Mingyu buru buru keluar perpustakaan sepi itu, berlari secepat mungkin kembali ke kelasnya, membanting keras pintu kelasnya dengan keringat yang masih betah mengucur dipipinya.

"Brengsek kalian!" mingyu mengumpat kesal kepada kedua temannya yang masih menunggu nya dikelas bermain kartu. Soonyoung dan seokmin hanya tertawa puas menanggapi kekesalan mingyu. Melihat wajah mingyu yang penuh keringat, terlihat jelas mereka bisa menebak kalau mingyu sudah ketakutan. Mingyu mendudukkan bokongnya kasar di kursi, mengambil botol minum yang sedang dipegang oleh soonyoung dan meminumnya rakus.

"Yak, bagaimana? Apa kau berhasil?" Tanya seokmin.

"Sialan! Kau tahu? Statusku dengannya sekarang adalah Pacaran!" ujar mingyu sembari memukul kepala seokmin. Seokmin dan soonyoung melongo mendengar ucapan mingyu barusan.

"Ha? Kita kan hanya membuat perjanjian kau hanya untuk menyatakan cinta saja padanya, kenapa kau malah mengajaknya berpacaran?" bingung soonyoung.

"Apa kau memang sudah mengincarnya sejak lama, Kim Mingyu?" tambah seokmin.

"Aku memang hanya menyatakan cinta sesuai perjanjian kita, tapi kau tau apa jawaban dia?" mingyu menggantungkan kata katanya, menajamkan tatapannya kearah kedua temannya silih bergantian.

"Dia menjawab 'Baiklah, aku akan menjadi kekasihmu' sialan!" lanjut mingyu seraya menggebrak mejanya kesal.

"Wow! Selamat Kim Mingyu~" sorak soonyoung dan seokmin bersamaan dan bertepuk tangan.

Mingyu mengacak acak rambutnya kasar.

"Sekarang kau lanjutkan perjanjian kita, kau harus pulang bersama dengannya" ujar soonyoung.

"Sial, bisakah kita batalkan perjanjian yang ini? badanku sudah terasa setengah mati tadi, dan sekarang aku harus pulang bersamanya?! Aku benar benar akan mati ditengah jalan" pinta mingyu.

"Dia itu manusia, bukan hantu. Apa yang harus kau takutkan? Murid pindahan dari jepang pun yang jutek itu bisa kau taklukan, sampai dia rela merebahkan tubuhnya dibawahmu, masa dia tidak?" ucap seokmin meyakinkan.

"Kau jalani saja hubungan itu sampai seminggu ini, setelah itu kau putuskan saja dia. Seperti yang biasa kau lakukan pada gadis gadis lain" tambah soonyoung. Mingyu berpikir sebentar. Wajahnya melemah, ia pasrah. Ia harus kuat dalam seminggu ini.

"Baiklah, tapi mungkin dia sudah pulang sekarang" elak mingyu.

"Kudengar dia selalu pulang setelah matahari terbenam, sekitar jam 5 sore atau lebih. Dan sekarang tepat jam 5. Kita juga melihatnya tadi melewati kelas kita sebelum kau kembali kesini. Cepat kau temui dia" jelas soonyoung, dan membereskan kartu yang berserakan. Seokmin dan soonyoung menggandeng tasnya masing masing, dan beranjak dari tempat duduknya.

"Kami pulang duluan, selamat menikmati hari pertama kencanmu bersama Jeon Wonwoo Sunbae-nim" ucap seokmin yang terdengar seperti ejekakan. Keduanya pun keluar kelas meninggalkan mingyu yang masih terdiam di tempat duduknya. Menggaruk kasar kepalanya yang tak gatal sama sekali.

Kurang lebih 15 menit mingyu berpikir keras, matanya menoleh kearah kanannya, keluar kaca kelasnya, melihat sosok yang terpaksa menjadi targetnya, berjalan dengan menundukkan kepalanya. Mingyu melirik sekilas jam di tangannya.

"Ah.. ternyata benar apa yang seokmin dan soonyoung bicarakan, dia pulang jam segini" dengan gerakkan cepat mingyu menarik tasnya tanpa menggendongnya, berlari keluar kelas untuk menyusul wonwoo.

"Wo-wonwoo hyung" sahutnya.

Wonwoo pun berhenti tanpa menoleh kebelakangnya, dimana mingyu berdiri disana. Mingyu berjalan kaku mendekati wonwoo, dan kini ia tepat disamping wonwoo.

