Who Are You? By
CherryKnight23
.
.
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story © CherryKnight23
Pairing : SasuSaku & Others
Rate : M (for Save)
Genre : School-Life, Romance, Hurt, Drama, Family
Warning! : OOC, OC, AU, Bad Chara (maybe),Typo(s)(Always), Bashing Chara (maybe), EYD amburadul dan gangguan lainnya XD
.
.
.
.
.
(RE-PUBLISH)
Fict ini terinspirasi dari sebuah drama Korea yang berjudul "Who Are You?/ School 2015" dan judulnya juga sama ^^v
No flamer and silent readers pelasee... (..)
Okelahkalaubegitchuu~... langsung saja..
Cekidot!
.
.
.
.
.
Kalau udah baca chapter 1 lalu anda merasa tidak suka please get out from my fict. Okeyy! (^0^)
.
.
.
.
.
Sakura berjalan santai sambil menelfon seseorang di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Sebuah koper hitam yang ditarik oleh tangan kanannya senantiasa mengikuti kemanapun dirinya melangkah.
"Well, aku sudah sampai tiga puluh menit yang lalu, Shion." Ucapnya.
"Sakura kau benar-benar serius?" Tanya Shion dari seberang telefon. Sakura mendengus pelan.
"Hmm, aku serius kita sudah membicarakan ini. Aku juga sudah membicarakan hal ini pada kedua orang tuaku dan mereka setuju."
"Satu-satunya orang gila yang melakukan ini hanya kau Sakura. Kau tidak peduli dengan kuliahmu?"
"Mengulang satu semester lagi bukan masalah besar bagiku."
"Dasar wanita jadi-jadian."
"Whatever.."
Bruk!
Percakapan di telpon itu berhenti begitu saja akibat IPhone-nya yang terjatuh saat seseorang menabraknya cukup keras. Sakura melepas kacamatanya dan terpaksa mendongak sambil menatap tajam pada orang yang ternyata lebih tinggi darinya. Pantas saja lebih tinggi, orang yang menabraknya itu adalah seorang pemuda. Pemuda yang tampan. Sakura mendecih pelan.
"Brengsek!"
Pemuda yang juga memakai kacamata hitam itu ikut melepas kacamatanya. Nampaklah sepasang mata onyx yang saat ini tengah membalas tatapan tajam yang diberikan Sakura padanya.
"What? Kau menyebutku apa?" Tanya pemuda itu dingin.
"Kau tuli?" Tanya Sakura balik dengan nada bicara yang tak kalah dingin. Pemuda itu semakin menatap tajam Sakura juga semakin menatap tajam pemuda itu.
"Hn. Stupid girl." Ucap pemuda itu pelan dan pergi melewati Sakura begitu saja. Sakura benar-benar kesal sekarang. Dia segera melepas sepatunya dan melempar punggung pemuda itu. Membuat si pemuda menghentikan langkahnya dan kembali berbalik sambil menatap tajam Sakura.
"Apa kau sedang berusaha menarik perhatianku?" Ucap pemuda itu seraya kembali mendekati Sakura yang saat ini sedang medengus kesal dan melipat kedua tanggannya di depan dada. Posisi mereka ini saling berhadapan dan saling menatap tajam.
"Dan katakan alasan kenapa kau berfikir seperti itu." Balas Sakura.
Pemuda itu memicingkan matanya, menatap penampilan Sakura dari atas sampai bawah. Dia akui, gadis itu cantik dan sexy. Tidak ada satu pun tanda-tanda bahwa gadis di hadapannya itu memiliki ketertarikan padanya. Lihat saja tatapan matanya yang tajam dan terkesan mengejek itu, sangat langkah sekali. Dirinya adalah seorang pemuda yang sering disebut sebagai magnet para wanita, dan baru kali ini dia bertemu dengan seorang perempuan yang tidak tertarik padanya. Sungguh menarik bukan?
Dengan langkah yang terlihat santai, pemuda yang tampan yang memiliki rambut berwarna biru donker berjalan mendekati Sakura yang masih berdiri diam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Setelah berada tepat dihadapan gadis itu, pemuda itu menundukkan kepalanya lalu berbisik pada Sakura.
"So excited." Bisik pemuda itu pelan sebelum dia menempelkan bibirnya pada bibir tipis Sakura dan melumatnya.
Sakura membelalakkan matanya, dengan keras dia mendorong pemuda itu dan mengusap bibirnya kasar. Shit! Ini ciuman pertamanya, dan pemuda tampan yang entah siapa itu sudah seenaknya mengambilnya. Tanpa aba-aba Sakura mendaratkan sebuah pukulan pada wajah pemuda itu, menampar sudah terlalu mainstream, dan jangan pernah meremehkan gadis yang sudah menguasai banyak aliran bela diri itu.
Sasuke Uchiha mengusap pipinya yang baru saja di tonjok oleh seorang gadis, sekali lagi di TONJOK oleh seorang GADIS! Dimana harga dirinya sekarang. Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasa sangat dipermalukan. Mata onyx menatap tajam iris emerald gadis di hadapannya itu. Death glare mu sepertinya tidak berpengaruh padanya Sasuke. Akhirnya setelah berusaha untuk meredam amarahnya, Sasuke segera melangkah menjauh dari gadis itu sesegera mungkin.
