Restart

(When She Call – Sequel)

Naruto Belong To Masashi Kishimoto

Chapter 2


"K-kau bercerai?" Mata seorang perempuan berambut pirang dikucir satu itu melebar.

"Ya, begitulah" Sakura menatap malas sosok didepannya. Dalam satu hari ini ia sudah dua kali harus mengungkapkan tentang statusnya.

"Bagaimana mungkin hanya karena kau menerima telepon dari seorang lelaki, teman kuliahmu dulu, kau bisa bercerai Sakura?" Dahi Ino berkenyit.

"Tentu saja bisa, Ino" Sakura mengambil segaris kentang goreng dan mencelupnya di saus kemudian memasukkan kemulutnya.

Ino adalah sahabatnya saat sekolah dulu sebelum akhirnya Sakura berpisah dengannya karena ia melanjutkan kuliah di Konoha. Dan tanpa disangka mereka bertemu kembali tadi, didalam lift. Tepat disaat lift yang akan membawa Sakura turun kelantai dasar, berhenti sejenak di lantai 10. Ino masuk kedalam lift dengan teriakan heboh, mendapati Sakura disana. Untung saja hanya ada mereka berdua saat itu didalam lift.

Tanpa basa-basi, Ino langsung menyeret Sakura ke cafe terdekat dari kantor demi bisa melepas rindu. Tentu saja ia bertanya-tanya kenapa Sakura, yang ia ketahui sudah tinggal di Konoha bersama Sasuke kini malah berada di Suna, dikantor tempat ia bekerja tepatnya.

Mengetahui Ino takkan melepasnya sebelum ia bercerita, Sakura tak punya pilihan lain selain memberitahu alasan keberadaannya di Suna adalah karena ia telah bercerai dengan Sasuke, dan kini ia melamar di perusahaan Namikaze, tempat yang sama dengan Ino bekerja. Tak lupa ia menceritakan kejadian sebuah malam petaka kepada Ino, yang menurutnya merupakan sumber utama perceraiannya.

"Malam itu adalah awal retaknya hubunganku dengan Sasuke. Dia berubah sejak saat itu, dia menduga aku ada main dibelakangnya dan mulai tidak mempercayaiku sama sekali. Sikapnya lama kelamaan semakin dingin, hingga tepat 3 bulan sejak itu aku memergoki dia berselingkuh dengan seorang kliennya"

Ino tampak menutup mulutnya, wajahnya tampak ngeri mendengarkan cerita Sakura.

"Memergokinya bagaimana?" Kini Ino memandangnya takut.

"Aku mendatangi hotel tempat ia mengikuti sebuah pelatihan, dan ya aku melihat ia tak sendiri dikamarnya" Sakura mendecih.

"A-Aku tak menyangka akan jadi seperti itu semuanya. Kau bercerai, karena Sasuke yang selingkuh. Dan ia berselingkuh karena menduga kau lebih dulu selingkuh?" Ino berucap.

"Tak perlu diperjelas, Ino" Sakura menatap sengit perempuan didepannya. Ia sudah teramat malas mendengar nama mantan suaminya itu disebut. Untung saja saat ini ia sudah move on, kalau saja saat ini adalah bulan-bulan pertama perceraiannya, ia pasti sudah sesegukan karena nama itu disebut.

"Tapi siapa sebenarnya lelaki yang meneleponmu malam itu? Kenapa kau tak pernah cerita? Apa aku pernah melihatnya?"

"Hmm, kurasa tidak. Ia datang saat upacara pernikahan pagiku. Sedangkan kau tak hadir saat itu. Ia hanyalah sahabatku saat kuliah di Konoha"

Ino mengingat-ingat kembali, saat itu ia memang tidak sempat menghadiri pernikahan Sakura yang dilaksanakan pagi hari dikarenakan pesawat yang akan ditumpanginya mengalami delay.

"Lalu, apa ia tidak ada saat pesta dimalam hari?"

"Tidak, dia hanya datang diupacara pernikahanku"

Ino tampak mangut-mangut, ia memang tidak sempat menghadiri upacara pernikahan Sakura, namun ia datang ke acara pesta dimalam harinya.

"Kau sudah berada di Suna hampir dua tahun, dan kita tak pernah ketemu? Kenapa kau tak pernah mencariku" Perempuan itu tampak kesal.

