"Putri setengah vampir..." kali ini terasa lebih nyata, menghembuskan udara dingin pernapasan abadi yang mengenai kulit leher Woohyun, membuatnya membeku. Entah sejak kapan tubuhnya sudah dikelilingi oleh dua buah lengan dari belakang dan bahkan sekarang dia bisa merasakan seperti ada sepasang taring setajam silet siap mengoyak nadi untuk menikmati darahnya.
Sekujur badan Woohyun seketika gemetar, telapak tangannya dingin, kepalanya terasa ringan karena rasa takut yang teramat sangat, dan kedua matanya berair memandang ke depan, ke arah Sungyu yang menampakkan wajah terkejut menatapnya.
Tolong...
#infinite #gs #t
DETERNITY
2 - end
DOR! DOR! DOR!
Woohyun menutup rapat kedua mata mendengar suara tembakan yang hampir mirip dengan ledakan karena terasa begitu dekat memekakkan telinga. Pelukan pada tubuhnya terlepas dibarengi oleh pekik kesakitan yang ambruk ke sebelah kakinya dan di detik selanjutnya Woohyun seperti merasa badannya ditarik seseorang membuat gadis itu reflek memegang baju siapapun yang melingkarkan lengan pada punggungnya lalu membawanya mendekat pada dada bidang yang dingin serta memperdengarkan lirih denyutan jantung.
Perlahan Woohyun membuka mata, melihat tangannya yang bergetar hebat mengcengkeram kain kemeja seseorang. Dia mendongak, langsung dapat menemukan garis tegas rahang Sungyu yang masih melingkarkan lengan pada punggungnya, mendekap tubuh mungil tersebut dengan erat seolah tak ingin ada orang lain menyambar dia pergi barang satu jengkal pun. Gadis berambut panjang mengalihkan pandangan, menatap tangan Sungyu yang lain yang sedang lurus menodongkan sebuah pistol ke arah laki-laki yang tengah berusaha berdiri sambil memegang separuh wajahnya yang berlumuran darah tak jauh dari mereka.
Dada Woohyun terasa nyeri. Ini bukan pertama kalinya dia melihat pertarungan antar sesama vampir. Dia sudah sering diserang oleh vampir haus darah yang berkeliaran karena tertarik pada harum tubuhnya dan melihat mereka kemudian dikalahkan—atau bahkan beberapa harus terpaksa dibunuh di tempat sebab terlalu membahayakan—oleh para pengawal suruhan Sungyeol. Walau sudah berkali-kali melihat kejadian mengerikan seperti itu, tetap saja Woohyun tak pernah bisa tahan dengan pertarungan, darah, jeritan, dan semua terornya.
"Jangan lihat," bisik Sungyu seolah mengerti ketakutan Woohyun, getaran hebat tubuh gadis tersebut di pelukannya, suara tak beraturan degup jantungnya yang sampai ke telinga, ataupun tarikan napasnya yang seperti ingin menangis kencang-kencang. Namja tersebut membawa Woohyun untuk menyembunyikan badan di belakangnya.
"Menyerahlah, kau sudah terkepung." Seorang pemuda lain muncul di depan vampir yang keliatannya masih belum pulih dari tembakan pistol berwarna putih milik Sungyu yang tetap waspada pada posisinya.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan waktu masuk ke rumah ini, tapi sepertinya kau bermaksud untuk bunuh diri." Namja yang membawa pedang itu menyeringai meremehkan, menatap rendah pada lawannya yang hanya dapat balik menatap tajam sementara sebelah matanya tidak jua berhenti mengucurkan darah.
"Lukamu tidak akan sembuh." Pemuda bermata sipit dengan rambut hitam membentuk poni semakin melebarkan cengirannya sarkasnya. "Itu peluru perak. Kalau itu mengenai jantungmu makan kau akan langsung mati."
"Myungsoo-ya, berhenti bermain-main. Cepat tangkap dia dan serahkan ke polisi," seru Sungyu tanpa menurunkan senjatanya, Woohyun masih berada erat di pelukannya.
