.

.

.

The Royal Engagement

.

.

.

.

bts fanfiction, bxb with taekook (top!tae) as the main characters.

Kingdom!AU

.

.

.

.

I do not own BTS (even if I wanted to). Inspired by: Princess Diaries 2: Royal Engagement.

.

.

.

.

Warning! Pre-smut(?) ahead.

Kissy kissy scene.

.

.

.

Jungkook memakan eskrim stroberinya dengan rasa kesal. Ia sedang berada di pantry. Pemuda bersurai gelap itu mendumel di antara suapan-suapannya. Sesekali ia meremas ember besar eskrim stroberinya kuat-kuat. Pangeran itu masih berbalut jas hitam berenda, namun dengan rambut yang acak-acakan.

Beberapa pelayan yang lewat di sampingnya yang memberi tatapan aneh pun tak dihiraukan olehnya. Pangeran Morova sedang ngambek.

Tidak lama, datanglah sosok Ratu. Berlari kecil menghampiri sang cucu yang masih berkutat dengan ember eskrimnya. Wanita tua itu mendengus kasar,

"Tadi itu perlakuan yang sangat tidak terhormat, Pangeran Muda." tegur sang nenek. Jungkook tahu bahwa dirinya pasti akan dinasihati, namun pemuda itu hanya diam sembari mengerutkan bibirnya.

"Grandma, lelaki itu sungguh kurang ajarㅡ" Jungkook membela dirinya. Sang nenek duduk di sebelahnya dan menatap sang cucu.

"ㅡbahkan ia sudah berani menciumku tadi!" lanjut Jungkook, menyuap sesendok besar eskrim stroberinya dengan kesal.

Ratu memangku tangannya ke atas meja. "Sebagai seorang Ratu, aku sangat menentang perbuatanmu tadi terhadap Lord Taehyungㅡ"

"ㅡnamun sebagai seorang nenek, aku mendukungnya,"

Jungkook balas menatap sang nenek, maniknya seolah berkata 'betul-kan-kataku-orang-itu-kurang-ajar'. Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya semangat.

"Kau tahu, akan lebih banyak kejadian kurang menyenangkan terjadi dalam hidupmu. Jadi, anggap saja yang tadi itu pemanasan, sayang." ucap sang nenek sembari hendak beranjak. Tangannya menarik lengan Jungkook untuk ikut.

Jungkook memekik tidak mau, ia belum menghabiskan eskrimnya. "Mau ke mana, grandma? Eskrimku belum habis-" "Ayo kita temui calon suamimu,"

"EHHH?!" Jungkook memekik kaget.

.

.

.

Di lain ruangan, masih dalam ballroom, Taehyung tengah berdiri dan dikerumuni oleh para Puteri dari seluruh penjuru. Nampaknya sosok Earl ini benar-benar menyita perhatian.

Tentu saja, memiliki tinggi yang proporsional serta dilengkapi dengan penampilan menarik, membuat Taehyung nampak begitu mempesona.

Pangeran itu hanya mengangguk sembari melontarkan senyum kecilnya pada kerumunan di depannya. Berusaha bersikap ramah dan harus menunjukkan wibawa sebagai pribadi yang baru, seorang pangeran.

"Prince Taehyung, makanan apa yang Anda suka? Keju Swiss? Akan saya kirimkan kualitas terbaik untuk Anda!"

Taehyung merasa seperti seekor tikus saat itu juga.

"Prince, sudikah Anda menerima jubah khas Skandinavia? Akan sangat cocok terbalut dalam tubuh Anda!"

Taehyung merasa seperti sedang berbelanja di pojok busana.

Kepalanya sedikit pusing dan ia merasa mulai muak. Sisi kehidupan seorang Pangeran yang seperti ini sangat merepotkan.

Sang paman, yang merupakan seorang senat parlemen masih nampak bercengkrama dengan koleganya. Sebagian besar merupakan pendukung dirinya dan juga Taehyung dalam 'perebutan' tahta Morova.

