She touches and feels through physical contact. He caresses and embraces through imaginary senses. Yet, both tries to explore and learn. To create bond through love and nurture.

.

.

.

RING

Part II

(Ft Kirishima Touka, Uta, Kaneki Ken)

.

.

.

'Kau sibuk malam ini?'

Pesan terkirim. 5.26 p.m.

Ding!

'Tidak. Tapi aku baru bisa kembali ke apartemen sekitar pukul 8. Mau mampir?'

Jemarinya kaku untuk sepersekian detik. Ia masih menatap balik layar ponselnya. Bergeming. Suara klakson menyadarkannya dan ia cepat-cepat angkat kaki untuk menyeberang. Puluhan manusia berbaris rapi tanpa celah, bahu dan bahu bertubrukan satu sama lain, tetapi ia tak peduli. Pikirannya masih melayang-layang entah ke mana.

Ia melangkah tidak tentu sore itu. Menyelesaikan tugas-tugasnya seperti mesin yang tidak membutuhkan waktu rehat. Ia juga mengurangi intensitas bersosialisasi dan memilih mengerjakan kewajiban sebagai mahasiswa tahun terakhir di laboratorium kampus. Menganggap jika manusia saat ini adalah kuman yang harus dihindari. Tetapi, tidak untuk kuman yang baru saja dikiriminya e-mail.

Ia masih mengingat jelas bagaimana Kosaka Yoriko melambaikan tangan ke padanya. Seperti imaji yang dibuat dengan kecepatan lambat dan terus berulang-ulang seperti video rusak. Tak ada suara pun hanya berhiaskan warna hitam putih. Touka tidak berhenti memikirkan hal ini semenjak meninggalkan stasiun kereta yang mengantarkan sahabat satu-satunya itu menuju Hiroshima. Kota yang dahulu pernah hancur oleh bom atom namun berubah indah dalam waktu sangat singkat. Waktu adalah kata yang tepat untuk segalanya, seolah menjadi rasionalisasi terhadap hal yang masih abu-abu. Begitu pula dengan dirinya sekarang.

Suara Yoriko kembali bergema.

"Berilah sesuatu yang bisa dikembalikan namun tak akan lenyap."

Jika ditanya apa jawabnya, Yoriko menganguk manis dan berkata, "hanya waktu yang bisa menjawabnya."

Touka benci hal klise. Puisi, novel romans, drama teater, opera sabun, musik teaterikal—semuanya terlalu bertele-tele.

"Jika tak punya memori indah untuk dikenang, maka buatlah yang baru."

Ia mendesah seperti gadis kehilangan arah di tengah-tengah kebisingan jantung kota Tokyo. Menatap langit seorang diri seolah berharap salah satu bintang di sana akan jatuh dan memberinya ilham atau apapun itu. Ia mendengus dan menyerah. Merapikan mantelnya dan berjalan cepat-cepat sebelum awan justru mencacinya melalui tumpahan hujan.

Ia tak sadar sudah menginjakkan kaki teramat jauh dari destinasi awal dan malah kembali ke tempat di mana mimpi aneh itu datang kepadanya seperti kawan lama. Ia berhenti sesaat, mengernyitkan dahi dan termenung cukup lama. Di antara toko kue dan boneka, kubikel kecil berdinding serba hitam terlihat menarik atensinya seperti lubang cacing di galaksi. Ia dan pintu masuknya hanya berjarak dua meter saja. Dalam semenit, ia tahu-tahu sudah berada tepat di depan dengan tangan menggenggam grendel besi. Ia meneguk ludah, mengambil nafas panjang-panjang dan memberi dorongan ringan.

"Kon-konbanwa. Permisi..."

Perasaan skeptis akibat pesona luar memang saling berhubungan. Namun, gadis berambut hitam sebahu itu membuang cepat-cepat prasangkanya dan justru tak sanggup mengatupkan bibir. Ia hanya terdiam di tempat dan mengedarkan biru obsidiannya ke sekeliling ruangan ia berada sekarang. Dinding-dinding kaca dan lampu kristal mendominasi perabotan yang terbilang bergaya gothic. Tidak terlalu menyeramkan walau kesan garangnya masih nampak. Tak ada satupun yang menyapanya balik kala masuk tapi ia bisa menangkap bayangan seseorang di balik konter yang lebih mirip seperti meja bar. Seorang lelaki berpenampilan serba hitam muncul dari arah bawah meja. Ia tampak sibuk mengelap beberapa gelas kaca. Sedikit terkejut, ia nyaris menggelindingkan gelas di tangannya.