"Hidupku terlalu berantakan Ino, aku tak sempat mengingat dan mencari siapapun" Sakura melirik sinis Ino.

"Ya, ya aku memaklumi. Bagaimanapun, yang terpenting sekarang kau sudah kembali kesini" Ino tersenyum padanya.

Sejenak, hati Sakura menghangat. Sudah lama sekali ia tak meluapkan segala bebannya kepada orang lain. Selama ini ia hanya bekerja dengan serius, berusaha menyibukkan diri untuk melupakan segala hal yang terjadi.

"Lalu bagaimana denganmu sendiri? Kau sudah menikah?"

"Aku baru saja bertunangan, Sakura. Dan enam bulan lagi aku akan menikah" Ino manatap Sakura dengan mata berbinar.

"Benarkah? Ah selamat Ino. Untung saja kita bertemu, kalau tidak aku pasti melewatkan acara besarmu itu" Sakura mengulas senyum untuk sahabatnya itu.

"Iya, dan kau harus menjadi pengiring pengantinku, Sakura" Ino tampak antusias.

"Tentu saja"

"Oh iya. Bagaimana dengan interviewmu tadi?" Ino berucap sambil meraih minumannya.

"Hm.. Kurasa tak berjalan baik. Uzumaki itu menanyaiku dengan tajam"

"Uzumaki? Maksudmu direktur langsung yang memberimu interview?" Ino tampak berhenti dari kegiatan menyeruput vanilla latte nya.

"Ya, Naruto Uzumaki. Direktur muda itu" Sakura merasa mual saat harus menyebutkan itu.

"Biasanya yang memberi interview untuk karyawan baru adalah kepala bagian karyawan, Iruka. Kenapa langsung direktur ya?" Dahi Ino tampak berkerut, ia meletakkan kembali gelas kecil berisi minuman hangat itu kemeja didepannya.

"Entahlah mungkin kali ini ia lebih selektif menerima karyawan baru" Sakura mengedikkan bahunya, tak peduli.

"Ya kurasa begitu. Kau tahu Sakura? Naruto itu seorang duda" Mata Ino tampak mencelang saat berucap.

"Ha? Begitu ya.."

Sakura sudah menduganya, mengingat dimalam petaka itu ia sempat berbicara dengan Naruto, setelah Sasuke dengan berat hati mengoper handphone ke Sakura. Naruto membutuhkannya saat itu, karena ia ingin cerita bahwa Hinata mendengar semua percakapan mereka sebelumnya.

"Iya, kudengar istrinya menceraikannya karena Naruto berselingkuh"

Sakura ragu ingin mendengarkan lebih lanjut atau tidak. Tapi sedikit banyak ia penasaran, kalau memang Naruo bercerai, kenapa kini ia berada di Suna? Bukankah Konoha adalah tempat kelahirannya?

"Lalu? Apa yang terjadi?" Sakura bertanya, tak bisa menutupi rasa penasarannya.

"Ya karena hal itulah, kini Naruto dipindahkan menjadi direktur perusahaan di Suna. Saat itu perusahaannya yang berada di Konoha terancam bangkrut, karena keluarga mantan istrinya yang tidak senang dengan keberadaan Naruto di Konoha. Mereka ingin mengusir Naruto" Ino mengecilkan volume suaranya.

Sakura membeku mendengarnya, seolah pertanyaan yang tadi memenuhi fikirannya terjawab sudah.

"Dan yang kudengar, istrinya langsung menikah lagi dengan lelaki pilihan keluarganya tepat setelah 3 bulan bercerai dari Naruto. Kurasa tidak sulit jika Naruto ingin menikah lagi, namun sampai sekarang ia masih memilih sendiri"

Sakura masih terdiam. Jadi itulah yang terjadi pada Naruto? Kehidupan lelaki itu, sama hancurnya dengan dirinya. Ia tidak menderita sendiri. Lelaki itu pastilah sama sepertinya, mencoba bangkit kembali setelah kejadian yang menghancurkan karir dan rumah tangganya.

Sakura menelan ludah, bagaimana jika Ino tahu, dialah wanita penyebab perceraian Naruto.

