. Di dalamnya ada meja rias dilengkapi cermin lebar dan berkotak-kotak peralatan rias yang tidak tertata rapi. Disinilah Tao dibawa oleh Suho. Sementara Lay terlihat berbicara dengan seorang pria, sangat serius membicarakan sesuatu.

"Suho, kau sudah datang rupanya" terdengar sebuah suara. Tao memalingkan wajah dan menjumpai seorang pria berkacamata dengan rambut dibelah tengah. Setinggi Suho. Wajahnya menyiratkan kecerdasan. Ia menyunggingkan senyum nakal di bibirnya yang tipis.

"Chen! Kau sudah menunggu lama?" Suho memeluk pria bernama Chen itu.

"Lumayan. Cukup untuk membuatku menyadari kalau ada jerawat di dahiku saat aku menatap cermin dari tadi"

"Oh maafkan aku" Suho berbisik. "Artis baru kita bangun kesiangan dan Lay marah-marah seperti biasa"

Mata Chen bergerak ke sosok Tao yang berdiri dengan canggung di belakang Suho. Matanya terfokus pada wajahnya. Tao memalingkan muka. Kenapa ia dipandangi seperti itu?

"Inikah artis baru kita itu?" tanya Chen.

"Ya, mari kuperkenalkan. Tao, ini Chen. Dia yang akan menjadi manajermu"

Suho tersenyum padanya.

Manajer? Dia punya manajer juga?!

"Se-selamat pagi! Aku Tao! Mulai hari ini aku akan syuting jadi mohon bimbingannya!" Tao membungkuk Sembilan puluh derajat.

"Tao, ya? senang bertemu denganmu. Kuharap kita bekerja sama dengan baik"

"Tentu, Hyung" Tao tersenyum.

Sedikit banyak, ia menguasai bahasa korea. Ia tidak sekolah untuk percuma,kan?

"Oh, dia cute sekali. Darimana kau menemukan anak ini? Dia seorang Cina,kan?" tanya Chen pada Suho.

"Erm…soal itu…" Suho memperhatikan Tao yang bergerak-gerak tidak nyaman.

"Aku dan Lay sedang liburan di sana, kemudian kami bertemu dengannya. Aku langsung mengajaknya bergabung" jelas Suho.

"Berani sekali. Kau sudah tahu apa yang akan kau kerjakan disini, kan, Tao?" tanya Chen.

"Yeah. Suho Hyung sudah menjelaskan semua"

"Bagus" Chen menepuk-nepuk pundak Tao. "Dia baik dan sopan. Beda sekali dengan seseorang. Akhirnya kita menemukan yang seperti ini."

"Berterima kasihlah padaku" ujar Suho.

"Apa kalian sedang membicarakan aku?" tiba-tiba seorang pria lain melompat di depan Suho. Chen dan Suho langsung berwajah masam.

Pria ini nyaris sama tingginya dengan Tao. Bibirnya tebal. Kulitnya gelap, juga sama seperti Tao. Ia mengenakan jins yang sudah sobek di beberapa tempat. Biarpun ia mengenakan jaket, tapi sepertinya, ia tidak berusaha memakainya dengan benar. Bahu kirinya masih terekspos dengan jelas. Rambutnya bergelombang dengan warna kecoklatan. Tampaknya ia juga tidak terlalu repot untuk membuatnya rapi. Rambutnya seperti orang yang baru bangun tidur.

"Kai, apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sudah kusuruh berangkat?" tanya Chen kesal.

"Aish, Hyung. Kau selalu berusaha menyingkirkanku" pria ini pura-pura cemberut. tapi wajahnya langsung berubah cerah ketika ia menangkap sosok Tao. Ia mendekati Tao yang menatapnya aneh. Siapa anak ini?

"Perkenalkan. Kai, dia Tao. Tao, Dia Kai. Artis kami yang lain" jelas Suho.

Mata Tao membulat. Artis yang lain? Rekan kerjanya?

"Jadi…dia yang akan jadi partnerku?" tanya Tao.

"Oh, bukan,bukan. Partnermu bukan yang ini, dia masih belum datang"

"Aiihhh anak ini mirip panda!" Kai meremas pipi Tao dengan gemas. Tao yang mulai kesakitan mendorongnya menjauh. tetapi Kai ini terus mendekati Tao.

"Aku Kai" bisiknya.

"Ye-yeah, aku sudah dengar" Apa-apaan anak ini?

"Tentu saja itu bukan nama asliku" Kai menyeringai.

"Hah?"

"Kau tidak ingin tahu nama asliku? Bagaimana kalau kita keluar nanti malam? Aku juga mau tahu nama aslimu"

"Hah?" Anak ini bicara apa?

"Kai! Disini kau rupanya!" seorang pria lain muncul lagi. Kali ini, ia lebih pendek. Pipinya gemuk. Matanya lebar. Rambutnya pirang kecokelatan. Pria ini mengingatkannya pada baozi. Bakpau cina.

"Xiumin Hyung!" Kai terkejut.

"Aku sudah menunggumu di lobi dari tadi. Ternyata kau malah main-main disini. Ayo, pergi! Jangan mengganggu syuting! Lay akan memarahimu!"

Dengan itu, ia menyeret Kai lewat telinganya. Kai meringis kesakitan telinganya dijewer.

"Tunggu, tunggu,Hyung! Tao! Aku tunggu nanti malam!" Kai berteriak sebelum ia hilang diseret Xiumin.

Suho dan Chen hanya bisa menghela nafas lega. Sementara Tao mengernyitkan dahi.

"Untunglah dia sudah pergi" ujar Chen.

"Dia mengganggu sekali" Suho mengangguk.

"Apa…dia selalu seperti itu?" tanya Tao penasaran.

"Seperti itu?" tanya Chen tajam.

"M-maksudku,hiperaktif! Terlalu bersemangat!" jelas Tao cepat-cepat.

"Dia sudah begitu sejak pertama kali datang kesini. Lulu yang membawanya. Kira-kira setahun yang lalu" Chen mengingat-ingat. "Lay sampai lelah memarahinya. Tapi kerjanya bagus. Ia punya banyak penggemar. Anak yang merepotkan juga, sampai-sampai Kris tak mau berurusan dengannya-"

"Kris?" tanya Tao. Siapa lagi itu?

Suho dan Chen menyeringai.

"Yeah. Kris. Artis andalan kami. Porn star terkenal. Jangan bilang kau tidak pernah mendengar namanya" jelas Chen.

Tao menelan ludah. Kris. Porn star terkenal. Seperti apa dia?

