This is a remake from chinese BL drama, Advance Bravely (30 eps). I take no credits.
.
Chapter II: Pet Dog, Broken Arm And Pink Hair
.
.
Bagi Taehyung, Soorim seperti permata, sangat berharga dan harus dijaga. Masa kecil Taehyung tidak terlalu indah, orang tuanya menikah di usia tua dan mereka hidup dalam kemiskinan. Ibunya meninggal tidak lama setelah melahirkan Soorim, ayahnya membesarkannya seorang diri. Orang bilang, Taehyung terlalu memanjakan Soorim, tetapi bagi Taehyung tidak ada alasan untuk tidak memberikan apapun yang Soorim mau selagi dia mampu. Untuk apa dia jadi orang sukses kalau bukan demi adiknya juga?
Saat Soorim bilang sedang jatuh cinta untuk kesekian kalinya, hal pertama yang ingin Taehyung lakukan adalah mengecek kualitas diri si pencuri hati. Karena yang sudah-sudah, Soorim selalu jatuh untuk pria sampah bermulut manis. Tetapi Jungkook, pria yang terakhir ini sangat berbeda, Taehyung mengikutinya ke minimarket hanya untuk mendapati pria bermata besar dan jernih itu membeli sebungkus permen karet—bukan rokok seperti yang Taehyung pikir.
Dia juga suka menolong. Dari kucing yang terjebak di pohon sampai anak-anak TK yang hendak menyeberang jalan. Dia bahkan rela keluar dari mobilnya dan berlari di bawah hujan hanya untuk menolong perempuan hamil yang kesulitan membawa banyak barang belanjaan. Untuk pertama kalinya, Taehyung mengakui kalau Soorim menemukan pria yang cukup berkualitas.
Setelah penolakan Jungkook, Taehyung belum berniat bertemu anak itu lagi, walaupun dia masih menyimpan kue titipan Soorim. Jungkook kelihatannya kesal sekali, Taehyung bermaksud baik hati dengan berhenti mengikutinya seperti yang Jungkook mau—untuk seterusnya? Belum tentu.
"Ketua. Nona Soorim ingin bicara."
Pelatih akademi pengawal milik Taehyung 1: Youngjae
Bisa dibilang tangan kanan Taehyung, meskipun kadang agak lamban tetapi kemampuannya berkelahi tidak bisa diragukan, dan yang terpenting adalah dia orang yang bisa dipercaya.
Taehyung menoleh pada Youngjae yang baru saja datang menghampirinya, kemudian bergumam sekilas dan meninggalkan tempat latihan begitu saja. Youngjae tidak perlu disuruh, dia sudah tahu harus menggantikan Taehyung mengawasi latihan dengan sendirinya. Kebetulan ada pelatih lain disitu, sekalian saja Youngjae ajak bicara.
"Ketua sibuk apa ya? Belakangan ini sepertinya dia sering keluar," tanya Youngjae basa-basi.
"Sepertinya Nona Soorim sedang jatuh cinta lagi. Tempo hari aku tidak sengaja dengar Nona Soorim sedang bicara soal pria dengan Ketua."
"Benarkah? Kalau benar aku kasihan dengan pria itu."
"Kenapa?"
"Ketua itu orangnya sangat kaku. Setiap kali Nona Soorim jatuh cinta dia akan mengawasi si pria berhari-hari, kalau mereka macam-macam Ketua akan menghabisi mereka. Mantan Nona Soorim semuanya brengsek, mereka berakhir mengenaskan."
"Aigoo."
Aigoo. Bagi orang yang berkerja dengan Taehyung, sudah bisa membayangkan sendiri seperti apa mengenaskan itu, soalnya mereka sendiri sudah sering merasakan tendangan maut Taehyung tiap melakukan kesalahan.
"Oppa! Bagaimana kuenya? Oppa sudah mengantarkannya pada Jungkook, kan?"
Seperti dugaaan Taehyung, Soorim mencarinya untuk menanyakan perihal titipannya—yang sama sekali belum Taehyung antar.
Taehyung tidak bilang begitu sih, tetapi dari caranya mengalihkan tatapan mata Soorim sudah bisa tebak kalau jawaban dari pertanyaannya tidak sesuai keinginannya.
