PART 2

Perkenalan yang cukup ramah pada hari pertama di Jepang. Tak sabar lagi, kira-kira besok apa yang akan terjadi ya... Ah, sudahlah . lebih baik pulang. Nenekku sudah sangat menunggu.

"Tadaima.."

"Okeri Sakura-chan" , seperti ada yang aneh, bukan nenek yang menjawab salamku. Suara sepertinya aku kenal. Untuk menghilangkan penasaran aku masuk ke dalam rumah dan menemukan sahabat blode-ku tengah memandang penuh cengiran kearahku. "INOOO... –piiiig. Wah, bagaimana kau bisa disini?" aku berlari dan lamgsung menerjangnya. Kami berpelukan erat selayaknya kawan lama.

"Hei jidat, aku jauh-jauh dari Amerika ke Jepang ingin menyusulmu bodoh! Walau aku kurang ikhlas, soalnya baju limited editionnya baru keluar dan akan diobral.." ujarnya dengan cemberut dibuat-buat.

"Helleh, kau ini. Jadi masih gak ikhlas?yasudah pergi sana. " aku pura-pura merajuk.

"Nah anak-anak, ayo makan ramennya.. keburu dingin." Teriak nenekku dari ruang makan. Sekilas aku dan Ino saling berpandangan, dan dalam sekejab kami sudah duduk di meja makan dan berlomba menghabiskan ramen. Ini adalah kebiasan sedari dulu. Nenekku hanya geleng-geleng melihat tingkah kami.

"Ramen nenek tetap tidak ada duanya, ajari aku ya nek..." ucapku sambil menyeruput kuah ramen

"Tentu Saku-chan, lo kamu tidak ingin belajar sekalian Ino?"

"Tidak ah baa-chan. Lebih baik aku mengunjungi pusat belajar fashion."

"Dasar!" , makan malam keluarga ini cukup menyenangkan saling bertukar cerita, selingan canda tawa. Dan aku juga masih belum mengerti alasan Ino menyusulku. Kurasa ada hal lain. Ya nanti toh dia juga akan cerita.

"Jidat.. apa di Jepang masih ada sesuatu yang terlewatkan?"

"maksudmu?" aku mengeriyitkan alis mendengar pertanyaan Ino yang aneh.

"ya seperti tempat belanja yang belum ku kunjungi, distrik-distrik mewah..-dan BLETAK!.. ittai~ apa yang kau lakukan Jidat?"

"Kukira kau tanya apa, apa otakmu sudah terkontaminasi oleh fashion hah?" Kujitak kepala Ino, kupikir dia kesini dengan tujuan serius.

"aku kan hanya bertanya... disini nyaman ya, ah.. aku mengantuk. Oyasumi Jidat"

"Hn.." benar juga kata Ino. Sudah larut malam dan akupun mengantuk. Saat sampai di Jepang di pasti langsung ke pusat perbelanjaan atau tidak butik-butik mahal, haah... dasar. Tak lama kemudian mataku juga tertutup.

Mentari pagi telah memancarkan sinar yang terang. Semua tentunya sudah bangun dan beraktifitas sesuai dengan kepentingan. Tapi tidak dengan gadis bersurai merah muda ini yang masih senantiasa bergelut dengan selimutnya, tak menghiraukan sang surya yang telah menerobos masuk kamarnya yang biasanya akan memebuat siapapun jadi terbangun karenanya.

"Jidaaattt... ayo bangun,.temani aku jalan-jalan!" Ino menghela nafas melihat sahabatnya yang senantiasa tidur dengan nyamannya. "Kalau kau tidak bangun sekarang, ember penuh air ini akan mengenai tubuhmu. Ralat ember penuh dengan air ES!" Ino berteriak dengan kerasnya dan nadanya tampak kesal .

