Stay With Me
NCT Member, some EXO member
YAOI, bahasa acak-acakan, OOC, typo
Cast milik Tuhan YME, ortu dan agensi. Saya hanya meminjam nama mereka
.
.
.
Jaehyun menggertakan giginya sebelum berjalan cepat ke arah ruangan Doyoung. Yang lebih utama adalah saat ini adalah Doyoung.. Ya, hanya Doyoung.
"Jaehyun sudah memutuskan," kata Winwin masih memeluk Kun erat. Kun sendiri mulai tenang, kelihatannya penglihatannya sudah selesai. "Ge, jangan bergerak tiba-tiba," kata Winwin saat tahu Kun berusaha bangkit. "Kau lelah, ge"
Kun hanya menatap Winwin sayu, dia tersenyum kemudian. "Sicheng, kau percaya padaku?" tanya Kun yang membuat Winwin refleks mengangguk. "Kalau begitu jangan lakukan apapun," kata Kun yang berhasil berdiri. "Gege! Apa.."
"Mama~"
Winwin langsung menengok ke arah pintu ruangan Kun. Matanya membesar saat retinanya menangkap sosok namja kecil dengan raut manis dan senyum hangat. Tapi mata namja itu berwarna merah kelam dan aura lembut wajahnya seolah berlawanan dengan aura kelam yang menguar.
" Renjunie.."
Stay With Me
"APA KAU TIDAK BISA MELAKUKAN SESUATU?!"
Para pelayan tampak mengkeret takut saat sang raja murka. Jaehyun sangat ingin membunuh pelayan-pelayan tak berguna itu, bagaimana bisa mereka membiarkan Doyoungnya menderita begitu?
"AKHHHHHHHH!"
Teriakan Doyoung kembali membuat Jaehyun panik. Astaga.. "KENAPA KALIAN TIDAK BISA MEMBUAT DOYOUNG BERHENTI BERTERIAK!"
Ow, ow.. Cuma seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya..
"Yang mulia, setiap proses kelahiran memang seperti ini," kata sesorang yeoja berusaha menenangkan Jaehyun. Namun Jaehyun menatap yeoja malang itu dengan tajam. "Kau tidak perlu memberiku nasehat!"
"Yang mulia, jika kau tidak berhenti berteriak istriku pun akan terganggu," kata seorang namja yang tiba-tiba datang dari belakang Jaehyun. Jaehyun memberikan tatapan menusuk namun sang namja hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya. "Yixing adalah tabib terbaik kita, harusnya kau serahkan saja semua ke tangannya."
Jaehyun menghela nafas seraya bersandar di dinding. Masalah para hunter yang akan menyerang kerajaan, ramalan Kun, Doyoung yang kesakitan –yah hitung saja itu sebagai masalah-, eomma, hyung juga noona yang menghilang langsung memenuhi kepalanya seketika. Namja yang baru datang itu memberi kode para pelayan untuk meninggalkan mereka dan menepuk bahu Jaehyun pelan.
"Ada yang membebanimu lagi, Jaehyun-ah?"
Jaehyun hanya mengerang frustasi. "Kau tahu dengan jelas Joonmyun hyung. Untuk beberapa saat aku berpikir akan lebih bagus bila Changmin hyung yang memimpin kerajaan ini," kata Jaehyun lemas. Joonmyun hanya mengangguk maklum. Kerajaan ini memang memiliki masalah internal yang pelik. Sebenarnya Jung Changmin yang harusnya menjadi raja tapi dia memilih pergi ke Inggris, Jung Taekwoon tidak berminat menjadi raja sementara Jung Eunji lebih memilih mengikuti Taekwoon. Eomma-nya menghilang tepat di saat pelantikan raja berakhir sementara sang appa memang sudah meninggal.
Para hunter kelihatannya mengumpulkan kekuatan dan berencana menyerang 3 hari lagi sementara soal ramalan Kun, Jaehyun juga khawatir karena bukti nyatanya ada. Dong Renjun masih terus dikendalikan keinginan darahnya dan pasti akan membunuh Kun jika dia tidak bertindak. Masalah baru pun muncul, apa dia harus membunuh anaknya? Dia setega itukah?
"Jaehyun-ah, jangan pernah berpikir untuk membunuh anakmu," kata Joomyun serius. Jaehyun hampir lupa, Joonmyun adalah mind reader terkuat mereka. "Aku pernah melakukannya dan sampai sekarang Yixing masih melarangku untuk mendekatinya."
Joonmyun memang pernah membunuh anaknya sendiri yang baru lahir, mereka bahkan nyaris bercerai jika dia tidak berlutut di hadapan Yixing dan berjanji kalau dia akan pergi dari rumah mereka. Yunho yang tahu cukup murka untuk membuang Joonmyun ke Rusia, Jaejoong sendiri nyaris membunuh Joonmyun kalau Changmin tidak menghalanginya.
"Itu bukan jalan keluar yang tepat Jaehyun, bagaimana caramu menangani Renjun?"
"Kuhipnotis, sampai sekarang"
"Suatu saat dia akan lepas kendali, jika hal itu terjadi kau harus percaya pada anakmu sendiri"
"Bagaimana caranya aku mempercayai seorang yang bahkan akan membunuh Doyoungku?"