"Oppa!" Soorim mencebik, tangannya menggelayut manja di lengan kekar sang kakak, "Oppa tidak memakannya sendiri, kan? Pokoknya kuenya harus sampai ke tangan Jungkook! Oppa jangan bohong~ Ayo janji, janji!"
"Hmm."
Soorim tersenyum lebar, Taehyung menghela napas.
Jungkook pikir, hari ini dia bisa bebas dari Taehyung setelah penolakaannya, waktu berangkat ke kantor memang begitu, pertama kalinya setelah seminggu yang melelahkan Jungkook bisa berangkat ke kantor dengan tenang, tetapi rupanya Taehyung punya rencana lain, Jungkook benar-benar geram ketika baru pulang dari kantor dan melihat mobil Taehyung yang sampai sudah dihapalnya melaju tepat di belakang mobilnya.
Bukannya Jungkook lupa bagaimana Taehyung mengalahkannya telak tempo hari, tetapi Jungkook pantang diam kalau merasa diganggu. Jadi Jungkook menghentikan mobilnya di pinggir jalan saat itu juga, Taehyung melakukan hal yang sama—tentu saja.
Duk Duk
Untuk kedua kalinya, Jungkook mengetuk jendela mobil Taehyung keras-keras, saat itu juga Taehyung menurunkan jendelanya.
"Aku sudah bilang aku tidak suka adikmu! Kenapa kau masih mengikutiku?!"
"Adikku menitipkan sesuatu untukmu."
"Aku tidak butuh! Biar kuperjelas, aku tidak tahan dengan tingkah adikmu yang manja dan egois, jadi tolong bilang padanya untuk menyerah saja!"
"Aku cuma diminta untuk mengantarkan ini, bukan untuk mendengarkan ocehanmu."
"Aigoo~ Coba lihat orang ini, kau ini budak adikmu atau apa? Kenapa mau saja disuruh apapun? Buang saja apapun itu yang adikmu titipkan untukku dan bilang padanya kalau kau sudah memberikannya padaku, kau bodoh ya? Sudahlah. Aku buang-buang waktu bicara di sini denganmu."
Jungkook hanya sempat berbalik sebelum Taehyung mencengkeram lengannya.
"Adikku menitipkan ini untukmu." Jungkook melihat sebuah kaleng berbentuk bulat dengan motif polkadot yang kekanakan.
"MASA BODOH!"
Sret. Jungkook menarik tangannya kuat-kuat, "Jangan mengikutiku lagi!" lalu kembali ke mobilnya dengan langkah lebar-lebar.
Taehyung membiarkan mobil Jungkook melesat pergi, melepaskannya? Tidak. Karena Taehyung selalu menyelesaikan tugasnya sampai tuntas.
Sepanjang jalan pulang Jungkook harus bersabar, melirik kaca spion dan selalu menemukan mobil hitam besar menyebalkan mengikuti tepat di belakangnya.
(Keesokan harinya...)
"Eomma, aku berangkat!"
"Loh? Pakai sepeda? Mobilmu kenapa?"
Jungkook menangkap raut bingung di wajah ibunya, melihatnya menenteng sepeda yang sudah lama tidak dipakai.
"Mobilnya tidak apa-apa, aku cuma mau olahraga biar sehat kok."
Kemudian Jungkook mengayuh sepedanya dengan tenaga penuh, dia berangkat ke kantor jauh lebih pagi hari ini, sengaja menghindari telat. Sebenarnya juga berpikir kalau mungkin dia bisa lolos dari stalkernya yang keras kepala, tetapi Taehyung yang sama gila dengan adiknya ternyata sudah siaga di pinggir jalan. Memamerkan kekeras kepalaannya, mengendarai mobilnya super lambat hanya untuk mengimbangi kecepatan sepeda Jungkook.
