Gara-gara Anime Horror

.

Chapter 2. Efek Samping.

Suara gemerecik dan semburan air terdengar dari balik pintu kamar mandi yang terletak di dalam kamar yang ditempati oleh Blaze dan adik kembarnya, Thorn.

Sementara di depan pintu kamar mandi berdirilah Gempa yang malam itu sudah berbaju armless hitam dan bercelana pendek. Kalau tidak harus terpaksa menemani kedua adiknya itu, Gempa lebih suka tidur bercelana pendek saja atau bercelana dalam saja.

Terlihat Gempa sudah tidak sabar. Ia berdiri bersandar pada dinding di sebelah kamar mandi itu dengan tangan terlipat sembari menghentak-hentakan ujung jari kakinya. "Cepetan sedikit mandinya, Blaze... aku udah ngantuk nih!" Ketus Gempa yang mulai tidak sabar.

Tidak lama setelah ditegur, Blaze keluar dari kamar mandi. Tanpa handukan lagi dan dengan badan yang masih basah kuyup, ia langsung berpakaian, tanktop seperti biasa dan celana pendek.

Gempa hanya bisa menghela napas yang berat ketika ia sudah berada di atas ranjang dan diapit oleh kedua adiknya. Blaze disebelah kiri dan Thorn yang malam itu berbaju armless hijau tua di sebelah kanan. Untunglah AC di kamar itu cukup kuat sehingga kamar itu tidak sumpek dihuni tiga orang sekaligus.

"Thorn, matikan lampunya dong. Mataku silau..." Gempa berbisik pada adiknya yang kebetulan tidur berdempetan dengan tembok kamar dan dekat dengan sakelar lampu kamar.

"Ngga mau... Thorn takut!" Thorn yang dimintai tolong langsung protes dan memeluk lengan kakaknya itu erat-erat seperti guling.

Gempa mendengus pelan dan menoleh ke arah kiri. "Blaze-"

"Ngga!" Bahkan Gempa belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Blaze langsung memotong ucapan kakaknya dan mempererat pelukannya pada lengan si kakak. Persis seperti Thorn yang berada di sisi yang berlawanan

Gempa yang terhimpit oleh Blaze dan Thorn hanya bisa merutuki nasibnya malam itu, apalagi ketika kakinya ikutan dililit dan dijepit oleh kedua adiknya. 'Astaga... Aku merasa seperti dipasung.' Gempa membatin sembari meneguk ludah. Dicobanya untuk menarik tangan dan kakinya lepas dari pelukan kedua adik-adiknya namun tidak berhasil. Kedua adiknya memeluk kedua lengan dan kakinya seperti guling dengan sangat kuat. 'Aku... Ngga bisa gerak samasekali! Taufan, Hali, TOLONG!' Jerit Gempa yang menangis pilu dalam hati karena hanya bisa berbaring terlentang tanpa bisa bergerak dan kedua matanya terasa silau karena cahaya lampu kamar tidur adik-adiknya itu.

Sementara di kamar lain...

Taufan baru saja masuk kedalam kamar yang berbagi dengan Halilintar dan Gempa (yang sedang diculik oleh kedua adiknya). Sebetulnya ia agak heran karena malam itu Halilintar terlihat meringkuk dibalik selimut dengan lampu kamar yang menyala terang. Biasanya lampu selalu dimatikan jika Taufan, Halilintar, atau Gempa sudah tidur.

"Aneh..." Gumam Taufan sembari melepaskan baju kaus lengan pendek yang menempel di tubuhnya. Baju itu dilipatnya dengan rapi sebelum diletakkan diatas tumpukan pakaian kotornya yang juga tersusun rapi. Taufan menyempatkan diri untuk sikat gigi dan mencuci kaki seperti biasanya.

"Met tidur, Hali." Bisik Taufan seorang diri sembari mematikan lampu kamarnya itu dan menghempaskan diri keatas ranjangnya yang posisinya memang dekat dengat sakelar lampu kamar. Bantal ditepuk-tepuk, sebuah guling diposisikan dibelakang badan, sebuah lagi dipeluk dan terakhir selimut digelar menutupi badannya. Persiapan Taufan pergi menuju alam mimpi lengkaplah sudah.

Kedua kelopak mata Taufan yang sudah terasa sangat berat beberapa kali mengedip sebelum menutup sepenuhnya, menandakan perginya Taufan kedalam alam mimpinya.

Sayangnya...

"Ngh... Fan..." Sebuah suara lirih terdengar. "Taufan... Tolong... Gelap...Taufan... Tolong... Aku... Ditangkap."

"Ngrh..." Taufan melenguh ketika dirinya ditarik paksa keluar dari alam mimpinya yang indah karena suara-suara yang terdengar mampir di telinganya. "Hali...?" Ia mengangkat kepalanya dan menengok kearah ranjang kakaknya yang terlihat samar-samar di kegelapan kamar tidurnya.

