ANUGERAH BIDADARI

Author : Shin Sung Rin

Main Cast : Lee Sungmin (Yeoja) & Cho Kyuhyun

Support Cast : Lee Donghae (Namja) And Other Cast

Genre : Romance, Genderswitch

Rating : General

Warning : Ini adalah ff pertama author. Dan ff ini hasil remake dari novel dengan judul yang sama.

Happy reading

Warning! Banyak typo, maklum author baru ^_^

Author Comeback ^_^

CHAPTER 2

Sungmin terbangun oleh rasa sakit di perutnya. Samar-samar ia ingat seorang pria bertubuh kekar memeluknya. Pria itu pula yang menawannya dan meninjunya.

Kemarahannya bangkit lagi ketika teringat kekasaran dan kekejaman pria yang bernama Kyuhyun itu.

Sekarang tidak hanya perutnya yang sakit. Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit.

Dalam kegelapan yang pekat ini, Sungmin sulit mengenali posisinya. Tetapi, Sungmin dapat merasakan dinding dan lantai batu yang menjadi sandaran tubuhnya.

Sungmin merasakan perih di pergelangan tangan dan kakinya. Tanpa perlu melihatnya, Sungmin yakin ia diikat kuat-kuat.

Sungmin tersenyum sinis. "Rupanya ia takut aku kabur," katanya pada dirinya sendiri dengan penuh kepuasan.

Dengan tangan dan kaki terikat kuat-kuat, Sungmin mencoba duduk. Walau tangannya terasa perih setiap ia menggerakkannya, Sungmin tak mau menyerah.

Setelah berhasil mendudukkan dirinya, Sungmin menempelkan telinga di dinding dan mencoba mengenali suasana di luar.

Sungmin jengkel. Ia sama sekali tidak dapat mendengar apa-apa. Rupanya dinding batu itu sangat tebal.

Sungmin menarik kedua kakinya merapat ke badannya dan mendesah panjang.

Entah mengapa ia mau melakukan semua ini. Sekarang ia sendiri yang merasakan akibatnya. Walaupun ini untuk menyelamatkan orang lain, ia takkan mendapat hadiah atas pengorbanannya ini.

Pintu tiba-tiba terbuka lebar.

Sungmin silau melihat cahaya obor di pintu itu. Samar-samar ia melihat seorang pria berdiri di ambang pintu.

"Engkau sudah sadar rupanya," pria itu mendekatinya, "Baguslah kalau begitu. Sekarang ikut aku, Pangeran ingin berbicara denganmu."

Sungmin menepis dengan kasar tangan pria itu. "Katakan padanya aku tidak sudi menemuinya."

"Engkau memang sekasar yang mereka katakan," gerutu pria itu, "Aku ingin tahu bagaimana engkau menghadapi kemarahanku."

"Silakan," kata Sungmin sinis, "Aku juga ingin tahu pria selemah engkau bisa marah seperti apa."

Hinaan Sungmin tepat mengenai sasaran. Pria itu naik pitam dan berkata lantang, "Aku ingin tahu apakah engkau masih keras kepala kalau aku tidak memberimu makan malam."

"Silakan," balas Altamyra dengan senyum manis, "Seminggu tidak makan pun tidak masalah bagiku. Sebaliknya, aku semakin senang karena ajal makin cepat mendatangiku. Itu artinya aku tidak perlu berlama-lama berada di dekat orang-orang pengecut seperti kalian."

Sungmin mendengar geraman pria itu sebelum ia membanting pintu keras-keras.

Gadis itu tersenyum puas akan hasil tindakannya. Di saat ia marah seperti ini, tidak ada lagi yang dapat membuatnya gentar. Pria itu salah kalau menduga ia akan memohon-mohon bila tidak diberi makan. Mereka semua salah kalau menduga ia akan menderita karena lapar.

Ia bukan orang kaya yang selalu makan kenyang tiga kali sehari. Setiap hari dalam kehidupannya, ia tidak pernah makan kenyang. Bahkan, tidak jarang ia tidak makan selama berhari-hari. Makanan termurah pun bagi keluarganya adalah sangat mahal. Untuk dapat memperoleh semangkuk makanan, mereka harus berusaha mati-matian. Bahkan, sering mereka terpaksa meminjam uang pada tetangga.

Mereka salah kalau mengira ia tidak tahan dengan siksaan seperti ini. Baginya siksaan seperti ini tidak ada sepersepuluh penderitaan yang telah dialaminya.

Kehidupannya jauh lebih menderita daripada duduk terikat seperti ini. Satu hari baginya bisa terasa seperti satu musim kemarau panjang.

Walau ia tidak bebas setidaknya ia tidak perlu mengkhawatirkan atap rumah yang seperti akan terbang bila tertiup angin, dinding kayu yang siap roboh sewaktu-waktu, ataupun atap rumah yang selalu bocor dalam hujan deras.

Keadaan Sungmin saat ini jauh lebih baik daripada dulu. Dulu ia tidak punya bantal yang empuk untuk tidur mau pun kasur yang nyaman. Kini pun ia tidak punya tetapi baju tebalnya masih dapat digunakannya sebagai alas tidur sekaligus bantal.