Sakura menatap kesal pada kepergian pemuda yang telah merebut ciuman pertamanya itu. "Cih, Loser!" Diraihnya Iphone-nya yang terjatuh. Dia yakin Shion pasti masih belum memutuskan telponnya. Well, tebakannya selalu benar.
"Halo! Sakura? You can hear me?! Woy! Crazy girl!" Terdengar teriakan Shion dari ponselnya membuat Sakura berdecak kesal.
"Shut up, bitch! Aku harus pergi sekarang." Ucap Sakura sebelum dia mematikan Iphone-nya. Mood-nya benar-benar buruk sekarang. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada sebuah pesan yang masuk.
From : Shion
Aku akan membalasmu nanti, Crazy Girl!
Sakura mendengus pelan. Seharusnya dia merasa senang karena bisa kembali ke kota kelahirannya, tapi pemuda yang entah siapa itu telah berhasil merusak kesenangannya. Dia menghela nafas panjang sebelum menghentikan sebuah taxi yang tepat melintas dihadapannya.
"Cih, stupid." Sakura berdecih kemudian memasuki taxi dan pergi menuju ke rumahnya. Sepertinya dia sudah sangat banyak mengeluarkan umpatannya hari ini.
Di sisi lain, Pemuda yang di tonjok oleh Sakura a.k.a Uchiha Sasuke terus mendengus kesal. Tidak disangka kepulangannya ke Jepang mendapat sambutan yang menyebalkan. Gadis sialan itu! Tak lama setelah itu, bibirnya membentuk sebuah seringai yang entah apa maksudnya.
"Aku harap kita bertemu lagi Cherry."
Drrrtttt...drrrrtttt...
Sasuke segera merogoh ponselnya yang berdering di saku celananya.
"Sasuke! Dimana kau? Pesawatmu sudah mendarat sejak tadi dan aku belum melihatmu!" Ucap seseorang diseberang telepon pemuda yang bernama Sasuke itu.
"Hn. Ada sedikit masalah." Jawab Sasuke. Beberapa gadis yang berada di bandara terus melihatnya dengan tatapan memuja dan wajah yang bersemu merah. Sasuke menyeringai ke arah para gadis tersebut membuat wajah mereka semakin bersemu merah
"Masalah apa? Kau baik-baik saja?" Tanya orang diponsel itu lagi.
"Hn. Aku tidak apa-apa Nii-san" Jawab Sauke pelan sebelum mematikan telponnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat tujuannya. Tak lupa seringainya kembali muncul setelah mengingat wajah Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura berdiri diam di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat. Dia merasa sangat rindu setelah sekian lamanya, dia kini bisa kembali berdiri di hadapan sebuah rumah mewah yang menyimpan banyak kenangan masa kecilnya bersama dengan saudara dan orang tuanya. Tanpa berpikir panjang lagi dia segera menekan bel yang terdapat di sisi pintu itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita tua yang menatapnya kaget. Sakura tersenyum pada Nenek Chiyo, dia benar-benar merindukan pengasuhnya itu.
"Sa..Sakura-chan!" Nenek Chiyo langsung memeluk gadis di hadapannya itu. Sakura tersenyum lembut seraya membalas pelukan wanita tua itu.
"Dimana si cengeng itu?" Sakura mengedarkan matanya keseluruh ruangan. Tidak banyak yang berubah, hanya ada beberapa perabotan dan lukisan yang ditambah.
"Saki-chan sedang pergi ke toko buku, katanya dia butuh buku baru untuk menghilangkan suntuknya." Jawab nenek Chiyo. "Istirahatlah dulu, aku akan memanggilmu nanti jika Saki-chan sudah pulang."
Sakura mengangguk pelan sebelum menmbawa kopernya menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas, berseblahan dengan kamar Saki. Dia mengedarkan pandanganya menatap kamar yang sudah ditinggalkannya lebih dari 10 tahun itu. Kamar yang luas itu didominasi oleh warna merah maron dan putih itu masih tetap sama, terdapat sebuah tempat tidur berukuran queen size ditengah ruangan tersebut. Di sudut ruangan ada sebuah lemari kecil dan meja belajar. Disana juga terdapat sebuah rak yang berisi boneka dan koleksi bukunya, disamping rak itu terdapat sebuah kulkas mini, tempat Sakura biasa meletakkan cemilan-cemilannya. Tak lupa pula barang-barang elektronik seperti Tv berukuran 40 inch, sebuah dvd player, dan masih banyak alat elektronik mewah yang ikut menghiasi kamar itu. Kamar itu memiliki tiga pintu, sat pintu kamar mandi, pintu ruang pakaiannya sekaligus ruang penyimpanannya, dan sebuah pintu yang menghubungkannya kamarnya dengan balkon rumah.
Sakura membongkar isi kopernya dan merapikan barangnya. Setelah itu dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan, selesai mandi dia kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah di tempat tidur. Dia menatap langit-langitnya sejenak sebelum akhirnya memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saki berjalan santai sambil mencari-cari buku novel yang menarik perhatiannya di sebuah toko buku yang berada di pusat kota. Sesekali dia berhenti untuk sekedar membaca prolog novel yang dianggapnya menarik. Akhirnya pilihannya jatuh pada tiga buah buku novel. Dia pun segera menuju ke kasir untuk membayar buku tersebut. Dia harus segera pulang, baru saja Nenek Chiyo menelfonnya dan mengatakan padanya kalau ada kejutan yang menantinya. Dia penasaran, kejutan apa yang sedang menantinya nanti. Sambil tersenyum senang, dia pun pergi menuju ke halte bus. Saki duduk di halte bus sambil menatap layar Smartphone-nya. Terdapat satu panggilan tidak terjawab dari Sakura. Saki mengerutkan keningnya, tidak biasanya kakak kembarnya itu menelponnya duluan, biasanya dia yang akan menelpon lebih dulu, mungkin ada sesuatu yang penting. Saki lalu memutuskan untuk menelpon balik Sakura.
