Momoi kelewat senang karena sepupunya akan pindah ke Teikou Academy. Sebenarnya, Momoi merasa bersalah juga karena sepupunya sudah masuk ke SMA yang dia cintai, dan kalah dalam Inter-High karena tim basket Teikou.

Tapi, Momoi perlu bantuan sepupunya.

Entah kenapa, Momoi merasa sepupunya dapat membantunya menyelamatkan Kiseki no Sedai.

Momoi merasa ada yang salah dari sahabat-sahabatnya itu. Dimulai dari sahabat masa kecilnya yang mulai berubah sejak kelas tiga SMP, lalu berlanjut dengan anggota lainnya.

Walaupun Tetsu-kun kesayangannya gak terlalu berubah.

Momoi gak tahu dari segi mana sepupunya dapat menyelamatkan sahabatnya, tapi intuisi wanitanya berkata bahwa sepupunya akan membawa dampak besar.

Lagipula, Yuichi-san mendukung. Yuichi-san itu ayahnya sepupu Momoi, yang udah memasuk-paksakan sepupunya ke Teikou Academy.

Sekali lagi, Momoi merasa kasihan. Tapi, Momoi sudah berjanji kalau sepupunya berhasil menyelamatkan Kiseki no Sedai, sepupunya boleh kembali ke SMA-nya dulu.

"Oi, Satsuki!" terdengar suara familiar di telinga Momoi.

Momoi langsung menoleh. Wajahnya berseri-seri, "Tai-chan~!" Momoi berlari dan menerjang pemuda ber-iris crimsoni itu.

"Wo-woi, slow down, Satsuki! Aku nanti jatuh!" serunya menjaga keseimbangan.

Momoi menatap sepupunya dengan senyuman lebar, "Akhirnya, kau datang juga, Tai-chan."

Pemuda itu tersenyum, "Tentu saja aku datang. Kau meminta bantuanku, 'kan?"

Ah, sifat malaikatnya itu, batin Momoi berusaha menahan tangis bahagianya.

Di depannya, berdiri pemuda setinggi 190 cm dengan iris crimson, rambut gradasi merah-hitam, dan alis terbelah dua; yang aneh namun lucu.

Ya, itu sepupu Momoi. Namanya Kagami Taiga, ace tim basket SMA Seirin.

XxXxXxX

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadashi
Red Light in Rainbow © AliceShotacon4Ever
Warning(!):
OOC, Typo(s), AU, high school!Teikou, cousin!KagaMomo, sho-ai, GomxKagami, variousxKagami, etc.

-"…(dialog)…"

-…(bicara dalam hati)…

|x|

II.Teman Sekamar Baru
Hints: KuroKaga KiKaga bro!KagaMomo

XxXxXxX

Momoi tak bisa berhenti mengoceh. Kagami tahu itu. Sifat cerewet perempuan berambut pink itu memang membuat siapapun menjadi kesal. Dengan suaranya yang cempreng dan nyakitin telinga, Kagami sudah belajar untuk bertahan dari ocehan-ocehan Momoi selama bertahun-tahun.

Kagami hanya bisa tersenyum. Momoi tak bisa berhenti mengoceh berarti Momoi benar-benar bahagia Kagami datang ke Teikou Academy.

Sedih mengingat dia harus rela meninggalkan Seirin dan pindah ke sekolah yang mengalahkannya di Inter-High kemarin. Tapi, melihat Momoi yang berseri-seri membuat Kagami tahu bahwa Momoi sudah benar-benar putus asa dalam menyelamatkan Kiseki no Sedai.

Plus, Kagami sudah melihat permainan tim basket monster itu.

Arogan, sombong, kekuatan mereka terlalu berlebih untuk anak SMA. Kagami tak percaya bahwa mereka sudah seperti itu sejak SMP. Bagaimana nasib mereka kalau sudah kuliah nanti? Kagami gak mau ambil pusing memikirkannya.

Mengingat kembali ucapan pemuda dim di akhir pertandingan Inter-High melawan Teikou membuat Kagami tersenyum masam.

Slogan 'yang bisa mengalahkan aku adalah aku' itu terdengar menyedihkan. Pemuda dim itu sepertinya sudah putus asa berharap bahwa ada orang yang dapat menyainginya. Kagami merasa kasihan.

Ditambah slogan Teikou yang benar-benar ingin Kagami robek-robek lalu dibakar. 'Winning is Everything'? Yang benar saja. Hanya bocah yang berpikir kemenangan adalah segalanya.

Kemenangan sebagai kewajiban terlihat hampa.

Kemenangan sebagai tujuan dengan perjuangan keras baru terasa nyata.

Rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutmu, lalu kau ingin melompat-lompat dan menjerit kegirangan. Kemenangan yang menyenangkan.

Kagami pengen bilang bahwa slogan dan tuntutan Teikou Academy membuat kerusakan terhadap moral anak-anak Jepang. Contohnya aja Kiseki no Sedai. Lihat betapa arogannya mereka.

'Kan kasian. Mereka masih bocah, jangan dituntut yang macem-macem deh.

Kagami bakal ngelabrak pendiri Teikou dan siapapun yang bertanggung jawab merusak moral anak-anak Jepang ini, kalau saja Teikou bukan sekolah elit, ayah dan ibunya bukan orang penting, asal Amerika lagi, dan Kagami gak mau berurusan dengan polisi, apalagi media.

Amit-amit deh.

Lagipula, Kagami bingung bagaimana dia dapat membantu Momoi menyelamatkan Kiseki no Sedai. Apa Kagami harus nantang semuanya dalam one-on-one? Kagami menggeleng. Dia pasti kalah telak. Yang ada koloni pelangi itu tambah songong.

