Save Our School
Disclaimer Masashi Kishimoto
Chapter 2. Baa-chan and Me
Tenten P.O.V.
Beberapa hari sejak insiden Sasu Naru makan bareng di kantin , pas lagi istirahat, gue iseng-iseng ngeliat papan pengumuman yang saat itu lagi dikerubungin sama makhluk-makhluk cowo SMA Metanoia. Rupanya akan ada pertandingan olahraga dan seni antar kelas sekitar tiga minggu lagi. Tiba-tiba, tring! My lamp's head turned on! Soalnya bakal ada kompetisi band antar kelas! Oooh… akhirnya!
Langsung aja gue lari ke kelas gue untuk nemuin rekan-rekan seperjuangan gue di Band Ramen Miso. Apa? Namanya aneh? Eeeeh… jangan menghakimi band kita dari namanya, ya! Gini-gini kita tuh banyak menorehkan prestasi buat SMA Metanoia, lho! Ga percaya? Nggak juga ga apa-apa, deh. Oh iya gini susunan band kita :
Vokalis : Uzumaki Naruto (dia ini pegusul nama band kita soalnya dia cinta mati ama ramen)
Gitaris : Hyuuga Neji ( dia ini sih sih si mumi hn)
Bassis : Sai (si vampir tukang senyum )
Pinais : Gue donk Tenten ( yang paling cantik)
Drummer : Inuzuka Kiba (Si manusia anjing, di gigit Kiba)
Ga punya kerjaan : Ini si Lee (soalnya dia pengen diliet Yakumo, so kami nyuruh dia jadi tukang bawa tas)
Tapi pas gue mau pergi ke kelas, gue ngedenger seorang cowo nyanyi sambil main piano di ruang kesenian. GILAAA!!! Suaranya merdu banget! Belum lagi permainan pianonya yang ga kalah keren!
Penasaran, gue pun masuk ke ruang kesenian yang pintu gandanya kebetulan terbuka. Ruangan itu luas dan didekor oleh anak-anak sanggar seni dengan berbagai lukisan serta kerajinan tangan bertema natural. Sementara piano yang sedang dimainkan cowo itu terletak di atas panggung yang menghadap pintu.
Gue jalan terus ke arah panggung dengan pikiran nyasar ke sana kemari. My God!!! Ternyata yang main piano dan nyanyi itu adalah Kankuro-senpei!!! Gue melotot dan kehabisan akal mau lari ke mana. Kacau… kacau… bego banget sih gue…
Pas lagi berbingung-bingung ria, Kankuro-senpei berhenti bermain piano. Waduuuhhh!!! Pasti dia terganggu karena makhluk konyol kaya gue tiba-tiba nongol di sini!!!
"Ada apa?" tanya Kankuro-senpei sambil tersenyum. Ya, ampyuuunnn…!!! Dimple (lesung pipi)-nya itu lhooo!!! Ngegemezin bangeeettt!!!
"E – a – e – e… ng—nggak! Ga napa-napa!" jawab gue. Aduh, sungguh mempermalukan bangsa dan negara.
"Terus, kenapa kamu dateng ke sini?"
"Itu, itu, anu… itu karena… karena saya mau… mau nunggu temen, mau latihan nyanyi bareng! Iya, Senpei!" jawab gue.
"Wah, bagus juga tuh. Sini aja biar kita latihan bareng nunggu temen kamu. Ga usah takut. Saya ga makan orang, kok!" kata Kankuro-senpei dengan ramah.
"Oooo, gitu ya. Kirain senpei masih tetanggaan sama Sumanto!" kata gue becanda. Padahal seluruh tubuh udah meriang, panas-dingin.
Kankuro-senpei ketawa ngedengernya. Gue juga jadi agak berani dan melangkah dengan pede ke arah panggung.
"So, mau nyanyi apa?" tanya Kankuro-senpei setelah gue berdiri di sampingnya. Aduh… Deket banget… Apalagi Kankuro-senpei-nya juga wangi banget… Perasaan gue jadi bau asem deh…
"Eeee…ng, When You Believe. Saya suka banget sama lagu itu, kak!" seru gue.
"Oh, ya? Saya juga suka banget sama lagunya Whitney Houston! Keren-keren!" kata Kankuro-senpei. Yes! Pilihan gue ga salah!