Tuut...tuuut...
"Hn?"
"Gomen Saku-nee, aku tidak mendengar panggilanmu tadi." Ujar Saki. Dia bisa mendengar Sakura mendengus dari sebverang telpon.
"Tidak apa-apa. Cepatlah pulang, aku menunggumu di rumah."
Setelah mengatakan itu, Sakura memutus panggilannya secara sepihak. Saki mengerutkan keningnya.
'Aku menunggumu di rumah.'
Perkataan Sakura tadi sukses membuat kedua mata emerald Saki membulat. Sakura dirumah? Dia pulang? Kembali ke Jepang? Saki lalu melirik kearah jam tangan yang terpasang manis di pergelangan tangannya, sudah pukul 15.20. Dia tidak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengan saudaranya yang sangat dirindukannya. Saki tak bisa menahan senyumannya. Namun, senyumannya memudar ketika matanya tidak sengaja menangkap sosok Karin yang berjalan bersama gengnya, Tayuya dan Kin. Dirinya semakin menegang tatkala matanya tak sengaja bersibobrok dengan mata karin yang sewarna dengan batu ruby itu.
'Ti..tidak, Jangan sekarang! kumohon Kami-sama.' Batin Saki.
Karin dan gengnya terus berjalan santai menuju ke tempat Saki tanpa memutuskan kontak matanya. Dia menyeringai sinis ketika melihat tubuh saki yang bergetar. Sepertinya hari ini dia akan bersenang-senang.
"Wah! Kebetulan sekali bukan? Aku senang sekali." Karin tersenyum sinis diikuti oleh cekikikan dua gadis yang ada dibelakangnya.
"Ma..mau apa kalian?!" Bentak Saki.
"Wow! Galak sekali, sepertinya kau harus diberi pelajaran karena sudah berani berteriak seperti itu." Ucap Karin sambil berjalan semakin dekat dengan Saki. "Lihat, kau bahkan sudah bergertar ketakutan hanya dengan melihatku. Menyedihkan. Tapi yah... itu memang dirimu."
"Akkhh!" Saki meringis keras saat tangan Karin menjambak rambutnya, membuat ikatan ekor kudanya terlepas. Karin terkekeh kecil.
"Hahaha! Gadis malang..." Ejek Karin sambil menarik rambut Saku semakin keras. "Hmm... disini terlalu banyak orang, tidak elit sama sekali jika mereka melihatmu dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Hey kalian! Bawa jalang ini ke tempat sepi. Kita akan bersenang-senang dengannya."
Tayuya, dan Kin menyeringai kejam sebelum mereka bertiga memegangi kedua tangan Saki. Saki terus memberontak dan berhasil melepaskan diri dari cengkraman Tayuya, dan Kin. Dengan segera dia berlari menjauhi ketiga gadis yang akan menyiksanya itu.
"Cih! Kejar jalang itu!" Keempat gadis itu segera berlari mengejar Saki yang sudah hilang ditengah kerumunan orang yang berlalu-lalang.
"Nee-chan! Nee-chan!" Hanya itu yang bisa dikatakan Saki. Dia tidak peduli pada umpatan orang-orang yang ditabraknya. Tujuannya saat ini adalah segera menjauh dari Karin dan gengnya. Saki berhenti sejenak untuk mengambil nafas sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan apakah Karin dan gengnya berhasil mengejarnya. Ternyata nasib baik tidak berpihak padanya saat ini, matanya melebar ketika dia melihat Karin dan gengnya hanya berjarak kurang dari enam meter dibelakangnya. Dengan nekat, Saki pun menyebrangi jalan raya yang sangat padat kendaraan. Dia tidak peduli umpatan para sopir dan suara klaksok mobil yang begitu memekakkan telinga ketika Saki melintas di depannya. Karin dan gengnya menatap horror aksi Saki saat ini.
"Hoh! Sebegitu takutnyakah dia padaku hingga berani menantang maut seperti itni? Terserah. Ayo pergi kita bisa memberikan pelajaran pada jalang itu besok di sekolah." Ucap Karin sinis tanpa ada perasaan bersalah dan khawatir sama sekali akan keselamatan Saki. Dia dan gengnya pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa kau gila?!" Umpat seorang pengendara mobil pada Saki yang hampir saja ditabraknya. Saki membungkukkan badannya lalu kembali menoleh kebelakang. Sosok Karin dan gengnya sudah tidak ada disana. Saki menghela nafas lega. Dia segera berjalan menuju ke pinggir jalan tanpa menyadari sebuah mobil sport melintas dengan cepat kearahnya. Dan...
CKIIIITTT!
BRAK!
"Ke..kecelakan!"
"Siapa saja tolong hubungi rumah sakit sekarang!"
"Kasihan gadis itu."
"Hey! Pengemudi itu lari! Segera hubungi polisi!"