Terus apa? Tabok kepalanya satu-satu? Si pendek berambut merah bermata belang itu lumayan ngeri. Bawa gunting kemana-mana lagi. Kagami 'kan masih sayang nyawa.

Laporin polisi? Nah, nanti dia yang malah di proses di meja hijau karena mencemarkan nama baik sekolah.

Andaikan kakaknya disini, dia bakal ngelakuin apa ya? Kakak Kagami, namanya Megu, adalah orang yang ekstrim sebenarnya. Dia selalu menyeret Kagami, Momoi, dan yang lainnya untuk melakukan hal-hal ekstrim seperti terjun bebas dari Empire State atau main bungee jumping di Grand Canyon.

Sumpah, Kagami merinding mengingat masa lalunya yang abnormal.

Walaupun sekarang Megu sudah menikah dan memiliki dua anak, ke-abnormal-annya masih tak berubah. Dan dia menjadi FBI, agen lapangan. Kagami cuman bisa membayangkan kalau sang kakak nembak-nembak orang pakai dua pistol, lalu bilang ke atasannya kalau dia cuman main-main.

Kenapa ya gue punya kakak se-ekstrim dia? Kagami gak habis pikir, bodo' amet deh. Gue 'kan harusnya mikirin gimana caranya nyelamatin si koloni pelangi.

"Tai-chan! Tai-chan~!" panggil Momoi.

"Hn?" Kagami menoleh ke arah Momoi.

"Tai-chan gak dengerin ih.."

"Dengerin apa?"

"Jadi, selama di Teikou, kau harus memanggilku Momoi, dan aku akan memanggilmu Kagamin di depan orang banyak, mengerti?"

"Napa?"

"Soalnya nanti kalau tahu kita sepupuan, yang lain pada curiga dengan siasat-mu berada di Teikou. Aku ingin misi penyelamatan ini tidak terendus oleh siapapun, terutama dari Akashi-kun."

"Akashi? Akashi yang mana ya?"

"Yang rambut merah! Kapten Kiseki no Sedai!"

"Oh, yang mata belang."

"Jangan ngomong gitu, Kagamin!" Momoi memukul punggung Kagami dengan keras, "ketahuan sama orangnya, digunting loh ama Akashi-kun."

"Maniak gunting tuh orang?"

"Pokoknya jangan ngomong gitu di depan Akashi-kun kalau gak mau digunting atau disayat ama orangnya!"

"Iya, iya," Kagami mengibaskan tangannya, "terus, rencananya gimana?"

"Untuk awalnya, aku ingin kau berteman akrab dengan roommate-mu nanti, Kuroko-kun dan Kise-kun. Lalu, mungkin kau bisa menanyakan masalah mereka, atau…gitu-gitu deh. Oh ya, di Teikou, kau wajib ikut klub loh! Tai-chan mau ikut klub apa? Basket?"

"No way! Rasanya aneh kalau aku masuk ke klub basket. Seperti…uh…balas dendam dari dalam? Ogah deh. Yang lain, ada apa aja?"

"Umm…" Momoi berpikir keras, "ah! Mungkin kau mau masuk klub seni? Seni lukis! Klub itu sekarang hanya memiliki dua anggota saja. Kau senang melukis di waktu senggang, 'kan, Tai-chan?"

Kagami berpikir sejenak, "Bisa kupikirkan hal itu. Nanti kulihat klubnya."

"Oke," Momoi menyatukan kedua telapak tangannya dan berhenti berjalan.

Kagami yang sudah berjalan beberapa langkah di depan berhenti dan menoleh ke belakang, "Ada apa, Satsuki?"

"Ada apa? Tai-chan, kau tak melihatnya?"

"Melihat apa?"

"Sebelah kirimu," jawab Momoi menghadap ke sebelah kirinya, "kita sudah sampai."

Kagami menoleh ke arah kiri dan terpukau, kagum. Ia bisa melihat halaman depan yang luas, dengan taman bunga dan air mancur di tengah-tengah. Lalu, di belakangnya, terdapat bangunan tinggi berwarna putih. Di belakang bangunan itu, terlihat siluet gedung-gedung yang lebih tinggi.

"Selamat datang di Teikou Academy, Tai-chan."

Kuroko meneguk minumannya. Latihan kali ini cukup melelahkan. Dan seperti biasa, cahayanya, Aomine Daiki, tidak datang ke latihan. Kuroko memandangi botol minumannya. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Aomine?

Tidak, apa yang terjadi pada Kiseki no Sedai?

Padahal dulu mereka sering jalan-jalan bersama, makan bersama, dan bersenang-senang. Namun, seiringnya waktu berjalan, entah mengapa Kuroko merasa hubungan mereka terasa lebih renggang.

Momoi juga terlihat khawatir dan sedih. Namun, akhir-akhir ini, dia lebih ceria dari sebelumnya. Sedangkan Kise juga mulai terlihat jauh, namun masih dekat dengan Kuroko karena mereka sekamar.

Ngomongin soal sekamar, Kuroko jadi ingat bahwa dia dan Kise akan mendapat teman sekamar baru hari ini.

Momoi bilang, pindahan itu dari sekolah yang pernah dihadapi oleh tim Teikou di Inter-High. Kuroko jadi penasaran. Bagaimana bisa anak pindahan itu pindah ke Teikou? Maksudnya, bukankah dia merasa benci pada Teikou karena telah dikalahkan? Apa hatinya sekuat baja hingga terima-terima saja pindah ke Teikou?

Kuroko berharap teman sekamarnya orang yang baik-baik dan tidak merepotkan. Cukup mengurusi anak anjing seperti Kise, ia tak mau dibebani lagi.