"Oh. Selamat datang. Sebenarnya aku sudah meletakkan label tutup di depan pintu, ada urusan mendadak jadi harus tutup lebih awal, tapi kurasa aku ceroboh karena tidak mengunci pintunya terlebih dahulu."

"O-oh. Ma-maaf. Kalau begitu aku pulang saja. Sumimasen deshita." ujar Touka sembari menurunkan wajahnya seperti sudah mencuripandang pria bertelanjang.

Ia baru saja akan memutar tubuhnya saat suara si pria di balik meja kembali terdengar.

"Kali pertama ke sini? Maksudku, ke sini?"

Touka mengangguk. Pria itu membalas dengan senyum hangat yang jauh dari kesan menyeramkan seperti yang amat sangat tampak dari tubuhnya. Nyaris tak ada seinci kulit yang membungkus tulang dan daging itu tak terpatri oleh jarum tato. Mata Touka hanya menangkap beberapa bentuk yang menurutnya familiar tetapi tidak untuk keseluruhan. Seperti gaya tribal atau sesuatu yang lain. Ia jujur tidak begitu paham dengan seni dan pengetahuannya tentang hal itu tak pernah mengalami perambahan. Padahal Kaneki seringkali membawanya ke museum-museum kontemporer di setiap kencan—yang justru selalu berakhir dengan debat panjang tak berkesudahan. Hanya diam ketika di ranjang saja. Mengingatnya, gadis itu jadi malu sendiri dan mengedip-ngedipkan mata beberapa kali. Pria di depannya lalu menawarinya untuk maju bertanya.

"Ada yang bisa kubantu? Untuk pelanggan yang sangat newbie akan ini, maka akan kuberi pengecualian. Namaku Uta, aku pemilik sekaligus karyawan di toko ini."

Touka bisa melihat dengan lebih jelas. Pria itu memiliki tindik di sudut bibirnya dan akan bersinar tiap kali ia tersenyum. Ada juga di dekat alis dan beberapa di daun kuping. Sebelah rambutnya dicukur seperti gaya half upper cut. Ada tato bergambar matahari di dada kiri dan tulisan berbahasa asing yang tak bisa dibacanya. Keramahan yang terpancar dari wajah pria di depannya itu sedikit mengurangi rasa grogi yang membuat nafasnya ketar-ketir.

"Umm, ini kali pertamaku ke tempat seperti ini, ya. Aku ingin—umm—bertanya-tanya dulu, tidak apakah?"

"Tentu. Kebanyakan yang baru pertama kali datang akan sama sepertimu, nona—"

"Kirishima. Kirishima Touka."

Uta, si pemilik toko, tersenyum memaklumi. "—baik, Kirishima-san. Adalah hal yang bijak untuk berkonsultasi terlebih dahulu dan aku sangat senang bisa membagi waktuku untuk pelanggan semacam itu. Jadi, boleh kuasumsikan jika Kirishima-san ingin dibuatkan tato?"

Touka menaikkan alisnya, lalu menggaruk-garuk belakang kepalanya. Sepertinya ia mulai ketularan penyakit Kaneki Ken. Akibat paparan ekspresi genetik dari spermanya, mungkin. Konyol.

"Umm, aku masih menimbang-nimbang. Tapi..."

Tiba-tiba pandangannya terdistraksi beberapa milisekon. Seperti bar-bar pada umumnya, beberapa ada yang suka menyelipkan foto-foto unik para pelanggan yang menurut sang pemilik sangat berkesan. Semuanya dalam monokromatis polaroid. Indah dan cukup estetik.

Foto-foto itu mungkin adalah contoh hidup tetapi apa yang tersirat dari sana lebih daripada itu.

Tatapan Touka melembut begitu melihat sepasang kekasih yang tersenyum lepas menunjukkan tato bulan dan mentari di punggung tangan mereka. Saling menggenggam erat.

"Couple tattoo?"

"Eh?"