Ketika melihat jalur khusus sepeda, Jungkook bisa tersenyum senang, dia pikir akhirnya bisa bebas dari Taehyung dan mobil jeleknya yang besar, tetapi sial, tiba-tiba saja sepedanya tidak bisa dikayuh lantaran rantainya yang copot. Memang hanya copot, tetapi Jungkook bukan tukang reparasi sepeda dan jelas dia juga tidak mau mengotori tangannya yang putih dengan oli yang menempel di rantai.
Jungkook mendengus kesal. Siasatnya gagal total dan Jungkook hanya membakar kalori habis-habisan. Dia menendang sepedanya, menelantarkannya di jalan begitu saja dan pergi naik bus. Jungkook bahkan tidak kaget lagi melihat Taehyung mengikutinya masuk ke dalam bus.
(Keesokan harinya, lagi...)
"Loh, Kookie, mau dibawa ke mana sepatu rodanya?"
"Kupakai ke kantor."
"Hah? Berangkat ke kantor? Dengan sepatu roda? Kamu tuh lagi program diet ya? Kemarin sepeda, sekarang sepatu roda."
Jungkook mencebik, secara tidak langsung ibunya baru saja bilang Jungkook gendut. Jungkook sadar dia banyak makan sih.
'Ini semua gara-gara adik-kakak gila, aku jadi harus repot begini.'
Sesuai dugaan, mobil hitam besar milik Taehyung sudah bersiap di jalan. Segera setelah Jungkook muncul, mesin mobil dinyalakan. Jungkook tersenyum miring, dia sudah buat rencana matang-matang, kali ini dia pakai sepatu roda akan pergi lewat jalan-jalan sempit khusus pejalan kaki, dengan begitu mobil besar Taehyung pasti tidak bisa lewat, dan Jungkook sudah cek kondisi sepatu rodanya—super oke.
Dan inilah jalan sempitnya. Melihat mobil Taehyung berhenti bergerak tidak mampu mengikuti, Jungkook kelewat bangga menjulurkan lidahnya ke arah mobil—dia yakin Taehyung pasti sedang melihat ke arahnya.
Nyatanya? Dari balik jendela mobil yang gelap, sepasang mata elang milik Taehyung memang tertuju pada Jungkook, pemuda usia 20an yang menjulurkan lidahnya seperti anak kecil. Itu sangat kekanakan, tetapi juga menggemaskan. Taehyung tersenyum.
"Aku pulang~"
"Selamat datang anak Eomma yang paling imut."
Jungkook tersenyum, mengikuti ibunya yang menggiringnya ke meja makan.
Jungkook tersenyum, ibunya jadi bingung kenapa Jungkook tidak keberatan dipanggil imut padahal biasanya dia selalu protes.
"Ada apa sih? Kok senang sekali kelihatannya?"
"Hmm? Aku kan memang selalu riang~"
Jungkook mengabaikan tatapan bingung ibunya, memasukan sepotong daging ke mulutnya dan tersenyum semakin lebar.
'Aku menang Eomma! Taehyung yang katanya mantan anggota tentara khusus tapi ternyata dongsaeng-babo itu tidak bisa menggangguku hari ini HA HA HA!'
"HA HA HA!"
"Ih! Jungkook! Kamu kenapa sih? Eomma jadi takut lihat kamu."
Jungkook menutup mulutnya, tidak sadar tertawa sungguhan saking senangnya.
"Uhhh...cuma ingat kejadian lucu tadi di kantor. Hehe"
Ibunya hanya geleng kepala. Jungkook makan lagi.
"Huwaaaa~ segarnyaaa!"
Itu Jungkook yang baru selesai mandi setelah makan malam, keluar dari kamar mandi hanya dengan boxer dan handuk tersampir di bahu, kedua tangannya diangkat ke udara tinggi-tinggi—peregangan—kemudian kepalanya digerakan kanan-kiri. Waktu tengok ke kanan, Jungkook menatap pintu kamarnya, waktu tengok ke kiri, Jungkook menatap pintu kaca menuju beranda...dan Taehyung yang menatap ke arahnya.
"HIYAAAAAAAAA—"
Jungkook menutup mulutnya buru-buru begitu ingat ada ibunya di ruangan lain, walaupun rumahnya sangat besar dan kamarnya ada di lantai dua tetap saja ada kemungkinan ibunya mendengar teriakannya yang menggelegar kan.