"Aku tak tahu ternyata kau menyimpan berlian yang siap digosok seperti Pangeran Taehyung," sunggingan semacam itu membuat sang paman tersenyum puas. Merasa telah membuat keputusan bagus.

Beberapa lama berbincang, sosok Ratu dan sang Prince muncul kembali. Kedua manik Taehyung lagi-lagi terpaku pada sosok Jungkook yang terlihat salah tingkah bersembunyi di belakang neneknya.

Siapa itu pemuda tinggi dengan senyum menawannya?

.

.

.

Jungkook memainkan ujung jasnya saat sang nenek mempertemukan dirinya dengan Lord Mingyu, Duke of Venesia. Atau dengan kata lain, calon suaminya.

Sosok Duke itu tersenyum lebar saat menatap pewaris kerajaan Morova yang tengah berdiri malu-malu di depannya. Ia melakukan inisiatif dengan mengambil tangan kanan Jungkook kemudian mengecupnya.

"Sebuah kehormatan berdiri di hadapan Anda, Yang Mulia,"

Rona merah muncul di kedua pipi sang Pangeran. Ia sungguh lemah jika diperlakukan manis seperti ini. Maka tanpa waktu lama, Jungkook membalas ucapan Mingyu;

"Me too, me too, Lord Mingyu.." Seakan terpana oleh keindahan paras sang Duke, Jungkook tak berhenti menelusuri setiap lekuk wajah pemuda di hadapannya. Sesekali ia tersenyum kecil saat Mingyu membalas kedipannya.

Sang Ratu nampak puas dan lega. Wanita paruh baya itu menepuk pundak sang cucu sembari berkata, "Kau bisa berkenalan lebih jauh dengan calon suamimu. Bawa Lord Mingyu berkeliling istana, sayang," yang langsung disambut dengan anggukan antusias Jungkook.

"A-ah, ayo Mingyu, akan kubawa berkeliling! Wonwoo, jangan lupa eskrimku yaa~" titah Jungkook, Pangeran itu segera mengapit lengan Mingyuㅡyang dibalas dengan senang hatiㅡdiikuti oleh Wonwoo yang nampak sumringah. Asisten pribadinya merasa senang dan satu langkah lebih maju dibanding lawan mereka.

Jungkook tahu bahwa ia harus selalu ceria untuk membuktikan bahwa ia sudah mendapatkan calon suami agar ia bisa menjadi Ratu Morova.

Ia sudah melupakan sosok Earl menyebalkan itu.

Yang sekarang tengah menatap pasangan itu dengan tatapan meremehkan dan tak suka.

"Taehyung, kau harus bisa menggoda sang Prince. Buat ia jatuh cinta padamu dan tahta kerajaan akan jadi milikmu,"

"Serahkan padaku, Uncle."

.

.

.

.

Saat ini cuaca di Morova sungguh indah dan bersahabat. Langit biru dan awan putih, mendukung segala kegiatan luar ruangan. Begitu pula dengan sang Putera Mahkota Morova, Jungkook.

Sang Pangeran nampak tersenyum bahagia, menyusuri taman istana bersama sang calon suami. Di belakangnya banyak bodyguard serta sang asisten yang selalu menemaninya ke mana pun. Jungkook tidak mau ditemani yang lain selain Wonwoo. Bahkan ia pernah berkata bahwa Wonwoo seharusnya double posisi, jadi asisten merangkap bodyguard.

Taman istana Morova dipenuhi dengan berbagai tanaman hijau yang sudah ditata dan dibentuk indah oleh para tukang kebun profesional. Semua rakyat Morova benar-benar sepenuh hati dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya. Termasuk dalam hal melayani pemimpin mereka.

"Morning! Ah, bunga yang indah," Beberapa kali sang Pangeran melontarkan pujiannya pada pekerja kebunnya. Ia lakukan itu untuk memberi rasa percaya diri dan kebanggaan untuk pekerja-pekerjanya. Belum pernah ia membentak atau memarahi salah seorang pekerjanya. Karena sesungguhnya jika melakukan kesalahan, hal yang paling benar adalah memberitahu di mana letak kesalahan itu agar kelak tak dilakukan kembali, bukan mengutuk kesalahannya.