"Kurokocchi~!" Kise menghampiri Kuroko.

"Ada apa Kise-kun?" tanya Kuroko mengelap keringat dengan handuk kecilnya.

"Momocchi kemana, ssu?"

"Kurasa dia izin tadi dengan pelatih. Sepertinya mengecek murid pindahan itu."

"Eh? Murid pindahan?"

"Kise-kun, apa kau tak mendengar ucapan Momoi-san beberapa hari lalu?"

"Yang mana, ssu?"

"Kita akan kedatangan murid pindahan hari ini."

"Beneran, ssu!?" mata Kise berkilau.

Kuroko mengangguk, "Iya, dan dia akan menjadi teman sekamar kita yang baru."

"Wah, pasti mengasyikkan, ssu! Aku penasaran seperti apa teman sekamar baru kita," Kise berandai-andai, "apa dia main basket, ya?"

"Kurasa begitu."

"Eh!? Bagaimana Kurokocchi bisa tahu?"

"Momoi-san bilang teman sekamar baru kita adalah salah satu musuh kita saat Inter-High kemarin."

"Uh..oh…" Kise menundukkan kepala, "apa dia ingin balas dendam, ssu?"

"Aku tidak tahu, Kise-kun," Kuroko menggeleng, "kita akan tahu nanti."

"Baiklah, ssu!" Kise tersenyum mantap. Lalu terdengar suara peluit yang nyaring.

"Kita sudah dipanggil lagi. Ayo, Kise-kun," Kuroko meletakkan handuknya dan berlari menuju tengah lapangan.

"Oke, ssu!" Kise memberi hormat lalu mengikuti Kuroko.

Momoi mengantar Kagami ke ruangan guru yang mengurus mutasi siswa untuk mengkonfirmasi perpindahan Kagami. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mengkonfirmasi semua itu. Setelah mendapat kunci kamar, Momoi mengantar Kagami ke kamarnya.

"Kamarmu ada di Gedung C, lantai 6 nomor 607. Gedung C mungkin jauh dari kelasmu, tapi dia yang paling dekat dengan gym dan bukit belakang sekolah. Kalau gak salah, ada lapangan basket di belakang Gedung C," jelas Momoi.

"Jauh dari kantin gak?" tanya Kagami.

"Kalau yang kau maksud kantin sekolah, yah, lumayan sih. Tapi, setiap gedung terdapat ruang makan untuk makan malam dan sarapan dan minimarket di lantai dasar. Sebelum kau pergi ke kamarmu, kau harus memberitahu pengawas Gedung C."

"Pengawas? Ada berapa banyak? Semuanya laki-laki atau ada perempuan?"

"Kalau tidak salah ada empat pengawas. Tiga laki-laki, satu perempuan. Jam segini yang menjaga adalah Araki-sensei. Dia pembina klub kendo dan lumayan sadis. Tapi, sebenarnya dia baik kok," jelas Momoi, "lumayan…sih."

"Dia galak ya?"

"Tegas kok."

"Dijamin sadis."

"Gak juga."

"Pengawas yang lain siapa?"

"Mm…ada Nakamura-sensei, Suzuki-sensei, dan Sawamura-sensei. Yang paling galak sih Suzuki-sensei. Dia masuk list 'Guru Killer' di Teikou. Dia ngajar fisika untuk kelas dua."

"Astaga…gimana nasib otak idiot gue…"

"Tenang kok, Dai-chan juga idiot," Momoi megacungkan jempolnya.

"Dai-chan? Siapa tuh?"

"Salah satu anggota Kisedai. Bagiku, dia mirip denganmu loh; sama-sama basuke-baka. Tapi, masalahnya, selain idiot dan basuke-baka, dia gak bisa apa-apa lagi. Gak kayak Tai-chan, yang bisa masak, ngurusin rumah, main musik, ngelukis, bahkan jaga anak pun mampu."

Kagami cuman manggut-manggut.

"Tunggu…" mendadak wajah Momoi menjadi serius, "bukankah Tai-chan itu material housewife yang baik?"

"Hei…"

"Aku gak bercanda, serius! Tai-chan 'kan pandai bersih-bersih, bisa masak, imut lagi."

"Siapa yang lo panggil imut, hah!?" Kagami sewot sambil blushing.

"Tuh 'kan, imut~ Ih, Tai-chan, kenapa engkau begitu imut~?"

"Diamlah, Satsuki," Kagami memalingkan mukanya.

"Malu nih ye…malu…"

"Ughh…"

Momoi tertawa kecil melihat wajah blushing Kagami. Walaupun Kagami sebelas-duabelas dengan Aomine, tetapi Kagami memang material housewife yang baik, dan pemuda sangar ini mempunyai sisi imut yang benar-benar imut.

"Oh ya, barang-barang ku? Aku cuman bawa satu koper dan tas ransel yang isinya sebagian dari barang-barangku di apartemen lamaku," tanya Kagami baru sadar.

"Buku dan seragam? Sepertinya sudah dititipkan kepada pengawas Gedung C. Kalau soal lemari, rak, dan yang lainnya, mungkin besok baru datang. Pertama, kau harus mengonfirmasi bahwa kau memang akan belajar di Teikou dan menetap di asrama. Baru barang-barangmu datang keesokan harinya," jawab Momoi.

"Gitu ya..?" Momoi hanya mengangguk.

Mereka akhirnya sampai di Gedung C. Tak jauh dari sana, mereka melihat sebuah meja resepsionis dengan seoran wanita berambut hitam dan membawa pedang kayu mengawasi sekitar. Momoi dan Kagami mendadak mematung ketika pandangan si wanita beralih ke keduanya.