Saki's POV
A..apa?! aku bisa merasakan tubuhku seperti melayang ketika sebuah benda keras menabrakku. Aku tidak tahu pasti, yang kurasakan sekarang adalah tubuhku yang terhempas keras ke jalan raya. Seketika rasa sakit menyerang seluruh tubuhku. Aku juga bisa mendengar suara teriakan dan orang-orang yang berbicara keras. Ada apa ini?
Hangat...
Aku bisa merasakan cairan hangat yang seolah menyelimutiku.
Merah?
Hahaha... aku tertawa kecil melihat warna kesukaan Nee-chan. Ah! Aku baru ingat, Nee-chan sedang menungguku dirumah. Aku harus segera pergi, aku ingin pulang. Aku ingin memeluk Saku-nee, masih banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padanya. Masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya.
Ada apa ini? Rasa sakit di sekujur tubuhku semakin menjadi-jadi saat aku merasakan beberapa orang mengangkat tubuhku kedalam sebuah mobil berwarna putih yang mengeluarkan suaara yang begitu berisik. Kemana mereka akan membawaku? Apa mereka akan membawaku pulang kerumah?
"O..Onee-chan... Saku-nee..."
Aku terus memanggil nama saudara kembarku itu, berharap semoga dia bisa langsung muncul dihadapanku. Aku ingin pulang, Nee-chan menungguku dirumah. Aku akan membuatnya kecewa jika dia terlalu lama menunggu. Deru nafasku semakin berat, seiring dengan kesadaranku yang semakin menghilang.
"O..onee-chan.."
End Saki's POV
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Deg!
Sakura tersentak dari tidurnya. Perasaan gelisah datang menghampirinya. Sedari tadi tidurnya memang sudah tidak tenang, pikirannya selalu tertuju pada Saki. Entah mengapa, dia sangat ingin menemui Saki sekarang. Tanpa berfikir panjang lagi, dia segera meraih jaket putihnya dan bergegas keluar dari kamar.
"Saku-chan? Kau mau kemana buru-buru seperti itu?" Nenek Chiyo menatap bingung kearah Sakura.
"Chiyo baa-chan, berikan kunci mobilku. Aku akan menjemput Saki." Sakura tidak menghiraukan pertanyaan Nenek Chiyo dan mengulurkan tangannya untuk meminta kunci mobil.
"Tu..tunggu sebentar." Nenek Chiyo segera pergi dan tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah kunci mobil. Dia menyerahkan kunci mobil itu pada Sakura.
Sakura mengeluarkan mobilnya dari bagasi dan langsung melesat meninggalkan rumahnya. Dengan bantuan GPS, dia berhasil menemukan toko buku yang diyakini adalah tempat Saki membeli buku. Dia segera turun dari mobilnya dan memasuki toko buku tersebut, mata emeraldnya melihat keseluruh penjuru ruangan namun tidak menemui gadis berambut soft pink yang sedang dicarinya.
"Ah, Nona.. kau kembali lagi, apa ada barangmu yang tertinggal?" seorang penjaga toko menepuk pundak Sakura membuat Sakura menoleh. Tidak salah lagi, toko buku ini adalah tempat yang didatangi Saki tadi.
"Itu bukan aku, dia saudara. Apa kau melihatnya?" Tanay saki datar pada penjaga toko itu. Nampak penjaga toko itu sedikit terkejut.
"Ooh.. kembaran anda sudah pergi sekitar dua puluh lima menit yang lalu. Aku rasa dia pergi menuju ke halte bus." Jawab penjaga toko itu. Sakura menganggukan kepalanya sebelum dia pergi menuju ke halte bus yang dimaksud oleh petugas toko tadi.
"Ck! Dimana sebenarnya si cengeng itu?!" Geram Sakura frustasi. Dia sudah berkeliling dan sama sekali tidak menemukan Saki.
Mata emeraldnya kemudain tertuju pada kerumunan orang di pinggir jalan, perasaan tidak nyaman kembali menrgapnya. Dengan segera dia berlari menuju kearah kerumunan itu dan mendapat tatapan terkejut dari orang-orang.
"Hah? Bu..bukankah gadis itu gadis yang tertabrak tadi? Bagaimana bisa dia ada disini?" Ucapan seorang pria membuat Sakura langsung menoleh dan menatap tajam pria itu.
"Apa maksud anda?" Tanya sakura tajam. Peria itu menguk ludahnya takut melihat tatapan tajam dari sepasang emerald di hadapannya.
"A..maksudnya..ta..tadi ada seorang gadis yang menjadi korban tabrak lari. Di..dia sama persis denganmu." Jawab Pemuda itu. Spontan Sakura menarik kerah bajunya dan semakin menatapnya tajam.
"Dimana gadis itu sekarang?!"
"Dia dibawa ke Konoha's Hospital oleh ambulance." Sakura segera melepas cengkramannya pada pria malang itu dan menghampiri mobilnya. Dengan cepat dia segera melaju menuju ke Konoha's Hospital. Dia yakin, sangat yakin kalau gadis yang menjadi korban tabrak lari itu adalah Saki.
"Dasar gadis merepotkan!" Geram Sakura sambil menghapus air mata yang tanpa disadari telah menetes dari kedua mata emeraldnya.
Lima menit kemudian, dia berhasil sampai di Konoha's Hospital dan segera memarkirkan mobilnya di halaman Rumah Sakit tersebut. Dengan tergesah-gesah, dia menuju ke meja resepsionis. Wanita yang menjado resepsionis itu terlihat terksejut saat melihat Sakura.