"Kau akan mengerti Jaehyun-ah, alasan kenapa sampai sekarang Winwin masih menyayangi anak yang membuat istrinya sempat koma 2 bulan itu."
Cklek
Jaehyun langsung menengok ke arah pintu. Seorang namja manis yang baru saja keluartersenyum kecil. "Yang mulia tak perlu khawatir. Ratu selamat, dan putra kalian pun sehat," kata sang namja yang direspon dengan senyum lega Jaehyun. "Yixing, di mana anakku?"
Yixing membuka pintu ruang itu dengan hati-hati. "Ada di ruang sebelah Yang Mulia Ratu, ratu langsung tertidur tak lama setelah melahirkan"
Kesempatan Jaehyun masih ada, ya kesempatan membunuh anaknya.
"JAE.."
Jaehyun langsung membanting pintu sebelum Joonmyun sempat berbuat apapun, Yixing sendiri sempat terhuyung. Kekuatan Jaehyun memang tidak dapat diremehkan. "Ada apa ini, Joonmyun?"
"Jaehyun akan melakukan kesalahan yang pernah kulakukan," kata Joonmyun yang membuat Yixing membulatkan matanya. "Aku sudah mencegahnya tapi.."
"Kita tak bisa berbuat apa-apa," potong Yixing cepat. Dia tahu sejak awal kematian anak pertama mereka sudah diramalkan Kun. "Kematian Lisa sudah jelas, terkadang aku ingin kemampuan Kun menghilang." Joonmyun memegang tangan Yixing. "Kau sudah memaafkanku?"
"Jauh sebelum kau menyadari tindakanmu salah"
Stay With Me
Belum pernah Jaehyun terpesona dengan anak kecil, bahkan yang masih kemerahan seperti ini.
Bayi yang dikatakan sebagai anaknya itu tampak mungil, tangannya menggenggam dan matanya begitu sipit. Tanda lahir seorang anggota kerajaan pun jelas di lehernya, Jaehyun yang melihatnya refleks mengelus lengan kirinya. Jaehyun seketika lupa alasannya membawa pisau kecil perak milik Yuta.
"Eung.."
Apa takdir melarangnya membunuh anaknya? Doyoung bahkan tampak sadar dengan cepat, Jaehyun tidak tahu harus senang atau marah. "Jaehyun?"
Jaehyun agak tertegun menatap Doyoung balik menatapnya sayu. Mata kelinci itu tampak lelah namun binarnya terlihat jelas. "Anak kita, dia selamat kan?"
DEG
Masih ada kesempatan, Jaehyun masih bisa membunuh anaknya. "Itu.."
"Aku sudah menyiapkan nama untuknya. Kalau wanita Hyoje, kalau laki-laki Jeno. Aku menahan diri untuk tidak melihat jenis kelaminnya"
"Hyung.."
"Aku ingin anak kita nanti akrab dengan anak Kun, Renjun tampak baik seperti eommanya"
"Hyung, dengarkan aku"
Doyoung –yang entah kenapa memiliki kekuatan untuk berceloteh setelah melahirkan- kini terdiam. Dia tidak pernah suka aura serius saat Jaehyun memulai frase 'dengarkan aku'. "Ada apa Jae?"
Jaehyun menghela nafas sebelum berkata, "jika anak kita nanti membunuh kita, apa yang akan kau lakukan?" Doyoung sendiri cuma mengerjab. "Mwo?"
"Apa kau ingin aku membunuhnya?" tanya Jaehyun dengan nada dingin. Doyoung sendiri tampak panik. "Jaehyun, kau.. kau tidak akan membunuhnya kan?"
"Dia akan membunuhmu nanti, hyung. Aku tidak mau kehilangan dirimu," kata Jaehyun yang berlalu ke ruangan anaknya. Doyoung sendiri berusaha bangkit dari tempat tidurnya. "Jaehyun! Jaehyun!" panggilnya panik, bahkan dia seperti tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah. Doyoung terhuyung saat tahu tubuhnya mati rasa. "Akh.."
Grep
Doyoung sendiri sudah menutup matanya, tapi dia tidak merasakan lantai dingin. Dia bisa merasakan tangan seseorang menahan tubuhnya. "Jae.."
Jaehyun menatapnya lembut. "Istirahatlah hyung, kau masih lemah," kata Jaehyun sambil membaringkan tubuh Doyoung ke ranjang. Doyoung sendiri memegang erat lengan Jaehyun. "Waeyo hyung?"
"Jae.." Bulir-bulir airmata memnuhi wajah Doyoung yang masih berpeluh. "Jangan lakukan itu. Kumohon Jae, jangan bunuh anak kita.."
Jaehyun mentapa Doyoung yang masih terisak, lagi-lagi dia ragu akan keputusannya sendiri. "Hyung, kau sadar akan pilihanmu?" tanya Jaehyun yang direpon anggukan. "Hiks, tentu saja. Dia anak kita Jae, apa kau tega membunuhnya?"