Dengan langkah lebar Jungkook berjalan menuju pintu kaca itu, bukan untuk menyapa Taehyung—jelas saja bukan—tetapi untuk menarik tirai dan menghalangi pandangan Taehyung ke dalam kamarnya.
SRAK
Tirai tertutup rapat. Jungkook menghempaskan badannya ke atas tempat tidur, dia tidak akan pakai baju ngomong-ngomong, karena Jungkook memang terbiasa tidur hanya mengenakan boxer.
'Aku tidak habis pikir, ternyata ada ya orang yang keras kepala sampai level akut begini. Kenapa tidak buang saja hadiahnya sih? Toh adiknya juga tidak akan tahu. Terserahlah, kalau mau berdiri di sana sampai pagi ya silahkan, memangnya aku peduli.'
Jungkook menggerutu dalam hati, menggapai iPadnya yang tergeletak di meja nakas dan membuka aplikasi game petualangan yang sedang populer. Selain makanan manis, Jungkook juga sangat suka main game, kalau sudah main game, biasanya Jungkook lupa waktu, main sampai tidur—kalau hari libur dia bisa begadang, tetapi setelah bekerja seharian Jungkook tidak akan bisa begadang.
Kemudian satu jam berlalu. Tiba-tiba saja Jungkook ingat lagi dengan Taehyung.
'Sudah satu jam, tidak mungkin orang itu masih di luar kan?'
Itu sebuah pertanyaan, karena sebenarnya Jungkook tidak yakin Taehyung sudah pergi mengingat betapa keras kepalanya Taehyung. Dimakan rasa penasaran, Jungkookpun meninggalkan kasur empuknya, mengendap-endap seperti pencuri di kamar sendiri, lalu membuka sedikit tirai yang menutup pintu kaca menuju beranda, mengintip keluar hanya untuk mendapati sepasang mata menatap balik tepat ke matanya.
SRAK—BRAK
Itu suara tirai yang dibuka kasar sekali tarik diikuti pintu kaca yang dibuka sama kasarnya.
"Tsk. Sini!"
"Apa?"
"Titipan adikmu lah!"
"Oh."
Taehyung menyerahkan paper bag berwarna merah, di dalamnya ada kaleng yang sama yang Jungkook lihat tempo hari.
"Aku sudah menerimanya, tugasmu sudah selesai, sana pergi! Jangan mengangguku lagi!"
Seperti itu, Taehyung berbalik pergi begitu saja, melewati pagar pembatas dan melompat turun ke bawah dengan gesitnya—persis kera, menurut Jungkook, karena Jungkook tidak mau memuji Taehyung.
"Benar-benar. Dia seperti anjing peliharaan adiknya sendiri. Lagipula apa sih isi kotak ini sampai dia bikin susah berhari-hari?" Jungkook bertanya-tanya, jadi dia mengeluarkan kotak misterius itu dari paper bag saat itu juga dan membuka tutupnya, melihat isinya yang adalah kue kering rasanya Jungkook ingin melemparnya ke bawah saat itu juga.
"Eh, tapi gara-gara ini aku jadi ditempeli parasit berhari-hari, aku akan membuangnya begitu saja?"
Dengan segala pertimbangan akhirnya Jungkook memutuskan untuk memberikan kue kering itu besok pada ARTnya yang datang tiap pagi dan sore.
Satu lagi pagi yang tenang terlewati, tetapi mengingat yang sudah-sudah Jungkook tidak bisa tenang, pagi hilang tetap saja Taehyung bisa muncul tiba-tiba saat dia pulang. Dengan pikiran itu, Jungkook malas-malasan menghampiri mobilnya yang diparkir di basement kantor. Setelah nyaris dua minggu, diikuti Taehyung jadi semacam rutinitas, rasa-rasanya Jungkook nyaris terbiasa. Kalau nanti Taehyung munculpun mungkin Jungkook tidak akan kaget lagi.
