Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo, OOC, Gaje dan kesalahan di sana-sini, crack pair, alur lambat
Ide pasaran
Pair
SasuIno
.
.
.
.
.
"Huh , menyebalkan sekali"Ino menggerutu saat mengayuh sepeda menuju sekolah barunya. Tadinya ia berniat memulai sekolah lusa, dia ingin bersantai-santai memanjakan tubuhnya terlebih dahulu. Sebelum memulai aktivitas yang menyebalkan yaitu belajar dan bertemu guru-guru yang membosankan serta siswa-siswi yang mengutamakan kepopuleran, menyombongkan harta kekayaan orang tua mereka.
Ino mulai memasuki area sekolah barunya, di lihat sekitarnya.
"Not bad"Gumam Ino. Gadis itu mulai memakirkan sepedanya di kumpulan sepeda lainnya. Di lihat sekali lagi sekolah yang akan menjadi tempatnya belajar untuk 2 tahun kedepan.
Sekolah itu terbagi menjadi 4 bangunan besar dan luas, dua saling berhadapan di sisi timur dan barat dengan lima lantai yang menjulang tinggi. Bangunan ketiga ada di belakang bangunan bagian timur. Satu bangunan lagi agak terlihat paling depan saat pertama kali masuk gerbang sekolah terlihat lebih megah dan panjang meskipun hanya berlantai dua. Terpampang jelas nama International High School of Tokyo
Penampilan Ino hari ini cukup simple. Dia mengikat rambutnya tinggi, poninya ia jepit agar tak menghalangi penglihatannya headset putih yang masih setia di telinganya. Dengan tenang dan penuh percaya diri ia memasuki koridor sekolah sesekali pandangannya menyapu kearea sekitarnya untuk mencari ruangan administrasi. Tak sampai lima menit dia sudah menemukan ruangan itu.
Langkahnya terhenti di depan bagian administrasi, menghela nafas sejenak sebelum memasuki ruangan itu, "Menyebalkan"Dengusnya.
Ruangan itu begitu tertata rapi, hanya ada 2 meja computer, sofa berwarna coklat, rak berisi dokumen-dokumen penting sepertinya, dan Ac-nya begitu dingin dan sejuk wangi citrus mendominasi ruangan itu. Mata Ino terpaku pada sosok wanita tinggi yang memakai kaca mata bulat yang besar, sepertinya wanita itu belum menyadari kehadirannya.
"Eheum, permisi"Ino mengeluarkan suara.
Wanita itu berhenti dari aktivitas menulisnya menoleh pada sumber suara ia tersenyum.
"Kau Namikaze Ino murid pindahan dari Konoha itu?" Tanya wanita itu, yang hanya di jawab dengan angukan kepala oleh Ino.
"Duduklah" Perintahnya sambil menunjuk kearah sofa coklat,
"Aku Sizune, selamat datang di School of Tokyo" Ino menyambut uluran wanita di hadapan nya.
Ino mengeluarkan amplop besar bewarna coklat pada Sizune.
"Kau mengambil kelas biasa?" Sizune bertanya dengan nada keheranan saat membaca isi amplop.
"Iyah sensei. apa ada masalah?" Ino bertanya balik, ia heran melihat wajah sensei di depannya yang berkerut.
"Tidak hanya saja.." Sizune menggantungkan kalimatnya.
"Ahh sudah lah jangan dibahas"
Ino menaikan alisnya tidak mengerti, ia memang sudah meminta persetujuan kakaknya untuk masuk kelas biasa, karna pelajarannya tidak sulit. PR-nya juga tidak banyak, kelas biasa pasti lebih santai itu lah alasan Ino masuk kelas biasa.
Kelas khusus di penuhi orang kaya dan populer Ino merasa ia bukan bagian mereka.
.
.
.
.