Setelah melihat rupa anaknya, menggenggam pisau pun Jaehyun tak sanggup. "Jae.. Hiks, jika kau mau membunuhnya kau harus membunuhku!" kata Doyoung yang membuat Jaehyun membelalak. "Hyung!"
"Aku.. Hiks, tak sanggup kalau anak kita mati. Hiks, Jae.."
Jaehyun memeluk Doyoung erat, dia takkan pernah sanggup melihat mata itu terluka. Doyoung sendiri semakin terisak di pelukannya. "Jae.. Hiks, berjanjilah kau takkan membunuhnya.." Jaehyun menggertakkan giginya.
Dia berjanji akan selalu membuat Doyoung bahagia, tapi bagaimana dia bisa melakukannya jika satu-satunya cara menyelamatkan Doyoung adalah dengan merenggut kebahagiannya? Ramalan Kun selalu terjadi, bahkan kepergian keluarganya dijelaskan secara detail.
"Ah!" Jaehyun melepas pelukkannya, membuat Doyoung menyernyit. "Kenapa.. Hipnotisku lepas?" tanya Jaehyun pada dirinya sendiri, dia bahkan baru menyadarinya. Doyoung yang merasa janggal langsung bertanya, "hipnotis? Siapa yang kau hipnotis, Jae?"
Jaehyun mengindahkan pertanyaan Doyoung dan berusaha memusatkan konsentrasinya. Mata Doyoung sendiri berubah menjadi emerald, kedua orang itu sama-sama mencari satu orang yang menjadi kunci perdebatan mereka selama ini. "KUN!"
Jaehyun sendiri berusaha melakukan hipnotis lagi, tapi suatu kekuatan menghalanginya. Yang bisa mematahkan hipnotsinya selama ini adalah Jaejoong, Kun, dan..
"Na Jaemin," gumam Jaehyun. Anak itu pasti bersekongkol untuk melakukan entah apa dengan Kun. Doyoung sendiri menggenggam tangan Jaehyun erat. "Jae.. Jaehyun, kenapa Kun berdarah? Ada apa dengan Renjun? Dan kenapa Winwin dikelilingi pisau?"
Jaehyun sendiri sadar, ada sesuatu yang para petinggi kerajaan lakukan di belakangnya. Apa Jaemin diminta mematahkan hipnotis Jaehyun? Taeyong pasti menahan Winwin sementara Kun.. apa dia mau mati?
"Jaehyun.. mata Renjun.." Jaehyun kembali fokus pada Doyoung yang mulai gemetar. Mata hijau emerald itu persis Kun ketika mendapat penglihatan. "Berwarna emerald?"
Stay With Me
"RENJUN!"
Winwin langsung berlari saat melihat anaknya terdiam. Mata Renjun yang tadinya kemerahan kini berubah menjadi hijau emerald, dia juga tak berhenti gemetar.
Pisau-pisau yang mengelilingi Winwin sudah jatuh sedari tadi. Taeyong yang ternyata berada di depan pintu, masuk dan menatap Kun yang menatapnya balik sayu. "Bodoh," gumam Taeyong.
"Renjun! Kau tidak apa-apa?" tanya Winwin sambil memegang bahu Renjun. Tatapan Renjun sendiri kosong tapi diliputi kegelisahan yang kuat. Tangannya mencakar dinding ruangan dengan perlahan. Tidak butuh waktu lama untuk Winwin memeluk anak semata wayangnya dengan erat. "Tenang, Renjun. Papa di sini," katanya sambil mengelus kepala Renjun dengan sayang. Perlahan tangan Renjun membalas pelukan Winwin. "Hiks.. papa.."
"Taeyong hyung!" Taeyong agak kaget saat tiba-tiba –ya, dia yakin hanya ada mereka berempat di sini- Jaemin muncul dan memeluk Taeyong. Taeyong sendiri mengedarkan pandangannya dan menemukan Yuta yang panik sedang menghentikan pendarahan Kun.
Oh, Yuta pasti membuat dirinya dan Jaemin menghilang.
"Astaga.. Astaga, bagaimana ini?" gumam Yuta panik. Luka Kun cukup serius dan dia tidak yakin bisa menangani Kun sendiri. "Taeyong-ah, panggilkan Yixing hyung. Cepat!" Teriakan Yuta membuat Winwin sadar.
"MAMAAA"
"GEGE!"
Kedua orang itu segara menghampiri Kun yang bernafas terputus-putus. Winwin memegang tangan Kun erat. "Ge, kau akan baik-baik saja," kata Winwin yang lebih ke meyakinkan dirinya sendiri. Renjun sudah menangis hebat. Ah, melihat Renjun baik-baik saja membuat Kun lega.
"Syukurlah.." Lalu mata itu tertutup.
"GEGE!"
"MAMA!"
"KUN-SSI!"
Stay With Me
"Kena!"
Seorang namja berteriak kegirangan saat berhasil menangkap seorang namja tiang hingga terjatuh di rerumputan. Jeno –namja yang sedang tertawa- kini tumbuh menjadi putra mahkota yang tampan dan agak usil sementara Renjun yang ditugaskan sebagai teman bermainnya hanya menatap Jeno sebal.