Brak
Jungkook baru saja menutup pintu dan siap menghidupkan mesin mobilnya, ketika adegan kurang menyenangkan tertangkap kaca spion mobilnya. Jungkook menoleh ke belakang, kemudian memicingkan mata, ada segerombolan orang berbadan besar dan seseorang yang memberontak di tengah-tengah, setelah diperhatikan lagi, Jungkook memastikan kalau itu adalah perempuan, yang kelihatannya sedang berusaha untuk membebaskan diri dari usaha penculikan. Sadar ada yang butuh pertolongan, tentu saja Jungkook tidak tinggal diam.
"YAH!"
DUAK
Jungkook menendang salah satu dari komplotan penculik tanpa ragu, si penculik tersungkur, tangannya yang mencengkeram lengan si perempuan yang ketakutan terlepas, perempuan itu menoleh. Oh betapa kagetnya Jungkook ketika tahu itu adalah Soorim.
'Apa ini jebakan?'
Jangan salahkan Jungkook berburuk sangka, tetapi image Soorim dan Taehyung sudah sama gilanya di mata Jungkook. Menyewa orang untuk berpura-pura menculiknya supaya ditolong Jungkook alias cari perhatian, itu bukan sesuatu yang tidak mungkin Soorim lakukan. Hanya saja, ketika menangkap raut panik dan ketakutan dari wajah Soorim, Jungkook mengesampingkan curiganya dan memutuskan menolong anak itu lebih dulu.
"Jungkook! Hueeeee Jungkook tolong aku!"
Dua orang pria berbadan besar sekaligus menarik Soorim ke arah sebuah mobil van bercat hitam, kalau sampai Soorim berhasil dibawa masuk dan pintu mobil tertutup maka habislah kesempatan Jungkook menolong anak itu. Setelah menumbangkan dua orang lagi yang berusaha menghadangnya, Jungkook tidak membuang waktu untuk berlari mengejar Soorim, anak itu berteriak panik ketika tubuhnya diangkat dengan mudah masuk ke dalam mobil. Soorim dipaksa duduk diapit dua pria yang sama yang menyeretnya ke dalam mobil, pria di sisi kirinya yang berkumis dan memiliki bekas sayatan di pipi kiri baru saja akan menutup pintu ketika tangan panjang Jungkook lebih dulu masuk dan meraih lengan Soorim.
"Jungkook! Jungkook tolong!"
BRAK
Pintu mobil yang memang ditutup dengan digeser itu sengaja ditutup keras-keras oleh penculik berkumis, tentu saja lengan Jungkook yang sudah berhasil masuk terbentur di antaranya. Jungkook berteriak, tetapi tidak melepaskan genggamannya pada tangan Soorim sedikitpun.
"HUEEEEEEE Jungkook! Lepas saja tanganku lepas!" Tangisan Soorim berganti, tadinya terus meminta tolong sekarang pasrah diculik daripada melihat Jungkook kesakitan. Yah, walaupun manja dan cerewet Soorim pada dasarnya anak baik, hanya kadang terlalu kekanakan dan suka bersikap semaunya.
"OPPA! OPPA TOLONG AKUUUU!"
Teriakan Soorim terakhir membuat Jungkook menoleh ke belakang sekilas, cukup menangkap sosok Taehyung yang berlari seperti cheetah. Jungkook tahu setelah ini akan aman, jadi dia mengeratkan genggamannya pada tangan Soorim, raut panik mulai terlihat pada wajah para penculik, si pria berkumis membenturkan pintu mobil ke lengan Jungkook berkali-kali dengan harapan Jungkook melepaskan genggamannya. Penculik yang bertugas di belakang kemudi tidak kalah panik, matanya memperhatikan Taehyung yang semakin mendekat.
"YAH! Lepaskan saja anak itu!"
"Mwo?"
"Kita bisa celaka kalau dia sudah di sini! Lepaskan saja!"
Jungkook sama sekali tidak siap ketika komplotan penculik itu tiba-tiba saja mendorong Soorim keluar—ke arahnya. Maka keduanya terjatuh dengan suara berdebum ke lantai basement yang dingin, Jungkook di bawah dan Soorim menindihnya—itu hanya sebentar, karena Soorim cukup tahu diri untuk tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan setelah apa yang Jungkook lakukan untuknya. Mobil para penculik melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan lokasi.
