Tittle: 1st Night Series BiGo Version.

Author: Bluedevil9293.

Disclaimer: 1st Night Series BiGo Version By Dean Choi.

Main Cast: Jung Ji Hoon (Rain Bi) x Jung Byung Hee (GO MBLAQ).

Chap: 2 of 4.

Genre: Romance, Drama, M-Preg.

Rated: T.

Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read. No bashing and flame, Like and comment if you like this fanfic.

Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publis, no plagiat, yes to like and comment.

Summary: "Jadi kau tak punya pacar?"

_o0o_ 1st Night Series BiGo Version _o0o_

Go Pov…

BRRUUUKKK...

Karena terlalu fokus melihat kebelakang dan berjalan dengan cepat akhirnya aku malah menabrak orang saat berbelok di persimpangan lorong. Tubuhku jatuh ke depan menindih tubuh seseorang yang ku tabrak tadi. Mati aku, orang yang ku tabrak saat ini sama seperti orang yang ku tabrak sebelumnya yang tak lain adalah Rain Hyung. Aku merutuki diriku sendiri karena melakukan kesalahan yang sama pada namja yang sama dan lagi kali ini lebih parah. Aku menabrak Rain hyung -Lagi- menindih tubuhnya di bawahku bahkan yang paling parah kini bibir kami berdua saling menempel. Kedua mataku membulat sempurna saking shocknya dengan apa yang sudah ku perbuat saat ini. Aduh bagaimana ini pasti Rain hyung akan membenciku dan mengangap aku namja yang aneh.

Setelah beberapa saat berdiam diri masih dengan posisi yang sama, aku menindih Rain hyung dan... dan mencium bibirnya yang sexy itu. Plak... Asih apa yang barusan kau katakan, Go sadarlah. Aku pun akhirnya beranjak dari atas tubuh Rain hyung lalu berdiri sambil menundukan wajah tak jauh dari depan Rain hyung yang juga beranjak berdiri dan merapikan bajunya lagi.

"Mianhae hyung," Ucapku sambil membungkukan badanku di depannya. Seperti yang sudah ku perkirakan tadi, pasti aku akan kembali meminta maaf sambil membungkukan badan bukan, "Hyung aku benar-benar minta maaf." Kataku lagi karena tak mendapat jawaban dari Rain hyung. Dia marahkah padaku? Ah... Matilah aku kalau begini. Lagian kalau di pikir-pikir siapa yang tak akan marah kalau di tabrak hingga jatuh dua kali dalam satu hari dan di cium pula. Mana yang lebih gilanya kami sama-sama namja.

"Kau... Jung Byung Hee atau Go bukan?" Tanya Rain hyung padaku dengan nada yang terdengar sedikit ragu. Aku tahu pasti saat ini Rain hyung tengah menatapku mencoba untuk melihat wajahku yang tertunduk. Argh, aku benar-benar takut sekarang. Kira-kira apa yang akan Rain hyung lakukan nanti ya padaku? Apa dia akan mendepakku keluar dari perusahannya ini. Kalau sampai itu terjadi berarti sama saja dengan aku yang harus mengubur semua mimpi-mimpiku. Aku tak mau itu terjadi, "Hei, kenapa diam saja? Dan kenapa juga kau menundukan wajahmu sejak tadi? Ah, apa kau tidak apa-apa? Tak ada yang terluka bukan?" Tanya Rain hyung padaku yang tampak khawatir. Benarkah yang aku dengar ini, Rain hyung terlihat khawatir padaku. Oh siapa saja tolong katakan kalau ini bukan sekedar mimpi saja.

"A-aniya hyung aku tak apa-apa." Jawabku gugup. Ku rasa suaraku tadi terlalu pelan, apa Rain hyung mendengarnya atau tidak ya?

"Baguslah kalau kau tak apa-apa," Ternyata suaraku sampai juga kependengarannya. Tapi... Kenapa Rain hyung tampak biasa saja padahalkan tadi kami sudah... berciuman. Paboya, pasti Rain hyung sedang beracting saat ini untuk menutupi kejadian tadi hingga seolah-olah kejadian tadi tak pernah terjadi. Tapi walau pun begitu aku tetap saja tak enak hati dan masih takut pada Rain hyung, "Go." Panggil Rain hyung padaku.

