Spooky Angel

Chapter 2

Main Character : HiruMamo

Disclaimer : Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Written : Sasoyouichi

Story : Sasoyouichi

© Sasoyouichi


- サソヨウイチ -

Comeback! XDD~

H-9 #SS4INA ^^ author seneng banget! *lompat lompat*

Karena banyak yang bingung dengan fanfic ini, saso bakal jelasin lagi^^

Fanfic ini keluar dari cerita manga/anime aslinya, tidak ada sangkut pautnya dengan cerita di manga/animenya

Mamori disini adalah mahasiswi dari Universitas Kedokteran Shuuei yang tidak tau apapun mengenai Amefuto

Jadi, baca fanfic ini mesti menghilangkan sebentar bayangan kalian tentang manga/anime Eyeshield 21 nya *plaak*

Ntar balikin lagi ingatannya ya ;) Hehehe

Oya, fanfic ini terinspirasi dari fim Korea, 'Postman To Heaven', Jaejoong & Han Hyo Joo

sekarang sudah ada komiknya terbitan m&c manhwa^^

Balasan review ada di bagian bawah

Happy reading minna-san ^^


- サソヨウイチ -

Cerita sebelumnya...

"Arigatou ne, sudah mau membantuku untuk membuatkan surat ini,"

"Doitte. Aku sarankan, lain kali kalau mau buat surat untuk seseorang yang kau sukai, lebih baik itu dibuat olehmu sendiri. Walaupun surat itu tampaknya tidak terlalu bagus,"

"Hai. Aku akan mengingat saranmu." Perempuan itu pun meninggalkan Mamori dan Hiruma. Hiruma bangkit dari kursinya. Berjalan mendekati Mamori.

"Kalau perempuan merepotkan itu diterima, kau akan kutraktir,"

"Kau yakin?" tanya Mamori.

"Besok kau datang ke sini lagi. Perempuan merepotkan tadi juga akan menemuiku di sini, besok,"

"Baiklah. Ternyata kau baik juga,"

"Kekekeke! Kalau nggak, aku nggak bisa kembali ke kehidupanku, pengganggu sialan!"

"Kau terus saja menyebut 'kehidupanku'. Ini 'kan hidupmu!"

Hiruma meninggalkan Mamori sendirian. Ia berbelok ke kanan, masuk ke jalan yang dipenuhi pohon-pohon besar. Hiruma sedikit mengangkat sudut bibirnya ke atas. Mencoba untuk tersenyum. Walaupun sepertinya, senyum itu melambangkan kesedihan yang ia sembunyikan.


- サソヨウイチ -

Mamori P.O.V

"Pelajaran hari ini selesai. Kelas dibubarkan." Seorang wanita separuh baya keluar melewati pintu sambil memeluk beberapa buku tebal yang terlihat lusuh.

"Haa... Selesai juga jadwal hari ini!"

Aku merentangkan kedua tanganku ke atas. Menggerak-gerakkan jemariku untuk menghilangkan rasa pegal. Jari-jari ini sudah lelah karena sedari tadi meringkas materi yang dijelaskan oleh dosenku. Dosenku yang satu ini selalu keluar dari ruang kelas dengan papan tulis bersih tanpa noda! Yang artinya, mulai dari awal sampai akhir, dosen ini hanya berdiri di podiumnya dan berbicara panjang lebar tentang materi yang ia berikan.

"Dosen itu benar-benar membuat kesal!" gerutu seseorang yang duduk disampingku.

"Aku setuju denganmu Sara!"

"Kau masih ada kelas setelah ini?" tanya Sara kepadaku. Ia mulai mengepak buku catatannya yang sudah penuh dengan tulisan berwarna-warni.

Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum bahagia. "Ini kelas terakhirku untuk hari ini!"

"Huuh..! Aku masih ada kelas..." ucap Sara dengan wajah lesu. Ia menyandang ransel biru kecilnya dan berjalan menuruni tangga di samping kursi panjang ini. "Aku duluan ya!"

"Jaa!"