Dan Kankuro-senpei mulai main piano sambil menyanyikan bait pertama. Pas mau bait kedua, gue nunjuk-nunjuk diri sendiri, minta persetujuan dulu baru kemudian bernyanyi setelah Kankuro-senpei mengangguk. Di bagian chorusnya, Kankuro-senpei mengubah suaranya menjadi suara dua dan bernyanyi tanpa secuil salah pun! GILA! Dus, keren abis! Gue paling suka ngeliat ekspresinya pas nyanyi di nada-nada tinggi! Menghayati banget, booo!!!
Lagu itu pun berakhir dengan sangat manis. Gue bertepuk tangan dengan sangat rame. Aaarrrggghhh!!! Harusnya yang tadi itu gue rekam di handphone!!! Kankuro-senpei berdiri dan membungkuk, seolah memberi hormat sama gue! Iiiiiihh… dia emang keren banget!!! Udah tinggi, baek, imut, modis, jago musik lagi! Perfect! Tapi, tadi kan gue mau…
"Ups!" Gue nepuk dahi sendiri (ya, iya, masa dahi Kankuro-senpei juga gue tabok). "Saya masih ada bisnis, nih! Kapan-kapan nyanyi bareng lagi ya, Kak!" ujar gue.
Kankuro-senpei tersenyum manis (ini baru manis, asli, Kankuro-senpei emang manisss).
"Ga apa-apa. Oh, ya, besok kamu bisa datang ke sini lagi ga? Jam yang sama?" tanya Kankuro-senpei. WHAT?! Besok? Iiiihhh… mau donk! Ini kesempatan langka bo! Dan lebih berharga daripada kesempatan nonton konser Fai Lun Haik (eh, siapa tu?)!
"Boleh! Pasti saya dateng!" kata gue dengan penuh semangat. Indahnya hidup gue… Thank's God! Dengan langkah ringan gue berjalan ke luar, sempet-sempetnya melambai ke arah Kankuro-senpei. Langsung aja gue cabut ke kelas 2 A-1. Seneng banget gue hari ini!
Hal itu ga bisa gue tahan untuk ga diceritain sama Neji dan Lee yang langsung gue temuin lagi merenungi nasib sambil makan keripik singkong pedes di bawah kerimbunan pohon pete, eh, kersen. Dengan antusias, mereka nyimak penjelasan gue dari awal sampe akhir gimana gue tadi ketemu sama Kankuro-senpei dan malah jadi nyanyi bareng.
"Iiiih... mau dong… ngiri deh…" ujar Lee. "Andai aja gue sama Yakumo bisa kaya gitu…" kata Lee dengan pandangan menerawang ke awan-awan yang lagi ditiup angin. Dia ngebikin gerakan tangan seolah lagi mengepakkan sayap. Sambil geleng-geleng kepala dan saling ngelirik penuh arti sama Neji, gue nerusin cerita gue.
"Dan Kankuro-senpei juga ngajakin gue latihan bareng lagi besok!" ujar gue dengan penuh semangat.
"Besok oh gituya!!!" kata Neji. Cuma gue rada-rada heran kayanya mahluk yang satu itu tidak senang melihat orang bahagia, sungguh teman yang tega.
Tapi gue menyetujui rencana latihan band dengan rekan-rekan band gue dimulai minggu depan. Soalnya, tangan kiri si Sai, bassis, lagi keseleo disebabkan karena jatoh pas belajar naik motor. Sok tau sih! (Bukannya gue yang sok tau?!)
Siangnya, gue disuruh kaa-chan ke rumah Uroko-baa-chan untuk ngembaliin loyang-loyang kuenya. Uroko baa-chan sendiri adalah adik Kaa-sanyang punya anak cowo kembar berumur tujuh tahun yang bandelnya ga ketulungan. Rumahnya cuma sekitar empat blok dari rumah kita, tapinya gue jarang ke rumahnya karena sering bete banget sama dua sepupu gue yang 'manis' itu.
Sampe di sana, dengan rasa syukur yang tak terhingga, gue ga nemuin dua makhluk ngeselin itu. Setelah masuk rumah dan ngerumpi sambil berha-ha-ha ria dengan Uroko baa-chan, muncullah dua makhluk yang gue hindarin itu.
