Terima kasih sudah membaca dan mereview KNG 10 chapter 1, ArtemisArcherGirl3008, HarperGreeshxx, WithSasu, Name Uvii R, celestial bronze, keken, misshyo, candypinknet, Hoonsan, CindyWeasley, Kendra, dwi al, Chalttlemore3-23, Azzachras, Dande Liona, coco, Fitri Felton, tinaweasley, tarehalatte, Venie, Dakota C, yanchan, LumosAsphodel31, intanmalusen, Guest, shaulaamalfoy, aumy mitsuru koga, Yuliita, epsilon, Namejacko, mrsbubugig, Sc08Rs, Shine, Pandora, NirmalaMalfoys, titian cahaya, Mrs. X, , Ranes, emerald weasley, alpaprana, AmaranthAmbrosia, YMFS, salsabila, LaviniaCho21, bilapotter, MSG1MM, ejacatKyu: tentang hanya satu karakter dalam KNG 10. Tidak ada maksud apa-apa. FFnet sekarang tampilan fitur publish new story-nya berubah, kotak karakternya membingungkan, jadi aku hanya bisa masukkan Albus S.P. Nanti aku pelajari lagi dan tambahin OC-nya.

Selamat membaca KNG 10 chapter 2!


Disclaimer: J. K. Rowling

KISAH NEXT GENERATION 10: MASALAH KETUA MURID

Chapter 2

Tanggal: Sabtu, 28 Agustus 2023

Waktu: 11:00

Lokasi: Diagon Alley, London

Seperti biasa, di saat-saat akhir liburan musim panas Diagon Alley penuh dengan murid-murid Hogwarts yang berbelanja keperluan satu tahun ajaran. Di mana-mana terdapat wajah yang pernah kulihat di Hogwarts dan beberapa wajah baru yang tampak ragu saat memasuki toko Ollivander dan terpesona saat memandang sapu-sapu terbang keluaran terbaru yang dipajang di etalase toko Quidditch Berkualitas.

Dan saat berbelanja keperluan Hogwarts satu jam yang lalu, Rose dan aku sesekali berpapasan dengan teman-teman Gryffindor kami yang menahan kami selama beberapa menit untuk bertukar kabar. Sekarang, tanpa dibebani oleh tas-tas belanjaan berat milik kami, juga milik Lily dan Hugo, yang telah diatur dengan rapi oleh Rose dalam tas manik-manik kecil yang dulunya milik Aunt Hermione, Rose dan aku berkeliling Diagon Alley sekali lagi untuk mencari Lily dan Hugo. Kedua anak itu menghilang begitu saja saat Rose dan aku sedang antri membeli es krim di toko es krim Florean Fortescue. Entah ke mana mereka. Padahal Mom telah berpesan bahwa kami harus selalu bersama, karena kalau dibiarkan, Lily dan Hugo pasti akan membuat masalah. Kami diijinkan berbelanja sendiri saja sudah beruntung. Pagi tadi sebelum ber-Disapparate ke Diagon Alley, Mom bersikeras untuk menemani kami. Syukurlah ada surat dari burung hantu yang menyuruhnya segera ke kantor Daily Prophet karena akan diadakan pertemuan antara para journalist senior.

Tetapi Mom tak melepaskan kami begitu saja, dia berkata pada Lily, "Aku akan menyerahkan uang belanjamu pada Rose!"

"Mengapa?" tanya Lily jengkel.

"Hermione juga menyerahkan tanggung jawab atas pengeluaran Hugo pada Rose. Jadi, Rose bisa mengontrol pengeluaran kalian berdua."

Lily mendelik. Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya. Karena kalau dia mengeluh, Mom pasti akan memaksa Aunt Hermione menemani kami ke Diagon Alley. Dibandingkan Aunt Hermione, Lily lebih memilih Rose.

Meskipun uang belanja Lily dan Hugo dipegang Rose, keduanya masih sempat menghilang. Ketiadaan Galleon tidak membuat mereka merasa harus selalu berdekatan dengan Rose.

"Mereka tak ada di sini," keluh Rose saat kami sedang berdiri di antara jubah-jubah yang digantung dalam toko Madam Malkin.

"Aku sudah bilang mereka tak di sini," kataku. "Kita sudah membeli jubah untuk Hugo, tak mungkin mereka kembali lagi ke sini. Menurutku mereka ada di Knockturn Alley. Tahun lalu mereka sengaja tersesat bubuk Floo dan muncul di Knockturn Alley, kan?"

"Mereka tak mungkin pergi ke sana lagi setelah tahu tempat itu mengerikan."

"Bagi kita berdua tempat itu mengerikan, Rose, bagi mereka mungkin tidak."

Rose berpikir selama beberapa saat. "Ya, kita ke Knockturn Alley kalau begitu. Tapi sebelum itu, kita ke toko yang menjual bahan-bahan ramuan dulu, siapa tahu mereka di sana, Hugo kan suka Ramuan."

Aku setuju, meskipun tak begitu yakin mereka ada di sana.

Kami keluar toko Madam Malkin dan terkejut saat seseorang meneriakkan nama kami dengan keras. Rose dan aku menoleh dan melihat Suzanne berjalan cepat mendekati kami. Setibanya di dekat kami, dia mengalungkan tangannya ke leherku dan menciumku dengan keras di bibir.

Oke, aku lupa mengatakan padamu bahwa Suzanne Finnigan adalah pacarku yang terbaru. Kami jadian sebelum akhir tahun ajaran. Dan kurasa aku menyukainya. Dia cantik, memiliki mata biru yang indah dengan rambut pirang panjang yang jatuh lurus di punggungnya. Selain itu, dia juga menyenangkan dan memiliki selera humor yang sehat. Kami sering bertukar pikiran tentang berbagai hal dan dia mengerti kecenderunganku untuk memilih keluarga dari apapun. Dia juga tak mempermasalahkan temperamenku yang bisa meledak kapan saja. Kurasa cewek ini layak dipertahankan.

Sebenarnya, dia dan aku pernah berkencan sebentar waktu kelas tiga. Kencan yang buruk. Aku lupa bagaimana kejadiannya, tapi setelah kencan itu, dia tak bicara denganku selama seminggu. Sekarang setelah lebih dewasa kami memulainya lagi, dan kuharap kami bisa bertahan, kalau bisa untuk selamanya. Dengan usiaku yang ketujuhbelas tahun, aku memutuskan bahwa sudah saatnya bagiku untuk bersikap dewasa dan memikirkan masa depan dengan lebih serius.

"Hentikan kalian berdua!" suara Rose terdengar seperti dari jauh.

Suzanne dan aku tak menghiraukan Rose dan bahkan orang-orang di Diagon Alley. Kami masih terus berciuman.

"Al, aku akan menghitung sampai tiga. Kalau kalian tak berhenti sekarang, aku akan merekatkan kalian dengan Mantra Pelekat Permanen… Satu… Dua—"

Aku melepaskan Suzanne. Bukan karena aku takut pada ancaman Rose, hanya saja bisik-bisik di sekitar kami mulai terdengar sumbang. Sayang sekali mereka bukan membicarakanku. Kalau mereka membicarakanku, aku tentu akan terus mencium Suzanne dan membiarkan mereka terus bicara. Tapi mereka membicarakan Suzanne, dan aku tak ingin mereke membicarakan Suzanne seolah dia adalah cewek gampangan tak tahu diri yang berciuman dengan semua laki-laki yang ditemuinya. Suzanne adalah gadis yang baik, dan kurasa dia terlalu menyukaiku sehingga ingin selalu menciumku di setiap kesempatan. Dia mungkin berpikir dengan berciuman dia telah mengekspresikan cintanya padaku, meskipun aku berpendapat bahwa ciuman bukan satu-satunya cara untuk mengekspresikan cinta.

Namun biasanya memang begitu. Maksudku, yang jadi sasaran gossip adalah ceweknya, bukan cowoknya. Sementara kalau dipikir-pikir yang brengsek adalah cowoknya. Aku bukan mengatakan bahwa aku brengsek, maksudku cowok juga bermasalah, bukan ceweknya saja.

Setelah melepaskanku, Suzanne tersenyum pada Rose dan berkata, "Maaf!" Sementara aku mendelik pada orang-orang yang masih berbisik-bisik di sekitar kami.

"Kalian berdua akhirnya berkencan kalau begitu," kata Rose tampak jengkel. "Tak ada yang susah-susah mengatakannya padaku."

"Kupikir aku sudah bilang padamu," kataku, memandang Rose sekilas, lalu kembali mendelik pada seorang cewek pucat yang masih berbisik pada temannya sambil melirik Suzanne dengan dengki.

Kenapa sih cewek itu? Apakah dia cemburu pada Suzanne karena bukan dia yang berciuman denganku? Bisa jadi. Aku bukan membanggakan diriku sendiri, tapi banyak cewek yang menyukaiku. Mereka bilang aku tampan dengan mata hijau cemerlang yang benar-benar dapat menembus jantung mereka dengan tatapanku. Kupikir mereka berlebihan. Sungguh, aku tak merasa pernah menembus jantung siapapun dengan tatapan. Menurutku mereka menyukaiku hanya karena aku anak Harry Potter. Benar-benar alasan yang sangat buruk untuk menyukai seseorang!

Aku tahu tentang itu saat tak sengaja mendengar pembicaraan beberapa mantan pacarku di lapangan Quidditch. Mereka bilang kalau aku bukan anak Harry Potter dan kalau aku tidak terkenal, mereka tak akan mau berkencan denganku. Kata mereka aku kurang perhatian, aku tak memperlakukan mereka dengan baik. Bohong! Kalau aku tak memperlakukan mereka dengan baik, tak mungkin aku mau berkencan dengan mereka. Tapi cewek-cewek memang mengerikan. Mereka banyak sekali mengeluh dan tak bisa bersyukur untuk apa yang telah mereka miliki.

"Kau tak mengatakan apapun padaku, Al," kata Rose, mengembalikanku dari ingatan tentang para mantan.

Kupikir mungkin saja. Banyak kejadian tak terduga terjadi selama musim panas ini sehingga aku melupakan tentang Suzanne dan aku.

"Dan—" lanjut Rose mendelik pada Suzanne. "—kau juga tak mengatakan apapun."

"Aku ingin menyuratimu, tapi ada banyak berita tentangmu di Prophet, jadi aku memutuskan untuk mengatakannya padamu saat kita bertemu."

"Yeah." Rose mengangguk. "Aku memang mengalami berbagai peristiwa aneh musim panas ini."

"Aku tahu, aku lihat di Prophet," kata Suzanne, lalu memandang Rose dengan mata terbinar-binar. "Kau sendiri tak berkata apapun tentang Scorpius Malfoy."

"Oh, jangan kau juga!" Rose kembali mendelik. "Itu hanya gossip. Go-sip. Malfoy dan aku tidak berkencan—"

"Alasan kalian tak berkencan lagi karena kau sendiri, kan, Weasley?" sebuah suara lembut namun tajam terdengar dari samping kami.

Kami menoleh dan melihat Ariella Zabini ditemani Nerissa Goyle sedang berdiri dekat kami. Rupanya mereka ingin masuk ke toko Madam Malkin, tapi tertahan karena mendengar Rose menyebut-nyebut Malfoy. Dan harus kuakui, kurasa aku tak akan pernah bosan untuk mengatakan bahwa Ariella Zabini adalah gadis tercantik yang pernah kulihat.