Uta menunjuk selembar foto tepat di belakangnya. "Aku punya beberapa referensi. Tetapi, aku cenderung untuk tidak terikat pada style tertentu. Bagiku, lukisan di tubuh berbeda dengan jenis seni lainnya. Mereka adalah refleksi hidup dari si pemilik. Jika Kirishima-san tidak keberatan, aku ingin mendengar cerita itu. Karena menurutku tiap kisah memiliki keunikannya masing-masing. Bukan begitu?"

Ada senyum layu terlukis di sudut bibir Touka begitu mencerna responsi pria di depannya. Seolah ia bisa memercayai orang asing yang baru ditemuinya ini. Berbicara dari hati ke hati seperti. Sama seperti saat Kosaka Yoriko menawarkan tangan untuk berkenalan.

Ia lalu memulai dengan sebuah nama.

"Ia bernama Kaneki Ken..."

Suara gema pengeras suara berfrekuensi rendah turut mengiringi untaian kisah demi kisah. Ada beberapa yang disembunyikannya untuk menghindari entitas diri yang kacau. Hal yang cukup lumrah sebab tidak semua hal harus diketahui orang lain.

Touka menyelipkan kisah pertemuan awal antara ia dan Kaneki Ken. Tentang malam itu di hari terakhir festival sekolah. Tentang Kosaka Yoriko dan kebimbangan yang menyelimutinya. Tentang kesamaan antara dirinya dan Kaneki Ken. Tentang definisi cinta di mata Kaneki Ken. Tetapi, tidak untuk banyak hal.

Uta menawarkan segelas martini ke arah Touka. Penolakan biasanya terjadi hanya di awal saja dan begitulah yang terjadi. Tepat ketika sosok Kaneki Ken mulai berubah, Touka harus membuang arogansinya dengan alkohol. Ia masih sadar baik tetapi beberapa indranya gampang menyalak jika disenggol. Di gelas ketiga, mereka akhirnya sampai pada epilog. Sang pemilik toko mengangguk-angguk paham dan segera menuliskan sesuatu di buku sketsanya. Ia tidak segera memerlihatkan hasilnya di hadapan gadis itu.

"Kurasa aku harus pulang. Aku berjanji akan ke apartemennya malam ini. Ia mungkin sudah menunggu dengan ekspresi bersungut-sungut karena kelaparan."

"Oh, baiklah. Selamat bersenang-senang, Kirishima-san!" ujar Uta kelewat ramah. Mendengarnya, Touka memerah malu. "Akan kukirim e-mail kepada Kirishima-san begitu sketsaku selesai."

Gadis itu membalas dengan senyum singkat. Berbalik dan menepuk-nepuk mantelnya. Melangkah hanya sampai di penghujung pintu.

"Nee, Uta-san."

"Ya?"

"Boleh aku minta tolong satu hal lagi?"

.

.

.

Hal yang pertama kali dilihatnya begitu membuka pintu adalah sodoran beberapa kantung plastik berisi bahan makanan. Ada warna hijau menyembul dan beberapa potong sayuran mentah. Dari aromanya, keping-keping daging kepiting, udang dan bakso ikan juga ada di dalamnya. Kaneki bisa menebak.

"Sukiyaki? Apa kita sedang merayakan sesuatu?"

"Aku baru saja menerima bonus dari profesor karena sudah membantu penelitiannya. Puas?"

"Woaa, sasuga mahasiswi sains. Tahu begitu mestinya aku mendaftar jurusan eksakta ya." komen Kaneki berbinar-binar. "Hm, bukannya tidak bersyukur tapi ini sedikit berlebihan? Erm maksudku, uangnya lebih baik ditabung, 'kan?"

Gadis di depannya menatap skeptis. Ia memaksa pemuda di depannya untuk mengambil seluruh kantung belanjaan sementara ia sibuk melucuti sepatu, mantel dan syal yang membungkus tubuhnya. "Memangnya salah kalau aku ingin menyenangkan pa—maksudku perutmu dengan makanan enak? Sekali-sekali." Ia ingin bilang pacar awalnya.

Kaneki sedikit terkejut. Tapi ia terkekeh senang. "Doumo arigato."