"Kalian tidak apa-apa?"
Taehyung menatap Soorim dan Jungkook bergantian. Soorim menangis sesenggukan, sementara Jungkook masih terbaring memegangi lengan kanannya sambil meringis—tidak ada yang baik-baik saja.
"Oppa—hiks—bagaimana ini—hiks—Jungkook HUEEEEEEEEE!"
Taehyung membantu Jungkook untuk duduk, kemudian meraih lengannya yang terluka. Saat itu Jungkook mengenakan jaket, Soorim membantu menggulung bagian lengannya dengan hati-hati, tampak jelas bekas merah yang pasti akan membiru—bahkan meski hanya sedikit itu berdarah dari kuatnya tekanan yang diterima kulit.
"HUEEEEE OPPA! Jungkook terlukaaa!"
"Soorim, berhenti menangis dan bantu dia berdiri."
"Tidak perlu! Aku bisa berdiri sendiri!"
"Ikut aku—"
"Aku bawa mobil—"
"Aku tidak mungkin membiarkanmu menyetir mobil sendiri setelah kau mendapat luka ini karena menolong adikku."
Soorim memperhatikan dua pria yang berdebat, tangisannya reda dengan sendirinya. Pada akhirnya Jungkook pasrah mengikuti Taehyung ke mobilnya, itu karena lengannya sangat sakit dan setelah dipikir Jungkook juga tidak ingin menyetir dengan lengan seperti itu.
"Kalau tadi tidak ada Jungkook aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, Oppa," adu Soorim pada kakaknya yang menyetir mobil, sementara dirinya memilih duduk di kursi tengah dengan Jungkook.
"Jangan salah paham, aku hanya kebetulan saja lewat di sana."
"Aku tadi menelepon Jungkook setelah menelepon Oppa. Dia langsung datang menolongku. Dia tidak melepaskan tanganku meskipun penculik sialan itu terus membenturkan pintu mobil ke lengannya."
"Soorim, jaga bahasamu. Kau perempuan."
Jungkook memutar bola matanya jengah. "Kau ini pintar sekali mengarang cerita ya," ujarnya pada Soorim, Jungkook tidak terkejut sama sekali saat perempuan itu malah menatapnya dengan wajah polos dibuat-buat. Soorim pasti sengaja, mengatakan macam-macam supaya Jungkook semakin diberi restu oleh Taehyung, padahal siapa juga yang butuh restu Taehyung.
"Aku sungguh hanya kebetulan saja ada di sana. Lagipula kalaupun itu bukan adikmu, aku akan tetap menolongnya."
"Aku tahu."
Taehyung tahu. Dia sama sekali tidak lupa apa saja yang sudah dilihatnya dari Jungkook selama berhari-hari mengawasinya. Bahkan jika itu nenek tua, Taehyung tahu Jungkook akan tetap menolongnya. Hanya Soorim yang berpikir lebih.
Jungkook pikir, Taehyung akan mengantarnya pulang, rupanya dia malah dibawa ke rumah sakit, tapi itu bukan hanya untuk Jungkook, Taehyung juga memeriksakan adiknya. Soorim hanya menderita lebam ringan di pergelangan tangan, para penculik itu pasti mencengkeram tangannya erat sekali. Dan Jungkook akhirnya tahu alasan kenapa lengannya terasa sangat sakit—itu retak. Dokter melilit lengannya dengan perban dan memberinya penyanggah, mengatakan pada Jungkook untuk tidak menggerakan tangannya sama sekali selama beberapa hari.
"Tsk. Lalu bagaimana caranya aku makan?"
Taehyung melirik Jungkook yang menggerutu pelan sesaat setelah dokter selesai menanganinya, bukan tentang bagaimana dia akan bekerja tapi hanya makan—Jungkook pasti sangat suka makan, pikir Taehyung.
"Kuantar pulang."
"Tidak perlu. Aku bisa naik taksi."
"Kenapa harus naik taksi? Lebih baik kami yang antar, kan gratis."
Jungkook menatap Soorim datar. "Aku punya banyak uang untuk dihabiskan, kau pikir aku peduli dengan tumpangan gratis?"