"Yang mulia, tidak adil menggunakan kemampuanmu kepada rakyat sipil sepertiku"
Jeno menatap Renjun tajam. "Bukankah sudah kukatakan berapa kali, jangan memanggilkan yang mulia!" Lihat, sifat egois dan keras kepalanya persis Jaehyun. Renjun hanya mengangguk seraya terengah. "Terserah kau saja, tinggal Jaemin hyung ya."
Jeno mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian taman tersebut, namun si manis pujaan Jeno itu masih tidak terlihat. "Kupikir tadi dia ada di sekitar sini,"gumam Jeno sambil berjalan ke danau di hadapannya. "Jeno-ya, apa yang kau lakukan?" tanya Renjun sambil menghampirinya.
Jeno menyerigai. "Aku tahu Jaemin hyung kemana," katanya penuh percaya diri. Renjun memiringkan kepalanya bingung. "Ah, Yuta ahjussi!" teriak Renjun heboh saat melihat sesosok namja yang dikenalnya akrab dengan sang papa terlihat. Yuta tersenyum hangat. "Annyeong Yang Mulia Jeno dan Renjun"
Jeno mengindahkan sapaan penuh hormat Yuta dan menghampiri namja Jepang itu. Dengan senyum manis khas Jaehyun dia menatap Yuta. Firasat Yuta seketika tidak enak. "Yuta ahjussi lihat Jaemin hyung?" Dikira apa..
"Anni, waeyo?" tanya Yuta sambil memegang tangan kanannya. Jeno sempat menyerigai sebelum lanjut berkata, "kita lagi main, ahjussi." Yuta mengangguk. "Kalau begitu ahjussi pergi dulu ya," pamit Yuta yang tidak sadar Renjun sudah berada di sampingnya.
"HIYAAA!"
"UWAHH!"
Tiba-tiba sesosok namja manis langsung terjatuh saat Renjun menggengam udara kosong. Jaemin hanya meringis karena tarikan Renjun itu kuat juga.
Ternyata rencananya menggunakan kekuatan Yuta terbongkar. Fiuh..
"Jaemin hyung curang nih," kata Jeno sebal. Jaemin hanya meringis sembari tersenyum. "Gomen ne~" Yuta hanya tersenyum sembari berusaha berdiri, Jaemin tadi tidak sengaja menarik tangannya juga sehingga dia juga jatuh. "Mianhae Yuta ahjussi juga jatuh," kata Renjun sembari membantu sebisanya Yuta. Yuta berdiri dan menyambut uluran tangan Renjun. "Gwaenchana, kalian main hati-hati ya," kata Yuta sambil menepuk kepala Jaemin dengan sebelah tangannya.
"Kita kan main kejar-kejaran, gak akan berbahaya kok ahjussi," kata Jeno sambil menarik Jaemin. "Ayo ke danau, istirahat sebentar karena Renjun hyung capek. Renjun hyung?"
Tatapan mata Renjun mengosong seiring dengan warna matanya yang berwarna emerald. Tangannya masih memegang tangan Yuta erat. "Renjunie? Waeyo?" kata Jaemin sambil mengguncang tubuh Renjun. Renjun terdiam, tapi diamnya ini terasa janggal. Yuta yang peka menuntun Renjun. "Ahjussi akan membawanya."
"Apa yang terjadi, Yuta ahjussi?" tanya Jeno yang menghalangi jalan Yuta. Yuta menggeleng. "Ahjussi tidak tahu. Tapi tenang saja, Renjun akan baik-baik saja. Kemampuan Renjun akhirnya muncul.." 'setelah terakhir kali saat dia membuat Kun nyaris tewas' lanjut Yuta dalam hati. Jaemin sendiri pernah menyaksikan secara langsung hanya mengangguk samar lalu menarik Jeno. "Kalau gitu, ayo kita pergi Yang Mulia, sebentar lagi ada pelajaran di ruang Yixing ahjussi," kata Jaemin pura-pura ceria. Tapi Jeno bergeming.
"Kalian pasti tahu sesuatu! Beri tahu padaku!" Yuta dan Jaemin terdiam, mereka tidak ada kewajiban tidak memberitahu Jeno tapi tetap saja. Terlalu dini bagi anak berusia 7 tahun untuk mengetahui tragedi yang mungkin Renjun tahu.
"Kami tidak tahu," kata Yuta lancar, tapi tak bisa dipungkiri bahwa dia merasa tertekan dengan Jeno. Jeno menatap tajam kedua namja manis itu, dia tidak suka menjadi satu-satunya orang yang clueless. Dia adalah putra mahkota, dia harus mengetahui segala sesuatu yang terjadi di kerajaannya termasuk pribadi abdinya. "KUKATAKAN SEKALI LAGI, BERI TAHU APA YANG KALIAN KETAHUI TENTANG RENJUN!"
Singgg
Mata Yuta mengosong seketika, Jaemin sempat tertegun sebelum mengerjab. "Okaa-san, bangun!" kata Jaemin sambil mengguncang tangan Yuta kuat. Jaemin sendiri berusaha mempertahankan kewarasan pikirannya sementara Renjun memucat.