Pemuda yang dipanggil Myungsoo hanya menoleh sejenak memandang Sungyu, cukup untuk Woohyun dapat melihat jelas sosoknya daripada waktu dia berlari ataupun bertarung seperti sebelumnya. Dia tampan. Sangat tampan. Berdagu lancip dengan mata tajam yang dalam, kedua alisnya tegas dan saat dia membentuk seringaian dengan bibir tipisnya itu, kesan kejam sekaligus tampan langsung dapat menguar kuat melengkapi aura yang dipertegas oleh pedang putih di genggaman tangannya.
"Kakakku baik hati sekali karena hanya menyuruhku menangkapmu dan bukan membunuhmu," desis Myungsoo, jemarinya mengurai ujung pita yang membelit pegangan pedang, yang memiliki serat benang berkilauan di bawah sinar matahari dan menguarkan bau yang sama dengan aroma pedang serta peluru yang tertanam panas di dalam rongga mata si namja vampir. Aroma logam perak. Perlahan vampir muda yang terluka itu bergerak mundur.
Sret! Dalam sepersekian detik kelengahan Myungsoo, lawan di depannya melompat kabur, bergerak cepat menghindari berondongan peluru Sungyu, targetnya adalah Woohyun yang hanya dapat menatap nanar kedatangannya dengan taring lapar dan cakar tajam teracung hendak mengoyak tubuh. Sungyu memutar badan Woohyun, melindunginya dengan dirinya sendiri, dia mendekap erat gadis itu, menutupkan tangan pada telinganya sebelum terdengar kembali suara tembakan yang kali ini dibarengi dengan gesekan tajam ayunan besi mengenai kerasnya tulang dan tanpa ada sebuah teriakan, terdengar suara sesuatu ambruk ke atas tanah.
Woohyun menutup mata rapat-rapat tak ingin membayangkan apa yang sudah terjadi di dekatnya, pegangannya pada pakaian Sungyu semakin kuat seolah dapat merobek baju itu dan perlahan bau amis darah tercium oleh lubang hidungnya. Semakin lama semakin pekat sama seperti ketika Sungyeol menyembelih seekor sapi di belakang hanya karena ingin makan steak, bau darah bekas penjagalannya sangat tajam dan menusuk hingga membuat kepala pening. Kali ini Woohyun kembali merasakannya, perlahan dia merasa pusing, kepalanya semakin berat, dan tiba-tiba semua gelap.
-o-
Woohyun terbangun pada wangi angin yang memainkan poninya. Dia mengerjabkan mata, menolehkan kepala ke samping dan langsung disuguhi pemandangan biru langit berawan putih dari lebar jendela yang daunnya dibuka salah satu. Perlahan gadis itu bangkit duduk, memegang pelipis yang masih sedikit berdenyut, bertahap mengingat alasan kenapa dia jadi terbangun di dalam kamar luas dengan selimut tebal menutupi badannya begini.
Pertama, ini dimana? Woohyun mengedarkan pandangan, tidak mengenali sama sekali ruangan tempat dia berbaring, kamar itu seolah bukan bagian dari rumahnya. Gadis tersebut merenung.
Oh iya, pagi ini Sungyeol mengantarnya untuk bertemu dengan calon suaminya. Dia disambut oleh seorang vampir muda bernama Kim Sungyu. Mereka mengobrol akrab dan menyenangkan. Lalu mendadak muncul vampir tidak dikenal yang menyerangnya. Sungyu melindunginya. Ada orang lain dengan pedang yang muncul. Terus... terus apa yang terjadi? Hal terakhir yang dapat Woohyun ingat hanyalah dia mencium bau darah yang sangat menyengat hingga membuat kepalanya sakit, mungkin karena itulah kemudian dia pingsan.
Klek, suara engsel diputar sontak menolehkan Woohyun pada pintu yang pelan didorong terbuka.
"Oh, sudah bangun?" seseorang muncul, senyuman ramah menggantung di bibirnya, dan Woohyun tidak dapat mengalihkan mata dari parasnya yang... sangat tampan. Namja itu berjalan mendekat, menampakkan tinggi badan yang dilihat Woohyun dari kejauhan bukanlah sekedar fatamorgana, dia merebahkan pinggul di tepi ranjang tempat gadis mungil tersebut masih terduduk diam layaknya boneka.