Sakura-gadis yang sedari tadi tidur mulai membuka kelopak matanya seraya menguap sambil berucap " aduh pig, ini masih pagi! Aku ingin tidur" ujarnya sambil kembali memejamkan mata dan semakin menenggelamkan tubuhnya dalam selimut. Tapi itu tak bertahan lama, ketika ia merasakan dingin menjalar dikakinya. Sontak saja dia langsung bangun terduduk sambil mendeath-glare sahabat pirangnya yang sedang berkacak pinggang.

"Makanya bangun! Ayo cepat , kau harus menemaniku jalan-jalan"

"Huftt..." sakura hanya pasrah saat sahabatnya ini menariknya menuju kamar mandi dan mau tak mau sebentar lagi ia harus bersiap-siap menemani sahabatnya ini belanja.

Konoha Mall

"Ya Ampunn... ini bagus sekali, ah yang ini lebih bagus!" sakura menghela nafas sedari tadi. Pasalnya ia hanya mengikuti langkah sahabatnya dari tadi tanpa melakukan apapun. Sungguh membosankan. Sudah tau, dia sangat anti dengan fashion, bukannya apa-apa. Hanya saja terlalu berlebihan, berbeda dengan sahabatnya yang sangat mengagumi fashion. Terkesan memuja malah.

"Piigg... cepatlah! Aku bosan disini!" keluh Sakura ada sahabatnya.

"Kita belum kesana , kesana dan kesana. Jidat, ini masih lama kau tau? Ternyata disini tak ketinggalan fashion lho.." Ino, sahabatnya masih sibuk dengan acara memilih bajunya.

"Tidak. Ini hampir empat jam! Belanjaanmu sudah banyak. Kita pergi atau aku yang pergi." Sakura sudah sangat kesal. Bayangkan saja, 4 jam ? hanya untuk memilih baju? GILA!

"kau pergi saja, nanti aku susul. Carilah cafe atau rumah makan. Aku yang traktir deh.." Sakura dengan cepat melenggang pergi. Ia bersungut kesal. Tapi tetap saja, ia harus mencari rumah makan dan menghabiskan kocek Ino dalam dalam untuk mentraktirnya. Hahaha... dalam hati ia tertawa senang.

Karena saking senangnya, tanpa sadar Sakura sudah sampai di restoran dalam mall. Cukup bagus,pikirnya. Ia melihat sekeliling untuk mencari meja kosong di restoran tersebut. Akhirnya pandangannya tertuju pada meja yang berada di pojok dan sedikit pengunjung yang dapat melihat kearahnya. Langsung saja kakinya melangkah dengan senang menuju meja tersebut. Sakura dengan nyamannya duduk dimeja dan memesan jus jeruk serta kue kecil yang tersedia. Gadis bermarga Haruno tersebut sesekali menyeruput jusnya sambil membaca novel Shonen kesukaannya. Beberapa kali bel di restoran berbunyi tanda keluar-masuk pengunjung restoran. Toh tapi tak mengganggu konsentrasi gadis ini membaca novelnya.

Sekitar 45 menit Sakura menunggu Ino, tapi sahabat blode-nya itu tak kunjung menyusulnya. Padahal ia tadi sudah mengirim sebuah pesan padanya. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu lagi dan berkonsentrasi pada novelnya lagi.

Sakura telah memabaca habis novelnya itu. Ia menghela nafas dan melirik jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangannya. "Cukup! Ini sudah 2 jam. Kemana dia?" sakura menggeram kesal. Bayangkan saja ia sudah menunggu 2 jam direstoran ini dan tentu membosankan. Walau tidak sepeuhnya bosan, karena ia brhasil menamatkan novelnya itu dan bisa membaca novel lain yang masih menumpuk dirumahnya. Tapi ini keterlaluan, kesalnya dalam hati.

Saat hendak meningglakan restoran itu, tiba-tiba seseorang menghampirinya dengan tampang tak berdosanya dan masih asik dengan semua belanjaannya. Dan Sakura pun kembali duduk dengan tampang kesal.