Hari itu, saat bulan purnama bersinar terang sang putra mahkota memperlihatkan kemampuan hipnotis yang mengaggumkan sekaligus mengerikan. Sekaligus kemampuan yang selalu membayanginya dalam kegilaan.
Stay With Me
"Usia yang sama saat Jaehyun menghipnotis Yixing," kata Xiumin tenang. Saat ini Jeno sedang tidur –ya, dia lelah setelah menggunakan kekuatannya- ditemani Doyoung. Jaehyun, Winwin, Kun dan Taeyong sendiri bersama Xiumin berada di ruang kerja Xiumin, namja imut yang sebenarnya bertugas menjaga perbatasan tapi sedang diganti. Xiumin adalah satu-satunya orang yang cukup tahu tentang masa kecil Jaehyun selain keluarga dan petinggi dulu.
"Jaehyun-ah, kau harus hati-hati. Aku tak mau Yuta seperti dulu," kata Taeyong tenang, namun jika diperhatikan dia sedang menekan Jaehyun. Taeyong tidak mau keluarga kecilnya harus hancur karena seorang anak yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Jaehyun melirik Taeyong sekilas, sejujurnya dia juga berpikiran sama. Jaehyun tidak mau dampak kemampuan Jeno ini membuat Doyoung tertekan juga. "Kita harus melatihnya mengendalikan kemampuannya."
"Yang Mulia, jangan lupakan fakta umur Jeno," kata Kun serius. "Di umur Renjun yang ke 8 dia mulai dikendalikan keinginan darahnya." Jaehyun bahkan selalu terbayang fakta mengerikan tersebut sejak tadi. "Ah, Taeyong-ssi. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan," kata Kun mulai memainkan jarinya. Winwin mengelus punggung Kun, faktanya dia juga tegang. "Ada apa, Kun-ssi?"
Xiumin memandang keempat petinggi kerajaan dengan tajam. "Aku tak menyangka anak sekecil itu harus melihat tragedi mengerikan tepat di depan matanya," kata Xiumin pelan. Jaehyun dan Taeyong tampak clueless. "Katakan padaku, ada apa ini Qian Kun?" tanya Jaehyun lantang. "Biar aku yang jelaskan," kata Winwin tenang. "Akan lebih tepat jika kumulai dengan memberitahu kemampuan Renjun. Kau tahu ruangan Kun yang sekarang bekas ruangan Taekwoon-ssi?"
Jaehyun mengangguk. Hyung-nya yang misterius dan pendiam itu hanya memperbolehkannya sekali masuk ke ruangannya. "Kau tahu kan kalau Taekwoon-ssi juga seperti Renjun?"
Berdarah campuran vampire dan guardian, bahkan Jaehyun baru tahu setelah Changmin kelepasan bicara.
"Jangan berputar-putar, katakan yang sebenarnya!" perintah Jaehyun mulai terasa tidak nyaman. "Sebenarnya, Nara-ssi meninggal bukan karena penyakit tapi Taekwoon-ssi yang membunuhnya," kata Winwin ragu, dia tidak tahu selama ini Taekwoon tidak berhasil menguasai keinginan darahnya. "Ruangan itu tempat kejadiannya, dan Renjun melihatnya sendiri. Anak itu memiliki psikometri."
Taeyong mulai menenangkan diri, dia tahu arah pembicaraan ini ke mana. "Apa Renjun melihat masa lalu Yuta juga?" tanyanya yang diangguki Winwin. "Dia hanya bilang buruk. Sesuatu yang membuatnya cukup syok untuk anak seumurannya," kata Xiumin menyambung. Suami-istri di hadapannya masih tak percaya sepertinya. "Ternyata anaknya bisa melihat masa lalu, dan dia selalu melihat hal tak menyenangkan."
Taeyong mengepalkan tangannya, masa lalu Yuta hanya dia yang mengetahuinya. Yuta masih tidak bisa mengingatnya dan lebih baik begitu terus. Dia merasa kepanikan melanda otaknya saat mengingat kali pertama dia bertemu Yuta. Bukan sesuatu yang menyenangkan sebenarnya.
"Jika Renjun tidak bisa mengendalikan kemampuannya, dia bisa melihat sejarah kastil yang kelam ini secara keseluruhan," kata Xiumin serius. "Dia harus memakai semacam sarung tangan, supaya tidak bersentuhan langsung dengan benda yang dia pegang." WinKun mengangguk. Xiumin melanjutkan sambil menatap lama Jaehyun. "Renjun bisa mengatasi keinginan darahnya, kalau Jeno bisa mengendalikan dirinya dengan baik kupikir dia juga bisa mengatasinya," kata Xiumin. Jaehyun mengangguk ragu. "Tapi kalau dia kalah?"
"Kau harus siap-siap kehilangan ratumu, tentu saja."
Stay With Me
"Apa yang mengganggumu hyung?"
Doyoung menghela nafas pelan, tubuhnya kini dipeluk dari belakang oleh sang suami. Dia menatap bulan purnama yang bersinar keemasan. Indah, hanya itu kosakata yang bisa Doyoung berikan. Tapi di saat seperti inilah Jeno membangkitkan kemampuannya, membuat Yuta nyaris 'kosong' dan Renjun yang gemetar melihat bayangan Jeno sekalipun. Sisi penakut sang eomma menurun sempurna pada Renjun.