"Tenten-nee-chan jahat! Masa Hota ga dibawa ke sini?" tuntut Ichi, abangnya. Apa udah gue kenalin yang namanya Hota sama elo. Belom? Ehm, jadi Hota adalah my brown dog. Ichi sama adeknya, Rin emang suka banget sama yang namanya Hota ini. Tiba-tiba, entah karena kebetulan atau bagaimana, si Hota langsung nyelonong masuk ke rumah dengan ekor bergoyang riang kiri-kanan.
"Itu Hota udah dateng, Ichi!" teriak Rin dengan gembira. Dia dan Ichi langsung berlarian ngedatengin anjing itu dan memeluknya dengan erat, seolah mereka sudah terpisah selama dua bulan dan akirnya ketemu dalam suasana perang yang mengharukan (bayangin deh). Uroko baa-chan ketawa gede-gede (maksudnya terbahak-bahak) ngeliat kelakuan kedua bocah itu.
Selanjutnya, Ichi dan Rin ga ngeganggu gue yang lagi sibuk di dapur dengan Uroko baa-chan sama sekali dan lebih milih untuk menghabiskan waktu bersama Hota. Padahal biasanya mereka langsung bikin ulah, berantem, atau bahkan ngejambakin gue. Entah apa aja yang mereka kerjain dengan Hota bareng-bareng, bernyanyi, menggambar, berjoget, de el el. Yang jelas, gue yakin si Hotanya juga bingung. Pas pulang, dengan berat hati, Ichi dan Rin ngelepas si Hota pergi.
"Kakak pergi, ya!" Gue ngelambai mereka berdua. Eh, dengan wajah lesu, mereka malah melambai si Hota seolah mereka ga akan pernah ketemu lagi. Gue ga dipeduliin, kakaknya sendiri!!! Dasar anak-anak!
Pulangnya, gue nemuin Kaa-san en Tou-san udah rapi berpakaian kantor dengan lengkap. Mereka bilang kalo secara mendadak mereka harus segera terbang ke Singapura.
"WHAT?!" Gue nanya seolah kabar itu udah ngehancurin proyek gue. Saat itu gue lagi ngejogrok, ngelus-ngelus Hota di dapur.
"Kaa-san sama Tou-san kan cuma tiga minggu di sana." kata Kaa-sandengan lembut. Dia lagi ngebedakin wajahnya dan meriksa penampilannya di cermin. Sementara itu, Tou-san ngeberesin koper mereka sambil bersiul-siul riang di kamar.
"Tiga minggu?"
"Iya, sayang. Kamu jangan ketakutan gitu dong!"
"Buat?"
"Buat kerjaan Kaa-san sama Tou-san dong!"
"Aduh… gimana ya… kan aku ingin ikut!" jawab gue. Baik gue, Tou-san , dan Kaa-san sekarang jadinya sama-sama nganggap bahwa gue ga takut kalo tinggal sendirian di rumah.
"Tenang aja. Tou-san udah nelepon Baa-chan supaya dia nemenin kamu di rumah." kata Tou-san , menggotong koper-koper ke ruang tamu.
Baa-chan?! Oh, no! Dia adalah wanita paling cerewet dan rese sedunia! Apalagi sejak dia menjanda ditinggal Oji-san tercinta. Ngebayangin tinggal dengan Baa-chan aja udah bikin gue merinding! Hiiiy!
"Tapi…" Baru aja gue mau ngebantah, tapi Kaa-san udah melesat dengan spektakuler ke arah pintu disusul sama Tou-san .
"Sayang, Kaa-san harus cepet, nih! Jangan nakal! Jangan lupa sarapan ya! Bye, honey!" kata Kaa-san sambil nyium pipi gue kiri kanan. Tou-san juga, lengkap dengan acara ngucek-ngucek rambut sampe berantakan bin ancur. Jadinya cepol kebanggan gue ancur.
"Jangan lupa kasih makan Hota!" Tou-san mengingatkan sambil kewalahan ngebawa koper-koper dan ga lupa nepuk-nepuk si Hota juga.
Gue berdiri di samping pintu menyaksikan kepergian Tou-san dan Kaa-chan. Tanpa pikiran cemas dan takut sama sekali. Justru yang gue pikirin (tanpa memikirkan keberadaan Baa-chan tentunya) adalah… It's fun time, babe! Ga ada yang ngelarang gue ngerock di kamar, konser di kamar mandi, atau tidur sampe larut malam karena nonton film tengah malam.
"Bye, honey!" Kaa-san dan Tou-san melambai dari dalam mobil yang dibawa oleh sopir dari kantor. Gue balas ngelambai dengan cengiran lebar di wajah.