"Bu..bukankah anda yang dibawa ke ruang UGD tadi?" Tanya wanita ber-name tage Yui itu pada Sakura. Sakura bergumam pelan sebelum berlari menuju ke ruang UGD. Pintu ruangan tersebut sudah tertutup pertanda para dokter sedang berusaha untuk melakukan pertolongan medis pada pasiennya. Sakura terus berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa pada Saki. Getaran ponselnya membuat Sakura sedikit kaget.
Okaa-san is calling...
"Halo.."
"Oh, yokatta... aku sudah menghubungi Saki sejak tadi tapi dia sama sekali tidak menjawabnya. Mungkin dia terlalu senang melihat kau pulang sampai tidak peduli pada ponselnya. Apa kalian baik-baik saja?"
Mendengar suara lembut ibunya membuat Sakura merasa sedikit tenang. Dia lalu menceritakan apa yang telah terjadi pada Saki. Dia tahu, Ibunya pasti merasa tertekan sekarang. Karena sekarang Ayahnya yang mengambil alih ponsel ibunya.
"Kaa-san dan Tou-san akan kembali ke Jepang sekarang. Tolong jaga adikmu sampai kami tiba disana." Ucap Ayahnya.
"Hn..." Sakura mematikan ponselnya , perasaannya sudah mulai tenang tidak sekacau tadi. Bukan Sakura namanya jika dia tidak bisa melakukan pengendalian emosi. Dia yakin, harus yakin kalau Saki pasti akan selamat. Sakura segera berdiri saat melihat Dokter dan beberapa suster keluar dari ruang UGD tersebut. Dokter dan para suster itu terkejut melihat Sakura. Ayolah, Sakura sudah bosan melihat wajah terkejut orang-orang saat melihatnya.
"Bagaimana keadaan adikku, Dokter Tsunade?" Tanya Sakura. Dokter Tsunade tersenyum singkat pada Sakura. Dokter Tsunade adalah Dokter keluarga Akasuna, jadi dia tidak terkejut saat melihat Sakura yang merupakan kembaran Saki, karena dia sendirilah yang membantu Mebuki saat melahirkan mereka.
"Dia kehilangan banyak darah akibat luka di kepalanya yang terbentur dan mengalami geger otak ringan, tapi tenang saja kami sudah menanganinya dan terdapat beberapa luka-luka di beberapa bagian tubuhnya. Selebihnya dia baik-baik saja. Kami akan segera memindahkannya keruang perawatan. " Jawab Dokter cantik berambut pirang itu. Sakura menghela nafas lega.
"Kapan dia akan sadar?" Tanya Sakura lagi.
"Aku tidak tahu pasti kapan dia akan sadar, mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi. Kau bisa menemuinya sekarang tapi usahakan untuk tetap tenang. Dia perlu banyak istirahat. Aku harus menemui pasienku yang lain." Dokter Tsunade kemudian pergi diikuti oleh beberapa suster.
Sakura segera mengetikkan pesan tantang kondisi Saki pada kedua orang tuanya. Sambil menunggu Saki dipindahkan, Sakura pergi untuk mengurus biaya administrasi. Setelah itu dia pergi menuju keruang perawatan Saki. Dia meringis kecil melihat keadaan Saki. Terdapat perban di kepalanya dan juga di bagian siku dan lututnya serta infus yang menancap di lengan kirinya. Dengan perlahan dia duduk di saming tempat tidur pasien Saki dan sambil menggenggam tangan kanannya.
"Dasar bodoh, ceoroboh, dan merepotkan!" Umpat Sakura datar pada Saku yang tertidur pulas akibat pengaruh obat. Dielusnya pelan tangan Saki yang berada di genggamannya.
"Apa kau terlalu senang mendengar kepulanganku sampai nekat menerobos jalan raya?" Sakura kemudian mengetuk pelan judat Saki. "Cepatlah sembuh, gadis cengeng."
Sakura's POV
Miris.
Itulah kesan pertamaku saat melihat keadaan adikku sekarang. Jangan karena aku tidak menangis kalian mencapku sebagai kakak yang tidak berperasaan. Aku menangis, tapi hanya didalam hati. Menangis keras seperti gadis lain pada umumnya itu bukan gayaku. Asal kalian tahu, betapa hancur hatiku saat mengetahui hal ini, aku tidak bisa berfikir tenang, aku ingin sekali mencari pelaku tak bertnggung jawab yang telah menabrak Saki. Setelah menemukan pelaku itu aku akan menyiksana dan membunuhnya perlahan-lahan. Sadis? Itulah aku. Hey! Aku bukan psikopat seperti yang kalian bayangkan. Shion pernah mengajakku untuk melakukan tes dan hasilnya, negatif. Jadi jangan pernah menganggapku sebagai psikopat.
Aku tidak tahu kenapa adikku begitu nekat menerobos jalan raya yang begitu padat dengan kendaraan yang berlalu lalang, apakah dia tidak bisa menunggu sampai lampu lalu lintah berubah warna menjadi warna kesukaanku? Dan kenapa dia tidak menggunakan jembatan penyebrangan. Padahal aku yakin, kapasitas otak adikku itu hampir sama dengan otakku, walaupun bisa dibilang kalau aku masih lebih jenius darinya. Tapi satu hal yang aku tahu. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Saki sebelum dia mendapat kecelakaan ini.
Ceklek.