Rose sekarang memandang Zabini dengan jengkel. "Aku tak mengerti apa yang kaukatakan."

"Oh, kau mengerti. Kau dan Scorpius putus karena kau berselingkuh, benar bukan?"

"Aku berselingkuh?" Rose tampak benar-benar heran.

"Belum sampai seminggu kalian berdua jadian, kau sudah mengkhianatinya."

"Haa? Aku mengkhianatinya?" Rose bertanya lagi, terdengar seperti gramofon rusak yang terus mengulang apa yang dikatakan Zabini.

Zabini memandang Rose dengan jijik. "Aku sudah mengatakan pada Scorpius untuk tidak bergaul dengan orang-orang berkelakuan buruk, tapi Scorpius tetap menyukaimu. Dan kini dia tahu betapa buruknya kelakuanmu. Berapa cowok yang pernah kau sakiti hatinya, Weasley?"

"Aku tak pernah menyakiti hati siapapun," bantah Rose. "Dan Malfoy, mengapa dia bertingkah seolah dia adalah korban? Aku! Akulah korbannya, Zabini. Kalau kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau tidak akan membela brengsek seperti Malfoy."

"Jangan mengatai sepupuku brengsek, Weasley!"

"Aku mengatainya begitu karena dia memang seperti itu. Kau pasti tak tahu apa yang dilakukannya padaku di Irlandia."

"Di Irlandia?" Zabini mengangkat alisnya sesaat, lalu menggelengkan kepala, tampak tak tertarik. "Oh itu…"

Dengan tatapan penuh tanya, aku memandang Rose, sejak dulu aku ingin tahu apa yang dilakukan Malfoy dan Rose di Irlandia.

"Kau tahu?" tanya Rose tak percaya.

"Aku tahu," jawab Zabini. "Dan aku juga tahu bahwa kau benar-benar bodoh!"

"Apa?" Wajah Rose merah padam.

Zabini mengabaikan Rose dan melemparkan pandangan jijiknya padaku. "Dan kau, Potter—"

Aku menaikkan alisku tinggi-tinggi, ingin mendengar apa yang dikatakan Princess tentangku.

"—tak kuduga kelakuanmu bisa lebih buruk dari yang biasa kaulakukan."

"Apa yang kulakukan?" tanyaku.

"Berciuman di tempat umum adalah perbuatan tercela, Potter, apakah kau ingin menunjukkan pada semua orang bahwa kau penganut seks bebas?"

"Haa?" Aku benar-benar terpana.

"Lalu kau, Finnigan," Zabini memandang Suzanne. "Tak bisakah kau membedakan cowok baik dan bertanggung jawab dari pencinta wanita seperti Potter? Kukatakan padamu, Finnigan, jagalah kemurnian dirimu karena cowok-cowok lebih menghargai cewek yang menjaga dirinya. Tapi aku tak heran. Cewek rendahan sepertimu pasti dapatnya juga cowok rendahan seperti Potter."

Cowok rendahan? Jadi itu pendapatnya tentang aku? Keterlaluan! Bukankah itu berlebihan? Bagaimana dia bisa menganggapku begitu padahal kami pernah berdansa, pernah makan es krim berdua di kedai Muggle Godric's Hallow. Aku ingat, waktu itu kami baik-baik saja. Kami bisa mengobrol dengan baik dan aku bahkan menceritakan impianku padanya. Sebenarnya, kalau dia mau, dia dan aku bisa jadi sahabat. Kurasa harapanku terlalu tinggi. Saat di Irlandia dia berdansa denganku karena tak ada pilihan lain (antara cowok-cowok yang tak dikenalnya atau aku), sedangkan menemaniku makan es krim hanyalah untuk mengulur waktu agar Malfoy bisa melakukan sesuatu di kamar Rose. Yah, semua yang dilakukannya tanpa ketulusan sama sekali. Sesungguhnya aku tak bisa menyalahkannya atau menghakiminya karena itu. Dia berhak memilih dengan siapa dia mau berteman.

Sementara itu, wajah Suzanne merah padam mendengar kata-kata Zabini. Dia mendelik. "Kau bilang aku rendahan? Rendahan?"

"Iya, Finnigan, apa kau tuli? Aku bilang kau rendahan."

Suzanne menyeringai. "Kalau aku rendahan, kau apa? Murahan?"

"Murahan?" Wajah Zabini merah padam.

"Menurutku aku lebih baik darimu," kata Suzanne, terus menyeringai. "Aku punya pacar, sedangkan kau tidak. Kau pasti sangat kesepian. Lagi pula, kau belum pernah berciuman, kan? Atau kau berciuman dengan salah satu teman sekamarmu? Apakah kau anggota komunitas LGBT?"

"LGBT?" tanya Rose. "Apa itu?"

"Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender," jawab Suzanne, lalu kembali memandang Zabini. "Aku yakin kau pasti salah satu dari mereka."

Sejujurnya, Rose dan aku tahu bahwa Zabini bukan anggota LGBT. Kami tahu dia mencintai seseorang, seseorang yang selalu ditunggunya.

Zabini mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan memandang Suzanne dengan mencela. "Aku bukan bagian dari LGBT, meskipun aku tidak menyangkal bahwa mereka ada. Kau, Finnigan, kau seharusnya tidak boleh mencela orang-orang yang memiliki penyimpangan seksual. Kita harus merangkul mereka dan membantu mereka mengatasi masalah mereka. Bukan salah mereka mereka memiliki penyimpangan seksual. Bisa jadi karena hormon atau karena perlakukan yang mereka terima dari keluarga dan lingkungan mereka. Tapi yang pasti kita harus menolong orang-orang seperti mereka."

Rose dan aku terpana memandang Zabini. Apa sih yang dibicarakannya? Apakah sekarang dia sedang mempromosikan LGBT?

Sementara itu, Suzanne tertawa sinis. "Silakan saja kalau kau ingin membantu mereka, Zabini! Tapi aku, aku tak mau terjerumus dan jadi seperti mereka."

"Kau tak akan terjerumus," bantah Zabini. "Sebenarnya kau bisa memberi konseling pada mereka. Maksudku, kau bisa memberi konseling pada para Gay, bukan para Lesbian. Kalau kau memberi konseling pada para lesbian bisa saja mereka nanti menyukaimu—"

"Konseling? Aku tak tertarik." Suzanne mendengus. "Kulihat kau sangat tertarik dengan mereka, Zabini, apakah kau benar-benar bukan bagian dari para lesbian? Bukankah kau tak menyukai cowok-cowok yang tertarik padamu? Padahal Ethan Davies menyukaimu. Kau tahu dia, kan? Dia adalah cowok paling tampan di Hogwarts. Mengapa kau tak menyukainya? Hanya para lesbian-lah yang tak tertarik dengan wajah tampan Ethan."

Zabini menyeringai. "Oh, cowok rendahan penganut seks bebas itu? Kau pikir aku akan suka dengan cowok seperti itu? Finnigan, Finnigan, seleramu benar-benar rendah. Potter dan Davies. Apa bagusnya mereka? Jangan melihat orang dari tampilan fisiknya saja, Finnigan! Kau harus melihat hatinya. Apakah dia mencintaimu? Apakah dia menghargai dan menghormatimu? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik? Kalau kau berhubungan seks dengan mereka sebelum menikah, aku yakin sekali mereka tak akan pernah—tak akan pernah menghargaimu."

Ya, aku setuju. Sebastian, teman sekamarku, pernah bercerita bahwa entah mengapa dia jadi membenci pacarnya setelah mereka berhubungan seks. Bersama cewek itu, selain hanya untuk memuaskan kebutuhannya, tak ada perasaan apa-apa lagi. Entah ke mana cinta yang dimilikinya sebelum mereka berhubungan seks.

Omong-omong, apakah Zabini benar-benar berpikir aku penganut seks bebas? Dia pasti bercanda! Walaupun memiliki banyak pacar, aku belum pernah berhubungan seks dengan mereka. Aku sangat menghargai perempuan karena aku punya ibu, seorang saudara perempuan, bibi-bibi dan banyak sepupu perempuan yang sangat kusayangi. Jadi tak mungkin aku memperlakukan perempuan dengan buruk. Dan kukatakan sekali lagi, aku tak pernah dengan sengaja menjadikan diriku playboy. Banyak cewek yang menyukaiku dan banyak cewek yang meninggalkanku. Aku sendiri tak pernah—tak pernah memutuskan cewek-cewek itu. Merekalah yang meninggalkanku.

Yah, tapi aku tak mengatakan itu dengan keras, sih. Buat apa juga Zabini tahu aku tak pernah berhubungan seks dengan siapapun. Itu kan bukan urusannya. Terserahlah dia menganggapku apa.

Suzanne sekarang sedang memandang Zabini dengan heran. "Kurasa tak ada lagi yang punya pikiran aneh sepertimu, Zabini. Tapi kau yang rugi. Berciuman dengan Davies adalah pengalaman terbaikku. Dia sangat pandai berciuman."

Aku menaikkan alisku tinggi-tinggi. Bukankah tak sopan berbicara tentang mantan pacar di depan pacarmu? Sementara Rose mendelik pada Suzanne. Yah, Rose punya pikiran yang sama denganku.

"Buat apa punya pacar yang ahli berciuman, tapi berkelakuan buruk. Aku tak akan mau berciuman dengan orang seperti itu. Aku tak akan merusak diriku ke levelmu hanya untuk sebuah ciuman. Aku menjaga diriku untuk orang yang pantas untukku, untuk orang yang benar-benar menghargai dan mencintaiku."

Filosofi hidup yang keren. Tapi aku tak tahu apakah masih ada anak muda yang berpikiran sama.

Suzanne tertawa. "Yeah, silahkan menunggu cowok impianmu, Zabini! Kalau aku, aku tak ingin jadi perawan tua."

Entah mengapa Rose dan aku ikut tertawa, meskipun sebenarnya tak ada yang lucu. Sejujurnya, aku setuju dengan Zabini. Cowok-cowok memang lebih menghargai cewek-cewek yang mampu menjaga dirinya dan bersikap tegas terhadap pergaulan bebas sekarang ini.

Zabini tidak merasa terhina meskipun ditertawakan. Dia mengerenyitkan keningnya menunjukkan ekspresi jijik. "Kurasa kalian sudah tidak perawan lagi, kan?" Dia memandang Suzanne dan Rose. "Menjijikkan! Wajar saja aku tak suka bergaul dengan orang-orang kotor seperti kalian."

Wajah Suzanne merah padam, dan yang membuatku heran wajah Rose juga. Aku bertanya-tanya apakah Rose pernah tidur dengan seseorang? Siapa? Mengapa dia tak mengatakannya padaku?

"Tutup mulut, Zabini!" gertak Rose marah. "Atau aku akan memantraimu. Yah, aku benar-benar akan memantraimu kali ini kalau kau tak berhenti bersikap sok suci."

"Coba saja, Weasley!" Zabini menyeringai. "Kau tak tahu kau berurusan dengan siapa, kan?" Dia menunjuk sebuah lencana hijau bertuliskan Head Girl yang tersemat di dada kiri dress panjang warna cerah yang dipakainya. "Aku adalah Ketua Murid tahun ini. Kalau kau memantraiku, aku akan membuat hidupmu menderita."