"Noona baik-baik saja?" tanya Myungsoo tanpa melepaskan senyum simpatik dari wajah cerahnya yang makin nampak putih terkena sinar matahari.
Woohyun mengangguk, masih merasakan lidahnya kelu tanpa sebab. Di sisi lain perlahan dia juga menyadari jika kedua pipinya memanas, terlebih ketika Myungsoo dengan kedua mata tajamnya yang berwarna ruby makin intens menatap ke dalam iris coklatnya.
"Noona sangat cantik," puji Myungsoo mendadak, sukses membuat dua pipi chubby di hadapannya mematang merah marun. "Benar-benar cocok dengan Hyungnim," lanjutnya kemudian.
Eh? Woohyun tertegun.
Hyungnim?
"Ada apa?" tanya Myungsoo menyadari perubahan ekspresi gadis di hadapannya.
"Hyungnim?" desis Woohyun. Namja di depannya memutar mata lalu mengangguk.
"Hyungnim. Kau kemari untuk bertemu dengan Hyung-ku 'kan? Kau Lee Woohyun 'kan? Putri keluarga Lee yang akan menikah dengan Hyung-ku?" tanya Myungsoo bertubi-tubi.
Aku pikir itu kau, jawab Woohyun dalam hati. Apa masih ada orang lain lagi di rumah ini?
"Sungyu Hyung sangat cemas waktu kau pingsan, dia panik seperti orang gila. Sekarang dia sedang ribet membuat sesuatu di dapur entah apa, dia akan segera kemari," ucap Myungsoo santai.
Woohyun tertegun dua kali.
Sungyu... Hyung?
Eh, tunggu. Apa ini maksudnya?
"Kenapa? Kenapa wajah Noona seperti itu?" tanya Myungsoo keheranan melihat gadis yang duduk di tempat tidur kembali nampak seolah baru ditampar bangun dari mimpi.
"Sungyu-ssi..." Woohyun tidak tahu harus mengatakan kebingungan isi kepalanya dengan cara bagaimana. "Dia... anu, bukan kau..."
Myungsoo terdiam sejenak, mencoba mengerti maksud kalimat terbata-bata itu. "Kau pikir aku adalah calon suamimu?" tebaknya.
"Eoh," angguk Woohyun cepat.
"Hahaha!" Myungsoo tergelak, sangat keras, heboh, hingga dia memukul-mukulkan tangan ke kasur. "Aniya, Noona. Bukan aku. Aku bukan orang yang kau maksud," jelasnya di sela-sela tawa.
"Aish, jinjja. Apa Hyung tidak mengatakan dia tunanganmu waktu menjemputmu di gerbang?"
Woohyun menggelengkan kepala polos.
"Ah, dia pasti melakukan itu. Dia sangat gugup bertemu denganmu, dia sangat malu, dia bahkan sempat memaksaku menyapamu lebih dulu tapi aku tidak mau. Aku takut kau mengira akulah calon suamimu dan kau benar-benar berpikir begitu 'kan? Apa yang dikatakan Hyung waktu kalian bertemu?"
"Permisi. Anda pasti yang bernama Lee Woohyun, yang hari ini akan bertemu dengan tuan muda kami."
"Jinjja!?" Myungsoo nampak sangat tidak percaya. "Benarkah dia bilang begitu? Daebak! Aku tidak menyangka rasa gugupnya tidak main-main sampai-sampai dia memperkenalkan diri sebagai orang lain. Hahaha! Hyungnim benar-benar pengecut!" pemuda tersebut gegulingan di kasur.
"Tapi benarkah Sungyu-ssi adalah calon suamiku?" tanya Woohyun mengklarifikasi karena yang dilakukan Myungsoo sedari tadi hanyalah menertawakan Sungyu tanpa sedikit pun memberi informasi.
"Ne, Noona. Dia calon suamimu. Dia pewaris tunggal di keluarga Kim dan setelah pamanku meninggal dia yang memiliki semuanya," jawab Myungsoo. "Ah, aku belum memperkenalkan diri ya? Namaku Kim Myungsoo, aku sepupunya. Aku tinggal dengannya untuk belajar banyak hal tentang pertahanan. Kau mau tahu berapa umurku?" tanya namja itu ceria.