Ino terus melangkah mencari ruangan wali kelasnya banyak siswa-siswi yang memperhatikanya,
"menyebalkan" Dia sangat benci menjadi pusat perhatian, kepalanya masih memikirkan perkataan Sizune sebelum dia melangkah keluar.
"kau harus menemui wali kelas mu terlebih dahulu, namanya Furukawa Shion ruangannya ada di sebelah kiri kedua setelah ruangan ini. Da akan memberitahu mu masuk kelas apa, dan dia akan menjelaskan tentang sekolah ini secara rinci, selamat bergabung di School of Tokyo"Sizune tersenyum ramah.
Ino mengaangguk mengerti, lalu dia membukukkan badannya "Terimakasih"Ucapnya.
Ino beranjak meninngalkan ruangan itu, saat tangannya mulai menyentuh peganggangan pintu gerakakannya terhenti.
"Apa perlu aku mengantar mu Ino-chan?"
Ino melirik Sizune sesaat "Tidak perlu sensei, terimakasih"
"Baiklah, jika kau membutuhkan informasi apa-apa datanglah pada ku, dan untuk Shion jangan terlalu mendengarkan perkataannya".
Ino memasang tanda tanya besar di wajahnya, keningnya yang saling bertaut aneh memandangi guru muda di hadapannya, tidak mengerti maksud perkataannya barusa.
"kau akan tahu sendiri setelah bertemu orangnya" Lanjut Sizune dia segera berdiri untuk kembali menuju meja kerjanya.
Ino memasuki ruangan yang begitu kecil dari ruangan Sizune sebelumnya, tetapi kerapihannya hampir sama dengan ruangan sizune.
"Kau murid beasiswa itu?" Ucap wanita itu penuh penekanan. Pandanganya tidak beralih dari layar computer sedikit pun.
Ino menautkan alisnya dia tidak suka dengan perkataan wanita di hadapan nya barusan .
Apa lagi dengan penampilan nya yang tidak mencerminkan seorang guru, wanita berambut pirang itu hanya mengenakan t-shirt hitam dipadu rok ketat lima sentimeter di atas lutut berwarna senada di balik raglan coklat mudanya yang sengaja tak di kancing.
Ino semakin mengerutkan dahi begitu menyadari guru muda di hadapannya menatapnya dengan intens, meneliti penampilan Ino dari atas sampai bawah. Diiringi sebuah seringai bercampur dengusan sebal yang menghiasi bibir polos tanpa polesannya, belum Ino menjawab perkataannya wanita itu sudah kembali berucap.
"Karna kau murid beasiswa aku tidak jadi memasukan mu ke kelas ku, aku tidak ingin kelas platinum 1 kelas yang terbaik di antara kelas biasa lainnya tercemar oleh mu. Jadi kau akan ku masukkan ke kelas platinum 2, sebentar lagi wali kelas mu akan datang menjemput mu" Terangnya cepat yang membuat Ino menekukan wajahnya dan dihiasi perempatan. Giginya mulai bergemeletuk, dia tidak terima dengan ucapan wanita di depannya.
Dia pikir dirinya siapa? Murid beasiswa huhh?
Kelas biasa? Bahkan jika aku mau aku bisa masuk kelas khusus golden
Matrealitis sekali dirinya, sekarang aku mengerti kenapa Sizune-sensei berkata seperti tadi,
bersabar lah Namikaze Ino jangan merusak hari pertama mu, .
Jangan membuat diri mu menjadi pusat perhatiaan sekolah nantinya, karna itu sungguh menyebalkan
Kriettt,
Suara pintu terbuka sukses membuyarkan aksi melamun Ino.
"Ahhh, Matsuri ini murid beasiswa yang ku ceritakan kemarin , hey ssebaiknya kau cepat keluarkan anak ini dari ruangan ku".
Ino membulat kan matanya sempurna dia sudah ingin mencaci maki guru di hapadannya , kalau tidak saja seseorang yang langsung menarik pergelangan tangannya.
"Ba-baik Shion-san"Orang itu segera menarik Ino secara paksa.