"Ah, itu dia! Kris! Sebelah sini!" Suho melambaikan tangannya pada seorang pria jangkung yang baru saja masuk.

Tao tidak berani bergerak. Bodoh, kenapa dirinya bertingkah seperti ini?

"Maaf, aku terlambat. Semua sudah siap,kan?" Tao mendengar suara yang begitu dalam dan jantan tepat di belakangnya.

"Beres. Tinggal bertemu dengan partner barumu" ujar Suho.

"Dimana dia?" tanya Kris.

Suho dan Chen saling berpandangan dan menyeringai.

"Tao, ucapkan salam pada partnermu"

"Kris"

.

Tao memutar tubuhnya dan mendapati seorang pria super jangkung sedang berdiri dihadapannya. Dan saat itulah untuk beberapa saat, Tao lupa bagaimana caranya bernafas.

Mata itu menatapnya tajam. Bola mata kecokelatan yang dinaungi sepasang alis tebal yang bertaut. Bentuk alisnya membuat wajahnya seakan menyiratkan kemarahan menahun. Hidungnya sempurna. Membuat wajahnya makin tampan. Bibirnya yang mungil merekah berwarna merah muda. Kulitnya putih. Rahangnya tegas.

Tao berani bersumpah. Ia belum pernah melihat pria setampan ini.

"Kris,dia Tao. Artis baru kita. Dia akan debut sebagai partnermu"

Kedua mata itu saling bertautan. Masing-masing tak mampu mengucapkan kalimat. Tao menunduk cepat-cepat menyadari ada semburat merah yang menjalari kedua pipinya. Kris menyeringai. Ia melarikan pandangannya pada sekujur tubuh Tao yang berdiri dengan gelisah di depannya. Dan ia pun berdeham.

"Erm… lebih baik kita mulai saja" Kris menggaruk lehernya dengan canggung.

"Oh? Baiklah. Aku akan beritahu Lay. Dimana Lulu?" Suho terlihat seperti mencari-cari seseorang.

Kris memutar bola matanya. "Dia sibuk bersama anak ingusan itu"

"Dia mangkir lagi. Hm, ya sudahlah. Kau bisa sendiri,kan,Kris?"

Suho memberikan sebuah bathrobe baru kepada Kris yang kemudian menerimanya. Ia meninggalkan mereka menuju kamar mandi yang tak jauh dari bilik rias itu. sementara Tao tidak tahu harus melakukan apa.

Chen juga menyodorkan bathrobe yang sama pada Tao yang hanya berkedip tidak paham. Suho tertawa.

"Tunggu apa lagi? Cepat ganti baju dan pakai ini" perintah Chen.

Tao mengambil benda itu dan berjalan mondar-mandir.

"Tao, kamar mandinya sebelah sini!" seru Chen.

"Oh" Tao berjalan menuju kamar mandi yang ditunjuk Chen. Kamar mandi yang sama yang dimasuki Kris barusan. Ia terlihat ragu. Suho terlihat tidak sabar, ia melihat Lay berkacak pinggang.

"Apa yang kau lakukan? Cepat ganti baju sana!" suara Lay terdengar lagi. Tao berjengit. Tao mencibir Lay dan hendak membuka pintu kamar mandi itu ketika Lay menegurnya lagi.

"Kau ingat skenarionya,kan?"

"Yeah yeah"

"Jangan pakai apa-apa di bawah bathrobemu. Ingat?"

Tao memutar bola matanya dan memasuki kamar mandi itu. Dan yang ia jumpai membuatnya memekik tertahan. Kris, berdiri di depan cermin wastafel dengan hanya mengenakan boxernya yang pendek. Ia sudah tidak memakai bajunya yang tadi. Kris memperhatikan Tao memasuki kamar mandi dari cermin di depannya. Tao hanya berdiri di depan pintu dengan gugup. Ia mengawasi anak baru itu dari cermin di depannya.

Kris membasuh mukanya dengan air. Ia memakai bathrobe itu dan berpapasan dengan Tao yang masih mematung. Kris menghentikan langkahnya sebelum ia keluar. Ia menatap wajah Tao yang masih menyemu merah. Tao mengangkat wajahnya dan balik menatap mata Kris. Kris langsung mengalihkan pandangannya.

"Cepat pakai itu" ujar Kris pelan. Tao hanya mengangguk. Sebenarnya ia menunggu Kris keluar dari sini.

"Apa perlu kubantu melepaskan bajumu?" tanya Kris. Tao mendongak dan memelototi pria itu. Kris berusaha menahan tawanya melihat reaksi Tao. Ia mendorong Kris dan memasuki satu-satunya bilik shower disitu.

Kris terkekeh. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia berjalan menuju ruang rias dan duduk di salah satu kursinya. Menunggu untuk didandani. Setelah beberapa menit dan Tao tak juga keluar, ia mulai duduk dengan gelisah. Kemana anak baru itu?

"Kris, berhentilah bergerak. Aku tak bisa menaruh bedaknya" protes seorang penata rias. Kris berhenti bergerak dan memutuskan untuk fokus ke ponselnya saja.

"Pernahkah kau melihat Kris bertingkah seperti itu?" bisik Suho pada Chen yang mengamati dari jauh.

"Biasanya ia akan mengajak bicara partnernya terlebih dahulu. Mengakrabkan diri. Tapi kenapa ia mendiamkan Tao?"

"Dia juga terlihat gugup"

Suho dan Chen saling memandang kemudian keduanya mengangkat bahu.

.

Kris tak bisa mengalihkan pandangannya dari cermin di depannya. Ia berpura-pura menatap pantulan wajahnya sendiri. Tapi bohong, sebenarnya ia sedang memperhatikan Tao yang tengah dipasangkan eyeliner oleh penata rias. Kris menelan ludah. Eyeliner itu membuat Tao terlihat semakin menggoda. Seksi. Tetapi sepertinya penata rias itu beranggapan bahwa eyeliner itu makin membuat mata Tao yang sudah mencolok karena lingkaran hitam di bawahnya semakin berlebihan. Karena itu, ia menghapusnya lagi. Ia menyapukan kapas basah ke mata Tao. Dan ini membuatnya kesakitan.

Ia merintih yang membuat Kris semakin bergairah.

Kris berdeham keras-keras dan memilih bangkit dari kursinya. Make-upnya sudah selesai dari tadi. Ia hanya ingin berlama-lama dan melihat anak baru itu didandani. Gila. Kalau begini terus, ia bisa tegang duluan sebelum syuting.