Aku menghentikan pemikiranku ketika seorang suster datang membawa tas dan juga sebuah paperbag yang aku tidak tahu isinya. Aku menaikkan sebelah alisku menatapnya. Suster itu tersenyum kecil sebelum menyerahkan benda-benada itu padaku.
"Ini milik nona Saki." Ucap suster itu sebelum pergi keluar dari ruangan ini. Aku membuka paperbag itu dan menemukan tiga buah buku novel yang tebalnya sekitar lima centi itu. Ah, ini pasti buku yang dibelinya tadi. Lalu mataku beralih pada tas tangan Saki yang berwarna biru dengan hiasan pita kecil berwarna merah muda didepannya, ah, terlalu girly. Tunggu, bukannya aku yang memberikan tas ini padanya? Aku kemudian membuka tas itu dan merogoh isinya.
"Hmm... dompet, lipgloss, sapu tangan, dan lotion antiseptik." Gumamku saat melihat barang-barangnya. "Ah, ini dia ponselnya."
Aku kemudian membuka ponsel Saki dan mengerutkan kening saat melihat bebrapa panggilan tidak terjawab dari Kaa-san dan Ino, juga terdapat beberapa pesan masuk yang belum dibaca. Sebagian pesan itu dari Ino, namun ada sebuah pesan dengan nomor yang tak dikenal. Aku membuka pesan tersebut.
From 0217-28XX-XXXX
Hey jalang! Sepertinya dewi fotruna sedang berpihak padamu saat ini. Tapi aku tidak tahu apakah nanti kau masih memiliki keberuntungan itu. See you Saki-chan~
Ah! Aku harap tidurmu nyenyak malam ini, jangan terlalu memikirkan apa yang akan ku lakukan padamu nanti. Tidurlah yang nyenyak dan hemat tenagamu, bitch! Dan jangan berani untuk kabur atau kau akan menerima sesuatu yang lebih spesial dariku.
Aku mengeratkan genggamannya pada ponsel Saki. Aku tahu pesan ini dari siapa, siapa lagi kalau bukan dari salah satu wanita-wanita jalang yang telah mem-bully adikku. Sambil menyeringai aku kemudian menghubungi nomor tersebut.
Tuut...tuuut..tuu-
"Ahhh... enghhh...Be..Berani juga kau menelponku balik, jalang. Aahh... aku tahu, kau ..ugh.. pe..pelan-pelan Sui-kun, ahhnnn."
Cih, menjijikkan sekali. Sedang bercinta, eh?
"Bisakah kau menghentikan suara menjijikkanmu itu?" Ujarku datar sambil menyeringai kecil saat mendengar suara protes seorang pria karena Karin menghentikan kegiatan mereka. Kasian pria itu aku yakin dia pasti kesakitan menahan ereksinya. Hahaha.
"Hooh? Ada yang sudah berani melawan rupanya. Ayolah... tidak usah berusaha untuk menjaga suaramu itu agar tetap tenang, aku tahu kau sedang gemetaran sekarang. Jadi bersikap biasa oke.. aku tidak akan memakanmu. Aku kasihan melihatmu berusaha sekeras itu, padahal tadi saja kau ketakutan setengah mati melihatku."
" Ayolah Karin... "
Aku mendengar nada memelas dari seorang pria yang ditiduri jalang itu. Ternyata namamnya Karin...
"Gemetar? Oh! Don't kidding, bitch! Asal kau tahu aku sama sekali tidak takut sedikit pun dengan ancamanmu. Sebaiknya kau kembali mengkangkangi priamu itu. Kasihan dia harus memelas begitu pada jalang sepertimu." Balasku tajam.
Dugaanku benar, pasti kecelakaan yang menimpa Saki pasti ada hubungannya dengan jalang ini. Aku menyeringai, Ini menyenangkan, sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi seperti ini. Kau lupa? Aku ini juga seorang gadis liar, asal kau tahu saja. Tapi jangan pernah samakan aku dengan gadis jalang yang sedang menerima telponku sambil mengkakangi seorang pria di seberang sana.
"Kau apa? Kau bilang apa?! Sadari dirimu sialan! Lihat saja aku akan benar-benar membuat perhitungan denganmu . Dan kau akan menyesal karena telah berani menantangku."
Aku terkekeh pelan. Menyesal? Ooh, ini yang ku tunggu. Tenang saja, aku jamin kau akan terhibur dengan ini.
"Lakukan saja. Aku akan senang menunggumu. Ah, sampaikan salamku pada priamu. Dia menyedihkan sekali karena ternyata standarnya sungguh rendah. Aku yakin dia bahkan tidak bisa mencapai klimaksnya karena harus memasuki lubang kemaluanmu yang sudah longgar itu."