Duduk di atas lantai batu dengan gaun tebal ini, Altamyra merasa seperti duduk di kursi yang agak empuk.

Sungmin menutup matanya dan tersenyum puas. Ia ingin tahu sampai sejauh mana mereka menelantarkannya.

Mereka tahu perannya sangat penting untuk menekan kekuasaan Raja Kangin yang kejam. Tetapi mereka tidak tahu ia bukan sang putri bangsawan yang mereka incar itu. Ia hanya berperan sebagai dia.

Saat ini sang putri sedang bersenang-senang di pelukan keluarganya. Putri yang dikabarkan menjadi pengganti Raja Kangin itu sangat penting bagi para pemberontak ini untuk menekan Raja Kangin, tirani yang kejam.

Selama mereka tidak tahu siapa dia, mereka pasti tidak berani menelantarkannya. Mereka pasti tahu menelantarkannya sama saja dengan menggagalkan rencana mereka yang bagus.

Sungmin benar-benar puas menyadari semua kunci penting dalam rencana mereka ada padanya. Ia puas dapat dengan leluasa menumpahkan semua kemurkaannya atas kekejian mereka yang telah membunuh pengawal-pengawalnya.

Mereka boleh saja membenci Raja Kangin, tetapi mereka tidak berhak membunuh bawahan Raja Kangin. Para prajurit itu belum tentu menyanjung Raja sepenuhnya. Kalau bukan demi nyawa dan keluarga, mereka pasti telah melawan Raja.

Raja Kangin memang kejam tetapi belum tentu bawahannya juga kejam. Mereka bertindak menurut perintah Raja yang jauh lebih kejam dari serigala itu. Raja yang tega membunuh putra kandungnya sendiri.

Sungmin tidak dapat memaafkan Kyuhyun dan teman-temannya yang ternyata sama kejamnya dengan Raja Kangin.

Kemarahannya akan mempersulit mereka mencapai tujuannya. Sungmin tidak akan membuat segalanya menjadi mudah bagi mereka. Tidak peduli apa pun ancaman mereka.

Suara ramai di luar membangunkan Sungmin dari tidurnya.

Udara pagi yang sejuk membuat Sungmin merasa lebih segar. Tetapi udara dingin itu tidak dapat menyurutkan api kemarahan di dada Sungmin.

Cahaya matahari pagi menerobos jendela kecil menembus kegelapan ruang kecil yang lembab itu. Dengan susah payah, Sungmin berusaha berdiri dan mengintip suasana di luar melalui jendela kecil yang hanya cukup bagi sepasang mata untuk mengintip ke luar itu.

Sungmin tersenyum sinis melihat terali jendela yang rapat dan kokoh itu. "Mereka benar-benar khawatir aku kabur," katanya sinis.

Pemandangan di luar yang dilihatnya berbeda dengan bayangannya. Orang-orang tua muda, laki-laki wanita berlalu lalang di luar.

Yang wanita sibuk membuat sarapan dengan tungku api unggun. Sementara itu para pria menyerahkan hewan-hewan hasil buruan mereka untuk dimasak. Anak-anak berlari-lari dengan senang.

Tenda-tenda tempat mereka tidur tampak rapuh. Peralatan masak mereka yang sederhana menunjukkan sulitnya hidup mereka. Baju mereka kusam, compang-camping bahkan kekecilan. Semua itu menampakkan kemiskinan mereka.

Sungmin mendesah panjang.

"Kau puas melihat mereka?"

Sungmin memalingkan kepala mendengar kata-kata sinis itu tetapi ia segera membuang pandangannya ketika mengetahui Kyuhyun yang mengajaknya bicara. Daripada berbicara dengannya, Sungmin lebih senang mengawasi kehidupan mereka yang jauh lebih menderita dari dirinya sendiri.

"Engkau memang keras kepala. Tidak salah kalau Changmin tidak memberimu makan malam," kata Kyuhyun sinis, "Aku ingin tahu sekeras apa kepalamu."

Sungmin tidak takut menghadapi ancaman itu. Ia menghadap Kyuhyun dan tersenyum manis.

"Baik," geram Kyuhyun, "Kita lihat seberapa keras dirimu."

Sungmin tidak dapat menahan tawanya mendengar ancaman itu. Baginya yang saat ini sedang murka, ancaman itu hanya angin sepoi-sepoi yang meniup wajahnya.

Ia yakin mereka juga tidak akan menelantarkannya. Mereka cukup pintar untuk mengetahui pentingnya dirinya dalam rencana mereka. Ia adalah pion penting untuk men-skak mat Raja Kangin. Sayangnya, mereka tidak cukup pintar untuk menyadari mereka telah tertipu.

Kyuhyun menutup pintu dengan keras dan membuat Sungmin semakin senang.

Sungmin puas bisa membuat Kyuhyun marah besar. Ia puas dapat membalaskan dendamnya.

Samar-samar Sungmin mendengar suara ribut di luar. Ia tahu orang-orang itu mengira ada yang tidak beres dengan dirinya tetapi ia tidak peduli.

Walau ia terikat, bukan berarti ia tidak bebas untuk mengatakan apa yang ada di hatinya.