"Sakura?" Suara Ino membuyarkan lamunannya. "Ah maafkan aku, ini pasti topik yang sensitif untukmu" Ino memasang wajah tidak enak.

"A-aku baik-baik saja, Ino" Sakura menyembunyikan kegundahannya.

Tiba-tiba saja handphone Sakura berbunyi, membuatnya mengalihkan fokus ke ponsel pintarnya. Sebuah pemberitahuan, bahwa ada satu email masuk terbaru. Sakura membukanya dan membaca deretan kata-kata dilayar datar itu. Keterkejutan muncul dirautnya.

"Kenapa sakura?" Ino yang memperhatikan itu bertanya.

"Ino.. kurasa mulai besok kita akan satu kantor" Sakura mendongak menatap Ino.

"Benarkah? Maksudmu, kau diterima?" Ino menatapnya semangat.

Sakura mengangguk menanggapinya.

"Ah pasti menyenangkan sekali" Ino tersenyum lebar.

Sakura balas tersenyum samar. Ia harap benar, akan bisa menyenangkan seperti yang Ino bilang. Namun tak bisa dipungkiri ada rasa takut dihatinya, entah bagaimana dan apa yang akan terjadi berikutnya.

.

.

Sakura mulai sibuk berkutat dengan layar komputer didepannya. Rasanya, tak banyak hal yang terjadi dihari pertamanya bekerja. Ia ditempatkan disebuah divisi pengembangan program kantor. Dengan seorang atasan, wanita cantik bernama Kurenai.

Aktifitasnya terhenti saat mendengar suara langkah yang tampak berlari kecil menujunya, ia melongo keluar dari kubikelnya. Tampak perempuan berambut cokelat dicepol dua, berjalan tergesa menujunya. Perempuan itu lalu dengan cepat duduk dimejanya yang memang tepat bersebelahan dengan Sakura.

"Tenten, ada apa?" Sakura bertanya pada Tenten, ia sudah berkenalan dengan perempuan itu saat pertama duduk dimejanya. Yang ia tahu, Tenten baru saja akan ke toilet, tapi kini kenapa perempuan itu tampak kembali dengan terburu-buru.

"Direktur sedang berkeliling, Sakura" Tenten menjawab sembari mengatur napasnya.

"Lalu?"

"Ia sedang menuju kemari" Tenten mengalihkan fokusnya kekomputer dimejanya dan mulai menyibukkan diri dengan mengetik di keyboardnya.

Sakura yang mendengar itu hanya diam. Apa itu artinya ia akan melihat Naruto? Dia harus bersikap bagaimana, mengingat perasaannya menjadi tidak enak karena sudah mengetahui apa yang telah terjadi pada pria itu akibat malam petaka itu.

Tak lama kemudian ia mendengar sebuah suara yang sepertinya sedang menyapa seseorang yang masuk keruangan itu. Sakura kembali mengintip dari kubikelnya, ia melihat Naruto sedang berjalan ditemani sosok lelaki jangkung, yang belakangan Sakura ketahui adalah Shikamaru, asisten Naruto.

Diperhatikannya karyawan lain berdiri dari setiap mejanya untuk menyapa dan membungkuk hormat kepada Naruto. Pandangannya beralih ke Tenten yang ternyata juga sudah berdiri. Oh, apakah ia juga harus? Dan belum sempat ia bertanya pada Tenten, Sakura melihat Tenten yang membungkuk didepannya. Ia segera menoleh, dan benar saja dibelakangnya kini sudah ada Naruto yang menatapnya dengan raut tak terbaca.

Dengan pelan Sakura berdiri, melepas kursinya. Ia memberanikan diri menatap iris aquamarine didepannya.

"Selamat siang, Tuan Uzumaki" Ia membungkuk dan mengulas senyum pada Naruto.

Beberapa detik yang mencekam bagi Sakura. Karena Naruto hanya diam menatapnya. Mungkin tak hanya Naruto, semua orang diruangan itu kini ikut memperhatikan kearahnya.

"Siapa namamu?" Naruto akhirnya berucap.

Sakura hampir saja melongo heran, namun dengan cepat ia menahan diri. Apa direktur itu baru saja amnesia? Terbentur dimana dia?

"Sakura Haruno?" Sakura menjawab ragu, bingung dengan arah pertanyaan Naruto. Untuk apa ia menanyakan nama Sakura lagi?