Mingyu menyampingkan badannya kearah wonwoo yang berdiri lurus dan masih menundukkan kepalanua. Mingyu sedikit membungkukkan badannya untuk menatap kearah wonwoo.

"Mau pulang bersama? Biar aku antar kerumahmu" ujarnya amat pelan. Wonwoo mengangguk pelan dan kembali berjalan mendahului mingyu.

.

.

Diperjalanan sepasang kekasih ini jalan kaki bersama menuju rumah wonwoo. Dan hari pun semakin gelap, hanya diterangi oleh lampu jalan. Mereka berjalan bersampingan, tapi dengan jarak yang bisa dibilang cukup jauh. Bahkan sangat jauh bagi ukuran orang orang yang disebut Pacaran untuk status mereka saat ini.

Sepanjang jalan, wonwoo tak henti hentinya membaca buku horror ditangannya, menceritakannya pada mingyu tanpa canggung. Sedangkan mingyu sendiri telah ketakutan setengah hidup mendengar cerita wonwoo.

Wonwoo menceritakan seorang putri yang cantik, mingyu mengernyit bingung. Sosok putri seperti apa yang diceritakan wonwoo didalam buku horror tersebut. Mingyu pun menoleh kearah buku itu.

"Cantik kan?" ucap wonwoo seraya memperlihatkan gambar dibuku itu kearah wajah mingyu.

"Wwuah!" Mingyu terlonjak kebelakang melihat gambar tersebut yang ternyata putri cantik yang dimaksud wonwoo adalah sesosok Kuntilanak. Wonwoo kembali focus ke bukunya, dan berjalan lagi. Mingyu dengan cepat menyusulnya, berjalan lebih memperdekat jarak disamping wonwoo.

Keringat dingin semakin mengucur di pelipis mingyu saat menyadari suasana jalan yang sedang ia telusuri saat ini semakin terasa menakutkan baginya.

'Jalan kerumahnya saja semenakutkan ini?' batin mingyu.

"—ngg.. anu, tapi kenapa jalan kerumahmu ini serasa gelap sekali hyung, padahal inikan baru jam 6 sore" ujar mingyu dan tersenyum kikuk kearah wonwoo.

-Ssiing-

Suasana seketika kembali mencekam saat wonwoo tiba tiba berhenti. Ditempat gelap dan sepi tanpa penerangan lampu yang layak, dengan ditemani orang yang berkepribadian seperti Jeon Wonwoo, siapa yang tidak takut? Apalagi kalau seorang penakut bertingkat dewa, mungkin saja dia akan terkena serangan jantung mendadak dan mati ditempat.

"Aku tidak suka tempat yang terang, mataku tidak kuat" jawab wonwoo. Suara yang berat tapi lembut.

"O—oh, begitu ya" respon mingyu gelagapan diiringi senyumannya yang seperti orang bodoh.

"Ah, mingyu! Ada bunga, lihat deh.. maniskan?" sahut wonwoo tiba tiba, berjalan mendekat ketepi jalan yang berjejeran tanaman disana. Mingyu mengelus dadanya sendiri melihat wonwoo.

'Ahh, akhirnya ada juga hal yang normal darinya' gumam mingyu dalam hatinya lega. Mingyu mengikuti wonwoo di belakangnya, dan matanya mengikuti arah telunjuk wonwoo dan…

"Permukaannya yang halus, warnanya, garisnya seperti membentuk wajah manusia. Benar benar bagus" ucapnya sambil mengelus benda tersebut.

Mingyu hanya mengusap berat wajahnya, rasanya mingyu ingin menangis histeris sekarang juga.

"Wonwoo hyung, itukan jamur, bukan bunga" jelas mingyu lemas. Sepertinya mingyu ingin menyelam kelautan terdalam sekarang juga.

"Sudah hyung, kita jalan lagi" mingyu memegang pergelangan tangan kanan wonwoo, dan menariknya pelan.

"Uwaaa.." wonwoo kehilangan keseimbangan badannya karena mingyu yang tiba tiba menariknya, kalau saja mingyu tidak segera membalikkan tubuhnya menghadap wonwoo, dan meraih pinggangnya, mungkin saja wonwoo sudah tengkurap ke aspal jalan. Karenanya, wonwoo terjatuh menimpa badan mingyu.

"Aww!" mingyu meringis pelan karena tubuh bagian belakangnya menyentuh aspal jalan cukup keras.