Ia dibesarkan sebagai burung yang bebas terbang ke mana saja. Ia ditempa dalam suasana yang serba sulit. Ia dibentuk menjadi gadis kuat yang tak kenal takut.

Tidak seorang pun yang dapat mengikatnya termasuk tali kasar yang terbuat dari sabut kelapa ini. Simpul ikatan di kaki maupun tangannya sangat erat dan terlihat sukar dibuka. Tetapi, Sungmin tidak mau putus asa sebelum mencoba.

Dengan gerak tangannya yang terbatas, Sungmin berusaha melepaskan ikatan kakinya yang menyiksa kulit kakinya. Tangannya terasa perih tiap kali ia menggerakkannya tetapi Sungmin tidak mau berhenti berusaha.

Pekerjaan yang mula-mula terasa membosankan lama kelamaan mejadi kesibukan yang menyenangkan Sungmin. Ia merasa seperti bermain dengan teka-teki yang rumit.

Kekasaran mereka padanya membuat Sungmin semakin ingin mempersulit mereka.

Sungmin merasa kepanasan. Ia menyeka keringat di dahinya. Saat itulah jeritan kecil terlontar dari mulutnya.

Sungmin terpana melihat darah di tangannya. Usahanya untuk membuka ikatan kakinya ternyata membuat pergelangan tangannya terluka oleh tali kasar itu.

Dipandanginya darah yang masih mengalir itu. Dalam hati ia berkata, "Mereka terlalu khawatir hingga bertindak sekejam ini."

Saat ini yang bisa dilakukannya adalah menanti matahari yang menyinari ruangan itu mengeringkan darahnya.

Sungmin bersandar di dinding sambil mengawasi darahnya yang perlahan-lahan mengering dan meninggalkan noda di gaun sutranya.

Noda darah kering di kain sutra sangat sulit dihilangkan. Mereka pasti marah karenanya. Gaun yang indah ini telah ternoda oleh darahnya.

Sungmin mengejek dirinya sendiri yang mau melakukan semua ini. Pengorbanannya yang besar ini tidak akan mendapat hadiah apa-apa tetapi ia mau dan telah melakukannya.

Dalam keheningan itu, Sungmin menyadari keadaan di luar lebih sepi dari tadi. Ia mengintip keluar.

Matahari telah tinggi. Api-api unggun telah dimatikan. Para wanita duduk bergerombol sambil mengerjakan sesuatu. Anak-anak bermain tiada henti. Tetapi, para pria tidak nampak seorang pun. Ia bertanya-tanya ke mana mereka pergi.

"Inikah wanita yang berani menghina Kyuhyun?"

Sungmin membalikkan badan.

Seorang wanita cantik melotot pada Sungmin dengan penuh keangkuhan. Mata coklat kelamnya menyiratkan rasa jijiknya. Wanita itu tampak sangat cantik dengan rambut pirang tuanya yang nyaris coklat.

"Engkau beruntung Kyuhyun tidak membunuhmu."

"Sebaliknya," kata Sungmin tenang, "Aku merasa lebih beruntung mati daripada harus bertemu pria sepengecut dia."

"Kau!" geram wanita itu, "Baik, aku akan menuruti permintaanmu." Kemudian pada wanita di belakangnya ia berkata, "Bawa kembali makanannya!"

"Tapi, Seohyun, kita diperintahkan…"

"Untuk apa kita khawatir," potong wanita itu tajam, "Para pria saat ini sedang berburu. Mereka akan kembali besok bahkan mungkin lusa."

"Kita…"

Lagi-lagi wanita itu berkata tajam, "Aku bilang tidak! Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya mati karena kelaparan itu."

Sungmin tertawa geli. Tawanya memenuhi ruang kecil itu dan membuat wanita yang dipanggil Seohyun itu melotot sedangkan wanita satunya terheran-heran.

"Engkau akan melihat dampaknya," kata Sungmin lembut. "Pasti!"

Seohyun melotot lalu pergi meninggalkan Sungmin.

Sinar menyilaukan yang tiba-tiba memasuki ruangan itu membuat Sungmin terjaga.

"Dasar putri bangsawan!" kata pria itu, "Kerjanya hanya tidur saja!"

Sungmin tidak menghiraukannya.

Hari ini adalah hari ketiga ia disekap dalam ruangan lembab ini dan artinya sudah dua hari ia tidak makan dan harus menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.

Melihat pria itu, Altamyra dapat menduga ia dan kaum pria lainnya baru tiba dari perburuan. Pria itu masih menyandang kapak berburunya. Wajahnya tampak kotor dan lelah.

Pria itu mendekati Altamyra. "Pangeran ingin bertemu denganmu."

Saat ini Sungmin mungkin saja kehabisan tenaga. Seluruh tenaganya digunakannya untuk menahan lapar dan sakit. Tetapi, kemarahannya belum surut. Kemarahan itulah yang membuatnya mampu menempis tangan pria itu kuat-kuat.

"Aku tidak sudi!" kata Sungmin tajam.

"Jangan memaksaku bertindak kasar padamu, Nona."

Sungmin menatap tajam pria itu sebagai balasan atas ancamannya.

Pria itu geram dibuatnya.

"Minggir!" perintah seseorang, "Biar kutangani sendiri dia."