Tanpa perlawanan, ia menyanggupi dan tetap memerhatikan sampai pintu tertutup sempurna kembali. Sosok yang baru saja menginvasi apartemennya itu melengos mendahului. Kaneki tampak mengekor dari belakang, agak kesullitan mengangkat kantung-kantung plastik di tangannya. Ia sempat bertanya-tanya betapa kuat gadisnya itu. Di masa depan, mungkin ia akan jauh lebih perkasa. Memikirkannya justru membuatnya tak berhenti terkekeh-kekeh. Touka menoleh, memberi tatapan nyinyir.

"Iie Iie Iie." kilah Kaneki. "Nandemonai."

"Kau sudah makan malam?"

Kaneki meletakkan kantung-kantung belanjaan di atas meja makan. Touka menyusuri area apartemen itu lebih dalam menuju wastafel. Menyalakan air dan meneguknya lahap-lahap dalam gelas kaca. Menampung sedikit dalam teko untuk menyeduh kopi hitam. Ia bergerak cepat seolah apartemen itu adalah rumahnya sendiri.

"Aku menunggumu, kau tahu. Untuk menahan lapar, aku cuma ngemil biskuit."

Touka kembali melemparinya tatapan curiga.

"Sigh, aku sudah berhenti merokok sejak setahun lalu, babe."

Babe. Gadis itu ingin muntah saja sekarang. Cara lebih bagus untuk menghilangkan efek mabuk. "Menjijikkan. Siapa yang mengajarimu menggunakan kata itu. Tarik atau kau akan kelaparan sampai besok."

"Hahaha. Gomen, gomen. Hide terus-menerus memanggilku dengan sebutan itu. Sudah berulang kali kusuruh dia berhenti karena kurasa memang tidak pantas teman laki-laki menyapa teman laki-lakinya seperti itu. Tapi ia hanya bercanda, tentu. Tidak bermaksud apa-apa."

"Ya ya, aku tahu. Kau mau kopi?" tawarnya begitu seduhan air panas bertemu dengan bubuk kopi dalam mug. Kaneki mengangguk.

"Trims. Um, ngomong-ngomong, apa Touka-chan memaksaku untuk begadang semalam suntuk?" sahut Kaneki dengan wajah sedikit malu-malu. Empat tahun memang telah berlalu tapi beberapa hal ada yang sulit untuk diubah. Ia pun paham bagaimana gadis di hadapannya itu risih jika dijejali pertanyaan yang blak-blakan. Dengan sedikit tertunduk, ia menerima mug yang mengepulkan asap hangat dari tangan Touka.

Touka memiringkan kepalanya dan mengeluarkan ekspresi datar. Namun, ujung hidungnya yang memerah sudah menjadi jawaban. Entah efek kafein yang mengepul atau hal lain yang berasal dari pembuluh darah mereka.

Ia berbisik rendah saat jarak keduanya hanya berbeda mili inci saja. Saling menatap intens.

Aroma kopi dan nafas keduanya membaur dan berdifusi satu sama lain. Seperti aprodisiak yang tak bisa keduanya hindari. Mengikat dan memagut masing-masing untuk mengecap bibir yang basah. Cukup singkat tapi saliva masing-masing membentuk jaring tipis yang menghubungkan ujung lidah yang tak malu untuk meminta lebih. Mereka takkan buru-buru.

"Mandilah. Aku yang akan masak." ujar Kaneki dengan senyum hangat di wajahnya. Ia meneguk kopinya sambil menepuk-nepuk puncak kepala Touka.

Keduanya berpisah untuk sementara. Touka meneguk kopi dalam mugnya sampai habis sebelum memutuskan untuk berendam dan membersihkan tubuhnya dalam bath tub. Dari arah kamar mandi, ia bisa mendengar bunyi desis panci dan tatakan pisau dapur. Sebagai sosok yang harus melewati setengah masa hidupnya sebagai yatim piatu, memasak hanyalah sebagian kecil dari segelintir aktivitas yang mahir dilakukan keduanya. Touka tak meragukan kemampuan Kaneki soal yang satu itu.

Butir-butir air yang terjatuh dari arah shower sedikit memberi efek lega di tubuh gadis itu. Ia memejamkan mata dan membiarkan hangat yang menetes-netes hingga di ujung kakinya membaur bersama uap. Setelah menggosok kulit yang kusam dengan sabun, ia berpindah menuju ke dalam tub. Menenggelamkan diri hingga buih-buih terbentuk di atas air.