Rose dan aku terpana memandang lencana itu. Kurasa mendapatkan Zabini sebagai Head Girl adalah keberuntungan. Aku bisa memandang wajahnya yang cantik itu setiap saat, kan? Tapi mengapa aku tak merasa senang?

"Kau Ketua Murid?" Rose masih bertanya juga, meskipun dia sudah tahu jawabannya adalah iya.

"Ya, Weasley, aku Ketua Murid. Kuberitahu kalian, aku sudah menyusun berbagai program untuk Hogwarts tahun ini. Tahun ini Hogwarts harus bebas dari perilaku kotor yang seperti Muggle."

"Perilaku kotor yang seperti Muggle? Apa maksudmu?" tanya Suzanne.

"Perilaku yang baru saja kita bicarakan, Finnigan. Seks bebas, juga yang terpenting aborsi. Menurutku, hanya Muggle kotor yang melakukan seks bebas dan aborsi. Kita sebagai penyihir harus menjaga kemurnian kita," kata Zabini dengan mata bercahaya, lalu tanpa disuruh membeberkan rencana kerjanya selama setahun. "Tahun ini aku pastikan tak ada lagi murid-murid Hogwarts yang berciuman di Aula Besar, di koridor, di perpustakaan, dalam kelas, atau tempat-tempat umum lainnya. Kalau aku menemukan mereka, aku akan mengurangi 30 angka asrama dan hukuman menulis. Dan kalau aku menemukan mereka berhubungan seks di lemari sapu atau di manapun. Aku akan mengurangi 50 angka asrama dan aku akan memanggil ahli terapi mental dari St Mungo."

"Ahli apa?" tanya Rose.

"Ahli terapi mental, Weasley. Murid-murid yang mentalnya rusaklah yang berhubungan seks di luar nikah."

"Profesor McGonagall tak akan setuju denganmu," kata Suzanne. "Kau pikir Hogwarts mau mengeluarkan Galleon untuk membayar ahli terapi?"

"Aku punya banyak Galleon, Finnigan. Aku sendiri yang akan mengeluarkan Galleon untuk programku."

Rose, Suzanne dan aku hanya bisa terpana.

"Dan—" lanjut Ariella masih dengan penuh semangat, seperti penyihir yang sedang melakukan kampanye untuk pemilihan Mentri Sihir. "—dan kalau aku menemukan mereka melakukan aborsi. Mereka akan langsung dikirim ke Azkaban. Aborsi adalah perbuatan yang paling hina yang pernah dilakukan Muggle. Aborsi lebih daripada pembunuhan biasa, karena membunuh janin yang mereka ciptakan sendiri lebih—lebih mengerikan daripada segala pembunuhan yang ada. Yah, kalau aku menemukan murid Hogwarts yang melakukan aborsi, mereka akan langsung dikirim ke Azkaban tanpa diadili. Akulah yang akan memastikan hal itu."

Suasana hening ketika Zabini mengakhiri kalimatnya dengan perlahan dan dramatis.

"Tak ada murid yang melakukan aborsi di Hogwarts," kata Suzanne setelah beberapa saat. "Aku belum pernah dengar tentang itu. Kurasa cewek-cewek sekarang ahli melakukan Mantra Kontrasepsi."

"Tak mungkin," kata Zabini. "Kita tak pernah diajarkan mantra itu di Hogwarts."

Suzanne tertawa. "Zabini, Zabini, kau tak tahu apa-apa, kan? Apakah kau pikir murid-murid Hogwarts hanya belajar dari apa yang dikatakan para Profesor? Mereka juga belajar dari tempat lain, Zabini, dari buku-buku yang tak ada di perpustakaan Hogwarts dan—"

"Hal pertama yang akan kulakukan saat tiba di Hogwarts—" Zabini berkata dengan wajah merah padam. "—adalah menyingkirkan semua buku porno yang dimiliki murid Hogwarts. Aku akan melakukan razia anti-pornografi."

Sekali lagi Rose, Suzanne dan aku hanya bisa terpana.

"Menurutku pornografi adalah awal dari segalanya," lanjut Zabini. "Segala kejahatan berawal dari pornografi. Pelecehan seksual, pemerkosaan, kekerasan, pembunuhan, yah segalanya. Pornografi sudah merusak para Muggle, aku tak ingin generasi muda kita juga rusak. Kupastikan razia anti-pornografi akan dilakukan setiap minggu. Dan jika aku menemukan mereka memiliki barang-barang yang berbau pornografi, aku akan memanggil para Obliviator dari Markas Besar Kelupaan Kementrian Sihir."

"Kau tak bisa melakukannya," kata Rose setelah beberapa waktu, lalu menoleh memandangku.

"Mengapa aku tak bisa melakukannya?" tanya Zabini. "Aku tak peduli dengan Galleon. Tentu saja aku akan mengeluarkan Galleon untuk membayar—"

"Kau tak bisa melakukannya, maksudku menjalankan program itu jika Ketua Murid yang satunya tak setuju."

"Oh, dia pasti setuju," kata Zabini, yakin. "Program ini sangat bagus untuk menjaga kemurnian masyarakat sihir dari ide-ide para Muggle. Aku bukan berkata bahwa aku anti-Muggle atau apa. Aku tak pernah berprasangka terhadap para Muggle. Yang tidak kusukai adalah tingkah laku Muggle yang menjijikkan dan kotor. Melihat tingkah kotor mereka wajar saja Lord Voldemort ingin menyingkirkan mereka. Oh, jangan memandangku seperti itu, Finnigan, aku tahu kau anti-Voldemort. Tapi untuk menyelamatkan generasi muda kita, hal-hal yang yang ekstrim seperti yang dilakukan Lord Voldemort kadang perlu dilakukan."

"Kulihat kau mengidolakan Voldemort," komentar Suzanne tajam. "Kalau kau hidup di zamannya, kurasa kau akan bergabung dengan para Pelahap Maut. Atau orangtuamu adalah Pelahap Maut?"

Wajah Zabini merah padam. "Jangan sekali lagi kau mengatakan orangtuaku Pelahap Maut, Finnigan! Kalau kau mengatakannya lagi kau akan tahu kekuasaan apa saja yang dimiliki Ketua Murid."

Wajah Suzanne juga berubah merah padam. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Rose dengan cepat berkata, "Aku tetap ingin mengatakan bahwa programmu tak bisa dijalankan tanpa persetujuan Head Boy. Tahukah kau siapa Head Boy-nya?"

Zabini memandang Rose. "Tidak, aku tak tahu. Siapa Head Boy-nya?"

Rose menoleh memandangku, tapi aku cepat-cepat berkata, "Rose, kurasa kita harus segera mencari Lily dan Hugo sebelum mereka membuat masalah."

Rose memandangku dengan aneh, tapi aku segera memberi isyarat agar dia tidak berkata apa-apa. Dia menggelengkan kepala ingin mengatakan sesuatu, tapi suara teriak Vincent Goyle yang memanggil, "Ariella! Nerissa!" menghentikannya.

Aku beruntung. Aku belum ingin semua orang tahu aku Head Boy. Aku masih belum bisa terima aku adalah Ketua Murid. Karena itulah aku tak memakai lencana sialan itu ke mana-mana.

Beberapa detik kemudian Vincent Goyle juga Scorpius Malfoy yang mengenakan jubah yang sangat bersih dan rapi telah bergabung dengan kami.

"Ariella, apa yang kaulakukan?" Vincent Goyle bertanya pada Zabini. "Ibumu sedang menunggu kita di Flourish and Blotts? Mengapa kalian lama sekali? Bukankah kalian hanya membeli jubah?"

Malfoy memandang Rose, Suzanne dan aku dengan kening berkerut. "Rupanya ada yang menghalangi mereka, Vince. Lihat, siapa saja yang ada di sini!"

Goyle memandang kami dan berkata dengan menghina, "Oh, para Pencinta Muggle." Dia lalu memandang Zabini. "Kau seharusnya tidak membiarkan dirimu tertahan oleh mereka, Ariella."

"Aku hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku adalah Ketua Murid yang baru," kata Zabini, menunjuk lencananya. "Dan aku juga sudah menyampaikan rencana kerjaku pada mereka."

Malfoy dan Goyle memutar bola mata mereka. Aku tertawa dalam hati. Yah, Malfoy yang beberapa tahun lalu tak melewatkan kesempatan untuk mencium pacarnya di perpustakaan dan Goyle yang suka sekali mencium Eliza Parkinson di aula besar saat makan malam tak akan setuju dengan program terbaru Ketua Murid.

"Ariella, kita kan sudah membahas masalah ini. Kau tidak bisa merencanakan program apapun tanpa berbicara dengan Head Boy," kata Malfoy, dan aku setuju. "Kau sudah tahu siapa Head Boy-nya?"

"Belum, tapi aku tahu dia akan setuju dengan apapun yang aku rencanakan," kata Zabini yakin. "Programku adalah untuk Hogwarts, untuk memurnikan remaja-remaja kita yang sudah tercemar oleh ide-ide Muggle."

"Kau berkata seolah kau sendiri bukan remaja," komentar Suzanne datar.

Goyle menggelengkan kepala dan berkata, "Dia mungkin tak akan setuju, maksudku Head Boy-nya. Aku yakin tak ada cowok yang setuju dengan rencana itu."

Zabini mendelik pada Goyle. "Kau seharusnya mendukungku, kan?"

Goyle mengangkat bahu, tapi Rose berkata, "Aku akan mendukungmu, Zabini. Aku suka dengan program anti aborsi dan seks bebas. Kalau boleh aku usulkan bagaimana kalau kau juga menyiapkan therapist untuk korban pemerkosaan, lalu mengirim para pemerkosa itu ke Azkaban. Di Hogwarts banyak cowok yang memanfaatkan cewek yang tak berdaya untuk kesenangan mereka sendiri." Rose mengakhir kalimatnya dengan melemparkan pandangan jijik pada Malfoy.

Wajah Malfoy berubah pink. "Kalau yang kau maksudkan adalah aku, Weasley—"

"Entah, ya, menurutmu siapa?"

"Menurutku kau benar-benar bodoh."

"Apa?" Wajah Rose merah padam lagi.

"Cewek bodoh!" ulang Malfoy. "Kau tak mengerti hal-hal yang berhubungan dengan seks, kan, Weasley? Kalau kau paham, kau pasti tak akan menyalahkanku untuk hal yang tidak kulakukan."

"Apa maksudmu?"

"Pikirkan sendiri dengan otakmu yang seharusnya cerdas itu!"

Rose mendelik dan aku mengerutkan kening dalam-dalam mencoba memahami apa yang telah dikatakan Malfoy. Apakah Rose mengira Malfoy telah melakukan sesuatu yang tak pantas padanya, padahal sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa?

"Sudahlah, Scorpius," kata Vincent Goyle, memandang dengan mencela pada Rose. "Jangan bicara dengan cewek yang tak setia! Kau sudah rela mengorban keluargamu dan tunanganmu demi dirinya, eh, dia malah selingkuh."

"Kau bicara tentang aku, Goyle?" tanya Rose bingung.

"Siapa lagi?"

"Kukatakan padamu, aku tak pernah pacaran dengan siapapun, apa lagi selingkuh."

"Ayolah, Weasley, jujur saja! Kau mengkhianati Scorpius dengan berselingkuh, kan? Selama ini kupikir kau cewek setia, ternyata kau sama parahnya dengan Potter," kata Goyle sambil melemparkan pandangan jijik padaku.