Momoi berjalan duluan, diikuti oleh Kagami. "Konnichiwa, Araki-sensei," sapa Momoi yang diikuti bungkukan Kagami.

"Konnichiwa, Momoi," jawab Araki-sensei dengan nada dingin, lalu menoleh ke arah Kagami, "dan, siapa pemuda itu?"

"Dia murid baru yang akan menetap di kamar 607, sensei. Namanya Kagami Taiga," jawab Momoi.

"Na-nama saya Kagami Taiga, yoroshiku onegaishimasu, sensei," Kagami membungkuk dengan kaku.

"Begitu, jadi kau murid pindahan itu," Araki-sensei manggut-manggut, "perkenalkan, namaku Araki-sensei. Jangan coba macam-macam disini, mengerti?"

"Me-mengerti…desu," Kagami mengangguk dengan gugup, membuat Momoi geli.

"Sekarang, kau harus mengisi buku agenda ini dan bawa kardus di balik meja ini, yang ada tulisan nomor kamarmu," jelas Araki-sensei.

Kagami mengangguk dan menurut. Momoi memerhatikan Kagami mengisi buku agenda itu lalu mengambil kardus di balik meja resepsionis. "Biarkan aku membawa kopermu," kata Momoi dengan nada memaksa.

"B-baiklah," Kagami pasrah, "terima kasih, Araki-sensei."

"Terima kasih, Araki-sensei," sambung Momoi.

"Terima kasih kembali," Araki-sensei mengangguk dan memerhatikan keduanya yang berjalan menuju lift. Momoi menekan tombol naik. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan keduanya masuk. Momoi menekan tombol enam.

Terdengar alunan musik mellow di lift. "Bukankah ini terlalu sepi?" ungkap Kagami.

"Sekarang akhir pekan, Tai-chan. Semua orang pergi bersenang-senang."

"Dan tim basket harus latihan?"

"Kami akan latih tanding besok dengan universitas, makanya kami latihan."

"Bukankah kau akan kena marah jika terlalu lama izin?"

"Aku sudah bilang bahwa aku diharuskan mengawasi murid pindahan atas perintah kepala sekolah, jadi, ya, kurasa tak apa."

"Kau berbohong, ya?"

"Oh, ayolah, sesekali membolos dari neraka itu boleh, 'kan? Gak semua anak-anak Teikou itu sesempurna putri kerajaan."

"Ya, ya, aku tahu. Kau bahkan tak mendekati putri kerajaan selain penampilanmu."

"Dasar lo, Tai-chan," Momoi memukul perut Kagami yang langsung meringis.

"Satsuki, gue bawa kardus berat loh. Lo bakal tanggung jawab nanti kalo gue masuk UKS," dan Momoi hanya tertawa geli.

Ting! Lift sampai di lantai enam. Pintu lift terbuka, dan keduanya keluar. Momoi memandu Kagami ke arah kanan. Setelah berjalan beberapa langkah, mereka sampai di depan pintu kayu bertuliskan nomor 607.

Momoi mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu kamar. Momoi melepas sepatunya, begitu juga Kagami, yang kemudian menutup pintu dengan mendorongnya. Kamar itu seperti apartemen lamanya, namun lebih luas dan mewah.

Momoi memasuki kamar dengan pintu berwarna merah marun. Di sana terdapat sebuah single bed dengan laci di dekat kasur. Dinding kamar itu berwarna vermillion. Momoi meletakkan koper itu tak jauh dari laci. Kagami meletakkan kardusnya tak jauh dari sana.

"Jadi, ini kamarku? Luas juga," tutur Kagami melihat sekeliling kamarnya.

"Tentu saja. Teikou 'kan sekolah elit," jawab Momoi, "seperti yang kubilang sebelumnya, barang-barangmu akan datang besok."

"Tapi, besok bukannya aku sudah mulai sekolah, ya?"

"Besok tanggal merah, Tai-chan."

"Benarkah? Aku tak tahu."

"Tentu saja, yang ada dipikiranmu hanya makanan dan basket juga tidur saja."

"Hei, aku juga memikirkan hal lain, tahu."

"Terserah, aku akan menunjukkan hal lain di kamar ini," Momoi keluar dari kamar Kagami. Kagami mengekorinya.

Mereka berjalan menuju pintu di dekat pintu masuk, "Ini kamar mandinya. Ada shower dan bathup. Jadi, terserah kau mau mandi menggunakan apa. Saranku, kau shower-an dulu baru berendam di bathup."

Kagami hanya mengangguk.

Lalu, mereka berjalan ke ruang tengah. Di sana terdapat karpet bundar berwarna biru dongker, dengan meja kaca di atasnya. Di depan meja terdapat TV, dan dibelakangnya terdapat sofa panjang berwarna oranye pucat. Tak jauh dari ruang tengah, terdapat dapur dengan alat-alat yang super lengkap, dan kulkas abu-abu berdesain bunga yang besar. Di samping dapur terdapat balkon.

Momoi melihat raut wajah Kagami. Matanya berbinar kagum. Kagami segera menghampiri kulkas dan melihat isinya. "Oh ya ampun, anak-anak ini pasti jarang memasak. Isinya hanya snack saja," komentar Kagami.

"Makan pagi dan makan malam sudah disediakan oleh pengurus asrama di Ruang Makan. Tetapi, kau boleh melewatkannya dengan membuat makanan sendiri di kamar. Makan pagi di mulai pukul 06.15, soalnya kelas dimulai pukul 07.15―tetapi kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pukul 07.30. Sedangkan makan malam dimulai pukul 19.25, dan paling lambat pukul 21.00 soalnya banyak lampu yang sudah dipadamkan saat itu."