"Kau tahu, kau harus memakai name tag seperti karyawan lainnya. Tak mungkin kan aku harus selalu menghafal semua nama karyawanku" Naruto menatapnya jengah.

"Tapi aku belum dapat name tag nya" Sakura menyahut cepat "-Tuan" Sakura buru-buru menambahkan ujung kalimatnya saat menyadari omongannya yang sedikit tidak sopan.

Naruto melirik kearah Shikamaru. Menyadari itu, Shikamaru dengan cepat merogoh sebuah tas hitam petak yang sedari tadi ia bawa.

"-Aa ini name tagnya" Shikamaru menyerahkan sebuah name tag dengan tali berwarna hitam kepada Naruto. " Aku lupa memberikannya" Shikamaru menanggapinya cuek.

Naruto menerima name tag itu dan kembali melihat ke wanita didepannya.

"Kemari" Ucap Naruto memberi aba-aba ke Sakura.

Sakura dengan ragu mengambil langkah hingga kini ia berada tepat didepan Naruto. Dan tanpa diharapkan, jantungnya mulai berdebar. Dari jarak segini ia bisa menghirup aroma citrus yang menguar dari tubuh lelaki didepannya. Belum lagi lelaki itu sangat tampan hari ini dengan setelan jas berwarna silver, dengan dalaman kemeja hitam, dan dasi merah.

Naruto memandang perempuan didepannya, dan mulai memasukkan tali name tag dari pucuk kepala Sakura. Lalu ia memajukan dirinya sedikit demi menyibak rambut belakang Sakura, agar tali name tag itu berada tepat dikerah leher kemeja Sakura.

Menyadari posisi mereka yang teramat dekat, membuat pipi Sakura memanas. Tanpa bisa ia cegah, rona merah menjalari pipinya. Seketika ujung-ujung jemarinya dingin demi menetralkan rasa gugup yang datang tiba-tiba.

Naruto menarik kembali tubuhnya, kini name tag itu sudah mengalung sempurna dileher Sakura. Ia tersenyum puas.

"Sekarang kau sudah benar-benar seperti karyawan perusahaan ini, Sa ku ra Ha ru no" Naruto berkata sembari mengeja kembali nama Sakura yang tertera di nametag itu.

Sakura masih terdiam menatap sosok didepannya, dengan degupan jantung yang semakin menggila. Lelaki ini.. kenapa teramat mempesona.

"Terima kasih, Tu-"

"Naruto-kun!" Suara seorang perempuan memotong ucapan Sakura.

Sakura dan semua orang yang berada diruangan itu mengalihkan atensi kesosok yang baru saja muncul di pintu ruangan. Perempuan berambut pirang pucat panjang, dengan poni yang membingkai paras cantiknya mengenakan pakaian mewah itu berjalan mendekat. Derap langkahnya yang menggunakan high heels bergema disatu ruangan yang dari tadi memang mendadak sunyi.

"Kau disini, rupanya" Perempuan itu berucap ketika sampai didepan Naruto.

Siapa perempuan ini? Siapapun dia, Sakura bisa langsung merasakan bahwa dirinya tidak akan suka dengan perempuan ini.

"Shion? Ada apa?" Naruto menanggapinya.

"Aku menunggu terlalu lama diruanganmu. Bolehkah aku menemanimu berkeliling?" Shion tersenyum manis pada Naruto.

Dan ya, bisa dipastikan Sakura memang tidak suka dengan perempuan ini. Perasaan hangat yang tadi dirasakannya kini perlahan berubah panas.

"Tak perlu. Kurasa aku sudah cukup berkeliling. Kita bisa kembali keruanganku saja" Naruto berucap. Dan tanpa menatap Sakura yang tadi adalah lawan bicaranya, Naruto kemudian melangkah pergi.

Shion, perempuan itu dengan riang mengikuti Naruto. Lalu dengan sengaja ia mengamitkan tangannya ke lengan pria itu. Mereka melangkah bersama keluar dari ruangan.

Bisa Sakura rasakan kini dadanya terasa sesak. Degupan yang tadi terasa indah berubah menjadi menyakitkan? Apa kini ia terkena serangan jantung?