Mengapa semua orang berpikiran buruk tentangku? Sudahlah, aku tak ada hubungannya dengan mereka.

Rose sekarang benar-benar marah. Matanya berkilat penuh kemarahan. "Aku tak berselingkuh!" dia berteriak pada Goyle, lalu memandang Malfoy dengan tajam. "Apa yang kaukatakan pada teman-temanmu tentang aku?"

Malfoy mengangkat bahu. "Beberapa hal, salah satunya adalah kita putus karena kau selingkuh."

Rose terbelalak. "Bagaimana kau bisa mengatakan kebohongan itu? Aku tak pernah pacaran denganmu!"

"Kalian dengar itu?" Malfoy memandang kami semua. "Sekarang dia menyangkalnya. Dia tak mau mengakui bahwa kami pacaran. Menurut kalian apa yang kami lakukan malam-malam di Teluk Pixy kalau bukan berkencan?"

"Jadi kau dan Rose memang berkencan seperti yang ditulis di Prophet?" tanya Suzanne.

"Benar sekali, Finnigan," kata Malfoy, lalu memandang Rose. "Tapi Weasley tak ingin mengakuinya. Dia berpura-pura semua tak pernah terjadi."

"Aku tak berpura-pura," Rose berkata pada Suzanne. "Sebenarnya, aku—aku hilang ingatan." Dia kembali memandang Malfoy dan melanjutkan, "Dan aku tak berselingkuh."

"Sama saja, kan, Weasley. Mana lebih mudah mengatakan bahwa kau telah melupakanku atau mengatakan bahwa kau berselingkuh? Bukankah kau dan Lily Potter sedang merencanakan perselingkuhan? Tahun ini kalian ingin mencari pacar, bukan?"

"Kau dengar pembicaraan kami di rumah sakit? Tapi itu belum terjadi, itu baru rencana."

"Intinya sama saja, Weasley, kau berselingkuh."

"Intinya, Malfoy, kaulah yang membuatku seperti itu. Kalau kau mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Dermot, kalau kau dan aku membicarakannya dengan tenang, aku tak akan merencanakan apapun yang membuat kesalahpahaman ini terjadi."

"Walaupun aku menceritakannya padamu, Weasley, kau tak akan percaya. Apakah kau percaya kalau aku mengatakan bahwa jiwamu keluar dari tubuhmu dan menghabiskan waktu bersamaku di Dermot? Apakah kau percaya kalau aku bilang bahwa saat kau hanyalah sesosok jiwa, kita saling mengakui perasaan kita dan mengukir kenangan kita di sana?"

Wajah Rose merah padam. Aku tahu dia tak percaya pada apa yang telah dikatakan Malfoy, dan aku juga tidak. Siapa yang mau percaya dengan omong kosong itu?

Tak menghiraukan Rose, Malfoy melanjutkan, "Aku memang tak menjanjikan apa-apa, aku tak pernah berjanji untuk masa depan kita, tapi kau mengerti. Kau berkata bahwa kita harus menjalani waktu-waktu kita dengan bahagia tanpa memikirkan masa depan. Semuanya begitu indah dan membahagiakan, Weasley. Dan kupikir semua itu akan abadi, tapi saat kau kembali ke tubuhmu, kau melupakanku. Menurutmu apa yang harus kulakukan?"

"Menurutku, Malfoy, kau sudah benar-benar gila. Kalau kau ingin menipuku, gunakan sesuatu yang lebih masuk akal. Apakah kau pikir aku akan percaya pada omong kosong yang kaukatakan?"

"Weasley, itu adalah kenyataannya, dan aku sudah tahu kau tak akan percaya."

Malfoy dan Rose saling pandang; Rose tampak marah, sedangkan Malfoy dengan sedih, atau pura-pura sedih agar terlihat meyakinkan. Siapa tahu! Aku sendiri berpendapat bahwa Malfoy hanya ingin mempermainkan Rose dengan memanfaatkan amnesia Rose.

Lalu kami semua berdiri saja di sana, tak berbicara, hanya saling pandang selama beberapa saat sampai suara keras yang melengking mirip suara anak-anak mengagetkan kami.

"Princess! Princess!"

Yang memanggil adalah seorang perempuan paruh baya yang sangat antik. Dia memakai gaun mengembang yang panjangnya sampai ke tanah berwarna hijau menyilaukan penuh dengan manik-manik warna-warni. Di kepalanya, yang memiliki rambut merah panjang, terdapat topi lebar berbulu warna kuning cerah bergambar bunga-bunga kecil warna putih. Dia memakai aksesoris kalung mutiara warna-warni yang entah asli atau palsu aku tak tahu. Pergelangan tangannya penuh gelang dengan warna yang sangat meriah, sementara dibeberapa jarinya melingkar cincin-cincin berbatu sangat besar, sehingga aku berpikir apakah jarinya tidak patah karena keberatan batu.

Perempuan itu mungkin adalah seorang peramal kematian yang membuka praktek di Knockturn Alley. Dia agak mirip Profesor Trelawney dengan rambut yang berbeda. Yah sebenarnya tidak terlalu mirip, Trelawney mirip kumbang, sedangkan perempuan ini mirip burung nuri dengan gaun hijau itu.

Sekali lagi perempuan itu memanggil Princess dengan keras. Aku melihat berkeliling, mengharapkan seekor anjing pudel kecil dengan kalung nama bertuliskan Princess akan datang berlari-lari mendapatkan perempuan itu. Tapi tak ada anjing pudel, spaniel, atau apapun, hanya ada Zabini yang memanggil, "Mother!"

Oh, jadi ini Mrs Zabini. Sungguh, aku tak tahu harus berkomentar apa. Yah, mereka memiliki rambut merah gelap yang sama. Selain itu, siapapun tak akan menduga bahwa perempuan bergaun hijau aneh ini adalah ibu Ariella Zabini.

"Oh, Princess, syukurlah kau ada di sini," kata Mrs Zabini saat tiba di dekat Zabini. "Aku sangat mencemaskanmu."

"Mother, aku kan baru pergi sebentar."

Mrs Zabini mengalihkan pandangan pada Goyle bersaudara dan Malfoy. "Kalian juga, syukurlah kalian semua ada di sini!"

"Apa yang terjadi, Mother?" tanya Zabini lagi. "Bukankah Mother menunggu kami di Flourist and Blotts?"

Mrs Zabini menggelengkan kepala. "Oh, mengerikan sekali, Sayang, para Auror di mana-mana. Mereka mengenakan seragam mereka, juga tongkat sihir ditangan masing-masing, mereka seperti Bolshevik. Dan—dan Kupikir mereka akan menangkapku dan membawaku ke Azkaban! Aku tak ingin dikirim ke Azkaban. Aku tak melakukan kejahatan sehingga perlu dikirim ke Azkaban. Dan kalau aku di Azkaban, aku tak akan menghadiri pernikahanmu, Princess. Padahal aku sudah memesan mahkota bunga. Kau ingat mahkota bunga yang kita bicarakan? Aku juga sudah memesan mahkota bunga itu untuk pengiring pengantin. Kurasa Nerissa akan jadi pengiring pengantin yang cantik dan—tentu saja ukurannya dan bentuknya akan berbeda, Sayang. Kau setuju, kan?"

Sebenarnya apa sih yang dibicarakan perempuan ini? Cepat sekali dia melompat dari topik satu ke topik yang lain.

"Mother, bukankah tadi kau berbicara tentang Auror?" tanya Zabini sabar.

Tampaknya Zabini sudah terbiasa dengan keantikan ibunya.

"Auror? Oh, ya benar, Auror di mana-mana, Sayang. Menurutku mereka akan melakukan razia di Knockturn Alley. Wajar saja, kau tahu kan tempat itu mengerikan? Dan aku cemas, aku sangat cemas, Princess.Aku ke mana-mana mencari kalian. Untung saja kalian ada di sini. Kalau kalian ada di sana, kalian mungkin sudah terjaring razia."

"Razia di Knockturn Alley? Apa maksud Anda?" tanya Rose.

Mrs Zabini memandang Rose dengan heran. "Kau siapa?"

"Namaku Rose Weasley," kata Rose cepat. "Jadi, mengapa Auror melakukan razia di Knockturn Alley?"

"Oh, kau pacar Scorpius," kata Mrs Zabini mengangguk pada Malfoy. "Scorpius meyakinkan orangtuanya bahwa dia tak berpacaran denganmu, tapi aku tahu. Tak mungkin kalian berdua pergi malam-malam ke teluk Pixy jika bukan berkencan. Ah, anak muda sekarang suka berkencan di tempat-tempat yang aneh, malam-malam lagi. Apa yang kalian lakukan di sana? Harusnya kau menunggu sampai kalian menikah dulu, kan, Scorpius? Remaja sekarang memang beda. Dan lagi, siapa namanya? Gadis itu—gadis yang dijodohkan denganmu, Scorpius. Siapa—?"

"Veronugly," jawab Nerissa Goyle yang sejak tadi diam saja.

"Veronugly?" Mrs Zabini memandang Nerissa Goyle dengan heran. "Kupikir namanya Veronica."

"Namanya Veronique," kata Vincent Goyle.

"Ya itu, maksudku dia. Rusia campur Prancis katanya. Ayah Rusia dan ibunya Prancis. Cis, Astoria memang berselera rendah. Gadis Inggris jauh lebih berkelas—"

"Mother," seru Zabini segera, sementara Rose berkata, "Mrs Zabini, tadi Anda berbicara tentang Auror."

"Benar sekali, Auror. Mereka benar-benar mengerikan! Aku sangat ketakutan—"

"Kata Anda mereka sedang melakukan razia," lanjut Rose.

"Mereka melakukan razia. Dan aku sangat mencemaskanmu, Princess, juga Scorpius, Vincent dan Nerissa. Kupikir kalian mungkin—"

"Mrs Zabini, mengapa mereka melakukan razia?"

Mrs Zabini memandang Rose sambil berpikir, lalu berkata, "Katanya sekarang Kementrian Sihir sedang gencar-gencarnya melakukan penertiban terhadap barang-barang berbahaya yang mengandung sihir hitam. Bah, menurutku itu hanya pura-pura saja. Kurasa para Auror hendak menunjukkan pada kita bahwa mereka sedang bekerja. Jaman sekarang kan tak ada lagi penyihir hitam. Tak ada kerjaan auror-auror itu. Mereka melakukan razia hanya untuk—"

Sekali lagi Rose memotong, "Tapi Anda cemas pada Zab—Ariella. Apa yang membuat Anda mencemaskannya? Maksud saya, para Auror kan hanya melakukan razia terhadap barang-barang sihir hitam."

Mrs Zabini terpana memandang Rose, sementara aku berpikir berbicara dengan Mrs Zabini membutuhkan kesabaran ekstra.

"Er yah, kau benar, mengapa aku mencemaskannya, ya?" Mrs Zabini berpikir sebentar lalu melanjutkan, "Tentu saja karena takut Ariella kena razia. Dia adalah Princess kami. Bagaimana kalau dia kena razia? Dan ditahan di kantor Auror yang mengerikan itu—"

"Tapi Ariella kan tak ada hubungannya dengan barang-barang sihir hitam," kata Rose.

"Siapa bilang Ariella ada hubungannya dengan barang-barang sihir hitam?"

"Tadi Anda bilang Anda takut dia kena razia," kata Rose, dan aku bertanya-tanya kapan pembicaraan ini akan berakhir.