Pria itu menepi. "Tidak perlu, Pangeran, saya dapat mengatasinya."

Sungmin melotot mendengar pria itu memanggil Pangeran pada Kyuhyun. Dan, ia tertawa geli. Pria itu heran tetapi Kyuhyun tidak.

"Sudah kuduga untuk mengatasinya, aku harus turun tangan sendiri," kata Kyuhyun, "Tinggalkan kami berdua."

"Baik, Pangeran."

Sepeninggal pria itu, Kyuhyun berkata, "Sudah cukup hinaanmu itu?"

Sungmin membuang muka.

"Aku ingin berbicara denganmu."

Sungmin tidak bergeming sedikitpun.

"Sebaiknya engkau menurutiku, engkau sudah merasakan bagaimana akibatnya."

Sayangnya, Sungmin adalah gadis yang tak kenal takut.

Kyuhyun mendekati Altamyra. Ia memalingkan wajah gadis itu menghadapnya, tapi Sungmin menepisnya kuat-kuat.

"Engkau memang setan cilik," geram Kyuhyun. Lalu Erland mengangkat Sungmin.

"Turunkan aku!" protes Sungmin, "Turunkan! Aku tidak sudi kau sentuh!"

Kyuhyun tidak mempedulikan teriakan Altamyra. Ia terus membawa Altamyra ke ruangan pribadinya di lantai dua.

"Turunkan aku!" seru Sungmin tanpa henti. Tangannya yang terikat erat terus memukul dada Kyuhyun dan membuat darah segar kembali mengalir. Tetapi, Sungmin tidak peduli lagi. Ia hanya ingin Kyuhyun menurunkannya.

Akhirnya Kyuhyun menurunkan Sungmin. Ia mendudukkan Sungmin di tepi pembaringan.

"Sekarang kita sudah jauh dari orang-orang. Di sini tidak akan ada yang mendengar kita, engkau dapat mengatakan apa yang membuatmu terus membangkang dan tidak mau bekerja sama."

Sungmin tidak mau berbicara apa pun. Ia membuang muka.

"Kau tahu aku ingin berbicara denganmu."

"Dan aku tidak sudi," akhirnya Sungmin menyahut.

"Engkau harus," kata Kyuhyun berbahaya, "Aku akan membuatmu mau bekerja sama denganku."

"Aku tidak sudi bekerja sama dengan pengecut sepertimu!" seru Sungmin, "Daripada berbicara denganmu, lebih baik engkau tidak memberiku makan sama sekali! Dua hari lagi tidak makan, tidak masalah bagiku. Sebaliknya, aku senang. Aku lebih cepat mati."

Kyuhyun tiba-tiba mencengkeram kedua lengan Sungmin.

Sungmin mendorong tubuh Kyuhyun kuat-kuat. "Daripada berbicara denganmu, lebih baik aku mati!"

Mata Kyuhyun menangkap noda darah di tangan Sungmin. Ia menangkap tangan gadis itu dan terkejut melihat darah segar di pergelangannya.

"Terkejut?" ejek Sungmin, "Mengapa terkejut melihat hasil kekasaranmu?"

Kyuhyun diam saja. Ia mengeluarkan pisau kecil dari sakunya dan memotong simpul ikatan tangan Sungmin. Sorot matanya terlihat penuh penyesalan melihat tangan Sungmin yang terluka.

"Puas?"

"Kalau ini dapat membuatmu jera, aku puas," jawab Kyuhyun, "Tapi kau, setan cilik, engkau tidak jera, bukan?"

Sungmin menjawabnya dengan seringaian.

"Tunggu di sini," kata Kyuhyun, "Kuperingatkan engkau untuk tidak kabur."

Sungmin tersenyum sinis ketika Kyuhyun meninggalkan kamar.

Bisa dipastikan pria itu sama sekali tidak tahu Seohyun telah melanggar perintahya. Ia tampak terkejut ketika ia mengatakan dua hari lagi tidak diberi makan, ia tidak apa-apa.

Sungmin melihat jendela terbuka lebar dan di bawah sana yang tampak hanya beberapa anak kecil. Ia yakin mereka tidak akan tahu kalau saat ini ia kabur, tetapi ia tidak mau melakukannya. Pembalasan amarahnya belum selesai.

Tak lama kemudian Sungmin mendengar langkah-langkah kaki mendekat.

"Mengapa engkau mengikatnya erat-erat, Changmin?" terdengar Kyuhyun bertanya.

"Kata Anda, wanita ini berbahaya dan harus dijaga ketat. Saya pikir dengan diikat erat, ia tidak akan kabur."

"Ikatanmu membuat tangannya terluka," Kyuhyun memberi tahu dengan sabar.

"Biar saja!" sahut seorang wanita.

Dari nadanya, Sungmin dapat mengenali suara itu.

"Aku senang tangannya terluka."

"Lebih baik engkau diam, Seohyun," Kyuhyun memberi peringatan, "Engkau telah melanggar perintahku dan aku belum memperhitungkannya denganmu."

"Siapa yang mengatakannya padamu?" bentak Seohyun, "Wanita itu. Ya, pasti dia. Bagaimana engkau dapat mempercayainya?"