Sakura kembali duduk dikursinya. Ia menatap kosong layar komputernya. Siapa sebenarnya perempuan itu? Kenapa dengan mudahnya membuat Naruto mengalihkan diri dari dirinya? Apa yang belum Sakura ketahui? Apa itu pacarnya? Atau mungkin.. tunangannya? Entahlah apapun itu, kini perasaannya yang tadi hampir saja melembut ke Naruto, lenyap sudah.

"Sakura?" Suara Tenten membuatnya mengalihkan fokus keperempuan itu.

"Ya, Tenten?"

"Kau baik-baik saja?" Tenten bertanya khawatir melihatnya.

"Ah ya, aku baik baik saja" Sakura tersenyum kecut.

"Kau pasti kaget mendapat perhatian direktur tiba-tiba ya? Ah kau beruntung sekali" Tenten menatapnya kagum.

"Kurasa itu hal yang biasa saja" Sakura berucap, sejujurnya awalnya ia merasa spesial. Tapi kemudian setelah perempuan Shion itu datang semua hal itu terasa biasa saja.

"Bagaimana mungkin? Direktur memang orang yang baik, tapi menyangkut perempuan biasanya dia dingin sekali, Sakura"

"Kurasa tadi hanya kebetulan saja. Mungkin dia risih melihat karyawannya yang seperti tidak ada identitas"

"Hm, begitukah?"

"Omong-omong siapa perempuan bernama Shion tadi, Tenten?" Sakura tak bisa menahan rasa penasarannya.

"Dia putri salah satu pemegang saham. Entahlah katanya ia baru tiba dari London seminggu yang lalu. Kenapa Sakura?"

"Ha, tidak. Hanya bertanya" Sakura melirik jam tangannya. "Hei, mau makan siang?"

"Boleh. Tapi, setelah aku ketoilet ya" Tenten dengan segera keluar dari mejanya dan berlari kecil menuju pintu ruangan.

Sakura hanya menatap punggung Tenten dengan fikiran yang semakin melayang entah kemana.

.

.

Seminggu berlalu sejak hari pertama Sakura bekerja. Ia jarang melihat Naruto. Ya tentu saja, mengingat ruangan tempat ia bekerja berada di lantai 8. Lelaki itu sendiri berada di ruangan besarnya di lantai 12. Ia tak mengambil pusing hal itu, ia pikir malah semakin bagus jika ia tak bertemu dengan Naruto. Jadi ia tak perlu merasakan segala emosi yang tak terdefinisikan dihatinya saat melihat pria itu. Dan ia bisa lebih fokus dengan pekerjannya.

Namun kali ini sepertinya ketenangan itu akan kembali terusik, mengingat saat ini ia harus mengantarkan sebuah dokumen dari atasan langsungnya, Kurenai, keruangan Naruto. Kurenai sudah memberitahunya bahwa Shizune tidak masuk hari ini, jadi ia harus mengantarkan langsung dokumen itu sampai kedalam ruangan Naruto.

Sakura menarik nafas saat sudah berada didepan pintu dan mengetuk pelan pintu didepannya. Tak ada jawaban, iapun membuka perlahan pintu itu, dan melangkah masuk.

Ia cukup terkejut melihat Naruto sedang tidak sendiri diruangan itu. Ia bersama Shion, dan mereka sedang duduk disofa yang tersedia diruangan Naruto. Perasaan kesal mendadak menguasainya, mati-matian ia menahan diri untuk tidak berlari keluar dari ruangan itu.

Menyadari kehadiran Sakura, Naruto mengalihkan fokusnya kewanita itu. Shion yang melihat Naruto yang tak lagi memperhatikan dirinya, tampak menghentikan kalimatnya. Ia menoleh kebelakang mengikuti arah pandang Naruto.

"Maaf tuan, saya sudah mengetuk pintunya sebelum masuk" Sakura berucap seakan menjawab tatapan penuh tanya dari keduanya. "Tapi saya rasa saya bisa kembali nanti saja" Sakura sudah akan berbalik.

"Kau tak perlu melakukannya" Kata-kata Naruto menghentikan gerakannya.

Sakura yang mendengar itu hanya menarik senyum paksa, semakin gagal menutupi ketidaksukaannya berada disituasi itu "Saya mengantarkan sebuah dokumen dari Nona Kurenai" Ucapnya.