Ia duduk di kursi dekat kameramen dan menunggu Tao memasuki arena syuting. Tidak lama kemudian Chen menuntun Tao yang terlihat luar biasa gugup ke ranjang besar itu. Tao duduk di tepi ranjang dan beberapa kali memegangi dadanya. Ia berulang kali menghela nafas.

Ini merupakan pertama kali baginya. Wajar kalau dia gugup,batin Kris.

Chen menghampiri Lay yang sedang menginstruksikan pada anak buahnya untuk mengencangkan ikatan tali yang beujung dari langit-langit. Setelah semuanya siap. Chen memanggil Tao.

"Tao, kemarilah" ajak Chen.

Tao menghela nafas lagi dan berjalan dengan kaki gemetar menuju dua pria itu.

"Skenario kali ini menceritakan Kris sebagai seorang maniak yang menculik Tao, pria pujaannya. Kau sudah membacanya,kan,Tao?" jelas Lay.

Yeah, aku sudah membacanya. Dan kau tak perlu menceritakannya lagi di depan staff karena membacanya saja sudah cukup membuatku malu, pikir Tao.

"Karena kau diculik, Sekarang aku mau kau berdiri di sini dan rentangkan tanganmu keatas. Kami akan mengikat tanganmu" lanjut Lay.

Tao melakukan apa yang Lay suruh. Ia berjengit kesakitan ketika ikatan talinya terlalu kencang. Akhirnya, para staff selesai mengikat kedua tangannya dari atas sehingga sekarang ia berdiri di tengah kamar dengan hanya mengenakan bathrobe. Hanya ujung jari kakinya saja yang menyentuh lantai.

Sungguh, ini posisi yang tidak nyaman.

Lay kembali ke kursi sutradara sementara Chen menarik sabuk bathrobe miliknya. Tao terkejut bukan main.

"Kau mau apa?" tanya Tao panik.

"Membuka bathrobemu. Apa lagi? kau tidak berpikir kami akan membuat video dewasa dengan busanamu yang masih lengkap,kan?"

Tao menarik nafas cepat-cepat. Di sekelilingnya ada sekitar lima belas staff. Semuanya sedang menatap lurus padanya. Beberapa lagi masih sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Tao menelan ludah dan memejamkan matanya rapat-rapat ketika ia merasakan satu-satunya helai kain yang masih menutupinya sekarang perlahan-lahan mulai meninggalkan tubuhnya.

Ralat. Sungguh, ini posisi yang tidak nyaman. Apalagi ditambah kau telanjang mempertontonkan penismu di depan semua orang seperti ini.

Chen membawa bathrobe itu menyingkir dari arena syuting dan bergabung bersama Lay. Tao masih memejamkan mata. Nafasnya pendek-pendek. Wajahnya sangat merah. Lay mengangguk pada Kris yang sedari tadi memperhatikan anak baru itu dan melepas bathrobenya sebelum memasuki arena syuting.

"1,2,3…action!" seru Lay.

Seketika semuanya berubah sunyi. Lampu difokuskan pada dua sosok actor yang sedang beraksi. Yang diculik, Tao, telanjang dan diikat kedua tangannya dari atas. Sementara Kris si penculik, si maniak yang terobsesi pada Tao, berjalan pelan dari arah belakang si korban dengan hanya mengenakan boxer yang menutupi bagian atas pahanya saja.

Wajah ketakutan Tao tergambar jelas ketika ia mendengar langkah kaki orang yang telah menculiknya perlahan-lahan makin jelas. Ia masih memejamkan matanya dan seketika mata itu terbuka lebar ketika ia merasakan nafas hangat berada di tengkuknya. Ia merinding. Sekarang ia merasakan bibir yang basah mengecup punggungnya dengan penuh kasih. Tao melempar wajahnya ke kiri ketika kecupan itu berubah jadi gigitan. Tao mengejang dalam ikatan itu. Gigitan itu makin keras. Ia yakin itu akan meninggalkan bekas.

"S-sakit…hentikan…" Tao memohon-mohon.

Itulah skenarionya. Tapi Tao memang benar-benar merasakan sakit itu.

"Ya, sayang?" tanya Kris dalam sela-sela gigitannya. Tao bisa merasakan bahwa bibir itu menyeringai.

"Hentikan! Jangan sakiti aku…!" Tao merengek.

"Siapa bilang aku akan menyakitimu, Cantik?"

Pipi Tao memerah mendengarnya.

"Jangan menggigitku. Itu sakit…."

"Hm? Kalau begitu bagaimana kalau begini saja?"

Kris membuka mulut dan menegluarkan lidahnya. Ia melarikan lidah itu ke bekas gigitan yang sekarang membiru dan menjilatinya. Tak hanya disitu. Ia menyusuri leher Tao dan menjilatinya. Menelan rasa asin yang berasal dari kulit orang yang sangat ia puja itu. Tapi ia tak peduli. Rasa asin ini rasanya bagaikan surga. Akhirnya ia bisa bercampur dengan pujaan hatinya.

Ia merasakan setiap inchi tubuh Tao dengan lidahnya. Setelah puas dengan leher, tak lupa dengan memberi leher jenjang itu beberapa kissmark berwarna maerah, cukup untuk mengklaim bahwa Tao sudah menjadi miliknya. Tapi ia belum cukup. Ia membelai-belai punggung Tao dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, membuat pria malang di depannya itu geli. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba menghindari setiap sentuhan menjijikkan dari penculiknya.

Kris tidak suka itu. Ia sedikit membungkuk dan melingkarkan lengannya pada perut Tao dan mengangkatnya agak tinggi. Sehingga ia sekarang berhadapan dengan pantat Tao yang bulat dan montok.

"Jangan…lepaskan aku!" rintih Tao.

Kris tidak menggubrisnya dan malah mengeluarkan lidahnya lagi. Ia menjilat-jilat pinggang Tao yang langsing dan juga torsonya. Tao berjengit berkali-kali. Ini sudah berlebihan. Terlalu berlebihan!

Kaki Tao yang menggantung lemas di atas lantai gemetar tak kuat menahan semua pelecehan ini. Ia memejamkan mata dan mencoba menciptakan air mata. Tuntutan skenario.

Kamera itu kini memfokuskan pada Kris yang menatap pantat Tao yang terpampang jelas di bawah hidungnya. Ia menjilat bibirnya seolah-olah ia sedang berhadapan dengan santapan yang lezat. Karena memang baginya, Pantat Tao yang menggiurkan itu adalah tujuan utamanya.