"Berapa?" sahut Woohyun. Sangat menarik mengetahui usia vampir yang seringnya timpang jauh dengan penampilan serta kemudaan pada wajah mereka.
"Tahun ini genap 160," jawab Myungsoo.
"Benarkah?" mata kecil Woohyun membulat, hampir tidak percaya melihat paras muda namja di depannya dan ketampanan yang akan berubah menjadi cute ketika dia sedang senang ternyata punya usia lebih dari seratus tahun.
"Yup, aku kakek-kakek berumur lebih dari seabad," kelakar Myungsoo membuat gadis di depannya tertawa kecil.
"Tertawalah sekarang. Aku jamin 50 tahun lagi Noona akan merasakan apa yang aku rasakan. Ah, menjadi kakek-kakek itu benar-benar..." Myungsoo memijat belakang pinggangnya sambil memasang ekspresi lelah layaknya seorang renta yang sedang encok, kembali membuat Woohyun tergelak.
Klek, bersama kedua orang itu menoleh ketika mendengar suara pintu dibuka.
"Jangan percaya kalau dia berbohong lagi soal identitasnya," bisik Myungsoo pada Woohyun sebelum bangkit dari ranjang dan mengambil jarak, berdiri berlagak tidak pernah terjadi apa-apa di antara dia dan gadis yang hanya mengedipkan mata penuh isyarat padanya.
"Ah, kau sudah bangun?" sapa Sungyu memperlihatkan sosoknya lengkap dengan senyuman yang menenggelamkan kedua mata. Dia berjalan mendekati tempat tidur, meletakkan mangkuk yang dia bawa ke atas nakas. "Kau baik-baik saja? Apa yang kau rasakan? Apakah pusing? Mual?" tanya Sungyu dijawab gelengan oleh Woohyun.
"Hyung, aku keluar dulu," ujar Myungsoo meminta diri mendapat iyaan dari kakaknya. Namja tersebut berjalan keluar kamar lantas menutup pintu.
"Aku minta maaf atas insiden tadi, aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu takut," desis Sungyu, wajahnya redup penuh rasa bersalah. "Tidak biasanya rumah ini dimasuki vampir seperti itu. Keamanan kami sangat ketat, makanya aku langsung mengajakmu masuk begitu sampai di sini. Ini sebuah kelalaian, aku benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa." Woohyun mengulum senyum. "Justru aku yang harus berterima kasih karena kau sudah melindungiku."
"Itu kewajibanku, memastikan kau baik-baik saja selama berada di sini." Sungyu melanjutkan. "Tuan muda kami akan segera datang, jadi tunggulah sebentar lagi."
Hampir Woohyun tertawa, cuma dia berhasil mengatasinya. Kim Sungyu benar-benar pemalu, tidakkah dia tahu jika kebohongannya sudah terungkap?
"Myungsoo bilang padaku—" Woohyun mendesis. "Di rumah ini hanya dia dan kau tuan mudanya."
Sungyu nampak tertegun.
"Dan dia bilang, dia bukan orang yang harus aku temui."
Wajah pucat Sungyu semakin terlihat pucat, ekspresinya antara sedang mengutuk nama Kim Myungsoo di dalam hati ataupun ingin segera menyembunyikan diri di kolong tempat tidur.
"Kenapa kau berbohong kepadaku?" tanya Woohyun.
Sungyu berdehem kecil, mengusapkan telunjuk di bawah hidungnya dan mengalihkan pandangan, perlahan kedua pipinya memerah. "Karena... karena aku dengar kau tidak suka pada vampir," dia menjawab nyaris berbisik.
"Kau selalu diincar dan diserang, membuatmu punya paranoid terhadap vampir. Aku hanya tidak ingin menakutimu..." akhir kalimat Sungyu benar-benar berubah menjadi bisikan.
"Tidak semuanya," timpal Woohyun. "Kakakku seorang vampir dan aku tidak takut padanya. Ayahku juga vampir dan aku malah menghormatinya. Tidak semua vampir membuatku takut."