Dalam lamunan panjangnya, Touka memikirkan banyak hal. Waktu berendam adalah momen yang paling disukainya. Selain untuk merileksasikan diri, ia bisa berpura-pura lupa dengan waktu. Masa bodoh, sanggahnya. Kaneki Ken dapat menunggu dengan sabar. Ia selalu tahu itu.

Tetapi, ia segera dibuat ingat dengan pesan terakhir Uta, sang tattoo artist.

"Luka pasca tindikan harus dijaga untuk tetap steril meskipun di kulit yang berpotensi terkena infeksinya minim. Salah satunya, jangan berendam terlalu lama."

"Phuwaaaah!"

Sontak, ia menarik diri dari air. Mengambil nafas dengan rakus. Seperti baru saja dikejar-kejar zombie.

Touka melompat dan buru-buru mengambil handuk untuk mengelap tiap jengkal kulit pucat yang kini telah memerah seperti kepiting rebus akibat berendam. Ia menemukan pantulan gambar wajahnya dari arah cermin dan memutuskan untuk mundur sedikit hingga daerah pubiknya terekspos.

Dua buah bola hitam kecil seperti black pearl berukuran besar dan kecil berjejer ke bawah menutupi wilayah lubang pusarnya. Dielusnya lembut permukaan bola-bola mungil itu. Rasa nyeri sudah hilang seluruhnya. Yang tersisa adalah sesuatu yang bahkan tak bisa didefinisikannya dalam kata-kata. Bagai gejolak elektris bertegangan ratusan volt. Menghantarkan sensasi aneh tapi sedikit sensual hingga ke wilayah selatan tubuhnya.

"Apa yang sudah kau lakukan, Kirishima Touka." desahnya bernada sesal. Ia mungkin bisa meregang nyawa karena malu dan bukan oleh infeksi atau segala macamnya. Benar-benar ironi, lenguhnya.

Masa penyesalan diri segera berakhir saat ketukan pelan dari arah pintu menariknya kembali ke kenyataan. Ia menoleh dan membalas setengah berteriak : aku baik-baik saja! Setelah yakin tubuhnya benar-benar lembab, ia menarik salah satu kaus oblong entah milik siapa—tentu saja milik Kaneki—dan mengenakannya cepat-cepat. Ia juga tak segan mengenakan celana boxer Kaneki juga daripada harus kedinginan karena hanya tertutup panties saja. Meski toh nanti semuanya juga dilucuti lagi. Mungkin.

Begitu keluar, ia sudah mendapati ekspresi masam bercampur khawatir di wajah Kaneki. Gadis itu melengos pergi seolah tidak terjadi apa-apa.

"Aku sudah lapar. Boleh kita makan sekarang?"

"Kupikir Touka-chan ketiduran lagi saat berendam." kilah Kaneki menambah-nambahi. Touka merengut, merasa tidak mengingat apapun soal ketiduran saat berendam. "Well, mana bisa ingat kalau saat itu Touka-chan sudah terlelap dengan pulasnya. Jika aku tidak memindahkan tubuh lunglai Touka-chan saat itu, mungkin bisa-bisa Touka-chan mati lemas karena mengirup karbondioksida. Membayangkannya saja sudah ngeri."

Touka memutar bola matanya. Ia melipat kakinya dan duduk bersila di bawah kotatsu. Beberapa lembar kertas dan laptop yang masih menyala terlihat di samping meja. Kaneki merapikan sisa pekerjaannya dan menyalakan kompor kecil untuk merebus sayuran sukiyaki. Mangkuk melamin merah diletakkan tepat di hadapan masing-masing.

Keduanya berbisik selamat makan dan mencicipi hasil karya masing-masing dalam diam. Tidak berbicara sepatah kata pun hingga cacing-cacing di dalam perut mereka telah diam karena kekenyangan. Kaneki kembali mengubur diri dalam lembar-lembar perkamen tugasnya. Tepat di seberangnya, Touka memain-mainkan ujung sendok di bibirnya dengan muka malas.

"Kapan bukumu selesai?"

Oh, selain berendam, momen lain yang paling disukai gadis itu adalah memandangi wajah Kaneki Ken yang terbingkai kacamata dari jarak dekat. Surai putih peraknya semakin bercahaya akibat lampu di atas kepala mereka. Menambah efek dramatis dan melankolis. Pemuda itu menjawab tanpa menatap balik. "Aku sedang merampungkan bagian terakhir. Editorku sudah memberi lampu hijau. Sebelum wisuda, aku yakin bisa mengeluarkan edisi pertama."