"Tentu saja, aku takut dia kena razia. Yang kumaksudkan adalah razia pelajar."

"Razia pelajar? Sebenarnya mana yang benar razia barang-barang sihir hitam atau razia pelajar?

"Rose, sudahlah, ayo—" Aku bermaksud mengajak Rose mencari Lily dan Hugo, tapi Mrs Zabini berkata, "Ya itu dan itu. Selain melakukan razia barang-barang ilmu hitam berbahaya, mereka juga melakukan razia pada pelajar yang berkeliaran di Knockturn Alley. Oh, sungguh mengerikan kalau kau terjaring razia, Princess—"

Sementara Mrs Zabini berbicara tanpa henti pada Zabini, Rose dan aku berpandangan. Dari kecemasan matanya aku tahu bahwa dia mengkhawatirkan hal yang sama denganku, yaitu Lily dan Hugo yang kami kira mungkin sedang berkeliaran di Knockturn Alley.

Sincerely,

Al

PS: Aku sungguh berharap Lily dan Hugo tidak terjaring razia pelajar.


Tanggal: Minggu, 29 Agustus 2023

Waktu: 9 am

Lokasi: Godric's Hollow

Pagi ini rumah sepi, hanya ada aku. James telah berangkat ke Irlandia dua hari yang lalu, sedangkan Mom, Dad dan Lily ada di The Burrow. Kemarin setelah Lily dan Hugo terjaring razia, mereka segera dibawa dari kantor Auror menuju The Burrow. Kurasa Lily dan Hugo akan menjalani hukuman mereka di sana sampai saatnya kembali ke Hogwarts.

Aku bangun berganti pakaian dan segera menuju ke sebelah. Aku tak tahu cara memberi makan diriku sendiri, jadi aku sangat berharap Rose tahu cara menggoreng telur.

Rose sedang menikmati sarapan enak berupa telur goreng dan jus sambil membaca Daily Prohet pagi saat aku masuk ke dapur melalui pintu samping.

"Hai, Al," sapa Rose, mengangkat wajahnya dari koran. "Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."

"Terima kasih," kataku penuh syukur, lalu segera duduk di depan Rose sambil menarik telur goreng.

Rose melanjut apa yang sedang dibacanya dan aku menghabiskan sarapanku.

"Ada berita tentang Lily dan Hugo?" tanyaku, setelah dia selesai membaca.

Rose menggeleng, lalu menyerahkan koran padaku.

Aku meraih koran dan melihat bahwa halaman depannya penuh dengan berita-berita serius. Salah satunya adalah Mentri Sihir menolak suaka politik dua penyihir imigran dari daerah konflik Muggle di Timur Tengah. Para Muggle di Timur Tengah itu entah bagaimana terus saja mengalami perang saudara sejak bertahun-tahun yang lalu. Terorisme, perebutan wilayah, perebutan kekuasaan dan segala macam yang membuatku berpikir bahwa para Muggle ini sangat haus kekuasaan. Kurasa mereka tak pernah mengucap syukur untuk apa yang mereka miliki.

Dan para penyihir yang semula tinggal di sana dengan memberikan mantra perlindungan pada rumah masing-masing memutuskan bahwa sudah tidak aman lagi bagi mereka untuk tinggal di sana. Mereka memilih mengungsi di negara-negara Eropa. Tapi Mentri Sihir menolak para pengungsi untuk masuk ke Inggris dengan alasan keamanan. Mentri Sihir takut akan tersebarnya ideologi-ideologi aneh yang dibawa penyihir dari Timur Tengah ini. Menurutku, diterima-tidaknya ideologi baru tergantung dari para penyihir sendiri. Para penyihir pasti tahu membedakan mana yang baik dan tidak, mana yang membahayakan sesama manusia mana yang tidak.

Berita serius lainnya adalah berita tentang pembaharuan Undang-Undang Sihir Internasional pasal 5 tahun 1920 yang berisi larangan bagi penyihir untuk terlibat dalam konflik Muggle. Undang-Undang itu telah ditambah dengan ayat yang mengatakan bahwa penyihir dilarang terlibat dalam masalah internasional Muggle baik konflik Timur Tengah dan Afrika yang berhubungan dengan terorisme dan perebutan kekuasaan, penyakit-penyakit baru yang menyerang Muggle, perang dingin negara-negara adi daya, senjata nuklir dan sebagainya. Yah, penyihir memang tak boleh terlibat dengan masalah Muggle, nanti semua orang ingin agar semua masalah terselesaikan dengan sihir, mereka tak akan mau lagi berusaha untuk mencari solusi bagi masalah mereka sendiri.

Berita tentang razia yang dilakukan oleh para Auror ada di halaman berikutnya.

GELAR RAZIA, AUROR KEMENTRIAN SIHIR JARING BELASAN PELAJAR HOGWARTS

Dalam razia barang-barang sihir hitam berbahaya, para Auror Kementrian Sihir juga menjaring belasan pelajar Hogwarts yang ada di Knockturn Alley, Sabtu 28 Agustus 2023. Salah seorang pelajar yang terjaring mengaku bahwa dia diajak temannya untuk melihat-lihat Knockturn Alley. "Kami hanya melihat-lihat, kami tak membeli apa-apa!" kata pelajar yang tak mau disebutkan namanya itu.

Menurut David Stateman, juru bicara kantor Auror, para pelajar yang berkeliaran di Knockturn Alley itu harus ditertibkan. "Sejak muda mereka harus dibiasakan untuk menjauhi tempat yang berbahaya. Memang tak ada larangan tertulis, tapi ada peraturan tak tertulis dalam keluarga masing-masing."

Mereka yang terjaring razia diberi pengarahan di Markas Auror dan menandatangani pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Para murid akan diijinkan pulang jika orangtua/wali murid yang tertangkap itu datang untuk menjamin.

Alasan sebenarnya dari razia yang dilakukan para Auror ini adalah untuk memastikan bahwa barang-barang yang dijual di Knockturn Alley masih dalam pengawasan Kementrian Sihir. "Jika barang-barang yang dijual tidak termasuk dalam daftar tim audit kami, akan kami sita," kata David Stateman… (bersambung ke halaman 15)

Tanpa tertarik membuka halaman 15, aku segera melipat Prophet dan meletakkannya di atas meja.

"Syukurlah mereka tak menulis tentang Lily dan Hugo," aku berkomentar, dan Rose menggelengkan kepala.

"Lihat di pojok bawah sebelah kiri!" katanya.

Aku kembali meraih Prophet dan mencari berita yang dimaksudkan Rose. Berita itu hanya berita kecil disertai tabel berisi inisial nama. Judul beritanya adalah DUA BELAS ANAK PEJABAT KEMENTRIAN SIHIR TERJARING RAZIA. Sesuai judulnya, berita itu berisi daftar inisial nama anak-anak yang terjaring razia beserta inisial nama orangtua masing-masing dan departemen di mana si orangtua bekerja. Inisial nama Lily dan Hugo beserta inisial Dad dan Uncle Ron tercetak pada nomor satu dan dua. Kurasa penulis berita ini sengaja mencantumkan nama Lily dan Hugo di bagian atas karena orangtua mereka Auror.

"Tak begitu buruk," komentarku, melipat koran dan meletakkannya kembali di meja.

"Yah, kurasa Aunt Ginny melarang mereka untuk mencantumkan nama anak-anak itu," kata Rose. "Lagi pula orangtua mereka pejabat Kementrian Sihir. Lihat nomor 3! B,W itu Wendy Bell. Ayahnya merupakan salah satu dari Pasukan Penegakan Hukum Sihir."

"Ha? Apa yang dilakukannya di Knockturn Alley?"

"Diajak pacarnya, mungkin. Kau tahu cowok Hufflepuff yang tampangnya mirip kuda itu? Siapa ya namanya?"

"Maksudmu McPhail? Aku mengenalnya, dia tak mungkin tertarik dengan barang-barang sihir hitam."

"Entahlah," kata Rose. "Kita kan tak tahu apa yang mereka lakukan di sana."

Merenung sejenak, aku menyadari bahwa Knockturn Alley adalah tempat yang aman untuk berciuman tanpa menarik perhatian. McPhail dan Wendy pasti pergi ke sana untuk berciuman. Dan Rose tak perlu tahu tentang itu.

Setelah menggelengkan kepala, aku memandang berkeliling. "Uncle Ron dan Aunt Hermione juga belum kembali, ya?"

"Mereka masih di The Burrow. Mungkin malam ini baru kembali."

"Berarti Mom dan Dad juga baru kembali nanti malam." Dengan sedih memikirkan apa yang akan kumakan siang nanti, aku berkata, "Rose, kuharap kau bisa memasak."

"Yang sedang kau makan sekarang adalah masakanku, Al."

Aku memandang telur gorengku dan berkata, "Ini oke, tapi kuharap kau bisa membuat sandwich atau apapun selain telur goreng."

"Jangan meremehkan kemampuan memasakku, Al, kau tahu Lily dan aku sudah diajarkan memasak sejak umur delapan tahun."

Aku memutar bola mataku. Sebenarnya bukan diajarkan memasak, tapi diberi hukuman memasak. Di The Burrow setiap kali Dom, Lucy, Roxy, Rose atau Lily membuat masalah maka hukumannya adalah memasak karena mereka benci memasak. Tapi hukuman itu berguna, karena sekarang mereka jadi tahu bagaimana cara membuat telur goreng enak ala Grandma.

Rose mendelik padaku selama beberapa saat, lalu berkata, "Omong-omong mengapa kau tak mengatakan pada Ariella Zabini bahwa kau Ketua Murid?"

"Entahlah," jawabku. "Kurasa aku hanya tak ingin dia pulang ke rumahnya dan menulis pada Profesor McGonagall bahwa dia menolak posisi Ketua Murid hanya karena aku Head Boy. Kau tahu sifatnya, kan? Dia tak suka berdekatan dengan kita."

"Dia tak mungkin berbuat begitu," kata Rose. "Kau lihat sendiri bagaimana berapi-apinya dia menyampaikan program tahun ini. Menurutku siapapun Head Boy-nya dia tak akan peduli selama dia bisa menjalankan programnya."

"Baguslah kalau itu benar."

"Lalu Suzanne," lanjut Rose. "Apakah kau serius dengannya? Aku tak ingin kau membuatnya patah hati, Al, dia gadis yang baik."

"Apakah kau mengatakan pada Suzanne bahwa aku bisa membuatnya patah hati?"

"Ya, aku pernah memperingatkannya tentangmu. Aku bilang padanya bahwa kau tak akan serius dengannya, dan bahwa kau mungkin akan membuatnya patah hati."

"Bagaimana kau tahu aku tak serius?" tanyaku. "Rose, kau tahu aku selalu serius dengan semua teman kencanku. Aku tak pernah menyakiti mereka. Mereka yang meninggalkanku."

"Sebenarnya, Al, kau menyakiti mereka saat kau sedang berkencan dengan mereka, tapi mencium cewek lain."

"Itu tak sengaja kulakukan."

"Tak sengaja apanya?"

"Sebenarnya, Rose, cewek-cewek itu yang menciumku bukan aku yang mencium mereka. Aku sudah mengatakan bahwa aku sedang berkencan dengan seseorang, tapi mereka tetap menciumku."

Rose mendelik. "Dan kau senang-senang saja mereka melakukannya."

"Aku kan tak tahu kalau mereka akan menyerangku."