Yang dipanggil oleh Taufan tidak menjawab dan ia memutuskan untuk kembali merebahkan kepalanya diatas bantal kesayangannya.

"Hah... Hiah... Tau... Fan... Tolong... Drakula!"

Kali ini Taufan benar-benar tersentak bangun mendengar kakak tertuanya meracau dalam tidurnya. Dalam kegelapan, Taufan meraba-raba meja belajarnya yang terletak di sisi ranjang dan menyalakan sebuah lampu meja kecil yang berada di atas meja tersebut.

Setelah ada sedikit penerangan, barulah Taufan menyibakkan selimutnya dan beranjak bangun. Dengan langkah yang perlahan-lahan dan hati-hati, ia mendekati ranjang sang kakak tertua.

Si adik hanya menggelengkan kepalanya ketika dilihat kakaknya itu pucat pasi dan sangat gelisah tidurnya. Bahkan bibirnya terlihat berkedut-kedut. Apapun mimpi Halilintar di malam itu pastilah sangat menyeramkan.

"Tolong... Aku... Fan..." Halilintar kembali mengigau dengan suara yang pilu.

"Haduh... Apa ini efek nonton anime tadi ya?" Keluh Taufan. Ia tidak tahu apa yang Halilintar mimpikan, tetapi pastinya tidak indah karena ekspresi wajah si kakak yang biasanya serius itu terlihat sangat ketakutan. Bahkan racauan mengigau Halilintar terdengar memprihatinkan.

Tidak tega dengan Halilintar yang terlihat semakin gelisah, Taufan memutuskan untuk duduk di tepi ranjang kakaknya itu. Dengan lembut dielusnya kepala sang kakak sembari berbisik. "Aku disini, Hali...".

Ekspresi wajah Halilintar yang tertidur langsung terlihat sedikit lebih tenang begitu Taufan berbisik padanya. 'Mungkin lebih baik kalau aku temani Hali...' Taufan membatin sebelum ia merebahkan diri di atas ranjang milik Halilintar.

Dengan hati-hati dan sangat perlahan, Taufan menarik Halilintar kedalam pelukannya. Sebisa mungkin diusahakannya jangan sampai kakaknya itu terbangun. Ia hanya berniat menenangkan Halilintar, bukan membangunkannya.

Masih dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, Halilintar langsung membenamkan wajahnya di dada si adik dan melingkarkan lengannya pada pinggang si adik.

Taufan yang mendadak dirangkul Halilintar yang tertidur hanya bisa meneguk ludahnya ketika ia merasakan napas hangat sang kakak menyentuh dadanya yang tidak tertutup pakaian sehelaipun.

"Taufan... Aku... Takut."

-Deg!-

Racauan Halilintar membuat jantung Taufan terasa berhenti berdetak. Belum pernah ia mendengar Halilintar mengakui ketakutan baik secara sadar ataupun tidak sadar.

Taufan menunduk dan melirik ke arah wajah Halilintar. Alangkah terkejutnya ketika ia beradu pandang dengan kedua mata Halilintar yang berkaca-kaca . Artinya ucapan kakaknya itu bukan racauan mengigau, melainkan kata-kata yang diucapkan secara sadar.

"Sudah, tidur lagi sana... Aku kan sekamar denganmu." Bisik Taufan sembari melepaskan dirinya dari pelukan Halilintar.

"Ngga, Fan... Aku beneran takut... Anime tadi..." Halilintar meneguk ludahnya dan mempererat pelukannya pada adiknya.

Taufan tidak bisa dan tidak mau melawan pelukan kakaknya karena sekarang ia tahu bahwa kakaknya yang terkenal dingin dan sadis itu benar-benar ketakutan karena anime yang ditontonnya sebelum tidur. "Tenang, Hali... Aku disini koq." Taufan kembali berbisik sembari membiarkan dirinya dipeluk erat oleh sang kakak.

Halilintar menarik napas panjang "Jangan pergi, ya? Fan?" Pinta Halilintar sembari menatap nanar pada adiknya yang tengah memeluk dirinya.

Taufan mulai kehabisan akal untuk menenangkan si kakak yang masih saja gelisah. Semua cara lembut sudah dicobanya, kecuali satu cara...

'Semoga besok pagi Hali ngga membunuhku karena ini...' Taufan membatin dan menarik napas panjang.

-cup...-

Bibir Taufan mendarat dengan lembut di kening Halilintar. "Aku sayang Hali" Bisiknya setelah mencium kening si kakak dan kembali mengelus-elus kepala kakaknya itu.

"Ta.. Taufan?" Halilintar melirik keatas sembari meneguk ludahnya. Ia tidak percaya bahwa adiknya baru saja mencium keningnya

"Ya, Hali?" Taufan menatap kakaknya tanpa berkedip sembari tersenyum. "Kesayanganku..."