"Hoo. Hm, aku belum pernah bertanya serius soal ini tapi aku mau tahu bukumu itu fiksi, 'kan?" Kaneki mengangguk. Touka melanjutkan. "Isinya tentang apa?"

Seolah ada lalat yang terjatuh dari atas langit atau bunyi kaokan gagak lewat mengisi kevakuman aneh itu. Kaneki merasa usahanya selama tiga tahun belakangan tidak berarti sama sekali. Kekasihnya sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya.

"Sekalipun kuceritakan dari awal, kurasa Touka-chan tidak akan tertarik dan malah terbengong-bengong sendiri. Lebih buruk, tertidur dengan liur membasahi kertas naskah yang sudah susah payah kukerjakan." ucap Kaneki setengah sarkas. Gadis di depannya memanyunkan bibirnya. "Well, genreku adalah fiksi sains berbalut horor. Hanya itu yang bisa kuberitahu ke Touka-chan."

"Itu tidak menjelaskan apapun." komennya bernada bosan sembari menahan kepala dengan satu lengan. Kaneki hanya terkekeh. "Kurasa memang percakapan apapun yang terkait major interest kita ujung-ujungnya berakhir dengan perdebatan panjang. Tapi, asal kau tahu saja, orang pertama yang akan membeli bukumu adalah aku. Dan, ngomong-ngomong, aku harus ke Hiroshima akhir pekan ini."

Kaneki berhenti mengetik. Menaikkan sedikit dagunya untuk menatap Touka lekat-lekat. Gadis itu memandangi balik. "Yoriko memaksaku. Ia bahkan membelikan tiket Shinkansen untukku—demi Tuhan. Punya daya apa aku untuk menolak?"

Senyum teduh di bibir Kaneki mewakili kata-kata yang tersimpan dalam benaknya.

"Kita selalu punya waktu untuk berdua tetapi tidak untuk Yoriko-san. Pergilah. Dia sahabat terbaik Touka-chan, bukan?"

"Tanpa meminta izin darimu juga aku berhak ke manapun yang aku mau."

"Hahaha. Betul juga sih. Tapi kalau mendengar dari kata-kata Touka-chan tadi, seolah Touka-chan ingin memainkan peran sebagai seorang istri yang baik. Meminta izin dan sebagainya."

Kaneki tertawa geli tetapi Touka menanggapi pernyataan pemuda itu terlalu jauh. Ada beban tak kasat mata yang ditahan oleh bahu gadis itu tiba-tiba. Ia menunduk. "Nee, Kaneki. Sebenarnya kita ini apa?"

"Hm? Apakah ini pertanyaan teoritikal atau semi teoritikal atau—"

Touka memotong gusar. "Apakah kita benar-benar sepasang kekasih?"

Pemuda di seberangnya tidak segera menjawab. Ia menghela nafas pendek, menutup layar laptopnya dan melepas bingkai kacamatanya. Memasang senyum sama yang hanya ditunjukkannya di saat-saat tertentu saja. Sedikit sedih namun ingin menguatkan. Ekspresi sendu seorang Kaneki Ken yang terlalu banyak menyembunyikan kedukaan. Touka bergeming memeluk diri.

"Bukankah sudah sangat terlambat untuk menanyakan hal itu, hm? Bagiku lebih daripada sekadar entitas yang bernama dan harus dilabeli." jawabnya tanpa ragu. "Bagaimana dengan Touka-chan sendiri? Apa semua yang telah terjadi di antara Touka-chan dan aku hanyalah memento yang lewat begitu saja? Tak berarti sama sekali? Sekadar tubuh dengan tubuh?"

"Perlu kuakui sebagian memang hanyalah sebatas itu. Pada awalnya. Kau tidak bisa mengingkarinya, Kaneki." Kaneki mengangguk tanda setuju. "Tetapi, aku sudah muak dan lelah. Bahkan, aku sudah tidak merasakan apa-apa saat kita bercumbu. Aku merasa sangat aneh. Ada yang salah dengan tubuhku, aku tahu itu. Yoriko menyarankan agar kau dan aku memulainya lagi dari awal. Lalu, pertanyaannya datang kemudian. Awal yang mana? Sejak kapan kita punya awal?"