"Ne?" Jawabku sambil mengangkat wajahku yang tadinya tertunduk dengan refleks hingga akhirnya tatapan mataku bertemu dengan tatapan mata Rain hyung.

"Jadi benar ini kamu, namja ceroboh yang sudah dua kali menabrakku seharian ini." Seru Rain hyung lagi sambil menatapku seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

"I-itu..." Aish, aku tak tahu harus berkata apa. Aku mati gaya dan tak bisa berpikir jernih saking takutnya kini.

"Sudah selarut ini kenapa kau masih ada di sini?" Tanya Rain hyung akhirnya. Sepertinya dia tahu aku sedikit gugup saat ini.

"Itu... Tadi... Aku baru mau pulang kok hyung." Jawabku akhirnya tanpa berani menatap kearah wajahnya. Tatapan mataku sedari tadi tak lepas pada ujung sepatuku sambil kedua tanganku saling remas meremas satu sama lain.

"Baru mau pulang jam segini?" Tanya Rain hyung seperti orang yang sedang memastikan sesuatu. Aku pun menganggukan kepalaku pelan sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi, wajahku masih ku tundukan juga karena aku terlalu takut untuk sekedar melihat raut wajah Rain hyung saat ini. Tidakkah kalian berpikir saat ini aku tampak seperti seorang yeoja pemalu yang sedang berbicara dengan namja yang di sukainya? "Kalau begitu ikut denganku," Ucap Rain hyung membuatku sedikit kaget dan menatap kearahnya. Rasa shock-ku pun bertambah saat Rain hyung dengan tiba-tiba mengengam tangan kiriku lalu menarikku pergi menuju lift. Sungguh, wajahku terasa memanas dan aku pun yakin pasti saat ini ada rona merah di wajahku. Bagaimana tidak, Rain hyung mengengam tangan kiriku posesif bahkan saat berada di dalam lift pun dia tetap mengengam tanganku. Setelah lift terbuka Rain hyung kembali menyeretku pergi. Sebenarnya dia mau membawaku kemana? Aku jadi sedikit takut sekarang.

"Masuklah," Suruh Rain hyung padaku saat kami sudah berada di depan sebuah mobil yang ku yakini mobil ini pasti miliknya. Rain hyung membukakan pintu mobil untukku, tidakkah kalian berfikiran aku seperti seorang yeoja yang sedang berkencan dengan namjachingu-nya? "Hei, kau melamun lagi. Ayo cepat masuk ke dalam, di luar sini cukup dingin dan tampaknya akan segera turun hujan juga." Suruh Rain hyung yang membuat lamunanku buyar. Tanpa bertanya ini itu lagi aku pun langsung masuk ke dalam mobilnya, padahal sesungguhnya di dalam benakku kini tengah banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar-putar membuatku sedikit pusing. Setelah menutup pintu yang tadi ia bukakan untukku, Rain hyung langsung beranjak menyusulku masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sampingku, tepat di belakang kemudi mobil. Rain hyung pun segera menghidupkan mobilnya.

"Hyung, sebenarnya kita mau kemana?" Tanyaku memastikan. Jujur aku masih sedikit takut dengan Rain hyung. Aku taku dia masih marah dan karena hal itu dia sekarang menculikku, lalu membawaku ke tempat yang sepi setelahnya dia langsung membunuhku disana dan terakhir dia akan membuang mayatku ke laut yang nantinya mayatku itu tak akan di temukan lagi oleh orang-orang karena sudah hilang terbawa ombak atau pun dimakan binatang laut yang buas seperti hiu. Plak... Aigo... Jung Byung Hee apa yang barusan kau pikirkan. Bisa-bisanya kau membayangkan Rain hyung itu orang yang pysico, yang ada kau lah yang gila.

"Aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Rain Hyung membuatku menatap wajahnya dengan mata yang terbelalak lebar. Tak lama terdengarlah suara tawa Rain hyung yang malah tambah membuatku membelalakan mata, ternyata senyumanya itu sangat manis apa lagi aku melihatnya dari jarak sedekat ini. "Aigo... Wajahmu itu lucu sekali Go." Ucap Rain hyung sambil mengacak-acak rambutku. Aku pun langsung merasa kedua pipiku bersemu merah karena malu tadi sudah terlihat bodoh di depan Rain hyung dan juga akibat sentuhan tangannya di kepalaku.

"H-hyung mau mengantarkanku pulang?" Tanyaku gugup sambil menundukan wajahku ke bawah, aku merasa sangat malu sekarang hingga membuatku tak sanggup menatap wajahnya yang terlihat sangat tampan apa lagi saat ia sedang tertawa lepas seperti tadi. Aish, apa yang sedang kau pikirkan Go? Apa kau mendadak jatuh hati pada Rain hyung? Kalau aku sampai jatuh cinta pada Rain hyung sudah bisa di pastikan nantinya pasti rasa sakit saja yang ku dapatkan. Aku ini kan namja dan Rain hyung juga namja, dia tak mungkin memiliki perasaan yang sama seperti apa yang ku rasa. Tipe idealnya Rain hyung itu kan yeoja yang cantik seperti Hye Gyo Noona atau pun Hanbyul Noona bukan namja sepertiku. Aish, Go apa yang kau pikirkan tadi? Kau itu bukan naksir pada Rain hyung tapi lebih ke mengidolakan dia karena dia memang pantas untuk di idolakan kalau mengingat semua prestasi yang sudah di dapatkannya.

"Ne, ada apa? Kau tak suka kalau ku antar pulang? Atau takut ada yang marah bilang aku mengantarmu pulang? Atau kau takut orang tuamu salah paham?" Tanya Rain hyung. Aku baru tahu ternyata namja satu ini cerewet juga yah padahal sejak tadi siang dia terus saja memasang wajah datar nan dinginnya itu sampai membuatku mati gaya. Yah, tapi setidaknya saat ini aku sudah tak setegang tadi.

"Bukan begitu hyung. Aku... Aku hanya tak enak padamu saja kalau mengantarku pulang." Jawabku jujur sambil menatap wajahnya, ia tersenyum manis sekali.

"Aku tidak merasa direpotkan jadi santai saja. Jadi, apa boleh aku mengantarmu pulang?" Tanya Rain hyung.

"K-kalau hyung memaksa apa boleh buat." Jawabku akhirnya. Pabo, jawaban seperti apa tadi itu Go.

"Oke kalau begitu anggap saja aku yang memaksa untuk mengantarmu pulang." Seru Rain hyung.

"Terserah hyung saja." Jawabku lagi. Rain hyung pun langsung menjalankan mobilnya dengan perlahan keluar dari baseman gedung Jtune ini.

"Go." Panggil Rain hyung.

"Nde?" Ku tatap wajahnya penuh tanda tanya.

"Yakinkan tak akan ada yang marah kalau aku mengatarmu pulang?" Tanya Rain hyung.

"Tidak akan ada yang marah kok. Umma dan Appaku sedang tak ada di rumah, mereka sedang menginap di rumah halmonie jadi hyung tenang saja. Appa tak akan menghajar hyung kok nantinya." Ucapku dengan nada dibuat bercanda. Sebisa mungkin aku mencoba mencairkan suasana cangung yang ku rasakan sendiri ini. Ku lihat Rain hyung terkekeh pelan akibat candaanku tadi.

"Kalau pacarmu bagaimana? Aku tak mau lho dihajar olehnya nanti." Ucap Rain hyung dengan nada bercandanya juga. Ku rasa Rain hyung bukan orang yang menakutkan seperti yang sudah ku bayangkan sejak tadi siang. Dia orangnya santai dan juga humoris.

"Aku tak punya pacar hyung." Jawabku di tengah tawa.

"Benarkah? Aku tak percaya." Balas Rain hyung.

"Nde, aku sungguh-sungguh hyung. Aku single. Ah hyung di perempatan depan belok kanan ne." Seru ku sambil menunjukan arah yang benar menuju ke rumahku.