"Maaf, kau tidak apa apa?" ucap wonwoo yang masih berada diatas tubuh mingyu. Dijalanan yang gelap, dengan posisi mereka yang sekarang, mingyu bisa melihat dengan samar kedua mata wonwoo dibalik poni hitam yang menutupinya.

'Matanya sipit dan.. wangi 'gumam mingyu saat ia bisa mencium wangi parfum tubuh wonwoo sedekat ini dan juga wangi dari sampo rambut wonwoo yang tercium segar.

"Ya, apa kau juga tidak apa apa?" wonwoo menggelengkan kepalanya pelan. Tangan kanan mingyu secara spontan mengangkat dagu wonwoo. Dan tangan kirinya ikut bergerak menyentuh poni wonwoo.

"Wonwoo hyung.." mingyu tertegun saat tangannya menyibak poni hitam yang menutupi sebagian wajah wonwoo tersebut.

'Sial! Wajahnya…. Tampan sekali. Manis dan kulitnya putih bersih. Kedua matanya sipit seperti rubah. Hidungnya yang mancung lancip, dan bibir.. bibirnya bersemu merah dengan bibir bawahnya yang sedikit lebih tebal dari bibir atasnya' mingyu tanpa sadar mengagumi wajah wonwoo yang baru kali ini ia lihat secara langsung dan sedekat sekarang.

"Ming-gyu?" sahut wonwoo pelan dan membuat lamunan mingyu buyar.

'Sialan! Apa yang aku pikirkan?! Kedua matanya menatapku polos seperti itu, sial! Ada apa denganku?!' gerutunya dalam hati.

"Jangan menatapku seperti itu, Jeon wonwoo" entah ia sadar atau tidak telah mengatakan ucapan yang tak bisa wonwoo mengerti. Tatapan bingungnya membuat wajahnya terlihat lucu membuat mingyu terus mengumpat dalam hatinya mengeluarkan lebih dari 1000 kata kasar.

Kedua tangan mingyu masih betah di sisi kedua pipi wonwoo, kedua mata mingyu masih memandangi dan mengagumi wajah wonwoo.

"Kau, wajahmu tampan dan manis disaat bersamaan, wonwoo hyung" ujarnya tiba mata sipit itu melebar sedikit, reaksi mendengar perkataan mingyu barusan. Kedua tangan mingyu bergerak mengelus lembut pipi wonwoo.

"Kenapa kau menutupi wajah seindah ini?" tambahnya. Wonwoo tak meresponnya. Bibirnya bergerak membuka untuk mengucapkan sesuatu. Kedua bola mata mingyu pun terfokus ke bibir wonwoo yang terbuka. Membuat darah mingyu seketika berdesir memanas, ia menginginkan lebih dari sekedar menyentuh kulit putih wonwoo. Ditambah dengan posisi mereka saat ini, benar benar membuat udara yang dingin seketika menjadi memanas bagi mingyu.

"—ummh" wonwoo melenguh kaget ketika mingyu mencium bibirnya. Tidak hanya ciuman biasa, mingyu langsung memagut melumat halus bibir wonwoo oleh bibirnya. Tangan kanannya berpindah ke tengkuk wonwoo, menekannya untuk memperdalam ciuman dan lumatannya. Dilanjut dengan lidah mingyu yang menerobos masuk kedalam mulut wonwoo. Lidah tersebut melumat habis seluruh isi mulut wonwoo.

"Nggh—ahh" desahan wonwoo menjadi saat lidah mingyu membelit lidahnya, menariknya, menggigit dan menghisapnya gemas. Desahan suara berat wonwoo membuat libido nya terus meninggi, dan membuat sesuatu didaerah selangkangannya berereksi.

Bahkan mingyu tak mempedulikan posisi mereka saat ini. Berbaring di tepi jalan dengan wonwoo yang diatas tubuhnya dan berciuman liar.

"Emph-aah" wonwoo melenguh kecil saat mingyu melepas tautan bibirnya. Salivanya menetes ke dagu mingyu.

Dilihatnya wajah putih wonwoo sedikit merona merah, bibirnya basah dan semakin memerah dan mengkilap karena ail liur. Tatapannya sayu dan bibir itu sedikit terbuka. Mingyu yang melihatnya ingin kembali melumat bibir itu dengan lebih kasar.

"Mingyu" mingyu mengurungkan niatnya saat kesadarannya kembali. Ia sendiri terkejut, saat sadar apa yang telah ia lakukan kepada wonwoo.

'A—apa ini? Aku mencium wonwoo? Aku dan wonwoo berciuman?!' teriaknya dalam hati.