"Heyy, apa-apaan kau? senaknya saja menarik kasar tangan ku, dan apa maksud dari perkataan wanita barusan. Berani-beraninya menghina ku, memang kenapa jika aku murid beasiswa?"Teriak Ino prustasi.
Tanpa disadari Ino, siswa-siswi yang lain memperhatikannya. Namun dirinya yang diliputi aura kemarahan. Tidak peduli sama sekali. di hentak-hentakan kakinya kelantai penuh penekanan.
Alisnya bertaut melihat ekspresi wanita di hadapannya, tubuhnya bergetar, wajah polosnya pucat pasi.
Ino menghela nafas sejenak. Dia telah membuat sensei-nya ketakutan. Di edarkannya pandangan ke sekeliing. Murid-murid yang tadi mellihat Ino berhamburan membubarkan diri ketika di tatap Ino dengan tajam seolah-olah berkata "Apa lihat-lihat?" Dengan aura yang penuh intimidasi
"ma-maaf" ucap wanita itu nada bicaranya begitu gugup.
"Sudah lah lupakan, menyebalkan sekali"Ino mengibaskan tangan kanan nya dia tidak suka melihat ekspressi sensei-nya seolah-olah Ino adalah bibi yang menakutkan .
"Well, kau wali kelas ku? baiklah di mana kelas ku? aku sudah bosan, dari tadi harus di lempar sana-sini, memangnya aku barang"Ino kembali bersuara kalimat terakhirnya terdengar begitu sinis
"iyah aku wali kelas mu, ayo ku antar kekelas sekarang" Ucap Matsuri dengan lembut
Ino hanya mengekor dari belakang mengikuti langkah sensei-nya, yang menurutnya "not bad".
.
.
.
.
Matsuri guru yang baik dan sabar sangat malahan. Yah itulah pendapat Ino setelah hampir lima menit berjalan sambil mengobrol dengan wanita itu sepanjang perjalanannya menuju kelas barunya. Bahkan saat tadi Ino membentaknya wanita itu hanya diam dan tetap tersenyum menemaninya ke kelas. Ino pun mulai merasa nyaman dengan wanita itu.
"Baiklah Namikaze Ino, ini akan menjadi kelas barumu. Ayo
masuk!"Ucap Matsuri, Ino mengikuti wali kelas barunya memasuki kelas.
Dan begitu Ino sudah menginjakkan kaki di ruangan tersebut, kesan pertamanya tentang kelas barunya adalah "This is so BAD"! Hancur!
Hancur! Lagi-lagi ia harus menghela nafas.
TUK
TUK
Bahkan sebuah gumpalan kertas sukses mendarat di kepalanya. Sementara satu gumpalan lain berhasil dia lewati. Pemandangan yang sukses membuat kedua matanya melebar.
Beberapa siswa saling lempar kertas, beberapa lagi ada yang justru bernyanyi dan bermain musik. Tapi masih ada juga yang tertidur dan sama sekali tidak tertarik bermain dengan teman-teman mereka yang lain. Sementara para siswi tak jauh beda dengan yang laki-laki. Ada diantara mereka ikut bermain musik dengan laki-laki. Ada lagi yang bergosip hingga menambah bising kelas. Ada lagi yang justru mencoret-coret papan tulis.
Benar-benar kelas yang hancur.
"Ehem" Matsuri bersuara, Sontak saja seluruh pembuat keributan itu kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Dan suasana pun berubah menjadi sangat hening.
Barulah kali ini mereka menyadari bahwa selain sensei mereka ada seorang lagi yang mengisi ruang kelas itu. Ada yang menatapnya heran, ada pula yang menatapnya kagum entah karena apa, mungkin karna dia murid beasiswa ahh masa bodoh soal itu.
Seakan mengerti mimik para siswanya, matsuri-sensei memulai.
"Hari ini kalian kedatangan teman baru. Nah Ino, silahkan perkenalkan dirimu!"