"Maaf ya jidat, aku tadi membeli ke butik jadi agak lama dan aku harus cekcok dengan penjaganya yang menyebalkan bla bla bla..." Ino terus mengoceh tanpa memperhatikan Sakura yang tak memperhatikan ocehannya.

"Cukup! Sekarang traktir aku makan!" kesalnya dan Inopun berhenti mengoceh.

"iya iya jidat... aku pesan sekalian. Perutku lapar!" Sakura makin sebal saja. Liat saja nanti, pikirnya.

"maaf bisa saya memesan takoyaki satu, lalu jus jeruk, oh ya dengan ocha sekalian makanannya sushi ikan salmon, lalu tambah ramen miso yang super pedas itu oh ya jangan lupa mau jus strawberry dengan cake-nya sekalian . terima kasih..." ucap sakura sambil tersenyum. Ino menganga tak percaya dengan yang dipesan Sakura, dia yang paling lelah jalan-jalan hanya memesan sushi spesial sedangkan Sakura yang duduk diam memesan sebegitu banyaknya makanan?

"Kau mau menguras kantongku Jidat?" ujar Ino sambil bekacak pinggang.

"Salah sendiri. Aku kelaparan menunggumu tahu!" jawab Sakura sambil memeletkan lidahnya.

"kelaparan? Kukira kau jalan-jalan mall ini. Kau tahu? Banyak hal yang bisa dilakukan selain menunggu di mall ini!"

"Aku tidak suka!"

"memangnya kau menunggu berapa lama sih? Aku Cuma sebentar kok!"

"Sebentar katamu? Aku sudah diresto ini sejak 2 jam yang lalu. Kau tahu 2 jam, menyebalkan!" Sakura mengucapakan dengan nada tinggi dan muka masam. Ino hanya mengacungkan jarinya membentuk huruf 'v' sambil berucap 'peace'. Sakura makin kesal saja pada sahabat nya ini.

"Memangnya apa saja yang kau lakukan hah?"

"oh banyak sekali, kau tahu? Masih banyak butik yang harus ku kunjungi. Aku tak pernah tau kalau ternyata mall di Jepang juga tak kalah besar dengan yang di Amerika, tapi disini masih mempertahankan unsur tradisional." Ujar Ino dengan gaya terkagum yang dibalas Sakura dengan helaan nafas dan memutar bola mata bosan.

Perbincangan dua sahabat itu terus berlanjut hingga pesanan mereka datang . Langsung saja Sakura yang sudah kelaparan, menyeeruput ramen miso ekstra pedasnya dengan cepat. Ino menegurnya karna khawatir Sakura tersedak dan makannya itu lo... gak ada anggun-anggunnya sama sekali. Dan itupula yaang menyebabkan mulutnya belepotan saus dan minuman. Ino hanya pasrah menghela nafas melihat sahabatnya yang keras kepala itu.

Sakura dan Ino makan dengan tenang yah.. kecuali Sakura yang terlalu ganas dalam makan. Sampai bel restoran masuk berbunyi, membuat Ino menolehkan kepalanya kearah pintu masuk. Seketika matanya terbelalak melihat siapa yang masuk. "I-itu..." gumaman Ino mau tak mau membuat Sakura menoleh padanya. Sakura menatap Ino bingung, lalu ia mengikuti arah pandang Ino.

"Oh... Itachi-san!" teriak Sakura pada orang yang baru melewati pintu masuk. Itachi sontak menolehkan kepalanya, dan tersenyum melihat siapa yang memanggilnya.

"Jidat, kau kenal dengan nya?" Ino sontak terkejut dan menoleh pada Sakura sambil menatap bingung.

"Tentu saja!" jawab Sakura tersenyum "Aku menolong anaknya kemarin."

"Hai Saku-chan... tak ku sangka kita bertemu lagi." Ucap Itachi ramah pada Sakura. Sakura mengangguk dan Ino masih terpaku kagum serta menganga dengan yang dlihatnya.

"Kenapa Itachi-san disini? Kak Hana tidak ikut?" ucap Sakura memulai pembicaraan. Itachi pun ikut duduk bersama Sakura dan Ino.