Ia menampar pantat itu keras-keras, menghasilkan jeritan super feminin dari bibir mungil Tao. Kris tak bisa menahan lagi untuk tidak menyantap hidangannya. Ia melepas pelukannya pada pinggang Tao sehingga pria malang itu kembali menggantung lemas. Kris menekuk lututnya dan berhadapan dengan pantat bulat itu. Ia mengulum jarinya dalam-dalam, menyelimutinya dengan saliva, kemudian memasukkan jari itu ke dalam lubang Tao yang sempit. Tanpa peringatan. Tanpa aba-aba.

"Aaaaahhh!" Tao berteriak kesakitan. Ia tak perlu susah-susah menciptakan air mata karena memang sekarang ia menangis akibat rasa sakit pada lubangnya itu.

Kris memasukkan jarinya yang panjang itu sampai tak terlihat lagi. Terbenam sepenuhnya di dalam kehangatan yang berasal dari tubuh pujaan hatinya. Tubuh Tao menegang. Kris memaju mundurkan jarinya dengan kecepatan tinggi dan mendengar Tao bernafas terengah-rengah. Tubuhnya mengikuti irama seiring tusukan Kris pada lubangnya semakin cepat. Kris menambahkan satu jari lagi dan membuat gerakan seperti menggunting pada lubang itu. Melonggarkan lubang sempit itu selonggar mungkin. Kris menyeringai ketika ia mendengar Tao melenguh untuk yang pertama kalinya. Tao memeluk kaki kiri dengan kaki sebelah kanannya. Ini benar-benar di luar kendalinya tapi mengapa ia merasakan kenikmatan saat ujung jari Kris menabrak salah satu titik di dalam lubangnya?

Kris menyeringai. Ia mencabut dua jarinya sekaligus. Ia menjilat bibirnya lagi. bersiap menyantap hidangan utama setelah mengirisnya. Dengan kedua telapak tangannya yang super lebar, ia meremas-remas pantat yang terekspos di depan hidungnya. Ia menguleni pantat itu seakan benda itu adalah adonan kue. Maka Kris berdiri dan mengambil property yang sudah disediakan. Tao menunduk menunggu apa yang akan Kris lakukan selanjutnya.

Ia melenguh ketika sensasi dingin menyentuh pantatnya. Kris menuangkan whipped cream ke seluruh pantat itu. Layaknya mengukir sebuah kue ulang tahun. Ia menyemprotkan seluruh whipped cream berwarna putih itu sampai habis dan membuang wadahnya yang sekarang kosong. Ia kembali meremas pantat yang sekarang berwarna putih itu, membuat Tao mengangkat lagi wajahnya. Kemudian, lidah itu keluar lagi dari guanya. Ia menjilat whipped cream manis yang kini mulai meleleh itu dan menyeringai.

"Selamat makan" bisik Kris.

Dengan itu, ia memulai makan kuenya. Ia menjulurkan penuh lidahnya dan menjilat kuat-kuat whipped cream itu dengan amat sangat perlahan. Setelah cairan itu terkumpul di lidahnya, Kris menelan semuanya. Rasanya manis. Ia menyeringai.

"Kau manis sekali, sayang" ia mendongak.

Ia memfokuskan lagi perhatian pada pekerjaannya. Whipped cream itu memakan seluruh pantat Tao dan Kris baru menjilat seperempatnya saja. Maka ia mengulangi perbuatannya. Ia menekankan seluruh permukaan lidahnya di atas krim putih itu dan menyapunya dengan lidah. Ia menelan krim itu tanpa sisa. Ia melakukannya lagi sampai seluruh pantat itu bersih. Termasuk bagian dimana lubang itu berada. Kris bersedia membersihkannya dengan senang hati. Ia melonggarkan lubang itu dengan bantuan lidahnya. Tao merintih penuh kenikmatan ketika sensasi dingin yang berasal dari krim itu bercampur dengan panasnya lidah Kris. Semua itu menyatu dengan sempurna dan bertemu di dalam lubangnya. Rasanya, Tao seperti mencair.

Setelah semuanya beres, Kris menjilati bibirnya berulang kali. Menjilati sisa krim yang mencemari bibirnya. Ketika ia melihat sisa krim itu meleleh melewati paha Tao yang besar. Ia menggelengkan kepala. Tanpa lelah, kembali ia menyusuri lelehan itu sampai ke baliknya. Ia berputar dan sampai di paha bagian depan. Dan ujung kepalanya menabrak sesuatu yang keras. Ia mendongak dan melihat penis Tao yang sekarang sudah sangat tegang berdiri kokoh di atas matanya.

Kris menyeringai. Sementara wajah Tao merah padam. Ia tak bisa menahan semua ini. Meskipun ia merasa jijik pada semua yang sudah penculik ini lakukan padanya, ia juga tak bisa memungkiri bahwa sentuhan yang diberikan oleh Kris sedari tadi adalah sentuhan dewa. Kris begitu ahli dengan lidahnya. Ia belum pernah merasakan sensasi penuh gairah seperti ini. Sekujur tubuhnya rasanya seperti terbakar. Terbakar oleh gairah dan nafsu.

Kris mengangkat kedua paha Tao dan meletakkannya di bahunya yang lebar. Kris sedikit kesulitan menjaga keseimbangan. Perhatikan saja paha itu. Besar dan padat. Bukan kurus lurus seperti miliknya. Sangat menggiurkan. Ia melingkarkan kedua tangannya ke masing-masing paha dan menariknya sehingga ia berhadapan langsung dengan penis pujaan hatinya. Besar, meskipun tak sebesar miliknya, dan Tegang. Dan ia yang menyebabkan semua itu. Siapa yang tak akan meleleh di bawah sentuhannya. Tak akan ada. Tak juga ia si pujaan hati yang tadi meronta-ronta minta dilepaskan.

Penis Tao berada tepat di depan hidungnya. Ia menggerakkan hidungnya yang mancung kearah batang itu dan mencium baunya. Ia menghirupnya dalam-dalam. Tao merintih merasakan udara panas di sekitar penisnya. Ia menunduk menatap Kris yang menikmati aromanya.

"Ah….jadi seperti ini aromamu, Sayang" Kris menggoyang-goyangkan hidungnya yang lancip ke ujung penis Tao. Tao merintih sebagai balasan.

"Kau tahu?" Kris menjauhkan hidungnya dan menggantinya dengan bibir. Ia mengecup ujung penis Tao penuh kasih sayang. Ia mengerak-gerakkan bibirnya ke kanan kiri seolah menikmati kecupannya. Ia melepaskan kecupan itu dan kembali mendongak menatap Tao.

"Kau wangi sekali" puji Kris.

"Aaah~~" wajah Tao semakin memerah.