Rose memutar bola matanya. "Sebenarnya kau ini baik atau bodoh, sih, Al?"

Aku mendelik, Rose menggelengkan kepala. "Jadi, kau menyukai Suzanne?"

"Ya, aku menyukainya. Dia enak diajak ngobrol dan aku senang bersamanya."

"Kalau kau ingin hubunganmu dan Suzanne lancar, kau harus lebih tegas pada cewek-cewek yang menyerangmu."

"Yah, aku juga sudah memikirkannya. Kupikir aku harus menjaga jarak dengan cewek yang mencoba mendekatiku."

"Bagus." Rose mengangguk. "Apakah kau mencintai Suzanne?"

"Maksudmu seperti cinta James pada Selina? Entahlah, kurasa kami berdua belum berada dalam taraf tak bisa hidup tanpa yang lain. Menurutku dia akan baik-baik saja tanpa aku dan aku akan baik-baik saja tanpa dia."

"Oh…" Rose meminum jusnya dan tak berkomentar lagi.

"Kau dan Scorpius Malfoy bagaimana?" tanyaku dan Rose langsung tersedak jus.

Setelah batuk-batuk, Rose mendelik padaku. "Malfoy dan aku tak ada hubungan apa-apa."

"Tapi kau tidur dengannya."

Wajah Rose berubah sedih. "Entahlah, Al, aku tak tahu apa yang terjadi—" Dia lalu bercerita tentang apa yang terjadi di Irlandia. "—aku tak tahu apakah aku tidur dengannya atau tidak."

"Menurut Malfoy kalian tidak melakukannya."

"Semoga yang dikatakannya benar," kata Rose penuh harap.

Teringat sesuatu aku segera berkata, "Rose, kau belum cerita padaku mengapa kau meng-Avada-Kedavra dirimu sendiri."

"Itu sudah tak penting lagi—"

"Ayolah, Rose, kalau kau tak cerita, aku akan terus berpikir bahwa kau bunuh diri karena Malfoy."

"Yah, sebenarnya memang seperti itu, tapi dengan alasan yang berbeda."

"Apa maksudmu?"

Rose lalu bercerita tentang ramalan dan bagaimana dia ingin mengorbankan diri untuk Scorpius Malfoy.

Aku terpana menatapnya. "Kau benar-benar bodoh, Rose! Seharusnya kau tak percaya pada ramalan-ramalan itu. Kau lihat Malfoy baik-baik saja, kan? Untung saja tak terjadi apa-apa padamu. Untung saja kutukan kematian yang kaugunakan tak sempurna."

"Tahu tidak, Al. Aku tak menyesal melakukannya. Aku—aku sekarang tahu bahwa aku sangat mencintainya."

"Dia sudah bertunangan," kataku dengan nada penuh peringatan.

"Aku tahu, tapi entah mengapa aku merasa bahwa dia adalah miliku, bahwa kami diciptakan untuk menjadi milik satu sama lain."

Aku mendengus. "Hentikan khayalan romantismu itu, Rose! Tak ada yang seperti itu di dunia ini. Yang ada hanyalah cinta. Kalau kalian saling mencintai dan mau memperjuangkan cinta itu, kalian bisa menjadi milik satu sama lain. Tapi kalau hanya kau yang mencintainya dan hanya kau yang mau memperjuangkan cinta itu, maka itu tak akan berhasil. Hubungan kalian akan jadi hubungan yang tak sehat."

Rose mengangguk. "Kau benar, Al. Dan karena cintaku masih baru, kurasa aku bisa mengatasinya. Lagipula, Malfoy—penipu brengsek itu, tak layak jadi orang yang kucintai. Menurutmu mengapa dia mengatakan pada semua orang bahwa kami berpacaran dan putus karena aku berselingkuh?"

"Kurasa dia hanya ingin membuatmu malu dengan memanfaatkan amnesiamu. Atau mungkin saja dia ingin mempermainkanmu."

"Dasar kurang kerjaan!" geram Rose. "Tahun ini aku tak punya waktu untuk meladeni segala tingkah konyolnya. Kita harus belajar, kan? Tahun ini tahun NEWT."

"Yah, tahun ini adalah tahun yang mengerikan. Ada NEWT dan ada program aneh dari Head Girl."

"Kau harus mendukung program itu, Al," Rose mengusulkan. "Aku suka program itu. Tapi aku ragu apakah para Prefek, juga anak-anak Hogwarts akan menyukainya."

"Benar," kataku. "Kupikir tak akan ada yang setuju dengan program itu, meskipun menurutku McGonall mungkin akan setuju. Dia kan selalu setuju dengan program yang diusulkan Ketua Murid selama program itu tak membahayakan."

Rose tertawa. "Tahun ini akan jadi tahun yang menarik. Pasti Hogwarts akan heboh."

Aku menggelengkan kepala.

Rose menatapku dengan tajam. "Kau masih belum terima Neville—Profesor Longbottom tidak memilihmu sebagai kapten Qidditch?"

"Benar!" kataku geram. "Kau tahu, Rose, aku sangat ingin menjadi kapten. Aku ingin seperti Dad. Dan Neville, Neville tahu itu, aku pernah bilang padanya."

"Mungkin dia tak ingin pikiranmu terbagi antara tanggungjawab sebagai Ketua Murid dan tanggungjawab sebagai Kapten. Dan menurutku, Al, kau cocok jadi Ketua Murid, dan sepertinya Profesor McGonagall dan Profesor Longbottom juga berpikiran sama."

"Aku tak cocok jadi Ketua Murid. Dan kalau Mom tidak menghalangiku, aku mungkin sudah mengirim kembali lencana itu pada McGonagall."

Rose menggelengkan kepala.

"Dan aku tak peduli pada apapun yang dilakukan Head Girl," aku melanjutkan.

"Al, tak bisa begitu!" kata Rose segera. "Sebagai sesama Ketua Murid, kau harus ikut bertanggung jawab. Zabini tak akan membawa namanya sendiri dalam program itu, tapi nama Ketua Murid. Dan mau tidak mau kau tetap akan terlibat."

"Bisakah kita tidak membahas itu? Aku tak ingin bicara tentang Ketua Murid sekarang, Rose," kataku, lalu cepat-cepat mencari topik pembicaraan. "Menurutmu apa yang akan kita pelajari di kelas tujuh?"

Rose mengerutkan kening sesaat, rupanya dia tak ingin melepaskan topik itu. Aku menggelengkan kepala dengan tegas, dan Rose lalu berbicara tentang apa-apa saja yang mungkin akan kami pelajari di tahun ajaran baru.

Sincerely,

Al

PS: Aku tak akan peduli pada apapun yang dilakukan Head Girl. Biarkan saja dia menyusun program sebanyak-banyaknya, aku tak peduli.


Tanggal: Rabu, 1 September 2023

Waktu: 11.00 am

Lokasi: Hogwarts' Express

Keributan yang biasa, terjadi saat kereta api bergerak perlahan meninggalkan King's Cross. Anak-anak bergerak kesana kemari sambil berbicara keras dan beberapa menyeret koper masing-masing dengan berisik.

"Aku harus ke kompartemen Ketua Murid," kataku pada Rose, Lily dan Hugo saat kami sedang bergerak di koridor kereta api untuk mencari kompartemen kosong.

"Oke, Al, tapi kami belum menemukan kompartemen kosong, semua penuh," kata Rose sambil menghindari seorang anak kelas empat Ravenclaw yang hampir saja menabraknya.

"Kurasa kompartemen belakang kosong. Lurus terus, Rose!" Aku mengarahkan mereka menuju gerbong belakang kereta dan beberapa menit kemudian membuka pintu sebuah kompartemen.

"Oh…" aku berseru terkejut melihat Lysander sedang duduk di sana sambil membaca koran yang bagian depannya bertuliskan Transfiguration Today dengan huruf-huruf berwarna biru cerah.

"Lysander," Rose menyapa Lysander dengan suara datar. "Kami akan bergabung denganmu di sini." Dia masuk ke dalam kompartemen, lalu menyihir kopernya, juga koper Lily dan Hugo untuk ditempat dengan aman dalam bagasi.

"Aku tak mau di sini," protes Lily.

"Semua kompartemen penuh, Lily," kata Rose.

"Aku akan bergabung dengan Zoe dan Sally," kata Lily, lalu menarik kopernya dari bagasi.

"Tak perlu," kata Lysander berdiri, lalu menarik kopernya. "Aku yang akan pergi."

"Kau tak seperti biasanya," komentar Hugo. "Biasanya kau tak pernah mau mengalah."

Lysander mengangkat bahu, lalu berbergerak untuk keluar kompartemen. Saat akan melewati Lily, dia berhenti dan memandang Lily dengan penuh perhatian selama beberapa saat. Lalu dengan perlahan, dia mengulurkan tangan untuk menyentuh ujung rambut Lily di bagian bawah telinga kirinya.

"Padahal aku sudah mengatakan bahwa aku suka kau berambut panjang," katanya halus. "Sayang sekali, Lily Luna!" Dia menjauhkan tangannya dan berjalan keluar kompartemen.

Lily berbalik dan mendelik pada pintu kompartemen yang tertutup. "Karena aku tahu kau suka aku berambut panjang, maka aku memotong rambutku."

"Jangan pedulikan Lysander, Lily!" kata Rose. "Kalian belum cerita pada kami bagaimana kalian kena razia dan apa yang kalian lakukan di The Burrow."

"Di Knockturn Alley kami tak melakukan apapun yang melanggar hukum," kata Hugo, sementara Lily duduk di sampingnya sambil—antara sadar atau tidak—menyentuh ujung rambut yang barusan disentuh Lysander. "Kami hanya jalan-jalan. Para Auror itu sungguh keterlaluan. Mereka tak bisa membedakan murid yang berjalan-jalan dan murid yang membeli barang-barang sihir hitam. Kami dibawa ke kantor Auror dan disuruh—"

Sementara Hugo berbicara tentang apa yang dia dan Lily lakukan di kantor Auror, aku memandang Lily yang masih menyentuh ujung rambutnya sambil memandang keluar jendela. Apakah Lily menyesal memotong rambutnya?

"Tak ada Sumpah-Tak-Terlanggar," kataku segera, menghentikan Hugo yang bercerita tentang siapa saja murid-murid Hogwarts yang terjaring razia.

"Apa?" Rose, Lily dan Hugo memandangku.

"Lysander telah menipumu, Lily. Mom dan Luna tak pernah melakukan Sumpah-Tak-Terlanggar. Jadi, kau tak perlu takut akhirnya akan menikah dengannya. Kau bisa menikah dengan orang yang kaucintai."

"Benarkah?" Lily ragu sejenak, lalu tersenyum. "Oh, syukurlah, kupikir aku akan berakhir menyedihkan dengan menjadi istri Lysander."

"Bagus sekali," kata Hugo. "Jadi tahun ini kita akan fokus belajar untuk OWL tanpa melakukan riset tentang Sumpah-Tak-Terlanggar."

Mengabaikan Hugo, Lily berkata, "Jadi tahun ini Rose dan aku akan fokus mencari pacar."

"Lily—" Rose ingin protes, tapi Lily berkata, "Kau sudah berjanji akan melakukannya denganku, Rose. Lagipula semua orang sudah membicarakanmu sebagai cewek yang suka selingkuh, jadi sekalian saja cari selingkuhan."

Rose mendelik. "Aku tak berselingkuh."