Buku catatan, buku-buku yang kupinjam di perpustakaan, pena warna-warni yang tadinya ada di atas meja, sudah berpindah ke dalam tas ranselku yang cukup besar. Aku menyandangnya dan berjalan menyusul Sara yang sudah duluan keluar dari ruang kelas.

"Sudah jam 3. Apa rambut pirang berantakan itu masih ada di tempat kemarin?" Kulihat jamku yang sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima menit. Seperti janjinya kemarin, kalau anak yang kubuatkan surat cinta itu diterima oleh laki-laki pujaannya, maka aku akan ditraktir oleh Hiruma. Karena hal itu, sekarang aku melangkah ke tempat yang sama dengan kemarin.

Setibanya di sana, mataku bergerak mencari sosok laki-laki berambut pirang berantakan. Di kursi sebanyak ini, tidak ku temukan sosoknya yang sedang duduk dengan senjata di sampingnya. Di atas pohon-pohon yang rindang ini juga tidak kutemukan Hiruma. Tentu saja! Memangnya Hiruma punya hobi memanjat seperti monyet? Tidak disangka aku tertawa dengan khayalanku sendiri.

"Kau gila ya pengganggu sialan?"

Pertanyaan itu terdengar familiar di telingaku. Aku mengenal suaranya yang kasar dan kata-kata 'pengganggu sialan' yang diberikannya untukku. Siapa lagi yang memanggilku seperti itu kalau bukan Hiruma.

"Hiruma!"

"Nggak usah teriak pengganggu sialan!"

"Berhenti memanggilku pengganggu sialan!" Aku menatap ke dalam mata emerald-nya sambil berkacak pinggang.

"Usahamu untuk menghentikanku sia-sia saja. Simpan suara jelekmu itu!"

"Huh! Dasar rambut pirang jelek!" Aku menjulurkan lidahku dan membuat ekspresi yang aneh-aneh di wajahku.

"Lebih baik kau duduk di sini dari pada berdiri sok cantik di tengah jalan begitu," Hiruma menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya.

"Memang aku cantik kok." Aku mendengus kesal. Duduk di sebelahnya seperti ini membuat mood tambah buruk!

Tidak beberapa lama kemudian, orang yang aku dan laki-laki di sebelahku ini tunggu, datang juga. Ia datang dengan ekspresi wajah bahagia. Melihat ekspresinya seperti itu, aku pun turut bahagia. Pasti cintanya diterima oleh laki-laki yang ia sukai. Setidaknya, itulah pemikiranku.

"Bagaimana hasilnya cewek sialan?" tanya Hiruma dengan kasar. Perempuan itu tersenyum sangat lebar.

"Aku di terima!" teriaknya.

"Wah! Selamat!" Aku refleks bangkit dari posisi dudukku dan memeluknya. Tidak disangka, ia membalas pelukanku dengan sangat erat.

"Ini berkat bantuanmu. Doumo..." ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman termanisku. Ia melepas pelukannya padaku dan berlari ke arah Hiruma yang masih duduk di tempatnya. Ia memeluk Hiruma singkat. Pelukan itu berhasil membuat Hiruma mengeluarkan ekspresi aneh.

"Ini juga berkatmu. Arigatou ne Hiruma-san!" Ia menundukkan badannya sebagai tanda terimakasih. Khas orang Jepang sekali. Ia pun meninggalkan kami berdua dengan berlari-lari kecil menghampiri laki-laki pujaannya yang ternyata menunggu tidak jauh dari sini.

"Hei, apa kau ingat janjimu?" Aku yang sudah kembali duduk di sebelah Hiruma, menyikut lengannya pelan.

"Aku nggak pernah lupa dengan janjiku. Aku akan mentraktirmu."

"Asiiiik! Kebetulan aku belum makan dari pagi. Hehehe..."

Aku melompat dari kursi yang tadi kududuki dan melompat-lompat di tempat untuk menggambarkan kalau aku senang. Aku menarik tangan Hiruma dengan paksa. Walaupun ia kesal dengan reaksiku yang berlebihan, ia tetap mengikuti tarikan tanganku.

"Cih.. Apa kau nggak punya uang sampai nggak makan dari pagi?"