"Haruskah kita berpura-pura saling tidak mengenal lagi seperti dulu lalu kembali tersadar dan akhirnya yakin untuk menjalaninya tanpa perlu memberi nama apa atas relasi ini? Itu begitu kekanakan dan sangat tidak bertanggung jawab. Malam itu kau berkata bahwa kita berhak memutuskan akan berbuat apa dan ingin melakukan apa. Kau berkata kita memiliki kesamaan. Ya. Kita tahu perihnya hidup tanpa orangtua atau siapapun yang memedulikan apakah hari esok kita masih bisa bertahan. Dan itu cukup sebagai bukti untuk apapun yang terjadi kemudian, kita tak boleh menyesal."

Vibra suara Touka bergetar pelan. Ia mendapat distraksi oleh perasaannya sendiri. Kelopak matanya sudah semakin berat. Seakan beban tak kasat mata itu berpindah ke sana.

Kaneki menyimak tanpa menyela.

"Aku tidak paham apa itu cinta. Kenapa ia datang dan pergi tanpa berkata apa-apa. Aku pun tidak tahu bagaimana aku menggambarkan rasa suka itu. Yang kutahu hanyalah rasa posesif dan imbisil karena takut kehilangan. Aku ingin mengikatmu tapi aku tahu itu adalah sikap paling arogan. Ayahku pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata padaku dan juga Ayato. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Padaku atau padamu. Aku benar-benar egois, 'kan?"

Tanpa diminta, ego yang terlepas bebas dari penjaranya menguar dalam butir-butir airmata. Beberapa menit yang lalu mereka masih baik-baik saja, membicarakan hal tak penting, dan sekarang tidak tahu harus bersikap apa. Touka menahan diri untuk tidak terlarut dalam dukanya, menutup wajahnya dan berpura-pura kuat. Kaneki menghela nafas ringan, menggeser posisi duduknya hingga hanya berjarak beberapa senti dari gadis itu. Di antara isaknya, Kaneki berusaha menginvasi ruang bungkam Touka. Menarik tanpa paksaan dua lengan kurus itu. Menggenggam dan meletakkannya di atas pangkuannya. Touka tak memberi perlawanan, ia menyerah dan membiarkan bagian dari dirinya yang sangat rapuh terekspos di hadapan Kaneki.

Kaneki melembutkan tatapannya. Touka tak berani memandangi balik sepasang obsidian itu.

"Tak ada yang salah dengan memiliki rasa posesif akan sesuatu. Tidakkah Touka-chan tahu bahwa sejak di hari pertama kita memutuskan untuk melepaskan batasan yang kadang masih dianggap tabu itu, di saat itulah aku memutuskan untuk melakukan penyerahan diri total pada Touka-chan. Aku paham kita sama-sama asing dengan cinta. Pengalaman kita terhadap hal yang selalu dielu-elukan manusia ini sangatlah minim. Tapi, bukankah saat kita benar-benar saling percaya satu sama lain maka cinta itu akan tumbuh perlahan-lahan? Aku mempercayai Touka-chan sebagaimana Touka-chan ingin mempercayaiku. Maaf jika beberapa bulan terakhir ini aku jarang memerhatikan Touka-chan dan aku sadar akan hal itu. Lalu, mengenai sudah lagi tak merasakan apa-apa... mungkin disebabkan karena style kita begitu-begitu saja dari dulu? Err maksudku... aku juga tidak berpengalaman banyak soal ini, eh maksudku... ya begitu."

Touka memicingkan matanya, sedikit mengangkat dagu. "Style yang... begitu-begitu saja?"

"Y-yah, common sex, istilahnya mungkin? Ta-tapi, bukan itu yang utama. Kupikir itu adalah hal yang normal dalam suatu hubungan. Saran Yoriko-san kurasa ada benarnya. Memulai dari awal. Hm..."

Gadis itu memajukan tubuhnya. Mendekat dan menutup gap ruang di antara keduanya. Tak ada lagi batasan privasi di sini. Cela miliknya terlihat sepersekian detik kemudian. Total surrender, begitu Kaneki bersikap sejak malam festival itu. Jauh di lubuk hatinya, Kaneki Ken tetaplah manusia meski ia ditakdirkan dengan testoteron dan maskulinitas. Tidak benar-benar ekspresif dalam segalanya. Touka mendesah ironis lalu mengistirahatkan beban di kepalanya di atas pundak pemuda itu.