"Jadi kau tak punya pacar?" Tanya Rain hyung memastikan, ku anggukan kepalaku pelan, "Kau payah sekali. Masak tak punya kekasih sama sekali." Ledek Rain hyung padaku yang langsung mempoutkan bibirku lucu.

"Seperti hyung punya pacar saja." Aku pun balas mengejeknya.

"Aku? Tentu saja punya." Ucap Rain hyung penuh percaya diri sambil memukul dada bidangnya bangga. Sejujurnya aku sedikit penasaran dengan siapa kekasih Rain hyung itu.

"Siapa yeoja beruntung itu hyung?" Tanyaku sambil menatap ke arah Rain hyung dengan tatapan penuh rasa penasaran.

"Itu rahasia, kalau sampai orang lain tahu bisa jadi skandal nanti." Balas Rain Hyung membuatku memanyunkan bibir kesal karena semakin penasaran.

"Ayolah hyung beri tahu aku siapa yeoja itu. Aku janji akan menjaga rahasia kalau hyung mengatakannya jadi nantinya tak akan terjadi skandal apa pun. Aku janji hyung." Ucapku pada Rain hyung sambil memasang wajah seperti anak anjing yang sedang memelas. Rain hyung pun tertawa pelan melihat tingkahku ini membuatku semakin memajukan bibirku saja.

"A-ni-ya." Jawab Rain hyung santai.

"Ayolah hyung beritahu aku. Kau membuatku penasaran saja. Kalau aku mati saat ini juga pasti nantinya arwahku tak akan tenang dan ku jamin aku akan menghantuimu setiap saat," Ancamku pada Rain hyung yang malah mentertawakanku semakin kencang, "Yack! Hyung kenapa malah mentertawakanku. Ayo katakan siapa yeoja itu." Paksaku sambil memukul lengan kanannya yang terbentuk sempurna itu pelan.

"Kau penasaran?" Tanya Rain hyung, aku menganggukan kepalaku cepat, "Ingin tahu siapa dia?" Tanya Rain hyung lagi, semakin ku anggukan kepalaku dengan cepat, "Sayangnya aku tak akan meberitahumu karena itu Ra-ha-sia." Ucap Rain hyung membuatku mendesah kecewa.

"Kalau hyung tak mau mengataknnya ya sudah." Ucapku dengan nada dibuat ngambek. Rain hyung tertawa lagi melihat tingkahku kini. Apa tingkahku sangat lucu ya kok dari tadi Rain hyung tertawa terus?

"Ngambek, eoh?" Goda Rain hyung.

"Aniya." Jawabku jutek sambil melipat kedua tanganku di depan dada dan menatap lurus kearah depan.

"Aigo... Jangan ngambek dong. Ah, bagaimana kalau kau tebak saja." Usul Rain hyung yang membuatku kembali semangat. Ku tatap ia dengan mata berbinar-binar seperti anak anjing yang sedang bahagia karena akan di berikan daging yang sangat banyak oleh tuannya.

"Baik aku akan menebaknya." Ucapku semangat.

"Silahkan saja, itu juga kalau kau bisa menebaknya." Ucap Rain hyung meremehkanku.

"Lihat saja, aku pasti bisa menebak siapa yeoja beruntung itu." Kataku penuh percaya diri dan mulai memikirkan siapa kiranya yeoja yang kini tengah menempati hati namja disampingku ini.

"Sudah kepikiran siapa?" Tanya Rain hyung yang sesekali melirik kearahku lalu kembali fokus menyetir. Aku masih tampak asik berpikir sampai beberapa menit kemudian.

"Ah, apa yeoja beruntung itu Hye Gyo noona?" Tanyaku sambil menatap wajah Rain hyung. Rain hyung pun mengelengkan kepalanya pelan, "Ah ternyata bukan Hye Gyo noona. Lagian hyung juga sudah lama sekali saat terakhir kali mendapat peran dengan dia. Dan pasti Hyung juga sudah tak dekat lagi dengan Hye Gyo noona." Kataku yang terus mengoceh. Rain hyung tersenyum tipis melihat tingkahku yang mungkin menurutnya sedikit lucu dan... mengemaskan.