"Punya nggak ya?" Wajah Hiruma yang tadinya kusut bertambah kusut lagi setelah mendengar perkataanku. Aku pun tertawa melihat wajahnya yang kesal itu.


- サソヨウイチ -

Aku dan Hiruma sampai di sebuah toko roti yang terkenal enak di wilayah ini. Toko roti ini menyediakan western cake terbaik. Aku memang sudah lama ingin makan roti di sini. Aku selalu tidak sempat untuk sekedar mampir ke sini karena jadwal kuliah.

Ketika kalian masuk ke dalamnya, kalian bisa melihat pernak-pernik bergaya Eropa. Aku dan Hiruma memilih duduk di dekat kaca. Aku bisa melihat keramaian jalan dari sini. Mataku beralih ke Hiruma. Baru sebentar aku mengalihkan perhatianku padanya, sudah ada saja laptop putih di atas meja.

"Kau keluarkan darimana laptop itu?" tanyaku.

"Aku 'kan bawa tas, pengganggu sialan,"

"Kenapa dari tadi aku nggak melihatnya ya?"

"Mana aku tau, pengganggu sialan,"

"Ck. Aku punya nama yang bagus, Hiruma. Panggil aku Anezaki,"

"Nggak mau."

"Kau itu me-nye-bal-kan!"

"Kekeke! Itu pujian yang bagus pengganggu sialan!"

Aku merengut kesal. Kemudian datang maid yang meminta pesanan kami. Aku melihat nama-nama cake yang semuanya terlihat enak. Aku memesan dua cake dengan rasa cokelat dan strawberry serta hot chocolate. Maid itu lalu meminta pesanan Hiruma yang sedang sibuk dengan laptopnya.

"Black coffee."

"Itu saja?"

"Apa kau tidak dengar maid sialan?" Hiruma memandang maid itu. Maid itu seperti ketakutan dan langsung pergi ke dapur.

"Kau nggak mau makan cake?" tanyaku pada Hiruma.

"Aku nggak suka yang manis-manis,"

"Berarti, kau nggak suka aku. Aku 'kan manis,"

"Kekekeke! Pengganggu sialan kayak kau itu nggak ada manis-manisnya,"

"Nggak bisa memuji orang sekali saja!" Mamori melipat tangannya di depan dada dan memajukan bibirnya. "Kalau nggak suka cake, kenapa nurut aja diajak ke sini?"

"Hanya mau menepati janji,"

"Kalau kau bilang mau makan di tempat lain, pasti aku mau ikut kok,"

"Kalau gitu, aku mau cari tempat lain," Hiruma berdiri dari tempat duduknya. Aku langsung memegang tangannya dan menyuruhnya duduk kembali.

"Kita 'kan sudah terlanjur memesan, Hiruma,"

"Kalau gitu, kau duduk diam di situ dan makan cake mu!"

Aku menghela nafas panjang untuk orang dihadapanku ini. Tidak ada habisnya kalau berdebat dengan orang ini. Ujung-ujungnya, aku yang mengalah.

"Ini cake, hot chocolate dan black coffee. Silahkan menikmati."

Hiruma meneguk black coffee-nya dan kembali berkonsentrasi dengan layar laptopnya. Aku memotong sedikit demi sedikit cake yang ada di depanku dan memakannya perlahan-lahan. Aku makan di dalam diam. Tidak ada topik untuk dibicarakan dan Hiruma juga tidak menampakkan niatnya untuk mengobrol.

"Mmmm, aku ambilkan cappuccino cake ya. Rasanya nggak terlalu manis kok." Aku meninggalkan Hiruma. Aku mulai memilih cake yang ada di dalam lemari kaca. Cake berwarna cokelat muda menjadi pilihanku.

"Ini cake-nya. Kau coba dulu,"

"Kau saja yang makan. 'Kan sudah ku bilang, aku nggak suka makanan manis,"

"Ini nggak manis, Hiruma," Aku memotong kecil cake berwarna cokelat itu dengan sendok kecil. Aku mengarahkan sendok itu tepat di depan mulutnya. "Aaaa... Ayo buka mulutmu!"