Tanpa berlama-lama lagi, Ino berjalan ke tengah-tengah bagian depan kelas ia mulai memperkenalkam dirinya.
"Halo, namaku Namikaze Ino Salam kenal." Ino membungkuk kecil, tidak lupa senyum tipis bahkan sangat tipis yang tidak bisa di sebut senyuman malahan, hanya menarik sudut bibirnya.
Pandangannya di edarkan ke seluruh penjuru kelas.
Siswa-siswi lain tampak masih menunggu kelanjutan cerita Ino.
Yang benar saja, perkenalan singkat Ino tersebut telah membuahkan kesunyian yang berbeda dari biasanya.
Krik krik krik
Seorang Namikaze Ino gadis yang kelihatannya yang sangat ramah dan berwajah manis itu hanya mengeluarkan enam buah kata sebagai perkenalan awalnya. Membuat semua siswa plus Matsuri-sensei mengernyitkan sebelah alis dan terbengong menunggu kelanjutannya.
Tapi sayang sekali, Namikaze Ino tak berniat melanjutkan ceritanya lebih dari itu. Ino sedikitnya telah merubah suasana kelas 11 platinum-2 berbeda dari biasanya.
Akhirnya setelah lama terdiam Matsuri-sensei angkat bicara.
"Ehem! Baiklah Ino kau akan duduk di samping Tenten. Tenten! Angkat tanganmu!"
Mendengar perintah tersebut, seorang siswi yang duduk di dekat jendela mengangkat tangan.
Setelah mengangguk singkat, Ino berjalan menghampiri bangku kosong di samping gadis itu, seperti yang diminta sensei-nya.
Baru setengah perjalanannya menuju tempat duduknya, Ino sudah disuguhi bisik-bisik yang tak lain tak bukan mengenai dirinya.
"Dia murid beasiswa, dan katanya dia dari kota terpencil"
"Konoha bukan kota yang terpencil heyy, penduduknya tak kalah pandat dengan Tokyo' Ingin sekali Ino berteriak di depan wajah mereka
"Hsst.. wajahnya cantik sih, tapi sepertinya ia bukan orang yang mudah bergaul."
"Kudengar dia murid beasiswa, cara dia berjalan sombong sekali"
"Tidakkah kalian menyadarinya, matanya terlihat sangat bosan."
"Aku tidak suka. Cantiknya melebihi kita"
"Pasti dia melakukan operasi"
Cih.
"Hsst.. dia lewat tuh."
"Kurasa kepala sekolah hanya mengasihaninya"
'What the-Hh! Hh! Hh!' geraman yang keluar dari sela-sela gigi Ino yang bergemeletukan
Percuma saja berbisik pun Ino masih bisa mendengar apa yang mereka katakan. Atau pun mungkin justru mereka yang sengaja membuat Ino mendengarnya.
Ck. Ia mulai benci suasana ini.
'Menyebalkan'
harusnya dia tidak menuruti kakaknya pindah ke sekolah ini, dia lebih suka dengan sekolah yang biasa saja. Yang muridnya notaben lebih menghargai satu sama lain.
Tetapi dia juga salah karna masuk jalur beasiswa dan itu permintaannya sendiri bukan kakaknya.
Malahan Deidara memaksanya dirinya masuk kelas golden. Tetapi hatinya berkata itu akan menyebalkan jika satu sekolah tahu indentitas dirinya, Ahh itu akan merepotkannya! Dia hanya ingin kehidupan yang di jalaninya tentram, tenang tanpa hambatan.
Dan akhirnya sampailah ia di tempat duduknya. Bangku itu terletak tepat di sebelah kanan gadis itu, berada di barisan kedua dari samping, dan barisan keempat dari depan.
Tempat yang lumayan strategis. 'Tapi kenapa justru tak ada yang menempatinya?' pikir Ino.