Sang Duke yang menatap wajah ceria Jungkook ikut tersenyum. Tangannya mengelus surai legam sang Pangeran yang dibalas dengan senyum malu-malu.

Di luar pagar istana sudah terdapat puluhan wartawan yang tengah meliput kemesraan Prince Jungkook dengan calon suaminya, Lord Mingyu. Kilatan cahaya kamera terus membias pada pasangan kerajaan itu. Jungkook hanya tersenyum dan sesekali melambaikan tangan ke kameraㅡuntuk membuktikan bahwa sang calon penerus tahta Morova sudah berhasil melaksanakan syarat menjadi pemimpin.

Wonwoo yang berada di belakang sesekali nampak sibuk mendiamkan beberapa reporter yang dianggapnya terlalu berisik dan heboh saat melaporkan berita tentang pertunangan sang Pangeran.

Benar sekali, sejak malam pertemuan Jungkook dan Mingyu, hari ini, Mingyu direncanakan akan langsung mengajak Jungkook bertunangan.

Hal ini dilakukan untuk menjaga posisi Jungkook dan mengokohkannya agar ia menjadi kandidat terkuat penerus tahta Morova. Tentu saja sang Ratu sudah berdiskusi dengan Raja Venesia, kebetulannya Lord Mingyu tidak keberatan dengan itu. Sebab lelaki itu berkata bahwa ia menyukai Jungkook dan ingin mengenalnya lebih dalam.

Mingyu mengait tangan Jungkook dan membawa pemuda itu menjauh. Mereka duduk di atas bench tepat di bawah pohon besar. Sesekali bertukar pandang, saling memuji keindahan masing-masing.

"Prince, sudahkah ada yang mengatakan bahwa kau begitu indah?" ujar Mingyu, sang Duke. Mulai menyisir poni Jungkook yang menghalangi.

Sang Prince, Jungkook, terkejut pada awalnya. Namun ia merasa senang karena ada seseorang yang memuji dirinya bukan karena ia adalah seorang pangeran.

"Oh, tolong, panggil saja Jungkook.. Dan aku akan memanggilmu Mingyu," ucapnya seraya menggenggam jemari Mingyu yang sedari tadi mengusap pipi tembamnya.

Kedua pemuda itu terkekeh perlahan. Membuat para reporter menggila dengan lampu blitz mereka. Mengabadikan momen ini, karena rakyat Morova yang haus akan drama kerajaan.

"Baiklah, Jeon Jungkook, Jungkook-ku.." Mingyu menggenggam kedua tangan Jungkook dan segera mengecup kening sang pangeran. Jungkook mengerjapkan matanya saat bibir Mingyu menyapu keningnya.

"Oh, M-Mingyu.." Jungkook tak mampu menyembunyikan rona merahnya. Reporter kembali menggila.

Mingyu merogoh sebuah kotak dari dalam kantungnya, "Nah, sekarangㅡ" Duke itu membuka tutup kotak yang menampilkan dua buah cincin berwarna silver dengan ornamen khas Venesia.

"ㅡbe my fiancè?"

Reporter menggila.

Jungkook mengangguk setelah sempat blank selama 10 detik.

"IYA! Iya, aku mau!" jawabnya lengkap dengan senyum gigi kelincinya.

Sang Duke terkekeh sebelum memasangkan cincin silver itu ke jari manis Jungkook. Ia mengecup pipi sang pangeran yang masih merona.

"Tunanganku," lanjut Mingyu yang kali ini menempelkan bibirnya ke atas bibir Jungkook yang tipis dan berwarna pink natural.

Jungkook tentu saja terkejut bukan main. First. Kiss. Nya.

Para reporter semakin gencar melaporkan situasi langsung. Bahkan sebagian besar nampak menangis terharu, tidak menyangka bahwa sebentar lagi Morova akan mengadakan pesta pernikahan besar setelah berpuluh tahun lamanya.