Jaehyun sendiri tahu Doyoung khawatir pada sang anak, maksudnya ibu mana yang tidak ketar-ketir melihat anaknya memiliki kemampuan di luar akal? Oh mengapa ingatannya berputar saat Jaejoong histeris saat dirinya berhasil menghipnotis Yixing untuk membantunya kabur dari kastil?
"Jeno.. Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Doyoung menyenderkan badannya pada Jaehyun. Jaehyun memeluk pinggang Doyoung dengan erat, dia tak bisa memberi jawaban pasti karena dia bahkan khawatir tentang ramalan Kun. Ramalan yang akan terjadi tahun depan.
"Jae, apa benar Jeno akan membunuhku?"
Agak ragu, Jaehyun menjawab, "ne, hyung." Doyoung tertawa kecil, Jaehyun mengerutkan keningnya. "Hyung?"
"Jika aku mati untuk Jeno, itu tidak masalah." Tatapan teduh Doyoung dialihkan pada iris merah Jaehyun. "Aku menginginkannya tumbuh kuat dan sehat, jika dengan kematianku hal itu akan terwujud.. Naneun gwaenchanayo."
Jaehyun memegang kedua bahu Doyoung dengan erat. "Kau sadar sedang berkata apa, hyung?" desis Jaehyun marah. Doyoung tidak boleh meninggalkannya, Jeno juga tidak boleh menjadi lemah. Dilema lagi-lagi menghantam ulu hati Jaehyun.
Doyoung sendiri tersenyum sambil memegang kedua pipi Jaehyun, dia tahu hal apa yang menghantui pikiran Jaehyun. Segala kekhawatiran, kemarahan dan ketidakberdayaan benar-benar ditunjuKkan iris merah yang biasanya tanpa emosi itu. Tugasnya sebagai pendamping Jaehyun juga harus menenangkannya kan? "Jaehyun-ah, aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan. Jeno adalah putra mahkota kerajaan kita, selayaknya dia menjadi yang paling tangguh," katanya meminta pengertian pada sang suami.
"Andwae, tidak ada yang boleh meninggalkanku." Lihat betapa besar keegoisan seorang Jung Jaehyun, dia tidak mau mengorbankan satu pun miliknya dan tetap ingin berkuasa. "Aku akan menemukan cara untuk melindungimu hyung," kata Jaehyun mantap. Doyoung merespon dengan mencium bibir Jaehyun sekilas. "Lakukan apa yang kau mau, Jae."
Seolah mendapat ketenangan kembali, Jaehyun memeluk manja Doyoung. "Hei, kau jelas lebih tua dariku. Kenapa manja sih? Juga kau selalu memanggilku hyung" keluh Doyoung yang membuat Jaehyun terkekeh. "Tapi umurku membeku di usia 19 tahun, aku pantas memanggilmu hyung," kata Jaehyun tidak lupa menggosok kepalanya ke leher Doyoung. "Geli, Jae!" protes Doyoung.
Jaehyun tertawa lagi. "Ah, hyung kan aku pengen manja-manjaan~" katanya merajuk. Doyoung spechless. "Dasar orang tua berumur 319 tahun!"
"Kau jelas menyukai sentuhan orang tua ini hyung"
"Diam atau jatahmu sebulan kupotong"
Stay With Me
"EOMMAAAA"
Doyoung agak tersentak saat pintu ruangan Jaehyun dibuka kasar sementara Kun tersenyum maklum. Kedua uke ini emang sedang berbincang sedikit soal anak mereka dan 'keinginan darah' jelas dihindari dari pembicaraan tersebut.
BRUKK
Doyoung menyambut hangat tubrukan Jeno sambil tertawa kecil. "Anak eomma sudah selesai belajar, heum?" tanyanya yang diangguki Jeno dengan antusias. Mata Jeno bersinar melihat Kun di seberang meja sang eomma. "Ah.."
"Selamat siang, yang mulia," potong Kun sambil sedikit membungkuk. Jeno mengerucutkan bibirnya kesal. "Kan sudah kubilang.."
"Anda ini putra mahkota, sudah seharusnya semua memanggil Anda dengan penuh hormat," balas Kun santai yang direspon erangan frustasi Jeno. Dia tidak suka dipanggil 'yang mulia', dia tidak suka suasana canggung ketika semua orang bertatap wajah dengannya, dan dia tidak suka ketika –uhuk- orang yang disukainya –uhuk- juga berpikir dia terlalu jauh untuk dicapai.
"Kok eomma tahan sih?" protes Jeno. Di matanya Doyoung sama sepertinya, tak nyaman jika semua orang memanggil 'yang mulia'. Mereka sama-sama tidak suka aturan yang mengikat mereka untuk bersikap anggun di saat keadaan seperti apapun. Makanya, kadang Jeno merutuki appa-nya yang menjadi raja.