Kali ini ia tidak hanya mengecup penisnya, tapi ia membungkus batang yang tegang itu dengan mulutnya. Awalnya ia hanya menelan ujung penis Tao saja, tetapi kemudian dengan amat sangat perlahan ia memajukan mulutnya dan menelan nyaris semua batang itu. Di atas kepalanya, Tao mengejang penuh kenikmatan. Sensasi hangat yang menyelimuti penisnya sungguh sesuatu yang tak mungkin untuk dijelaskan. Ia seperti berada di langit ketujuh.

Kris terus memajukan kepalanya dan membungkus seluruh penis Tao dengan mulutnya sendiri. Hingga Tao merasakan ujung penisnya menabrak sesuatu. Tenggorokan Kris. Sekarang Kris benar-benar menelan semua batang itu hingga nyaris tak ada yang tersisa. Meskipun begitu, pria di bawahnya ini tak menunjukkan tanda-tanda akan tersedak. Sesuatu yang besar seperti itu menghalangi jalan nafasnya. Tapi Kris tidak peduli. Pikirannya terpusat pada bagaimana agar pujaan hatinya merasakan kenikmatan.

Dari bawah, Kris menatap wajah Tao yang memerah. Kemudian ia mulai memaju mundurkan kepalanya dengan perlahan. Masih membungkus batang itu dengan mulutnya. Kepalanya bergerak maju mundur. Ia mendengar lenguhan panjang yang keluar dari bibir Tao. Ini menambah gairahnya dan memotivasi dirinya. Ia memaju mundurkan kepalanya lebih cepat. lebih cepat. Sampai batang itu licin karena salivanya.

"Aah aah aah….!" Tao mengeluarkan suara seperti tersedak berulang-ulang.

Kris ingin bertanya pada pria di atasnya, bagaimana rasanya dipuaskan dengan cara seperti ini, tapi ia lupa bahwa ia sedang memberikan oral seks sehingga ia malah menggumamkan semua itu. Agaknya, ini memberikan sensasi luar biasa pada penisnya sehingga Tao mengejang lagi di atas Kris.

Kris menambah tingkat kenikmatan yang dirasakan Tao dengan menyeret giginya ke batang itu. Tubuh Tao bergetar penuh kenikmatan. Kaki yang menggantung di atas bahu Kris itu menjejak udara dan memeluk kepala Kris ketika akhirnya Tao sudah tidak sanggup menahan seluruh gairah dan memuntahkan spermanya ke dalam mulut Kris di bawahnya.

"Ngggghhh…." Tao merengek seperti kucing.

Setelah gelombang kenikmatan itu mereda dan Tao sudah turun dari lantai ketujuh, ia melonggarkan pelukan kakinya pada kepala Kris. Akhirnya Kris bisa bernafas juga. Ia merasakan mulutnya penuh dengan sperma dan rasanya manis. Tidak, ia tidak bohong. Mungkin ini semua berkat whipped cream yang rasa manisnya masih menyelimuti rongga mulut dan lidahnya. Ia menelan semua cairan Tao mentah-mentah. Bahkan beberapa tetes mengalir di sudut bibirnya yang merekah berwarna merah muda.

Ia merasakan tubuh Tao mulai tenang di atasnya. Pria berambut hitam itu mulai menumpukan berat badannya lagi ke bahu Kris. Kakinya menggantung lemas di kedua sisi kepalanya. Tao terengah-engah. Kris menggeser sedikit kaki itu sehingga ia dapat membaui penis Tao. Ia menelan ujung penis yang masih bocor itu lagi. Ia menyedot-nyedot ujungnya. Mengambil cairan yang masih dalam proses untuk keluar dari celah sempitnya. Setelah ia yakin tak ada lagi yang bisa Tao keluarkan, ia mengangkat paha Tao yang gemetaran dan meletakkannya sehingga Tao berdiri lagi. Tidak sepenuhnya berdiri, karena hanya ujung ibu jarinya saja yang mencium lantai.

Kris berdiri lagi. Ia memperhatikan sosok yang terikat itu. Peluh menyirami tubuh Tao. Membuatnya mengkilat. Apalagi ditambah dengan lampu kamera yang panas di ruang tertutup itu. Make-upnya sudah mau luntur. Tapi ia harus menyelesaikannya cepat-cepat. Ia sudah tidak sabar ingin merasaka tubuh Tao, si anak baru itu.

Ia punya ide.

.

Tao mengangkat wajah tepat ketika Kris berjalan menjauhinya.

Mau kemana dia? Bukankah setelah ini Kris harus menyetubuhinya dari belakang? cepatlah! Rasanya tangan ini sudah mau putus…

Ia melihat kaki Kris yang panjang itu ada di depannya lagi. Ia mendongak. Kris menatapnya dengan sendu. Ia mengangkat tangannya yang terlihat menggenggam pisau. Tao membelalak.

Untuk apa pisau itu?! itu tidak ada di skenario!

"Tunggu-!" ia berteriak, tetapi sebelum ia sempat menuntaskan kalimatnya, tubunnya yang telanjang melayang di udara dan sebelum ia jatuh menemui lantai, tangan Kris memeluknya. Tao terbelalak. Kris tersenyum lembut padanya.

Apa-apaan itu?

Kris menggendongnya menuju ranjang di belakang mereka. Ia dibaringkan dengan begitu lembut layaknya seorang bayi. Tao mendongak dan menatap Kris aneh. bukankah menurut skenario, ia tetap akan diikat sampai akhir? Jadi ia gunakan pisau untuk memotong tali itu? tapi…tangannya tetap diikat. Hanya saja ia tak lagi digantung seperti potongan daging.

Kris mengangkangi tubuh Tao dan menciumnya. Tao membelalakkan mata. Apa lagi ini? bukankah seharusnya ia hanya akan dicium pada saat klimaks nanti? Argh! Persetan! Ia tak peduli dan mulai membalas ciuman Kris. Bibir mereka beradu dengan keras. hingga gigi Tao menabrak gigi Kris. Tao terkikik dan ia bisa melihat Lay melotot dari sudut matanya.

Aku tahu. Aku tahu. Itu tidak ada di skenario, Tao tertawa dalam hati.

Kris membuka mulut Tao dengan paksa dan memasukkan lidahnya ke dalam gua hangat itu. Segera setelah lidah itu menemukan kembarannya, ia mengajaknya beradu. Ia mendorong lidahnya sendiri dalam-dalam ke rongga mulut Tao hingga membuat pria di bawahnya tersedak kehabisan nafas.