Di sisi yang tengah berciuman, Jungkook nampak meremas kemeja yang dikenakan Mingyu. Sebenarnya kedua bibir itu hanya menempel sedikit, namun durasinya agak panjang.

Sang Duke beberapa kali mengecup bibir tunangannya dan memberinya jeda 2 detik dari masing-masing kecupan.

Jungkook memejamkan matanya erat, nampak tidak siap dengan apa yang dilakukan calon suaminya ini.

Mingyu tersenyum di sela kegiatannya. Ia melepaskan tautan bibirnya dan mengusak rambut Jungkook. "Santai saja, Jungkook," ujarnya sembari tersenyum.

Sang Pangeran masih meremas kemeja Mingyu, ia menggigiti bibir bawahnya,

"T-tidak mau tahu, itu tadi first kiss-ku, kau harus menikahiku.."

Mingyu tertawa kecil mendengar rengekan Jungkook. Ia sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, melihat sosok Wonwoo yang sedang membelakanginya.

Duke itu tersenyum pahit.

Wonwoo, aku mohon bertahanlah demi Yang Mulia dan negerimu..

Sementara di seberang sana nampak seorang pemuda berambut pirang tengah membanting bukunya ke atas tanah. Ia menggeram tertahan dan mengepalkan tangannya, membuat warna putih bermunculan pada jarinya.

"Heh, cuma ciuman seperti itu. Aku bisa memberikanmu yang lebih daripada itu, Yang Mulia.."

Suara husky dan beratnya membuat seekor tupai yang sedari tadi ikut duduk bersamanya lari ketakutan.

Lord Taehyung, pesaing Prince Jungkook menyaksikan adegan 'sedikit' intim dari pasangan tunangan baru Morova barusan. Dan kepalanya dipenuhi wajah sang Pangeran yang menikmati sentuhan dari tunangannya.

Perlahan Taehyung mengulaskan seringainya. Ia merengkuh ranting pohon dan mematahkannya cepat.

"I will not only steal your throne, but also your heart and all of you,"

.

.

.

.

Selepas kepulangan Mingyu (Duke itu akan kembali mengunjungi Jungkook), Jungkook tak henti memandangi cincin pertunangannya. Sesekali ia tersenyum manis sembari membayangkan wajah tampan calon suaminya.

Ia tengah mendudukkan dirinya di atas tangga besar istana. Sesungguhnya ia sedang bersembunyi dari kejaran maid yang menyuruhnya belajar manner kerajaan sekaligus menjadi istri yang baik. Ia malas, men.

Wonwoo yang tengah menerima telepon tersentak saat menuruni tangga dan bertemu dengan sang Yang Mulia. Dengan cepat pemuda itu meminta Jungkook untuk tidak duduk di sana.

"Sst! Aku sedang pergi dari kejaran dua peri menyebalkan itu, kau jangan memberitahu mereka kalau aku ada di sini!" pinta Jungkook sembari mengatupkan mulutnya dengan telunjuk.

Wonwoo mengangguk dan tersenyum gemas pada sang Pangeran. "Semoga Anda tidak ketahuan, Yang Mulia. Aku harus pergi, mengurus persiapan pernikahan Anda,"

Jungkook membalasnya dengan sebuah cengiran lucu. Ia tak bisa membayangkan bahwa 3 minggu lagi dirinya akan dipersunting oleh Lord Mingyu. Memikirkannya saja ia sudah berbunga-bunga.

Sebentar lagi ia akan menyingkirkan lawannya yang menyebalkan itu.

"Nampak sehat sekali hari ini, Yang Mulia,"

Suara berat yang tiba-tiba saja membuatnya kesal mengagetkan dirinya.

Sosok Earl itu, Taehyung, rivalnya dalam perebutan tahta tengah berjalan mendekati dirinya. Lantas, Jungkook buru-buru beranjak dan menghindari Taehyung dengan cara menaiki tangga satunya.

Taehyung berada di sebelah kanan dan Jungkook di sebelah kiri.