"O…kee…" Kagami manggut-manggut mengerti, "apa isi minimarket?"

"Biasanya peralatan mandi, alat tulis, pembersih, atau makanan beku."

"Bahan-bahan masakan?"

"Kau harus pergi ke supermarket dekat sini. Lumayan jauh sih kalau jalan kaki."

"Gitu…"

"Ayo, kutunjukkan yang lain," kata Momoi berjalan menuju kamar yang tak jauh dari dapur. Kagami mengikutinya. Kamar itu bernuansa abu-abu pucat, terkesan rapi dan…sedikit suram sepertinya.

"Ini kamar Tetsu-kun. Dan, yeah, kamar ini terkesan suram. Tetsu-kun memang orang yang misterius dan wajahnya selalu datar. Tapi, itu yang membuatnya imut~" Momoi langsung fangirling-an.

Kagami mengamati kamar itu. Single bed, dengan laci dan jam weker biru muda di atasnya. Di sampingnya terdapat meja belajar dari kayu dan beberapa buku. Sepertinya dia suka membaca, batin Kagami, dan bukan tipe orang yang merepotkan. Tapi, hawanya yang tipis ituloh…ngeri banget, kayak hantu.

"Oke," Momoi menyatukan kedua telapak tangannya, "ayo kita ke kamar sebelah, kamarnya Ki-chan."

Kagami menutup pintu kamar itu dan berjalan menuju kamar di sebelah. Kamar itu berwarna soft yellow dengan banyak barang yang…menyakitkan mata? Mungkin itu kata yang tepat, dan terkesan berantakan.

"Ini kamar Ki-chan. Ki-chan seorang model yang sibuk, jadi kamarnya berantakan begini, dan dia cerewet, sama sepertiku," jelas Momoi.

Kagami manggut-manggut mengerti. Kagami mengambil kesimpulan bahwa Kise adalah orang yang childish, cerewet, mungkin mirip Momoi cuman versi lebih parahnya. Kagami hanya berharap Kise tidak akan membuat hidupnya lebih parah.

Setelah puas mengamati kamar Kise, Momoi dan Kagami keluar. "Jadi, aku akan kembali ke gym. Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Momoi.

"Menyiapkan mental untuk bertemu si manusia hantu dan sepupunya Spongebob sambil menikmati cemilan dan menonton TV lalu memutar lagu dan menggambar mungkin?" jawab Kagami.

Momoi menatapnya datar, "Bagaimana kalau memperlajari sistem Teikou Academy, denahnya, dan klub-klubnya? Aku akan mengambilnya dari kamar Tetsu-kun," Momoi memasuki kamar Kuroko.

Kagami menatapnya masam, "Biarkanlah aku istirahat sejenak, manajer sialan. Besok juga libur."

"Tidak bisa, Tai-chan. Rangkuman Teikou Academy aja segini, lebih baik kau mempelajarinya sekarang, sambil menyetel TV atau mendengarkan lagu, silahkan. Sambil memakan cemilanpun tak apa," Momoi keluar sambil membawa serta buku bersampul biru muda yang cukup tebal.

Kagami mengernyit, "Aku mual."

"Kalau begitu, silahkan muntah di kamar mandi, baru membaca buku ini," Momoi meletakkan buku itu di atas meja, "baiklah, aku akan kembali ke gym. Tiga jam lagi latihan akan berakhir, jadi siap-siaplah. Sampai jumpa nanti, Tai-chan."

"Ugh…yeah, sampai jumpa…" Kagami mengelus perutnya yang terasa seperti melilit.

Momoi keluar dari kamar itu, menyisakan Kagami sendirian. Kagami menatap buku tebal itu dengan tatapan membunuh, lalu mendesah. "Terserah deh, daripada aku disayat si em-pink sialan itu," Kagami menyalakan TV dan duduk di sofa. Ia mengambil buku itu dan mulai membacanya dengan enggan.

"Moga aja otak berkapasitas kecil gue bisa ngerti ginian, Sat…" gumam Kagami menghela napas berat.

Kise mengatur napasnya. Pelatih benar-benar sadis hari ini. Apa karena besok akan ada latih tanding dengan universitas dekat sini? Tapi, gak se-sadis ini juga, 'kan?

Kise mendengar pintu gym dibuka. Ia langsung menoleh, mendapati Momoi memasuki gym. Momoi terlihat lelah. Apa mengantar anak pindahan itu begitu susah?

"Momocchi!" Kise berlari menghampiri manajer tim basket itu.

"Ada apa Ki-chan?" tanya Momoi tersenyum.

"Kau terlihat lelah, ssu. Apa mengantar anak pindahan itu benar-benar melelahkan?"

"Sebenarnya, jarak antara satu gedung dengan yang lainnya yang membuatku lelah. Untung kamarnya ada di Gedung C. Misalkan kamarnya di Gedung A, aku akan bolos hingga latihan berakhir."

"Momocchi curang, ssu," Kise memanyunkan bibirnya dan Momoi tertawa kecil. "Jadi, anak pindahan itu seperti apa, ssu?"

"Umm…sekilas dia mirip Aomine-kun, tapi dia tidak se-arogan si dim itu, dan kulitnya lebih putih."

Kise tertawa geli, "Apa dia menyenangkan?"

"Sepertinya begitu. Dia mengeluh karena tak ada bahan buat memasak di minimarket. Dia suka memasak mungkin."

"Wahh…aku penasaran dengan masakannya, ssu."

"Mungkin kau bisa menemaninya membeli bahan-bahan makanan di supermarket nanti."

"Itu akan membuat hubungan kami jadi lebih dekat, bukan?"

"Tentu saja."

"Sekarang dia sedang apa, ssu?"