Seiring dengan kepergian Tou-san en Kaa-chan, muncullah dua makhluk gokil dari Mars, Neji and Lee!
"Hai, Tenten!" sapa Lee.
"Hai juga Neji dan Lee, pada mo kemana nih, sore-sore udah cakep gini?" tanya gue.
"Ya, mau latihan sepak bola, masa ngapain." jawab mengunci pintu rumah dan gerbang, kita bertiga melangkah dengan riang ke arah tanah lapang. Ya jelas, tanah lapang itu adalah tanah lapang yang sama yang sering dipakai murid-murid SMA Metanoia kalo olahraga.
"Tapi kita harus balik paling ga dalam satu jam, ya!" ujar gue.
"Napa?" tanya Lee
Gue pun cerita gimana Kaa-san en Tou-san musti ke Singapur dan bahwa Baa-chan akan dateng untuk nemenin gue selama mereka pergi.
Sesampainya di tanah lapang, kita nemuin para cowo lagi asyik-asyiknya main bola.
"Ikutan," pinta gue.
Selanjutnya dengan semangat juang 45, para cowo pun berlatih bareng-bareng. Ltihannya seru banget, walaupun encok, dan capek tetep aja seru. Setelah maen mape puas tiba-tiba gue nyadar.
Baa-chan mau pulang!!! Walah!!! Kacau…!!! Kacau…!!! Gue langsung ngebut pulang.
"Neji! Lee! Gue duluan ya! Ntar gue diomelin sama Baa-chan lagi, nih!" teriak gue. Neji dan Lee melambaikan tangan dengan gaya seolah kita ga akan ketemu lagi (emangnya pemakaman, apa?).
Saat-saat begini nih, gue butuh banget yang namanya sayap, ato… baling-baling bambu juga boleh. Mikirin sayap bikin gue malah laper. Apalagi sayap ayam goreng. Hm… yummy! Daripada mikirin sayap ato baling-baling, gue mutusin untuk lari kenceng-kenceng. Jalanan kompleks udah mulai sepi dari lalu lalang manusia.
Hari makin gelap, sayup-sayup kedengeran suara lolongan anjing dari arah gubuk tua yang letaknya sekitar 300 meter dari tanah lapang. Iiih… bikin merinding aje…
Yang lebih serem lagi, sampe di rumah gue nemuin lampu udah dinyalain! Gerbang dan pintu ga dikunci lagi! Jangan-jangan… ada rampok di dalam! Waduuuh… mana sore begini udah sepi lagi. Si Hota ga di sini lagi. Aduuuh… itu anjing pas perlu malah ga pernah nongol! Kacau…!!! Kacau…!!!
Aha! Telpon Neji! Langsung aja gue ngerogoh saku dan nelpon makhluk yang satu itu. Ga diangkat. Dasar onyon. Ngapain sih ini orang?! Gue makin panik. Nelpon Lee? Euleuh… sama aja bo'ong! Dia bahkan ga pernah mau nunjukin wujud handphonenya!
Yang ada justru muncul panggilan dari seseorang yang… NOMORNYA GA ADA!!! Gue melotot kaget dan mau ngebanting handphone gue. Eh, tapi sayang, ding. Soalnya masih baru. Dengan gemetar, gue angkat.
"Ha-halo?" ujar gue terbata-bata. Ga ada jawaban. Ditunggu…
"Hihihihihihihi!!!" terdengar cekikikan dari seberang sana. Ingin rasanya gue teriak saat itu juga! My God…!!!
Seseorang nepuk bahu gue dari belakang.
"Hei! What are you doing?"
"Aaarrrggghhh…!!!" Gue melonjak dan teriak sekencengnya. Ternyata Sasuke! Baru kali itu gue lega ngeliat makhluk culun itu.
"Tidak sengaja lewat sini. Apa yang te(r)jadi?" tanya Sasuke penuh selidik. Dia agak mengernyitkan hidung nyium arBaa-chan lumpur dan apek gue. Aneh, kalo kemaren dia nganggap gue ga pernah ada, sekarang Sasuke malah sempat-sempatnya singgah!
"Gue juga ga tau! Gue nemuin rumah udah ga dikunci dan lampu udah dinyalain!" jawab gue.
Sasuke pun ngintip dari jendela.