"Kau menjaga jarak waktu bertemu denganku, jadi aku pikir kau tidak akan menyukaiku," desis Sungyu menyadarkan Woohyun.
"A-ah itu—" si gadis seketika gugup. "Maaf, aku selalu begitu pada orang baru."
Perlahan Sungyu mengulum senyum. "Tidak apa-apa," ujarnya. "Karena kau sudah tahu kebenarannya sekarang, jadi..." dia memberi jeda, menatap mata Woohyun yang juga tanpa sengaja mengunci pusat pupil padanya. Pelan gadis itu merasa kedua pipinya memanas atas tatapan intens Sungyu.
"Apa kau mau mencobanya denganku? Perjodohan itu?" tanya Sungyu.
Ting, wajah Woohyun semakin mematang, perlahan dia menunduk, tidak sanggup memandang pemuda yang masih menatapnya.
"Aku tidak akan memaksamu, kau bebas memilih dengan siapa kau akan menikah. Aku akan mengatakan pada ayahmu kalau memang kau tidak mau," ujar Sungyu bijak.
Hening sesaat, hanya suara angin yang berhembus pelan melewati lebar jendela, menyibak lembut rambut poni kelam di atas kening Woohyun.
"Ne," lirih terdengar suara si gadis.
"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Sungyu tidak mendengar jelas perkataan Woohyun.
Gadis mungil itu mendongak, kedua pipinya sudah memerah hingga ke telinga. "Ne, aku mau mencobanya denganmu."
Sungyu bergeming, tidak mampu berkata-kata, dan samar warna merah cerah juga terlihat di wajahnya. Memangnya vampir bisa merona?
Sungyu menggarukkan jari ke kulit kepalanya yang tidak gatal, dia gugup, bingung. Woohyun apalagi, ingin rasanya dia menyembunyikan diri di bawah selimut saking malunya.
"Kau lapar?" celetuk Sungyu kemudian, mencoba untuk mencairkan suasana canggung yang terjadi. "Aku membuat bubur, aku pikir kau butuh sesuatu yang hangat untuk mengembalikan mood." Dia meraih mangkuk di nakas, membuka tutupnya yang langsung meloloskan uap dari permukaan nasi lembek yang bercampur dengan potongan sayuran serta daging.
"Kau mau minum apa?" Sungyu menyerahkan mangkuk pada Woohyun yang menerimanya dengan senyum terkembang.
"Emm..." sang gadis memutar mata. "Jus jeruk," jawabnya membuat pemuda di depannya ikut mengulum senyum.
"Oke, tunggu sebentar," ujar Sungyu lantas beranjak ke pintu. Tepat ketika dia membuka daun pintu, terdengar suara Myungsoo menggodanya.
"Ciye ciyee ciyeee~" nada namja itu mendayu dengan sangat menyebalkan.
"Diam kau!" umpat Sungyu, meraih leher sepupunya dengan lengan, menguncinya kuat.
"Traktiran, Hyung. Candle light dinner nanti malam denganku," seloroh Myungsoo.
"Mana mau aku cadle light dinner denganmu." Sungyu bersungut-sungut.
"Baiklah, kalau begitu kita minum-minum di warung nanti."
"Yah, kau ini bangsawan atau bukan sih," tegur Sungyu. "Kita cari warung yang ada kerangnya."
"Oke siap!"
Dari dalam kamar, Woohyun hanya tertawa kecil mendengar percakapan tersebut.
"Woohyun-ah, suatu saat kau pasti akan menemukannya. Seseorang yang dapat membuatmu nyaman dan tertawa sekaligus melindungimu tanpa harus membuatmu takut."
Ne, Eomma. Aku sudah menemukannya...
Woohyun menatap langit di luar jendela, merasakan angin yang segar menerpa kulitnya, dan perlahan gadis itu tersenyum.
-END-
Here we go!
Sampe lupa gimana rasanya menamatkan satu cerita krn semua kisah yg ada masih bersambung
Myka syedih :"
Terima kasih buat yg baca, terima kasih buat yg like, terima kasih buat yg follow, terima kasih buat yg review, dan terima kasih juga buat yg cuma jadi hantu
I love youuu :***
Sampai jumpa di story Infinite lainnya~