Kris tersenyum. Kali ini ia menciumnya dengan lebih hati-hati. Kris membiarkan Tao menguasai lidahnya. Kris mengerang nikmat ketika lidahnya dikulum oleh Tao. Tao memaju mundurkan bibirnya yang mengulum lidah itu pelan-pelan. Setelah beberapa lama beradu, Kris melepaskan ciuman itu dan ganti menjilati bibir Tao. Tao mengernyitkan dahi.

Orang ini seperti anjing, pikir Tao.

Kris yang masih menindih tubuh Tao,mulai bangkit. Ia menarik tubuh Tao hingga ia terduduk di atas kasur. Ia mendekatkan torsonya ke wajah Tao yang menatapnya kebingungan.

Apa yang harus kulakukan? Ini tidak ada di skenario.

Saat ini, ia menjalankan instingnya sebagai seorang pelacur. Karena tangannya masih terikat, tidak mungkin ia menggunakan tangannya sekarang. Ia menatap mata Kris dan mendekatkan wajahnya ke ujung boxer itu, bermaksud menariknya ke bawah ketika suara Lay membahana.

"Cut! Tao, kau tidak boleh begitu! Jangan jadi penurut! Biarkan Kris yang melakukannya!"

Baik Kris dan Tao menoleh pada Lay yang berdiri jauh di belakang mereka. Keduanya sama-sama memutar bola matanya mendengar semua itu. Tao mendongak menatap mata Kris yang menatapnya tanpa berkedip. Kemudian, tanpa aba-aba, Kris mencengkeram dagu Tao dengan kasar dan menariknya mendekati boxernya yang sudah ingin ia enyahkan.

Tangan Kris menuntun mulut Tao yang sekarang ia gigitkan ke tepi boxernya. Ia menurunkan dagu itu perlahan bersamaan dengan terungkapnya sedikit demi sedikit kulitnya putih. Setelah boxer itu berkutat di sekitar pahanya dan mempertontonkan penisnya yang membuat Tao mengangkat alis.

Dari semua pelanggannya, Ia juga belum pernah melihat dan dimasuki penis sebesar ini.

Kris membuang boxernya ke lantai. Ia mendorong tubuh Tao ke kasur lagi. Ia menindih tubuh yang menggeliat menolak itu dan mengurungnya dalam pelukan. Kris mengecupnya lagi dan menyembunyikan wajahnya di bahu Tao.

Tangan Kris menyusuri tubuh Tao dan bergerak ke bawah. Ia membelai-belai paha Tao dengan lembut. Kemudian ia memegang penisnya sendiri yang sudah tegang. Ia mengangkat satu paha Tao tinggi-tinggi agar tercipta ruang untuk memasukkan penis ke dalam lubang itu.

Dengan masih menindih tubuh itu, Kris memegang penisnya dan mencari-cari lubang Tao, masih menyembunyikan wajahnya di bahu Tao. Setelah ia merasakan penisnya menyentuh sesuatu yang lembab, iamemaksakan penisnya yang berukuran abnormal ke dalam lubang Tao yang sudah tidak longgar lagi. Bola mata Tao melebar. wajahnya mengernyit kesakitan. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Kris. Kris yang sudah berhasil mendudukkan penisnya ke dalam lubang Tao,mengangkat tangannya dan mengunci Tao dari kedua sisi. Menolaknya untuk berontak.

Tao menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak bercanda! Ini sakit sekali! apakah tidak ada yang menyiapkan lube? Kenapa Kris tidak melonggarkannya lagi?

"Unggh…!" Tao menggeliat-geliat di bawah tubuh Kris.

Dengan sekuat tenaga, ia berhasil mengangkat kakinya dan menendang wajah Kris. Tepat di dagu. Membuatnya terjengkang.

"Fuck!" Kris memegangi dagunya. Ia memelototi Tao. Sementara Tao mengaduh-aduh kesakitan memegangi punggungnya.

"Tidak! Tidak! Tidak!" suara Lay terdengar lagi. "Tadi itu sudah sempurna! Kenapa kau merusak semuanya…! Arghh kenapa kau menendangnya !?"

"Enak sekali kau bicara! Tidakkah kau lihat benda itu? benda itu hampir merobekku jadi dua dan kalian tak menyiapkan lube! Kalian mau membunuhku?"

"Tapi kau tak perlu menendangku,Anak Baru" omel Kris.

"Setidaknya kau harus mempersiapkan lubangku lebih dulu, Senior" balas Tao sengit. "Kau pikir untuk apa jarimu yang panjangnya tidak normal itu?"

"Anak kecil ini…!" Kris sudah naik pitam. Untung saja Chen keburu mencegahnya.

"Sudah,sudahlah. Tenang, Kris. Kita lanjutkan saja. Oke?"

"Atur anakmu, Chen!"

"Iya. Iya" Chen menghela nafas sementara Suho kesulitan menahan tawanya.

Kris merangkak mendekati Tao lagi. "Baik. Kalau kau mau dipersiapkan. Asal kau tahu, bukan adatku untuk menggali lubang sebelum aku memasukinya"

Tao menatapanya penuh ngeri. Sekarang giliran Kris menyeringai.

"Aku suka menyantap dagingku mentah-mentah" bisik Kris.

Dengan itu, ia langsung memasukkan dua jari ke dalam lubang Tao.

"Cepat! Rekam itu!" bisik Lay.

"Nggh nggh~!" Tao merintih. Ia merasakan jari itu bekerja di lubangnya dengan cepat. Melonggarkannya ke ukuran maksimal. Ia bisa merasakan penisnya bangkit lagi. Jari Kris nyaris sama ahli dengan kerja lidahnya.

Kris mencabut dua jari itu dan langsung menggantinya dengan penisnya yang tegang. Ia menyaksikan wajah Tao mengernyit penuh luka. Sakitnya belum juga berkurang. Ia masih membutuhkan lube. Masih terlalu banyak gesekan.

Setelah Tao sedikit tenang. Kris mulai menarik penisnya utuh dan menabrakkannya lagi mentah-mentah. Tao berteriak kesakitan. Ia mengulangi semua itu sampai teriakan Tao berubah menjadi lenguhan. Melodi itu merupakan musik yang mengalun indah di telinga Kris. Suara Tao yang lembut dan nyaring menghasilkan rintihan seindah ini. Kris ingin mendengar itu lagi dan menusukkan penisnya dalam-dalam. Membuat Ttubuh dibawahnya mengejang dan jari-jari kakinya mengerut menahan gelombang kenikmatan yang tiada tara.