Hiruma melihatku sebentar. Tatapan matanya memancarkan ketidaksukaannya. Walaupun kelihatannya ia tidak suka, ia membuka mulutnya dan memakan potongan cake yang aku berikan.

"Huh! Bilang aja kalau kau mau aku yang menyuapimu!" ujarku.

"Kau yang memaksa,"

"Hahaha. Kau lucu sekali, Hiruma. Aku baru bertemu denganmu kemarin, tetapi aku sudah merasa mengenalmu dari dulu. Aku bebas untuk menjadi diriku ketika bersamamu. Aku nggak perlu menahan emosi saat bersamamu,"

"Kekeke! Apa kau mulai menyukaiku?"

"Hah?" Mukaku tiba-tiba memerah. Pertama kalinya ada laki-laki yang bertanya begitu padaku. "Ma-mana mungkin a-aku menyukaimu. Haha.."

"Cepat makan!"


- サソヨウイチ -

Normal P.O.V

"Kenapa kau terlambat? Aku sudah menunggumu dari tadi?" seorang perempuan berambut hitam panjang terurai berteriak kepada pemuda di depannya.

"Aku 'kan sudah bilang tadi di telpon. Aku ada pertemuan club di universitas," jawab pemuda itu pelan.

"Pertemuan? Pertemuan club apa yang ngadain pertemuan setiap hari?" perempuan itu masih saja berteriak kepada pemuda di depannya. Sepertinya ia tidak peduli kalau orang lain melihatnya. Pemuda itu pun mengisyaratkan kepada perempuan di depannya untuk berhenti berteriak.

"Tim baseball universitasku akan bertanding 2 hari lagi. Bukannya aku sudah menceritakannya padamu?"

"Memang. Tapi kenapa kau nggak punya waktu untukku?"

"Ini apa? Aku datang ke sini buat bertemu denganmu 'kan?"

"Iya. Tapi aku sudah menunggu selama 30 menit kau tau?"

"Iya, iya, aku tau. Sekarang aku sudah ada di sini. Aku akan menemanimu seharian. Kau mau memaafkanku?" pemuda itu memohon dengan ekspresi lembut yang bisa meluluhkan hati perempuan mana pun (?)

Perempuan itu tersenyum melihat pemuda itu. "Aku memaafkanmu. Hehehe.."

"Begitu lebih baik." Pemuda itu mengusap kepala perempuan berambut panjang itu dengan lembut.

Mamori tampak sedang memperhatikan dua pasangan tersebut. Ia bersembunyi di balik tubuh Hiruma yang lebih tinggi darinya. Hiruma melayangkan pandangan sinisnya karena merasa terganggu dengan tingkah Mamori.

"Nggak usah ikut campur urusan orang, pengganggu sialan,"

"Aku 'kan hanya penasaran, Hiruma." Mamori kembali meneruskan acara makannya yang sempat tertunda.

"APA?" teriak seseorang dari arah belakang Hiruma. Mamori kembali memperhatikan dua pasangan tadi.

"Aku minta maaf. Ini kemauan pelatih, Suzuka," ucap pemuda itu.

"Tapi 'kan, barusan kau sudah janji akan menemaniku seharian?"

"Aku juga nggak bisa bilang apa-apa. Tiba-tiba saja pelatih menelponku untuk datang ke club karena ada perubahan strategi,"

"Apa kau nggak bisa kalau nggak datang?" tanyanya dengan nada tinggi.

"Tidak. Aku ini pitcher di tim inti, Suzuka," pemuda itu menatap dengan sendu perempuan dihadapannya.

"Iya, aku tau! Tapi 'kan..." Perempuan mengepalkan tangannya dan menarik nafas panjang. "Kau bisa pilih, aku atau tim baseball-mu?"

Pemuda terkejut dan terdiam sebentar. "Aku... tidak bisa memutuskannya,"

"Kalau begitu, aku yang putuskan. Aku pergi." Perempuan itu mengambil ransel kecil dengan kasar dan berjalan keluar.