"Tanpa perlu bertanya, aku sudah tahu," Kyuhyun berkata tajam, "Ia lebih kurus daripada sebelum aku meninggalkannya."

"Mengapa engkau memperhatikannya? Apakah ia sangat penting bagimu?"

"Ya," sahut Kyuhyun, "Ia sangat penting bagiku dan bagi rencana kita!"

Sungmin tersenyum simpul dugaannya tepat. Semuanya, tidak ada yang salah.

Seohyun telah merasakan dampak tindakannya, seperti yang telah diduganya. Kyuhyun dan kelompoknya akan memanfaatkannya untuk menekan Raja Kangin.

Kyuhyun masuk dengan membawa kain pembalut dan obat serta baskom berisi air. Ia meletakkan semua itu di sebelah kaki Sungmin dan mengambil tangan Sungmin.

Tiba-tiba Kyuhyun teringat sesuatu. Ia meletakkan tangan Sungmin dengan hati-hati dan menyingkap ujung gaun gadis itu.

Memar di kaki Sungmin membuatnya mendesah panjang. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak mengetahui hal ini."

Sungmin terlalu jengkel untuk menanggapi. Ia membiarkan Kyuhyun merawat luka-lukanya. Sungmin merasa tidak patut berterima kasih karena Kyuhyun harus menebus kekasaran-kekasarannya terhadap dirinya.

"Kupikir lebih baik kita bicara dengan perut terisi," kata Kyuhyun seusai membalut semua luka Sungmin.

Gadis itu diam saja. Bahkan, ia sama sekali tidak bergerak ketika Kyuhyun kembali dengan dua wanita yang masing-masing membawa makan siang untuk mereka.

Kyuhyun menunjuk meja tempat mereka harus meletakkan makan siang itu.

Setelah melakukan tugasnya, kedua wanita itu pergi.

"Kuharap engkau tidak berkeberatan untuk makan siang bersamaku."

Sungmin tidak bergeming.

Kyuhyun heran. "Sebenarnya, apa yang membuatmu keras kepala seperti ini? Apakah engkau sama sekali tidak lapar? Atau engkau tidak mau makan siang bersamaku?"

Suasana hening hingga Kyuhyun berkata, "Baiklah, aku minta maaf atas semua tindakanku padamu selama ini. Engkau puas?"

Sungmin tetap mematung.

"Baiklah, engkau tidak mau makan bersamaku." Kyuhyun mendekat Altamyra. Ia mengambil sebuah kursi dan duduk di depan Sungmin.

"Aku langsung saja berbicara mengapa aku menculikmu," kata Kyuhyun. "Semua orang di kerajaan ini tahu setelah Raja Kangin meninggal, engkau akan menjadi penggantinya. Putra Mahkota sudah lama meninggal dan satu-satunya orang yang berkerabat dekat dengan Raja adalah engkau."

"Sebagai calon pengganti Raja, kedudukanmu sangat penting dan Raja pasti memperhatikan keselamatanmu. Itulah yang ingin kumanfaatkan darimu. Raja Kangin sangat kejam, engkau telah melihat sendiri bagaimana sulitnya hidup rakyat karena ketamakan dan kekejamannya."

"Hidup orang-orang di tempat ini masih lebih baik daripada orang-orang miskin lainnya. Di sini mereka masih dapat makan dengan teratur tetapi tidak dengan yang lain. Kamu semua menderita karena pajak yang banyak dan terlalu tinggi."

"Bertahun-tahun aku telah menanti kesempatan seperti ini dan aku takkan melepaskannya begitu saja. Aku ingin kerjasamamu untuk menekan Raja Kangin. Kalau aku berhasil, Raja Kangin akan digulingkan dan aku akan membentuk pemerintahan yang lebih baik daripada yang sekarang."

"Aku ingin kesejahteraan rakyat ditingkatkan, pajak-pajak diturunkan dan dihapus…"

Gagasan-gagasan Kyuhyun dipotong oleh tawa Sungmin. "Ide-idemu bagus. Sayangnya, aku bukan dia."

"Apa yang kau katakan?" tanya Kyuhyun tidak percaya.

"Aku bukan Tuan Puteri Victoria," ulang Sungmin tegas.

"Tidak mungkin!"

"Engkau memang pandai tetapi masih terlalu mudah untuk ditipu. Aku hanya pion pengganti. Aku dimanfaatkan untuk memancing engkau agar menangkapku."

"Kau pikir aku bisa kautipu?"

"Sayangnya," Sungmin menyesal, "Engkau telah tertipu."

Raut ramah Kyuhyun perlahan-lahan berubah menjadi geram.

"Kalau engkau pikir aku bisa kautipu dengan kata-kata itu, engkau salah."

"Kalau engkau tidak mempercayaiku, engkau bisa memeriksanya sendiri di kediaman mereka. Dan, engkau akan menemukan saat ini sang Putri bahagia dalam pelukan orang tuanya."

"Baik, kita akan melihatnya," kata Kyuhyun setelah terdiam cukup lama.

Kyuhyun menuju pintu dan berseru memanggil seseorang. "Bawa dia kembali ke selnya dan panggil Shindong kemari."

"Tunggu dulu," sahut Sungmin. Gadis itu merenggut pena dan kertas di meja kerja Kyuhyun lalu berjalan ke pintu.