Kris terus bekerja memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat. Ia menyangga tubuh Tao yang lemas karena hantaman berulang-ulang itu. Ia merebahkan punggung Tao ke ranjang. Ia memisahkan kakinya lebar-lebar. Ia mencengkeram paha Tao dengan kuat dan menggunakannya untuk memaju mundurkan pinggul pria dibawahnya untuk menemui tusukannya. Tao terus melenguh ketika gesekan pada dinding rektumnya semakin terasa. Lubangnya dianiaya sedemikian rupa oleh pria di atasnya.

Saat itu, Kris merasa bahwa lubang Tao semakin kesat. Menyulitkannya untuk bergerak dengan cepat. Ia akan kesulitan mencapai klimaks dengan keadaan ini. Maka, ia mencabut penisnya secara tiba-tiba. Ia mengangkangi tubuh Tao dan menyodorkan penisnya ke mulut Tao. Tao langsung membuka mulutnya lebar-lebar.

"Jangan! Kau harus menolaknya, Tao! Ingat, kau adalah seorang korban penculikan!"

Kali ini,Kris tidak membuang waktunya untuk memutar bola matanya mendengar semua itu. Ia menjambak rambut Tao yang basah oleh keringat dan memaksanya menelan penisnya.

"Sssh…ahh" Kris melenguh ketika kali ini batangnya dimanjakan oleh hangatnya rongga mulut Tao.

Tao bertingkah seolah-olah ia tidak suka semua ini dan menendang-nendang paha pria yang memaksanya memuaskan nafsu bejatnya. Kris menyeringai. Ia melanjutkan memaju mundurkan kepala Tao pada penisnya. Melumerinya dengan saliva agar ia mendapatkan kelembapan yang ia inginkan. Saliva Tao tumpah di kedua sisi bibirnya.

Kris mendengar Tao tersedak ketika ujung penisnya menabrak tenggorokan Tao. Kris memutuskan bahwa ini sudah cukup. Maka ia menarik batangnya perlahan. Sekarang batang itu basah oleh saliva pria dibawahnya. Kris menyeringai melihat ini dan mengarahkan batang lembab itu ke lubang Tao lagi.

Kris melenguh ketika lubang Tao menelan penisnya dengan rakus. Kris mengangkat paha Tao dan menciuminya. Tao hanya bisa meleleh di bawah sentuhan Kris. Mulutnya terbuka menyuarakan rintihan yang tanpa henti memenuhi studio itu. Kamera sekarang bekerja pada aktivitas panas yang dilakukan kedua aktor mereka. Sementara Kris hampir mencapai klimaksnya,bagaimana dengan Tao?

Batang kejantanan Tao yang tadi lumpuh akibat blowjob menakjubkan yang Kris berikan padanya,kini kembali tegak meminta untuk diselesaikan. Ia memanggil-manggil nama Kris. Membangunkan pria itu dari hangatnya lorong lembab Tao.

"K-Kris…Kris !" Tao memanggil nama itu berulangkali.

Kris akhirnya membuka matanya dan mendapati wajah Tao yang menderita.

"Ya, Sayang?" tanya Kris. Ia menghentikan kegiatannya.

"Sakit…disitu sakit…"

"Dimana?"

"I-itu…" Tao mengedikkan kepala kearah penisnya sendiri yang terabaikan. Kris menatap benda itu dan menyeringai.

"Ada apa dengan benda itu?" goda Kris.

"Aku ingin menyentuhnya…"

Senyum di wajah Kris lenyap seketika. Jiwa aktor sedang menguasai dirinya.

"Tidak bisa"

"Ke-kenapa?"

"Kalau aku membiarkanmu menyentuhnya, maka aku harus melepaskan ikatan di tanganmu. Dan apabila aku melakukan itu, aku tidak yakin kau tidak akan memberontak"

"Ka-kalau begitu…"

"Ya?"

"Sentuh…aku…" wajah Tao memerah. Setidaknya itulah yang tertulis di skenario.

"Tidak"

"Aku mohon, Kris…rasanya sakit sekali…"

"Berjanjilah satu hal"

"Apa itu…?"

"Tinggallah bersamaku. Patuhi aku. Jadilah milikku" bisik Kris.

Tao hanya membisu. Dasar maniak! Bagaimana mungkin aku menuruti kemauan orang gila ini?

"Baiklah. Kalau kau tidak mau juga tidak-"

"Tu-tunggu! Aku mau. Baiklah. Aku bersedia"

"Benarkah?"

"Ye-yeah…"

"Aku benci pembohong, Tao"

"Tidak! Aku tidak berbohong! Ayolah, rasanya sakit sekali…!"

Kris menatap wajah Tao yang memelas. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia mengambil pisau dan memutus tali yang mengikat kedua tangan Tao.

Akhirnya…! Tao menggerak-gerakkan kedua tangannya yang sekarang bebas. Kris memperhatikan wajah yang sekarang bahagia itu dan tersenyum menatapnya. Ia menangkap kedua tangan itu, mengagetkan Tao.

Dia pasti terkejut. Ini tidak ada di skenario, pikir Kris

Dengan amat perlahan, ia mengarahkan kedua tangan itu ke wajahnya. Tao berusaha menarik tangannya tetapi tangan Kris yang besar lebih kuat menahannya. Kemudian, dengan penuh kasih sayang, ia mengecup pergelangan tangan Tao yang memerah akibat gesekan tali dengan kulitnya yang terlalu lama.

Tao terperangah. Jantungnya berdebar-debar. Kris melanjutkan menciumi pergelangan tangan Tao bergantian. Kris tidak memperdulikan protes dari Lay. Apa salahnya? Ia ingin mencium Tao dan siapa yang berani menegurnya?

Setelah ia rasa cukup, ia menuntun tangan itu ke penis Tao sendiri.

"Nah, lakukanlah sendiri, atau perlukah aku yang melakukannya untukmu?"

Wajah Tao semakin memerah. Ia memalingkan wajah dan melingkarkan jari-jarinya ke batangnya sendiri. Kris menyeringai. Ia melanjutkan pekerjaannya sendiri. Ia bisa merasakan lubang Tao yang semakin mengetat menyelimuti penisnya. Ia tahu ia tidak akan lama lagi. Tao semakin mempercepat kecepatannya pada batangnya sendiri. Tidak lama baginya untuk memuntahkan cairan putih untuk kedua kalinya hari itu. Spermanya menggenangi perutnya. Ia memejamkan mata merasakan langit ketujuh lagi.

Sementara Kris, memperhatikan wajah Tao yang penuh kenikmatan. Tubuhnya masih bergoyang menerima tusukan tusukan Kris yang tiada lelah menganiaya lubangnya. Akhirnya, dengan satu tusukan dalam. Ia menahan batangnya dalam lorong lembab Tao untuk beberapa saat. Kemudian dengan cepat ia menariknya keluar.