Doyoung mengelus kepala Jeno lembut, saat pertama keluar dari ruangan Jaehyun pun dia mulai merasa janggal dipanggil penuh hormat seperti itu. "Kita keluarga kerajaan, Jeno. Itu sudah sepantasnya," kata sang eomma yang membuat Jeno merenggut. "Ih, anak eomma sok imut sih," kata Doyoung gemas. Dicubitnya kedua pipi Jeno yang membuahkan pekikan sakit dan kesal dari si empu. "EOMMA~"
Kun tahu, Doyoung sengaja membuat banyak momen kebersamaan dengan Jeno supaya dia siap. Satu pun di antara mereka takkan pernah tahu apa Jeno akan berhasil menguasai keinginan darahnya atau tidak. Hal terpenting lainnya adalah Jeno bisa saja menyerang Doyoung kapan saja. Taeyong dan Yuta memang selalu mengawasi Doyoung untuk mengantisipasi kemungkinan Doyoung diserang, tapi kedua orang itu sedang pergi ke perbatasan untuk melawan para hunter. Jaehyun sedang mengadakan rapat dengan Sicheng dan ini berarti Kun harus bisa melindungi Doyoung apapun yang terjadi.
"Eomma.."
Kun tersentak. Dirabanya pedang perak pemberian Winwin.
Doyoung yang sedang memeluk Jeno menatap sang anak dengan mata membesar. Jeno, dia..
"Can I kill you?"
"MINGGIR, DOYOUNG-AH!"
CLASH
.
"Kita tidak bisa mengabaikan ini, para pangeran dan putri terdahulu bisa menyebabkan masalah!"
"Changmin-ssi sangat jenius, bisa saja dia mengendalikan setengah dari para mentri sekarang"
"Taekwoon-ssi bisa saja mendadak menyerang kita! Saya dengar mate-nya berasal dari bangsa evil!"
"Kemampuan Yixing baru menyamai 2/3 dari Eunji-ssi, bukankah Eunji-ssi bahkan bisa menghidupkan yang sudah musnah?"
"Tenang semuanya!"
Winwin berhasil mengendalikan situasi di ruangan itu, tapi kecemasan dari para mentri membuat raut wajah mereka siap berbicara lagi. "Saya tahu kalian merasa takut dan khawatir, tapi saya minta kalian tenang. Menurut Kai, Changmin-ssi masih berada di Inggris, Taekwoon-ssi dan Eunji-ssi masih di Jepang. Tidak ada kegiatan mencolok yang kita duga bisa berbahaya, justru para hunter-lah yang mengancam kita," kata Winwin lantang. Mereka cuma bisa mengandalkan Kai dalam pengintaian, walau bukan tidak mungkin juga Kai berkhianat. "Winwin-ssi, apa tidak mungkin jika Taekwoon-ssi dan Eunji-ssi membantu para hunter?" tanya seorang mentri dengan wajah khawatir.
"Kalau sejak awal dia menginginkan kerajaan ini, lebih baik dia menerima tawaran ibu suri untuk menjadi raja. Tidak ada gunanya dia memicu peperangan dengan kita," kata Jaehyun lelah. Dia tidak bisa meninggalkan Doyoung dengan Kun saja.
"YANG MULIA!"
Yixing membuka pintu ruang rapat itu dengan tergesa-gesa. Dia terlihat panik, cipratan darah sedikit menodai wajah manis yang begitu dipuja Joonmyun. "Ratu.. Dia.."
Jaehyun langsung berdiri dan menyeret Yixing, sementara Winwin mengekor dari belakang. "Katakan di mana mereka!"
.
Mimpi buruk yang paling ditakuti Doyoung akhirnya datang, Jeno dikuasai keinginan darahnya.
Dia menatap sendu pertarungan tak seimbang antara Kun dan Jeno, bahunya terluka parah karena Jeno mendadak menyerangnya sehingga Kun langsung bertindak melindunginya. Dia sangat ingin membantu, namun dia bahkan tidak bisa melihat arah serangan Jeno.
TRANGG TRANGG
Pedang Kun terlepas begitu saja, tanpa basa-basi Jeno meyerang Kun.
DUAK
Doyoung melotot saat Kun terpental hingga dinding, sang peramal tampak tak bergerak setelah dipukul Jeno. Doyoung tahu Kun melemah sejak Renjun membuatnya koma, bisa gawat jika dia koma lagi.
"Eomma.."
Jeno yang berada tepat di depannya entah kenapa tidak mengagetkan Doyoung, tidak lebih tepatnya dia berharap Jeno mendekatinya. Doyoung bahkan tidak mengharapkan Jaehyun menolongnya. Ya, dia akan menolong Jaehyun dengan kematiannya sendiri. "Lakukan, Jeno-ya."
CLASHH
"DOYOUNG HYUNG!"