"Hayy" Tenten menyapa Ino, tetapi mimik wajahnya Mulai ragu setelah memperhatikan Ino lekat-lekat.
'Apakah dia seperti yang orang-orang gosipkan? Ahh kau tidak boleh menilai orang dari penampilannya Tenten!'
Tenten menepis pemikiran buruk tentang murid baru di sampingnya, tak lama Senyum cerah menghiasi wajahnya dan itu tampak bersinar. Benar-benar gadis yang penuh semangat.
"Hai, aku Tenten." Tenten mengulurkan tangannya. Ino terdiam sesaat dia terus memandangi tangan Sara yang masih bergantung di udara.
"Namikae Ino" Akhirnya Ino menyambutnya.
"Mulai sekarang kau adalah temanku"Celoteh Tenten.
"Hah?" Ino terkejut mendengar kata 'teman'.
Seketika pikirannya di penuhi pertanyaan,
Apa-apaan dia? Sudah langsung menyebut kata teman, bahkan satu jam saja belum terlewati tapi dia sudah menyebut kata 'teman'
Belum tentukan aku akan berteman dengannyaIno hanya trauma dengan kata 'teman', kebanyakan orang-orang mendekatinya hanya memanfaatkannya, mulai dari kepintaran sampai dengan materi semua orang memakai topeng masing-masing untuk menutupi keburukannya.
Ino memang selalu waspada terhadap apa pun ia terlalu takut jika dirinya terlibat dalam masalah besar lagi.
Ino terus saja melamun membuat wajah Ino di penuhi dengan tanda tanya besar.
"Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Kau tidak ingin berteman denganku ?" Gadisbercepol dua itu terus memberondong Ino dengan pertanyaan. Wajah cerianya berubah menjadi sedih.
Ino mengerjap sadar lantas menggelengkan kepalanya
Apa dia baru saja membuat wajah Tenten murung?.
"Tidak, bukan maksudku seperti itu, baiklah kita berteman" Ino tersenyum tulus. Sepertinya Tenten orang yang baik, dia bahkan terlihat baik dan sedikit rapuh. Tenten lansung memeluk Ino.
"Eheum, aku tidak bisa bernafas Tenten" Ino berusaha melepaskan pelukan Tenten.
"Gomen, aku terlalu senang" Tenten tersenyum lebar.
.
.
Ino kembali memasang wajah tenang dan dingin, dia tidak peduli dengan yang lainnya yang hanya perlu di ingat kini ia punya teman yaitu Tenten.
Ino yang di rumah dan sekolah sangat berbeda, bukannya dia ingin menjadi anak yang sombong tetapi Ino orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian, tidak suka mencampuri dan peduli urusan oran lain .
Mereka bedua kembali fokus pada papan tulis, di mana sensei tengah menjelaskan rumus fisika.
"Huh menyebalkan" Ino kembali megucapkan kata andalannya
"Kau mengucapkan sesuatau Ino-chan?" Tanya Tenten, Ino hanya menggelengkan kepalanya.
Dia sangat benci hitungan dan rumus-rumus bukannya dia lemah dalam hitungan, dia hanya malas untuk belajar hitungan dan rumus, karna itu 'menyebalkan'.
Setelah lama berkutat dengan rumus yang menyebabkan kepala Ino migrain tiba-tiba,
Penyelamat datang juga.
Bel istirahat terdengar ke seluruh penjuru kelas. Ino mendesah lega.
"Pelajaran sudah selesai. Ayo kita makan siang Ino-chan!" Tenten begitu bersemangat.
Ino hanya mengaguk, mengikuti Tenten menuju kantin sekolah.
.
.
.
.
Sudah keempat kalinya Ino menguap effek pelajaran fisika masih saja melekat. Kantin sekolah mulai ramai di penuhi siswa-siswi yang ingin makan siang.
Mereka begitu bising membuat Ino mengerucutkan bibirnya tidak suka, Tenten terus melihat meja yang kosong tetapi nihil, semua sudah terisi penuh.