"Aku memaksanya membaca buku tentang Teikou Academy yang kupinjam dari kamar Tetsu-kun."

"Momocchi sadis~"

"Heh, kau harus tahu sistem sekolahmu sebelum kau memulai kegiatan belajar disini."

"Kau benar, ssu! Untungnya kita sudah sekolah sejak SMP di Teikou, jadi tak perlu mempelajari buku tebal menyebalkan itu lagi, ssu."

Momoi tertawa kecil, "Mungkin sebaiknya kau kembali berlatih, Ki-chan, kau tak mau kena tusuk guntingnya Akashi-kun, 'kan?"

"Tentu saja, ssu! Aku kembali berlatih, ya, Momocchi!" Kise melambai pada Momoi dan kembali bergabung dengan yang lain.

"Semangat, tiga jam lagi kau akan bertemu dengan si murid pindahan, Ki-chan~" Momoi membalas lambaian tangan itu.

Latihan selesai sekitar pukul empat sore. Kise dan Kuroko mengatur napas mereka yang tersengal-sengal. Setelah menghabiskan minuman mereka, keduanya bergegas pamit dengan yang lain dan pergi ke kamar mereka.

Berhubung kamar mereka dekat, jadi mereka akan mandi di kamar saja.

Lagipula, mereka sudah penasaran dengan teman sekamar baru mereka.

Tapi, masalahnya di teman sekamar kami yang baru adalah musuh yang kami kalahkan di Inter-High, batin Kuroko.

Jika dia berniat membalas dendam bagaimana? batin Kise, tapi, Momocchi bilang dia baik sih.

"Kurokocchi," panggil Kise.

"Ya, Kise-kun?" tanya Kuroko menoleh ke belakang.

"Aku benar-benar semangat bertemu teman sekamar baru kita," ujar Kise, "tapi, disisi lain, aku juga takut. Bagaimana kalau dia…membenci kita?"

Kuroko diam menatap Kise, "Aku juga takut, Kise-kun. Tapi, mau bagaimana lagi? Lebih baik kita bergegas pergi ke kamar. Tubuhku terasa lengket. Aku ingin segera mandi."

Kise mengedipkan matanya beberapa kali, lalu tersenyum, "Tentu."

Mereka sampai di lantai dasar Gedung C. Disana, terdapat beberapa siswa yang sedang mengisi agenda dan Araki-sensei dengan pedang kayunya. Ketika mereka di dekat meja resepsionis, siswa tadi sudah menaiki lift.

"Konnichiwa, Araki-sensei," sapa Kuroko.

"Konnichiwa, Araki-sensei~!" seru Kise melambaikan tangan.

"Konnichiwa, Kuroko, Kise," Araki-sensei menatap mereka tanpa ekspresi, "kalian sepertinya sangat kelelahan."

"Iya, ssu! Pelatih sangat sadis hari ini, entah kenapa," jawab Kise masam, sedangkan Kuroko mengisi agenda.

"Mungkin dia lagi baper kali. Pelatih kalian 'kan baper-an orangnya," kata Araki-sensei.

"Eh? Pelatih orangnya baper-an? Muka sangar gitu baper-an?" Kise gak habis pikir dengan ucapan Araki-sensei.

Kuroko selesai menulis agenda, "Kise-kun, tanda tanganmu."

"Oh iya," Kise mengambil alih pena dan menuliskan tanda tangannya di agenda.

Kuroko menatap Araki-sensei, "Araki-sensei, apa kesan pertamamu melihat murid pindahan itu?"

Araki-sensei berpikir sejenak, "Dia mirip Aomine sih. Tubuhnya tinggi, besar―sepertinya dia ikut olahraga. Sedikit kaku sih. Bicaranya kasar, tapi dia berusaha untuk sopan. Mungkin bawaan dari sana."

"Dari sana?" tanya Kise bingung.

"Kudengar dia tinggal di Amerika sebelum sekolah di Jepang," jawab Araki-sensei.

"Eh, serius-ssu!?" mata Kise berbinar.

"Apa menurut Araki-sensei dia merepotkan?" tanya Kuroko.

"Hmm…sebenarnya tidak terlalu, sepertinya. Kenapa tidak kau cari tahu sendiri?" jawab Araki-sensei.

"Baiklah, kalau begitu kami ke kamar dulu, permisi Araki-sensei," Kuroko berjalan menuju lift.

"Eh, tunggu, Kurokocchi," Kise menulis sesuatu di agenda, menutup pena, dan berlari mengejar Kuroko, "sampai jumpa nanti, Araki-sensei!"

Araki-sensei hanya mengangguk. Menunggu 10 menit, akhirnya pintu lift terbuka dan tiga orang siswa keluar. Kuroko dan Kise segera masuk dan menekan tombol enam. Lagu barat terdengar di dalam lift. Mereka berhenti di lantai lima, dan dua orang siswa masuk.

Tak lama, lift berhenti di lantai 6 dan kedua pemain basket Teikou itu keluar, berbelok ke kanan, menuju kamar mereka.

Kuroko memegang ganggang pintu, menelan ludahnya, menyiapkan mental. Ia menatap Kise yang berada di sebelahnya. Kise menatap balik Kuroko, lalu mengangguk. Kuroko menggerakkan ganggang pintu ke bawah dan membuka pintu.

Pemandangan yang disambut pertama kali oleh keduanya adalah sosok pemuda berambut gradasi merah-hitam yang sedang selonjoran di sofa sambil membaca buku tentang Teikou Academy dan TV yang menyala.

Tunggu dulu, bukankah itu, Kuroko mengingat siapa pemuda itu.

