Warning: Crossover,AU, beberapa karakter yang agak OOC, shounen-ai tapi chapter ini masih aman kok, serta banyak kata yang cukup kasar maka saya kasih rating T deh..XD

Disclaimer: Lion Magnus, Chaltier, dan tokoh-tokoh lain dari Talesof Destiny serta Sebastian, Ciel Phantomhive, dan yang lainnya dari Kuroshitsuji semuanya bukan punyaku. XD

Tama dan Shamisen karakter numpang lewat dari Hayate no Gotoku dan Suzumiya Haruhi no Yuutsu.

Mungkin saja bisa bertambah dari anime lain.. XD

Gomen tiba-tiba saya ganti style penulisan. Saya coba Sudut pandang orang pertama, style Tanigawa Nagaru-san, sudut pandang orang pertama (kalau tidak salah ingat demikian sebutannya dulu di pelajaran bahasa Indonesia). Semoga tidak membingungkan para pembaca sekalian.

Sebenarnya fanfic ini udah selesai kubuat 1 bulan yang lalu, tapi berhubung pernah mengalami error di dan terkena syndrom malas login jadinya tertunda hingga sekarang.


Chapter 1 - Terrible Morning

-Lion POV-

"Sialan, sebenarnya ini dimana sih?" Sudah sekitar setengah jam lamanya aku berkeliling menelusuri lorong-lorong untuk mencari jalan keluar ini tetapi ia gagal menemukannya.

"Tidak ada orang kah di sini?"

Tentu saja aku tidak buta dan pikun serta mengetahui kalau di mansion super gede ini paling tidak ada seseorang, yaitu si butler aneh yang mengklaim dirinya sebagai akuma. Tapi anehnya sampai sejauh ini aku belum menemukan orang selain dia.

Berarti apa mansion ini yang menghuni hanya dia!? Sepertinya tidak mungkin karena rumah ini terlalu luas untuk ditinggali seorang diri.

Aku terus mencoba berpikir dan berkeliling. Aku baru menyadari kalau jalan yang kulewati sejak tadi terdapat beberapa pintu.

Kenapa ya sejak tadi aku tidak membukanya...

Langkahku terhenti di sebuah pintu. Aku memutuskan untuk membukanya siapa tahu kalau ternyata ada orang yang bisa menolongku.

Kupegang gagang pintu, kudorong ke depan, dan terbukalah pintu yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi serta terdapat gambar ukiran-ukiran yang entahlah tidak kuketahui apa itu.

Masa bodoh dengan hal itu, aku mengintip pintu yang sudah sedikit terbuka.

Kulihat ada dua kucing yang sedang bermain PlayStation 3? Mungkin mataku salah lihat ya?

"Cih kurang ajar, Awas kubalas kau, Shamisen!" Teriak kucing putih dengan nada emosi. Kucing yang memiliki rambut coklat belang putih di sebelahnya membalas dengan nada mengejek, "Emangnya lu bisa ngalahin aku?"

Dengan segera aku mengetahui kedua sosok itu, yang kucing putih besar adalah Tama dan kucing kecil di sebelahnya bernama Shamisen. Rasanya bikin shock, mengapa aku bisa mengetahui nama kucing, binatang yang tidak ada sangkut pautnya denganku. Bahkan aku pun tidak memiliki peliharaan dan tidak berminat dengan hal merepotkan untuk mengurus binatang peliharaan.

Ah, tidak, si Chal pengecualian. Meskipun dia sering membuatku kesal, tetapi dia sangat membantuku dan bahkan mendampingiku sejak aku lahir bersama Marian-san. Maka aku tidak akan membuangnya. (note: sudah kau buang kok di chap sebelumnya hehehe *digampar*)

Setelah kuingat-ingat lagi, mereka dari tokoh manga yang pernah Marian-san ceritakan kepadaku sebagai dongeng pengantar tidur sewaktu aku masih berusia 5 tahun.

"Hoi kau siapa berani-beraninya ngintip dan gangguin kita main, hah?"

Sial aku lengah. Aku tidak sadar ternyata aku melamun beberapa saat, sampai-sampai kucing besar itu bisa mengetahui keberadaanku.

Dengan cepat aku memutuskan untuk menutup pintu itu.

Eh tadi mereka berbicara ya?? Aku pasti tidak salah dengar kan?? Mungkin ini hanya mimpi ya?? Hahaha... Aku memijit pelipis kepalaku yang pusing atas insiden misterius di ruangan tadi. Lebih baik aku lupakan saja dari pada menambah beban pikiran.