"Sini, biar kulihat"

Sakura berjalan mendekat, dengan Shion yang tampak terang-terangan mendengus kesal kepadanya. Ia pastilah sudah menginterupsi pembicaraan penting mereka, hingga perempuan itu jadi seperti itu. Ah Sakura tak ingin memaklumi perempuan itu. Baginya perempuan itu memang meyebalkan.

Ia sampai kesebelah Naruto dan memberikannya sebuah map. Naruto mengambil map dan membuka sekilas map itu kemudian beralih ke sosok perempuan yang duduk didepannya.

"Kau lihat Shion, aku sedang banyak perkerjaan. Haruno-san, tolong antar dia keluar"

"T-tapi aku masih ingin bicara denganmu" Shion berucap, tak terima dengan keputusan Naruto.

"Tak bisakah kau mengerti, bahwa ini adalah jam kerja?" Naruto menatapnya lelah.

Dalam hati Sakura, ia benar-benar muak melihat tingkah perempuan itu. Ditambah ternyata Naruto tak begitu senang dengan beradaan Shion diruangannya. Apa mereka sedang ada masalah?

Shion mendecak kesal lalu kemudian berdiri. Sakura sudah akan bergerak mendekatinya, sebelum Shion kembali berkata.

"Aku tak perlu diantar" Shion melirik Sakura tajam, kemudian dengan menghentak-hentakkan langkahnya ia berjalan keluar menuju pintu.

Kini diruangan itu tersisa Sakura dan Naruto. Dengan atmosfir yang jauh lebih tak mengenakkan dibanding saat pertama Sakura masuk.

"Aku permisi dulu" Sakura berucap tanpa memandang ke Naruto.

"Tunggu" Naruto berdiri dari duduknya.

Sakura berbalik untuk melihatnya. Ia menatap Naruto dengan raut yang sama sekali tak bisa dibilang manis. Entah dengan dasar apa, ia merasa kesal dengan lelaki itu.

"Ya, Tuan?"

"Hm, bagaimana minggu pertama bekerjamu?" Naruto tersenyum kikuk.

Sakura menatap tak percaya sosok didepannya. Pertanyaan basi apa itu? Sama sekali tidak penting, dan itu hanya menambah kekesalannya.

"Biasa saja. Tidak ada yang istimewa" Sakura menjawab datar.

Mata Naruto menyipit memandang wanita didepannya. Dia tahu perempuan ini sebelumnya bertingkah untuk tak mengenalnya. Tapi responnya kini bukan seperti yang kemarin, lebih tepatnya ia tampak seperti perempuan yang sedang kesal, marah.. atau cemburu?

Sakura yang memperhatikan Naruto yang terdiam, kembali berbalik untuk meneruskan langkahnya.

"Haruno-san" Suara Naruto kembali menghentikannya.

"Apa lagi?" Ia bertanya bosan tanpa membalikkan tubuhnya.

"Buatkan aku kopi"

Kalimat itu sukses membuat Sakura berbalik. Sudah jelas membuat kopi adalah pekerjaan Office Boy, dia kan bisa dengan mudah menghubungi Pantry untuk mendapatkan kopi. Jadi kenapa harus menyuruh Sakura? Mulutnya terbuka untuk membalas omongan Naruto. Namun terkatup kembali.

Menarik nafas sekali, Sakura berucap. "Baiklah. Ada lagi, tuan?" Ia berkata dengan nada pelan.

"Tidak. Kau bisa pergi"

Sakura kembali menuju pintu, dan tepat saat ia menarik kenop pintu. Ia bisa mendengar suara Naruto.

"Terimakasih sudah mengantar dokumennya"

Seakan itu hanyalah angin lalu, Sakura tak menanggapinya dan segera menutup dengan cukup keras pintu dibelakangnya.

Sepertinya aku tahu, apa yang membuatmu begitu marah, Sakura..


Tbc

Review Please

Thank You


Terimakasih untuk semua reviewnya, author jadi semangat ngelanjutin. Hehe.

Adakah yang masih bingung dengan alurnya? Mungkin akan semakin diperjelas dichapter-chapter berikutnya. Jangan lupa tinggalkan review ya. See you on next chapter - Saski Chan