"Tidak mungkin pe(r)ampok menyalakan lampu! How fool they are! Kalau itu sampai te(r)jadi. Pasti o(r)ang yang tinggal di sini!" komentar Sasuke . Ini anak… sok tau lagi… gue udah ketakutan setengah idup…
"Maksud elo siape? My parents aja baru ke Singapur!" ujar gue. "Apa jangan-jangan… jurig?"
"Tapi kamu punya sauda(r)a, kan?" tanya Sasuke , ga ngerti sekaligus ga peduli sama istilah jurig. "Ayo, kita masuk."
Ape? Emang ini rumah siapa? Tapi gue ga ngebantah dan nurut aja masuk ke rumah. Di dapur, dari pintu fiberglass keliatan sesosok manusia lagi joget. Gue dan Sasuke yang sama herannya berpandangan satu sama lain.
Dengan hati-hati, Sasuke ngebuka pintu dapur, dan terungkaplah…
"BAA-CHAN!!!" teriak gue dengan kenceng saking seneng dan leganya. Baa-chan yang lagi ngaduk-ngaduk bubur kacang ijo di atas kompor, menoleh karena kagetnya.
"Onde mandeee…!!! Kamu toh, nduk! Baa-chan sampe kaget! Jantung ini ga tahan jika berdetak!" omel Baa-chan . Maklum aja. Bahasanya Baa-chan emang suka rada ngaco.
"Sori, Baa-chan . Abis tadi aku takut banget, kirain ada rampok di rumah!" ujar gue dengan nada minta maaf.
"Trus, ini dari mana lagi, nih? Udah gede masih maen tanah dan air! Liat tu, udah comeng-comeng, kaya onyet! Ga malu apa sama pacar kamu?" ujar Baa-chan lagi, sembari nunjuk Sasuke dengan malu-malu.
Ape? Pacar? Hiiiy! Yang bener aja! Mending gue pacaran dengan kecoa!
"Dia bukan pacarku, Baa-chan !" ujar gue ngebela diri sendiri.
"Bukan paca(r), iya… he-eh." kata Sasuke , kehabisan kata-kata.
"Maafin dia lho, nak. Emang ini si Tenten ni, biar udah gede, tetep aja suka kaya anak kecil! Iya, masih suka nonton Doraemon!" Baa-chan malah membeberkan apa yang Sasuke ga perlu tau! Dan Sasuke ngetawain gue dengan jaim. Ugh! Dasar sok!
"Kayanya mendingan elo balik aja deh, ya. Makasih banyak atas bantuannya, oke!!! Yuk!!! Dadah!!!" ujar gue kepada Sasuke . Jelas banget gue tuh ngusir dia. Dengan terpaksa gue nganterin dia ke depan, tepat saat Hota datang dan dengan riang mengendus-endus Sasuke .
"Hai, buddy!" ujar Sasuke . Sempet-sempetnya ngajakin anjing gue bersenda gurau, lagi. Si Hota juga sama aja, ramah banget sama semua orang. Dia ngejulurin kaki depannya, ngajak Sasuke salaman.
"Hota!!! Ke dapur kamu! Nah, Sasuke yang baik, gue ngucapin serrribu ucapan terrrima kasih atas bantuan elo. Gue harrrap elo juga ga nganggap apa yang dibilang Baa-chan sebagai sesuatu yang serrrrius, oke!" ujar gue. Gue emang bermaksud nyindir kecadelannya itu.
"Oke. I will remember that. Saya ga akan bilang apa-apa selain Do(r)aemon! Hihihihi!!!" ujar Sasuke sambil ketawa.
Walah!!! Ini adalah pertama kalinya gue ngedenger dia ketawa!!! Pantes aja dia ga pernah ketawa, soalnya dia ketawa kaya Scooby Doo!!!
"Hwahahahaha….!!! Pantes aja elo ga pernah ketawa!!! Abis mirip Scooby Doo!!! Sungguh sangat memalukan!!! Hwahahaha!!!" Gue ngetawain dia abis-abisan sampe menitikkan air mata.
Sasuke kembali ke ekspresi jengkelnya yang biasa.
"It's not your bussiness! Saya ga ada masalah dengan ketawa!" ujarnya dengan nada marah.
"Well, selama Do(r)aemon menjadi (r)ahasia, Scooby Doo juga akan tetap jadi (r)ahasia, what do you think?" Dengan fasih gue niruin cara ngomongnya Sasuke .