"Begini Sakura... tadi aku dan Hana berkeliling mencari Hikari dan Sancai. Kau tau? Mereka merengek ingin bertemu denganmu. Tak kusangka kau bsa sedeket itu dengan mereka." Jelas Itachi.

"Oh.. hehehe... maaf. Aku tidak tau kalau mereka masih mengingat kejadian itu. Maaf ya.. aku jadi merepotkan!"

"Tak apa ... besok kau harus ikut aku ya. Aku leleh mendengar rengekan Sancai." Ucap Itachi menghela nafas dan disambut tawa kecil dari Sakura.

"Iya... mungkin aku bisa. Apa.. aku harus kerumah bibi Mikoto lagi?" tanya Sakura ragu.

"Iya.. aku tak tega meninggalkan mereka dirumah. Jadi, aku menitipkannya pada Ibuku. Pekerjaan selalu menuntut, dan Hana juga harus bekerja."

"Oh... iya juga. Tapi jangan terlalu sering meninggalkan mereka. Apalagi Kak Hana, nanti pasti aku disuruh jadi baby-sister nya.." ucap Sakura disertai tawa kecil dan disambut tawa oleh Itachi. 'Sakura benar-benar masih seperti anak kecil, lugu dan polos, pantas saja Sancai menyukainya' batin Itachi.

"A-Apa kau Itachi Uchiha?" Ino akhirnya angkat bicara setelah keterkejutannya karena Sakura mengenal Itachi dan berbicara akrab.

"Ah , iya. Salam kenal.." ucap Itachi tersenyum ramah.

"Ah salam Itachi-sama, saya Ino Yamanaka dari Yamanaka Group.. perusahaanku bekerja sama dengan anda.."

"benarkah? Maaf aku tidak tau. Jadi kau yang dari Yamanaka Group?"

"benar Itachi-sama..."

"tak kusangka ya..Makanannya banyak sekali, ini apa ada orang lain disini? "

"Bukan Itachi-sama. Itu semua Sakura yang makan, dia berniat menguras kantongku." ujar ino sambil disertai raut sebal.

"itu juga salahmu pig_membuatku kelaparan." Timpal Sakura. Itachi tertawa dengan obrolan mereka. 'Masih ada saja orang seperti ini' batin itachi.

Sakura tidak tau saja kalau sedari tadi banyak pengunjung restoran yang menatap mereka dengan pandangan kagum. Ino dan Itachi yang menyadarinya bersikap seolah tak ada apa-apa. Sampai pintu restoran berbunyi dan seorang anak kecil langsung memanggil Itachi dengan sebutan " Too-chan..." ternyata disana sudah ada Sancai dan Hikari yang berlari menuju Itachi diikuti Hana dibelakangnya. Itachi memeluk sayang kedua anaknya.

"Lihat, tou-chan sudah berhasil menemukan Sakura-nee.." Sancai langsung berlari memeluk Sakura , hingga membuat Sakura tekejut.

"Sakura-nee.. aku lindu nee-chan, kak Hikali sudah jadi kuat lo.." ucap Sancai semangat. "Benarkah?" Hikari yang ditatap menjadi sedikit malu-malu.

Akhirnya keluarga Uchiha itu mengobrol beberapa bisnis dengan Ino. Sedangkan anak-anak Itachi lebih suka bersama Sakaura dan menggodanya. Apalagi saat mereka berebut cake starwberry kesukaan Sakura. Sampai akhirnya Itachi dan keluarganya pulang dan disambut rengekan Sancai dan Hikari yang cemberut. Mungkin mereka masih suka bersama Sakura. Tapi pada akirnya, mereka juga pulang setelah Sakura berjanji akan datang ke rumahnya lagi.