Lily tertawa. "Aku mendengar anak-anak di koridor berbisik tentangmu. Kupikir Malfoy mungkin sudah menyebarkan gossip bahwa kau berselingkuh."

"Brengsek itu—" Rose lalu mengumpat Malfoy dengan kata-kata pilihannya sendiri.

"Jadi apa yang kalian lakukan di The Burrow?" tanyaku untuk menghentikan Rose.

"Lily disuruh memasak sepanjang hari," jawab Hugo. "Dan aku harus membersihkan kebun dari jembalang selama enam jam setiap hari."

Aku tertawa. "Bagus sekali, Hugo! Kau kan bisa sekalian berolahraga. Kau tak pernah mau berolahraga."

"Tahun ini kami akan berolahraga," kata Lily. "Kami akan ikut ujicoba tim Quidditch Slytherin."

Rose memandang Hugo heran. "Kau ikut tim? Biasanya kau tak pernah mau main Quidditch."

"Aku ikut karena Galleon-nya, Rose. Katanya selain piala Hogwarts, tim pemenang akan dapat beberapa Galleon."

Rose memutar bola matanya, aku mendengus lalu berdiri dan menarik koperku menuju pintu.

"Mau ke mana?" tanya Hugo.

"Ke kompartemen Ketua Murid. Kurasa aku tak akan bertemu dengan kalian lagi—"

"Sampai jumpa di Hogwarts!" kata Lily.

"Jangan terlalu santai, Al!" Rose memberi peringatan. "Kau harus bertanggungjawab, kau kan Ketua Murid!"

"Sampai ketemu di Hogwarts, Rose," kataku, lalu keluar sambil membanting pintu kompartemen.

Kompartemen Ketua Murid terletak di gerbong depan, dan kompartemen itu kosong saat aku masuk. Tak ada Zabini. Dia mungkin masih di kompartemen lain bersama Malfoy dan kakak beradik Goyle. Aku menaruh koperku di bagasi dan duduk sambil memikirkan apa yang akan kulakukan sebagai Ketua Murid. Selama liburan aku tak memikirkan apapun yang ada hubungannya dengan Ketua Murid. Aku tak punya rencana-rencana, dan tak menyiapkan program seperti yang dilakukan Zabini dengan bersemangat. Aku mungkin hanya akan melakukan apa yang telah dilakukan Ketua Murid tahun lalu; mungkin membuat proposal untuk pesta Halloween bulan Oktober nanti dan proposal pesta Valentine untuk bulan Februari. Benar kata Rose, sampai sekarang aku masih belum bisa terima Neville tak memilihku sebagai Kapten Quidditch Gryffindor.

Pintu kompartemen terbuka dan Suzanne masuk sambil tersenyum ceria.

"Al," sapanya, lalu langsung memeluk dan menciumku.

Kami saling melepaskan diri setelah beberapa saat dan dia bertanya, "Mengapa kau tak bilang padaku kau Ketua Murid?"

"Aku lupa, banyak kejadian tak terduga."

"Tadi aku ke kompartemen Rose dan katanya kau ada di sini," katanya. "Seharusnya kau bilang sejak awal, aku kan bisa membanggakanmu di depan Zabini. Omong-omong, dia di mana?"

"Entahlah," jawabku. "Kurasa sebentar lagi dia datang. Tidakkah lebih baik kau pergi?"

"Oh, jangan mengusirku sekarang, Al, aku masih ingin bersamamu," katanya, lalu kembali memelukku.

Kami berciuman selama hampir sepuluh menit sampai pintu kompartemen dibuka dan suara jeritan kaget Ariella Zabini mengagetkan kami.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Zabini berbicara dengan suara tinggi. "Dasar murahan! Keluar!"

Setelah melepaskan Suzanne, aku berkata, "Kami hanya berciuman. Tak ada larangan untuk berciuman di kompartemen, kan?"

"Hanya berciuman?" Zabini tampak jijik. "Setelah berciuman lalu apa yang kalian lakukan? Dasar pasangan mesum! Keluar!"

Pasangan mesum? Ya ampun! Tak ada yang bisa kukatakan! Aku tak mungkin mengeluarkan tongkat sihir dan mengutuknya menjadi abu, kan?

"Jangan pedulikan pelacur sok suci itu, Al," kata Suzanne, lalu mencium pipiku. "Sampai jumpa di Hogwarts!"

Sementara Suzanne melangkah ke pintu kompartemen, wajah Zabini merah padam karena marah.

"Apa katamu, Finnigan? Kau bilang aku apa?"

Suzanne berhenti sesaat. "Aku bilang kau pelacur sok suci."

"Kau!" Zabini tampaknya tak mampu berkata-kata saking marahnya. "Potong lima puluh—"

"Suzanne, pergilah!" kataku segera, sebelum Zabini memotong lima puluh angka Gryffindor bahkan sebelum tahun ajaran baru dimulai.

Suzanne keluar sambil membanting pintu.

"Pelacur? Dia menyebutku pelacur? Bukankah itu dia? Dia yang tidur dengan semua laki-laki yang ditemuinya. Cewek rendahan! Dan kau, Potter, bagaimana kau bisa berpacaran dengan cewek seperti itu? Yah, kalian berdua sama-sama murahan!"

Aku mengangkat bahu. Tak peduli lagi! Terserahlah Zabini mau menyebutku apa. Karena apapun perkataannya padaku aku tak mungkin sampai hati balas menghina atau memantrainya. Apapun yang dia pikirkan tentang aku, itu urusannya sendiri.

"Sudahlah," kataku, menenangkan. "Suzanne sudah pergi. Kau tak ingin hari pertamamu sebagai Ketua Murid dirusak olehnya, kan?"

Zabini mendelik padaku. "Kau, Potter, apa yang kaulakukan di sini? Sebaiknya kau keluar sekarang!"

"Mengapa aku harus keluar?" tanyaku bingung.

"Ini bukan tempatmu. Apakah kau tak bisa membaca? Di pintu tertulis ini kompartemen Ketua Murid."

"Jadi?" tanyaku lagi.

"Jadi, kau tak berhak ada di sini, jika kau bukan Ketua—" Zabini berhenti bicara dan memandangku dengan terpana. "Oh, tak mungkin! Tak mungkin kau—"

"Ya, aku adalah Ketua Murid yang baru," kataku, mengeluarkan lencana merah Ketua Murid yang selama ini tersimpan dalam kantong jeansku, dan menyematkannya pada dada kiri sweater turtleneck hijauku.

Zabini terbelalak memandang lencanaku selama beberapa saat, sebelum berkata, "Aku tak menduga cowok rendahan sepertimu bisa dipilih sebagai Ketua Murid. Yah, pasti ini ada hubungannya dengan koneksi. Kau anak Harry Potter dan keluargamu mengenal Profesor McGonagall."

Ini sudah keterlaluan! Sesabar-sabarnya aku, pasti ada batasnya. Apakah aku harus meninjunya atau memantrainya dengan Mantra Diam sehingga dia tak perlu bicara selama beberapa waktu? Oke, tak mungkin aku melakukannya! Unjuk kekuatan pada makhluk lemah seperti cewek, bukan sesuatu yang akan kulakukan.

"Terserahlah, Princess. Pikirkan apapun yang ingin kaupikirkan!" kataku, lalu membaringkan diri di kursi. Aku ingin tidur dulu, masih ada beberapa waktu sebelum pertemuan dengan para Prefek.

"Potter!" panggil Zabini lima menit kemudian.

Membuka mata, aku melihatnya sudah duduk dengan nyaman di depanku. "Apa?"

"Aku ingin bicara denganmu."

"Bicara saja, aku mendengarkan."

"Kau kurang sopan, Potter!" katanya tajam. "Bagaimana aku bisa bicara denganmu kalau kau tidur?"

"Oke, oke…" Aku duduk dan memandangnya. "Bicaralah!"

"Begini, Potter, kau sudah tahu bahwa aku telah menyiapkan program untuk Hogwarts tahun ini—"

Aku bersandar di kaca jendela dan memandang keluar jendela, sementara Zabini memaparkan program anti seks bebas dan anti aborsi yang pernah dikatakannya di Diagon Alley.

"—jadi sesuai tujuannya, program ini akan memurnikan Hogwarts dari segala perilaku kotor yang seperti Muggle."

Aku mengangguk, lalu menguap.

"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Zabini, setelah mendelik.

"Sejujurnya aku tak suka dengan program yang kaurencanakan—"

"Aku sudah tahu kau akan bilang begitu," katanya. "Cowok rendahan, penganut seks bebas pasti akan bilang begitu."

Mengabaikannya, aku segera bertanya, "Apakah kau pernah memikirkan segala kerepotan yang harus dilakukan, jika kau merencakan sebuah program?"

"Kerepotan?" Zabini mengerutkan kening. "Tak akan ada kerepotan, Potter. Yang akan kulakukan hanyalah mengawasi perilaku murid-murid Hogwarts. Memastikan mereka tak berciuman atau berhubungan seks di tempat umum. Memastikan bahwa tak ada murid perempuan yang menghabiskan malam di kamar murid laki-laki. Dan memastikan bahwa tak ada murid Hogwarts yang menyimpan barang-barang berbau pornografi."

"Menurutku itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga."

"Apa maksudmu?"

"Dengar, kalau kau mengadakan razia anti-pornografi, kau harus tahu mantra-mantra penangkal untuk mantra yang dipakai murid Hogwarts untuk menyembunyikan buku porno mereka. Aku yakin sekali kau tak tahu mantra-mantra seperti itu. Dan kau tak mungkin pergi ke semua asrama untuk melihat apakah ada murid perempuan yang tidur di kamar murid laki-laki. Tak mungkin juga kau berkeliling Hogwarts untuk memastikan tak ada murid yang berciuman di koridor."

"Ada empat Prefek di setiap asrama, tugas mereka adalah membantu Ketua Murid mengawasi asrama masing-masing."

"Kau yakin mereka akan membantumu?"

"Tentu saja mereka akan membantuku. Dan kau juga, kau juga akan membantuku, kan? Kau Head Boy."

"Tidak, aku tak akan membantumu."

"Apa?"

"Itu adalah programmu. Silakan kau melakukan apapun yang kaurencanakan, dan aku melakukan apapun yang aku rencanakan."

"Apa yang kaurencanakan?"

"Aku merencanakan untuk tak melakukan apa-apa. Aku hanya akan memberi pengarahan pada para Prefek dan melakukan patroli jam malam seperti yang selalu dilakukan Ketua Murid. Aku tak akan menambah pekerjaanku dengan mengurus urusan orang lain. Mereka mau punya barang-barang berbau pornografi, mau berciuman, mau berhubungan seks sebelum nikah, itu urusan mereka. Tak ada hubungannya denganku. Selama mereka tak melanggar peraturan yang sudah ada di Hogwarts, aku tak akan peduli."

Zabini tercengang memandangku selama beberapa saat. "Kau tak berperasaan, Potter!" katanya sesaat kemudian. "Kau tak peduli pada generasi muda penyihir. Apakah kau tahu dampak pornografi bagi remaja? Pornografi merusak lima bagian otak manusia. Lebih berbahaya dari ramuan berzat addictive yang dijual di Hog's Head. Pornografi adalah awal dari segala kejahatan."

Aku mengangkat bahu.