Halilintar tidak melawan ketika lengan Taufan melingkari pinggangnya dan menarik dirinya lebih dekat lagi. Ia hanya berpasrah diri saja ketika tangan Taufan yang terasa lembut itu menahan kepalanya.

Kedua kelopak mata Halilintar mendelik ketika ia merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Taufan. Lenguhan lembut mengalun dari tenggorokan Halilintar ketika bibirnya itu dikulum dan dilumat dengan lembut oleh Taufan.

Cumbuan keduanya berakhir ketika Halilintar mulai berontak karena kehabisan napas.

"Huah... Ufan?" Lirih Halilintar disela-sela tarikan napasnya. Sorot mata Halilintar yang biasanya tajam itu terlihat sendu dan seluruh badannya terasa lemas setelah menyadari dirinya baru saja dicumbui oleh Taufan.

"Ssst...Hali, tidurlah... Aku disini untukmu" Bisik Taufan dengan lembut sebelum kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Halilintar.

"Ngh..." Halilintar hanya melenguh pelan saja ketika dirinya ditarik kedalam cumbuan lagi oleh Taufan. Sekarang sekujur tubuhnya benar-benar terasa lemas tak berdaya.

"Tidurlah, Hali, Pikachu kecilku yang manis..." Kembali Taufan berbisik sembari mengelus kepala kakaknya dengan lembut.

Kali ini Halilintar langsung tertunduk dan membenamkan wajahnya kembali pada dada Taufan. Dalam hitungan detik saja dengkuran lembut terdengar dari sang kakak yang tertidur pulas.

"Akhirnya... Maaf ya Hali... Daripada kita berdua ngga ada yang bisa tidur..." Gumam Taufan dengan lembut sembari membiarkan dirinya menjadi guling sekaligus selimut bagi Halilintar.

Dipandanginya sang kakak yang begitu damainya tertidur. Halilintar yang biasanya begitu menakutkan, galak dan pemarah terlihat seperti seekor anak kucing dalam dekapan Taufan.

Dan saat itu pula sebuah seringai setan melintas di bibir Taufan. "Hm... Ini bisa jadi kartu as-ku untuk menundukkan Halilintar...". Tekad Taufan sudah bulat dan niatnya mantap begitu ia yakin bahwa Halilintar sudah tertidur pulas. Tanpa ragu-ragu, Taufan menggeser dirinya sedikit turun dan menempelkan bibirnya pada leher Hallintar.

.

Keesokan paginya...

.

'Aneh... Kenapa aku mimpi dicium Taufan semalam?... Lalu... Kenapa aku mencium bau badan Taufan? Ja... Jangan-jangan?!' Halilintar tersadar dari alam mimpinya dan perlahan-lahan membuka kelopak kedua matanya.

Butuh waktu bagi kedua mata Halilintar yang baru saja tersadar itu untuk fokus. Alangkah terkejutnya ia ketika hal pertama yang terlihat adalah Taufan yang telanjang dada tertidur di hadapannya. Atau lebih tepatnya Halilintar menemukan dirinya di dalam dekapan Taufan. "Ta... Taufan?"

"Huaaahh..." Taufan yang sebetulnya sudah bangun langsung meregangkan seluruh tubuhnya. "Pagi, Hali. Kenapa kamu gugup begitu?"

"Ka.. Kamu, telanjang dada? Semalam?... A.. Apa yang terjadi?" Halilintar mulai panik, apalagi ketika melihat senyuman yang perlahan mengulas di wajah Taufan.

"Masa kamu lupa, Hali?" Taufan melempar senyum kepada kakaknya yang terlihat semakin gugup itu. "Pikachu kecilku yang manis?" Sebuah kedipan mata penuh arti diisyaratkan kepada kakaknya itu.

Halilintar langsung terduduk bangun dari tidurnya dan berusaha menjauh dari Taufan yang tengah tersenyum manis kepadanya "Ja... Jadi... Semalam itu... Bukan mimpi?!"

Taufan hanya terkekeh saja sembari mendorong dirinya bangun dari ranjang milik Halilintar dan beranjak menuju kamar mandi. "Bukan..." Taufan menunjuk kearah leher Halilintar. "Periksa lehermu, karena kamu sekarang milikku, Halilintar."

Panik bukan main, Halilintar langsung melompat turun dari ranjangnya dan mencari cermin terdekat. "Alamak... Aku dicumbu... Dimiliki oleh adikku sendiri..." Keluhnya dengan suara yang lirih ketika memeriksa lehernya yang berhiaskan bercak biru kemerahan.

Saat itu juga Halilintar bersumpah tidak akan lagi menonton video horror apapun bentuknya...

.

.

.

Tamat.