Tepukan dan usapan lembut dirasakan kulit punggungnya.

"Touka-chan tak pakai bra?"

Jiiit!

Malu, sulung dari dua bersaudara itu justru semakin intens menyembunyikan wajahnya di leher Kaneki. Rasa hangat perlahan-lahan menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Sensasi yang tak bisa dibandingkan dengan berendam semalaman di onsen.

"Ah, seseorang pernah bilang padaku—"

Jemari-jemari yang dingin namun mampu menghantarkan ratusan ribu voltase elektrik berjalan-jalan di sepanjang tulang belakang yang menonjol. Kulit-kulit di sana menerima impuls sensual itu dan meneruskannya hingga ke batang otak. Touka menjerit dalam nafas yang tertahan. Uap hangat di setiap hembusan karbondioksida dari paru-parunya semakin menambah-nambahi ketegangan seksual di antara keduanya.

"—titik kelemahan manusia sangatlah banyak. Kalau Touka-chan, aku sudah hapal semua. Tetapi, aku sadar kurang memerhatikan yang satu ini. Tulang vertebra."

"Ugh!" lenguh Touka. Pinggulnya terangkat oleh perintah otomatis dari jaras refleks motoriknya. Kaneki merasakan sempit di dadanya. Bukan euforia atau apa tapi benar-benar sempit oleh daging yang menonjol milik gadis itu. Ia jadi semakin tertarik oleh aksi-reaksi itu.

"Aku tidak tahu kalau Touka-chan bisa seimut itu."

Sontak, Touka menjewer kuping Kaneki. Membalas walau tak setimpal. "Berhenti mengoceh dengan kata i—ah!"

Tubuh itu terjatuh, tepatnya dijatuhkan di atas tatami. Saling bertatap-tatapan tanpa berkedip. Kaneki menginspeksi tiap kerutan dan pori-pori yang nampak dari cahaya di atas mereka. Hanya ada hati yang saling berbicara.

"Jangan tahan. Jika Touka-chan menahannya, rasa frustasi itu akan kembali dan menghantui Touka-chan. Jujur dan katakan apa yang Touka-chan inginkan. Empat tahun aku mengamati dan aku selalu diam karena aku tahu Touka-chan tak ingin terlihat lemah bahkan saat kita melakukan hal-hal senonoh semacam ini. Sakit, bukan? Aku sangat paham itu tapi lagi—aku tetap diam. Aku memang brengsek tapi kali ini aku ingin berhenti diam. Aku ingin Touka-chan lebih terbuka padaku. Lepaskan, lepaskan. Maka, tak ada yang perlu lagi dikhawatirkan."

Awalnya hanya berupa bulir-bulir air mata yang terjatuh tanpa diminta kemudian menjadi isak panjang tak berkesudahan.

Di antara kekacauan dalam tangisnya, ia berujar. Kaneki tak benar-benar bisa menangkapnya tapi kurang lebih ia tahu.

"Aku tidak mau kehilangan lagi. Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Kumohon. Kumohon..."

Mereka hanya saling merengkuh satu sama lain. Berada dalam pelukan masing-masing. Membiarkan malam yang panjang menyelimuti tubuh-tubuh itu. Ketika fajar menyingsing, Touka terbangun saat mencium aroma madu dan waffle. Kaki-kakinya yang masih lemah berusaha merangkak dan berdiri. Keluar dari buntalan selimut futon. Membiarkan indera penciumannya yang menuntun.

Ada rasa rindu yang sangat aneh membuncah dalam hatinya. Seperti ketika ia membuka pintu dan mengucap aku pulang dan seseorang membalas selamat datang. Warna putih salju menyembul di balik meja dapur. Ia menoleh dan tersenyum hangat. Aroma kopi hangat turut menambah perasaan familiar itu. Ia berlari dan memeluk sosok itu. Berbisik.

"Suki*."

.

.

.

To be Continued


Catatan Sedih Author:

Off the record, I must insist to cut it into half and put the ena-ena scene into the next chapter. The last will be probably the third one. If it can answer the anonymous' review out there.

*It implies the feeling of love.

Thanks for visiting and reading.