Zabini menggelengkan kepala. "Aku tahu aku memang tak bisa berharap banyak darimu. Tapi aku akan menjalankan program ini, walaupun tanpa bantuanmu."

"Oke," kataku. "Masih ada yang ingin kaukatakan? Kalau tidak, aku mau tidur."

"Masih, Potter. Aku ingin kau mengembalikan liontinku."

"Liontin?" Aku benar-benar lupa tentang liontin sialan itu.

"Liontinku, Potter. Aku tahu liontin itu ada padamu."

"Aku sudah bilang liontin itu tak ada padaku."

"Potter—"

"Aku tak ingin bicara tentang liontin. Maaf, aku mau tidur." Aku membaringkan diri di kursi dan memejamkan mata.

Setelah beberapa detik, aku membuka mata dan melihat Zabini sedang mendelik padaku.

"Bangunkan aku saat makan siang!" kataku.

"Memangnya aku peduli!"

"Kalau kau ingin pertemuan pertama dengan para Prefek tanpa dihadiri Head Boy—" Aku sengaja mengakhiri kata-kataku di situ dan memejamkan mata. Ya, pilihannya ada padanya. Kalau dia tak membangunkanku, aku tak peduli, aku malah bersyukur tak perlu menghabiskan menit-menitku yang berharga untuk tidur dengan para Prefek yang selalu mau mencampuri urusan orang.

Sincerely,

Al

PS: Aku tahu Zabini tak akan menyerah tentang liontin ini. Apakah aku harus mengatakan padanya yang sebenarnya? Tapi aku sudah berjanji pada Malfoy untuk tak mengatakan apapun. Meskipun aku tak menyukai Malfoy, janji tetaplah janji.


Tanggal: Rabu, 1 September 2023

Waktu: 1.15 pm

Lokasi: Hogwarts' Express

Zabini membangunkanku saat makan siang dan kami makan siang bersama tanpa banyak bicara. Sebenarnya kami tak bicara sama sekali. Aku tak mengeluh karena memang tak ada yang perlu dibicarakan. Dan aku juga tak ingin berakrab-akrab dengannya karena aku tahu dia akan meremehkanku seperti biasa.

Setengah jam kemudian, para Prefek kelas enam, juga prefek baru dari kelas lima berkumpul di kompartemen kami.

Zoe siapa—aku lupa nama belakangnya, yang dulu pernah kami jodohkan dengan Fred, merupakan Prefek baru Slytherin. Dia terus tersenyum padaku sejak masuk kompartemen bersama seorang cowok suram. Aku, yang memang pada dasarnya suka tersenyum, segera balas tersenyum.

"Bagus sekali, Potter!" bisik Zabini, yang sekarang duduk di sampingku. "Kau tak pernah melewatkan kesempatan untuk tebar pesona, kan?"

"Apa maksudmu?" aku balas berbisik.

"Kau tahu maksudku."

"Aku mengenalnya karena itu aku tersenyum padanya. Apakah kau mengharapkan aku untuk bertampang serius sepanjang—"

"Oke, masih ada yang kita tunggu?" Zabini berbicara keras untuk menghentikanku.

"Kurasa tak ada," jawab Pye, Prefek kelas enam Ravenclaw, memandang berkeliling. "Empat Prefek Gryffindor, empat Hufflepuff, empat Slytherin dan kami berempat. Semua sudah ada di sini."

"Baik," kata Zabini, lalu berdiri. "Selamat siang semua, namaku Ariella Zabini dan dia—" dia mengangguk padaku. "Albus Potter, kami adalah Ketua Murid yang baru. Kami berharap kita semua dapat bekerjasama dengan baik tahun ini. Selanjutnya silakan memperkenalkan diri—"

Semua orang memperkenalkan diri, lalu kami masuk pada inti pertemuan ini, yaitu pembagian tugas menjaga keamanan dan ketertiban dalam kereta api dan pembagian tugas patroli jam malam di Hogwarts.

"Aku sedang membuat program baru untuk Hogwarts tahun ini," kata Zabini, setelah selesai membahas tentang tugas para Prefek. "Aku akan membicarakannya dulu dengan Profesor McGonagall malam ini, dan setelah disetujui aku akan membahasnya dengan kalian pada rapat Prefek pertama kita besok di ruang rekrerasi Ketua Murid—"

"Di mana?" tanya seorang Prefek kelas lima dari Ravenclaw. Aku lupa siapa namanya, aku tak begitu memperhatikan saat mereka memperkenalkan diri.

"Di lantai enam di belakang lukisan Garovick si Buta dan anjingnya," jawab Zabini.

Saat menjadi Prefek kami memang sering melakukan pertemuan di ruang rekreasi Ketua Murid.

"Jadi, apa program yang sedang kaurencanakan?" tanya Abercrombie. Dia adalah Prefek kelas enam Gryffindor dan aku tak begitu menyukainya. Menurutku, dia salah satu dari para penganut seks bebas, seperti yang dikatakan Zabini.

Zabini mengangguk lalu membeberkan program yang direncanakannya, dan semua Prefek terpana memandangnya seperti baru pertama kali melihatnya.

"Ini bercanda, kan?" Abercrombie menoleh padaku dan aku pura-pura tertarik pada bukit hijau di luar jendela. "Apakah ini cara baru untuk menyambut Prefek baru?"

"Tidak—" Zabini mulai, tapi Gambol, Prefek kelas enam Slytherin berkata, "Program itu gila. Tak mungkin ada yang setuju."

"Kita akan ditertawai. Murid-murid Hogwarts tak lagi akan menghormati kita. Prefek hanya akan menjadi sekedar nama."

"Tidak begitu—" Zabini mulai lagi, tapi semua Prefek bicara pada satu sama lain dan tak menghiraukannya.

Aku sudah tahu akan seperti ini. Tak ada yang akan setuju dengan program ini.

"Dengar—" Zabini mencoba lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras, tapi sekali lagi semua Prefek tak menghiraukannya. Semua mengkritik program Zabini dan mencela bahwa itu hanya akan membuang-buang waktu.

"Tak ada yang membuang-buang waktu! Program ini—"

Tapi tak ada yang mendengarkan Zabini. Aku menggelengkan kepala dan berkata keras, "Semua tenang!"

Kompartemen hening dan semua memandangku.

"Lanjutkanlah!" kataku pada Zabini. "Kau belum selesai menjelaskan tentang program itu, kan?"

Zabini mendelik padaku, lalu melanjutkan apa yang ingin dikatakannya. Dan aku beberapa kali memberikan pandangan tajam pada Abercombie, Gombel dan Pye agar mereka tak menginterupsi perkataan Zabini.

"—dan jika disetujui, besok saat rapat kita akan membahas apa-apa saja yang harus kita lakukan," Zabini mengakhiri pemaparannya dengan lega.

"Kalau disetujui," kata Abercombie. "Kalau begitu kita masih punya harapan bahwa program ini tak akan disetujui." Dia memandang Gombel dan Pye yang mengangguk setuju.

Beberapa detik kemudian, semua Prefek berjalan keluar kompartemen dengan tak puas. Mereka mengeluh dalam bisikan, sementara Abercombie, Gombel dan Pye mengeluh dengan sangat keras membuat Zabini mendelik pada mereka.

Zoe adalah Prefek terakhir dalam kompartemen. Dia mendekatiku sambil tersenyum.

"Hai, Al!" katanya. "Boleh aku memanggilmu Al, kan? Aku Zoe Crouch, teman Lily. Kau mungkin tak ingat, tapi aku pernah—"

"Aku tahu," kataku segera. "Lily sering berbicara tentangmu."

"Benarkah?" Dia tampak heran.

"Ya…" kataku.

"Oh…"

Lalu kami hanya berdiri saja di sana, saling pandang. Zoe tampak salah tingkah dan wajahnya memerah. Aku berpikir apakah dia ingin mengatakan sesuatu. Kalau melihat caranya memandangku, kurasa dia mungkin ingin memintaku melakukan sesuatu. Mungkin dia ingin memintaku jadi pacarnya. Mungkin saja. Setelah beberapa tahun berkencan dengan banyak cewek, aku tahu cewek yang ingin mengajakku kencan biasanya tingkahnya seperti ini. Tapi aku tak boleh menarik kesimpulan dulu, siapa tahu dia hanya ingin aku menemaninya berlajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.

"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanyaku sambil tersenyum ramah untuk memberinya dorongan.

"Er, yah, aku ingin mengucapkan selamat sudah terpilih jadi Ketua Murid," katanya cepat, lalu mengalihkan pandangan saat aku memandangnya.

"Oke, terima kasih," kataku, terus tersenyum ramah.

"Er, aku—aku senang kau Ketua Murid," katanya, lalu secepat kilat memberikan kecupan singkat di pipiku.

Aku hanya bisa terpana.

"Sampai jumpa di Hogwarts," katanya dengan wajah memerah, lalu berjalan keluar.

Yah, aku sudah menduganya. Zoe ternyata menyukaiku. Apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin menolaknya. Dia begitu sopan dan manis saat mengatakan bahwa dia senang aku adalah Ketua Murid. Aku tak mungkin menolak cewek yang sudah begitu sopan menyatakan perasaannya, kan?

"Kau memang hebat, Potter!" kata Zabini sinis beberapa saat kemudian.

"Tidak juga," kataku.

"Bukankah kau sedang berkencan dengan Finnigan? Apa yang dikatakannya kalau melihat adegan tadi?"

"Aku tak tahu kalau dia akan menciumku."

"Masa?"

Dengan heran aku memandang Zabini. "Kau suka sekali mencampuri urusan orang lain, ya, Princess?"

"Aku tidak—"

"Dengar, hanya karena kau Head Girl, bukan berarti kau bebas mencampuri urusan pribadiku. Menurutku kita harus membuat batasan-batasan, aku tak ingin kau mencampuri urusan pribadiku. Kita hanya boleh berbicara tentang pekerjaan. Selebihnya kita tak ada hubungan apa-apa."

"Sebenarnya aku juga ingin bilang begitu," kata Zabini, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.

Aku memandangnya beberapa waktu lamanya dan berpikir bahwa terlepas dari segala apa yang dipikirkannya tentangku, aku tetap mengaguminya. Aku mungkin akan terus mengaguminya sebagai gadis tercantik yang pernah kulihat.

Mungkin karena merasa sedang dipandangi, Zabini menoleh dan memandangku dengan alis terangkat. "Apa, Potter? Kau ingin mengatakan sesuatu?"

"Ya," kataku mengangguk. "Kau adalah gadis tercantik yang pernah kulihat, tahu tidak?"

Wajah Zabini bersemu merah sampai ketelinganya. "A-apa? Kau bilang apa?"

"Aku bilang kau adalah gadis tercantik yang—"

"Kau—jangan bilang begitu!" katanya, lalu berlari keluar sambil membanting pintu kompartemen.

Aku terbengong-bengong memandang pintu kompartemen yang tertutup. Apa sih yang kulakukan? Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan, kok reaksinya seperti itu. Bukankah sudah sewajarnyalah kalau dia bilang terima kasih atas pujianku? Ah, mungkin reaksinya tak ada hubungannya dengan apa yang kukatakan. Dia mungkin ingin ke kamar mandi atau punya urusan penting yang harus diselesaikan secepat mungkin.

Sincerely

Al

PS: Kurasa hari pertama sebagai Ketua Murid tidak terlalu buruk.


Review, ya, sampai jumpa di KNG 10 chapter 3!

RR :D