Menyadari Kyuhyun menatapnya, Sungmin berkata tenang, "Engkau dapat mengawasiku kalau engkau curiga."

"Pergi saja," kata Kyuhyun acuh.

Sungmin merasa senang. Kyuhyun tampak marah sekali tetapi itu tidak lebih menyenangkan dibandingkan pekerjaan yang akan dilakukannya. Sekarang ia tidak akan merasa bosan berada di dalam selnya yang pengap dan lembab itu.

Dua hari berada di sel itu cukup membuat Sungmin tahu bagaimana kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Dari pengamatannya, Sungmin tahu di siang hari saat semua pekerjaan telah usai, para wanita biasanya berkumpul sambil memintal benang. Mereka masih memintal dengan tangan sedangkan Sungmin tahu alat untuk memintal.

Penduduk tempat ia berasal adalah pemintal benang. Mereka memintal dengan alat sederhana yang terbuat dari kayu.

Sungmin ingin sekali membantu mereka yang hidupnya lebih sulit dan menderita daripada dia sendiri. Ia ingin membagi kepandaiannya dengan orang-orang itu agar mereka dapat hidup lebih baik.

Dari pengamatannya pula Sungmin tahu anak-anak tidak memperoleh ilmu. Hanya sesekali saja mereka memperoleh pengajaran.

Walau hidup mereka sulit, ibunya tetap berupaya agar ia memperoleh ilmu sebagai bekal kehidupannya kelak. Pastor di desa mereka sangat baik. Ia menampung semua anak yang tidak mampu dan memberinya pendidikan secara cuma-cuma. Sekarang Sungmin ingin meniru Pastor itu.

Anak-anak itulah yang kelak akan menggantikan mereka yang kini sudah tua. Apa jadinya kerajaan ini kalau anak-anaknya bodoh dan tidak tumbuh dengan baik?

Semenjak Kyuhyun mengobati luka Sungmin, ia tidak pernah menemui gadis itu lagi. Sungmin senang karenanya. Dengan demikian, ia bisa dengan tenang memusatkan perhatiannya pada kesibukannya.

Tidak ada orang yang menganggapnya sejak hari itu. Hanya beberapa wanita yang memasuki selnya. Itu pun untuk mengantar makanan ataupun mengganti perban luka-lukanya.

Walaupun sekarang ia mendapat jatah makan secara tetap, Sungmin sering lalai makan karena sibuknya.

Bila ia memusatkan perhatiannya pada satu hal, ia cenderung melupakan yang lain termasuk mengisi perutnya sendiri.

Tidak ada yang mempedulikan Sungmin. Ia tahu semua orang di sini menganggapnya musuh.

Sungmin tidak pernah menghitung berapa lama ia berada di sana, ia hanya merasakan ia sudah lama berada di tempat ini.

Suatu hari ketika Sungmin menghitung-hitung berapa lama ia berada dalam sel yang gelap dan lembab ini sambil mengikat rambut panjangnya, seseorang membuka pintu.

Sungmin terkejut melihat yang datang kali ini pria, bukan wanita.

"Engkau punya kesibukan baru rupanya."

Sungmin tidak mempedulikan suara sinis yang lama tak didengarnya itu. Ia terus mengepang rambutnya.

"Aku punya kabar baik untukmu."

Sudah dapat ditebaknya Kyuhyun datang untuk memberitahu ia benar. Victoria saat ini bersama keluarganya. Dan itu membuat Sungmin tersenyum sinis penuh kepuasan.

"Mulai hari ini engkau kubebaskan," lanjut Kyuhyun. "Hanya dari sel ini, tidak dari tempat ini," katanya menekankan.

Kyuhyun meletakkan sesuatu di dekat Altamyra dan berkata, "Sebaiknya engkau menanggalkan gaunmu dan memakai gaun ini. Di sini engkau tidak pantas mengenakan gaun mewah."

"Memang tidak," sahut Sungmin senang.

Kyuhyun mengamati beberapa lembar hasil kerja Sungmin.

"Nanti akan kujelaskan," kata Sungmin, "Sekarang bisakah engkau meninggalkanku? Aku ingin melepas gaun yang rasanya setahun menempel padaku ini."

"Seminggu lebih," Kyuhyun membenarkan.

"Terserah," kata Sungmin, "Dan, bisakah aku meminjam gunting, jarum, dan benang?"

"Untuk apa!?" tanya Kyuhyun curiga.

"Penjelasan nanti," sahut Sungmin.

"Baiklah." Kyuhyun pergi mencarikan barang-barang yang diinginkan Sungmin.

Ketika ia kembali, Sungmin telah berganti baju. Gadis itu juga telah merapikan tumpukan kertasnya yang tadi berserakan dan kini sedang menggeluti gaun mewahnya.

"Terima kasih," kata Sungmin manis ketika Kyuhyun meletakkan barang-barang itu di sampingnya.

"Sekarang jelaskan padaku apa yang kau lakukan."

"Aku tidak bisa memerintah sepertimu, tetapi aku bisa membantu rakyatmu. Aku akan membuatkan mereka alat pintal sehingga produksi benang mereka lebih baik dan bermutu. Yang nantinya akan meningkatkan harga jualnya."