Soorim mencebik.
Jungkook mengabaikannya dan beralih menatap Taehyung. "Terima kasih sudah mengantarku ke sini," ujar Jungkook dengan nada agak terpaksa, rasanya berat saja mengucapkan terima kasih pada orang yang menguntitnya sampai kemarin, itu perbuatan kriminal juga kan.
"Di luar hujan, akan sulit mendapat taksi karena semua orang memesannya," ujar Taehyung.
"Aku bisa minta tolong temanku untuk menjemputku," balas Jungkook, kemudian mengeluarkan ponselnya dan men-dial nomor Seokjin.
"Halo? Jungkook! Kebetulan sekali aku baru mau menelepon."
"Hyung, aku di rumah sakit, bisa jemput aku?"
"Apa?!"
Jungkook menjauhkan ponselnya dari telinga, suara Seokjin cukup membuat telinganya berdengung.
"Kenapa kau di rumah sakit?"
"Ceritanya kapan-kapan saja, aku capek Hyung. Aku di Severance. Datang sekarang juga ya, aku tunggu!"
Pip
Jungkook memutus sambungan tanpa menunggu Seokjin mengiyakan, dia yakin Seokjin pasti datang menjemputnya kok.
"Temanku akan datang. Kalian pulang saja duluan," ujar Jungkook seraya menatap Soorim dan Taehyung bergantian.
"Kalau begitu kami akan menunggu sampai temanmu datang."
"Betul!" Soorim mengangguk menyetujui ucapan Taehyung, kemudian berjalan ke samping ranjang rumah sakit yang ditempati Jungkook dan duduk di atasnya. "Sementara menunggu, apa kau mau sesuatu? Di luar ada vending machine. Mau kopi hangat?"
Jungkook berdecak, menatap dengan jengah wajah Soorim yang terlampau dekat dengan wajahnya. Diusirpun tidak akan mempan, jadi Jungkook memutar badan dan duduk memunggungi Soorim.
"Tidak perlu."
Sebelum Soorim bicara lebih banyak, Jungkook mengutak-atik ponselnya, membuka games yang paling mudah karena sekarang dia cuma punya satu tangan untuk memainkannya. Soorim menghela napas kecewa.
"Jungkook!"
Itu bukan suara Seokjin, tapi itu suara yang juga sangat familiar. Jungkook mengangkat kepalanya yang terus tertunduk fokus pada ponsel, teman-temannya setengah berlari memasuki ruangan, sebenarnya Jungkook bingung kenapa mereka datang ramai-ramai padahal Jungkook cuma menelepon Seokjin, namun jauh daripada itu Jungkook lebih bingung lagi mendapati wajah yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya ada di antara mereka. Meski sudah bertahun-tahun, Jungkook ingat betul siapa orang itu, lagipula wajahnya sama sekali tidak berubah, hanya warna rambutnya yang sekarang jadi pink seperti permen kapas.
"Jimin Hyung? Kapan Hyung kembali?"
Teman baik Jungkook 3: Jimin
Seperti Seokjin, Jimin juga teman main Jungkook. Mungkin dibanding teman main Jungkook yang lain, Jimin adalah yang paling protektif terhadap Jungkook. Terakhir kali Jungkook dan Jimin bertemu adalah ketika Jungkook lulus SMP. Saat itu Jimin tiba-tiba saja pindah entah kemana dan hilang kontak.
"Kemarin."
"Kenapa tidak bilang padaku?!"
Seokjin menyela, "Sebenarnya tadi itu aku berniat meneleponmu karena Jimin."
Namjoon mengangguk, "Kami sudah dalam perjalanan ke klub biasa untuk merayakan kembalinya Jimin, tapi malah harus ke rumah sakit. Sebenarnya kau kenapa?"
Teman baik Jungkook 4: Namjoon
Berada dalam kelompok yang sama dengan Seokjin dan Jimin. Kenal Jungkook karena Seokjin. Lebih sering terlihat bersama Seokjin daripada Jungkook, tapi dia juga peduli pada Jungkook seperti teman-temannya yang lain kok.