Di sebelah kanan pintu aneh tadi, aku melihat ada sebuah ruangan lagi lagi. Dengan tekad yang kuat aku membuka pintu masuknya. Di dalamnya kulihat ada.. Ada ANJING RAKSASA!!!

PARAH!! SANGAT PARAH!!! Ukurannya pun tidak tanggung-tanggung. Mungkin sekitar 10 kali lipat dari ukuran Tama atau barangkali sebesar gajah di kebun binatang ya?

Anjing yang berambut putih lebat itu menoleh padaku dengan posisi siap untuk menerkam dan memakanku. Dia mengendus-endusku. Sepertinya dia sudah 1 minggu tidak diberi makan majikannya dan tentu saja aku tidak mau mengorbankan diri untuk menjadi mangsa hewan jelek ini.

TIDAK!!Hidupku tidak akan berakhir di sini!!!

Dengan sigap aku langsung menutup pintu itu dan berlari menjauhi daerah itu.

Aku butuh ke toilet karena rasanya aku ingin muntah melihat semua ini. Benar-benar rumah yang mengerikan. Tanpa berpikir panjang aku langsung bisa menyimpulkan kalau rumah ini pasti penuh binatang aneh seperti kucing ajaib yang bisa berbicara dengan yang ukuran kecil dan sedang, serta anjing raksasa. Benar-benar gila pemilik rumah ini. Masa kamar-kamar di mansion ini dihuni binatang?

Aku pun kapok memeriksa kamar yang lain karena isinya kurang lebihnya sudah bisa kutebak.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan mendesah dengan situasi rumit ini.

"Chal, apa yang seharusn--" tidak sadar aku malah mengajak bicara pedang yang mengabdi padaku yang padahal tidak bersamaku.

Aku langsung membungkam mulutku untuk bicara lebih lanjut dan merasa malu karena sudah seenaknya mengusirnya dengan kasar. Ternyata aku tidak bisa berbuat apa-apa di tempat ini sendirian. Aku membutuhkannya biar bagaimanapun dia sering membuatku merasa kesal. Tapi gara-gara dia meledekku sih jadi aku terbawa emosi.

Lalu sebaiknya sekarang kemana ya?

Aku terus berjalan dan belok di tikungan kanan. Tiba-tiba terdengar suara kereta luncur yang lari ke arahku. Untunglah reflekku bagus jadi aku bisa menghentikan troli makanan ini dengan baik. Di belakang troli itu ada seorang wanita yang berlari ke arahku juga, dan ia tersandung pecahan piring porselen yang terjatuh dari troli itu.

Dengan kecepatanku, aku berhasil menopang tubuh wanita itu sehingga kakinya tidak terluka.

"Arigatou, bocchan, sa-saya sungguh berhutang budi kepada anda." Ucapnya tergagap-gagap. Setelah membetulkan posisi wanita itu hingga dia bisa berdiri dengan benar, aku melihat wajahnya merah tomat.

Aku sedikit tersenyum melihat tingkah laku lucu wanita muda itu dan menasehatinya.

"Lain kali hati-hati kalau jalan dan tidak perlu lari-lari seperti tadi."

"Baik bocchan," ucapnya tersipu-sipu sambil membenarkan letak kacamatanya yang miring dan retak.

"Kyaa~ aku dipeluk bocchan, senangnya.."

"Ada apa?" Aku hanya sekilas mendengar sedikit kata-kata terakhir yang diucapkan maid itu.

"Tii-tidak bocchan, gomen tadi saya hanya bergumam saja pada diri sendiri," jawabnya ketakutan dan salah tingkah.

Ternyata gadis maid ini bodoh ya? Dia tidak sadar kalau aku bukan majikannya. Selain itu dia sangat ceroboh. Karakternya benar-benar sangat berbeda dengan Marian-san. Berbeda 180 derajat!!!

"Bisakah aku 'minta tolong' padamu untuk mengantarku ke halaman depan? Aku ingin sekali menghirup udara segar." Dengan sopan aku memintanya segera mengantarku keluar.

"Ahh.. bocchan berkata 'minta tolong' kepada saya!! Maylene pasti tidak salah dengar kan? Maylene benar-benar terharu.. Botchan tidak sakit kan??? Ahh gomen saya berkata tidak sopan kepada anda. Tentu saja dengan senang hati saya akan mengantar anda." Ekspresi wajahnya terlihat sangat senang dan wajahnya pun masih memerah.

"Terima kasih," Aku pun memberikan senyuman sekedarnya kepadanya.