Banyak pengunjung yang menatap mereka dengan berbagai perasaan dan ekspresi. Para pelayan restoran juga banyak yang menatapa Itachi kagum serta hormat padanya seperti Itachi bosnya saja. Sakura sedari tadi sebenarnya bingung, tapi toh ditepisnya kebinngungannya sampa Ino yang bercerita banyak tentang keluarga Uchiha. Tapi karene earphone masih bertengger manis ditelinganya, ia tak mendengar cerita Ino yang menurutnya sudah basi.

Tak lama kemudian, merekapun pulang . dan sampai dirumah pukul 16.45. cukup lama mereka berjalan-jalan dari pagi tadi. Walau yang berjalan-jalan sebenarnya hanya Ino.

"Sakura, aku tak menyangka kau kenal dekat dengan keluarga Uchiha.." ujar Ino saat sampai dikamar Sakura.

"Aku juga tidak tau, mereka yang mudah akrab menurutku. Mikoto-baa-chan sangat ramah,. Sancai dan Hikari juga akrab denganku. "

"kau tau? Kau sangat beruntung. Keluarga itu paling terpandang di Jepang. Kau tahu? Mall yang kita masuki ternyata bagian dari cabangnya. Beruntungnya aku bisa bekerja sama dengan perusahaannya. Apalagi Uchiha Itachi sangat tampan, tapi sayang dia sudah berkeluarga..." Sakura menatap 'tak' pada Ino.

"dasar... tapi, memangnya mall tadi benar punyanya?" ucap Sakura dengan nada terkejut.

"Ya Ampun, hanya orang primitif yang tak mengenal Uchiha. Di Amerika saja terkenal." Ino menghela nafas melihat gelengan sahabatnya. Apakah sahabatnya ini benar-benar primitif.?

"Apakah kau benar-benar primitif hah? Dasar jadul" ucap Ino yang disambut dengan muka cemberut oleh Sakura.

"Uchiha itu pemilik saham terbesar di beberapa negara, dan mereka juga menguasai pasar produksi, maupun distribusi. Semuanya keturunan konglomerat. Dulu Itachi Uchiha yang sulung sudah menjabat sebagai direktur utama di umur 18 thn. Ia bekerja sebagai pemegang saham juga sebagai dokter di rumah sakit miliknya sendiri. Tak kalah besar dengan kepunyaan keluargamu. Dan adiknya yang masih lajang itu, sangat tampan dan jenius. Ia sudah memulai bisnis sejak umur 9 tahun. "

"Kau gila? 9 tahun itu sangat kecil. " sakura menatap ino dengan bingung.

"Makanya dengar dulu ceritaku..." Sakura akhirnya hanya mampu menghela nafas sambil mendengarkan cerita Ino.

"Ia tak mau bergantung saja, dan akhirnya ia merintis bisnisnya sendiri. Ia menjadi sukses sampai sekarang. Dan kudengar ia sekolah diluar negri. Jarang sekali orang yang bisa bertemu dengannya. Karena kudengar, ia orang yang sangat cuek dan pendiam. Tapi aku pernah bertemu saat jumpa pers karena dia berhasil menamatkan kuliah dalam usia 20 tahun dan sekaligus menjadi kepala diperkuliahan itu, ia tetap kuliah di Jepang kok. Seharusnya 18 thn pun bisa tamat, tapi kerana dia sering bepergian keluar negri dan berbisnis , jadinya agak lama. Kudengar dia masih singgle lho...wah, seandainya aku bisa bertemu dengannya." Sakura manggut-manggut mendengar cerita Ino. Tak ayal Ino tau semua, diakan ratu gosip.

Tak disangka ia bisa kenal akrab dengan seorang yang dianggap begitu terkenal, golongan konglomerat lagi. Tapi, kenapa dia tidak tau? Haahh... sakura cemberut mengingat Ino yang menyebutnya ia harus berpikir kembali jika ingin bertemu dengan Hikari atau Sancai.? Apakah ia harus pergi kerumah Hikari lagi besok?

#Gomen-nee kalau kelanjutannya mengecewakan_

Arigatoo yang udah mau Review Tak tunggu terus review nya_biar ceritanya gak membosankan juga.