Aku mematikan ponsel Saki sambil tertawa keras dalam hati. Aku bisa membayangkan ekspresi wajah wanita jalang itu. Menyenangkan sekali, aku tidak sabar bertemu dan melihat bagaimana rupa jalang ini. Aku kembali berkutat pada ponsel Saki. Aku membuka galeri fotonya. Aku terkekeh kecil melihat fotonya dengan berbagai ekspresi karena aku seperti melihat diriku sendiri yang melakukan itu. Bergaya manis seperti itu sama sekali bukan gayaku. Ada foto Kaa-san dan Tou-san, dan juga foto seorang gadis berambut pirang. Gadis ini mengingatkanku pada Shion, ahh...dia pasti Ino, hanya dengan melihat fotonya saja aku bisa mengetahui kalau dia pasti sama cerewetnya dengan Shion. Lalu mataku tertuju pada foto seorang bocah laki-laki berambut merah yang terlihat kesal. Ah, aku lupa mengenalkan dia. Bocah berambut merah ini adalah Sasori, Akasuna Sasori. Dia adalah adik bungsu kami yang sekarang sudah berumur 16 tahun. Dia tinggal di Suna bersama dengan Jiraiya jii-san, saudara Tou-san. Sesekali dia pulang ke Konoha untuk berlibur. Ah... aku merindukan bocah nakal dan mesum ini. Memang sudah menjadi tradisi di keluarga sejak masih zaman nenek moyang kami, bahwa setiap keturunan laki-laki dari clan Akasuna akan memakai marga Akasuna, sedangkan untuk keturunan perempuan, mereka akan memakai marga ibunya. Seperti keadaan kami sekarang, aku dan Saki memakai marga Kaa-san dan Sasori memakai marga Tou-san.
End Sakura's POV
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang pemuda tampan berambut pirang jingkrak melajukan mobilnya dengan santai menuju ke sebuah perumahan elit. Dia menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di garasi saat dia sudah sampai di sebuah rumah merwah berlantai tiga yang bergaya Eropa dengan catnya berwarnya abu-abu dan hitam.
"Tadaima, Naruto-sama." Ucap seorang pria berkacamata yang menggunakan baju pellayan.
"Hai Jirou-san, dimana Tem- ah, maksudku Sasuke?" Tanya Naruto.
"Sasuke-sama sedang beristirahat di kamarnya, sepertinya perjalanan panjang membuatnya kelelahan." Jawab Jirou sambil menundukkan kepalanya hormat ketika sosok pemuda berambut hitam panjang melewati mereka.
"Oi! Itachi-nii! Apa Sasuke sedang tidur? Aku membawakan pesanannya." Ujar Naruto dengan suara cemprengnya pada pemuda berambut hitam yang memiliki tanda lahir berupa garis mememanjang di wajahnya. Itachi terdiam sebentar sebelum dia menjitak kepala pirang Naruto.
"Pelankan suaramu, baka! Aku sedang mengantuk berat." Itachi pergi begitu saja tanoa menjawab pertanyaan Naruto membuat pemuda pirang itu mengembungkan pipinya kesal.
"Dasar! Baiklah Jirou-san, aku akan ke kamar Teme dulu. Bye..." Naruto segera pergi menuju kamar Sasuke yang terletak di lantai atas meninggalkan Jirou.
Brak!
Naruto membuka kasar pintu kamara Sasuke sambil melempar barang yang dibawanya ke tempat tidur Sasuke.
"jangan seenaknya saja tidur seperti itu setelah menyuruhku membelikanmu itu!" Ujar Naruto sambil mendudukkan dirinya di sebuah sofa putih yang dekat dengan tungku perapian lalu melihat-lihat isi cameranya.
"Hn.." Sahut Sasuke pelan sambil mengambil benda yang dibawa oleh Naruto tadi dan langsung meminumnya. Ah.. ternyata jus tomat. Setelah meminumnya, Sasuke kembali membaringkan tubuhnya dan termenung menatap langit-langit. Dia kembali mengingat kejadian yang menimpanya tadi di bandara, tanpa sadar dia terkekeh pelan dan mengundang tatapan tanya dari Naruto.
"Apakah tinggal di Amerika selama empat tahun sudah merusakmu? Kau terkekeh seperti itu padahal tidak ada yang lucu sama sekali disini." Naruto menatap horror pada Sasuke yang di balas dengan lemparan bantal dari Sasuke.
"Berisik!"
"Ya..ya...ya... terserah." Naruto kemudian kembali berkutat pada camera yang tergantung di lehernya.
"Woy, Dobe! Aku bertemu dengan gadis aneh hari ini." Perkataan Sasuke memuat jari tangan Naruto yang sedari tadi asyik memainkan cameranya terhenti. Tunggu, gadis? Tidak biasanya Sasuke mau bercerita mengenai gadis.
"Gadis aneh? Apa dia cantik?" Tanya Naruto antusias.
"Hn, kau tahu, dia melemparku dengan sepatunya dan menonjokku ketika aku menciumnya."
"Ka..kau menciumnya? Kau kan baru pertama kali bertemu dengannya, bagaimana kau bisa langsung menciumnya seperti itu?! Kau ini!" Naruto benar-benar tidak habis fikir pada kelakuan teman kecilnya itu.
"Hn. Kau tidak lihat memar di sudut bibirku. Ini hasil perbuatannya."
Tawa Naruto langsung menggelegar di dalam kamar Sasuke. Ini benar-benar konyol. Baru pertama kali dia mendapati Sasuke terlihat sedikit frustasi akibat seorang gadis. Naruto jadi penasaran, seperti apa gadis yang membuat Sasuke sampai OOC begitu. "Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Hn. Entah, tapi kurasa... aku sedikit tertarik pada gadis sial itu. Kau tahu kan... belum pernah ada seorang gadis yang seberani itu padaku. Dia tidak seperti gadis lainnya yang yah.. kau tahu kan bagaiman mereka jika melihatku." Jelas Sasuke sambil mendesah pelan. " Aku bahkan terus memikirkannya sampai sekarang..."