"Bagaimana caranya?" tanya Kyuhyun tak percaya.

Sungmin tersenyum misterius. "Desaku adalah desa pemintal benang. Aku tak mungkin tidak tahu seperti apa alat pemintal yang digunakan orang-orang di desaku."

Sungmin menyerahkan kertas paling atas pada Kyuhyun. "Aku telah menggambarnya di sini lengkap dengan ukurannya."

Kyuhyun mempelajari gambar itu. Sementara itu Sungmin mulai menggunting gaun sutranya yang mahal.

"Apa yang kaulakukan!?" Kyuhyun terkejut melihat tindakan Sungmin.

"Selain kayu, kita membutuhkan tali yang baik. Sutra ini bisa menjadi tali yang cukup baik. Ini bukan sutra terhalus tetapi sutra terbaik."

Kyuhyun mengamati gambar Sungmin lagi lalu berkata, "Aku akan membantumu. Aku membuat kerangkanya dan engkau membuat talinya."

Sungmin tersenyum.

"Sebaiknya kita membuatnya di luar. Udara lembab ini tidak baik untuk kesehatan."

Kyuhyun membawakan gaun dan gambar Sungmin. Lalu Sungmin mengikuti Kyuhyun meninggalkan bangunan itu.

Setelah berada di luar, Sungmin baru menyadari bangunan itu hanya rumah batu berukuran sedang dengan dua tingkat. Tingkat bawah untuk umum dan tingkat atas khusus untuk Kyuhyun.

Sungmin memilih sebuah pohon yang cukup rindang lalu duduk di bawahnya.

Kyuhyun meletakkan gaun gadis itu di samping Sungmin lalu meninggalkannya sendirian.

Kyuhyun memulai kesibukannya melepas satu per satu jahitan gaunnya yang halus. Kemudian ia memotongnya kecil-kecil dan menjahitnya menjadi tali kecil rangkap dua yang panjang.

Sementara itu Kyuhyun membentuk kerangka alat itu sesuai dengan gambaran Sungmin.

"Tolong kaujelaskan maksudmu dengan tanda ini," pinta Kyuhyun.

"Engkau harus membuat sesuatu seperti poros yang bisa berputar…"

"Kyuhyun!"

Percakapan mereka terhenti karenanya.

"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak sadar perbuatan aneh kalian itu menarik perhatian kami?"

"Dia punya cara untuk meningkatkan hasil dan mutu benang pintal kita."

"Benarkah?"

"Lihat saja gambar alat pintal yang dibuatnya ini."

"Alat pintal?" ulang Donghae, "Aku pernah mendengarnya tetapi aku tidak pernah tahu seperti apa rupanya. Dari mana engkau mengetahuinya?"

"Aku berasal dari desa para pemintal benang," jawab Sungmin dengan tersenyum.

"Pantas saja engkau tahu," sahut Donghae, "Aku akan membantumu Kyuhyun."

"Aku memang membutuhkan bantuan," timpal Kyuhyun.

"Ayo kita bantu mereka!" seru Donghae.

Beberapa orang mulai mendekat membantu Kyuhyun. Sementara itu Sungmin masih sibuk sendiri. Semua orang masih menganggapnya musuh.

Beberapa saat kemudian seorang wanita mendekati Sungmin. "Adakah yang dapat saya bantu?" tanyanya ragu-ragu.

"Terima kasih, Nyonya. Anda dapat membantu saya membuat tali seperti ini dari kain ini."

Setelah itu wanita yang lain mulai mendekat dan membantu Sungmin. Sungmin senang melihatnya.

Dengan sabar, ia menjelaskan apa yang sedang dibuatnya. Dan untuk apa alat pintal itu.

"Sayang sekali gaun seindah ini dipotong-potong," celetuk seorang wanita.

Sungmin tersenyum lembut. "Lebih baik kehilangan satu gaun mahal daripada kehilangan satu-satunya kesempatan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Kalau hidup kita lebih makmur, segalanya dapat kita beli."

"Di negara ini semuanya mustahil. Raja sangat tamak. Ia takkan membiarkan rakyatnya kaya."

"Benar," timpal yang lain, "Ia akan segera merampas harta orang yang kaya untuk menambah hartanya."

"Percayalah kepadaku segalanya pasti berubah cepat atau lambat."

"Kalau Raja mati dan Pangeran naik tahta," tebak Sungmin.

"Benar!" sahut semuanya.

Sungmin termenung. Tangannya terus bergerak menyelesaikan pekerjaannya.

Pekerjaan yang sulit itu akhirnya selesai menjelang petang. Sebagai sentuhan terakhir, Sungmin memasang tali dengan sabar.

"Mari kita coba sehebat apa daya ingatku," kata Sungmin sebelum mencoba alat itu.

"Tidak buruk," gumam Sungmin melihat hasil alat yang dibuat berdasarkan gambarnya itu.

Sebelum meninggalkan tempat yang dikerumuni orang-orang itu, Sungmin memberi petunjuk bagaimana menggunakannya.

Sungmin senang bisa membuat alat yang dapat menolong orang-orang itu. Dengan hati riang, ia kembali ke selnya.

"Hei! Berhenti!"

