Yang Pertama, a kazuka's
.
BLEACH © TITE KUBO
Yang Pertama, atas namaku untukmu
.
2nd: Yang Pertama Kau Beri Padaku
.
.
.
Dua lollipop masih ada di sakuku. Satu di mulut, dan satu sebelumnya hanya bersisa tangkai di tempat sampah. Istirahat siang kuhabiskan untuk melahap beberapa lollipop. Lapar, tidak. Cuma bosan.
Semenjak tadi pagi, dari jam pelajaran ketiga kosong hingga tiga jam pelajaran kemudian, dan masuk waktu istirahat siang ini. Untuk apa aku pergi ke sekolah kalau begini? Lebih baik aku bersantai di rumah daripada ke sekolah hanya untuk mencari sesuatu yang sia-sia.
Habis.
Lollipop kedua telah habis. Ternyata cukup cepat juga aku menghabiskannya.
Kukupas lagi pembungkus cokelat lollipop yang barusan kuraih dari saku. Yang ketiga.
Dua puluh menit istirahat berakhir. Belum habis pula lollipopku. Ah, aku ragu guru selanjutnya akan masuk.
Aku menoleh—ke arah tangga. Terlihat beberapa teman sekelasku menapakinya. Salah satunya...
... Ggio. Ia asyik bercanda dengan teman-temannya sembari berjalan. Bagus, berarti ia tak akan sadar kalau mataku menatapnya.
Sesekali kukeluarkan lollipop yang telah mengecil dari mulutku. Tapi tak merubah arahan mataku. Terus memandangnya yang sedang bersandar di dekat tangga. Tubuh tingginya memaksaku untuk sedikit menaikkan sudut angkat leherku.
Tapi kelima orang yang bersandar—sembari bercanda—di tembok itu bubar. Sedikit kudengar dari suara mereka, ada guru yang menuju ke sini. Oh, bagus! Berarti dua jam terakhir ini tak sia-sia juga. Tunggu, aku harus senang atau sedih karena jam terakhir harus diisi oleh guru semacam ini?
Guru sejarah yang lumayan 'membosankan'. Artikulasinya yang kecil, ditambah mungkin karena ia pemula—sehingga dalam metode pengajaran tak ampuh membius para murid agar berkonsentrasi.
Kubuang dengan spontan lollipop cokelatku yang memang sudah habis. Berlari masuk ke kelas. Menuju tempat dudukku.
.
Lima belas menit.
Tujuh kali sudah aku menguap, begitu kata teman di sebelahku. Seperti tidak tahu saja aku seperti apa jika guru yang satu ini mengajar. Pikiranku selalu terbang menjauhi penjelasan beliau yang berbelit-belit.
Kuputar mataku. Mungkin bisa sedikit terhibur dengan melihat dia. Ggio, siapa lagi?
Patut kuakui, aku suka dia. Semenjak, err, mungkin beberapa bulan lalu, saat pertama masuk ke sekolah ini. Nah, sudah paham bukan, mengapa aku terlihat seperti stalker?
Dia nekat membuka bungkus lollipop! Dapat kulihat jelas itu. Bungkus cokelat ia lempar seadanya ke bagian belakang kelas yang lowong. Dan ia menutup mulutnya dengan buku.
Trik bagus nan cerdik sekali, Ggio!
Aku merogoh saku. Tersisa satu lollipop terakhir berasa melon. Ia yang mengajari!
Kubuka perlahan bungkusnya. Kebetulan aku mengambil tempat duduk agak ke belakang.
Dengan beberapa langkah sembunyi-sembunyi untuk memasukkannya ke mulut, aku berhasil mengikuti ajaran sesatnya! Tawa terkekehku terdengar sedikit.
"Ssst!" Nanao menegurku. Rupanya lumayan keras ya?
Sebentar-sebentar kulirik dia.
Dia juga melirikku! Kubalas dengan senyum.
Aku mendehem sedikit. Memang kebiasaanku untuk menegur seseorang—spesifikasi untuk dirinya seorang—adalah dengan mendehem. Ia balas tertawa.
Aku turut tertawa.
Kami berdua adalah bukan siswa yang patut diteladani. Ya kan, Ggio? Kulirik lagi ia.
Ah, ia sedang memandangku juga! Bersama senyumnya! Ia menutup wajahnya dari arah guru dengan buku, tapi dengan leluasa dapat kulihat wajahnya karena mengarah padaku.
Aku tertegun. Senyumnya—manis sekali!
Tanpa sadar aku menurunkan buku yang menjadi pelindung mulutku yang memperlihatkan tangkai lollipop yang jelas sekali.
"Soi Fon!" tegur Nanao. Buru-buru ia tutup mulutku dengan buku lagi. Aku memukul tangannya yang terlalu menekan buku itu ke mulutku, membuatku hampir tersedak lollipop beserta tangkainya.
"Uhmph! Su-sudah!"
Aku pasti terlihat konyol di depan Ggio!
Kupindah lagi pandanganku ke Ggio di sudut sebelah sana.
Terlihat ia masih tersenyum padaku. Simpul, sederhana tapi memukau!
Lama tetap kupandang ia, tetap pula ia memandangku sembari tersenyum dengan lollipop di mulutnya. Senyumnya jauh lebih manis daripada lollipop melon yang sedang berada di mulutku ini.
Mungkin hari ini membuatku mengingat masa lalu lagi. Senyum itulah yang ia berikan ketika ia menjabat tanganku—di waktu masa orientasi siswa. Yang pertama kuterima dari pemuda seperti dia. Senyum yang selalu muncul sedetik sebelum mimpi menyambutku di malam hari.
Senyum seindah itu, pertama untukku.
.
.
- chapter 2: end –
.
The second one... :DD
insiden lollipop itu memang pernah terjadi di saia, beberapa minggu atau bulan yang lalu mungkin. Dengan sedikit perbedaan di beberapa scene. :))
uh, such a crazy girl I am... DX