"Ahh... ketampananmu itu sudah mulai luntur sampai dia tidak tertarik padamu. Hahahaha, ah... aku tahu, jangan-jangan kau jatuh cinta padanya..." Goda Naruto membuat sebuah bantal kembali mendarat dengan indah di wajahnya.
"Cinta? Menjijikkan. Aku tertarik padanya buka berarti aku jatuh cinta padanya, stupid." Bantah Sasuke. Cinta? Dimata Sasuke perasaan seperti itu sangatlah menjijikkan. Dia bisa memerhatikan orang-orang disekitarnya yang merasakan gejala yang di sebut cinta. Seperti ada orang yang rela bunuh diri karena cinta, ada yang rela melakukan apa saja demi cinta, dan sebagainya. Gila bukan?
"Kau tahu? Cinta itu bahkan bisa datang begitu saja tanpa diduga. Kau tahu? Aku sangat penasaran bagaimana rupa gadis yang telah menarik perhatianmu itu... mengingat kau ini belum pernah tertarik dengan satu gadis pun. Bagaimana ciri-cirinya?" Tanya Naruto bersemangat. Masalah yang menyangkut para sahabatnya memang membuat Naruto sangat bersemangat.
"Hm.. dia memiliki rambut panjang bergelombang berwarna...pink." Sasuke sedikit mengerutkan keingnya saat mengingat warna rambut gadis itu. "Kedua matanya berwarna emerald dan aku masih bisa mengingat bagaimana kedua matanya menatapku tajam. Ku akui, dia memiliki tubuh yang bagus dan sexy. Ah, gadis itu kasar dan bermulut tajam." Ucap Sasuke.
Naruto terdiam sambil mengerutkan keningnya. Ada rasa geli dalam dirinya saat Sasuke mendeskripsikan seorang gadis. Benar-benar bukan Sasuke sekali.
"Hahaha... gadis kasar dan bermulut tajam? Seleramu aneh, Teme!" Naruto tertawa keras membuat Sasuke mendelik kesal padanya. " Kau tahu, pemuda itu biasanya mencari gadis yang lemah lembut, baik, dan feminim. Sedangkan kau?"
"Apa maksudmu, Dobe?! Dia bukan seleraku!" Umpat Sasuke. "Lagipula kriteria gadis yang kau sebutkan tadi itu sudah sangat mainstream, sekali-kali mencoba tantangan itu tidak salah kan? Seperti menaklukkan gadis kasar bermulut tajam itu misalnya."
Naruto kembali tertawa mendengar penuturan Sasuke. Bukan selera? Jelas-jelas baru saja pemuda itu menyebutkannya secara tidak langsung. Dasar tsundere.
"Ya..ya... terserah, teruslah mengelak Teme. Tapi... gadis berambut pink dan bermata emerald seperti yang kau ceritakan sepertinya aku pernah melihatnya." Naruto berusaha untuk mengingat dimana dia pernah bertemu dengan gadis yang dimaksud Sasuke.
"Ah! Dia satu sekolah denganku. Siapa ya namanya...Haru..Haruno? Ya, namanya Haruno Saki, Sai juga mengatakan bahwa gadis itu menarik. Tapi... dia sama sekali tidak seperti dengan yang kau ceritakan." Ucap Naruto.
"Apa maksudmu?"
"Yah, bukannya kau bilang kalau gadis yang kau temui di bandara tadi itu kasar, bermulut tajam, dan sebagainya. Tapi menurutku Saki sama sekali tidak seperti itu, dia itu pendiam dan agak sedikit pemalu. Aku pernah berpapasan beberapa kali dengannya." Jelas Naruto sambil membayangkan sosok Saki.
"Aku memang tidak terlalu mengenalnya karena dia berbeda kelas denganku. Tapi satu hal yang kutahu, dia selalu menjadi korban bully para gadis-gadis gila di sekolah."
"Korban bully? Gadis seperti dia?! Yang benar itu dia yang mem-bully mengingat sikapnya saja yang seperti itu." Ucap Sasuke sambil tertawa remeh.
"Aku serius Teme, Ah, kalau kau tidak percaya aku punya foto Saki. Aku tidak sengaja memotretnya saat dia sedang duduk di taman belakang." Naruto kemudian mengambil camera SLR-nya dan menunjukkan sebuah foto seorang gadis berambut merah muda yang sedang duduk di bawah sebuah pohon sambil membaca sebuah buku.
'Dia gadis yang aku temui tadi..' batin Sasuke.
"Hn, dia sama dengan gadis yang ada di bandara tadi. Tapi ada yang aneh.." Ucap Sasuke sambil menatap datar foto itu.
"Hm? Apa yang aneh?" Naruto menoleh bingung pada sahabatnya.
"Hn, lupakan." Sasuke kemudian kembali berbaring di tempat tidurnya dan membelakangi Naruto yang menatapnya cuek.
"Ya...ya... terserah kau Teme. Ah! Aku lupa, aku harus segera pulang dan mengantar Kaa-chan ke butiknya." Naruto segera bangkit dari duduknya. Dia menepuk keras pundak Sasuke dan segera berlari keluar dari kamar bernuansa biru gelap itu. Sasuke mendengus kesal dan kembali mengingat pertemuannya dengan gadis cantik di bandara tadi lalu pada foto gadis yang ada di camera Naruto.
"Ck! Kenapa si Pinky itu tidak mau lenyap dari fikiranku!" Sasuke mengacak rambut biru donkernya kesal.
"sialan kau Pinky!"
TBC
Mind to review?