Sungmin terus berjalan.

"Kubilang berhenti!"

Sungmin melihat sekelilingnya lalu bertanya, "Akukah yang kau panggil?"

"Benar," jawab Kyuhyun, "Siapa lagi yang berada di sini selain kita, setan cilik?"

"Aku ingin berterima kasih atas…"

"Tidak perlu," potong Sungmin, "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai manusia yang masih mempunyai hati."

"Apakah engkau bermaksud menyinggungku?"

Sungmin berjalan lagi. Ia tidak sedang dalam suasana hati untuk bersitegang dengan pria itu. Ia tidak ingin membiarkan pria ini merusak suasana hatinya yang sedang berbahagia itu.

Kyuhyun heran melihat Sungmin kembali ke selnya. "Mengapa engkau kembali ke sini? Bukankah aku telah membebaskanmu?"

"Ini adalah ruanganku," jawab Sungmin tenang, "Aku tidak tahu di mana engkau akan menempatkanku malam ini. Sampai saat itu, aku hanya tahu di mana aku bisa melewatkan malam ini."

Kyuhyun diam memperhatikan Sungmin duduk di lantai dan mulai menulis lagi.

"Sampai saat ini aku belum tahu namamu."

Sungmin tidak menanggapi.

"Mengapa engkau tidak memberikan namamu agar aku tidak perlu menyebutmu dia atau gadis itu?"

Sungmin masih tidak menanggapi.

Erland mencekal tangan Sungmin. "Kau mendengarkanku?" tanyanya tajam.

"Lepaskan aku," balas Sungmin, "Engkau menyakitiku."

Kyuhyun tahu ia memegang luka di tangan Sungmin tetapi ia tak melepaskannya. "Jadi, siapa namamu?" ulangnya.

Sungmin menatap tajam. "Aku tidak sudi engkau menyebut namaku."

"Engkau mengajakku bermain kasar?"

"Apakah engkau bisa bersikap lembut?"

"Setan cilik," geram Kyuhyun, "Apakah engkau selalu menyebalkan seperti ini?"

"Tidak," jawab Sungmin lantang, "Aku membencimu dan aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

"Apa kesalahanku padamu, setan cilik? Apakah belum cukup permintaan maafku!?"

Sungmin membuang muka dengan angkuh.

"Setan cilik, engkau membuatku marah. Aku peringatkah engkau untuk tidak membuatku marah."

"Kaupikir aku takut padamu?" Sungmin mendekatkan wajahnya sambil menatap tajam.

Kyuhyun tersenyum. Senyumannya mengandung sejuta bahaya yang terpancar di matanya. "Tidak," katanya setuju, "Setan cilik sepertimu tidak pernah kenal takut."

"Bagus," kata Sungmin puas, "Engkau sudah mengerti benar hal itu."

"Aku juga tahu engkau tidak sudi kupanggil dengan namamu. Lebih-lebih engkau tidak sudi kusentuh." Sungmin tersenyum puas.

"Jangan salahku aku kalau aku memanggilmu setan cilik."

"Setan cilik," gumam Sungmin. "Setan cilik pasti orang tuanya setan besar." Sungmin tersenyum manis dan berkata, "Aku suka itu."

"Kau!" geram Erland.

Kyuhyun mendorong Sungmin dengan kasar hingga gadis itu terbaring di lantai. "Mulutmu yang tajam itu sesekali perlu diberi pelajaran."

Jantung Sungmin berdegup kencang. Kyuhyun berbicara sangat dekat dengan mulutnya hingga Sungmin dapat merasakan setiap gerakan bibir Kyuhyun.

Sungmin mengkhawatirkan tindakan Erland selanjutnya tetapi ia tidak mau membuat Kyuhyun senang dengan menampakkannya.

Kyuhyun tersenyum kejam melihat sorot mata Sungmin yang tajam. "Engkau membuatku kagum, setan cilik." Lalu ia mencium Sungmin dengan kasar.

Mula-mula yang dilakukan Sungmin adalah terkejut. Namun, ia segera sadar dan mulai meronta-ronta.

Walaupun tahu tubuhnya yang kecil tidak akan menang melawan tubuh tegap kyuhyun yang menindihnya,

Sungmin tidak mau berhenti. Ia terus meronta-ronta sekuat tenaganya.

Ia tidak sudi dicium Kyuhyun. Ia marah pada pria itu dan ia lebih marah lagi karena pria yang paling dibencinya itu menjadi pria pertama yang menciumnya.

Akhirnya Kyuhyun menghentikan ciumannya. Ia tersenyum puas melihat Sungmin.

"Aku membencimu," desis Sungmin, "Sampai mati pun aku tidak akan memaafkanmu."

Kyuhyun hanya tertawa mendengarnya.

Sungmin menjadi murka. "Engkau tidak pantas memimpin pemberontakan terhadap Raja. Engkau tidak lebih baik darinya!"teriaknyalantang.

"Berteriaklah sampai engkau puas. Takkan ada yang mendengarmu." Kyuhyun meninggalkan tawanya yang kejam di ruang sempit itu.

Sungmin membenci kekejaman Kyuhyun itu.

"Medice, cura te ipsum!" seru Sungmin "Lupus est homo homini!"

TBC