Sesegera mungkin sebelum kejadian barusan terulang lagi, mingyu mengangkat tubuhnya juga tubuh wonwoo dari atas tubuhnya dan kembali berdiri. Mingyu menundukan wajahnya, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan wonwoo, yang sedari tadi wajahnya telah memerah kini tangan kanannya memegangi bibirnya sendiri.

"Basah.." ucap wonwoo pelan. Mingyu menoleh kearah wonwoo.

"Ma—maaf.." ujar mingyu pelan dan membungkukkan dedikit badannya.

"Rumahmu sudah dekatkan? Ayo jalan, sebelum makin larut" tambah mingyu dan menarik kembali tangan wonwoo. Menautkan jari jarinya dengan jari jari wonwoo yang dirasakannya jauh lebih kecil dari miliknya. Dan wonwoo berjalan dibelakang mingyu. Mereka terus berjalan tanpa membahas kejadian tadi, wonwoo hanya membuka suara untuk memberi petunjuk arah jalan kerumahnya.

Mereka berdua merasakan sesuatu yang aneh didada mereka. Jantungnya tak karuan. Entah apa itu namanya. Mereka berdua pun masih sulit untuk mencerna kejadian barusan. Dan mingyu, tak pernah ia lepas kendali seperti itu..

.

.

.

'Hhh… Apa yang kulakukan kemarin, jangan sampai aku benar benar menyukainy-'

"Ha? Aku menyukainya? Aku?! Ingatlah Kim Mingyu, ini hanya permainan taruhan saja" mingyu terus mengelak ucapah hatinya sendiri seraya berjalan menuju kearah kantin.

"Mingyu ya~" sahut seorang gadis dari belakangnya, mingyu menoleh, ia tersenyum mendapati siapa gadis tersebut. Gadis itu langsung merangkul lengan kanan mingyu.

"Apa kabar, Hirai Momo-chan?" sapa mingyu.

"Makan siang bareng yuk? Atau bagaimana kalo nanti kita cari tempat 'yang gelap', um?" ujar momo menggoda dengan merendahkan suaranya diakhir kalimatnya. Ya, dia murid pindahan dari jepang, salah satu gadis 'Mainan' mingyu.

"Hahaha dasar kau ini. Tapi akhir akhir ini kau semakin manis dan aku paling suka anak yang manis" ujar mingyu sambil kedua matanya yang meneliti wajah momo.

"Um~ mingyu kenapa kau tidak mengikatku? Kau belum punya pacarkan?"

-Deg-

"H—ha?" langkah mingyu terhenti, mingyu tak tahu harus menjawab apa pada pertanyaan momo tersebut. Ditambah ia kini tepat berada disamping perpustakaan, ia melihat sesosok pria yang sangat ia kenal dibalik kaca jendela perpustakaan disebrang sana. Tak jauh dengan jaraknya yang saat ini sedang berdiri, pria itu sedang memakan bekalnya dengan santai tanpa melihat kearah mingyu.

"Momo-chan maaf, hari ini aku ada urusan, nanti kuhubungi lagi" ujar mingyu dan melepas tangan momo yang bergelayut di lengannya dan ia segera lari melesat ketempat tujuannya. Mingyu berlari tanpa mendengar teriakan protes dari momo.

.

-Krit-

Mingyu membuka pintu perpustakaan yang amat sepi itu. Berjalan kerarah wonwoo yang sedang duduk santai dengan makanan bekalnya di kursi pojok dekat jendela, dengan jendela tersebut yang tertutup rapat oleh gorden.

"Hai wonwoo hyung, kenapa makannya disini? Kenapa tidak dikantin?" ujar mingyu dengan cerianya.

-Sigh-

Tak ada jawaban dari wonwoo. Wonwoo masih terus melahap makanannya dengan tenang. Menganggap mingyu angin lalu yang kini telah duduk disampingnya.

"Yah, suram lagi deh" seru mingyu pelan.

"Ah, kau baca buku ini ya?" lanjut mingyu yang terus membertanya guna menghilangkan keheningan, dan ia mengambil buku disamping wonwoo yang tersandar rapih di dinding dekat jendela lalu ia membacanya.

"…." Mingyu terdiam saat membaca buku ditangannya tersebut.

"Ada apa?" wonwoo membuka suara setelah ia menyelesaikan makannya. Wonwoo menoleh kearah mingyu, ia bisa melihat ekspresi ketakutan di raut mingyu.