Akhirnya berkat dia, sebentar lagi aku bisa angkat kaki dari tempat aneh ini.

"B-Bocchan, a... Anda baik-baik saja khan??"

"Tentu, saya baik-baik saja," Jawabku dengan sweatdrop. Melihat reaksi keterkejutan dari maid ini terhadapku, kurasa kurang lebih aku bisa mengetahui karakter dari pemilik mansion ini.

TBC...


Aduh Saya masih belum menemukan plot untuk cerita ini gomen… tetapi baru-baru ini malah menemukan ide baru untuk Tales of Destiny lagi (di luar cerita ini). Semoga chapter ini bisa memuaskan para pembaca. Gomen atas ketidakmunculan Sebastian-sama dalam chapter ini. Chapter selanjutnya saya janji Sebastian-sama bakal muncul.

Oya untuk masalah berambut atau berbulu sejujurnya saya agak bingung menuliskannya. Seharusnya untuk istilah hewan seperti kucing dan anjing kan berbulu tapi kalau untuk ayam dan burung baru istilahnya berbulu. Tapi banyak istilah salah kaprah yang biasa kita dengar misalnya 'Serigala berbulu domba'. Aku ngikutin kaidah bahasa Indonesia yang benar saja jadinya kutulis 'berambut' ya.

Author : Gomen Lion-bocchan, karakter anda sepertinya sedikit banyak agak menyimpang (OOC). Gomen juga untuk para penggemar Lion Magnus.

Lion : Awas kau berani-berani nya bikin fanfic aneh tentang diriku...

Author : Gomen, habis saya kan fangirl nya bocchan *peluk PVC Lion*

Lion : Ada ya PVC diriku?

Author: Iya tentu saja saya punya PVC anda. Ahahaha..

Lion : Rasanya aku ingin muntah.. suka-suka kamu deh.. Pokoknya jangan libatkan Marian-san dalam cerita aneh ini.

Author : (Sepertinya Marian sudah terlibat sih..) haha.. oke beres deh bocchan!! *bohong sih*

Terima kasih banyak karena ternyata ada yang bersedia untuk membaca dan mereview fanfic aneh nan gaje ini *nangis terharu*. Ini kali pertamanya saya mencoba menulis fanfic dan mendapatkan 2 review.. senangnya~

Jawaban review

~ Sora Tsubameki: Terima kasih banyak atas review dan dukungan dari anda, Sora-san. Gomen updatenya lama.. dapat idenya lemot juga sih XD mohon maklum karena saya belum berpengalaman dalam bidang penulisan fanfic.

Benar nih ide ceritanya bagus? Terima kasih, padahal saya cuma asal-asalan dapat idenya.. ^^;;

Eh Sebastian nya napsu ya?? Kupikir itu perlakuan biasa yang Sebastian lakukan terhadap Ciel yakni 'membantu menggantikan pakaian bocchan nya'. Syukurlah bisa membuat anda ngiler =) (ternyata ada fanservice nya donk, hehe)

Bagaimana menurut anda dengan style penulisanku di chapter ini? Saya harap mudah-mudahan chapter ini udah luwes dan ada gregetnya? Kalau belum tolong bilang ya, akan saya usahakan perbaiki lebih baik lagi di chapter selanjutnya!

Onna Ran: Terima kasih banyak atas review dan pujiannya Ran. Saya senang sekali Ran bersedia membaca fanficku yang aneh ini. Semoga chap ini tidak ada misstypo nya juga hehe =)

Hehe.. Sebastian nya santai soalnya dia kan jaga image. Hehe masa ada Sebastian yang panik? Imagenya bakal luntur deh di mata penggemar.

Err.. tapi benar juga ya kalau di fanfic ini Sebastian dibuat panik gimana ya?? (takut digaplok para penggemarnya). Hehe ntar aku coba pikir-pikir lagi deh ;3

terima kasih karena berkat Ran aku bisa menemukan ide bagus dan gila untuk Sebastian di chapter berikutnya.


Saya minta pendapat kalian donk, Sebastian enaknya dibuat panik apa tidak ya?? (maksudku diperlihatkan kalau dia stress dan cemas memikirkan memikirkan keberadaan dan nasib Ciel??) Hehe..

Terima kasih banyak karena anda sudi menyempatkan membaca chapter ini. :3

Saya akan usahakan update cepat jika sudah ada ide lagi, tapi bakalan kupending agak lama untuk fanfic ini soalnya saya mau lari dulu ke fandom Tales of Vesperia, berhubung ide untuk ceritanya sudah sangat banyak dan menumpuk di kepala.