"Suzuka!" pemuda itu berterika memanggil nama pacarnya tersebut. Tapi, perempuan yang dipanggil itu tidak menoleh ke belakang.

"Kita harus ke sana. Ada tugas untuk kita," tiba-tiba Hiruma berdiri.

"Ha? Kita? Kau mau kemana?" Hiruma tidak memperdulikan pertanyaan dari Mamori. Ia menghampiri si pemuda pemain baseball tadi. Mamori yang kebingungan, cuma bisa mengikuti Hiruma dari belakang.

"Hei, pemain baseball sialan. Aku dan pengganggu sialan ini akan membantumu," Pemuda itu kebingungan. Jelas saja! Tiba-tiba ada yang datang setelah ia bertengkar dengan pacarnya dan memanggilnya dengan 'pemain baseball sialan'.

"Ka-kalian siapa?" tanyanya.

"Aku orang yang akan membantumu," ucap Hiruma.

"Ah, aku Anezaki Mamori. Yoroshiku ne,"

"A-aku Himura Kouki. Kalian mau membantuku dalam hal apa?"

"Hm? Aku akan membuat perempuan sialan itu mengerti posisimu,"

"Maksudmu Suzuka? Bagaimana caranya?"

"Pengganggu sialan ini yang akan membantunya," ucap Hiruma santai sambil menunjuk Mamori yang berdiri di sampingnya.

"A-aku? Kenapa aku?"

"Karena kau sudah kutraktir makan di sini, pengganggu sialan. Kekeke!"

"Huh! Ternyata ada maunya!"

"Ka-kalau memang kalian ingin membantuku, aku sangat berterimakasih. Tapi, aku harus segera pergi karena ada urusan. Apa kalian tidak membutuhkan informasi apapun tentang Suzuka?"

"Kekeke! Itu nggak perlu pemain baseball sialan. Aku punya semua informasi tentanga orang-orang di seluruh Jepang!" Hiruma mengeluarkan seringai setannya.

"Ka-kalau begitu aku pergi." Pemuda itu pergi dengan terburu-buru.


- サソヨウイチ -

"Bagimana kita akan membantu Himura-san?" tanya Mamori.

"Siapa itu Himura-san?" tanya Hiruma yang sedang santai mengetik sesuatu dengan laptopnya.

"Pemain baseball tadi. Kenapa kita harus membantunya?" tanya Mamori.

"Itu tugasku. Dan kau akan membantunya,"

"Tugas? Kenapa?"

"Agar aku bisa kembali ke kehidupanku,"

"Kau mencurigakan, Hiruma Youichi. Tapi, bagaimana kita membantunya?"

"Itu yang harus kita pikirkan, pengganggu sialan!"

"Hehehe. Baiklah. Tapi, habis aku membantumu menyelesaikan tugasmu ini, kau harus mengajakku ke Disneyland! Bagaimana?"

"Akan aku pertimbangkan,"

"Asiiiikk!"

"Sekarang pikirkan bagaimana cara membantu pemain baseball sialan itu!"

"Oke!" ucap Mamori sambil mengedipkan matanya.


TO BE CONTINUED...


Alhamdulillah selesai juga chapter 2-nya XD~

Semangat! Semangat! Hwaiting! Ganbatte!

Balasan review yg tidak log-in :

Anezakibeech : Ini chapter 2-nya^^ makasih udah baca dan review ya^^

Govinda Miura : gimana chapter 2-nya? Seru nggak? XD makasih udah baca, makasih udah review juga :))

Lala san Machiru-TwirlersGals : Iya bener^^ tapi di fanfic ini saso buat mamori di universitas Shuuei^^ fanfic ini keluar dari apa yang ada di manga/anime-nya. Untuk masalah Karin, saso kepikiran aja ngasih nama OC itu karin. Karin yang ini bukan Karin quarterback Teikoku kok :)) gomen buat typo-nya^^ makasih udah baca & review XD

Ranran : makasih udah baca ran *hug* hahaha lama nggak ketemu XD makasih udah baca & review ya :)) :))

Review Anda selalu dibutuhkan^^