"Nomor punggung sepuluh Seirin!" seru Kise menunjuk ke arah pemuda itu.

Merasa dipanggil, pemuda itu menatap Kise dan Kuroko bingung. Sedetik kemudian, pemuda itu menjerit kaget hingga melempar buku tebal itu dan berlari bersembunyi di dapur. Mengintip mereka sambil memegang penggorengan.

Eh…? ekspresi Kuroko dan Kise tak bisa dijelaskan melihat reaksi si pemuda berambut merah-hitam itu.

"A-a-aku gak ngambil cemilan kalian, sungguh!" serunya terdengar gugup, "a-a-aku cuman nyalain TV sambil baca buku jahanam itu. Sumpah demi panci ini!"

Demi panci…? batin Kuroko dan Kise sweatdrop.

"Tenang nomor sepuluh Seirin, kami gak akan menggigit kok," kata Kuroko berusaha menenangkan pemuda itu.

"Apa kau teman sekamar kami yang baru, ssu?" tanya Kise hati-hati.

Pemuda itu mengangguk denga cepat. Dia ketakutan, batin Kuroko dan Kise sweatdrop.

Kuroko melangkah mendekati dapur, "Tenanglah, tak ada yang perlu ditakutkan. Kami tak akan melakukan apapun terhadapmu."

"Be-benarkah?" tanya pemuda itu menunjukkan wajahnya.

"Tentu-ssu! Kau sekarang adalah anggota baru di kamar kami, jadi kita teman-ssu, nomor sepuluh Seirin!" jawab Kise mengikuti jejak Kuroko.

"A-a-aku punya nama loh…" pemuda itu terdengar kesal namun suaranya gemetar.

"Kami juga. Ayo, kita perkenalkan diri masing-masing di sofa," ajak Kuroko mengulurkan tangan. Mata pemuda itu berkilau melihat aksi Kuroko. Kedua pemain basket Teikou itu menemukan bahwa ekspresi itu lucu.

"T-tapi, a-aku boleh megang panci ini, 'kan?" tanya pemuda itu hati-hati.

Kuroko dan Kise saling pandang, lalu memandang pemuda itu. "Bagaimana kalau memeluk bantal saja, ssu?" usul Kise.

Pemuda itu mengeratkan pegangannya pada panci itu. "Baiklah-ssu, kau boleh memegang panci itu," Kise tersenyum pasrah.

Pemuda itu bangkit dan keluar dari dapur. Kuroko tersenyum, "Ayo," dan menarik tangan pemuda itu yang bebas. Ketiganya berjalan ke sofa dan duduk disana. Pemuda beriris crimson itu duduk di tengah, sedangkan Kise dan Kuroko mengapitnya.

"Jadi, bagaimana kau yang pertama, nomor sepuluh Seirin?" usul Kise.

Pemuda itu merapatkan kedua bibirnya, lalu berbicara, "K-Kagami Taiga."

"Namaku Kuroko Tetsuya, salam kenal, Kagami-kun," ucap Kuroko.

"Dan aku Kise Ryota, salam kenal juga, Kagami!" seru Kise dengan energik.

Kagami hanya mengangguk-angguk. "K-kalian tak akan melakukan hal-hal aneh…'kan?"

"Kenapa kau begitu ketakutan, Kagami-kun?" tanya Kuroko bingung.

"Karena kalian menyeramkan di lapangan, jadi aku lumayan takut, kalau kalian akan ngapa-ngapain. Apalagi ketua kalian yang matanya belang itu. Pendek-pendek tapi ngeri," Kagami merinding mengingatnya.

Untung Akashi-kun/Akashicchi tidak ada disini, batin Kuroko dan Kise lega.

"Tak perlu cemas, Kagami-kun, kami tak seseram itu, di luar lapangan," jelas Kuroko.

"Itu benar, ssu! Jadi, Kagami gak perlu cemas!" seru Kise, "jadi, jadi, kenapa kau pindah ke Teikou?"

Kagami langsung diam. Kuroko menatap tajam Kise. Kise mendadak merasa bersalah, "Eh, ma-maaf, ssu. A-aku―"

"Tidak apa, aku cuman mendadak syok aja tadi," jawab Kagami tersenyum kecil, namun terlihat sedih, "aku dipaksa pindah ke Teikou Academy oleh ayahku."

"Kenapa?" tanya kuroko.

"Apa karena kami mengalahkan Seirin di Inter-High?" sambung Kise mengelus pundak Kagami.

"Tidak," Kagami menggeleng, "apapun alasannya, pasti ayahku ingin yang terbaik untukku, walaupun sebenarnya cukup pedih untukku. Orang tua zaman sekarang, kadang tidak memerhatikan perasaan anaknya," Kagami menerawang jauh ke luar balkon.

Mendadak, Kuroko dan Kise ikutan galau. "Tapi, ya sudah. Mohon kerja samanya kedepan, Kuroko, Kise," Kagami tersenyum lebar, membuat Kuroko dan Kise blushing sedikit.

"Tentu, Kagami-kun," Kuroko tersenyum sambil menggenggam tangan Kagami.

"Serahkan saja pada kami, ssu!" seru Kise bersemangat sambil memukul dadanya, "jadi, apa kau akan masuk ke tim basket juga?"

Suasana menjadi berat lagi. Kuroko men-death glare Kise, "Kise-kun…"

"Eh, ma-maafkan aku, ssu! Aku tak bermaksud untuk…uh…" Kise merasa bersalah dua kali.

"Tidak sih. Rasanya sia-sia saja masuk tim basket Teikou. Kalian sudah terlalu kuat. Apa untungnya jika aku masuk? Jadi starter aja susah. S―Momoi bilang kalau di belakang Gedung C ada lapangan basket, jadi mungkin aku akan bermain disana saja di waktu luangku," jawab Kagami menatap penggorenga yang dia pegang.