"Kalau Hanbyul noona?" Tebakku lagi, Rain hyung mengelenglan kepalanya, "Kenapa, Hanbyul noona kan cantik?" Tanyaku heran, Rain hyung pun kembali mengelengkan kepalanya. Aku pun mulai berpikir lagi.

"Aha... Pasti Hyori noona ya?" Tebakku penuh semangat dan yakin kalau kali ini tebakanku benar tapi sayangnya Rain hyung masih saja mengelenglan kepalanya, "Kenapa, Hyori noona kan sexy?" Tanyaku heran, Rain hyung tetap saja mengelengkan kepalanya lagi.

"Kalau bukan mereka lalu siapa?" Gumabku pelan sambil kembali berpikir, "Hyung, jangan bilang yeoja itu meganfox?" Tanyaku sambil menatap wajah Rain hyung curiga. Rain hyung yang mendengar perkataanku tadi pun tampak memasang wajah cengonya, "Jadi bukan ya. Lalu siapa." Ucapku akhirnya sambil menghempaskan punggungku kesandaran jok mobil.

"Kau ini ada-ada saja Go. Tebakkanmu tak ada yang tepat. Malahan aku jadi berpikir jangan-jangan semua nama yang tadi kau sebutkan itu adalah artis kesukaanmu, iya bukan?" Tanya Rain hyung padaku tepat sasaran. Aku pun membalasnya dengan cengiran lugu.

"Hehehe... Iya hyung, habis mereka cantik sih." Balasku polos.

"Kau ini ada-ada saja Go." Ucap Rain hyung sambil mengacak-acar rambutku. Perlakuan Rain hyung tadi sukses membuat tubuhku membeku ditempat. Omona... Rasa canggung yang tadi sempat hilang kini timbul lagi. Aku pun jadi terdiam hingga akhirnya suasana sunyi yang canggung menghiasi mobil yang ku tumpanggi ini.

"Kenapa diam? Masih memikirkan yeoja itu?" Tanya Rain hyung sambil melirik kearahku. Ku balas pertanyaan Rain hyubg tadi dengan gelengan kepala pelan.

"Aniya, aku menyerah. Memangnya siapa dia?" Tanyaku pada Rain hyung dengan sedikit canggung. Shit, kenapa aku kembali gugup begini sih. Malu-malu ini aja, kalau Rain hyung menyadari sikapku yang begini kan aku bisa malu.

"Kau benar-benar ingin tahu?" Tanya Rain hyung padaku.

"Nde." Ku anggukan kepalaku pelan.

"Dia itu..." Rain hyung tampak mengantungkan kalimatnya membuatku penasaran.

"Siapa?" Tanyaku dengan nada sedikit mendesak.

"Dia itu seseorang yang saat ini sedang ku antar pulang." Jawab Rain hyung.

"Oh... Seseorang yang... Omo!" Pekikku pelan saat akhirnya aku dapat mencerna perkataan Rain hyung tadi. Refleks aku pun langsung menutup mulutku setelah mengeluarkan pekikan tadi, ku tundukan wajahku yang pastinya sudah memerah seperti kepiting rebus siap santap. Bahkan aku bisa merasakan wajahku kini memanas setelah mendengat perkataan Rain hyung tadi. Asih, aku sedikit mengutuk perkataan Rain hyung yang mengodaku tadi. Gara-gara perkataannya itu kini aku tambah grogi berada disampingnya. Rain hyung yang melihat tinglahku tadi kembali tertawa senang tanpa menghiraukan aku yang tiba-tiba merasa tambah canggung, grogi dan salah tingkah.

"Hyung sudah jangan tertawa lagi." Kataku pelan dengan wajah yang memerah karena malu. Ku tatap wajahku dengan kedua telapak tanganku. Rain hyung bukannya menghentikan tawanya yang ada dia malah semakin tertawa lepas. Aish, tega sekali dia mentertawakanku, bahkan dia terus mengodaku sepanjang perjalanan menuju rumahku dan aku hanya bisa menundukan wajah malu mendapat banyak godaan namja yang baru dekat denganku selama beberapa puluh menit ini.

*** To Be Continue ***