Bukannya mengeluarkan cairannya di dalam lubang Tao, Kris malah berpikir untuk memuntahkan spermanya ke bibir Tao yang mirip bibir kucing itu. Kris menuntun lututnya yang gemetar akibat orgasme yang ia tahan beberapa saat. Tao membuka matanya ketika merasakan tangan Kris menarik rambutnya agar ia duduk. Ia tahu apa yang diinginkan Kris, maka ia membuka mulutnya lebar-lebar.

"Tao…" dan seperti biasa Lay menggeram.

Tao mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Bertingkah seolah ia jijik dengan cairan itu. Padahal, Hei, itu adalah minumannya setiap malam. Kris yang gemas, memukul-mukulkan penisnya ke pipi dan bibir Tao. Ia menyentuhkan ujung penisnya yang sudah panas ingin meledak itu secara paksa ke bibir Tao.

"Ayo, Sayang…buka mulutmu, kau sudah berjanji untuk mematuhiku,kan?"

Dan Tao menggeleng keras kepala, tetap menolak. Akhirnya, ia menjambak rambut Tao keras-keras

"Ah!"

Ini membuat pria dibawahnya memekik kesakitan dan membuka mulutnya. Kris langsung menyiram bibir Tao dengan spermanya. Ia menyentuhkan ujung penisnya yang bocor ke bibir Tao. Cairan itu mengendap di bibir Tao, Masuk ke mulutnya,dan ada yang tumpah dan menetes melewati dagunya. Menuruni leher, perut, dan bertemu dengan cairan putih miliknya sendiri.

Tao berpura-pura menangis. Kris melepaskan cengkeramannya pada rambut Tao dan menariknya ke dalam pelukannya. Ia tidak memperdulikan tangisan Tao. Ia tersenyum. Akhirnya ia mendapatkan pujaan hatinya.

Akhirnya…

The end.

"Cut! Kerja bagus! semua langsung ke tempatnya masing-masing! Bereskan bagian kalian!" perintah Lay kepada para staffnya.

Kris melepaskan pelukannya pada tubuh Tao. Ia menatap mata yang berkaca-kaca itu dalam-dalam. Ia menyeka air mata palsu Tao dengan lembut. Tao mengalihkan pandangannya pada Chen yang mengambil tissue untuknya. Saat ia menatap pria di depannya lagi, ia menjumpai mata itu masih menatapnya dengan cara yang sama.

Dan seketika itu juga ia tahu apa yang ia rasakan.

Memang sebentar.

Mungkin hanya beberapa menit.

Tapi Kris telah membawanya ke surga.

Surga yang telah ia singgahi bersama pelanggan-pelanggannya setiap malam.

Tapi ini berbeda.

Surga ini lebih indah dan nyata.

Dan Tao ingin mengunjungi surga itu lagi.

Bersama Kris.

"Chen!" panggil Kris. Chen menoleh dan memperhatikan bahwa kedua aktor itu masih berada di atas ranjang.

"Biar aku saja" Chen tersenyum dan melemparkan sekotak tissue pada Kris yang menangkapnya. Ia mengambil beberapa tissue dan mengelap sperma yang masih ada di bibir Tao dengan hati-hati. Ia juga membersihkan cairan yang menggenangi perut Tao. Tao terperangah menyaksikan perlakuan yang diberikan Kris padanya. Kris tersenyum. Kemudian, Ia mendekat dan berbisik di telinganya.

"…"

Tao membelalak dan mendorong Kris jauh-jauh. Kris hanya tertawa melihat pipi Tao yang tak berhenti menyemu merah. Tao menutup kakinya dan melihat Suho melemparkan bathrobe kepada Kris yang memakainya,meninggalkan Tao di atas ranjang. Masih bersemu seperti anak gadis yang sedang puber. Kris melempar bathrobe lain pada Tao. Tao turun dari ranjang dan memakainya. Kris berlalu menuju kamar mandi.

"Debutmu sukses" puji sang manajer.

"Hyung, terima kasih" ia membalasnya dengan senyuman. Masih merapikan bathrobenya. paling tidak, Kalau teriakan Lay tadi tidak dihitung. Semuanya memang berjalan lancar.

"Bersihkan dirimu" perintah Chen. Tao mengangguk. Ia menuju kamar mandi bersamaan dengan Kris. Mereka menghentikan langkah diambang pintu. Kedua pasang mata itu saling bertaut. Belomba siapa yang lebih kuat menatap lawannya. Tao ingin mandi , begitu juga Kris. Tapi kamar mandi hanya ada satu. Kemudian Kris menyeringai. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Tao dan berbisik.

"Aku ulangi lagi penawaranku, bagaimana dengan ronde kedua di bawah shower? Aku jamin, Tak ada kamera, tak ada skenario, juga tak ada Lay yang mengatur-atur kita"

Tao terperangah mendengar itu. Ia memelototi Kris.

"Bagaimana?" ulang pria berambut pirang itu.

Tanpa banyak bicara lagi, ia mendorong dada Kris jauh-jauh sebelum pria itu sempat melihat pipinya berubah semerah tomat. Ia membanting pintu kamar mandi tepat di depan wajah tampan Kris. Tao hanya bisa menutupi wajah dengan kedua tangannya. Dari balik pintu ia bisa mendengar tawa Kris membahana.

Dasar si brengsek itu.

Tao melepas bathrobenya dan memasuki bathtub yang sudah terisi penuh. Ia merendam tubuhnya yang lengket dan berkeringat. Dan wajah Kris kembali terbayang. Tao tersentak. Ia memegangi dadanya. Ia bisa merasakan pipinya yang panas, juga debaran jantung yang tak mau berhenti. Ia melemparkan kepalanya ke belakang dan menghela nafas. Matanya menatap langit-langit.

Tao tahu ini konyol dan tak masuk akal.

Di tengah – tengah usahanya saat melakukan pekerjaan barunya.

Dibawah sentuhan partner yang baru satu jam lalu ia kenal

Di antara rintihan dan lenguhan dan napas yang terengah-engah

Dibalik manis, asam, getir, dan amisnya saliva, keringat, dan sperma yang bercampur jadi satu.

Di antara banyak pasang mata yang menyaksikan.

Diantara lampu panas juga kamera yang terus mengejar gerak mereka.

Wajahnya memerah.

Ia jatuh cinta.

-to be continued-

Ini pertama kalinya author menulis NC, yeah, yeah author tahu ini berantakan dan jelek… Apakah readers menyukainya? Tidak? Iya? Kyaaa . jangan lupa review ^^ see ya in the next chap –author-