"A-apa maumu.." Jungkook terus menghindari Taehyung yang menyamakan ritme pergerakan tubuhnya. Jika Jungkook berjalan ke atas, Taehyung akan ikut ke atas. Berjalan ke bawah, Taehyung ikut ke bawah.

Sang Earl terkekeh melihat tingkah laku si Pangeran yang menggemaskan. Sebegitu takutnya kah Jungkook pada dirinya?

"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu," ujar Taehyung meyakinkan Jungkook agar tidak berlari menghindarinya.

Jungkook masih berusaha lepas dari pandangan Taehyung, namun sayang, bagaikan rubah menangkap kelinciㅡmangsanyaㅡsang Prince dengan mudah dapat dikejar oleh sang Earl.

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pertunanganmu, Yang Mulia," Taehyung semakin mendekatkan tubuhnya pada Jungkook yang kini berjalan mundur.

Sialnya, tubuh sang Prince menabrak pintu salah satu ruang penyimpananㅡgudangㅡkerajaan.

Saat itu tidak ada satu pun orang yang lewat, jam makan siang dan orang-orang sibuk di dalam pantry.

"T-tidak, kau bohong.. P-pasti ada hal lain yang ingin kau lakukan..!" pekik Jungkook, mulai merasa khawatir perihal perangai sang Earl di depannnya.

Taehyung semakin menyudutkan Jungkook dan meraih gagang pintu, membukanya hingga kedua pangeran itu masuk ke dalam.

"Kim Taehyung!" jerit Jungkook saat Taehyung menutup pintu hitam itu dan membuat mereka terkurung di dalamnya.

Sang Earl hanya menaruh telunjuk di bibirnya, menyuruh sang Pangeran untuk mengecilkan suaranya.

"Sst, Yang Mulia. Aku kemari hanya ingin memberimu selamat," Taehyung lagi-lagi mendekati Jungkook dan membuat pangeran itu harus memundurkan langkahnya.

Tak terima dengan perlakuan si aneh Earl, Jungkook mulai mengoceh. Walau situasi di dalam gudang tersebut tidak terlalu memiliki cahaya yang terang.

"K-kau! A-aku tahu, kau ingin menyabotaseku dan mengancamku, iya kan?!" Taehyung hanya tersenyum kecil dan membiarkan Jungkook berceloteh sepuasnya.

"Huh, kau memang menyebalkan! Tidak lihat bahwa aku sudahㅡn-ng sudah memiliki calon suami?" lanjut Jungkook sembari merona perlahan saat menyebut kata 'calon suami'.

Taehyung kembali menaruh telunjuknya, kali ini di atas bibir Jungkook.

Pintu gudang terbuka, menampilkan seorang pelayan lelaki hendak mengambil sapu dari dalam. Lelaki itu dan kedua pangeran sempat bertatap muka beberapa detik.

"A-ah.. Maaf saya mengganggu, silakan dilanjutkan, Yang Mulia.." ujarnya takut-takut. Dan menutup pintunya kembali.

Jungkook kembali marah-marah. Seakan melupakan insiden barusan.

"Kau memang curang dan aneh! T-tiba-tiba saja datang dan hendak merebut mahkotaku! Memangnyaㅡmhmmㅡ!"

Taehyung membungkam bibir Jungkook dengan cara mempertemukannya dengan miliknya sendiri.

Cherry tebalnya menelusuri permukaan lembut milik Jungkook, dan mengetuk perpotongan bibir itu perlahan. Sesekali meninggalkan sebuah sapuan hangat di seluruh plump sang pangeran.

Jungkook menarik-narik kedua tangan Taehyung yang menangkup dagunya serta pipinya. "N-nhㅡah!" racau sang Pangeran perlahan yang sesungguhnya tak ingin ia keluarkan.

Niatnya untuk menginjak kaki Taehyung ia urungkan saat daging tak bertulang milik pemuda itu memberinya sentuhan kupu-kupu dalam perutnya. Begitu lihai dan membuatnya mabuk. Sang Pangeran malah memiringkan kepala saat Taehyung menyesap cherry pink miliknya dan mengetuk perpotongan bibirnya, meminta akses lebih.