Kuroko dan Kise menatapnya kasihan. "Kalau gitu, kita nanti main sama-sama, oke?" ajak Kise tersenyum lebar.

Kagami menatap Kise, lalu tersenyum, "Tentu."

"Aku juga ikut," kata Kuroko.

"Boleh saja," Kagami kini memandang Kuroko.

"Jadi…um…Kagami…kau akan ikut klub apa? Di Teikou wajib ikut klub. Minimal satu…" tanya Kise gugup.

"Hmm…" Kagami berpikir sejenak, "klub seni kurasa."

"Eh, Kagami bisa melukis!?" seru Kise kaget.

"Lu…mayan…lah…" Kagami terdengar tidak yakin, "ibuku seorang seniman. Kadang, beliau mengajariku berbagai teknik melukis."

"Aku jadi penasaran dengan lukisanmu, Kagami-kun," kata Kuroko penuh minat, yang diikuti anggukan Kise.

"Ah…itu…" Kagami mengusap tengkuk lehernya, wajahnya merah padam, malu.

"Oh ya, kata Momocchi, kau bisa masak, ya?" tanya Kise menyatukan kedua telapak tangannya.

"Hah?" Kagami menatap Kise bingung.

"Kata Momocchi, kau mengeluh karena tak ada bahan masakan. Jadi, kukira kau bisa memasak..?" jawab Kise.

"Lumayan bisa sih. Aku tinggal sendiri sebelumnya, di apartemen. Jadi, aku harus bisa masak untuk menghemat pengeluaranku," jawab Kagami.

"Kita bisa ke supermarket bersama-sama jika kau ingin beli bahan-bahan, Kagami-kun," usul Kuroko.

"Tentu, kapanpun kalian senggang," Kagami tersenyum, "oh ya, kalian tidak mandi? Kalian berkeringat sekali."

"E-eh, tentu," Kise bangkit dari sofa dan menuju kamarnya, "aku sampai lupa untuk mandi karena terlalu bersemangat."

"Bersemangat?" tanya Kagami menoleh ke arah Kuroko.

"Untuk bertemu Kagami-kun, teman sekamar baru kami," jawab Kuroko.

"O-ohh…" Kagami terlihat blushing sedikit lalu bangkit, "a-aku akan meletakkan kembali panci ini," dan berjalan menuju dapur. Kuroko memerhatikan Kagami.

"Kata Momoi besok tanggal merah, ya?" tanya Kagami.

"Iya," Kuroko mengangguk, "tetapi, kami ada latih tanding dengan universitas di dekat sini."

"Dengan universitas?" Kagami terkejut.

Kuroko mengangguk, "Tidak ada musuh yang cocok lagi untuk berlatih dengan kami, jadi Pelatih meminta bantuan pada universitas sekitar."

Kagami manggut-manggut, "Kalian benar-benar kuat ya."

"Iya…" kata Kuroko lirih, memandang lantai, "terlalu kuat."

Walaupun ucapannya pelan, tapi masih terdengar oleh Kagami. Kagami berjalan mendekati Kuroko lalu mengelus pelan kepalanya. Kuroko mendongakkan kepala. "Kagami-kun?"

"Kau terlihat sedih tadi. Biasanya, ayahku akan mengusap kepalaku untuk menenangkanku. Atau ibuku akan memainkan sebuah lagu," Kagami tersenyum hangat.

Kuroko menatap Kagami dalam diam, "Kagami-kun ternyata orangnya baik ya. Kaku dan pemalu. Juga penakut."

"H-hei, aku tidak kaku, pemalu, apalagi penakut, ya!" sanggah Kagami dengan wajah merah padam.

Kuroko tertawa geli, "Kagami-kun lucu juga."

"Be-berisik!" Kagami menghentakkan kakinya menuju kamarnya dan menutupnya dengan keras. Kuroko tertawa kecil. Lalu, Kise keluar dari kamarnya sambil membawa set baju dan handuk berwarna cokelat tua.

"Ada apa, Kurokocchi? Kagami marah?" tanya Kise penasaran.

"Tidak, dia hanya malu," jawab Kuroko, "aku juga ingin mandi, Kise-kun, jadi kumohon untuk tidak berlama-lama mandinya."

"I-itu…akan ku usahakan, ssu," Kise menggaruk pipinya yang tidak gatal, "aku mandi dulu~" Kise berlari kecil menuju kamar mandi. Meninggalkan Kuroko sendiri di ruang tengah dengan TV yang menyala. Kuroko bangkit dan mengambil buku yang dilempar Kagami tadi saat menjerit.

Tanpa sadar, dirinya tersenyum.[]


A/N: Kayaknya chapter ini panjang ya *lirik words* NJIRR, 4K LEBIH!? Hebat, hebat/bangga

Romance-nya kerasa gak sih? KuroKaga feels-nya? KiKaga feels-nya? Lanjut chapter depan ya KuroKagaKi nya~

Kayaknya disini kebanyakan scene KagaMomo-nya,,

Dan sepertinya Kise terlalu ramah/dilempar Kise

Minggu depan mungkin update-nya, atau kapan, entahlah. Sebentar lagi Alice mau ujian akhir sems, nanti kalo kelamaan main laptop dimarahin emak, laptop disita nanti (tapi itu pasti gak mungkin karena Alice bakal mogok ngapa2in dan berdiam diri di kamar kayak kepompong #anak bejat)

Akhir kata, makasih buat yang udah membaca, follow, fav, dan nge-review fic ini~ :D


Edited: 05/15/2016