Jimin menarik napas dramatis saat sadar Jungkook memakai arm-sling. "Tanganmu patah?!"
"Tidak kok. Cuma retak."
Jimin menarik kedua pipi Jungkook gemas. "Sama saja!"
Jungkook tidak protes, hanya bibirnya yang mengerucut imut—itu sesuatu yang aneh di mata Soorim dan Taehyung, mereka masih di sana ngomong-ngomong.
"Ahem."
Tiba-tiba saja seseorang berdeham. Itu Soorim, yang mungkin merasa keberatan karena keberadaannya tidak terasa.
"Eh? Soorim? Ada di sini juga?" ujar Seokjin basa-basi, baru sadar kalau ada dua orang lain di sekitar ranjang Jungkook. Seokjin menatap pria bersorot mata tajam yang berdiri di samping Soorim dengan penasaran. "Ini..."
"Dia kakakku."
"Kim Taehyung."
"Sebenarnya Jungkook terluka karena menolongku, dia—"
Soorim tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Jungkook buru-buru turun dari ranjang rumah sakit.
"Karena sudah di sini ayo cepat antar aku pulang. Aku capek, mau tidur," ujar Jungkook, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu siapapun. Dalam hati sih sengaja, malas mendengar Soorim cerita macam-macam yang sebenarnya sudah sangat dilebih-lebihkan.
Jimin, masih sama seperti dulu, langsung mengekori Jungkook tanpa peduli yang lain.
"E-eh—" Seokjin sih masih tahu sopan santun, jadi dia pikir setidaknya harus basa-basi dengan Soorim dan Taehyung. "Anu. Permisi."
Setelah membungkuk satu kali, Seokjin segera menyusul dua kawannya, Namjoon mengikuti di belakangnya.
"Oppa, lihat tidak, Jungkook sangat manis kan. Dia mungkin malu kalau tindakan heroiknya diumbar di depan teman-temannya. Bukankah dia menggemaskan? Haa~ Kalau punya Jungkook aku tidak perlu lagi mencemaskan apapun, karena ada dia yang melindungiku."
Soorim terlalu sibuk dengan delusinya, tidak sadar kalau sebenarnya sejak teman-teman Jungkook datang, pandangan mata Taehyung hanya tertuju pada si rambut pink yang tampak terlalu dekat dengan Jungkook.
"Ayo pulang."
Bersambung...
Mau curhat~ Tadinya tuh sempet males lanjutin ini, pertama karena udah sempet buat scriptnya sampe beberapa episode, tapi ngga kesave karena notebook ngadat TT_TT
Terus beberapa kali dicek juga ngga ada yang review :v
Tp pas lihat udah ada review walaupun cuma sedikit langsung semangat lanjutin lagi :')
Jd intinya manhi manhi kamsahamnida untuk yg udah sempetin review, saranghaeeeeeeee~
P.S. Dear e-elia, bukan film sih sebenernya, tapi drama BL tiongkok yang diangkat dari novel. Judulnya Shi Bu Ke Dang, diterjemahin jadi Advance Bravely/Unstoppable. Bisa dicari di Youtube. Tp hati-hati kecewa sama endingnya, krn alasan hukum itu jadi endingnya nyeleneh bgt ^^;; *makanya ff ini lahir*
P.S.S. Cover ffnya diganti jadi foto behind the scenenya AB, Jason (seme) freaking kissed Simon (uke) on the cheek while he's sleeping #squealnglikeamadman (Ada cerita di balik fotonya: Selesai syuting Simon tidur kan, terus Jason yang abis makan siang lihat Simon tidur dg mulut kebuka, Jason minta asisten di sampingnya untuk fotoin mereka sebagai "balas dendam" karena hari itu Simon nampar Jason (tuntutan film). Kru pada kaget dong tiba-tiba Jason cium pipi Simon, tapi sebelum kagetnya puas tiba-tiba PLAK si Jason ditampar lagi sama Simon XD Refleks XD Simonnya minta maaf, terus Jason bilang "Kalo Simon lagi tidur kita harus jaga jarak seengganya 10 meter jaga-jaga takut diserang" XD Lagian sih moduuuuus )