Jungkook melingkarkan kedua tangannya ke atas leher sang Earl saat pinggangnya sudah terengkuh kokoh oleh tangan sang Earl. Sesekali sang Prince melenguh saat sang Earl memijat bokong kenyalnya.

Prince Jungkook memang terkenal akan kesintalan tubuh dan keindahan parasnya.

"A-ah, f-f u.." racau sang Pangeran saat benda tak bertulang Taehyung melesak memasuki gua hangatnya dan mengecap lidahnya. Saling bertukar saliva dan mengenali rasa masing-masing.

Jemari sang Earl merambat ke punggung Jungkook. Dengan cepat ia melesakkan satu tangannya ke dalam sweater hitam sang Pangeran. Memberi sentuhan-sentuhan halus yang mengirimkan sengatan dalam diri Jungkook hingga pemuda itu kembali mendesah.

"N-nhh.." Jemari Jungkook mencengkram surai pirang Taehyung saat sang Earl kembali menyatukan bibir mereka. Seakan tak puas dengan rasanya, Taehyung terus menerus mengecapi cherry pink itu dan menyesap rasa yang keluar dari dalamnya.

"Ng-ahㅡ Taehyungㅡ" Sang Pangeran merasakan dingin pada bokongnya saat Taehyung membawa tubuhnya untuk duduk di atas meja usang yang sudah berdebu. Tanpa enggan melepaskan tautannya pada sang Pangeran.

Taehyung beralih menyapukan bibirnya ke atas leher Jungkook. Sang Pangeran secara refleks mendongakㅡmemberi akses mudah pada sang Earl. "T-Tae..hh-" racaunya sembari meremas bahu lebar Taehyung dan menarik kemejanya hingga membuat kancing keduanya terlepas. Menampilkan dada seorang Taehyung.

"I-ini.. ah-!" Pekik Jungkook saat Taehyung mengecup leher putihnya, mengisapnya sebentar, dan menyisakan bekas gigitan darinya yang menimbulkan warna merah keunguan.

Jauh dalam lubuk hatinya Jungkook ingin sekali menghentikan semua ini. Namun ia tak bisa menolak sensasi yang ditawarkan Taehyung padanya. Ini...menyenangkan dan memacu adrenalin, pikirnya.

Taehyung berhenti sejenak saat jemarinya mengelus paha sang Pangeran yang masih terbungkus kain. Ia beralih menatap wajah Jungkook yang masih terengah dan berusaha menormalkan deru nafasnya.

Sang Earl itu tersenyum.

"Katakan padaku bila Lord Mingyu sanggup memberikanmu sensasi yang seperti ini,"

Ia memberi kecupan pada pipi dan kening sang Pangeran yang masih merona padam dan mencari nafas normal.

"Maka aku tidak akan merebut mahkotamu, sayang,"

Taehyung membantu Jungkook berdiri dan memperbaiki penampilannya. Setidaknya ia sudah melancarkan aksi permulaannya pada sang Pangeran.

Jujur saja, ia benar-benar memakai hati dan perasaannya saat menyentuh Jungkook barusan. Hampir saja ia melupakan tujuan awal sang paman. Bagaimanapun juga, ia harus berterimakasih pada sang paman dengan cara berbakti padanya..

Sang Earl pirang itu mengecup bibir Jungkook sekali lagi sebelum melangkah pergi.

"Mimpikan aku malam ini, my dear Prince,"

Sesungguhnya Jungkook tidak mampu berkata-kata selain;

Terkutuklah kau, Earl!

.

.

.

.

TBC

Uhuoek(?) Akhirnya aku menulis pre-smut lagi :") (?) Kok aku seneng ya(?)

Wkwkwkwk, lame banget sih kamu springyeol. Timpuk aja yu.

Tolong diperbaiki jika aku ada salah istilah/kata2 yaa hehehehe.

Leave your comments at the review box! Favs/follows if you guys like this story!

Thank you.

Ig&wp: springyeol