"I agree. Siape takhut?" ujar Sasuke dengan yakin.
Itu adalah kesepakatan pertama gue dengan Sasuke . Dasar blekok, ketawa aja kaya Scooby, hihihi!!!
******
Malamnya selesai makan, gue dan Baa-chan duduk-duduk di ruang tamu. Sementara gue ngeganti-ganti channel tivi, Baa-chan dengan telaten ngerjain sulamannya.
"Kamu ga belajar toh, nduk?" tanya Baa-chan .
"Udah, Baa-chan ." Dengan nada bosen gue ngejawab. Padahal males.
"Yang tadi sore tu siapanya kamu, sih?" tanya Baa-chan lagi, kali ini dengan nada serius.
"Temen, murid baru. Pindahan dari Singapur. Mang kenapa, Baa-chan ?"
"Nggak apa-apa, sih. Tapi kok kayanya Baa-chan pernah ngeliat, tapi di mana ya?" Baa-chan menghentikan sulamannya dan menerawang langit-langit.
"Masa? Padahal dia baru sebulan lho di sini. Baa-chan ngeliat dimana? Salah liat kali."
"Aduuuh, yang jelas, Baa-chan pernah liat! Baa-chan yakin dan percaya!"
"Kalo nggak, mah, berarti emang nggak dong, Baa-chan ! Jangan dipaksain! Nanti cepet tua!" ujar gue sok tua, eh salah, sok tau.
"Kamu ini nyindir Baa-chan , ya! Gini-gini Baa-chan ini masih kuat jualan kacang ijo!"
"Ehm! Yang dulunya suka pacaran sambil makan bubur kacang ijo itu ya!"
Kalo diingetin dengan hal yang gituan, Baa-chan langsung ge-er! Dan biasanya itu adalah senjata ampuh gue kalo misalnya dia mulai ngomel-ngomel.
Baa-chan meletakkan tangannya di dagu, pandangannya menerawang, jauuuuh entah kemana (ke galaksi lain kali, ya?).
"Iya, sih. Hm, itu adalah kenangan yang manis banget sama Ojii-san mu!" ujarnya dengan gaya sok romantis.
"Oooooh… so sweet…!!!" komentar gue dengan sepenuh hati, "trus, trus…. Gimana, Baa-chan ?"
Lalu Baa-chan pun dengan panjang lebar nyeritain gimana masa-masa pacaran mereka dulu. Ck, ck, ck. Pokoknya gaya pacaran tahun 60-an lah! Pake acara naik sepeda kumbang, rambut blonde, kalo bandingin dengan gaya yang sekarang, mah kedengeran aneh.
"Emang dulu Baa-chan pertamanya ketemu Ojii-san, gimana?" tanya gue dengan penasaran.
"Oh! Jadi, ya nduk, dulu itu Baa-chan lagi konser di daerah mana gitu… Ah lupa, deh. Pokoknya, sesudah konser itu, Baa-chan pun ketemu sama dia, emang sih, sebelumnya juga ada temen yang nyomblangin kita. Ah! Sungguh manis!" ujar Baa-chan . Tampaknya Baa-chan lagi kasmaran, nih. Apalagi istilahnya itu lho, konser? Ceile… emang sejak jaman batu dulu udah ada yang namanya konser?
"Apa sebelumnya ga pernah ada cowo Baa-chan yang laen selaen Ojii-san?" tanya gue. Itu adalah pertanyaan yang rasanya udah sejak bertahun-tahun yang lalu ingin gue tanya ke Baa-chan . Dan gue pikir, perasaan opa juga ga keren-keren amat waktu mudanya. Bahkan bisa dibilang kalo ojii-san itu mengalami sejenis penyakit badan kurang gizi bin ceking yang udah parah.
"Yah, jelas ada, dong. Tapi Baa-chan berusaha ngelupain dia karena Baa-chan tau Baa-chan ga akan pernah ngeraih dia. Hm, sakit juga emang. Tapi itulah hidup! Dan semuanya terjadi, mengalir, namun jika kita melewatinya dengan positif, semua akan berakir indah!" kata Baa-chan . Jujur, gue kaget juga ngedenger bahasa Baa-chan yang keren begitu. Soalnya biasa bahasanya suka rada ngaco bin amburadul.
Setelah itu gue lalu masik kamar dan tidur.
