Setelah mereka sampai di Kamar mereka, Frankenstein menatap Raizel dengan dalam.

"Tuan...apakah Tuan yakin dengan keputusan Tuan sendiri? Tidakkah Tuan akan menyesal nantinya?" Frankenstein meminta keputusan Sang Tuan dengan lembut. Manik Biru sang Pelayan menatap Lembut seolah tengah mencoba untuk membaca isi Hati Raizel.

"Bukankah... aku tak pernah meragukanmu, Frankenstein? Serta... Tolong jangan Panggil aku Tuan. Aku hanya mengizinkan panggilan itu, disaat kita sedang dalam situasi formal atau ada orang lain disekitar kita. Namun... saat ini kita hanya berdua, bukan? maka.. Panggillah aku sebagai Rai atau Raizel.. kekasihmu." Raizel memasang senyum nakal yang membuat Jantung Frankenstein berdetak begitu kencang saat melihatnya, ditambah pipinya yang merona.

Frankenstein memasang Raut wajah datar sesaat, lalu memasang Senyum nakal persis seperti Tuannya. "Baiklah...Rai."

Kini keheningan mengisi Ruangan diantara mereka, dan mereka saling berpandangan mesra satu sama lainnya. Raizel membuka mulutnya perlahan. "Frankenstein...Shall You Do It?"