Pertama-tama, terima kasih kepada yang sudah mau mereview, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya!

Lalu, bagi yang mengharapkan chapter diperpanjang, saya sudah sering mendapat review seperti ini. So, I will say it once again.

Maaf, author yang satu ini tidak pandai membuat chapter yang panjang. Tapi, LutfiyaR akan berusaha. Tetap dukung, ya!

~o~o~o~

Reincarnation and The Immortal

Chapter 2 : Love Story

Disclaimer : I do not own Naruto

Uzumaki-sensei tersenyum lebar. "Jangan panggil aku sensei. Anggap saja aku sebagai teman kalian disini." Tanpa sadar Hinata terus mengawasinya. Ada sesuatu di matanya yang membuat dadanya terasa sakit. Seperti campuran kebahagiaan, rasa sedih, dan penderitaan. Apakah itu mungkin? Immortal!Naruto

~o~o~o~

"Namaku Uzumaki Naruto. Aku adalah guru kalian mulai sekarang. Mohon bantuannya, ya!"

Kelas langsung dipenuhi keributan. Hinata tidak menyalahkan teman-temannya. Laki-laki yang akan menjadi wali kelas mereka ini terlihat terlalu muda untuk menjadi guru. Malah, dia terlihat seumuran dengan mereka semua.

"Apa kau punya bukti bahwa kau adalah guru kami, sialan?" tanya Kiba dengan nada merendahkan.

"Baiklah, kenapa kita tidak mulai perkenalannya?" ucap Uzumaki-sensei ceria, sama sekali mengabaikan kata-kata Kiba.

Murid yang diabaikan langsung berdiri dan menarik kerah bajunya. Kelas semakin ribut, tapi tidak ada yang mencoba menghentikannya. Sama seperti seluruh murid di sekolah itu, Kiba juga adalah seorang petarung dan kekuatannya bisa dibilang cukup untuk melawan sekumpulan anjing liar yang ganas.

Uzumaki-sensei hanya menatap lurus-lurus ke mata Kiba, tidak terlihat khawatir sama sekali. Hinata ingin berteriak kepadanya. Segeralah minta maaf! Atau kau akan memiliki bekas cakar yang akan membuatmu trauma seumur hidup!

"Pelajaran pertama untukmu," Uzumaki-sensei mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Lalu, tanpa peringatan, dia melemparkannya kepada murid yang menarik kerahnya. "Jangan meremehkan orang lain. Kau tidak akan pernah tau kekuatan mereka yang sebenarnya."

Kiba terhuyung-huyung mundur dan menutupi hidungnya. "Apa yang kau lemparkan padaku, sialan?!"

"Pelajaran kedua, jaga mulutmu. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, itu adalah bubuk amonia. Penciumanmu sangat tajam sampai tidak tahan dengan baunya, benarkan, Inuzuka Kiba?"

Wajah Kiba memucat. Seluruh kelas terdiam. Semuanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Sepertinya Inuzuka Kiba sudah tidak ingin memprotes lagi, jadi ayo kita mulai perkenalannya!" Uzumaki-sensei menepukkan tangannya dan tersenyum ceria seakan tidak terjadi apa-apa. Kelas kembali menjadi seperti biasa. Kiba duduk di tempatnya, terlihat kesakitan. "Pertama-tama, aku punya permintaan kepada kalian."

Uzumaki-sensei tersenyum lebar.

"Jangan panggil aku sensei. Anggap saja aku sebagai teman kalian disini."

Tanpa sadar Hinata terus mengawasinya. Ada sesuatu di matanya yang membuat dadanya terasa sakit. Seperti campuran kebahagiaan, rasa sedih, dan penderitaan. Apakah itu mungkin?

Uzumaki-sensei menoleh kearahnya. Mereka berdua bertatapan. Itu hanya berlangsung beberapa detik.

Tapi saat Uzumaki-sensei mengalihkan pandangannya, perasaan hangat yang tidak bisa dijelaskan memenuhi dada Hinata.

~o~o~o~

Saat Hinata pulang ke rumah, dia berhenti di depan cermin, dan kembali membayangkan Uzumaki-sensei.

Perasaan yang tidak bisa dijelaskan itu kembali dan Hinata baru menyadari setelah melihat di cermin bahwa wajahnya memerah.

Sekarang dia tau perasaan aneh apa ini. Hinata tidak bisa menyangkalnya. Dia telah jatuh cinta pada Uzumaki-sensei pada pandangan pertama.

~o~o~o~

Cinta itu datang secara alami namun tidak wajar.

Takdir seakan menunggunya untuk bertemu dengan laki-laki itu.

~o~o~o~

"Bagaimana keadaanmu?"

Naruto tersenyum. "Jangan khawatir, Kurama. Aku benar-benar sudah sehat sekarang."

Kyuubi memutar mata. "Kau mengatakan hal yang sama persis beberapa menit sebelum kau pingsan tadi. Kau memaksakan dirimu terlalu keras."

Naruto tidak menjawab dan masuk kedalam kamarnya.

Kyuubi menghela nafas.

"Kau sudah sampai pada batasmu, ya, Naruto?"

~o~o~o~

Tangannya bergetar hebat. Kenapa tangannya tidak berhenti bergetar?

Naruto menggigit bibir, berusaha keras untuk tidak berteriak.

Rasa sakit itu telah kembali. Selalu saja kembali disaat yang tidak tepat. Dan setiap kembali, rasanya bertambah berkali-kali lipat.

"Naruto?"

Kyuubi mengetuk pintu. Naruto membatu di tempat, tidak berani mengeluarkan suara.

"Aku akan pergi untuk sementara. Makan malammu sudah kusiapkan. Jika kau butuh sesuatu, hubungi aku."

Terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Naruto menghela nafas. Dia menatap tangannya yang tidak berhenti bergetar.

"Apakah aku akan mati?"

Jika hidupnya berakhir sekarang, siapa yang akan menghentikan Yami?

Naruto mengacak rambut frustasi. "Padahal aku sudah berniat untuk memulai semuanya lagi."

~o~o~o~

Hinata tidak berhenti menatap cermin.

Bersamaan dengan tumbuhnya perasaan baru dihatinya itu, dia tau bahwa kisah cintanya akan hidup dalam tragedi.

Dia tau hanya dengan melihat mata biru laki-laki itu.

~o~o~o~

A/N : Please Give Me Your Review!