Mereka hanya membeli 2 Takoyaki dan 2 jus alpukat.
"Sepertinya tempatnya penuh, kita makan di kelas saja" Ucap Tenten yang langsung menarik tangan Ino.
"KYAAAA…." Terdengar suara perempuan menjerit histeris, Ino langsung terlonjak kaget saat mendengar jeritan dimana-mana.
"Ada apa? Kenapa mereka ribut?" Tanya Ino pada Tenten yang berdiri di sampingnya.
"Mereka datang" Seru Tenten tak kalah histeris "Kyaaa Hyuga Neji"
Ino semakin tidak mengerti apa yang terjadi di kantin sekolah.
"Knight"Jerit para siswi.
"Ksatria? Apa ada drama di kantin ini?" Tanya Ino dengan tampang inocentnya.
"Itu disana…."Tenten menunjuk kearah belakang Ino.
Gadis bermata aquamarine itu sungguh terkejut dengan apa yang dilihatnya, penyebab keributan di kantin adalah 3 orang pria dan 1 wanita.
Ino menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan keyataan yang ia dapat.
Ekspresi mereka begitu dingin dan angkuh mendominasi aura mereka. Satu wanita cantik sepertinya begitu ramah dan baik di bandingkan pria-pria di sampingnya.
Wanita itu berjalan di belakang pria yang lebih dulu dari yang lainya. Wajahnya begitu tampan terlebih mata onyx yang begitu mempesona yang bisa membuat wanita mana saja luluh seketika termasuk Ino"Not Bad" pikirnya
"Itu Uchiha Sasuke" Tenten menujuk pria yang berjalan paling depan,
"Anak bungsu pemilik perusahaan Uchiha Corp. yang bergerak di bidang hotel, resort , serta pusat perbelanjaan di Tokyo"
"Sedangkan wanita yang berjalan di belakang dia adalah Hyuuga Hinata .."
Deg
Hinata dia disini,
"Wanita satu-satunya yang di keliling Knight"Tenten terus menjelaskan.
Knight ialah sekumpulan orang-orang populer di sekolah ini.
"Di sebelah kiri Hinata adalah Sabaku No Gaara anak pemilik perusaan otomotif di Tokyo"
Deg
Gaara dia juga disini, ahh kepala kubisa-bisa migrain lagi
Dunia ini begitu kecil.
"Di sebelah kanan Hinata itu Hyuuga Neji yang tak lain sepupunya Hinata. Ia anak pemilik perusahaan elektronik" Ucap Tenten malu-malu wajahnya sudah memerah. Kalau yang ini Ino sudah bisa menebak teman barunya menyukai Hyuuga Neji. Yah pria itu juga tak kalah tampan tingi, putih, serta rambut panjang yang begitu indah.
Pikiran Ino sudah melayang kemana-mana, dia tidak boleh bertemu dua orang itu bahkan jangan berurusan dengan mereka lagi.
Kali ini Ino yang menarik tangan Tenten untuk menjauh dari para Knight.
Tidak peduli dengan orang-orang yang dia tubruk Ino tidak peduli. Tenten sempat protes, tetapi ia tetap mengikuti Ino.
.
.
.
.
Ino menyandarkan dirinya ke bangku taman sekolah sesekali menarik nafas, tamannya cukup sepi dan sejuk..
"Kau kenapa Ino?" Tanya Tenten yang khawatir melihat wajah Ino memucat.
"Aku tidak apa-apa aku hanya lapar" Jawab Ino sekenanya.
"Yakin? tidak ingin ke UKS?" Tenten menawarkan diri untuk mengantar ia cukup khawatir dengan teman barunya.
Ino menggeleng ia tersenyum mencoba meyakinkan Tenten bahwa dirinya baik-baik saja
Sepertinya hari-hari yang damai tidak akan aku dapat kan disini,
Tetapi aku harus berusaha menjauhi mereka.
_TBC_