"K—kau baca buku ini sendirian, hyung?" Tanya mingyu dengan suaranya yang terbata bata dan sedikit bergetar.

"Um. Karena aku menyukainya"

Seketika ketakutan mingyu sirna begitu saja, saat matanya melihat wajah wonwoo yang kini menatapnya dibalik poni yang menutupi matanya itu dan tersenyum manis. Tangan kiri mingyu bergerak menyibak pelan poni wonwoo, tapi wonwoo menahannya.

Tidak menyerah, tangan itu bergerak pindah ke pipi wonwoo, menyentuh dan ibu jarinya mengelus pipi berkulit putih pucat itu dengan lembut.

"Padahal kau tampan dan manis, kenapa menyukai hal yang menakutkan. Padahal bunga itu sangat cantik, tapi kenapa kau lebih menyukai jamur" ucap mingyu dengan suaranya yang berat dan serak teramat lembut. Hal yang tak pernah ia lakukan kepada gadis gadisnya.

"Aku terbiasa dan suka sendirian, karena aku tidak pandai bergaul. Oleh karena itu, aku tidak bisa membedakan mana yang seharusnya aku sukai" jelasnya lirih dan menundukan kepalanya. Mingyu bergerak merubah posisinya menjadi menghadap wonwoo, kedua tangannya memegangi kedua sisi lengan wonwoo, menuntunnya agar menghadap kearahnya juga. Kini tubuh merekapun saling menghadap satu sama lain.

"Lalu… kenapa kau ingin berpacaran denganku? Apa karena kau juga tidak tahu mana yang seharusnya kau pacari?" tanya mingyu intens dan entah ia sadari atau tidak, kedua jemari tangannya meremas pelan lengan wonwoo.

"Ya, mungkin—agh! Terang!" ucapan wonwoo terpotong karena ia terkejut saat gorden jendela disampingnya terbuka karena tiupan angin dan membuat cahaya terang diluar tak sengaja menyentuh wajahnya. Dengan segera wonwoo menutupi wajahnya dengan kedua tangan kurusnya.

"Kau baik baik saja? Ya tuhan" mingyu pun ikut panik dan langsung menutup kembali gordennya dengan tergesa gesa membuatnya kehilangan keseimbangannya, dan tubuhnya menimpa tubuh wonwoo yang disampingnya. Untung saja dinding dibelakangnya menjadi penunjang tubuh wonwoo, dan kedua tangan mingyu menahan kedinding, karena itu saat mingyu terjatuh menimpa wonwoo, mereka berdua tak terjatuh ke lantai.

Wajah keduanya begitu dekat. Hanya berjarak beberapa centi saja. Mingyu semakin memperkecil jarak wajahnya dengan wonwoo.

"Eumhh" akhirnya mingyu bisa merasakan kembali bibir wonwoo tersebut untuk yang kedua kalinya. Hanya kecupan lembut.

"Uwaa! Ma—maaf" mingyu segera melepaskan tautan bibirnya dan bergerak kebelakang, menjauhkan tubuhnya dari wonwoo.

"Maafkan aku wonwoo hyung, aku hampir saja lepas kenda—"

"Eh? Hy-hyung?" mingyu sangat terkejut saat dengan tiba tiba wonwoo berdiri, meraih tengkuk mingyu dan menyandarkan kepala mingyu didadanya. Mingyu bisa merasakan kembali aroma tubuh wonwoo.

"Wonwoo hyung?" ucap mingyu pelan.

"Ming-gyuh.." seru wonwoo amat pelan, yang lebih tepatnya terdengar seperti 'desahan'. Kedua tangan mingyu melingkar di pinggang wonwoo, mengelus lembut pinggang dan juga punggung wonwoo.

"Tubuhmu kurus sekali hyung, apa kau tidak makan dengan baik?" mingyu mencoba mencairkan suasana yang tiba tiba membuatnya gerah.

"Mingyu, badanku.. panas"

.

.

.

.

.

hallo~ maaf ya sebelumnya kalo ada kata2 yang gak baku, berarti gw ngetiknya keburu buru jadi lepas kontrol semacam kalo gw lagi liat wonwoo *apaan* btw maaf y kalo pendek, otak gw jalan terus tp gw nya males ngetik panjang2 gimana dong? =_= /bows/ yap ini salah satu ff remake an gw dari taun 2011 lalu yg ga kelar2 hahaha dibikin versi meanie~ dan bnyak jalan ceritanya yg gw ubah^^