Entah terlambat atau tidak, Jaehyun cepat menahan Jeno yang seperti kesetanan mencabik dada Doyoung. Winwin sendiri langsung berlari mendekati Kun yang terkulai. "Gege, kau tidak meninggalkanku kan?" tanya Winwin panik. Yixing bertindak cepat menghampiri WinKun, dia sadar diri bahaya di daerah pertarungan ayah-anak itu. "Minggirlah, aku akan mengobatinya"
"Hyung, kenapa kau tidak melawan?" tanya Jaehyun. Doyoung dapat melihat sinar terluka dalam iris merah itu, tapi dia tak bisa menjawab apa-apa. Lidahnya kelu, dan luka di dadanya tampak parah. "Yixing takkan bisa menanganinya." Apa tadi Doyoung mendengar getar dalam suara bass Jaehyun?
Dalam sedetik Jeno kembali berada di hadapan Doyoung, membuat Jaehyun menendang dada anaknya keras dan menimbulkan suara punggung terhantuk yang memekakkan telinga. Doyoung menatap ngeri Jeno, anaknya itu benar-benar agresif. Jaehyun tampak terengah, kecepatan Jeno memang tak bisa dianggap remeh. "Aku akan melindungimu hyung, Aku pasti akan melindungimu," kata Jaehyun dengan pasti. Doyoung menatap Jaehyun dan Jeno bergantian, dia tidak mau kehilangan kedua namja tersayangnya. "Aku akan melakukan sesuatu pada Jeno, aku janji," kata Jaehyun lagi seolah menjawab keraguan dalam benak Doyoung. Doyoung berusaha menggerakkan bibirnya. "Aku.. tak mau.. kehilangan.. kalian," katanya tersapu angin yang bertiup kencang.
"Satu pun," kata Doyoung dan Jaehyun secara bersamaan. "Tak ada yang boleh pergi!"
Winwin meninggalkan Kun yang sedang diobati Yixing, dia juga siap membantu. Kun yang sempat membuka matanya menganggukkan kepalanya memberi ijin. 'Taeyong ge, cepatlah datang..'
"Jangan bergerak Winwin!" Winwin menatap Jaehyun aneh, kenapa Jaehyun bertindak seolah dia akan membebani saja?
"Apa yang kau inginkan, anak kecil?" tanya Jaehyun dengan nada congkak. Jeno membalas dengan sedikit serigaian, "nyawa ratumu." Suasana serasa tegang saat Jaehyun berjalan ke arah singgasananya dan duduk dengan gaya angkuh. "Dia sudah lemah, apa kau tak ingin melawan raja tua ini?" tanyanya yang direspon gelengan Jeno. "Eomma, menurutmu siapa yang sebaiknya dibunuh? Kau atau raja?"
Tangan Doyoung bergerak, menunjuk ke arah Jaehyun yang kini menduduki singgasananya. "Doyoung ge!" teriak Winwin kuat. Tentu saja dia tak percaya Doyoung mengorbankan Jaehyun demi dirinya, benar ini pasti bukan Doyoung. Yixing melirik takut, kekuatannya takkan stabil bila dia tertekan sementara luka lama Kun kembali terbuka. "Kun-ssi, kumohon berdoalah supaya ramalanmu tidak benar," bisik Yixing yang disambut dengan tatapan lemah Kun.
"Jaehyun.." Mata Doyoung memanas saat melihat Jeno mendekati Jaehyun dengan langkah tegap. "Anniya.."
Doyoung tidak bisa menggerakan tangannya lagi, ah sejak awal Jaehyun-lah yang mengendalikan tangan Doyoung untuk menunjuk ke arahnya. Jaehyun, kemampuan hipnotisnya memang tak bisa diragukan lagi. Doyoung makin panik tatkala Jeno mengayunkan tangannya ke arah Jaehyun, sementara Winwin tampak ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
CRASHH
Ruangan itu dipenuhi darah, Jaehyun sendiri dibuat terpental ke samping Doyoung. "Angin," gumam Jaehyun kemudian terbatuk. Kemampuan Jeno mengendalikan angin rupanya. "Kuberikan hadiah Yang Mulia, kematian bersama yang terkasih," kata Jeno tersenyum aneh. Jaehyun menggenggam tangan Doyoung. "Mianhae hyung, hanya Jeno yang bisa kuselamatkan.."
Mata Doyoung yang sudah berair menatap Jaehyun sedih. "Jeno.. akan menjadi raja yang hebat," katanya terbata. Mata mereka saling beradu, memancarkan penyesalan mendalam dan rasa cinta. Mereka tidak tahu apa kehidupan afterlife itu ada, tapi jika memang ada bolehkah mereka egois dan berharap akan bersama di sana? Inikah akhirnya? Ketika masa depan takkan pernah bisa berubah?
Tangan Jeno terangkat, sementara Winwin tampak berusaha bergerak dan Yixing mulai berteriak.
"Selamat tinggal eomma, appa"
.
.
.
DUAK
"Kau tampak kepayahan, dongsaeng"
Mata Jaehyun yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar dan menatap kehadiran orang yang selalu dia kagumi. "Hyung.."
Changmin berdiri bersender di dinding, tangannya dilipat ke dada seolah menunjukan bahwa dialah yang berkuasa. "Hari yang buruk untuk bertemu, Jaehyunie"
Jeno yang tadinya siap menyerang Jaehyun-Doyoung kini tersungkur di dinding. Sebuah pedang es berada di lehernya, tapi tidak ada seorang pun yang memegangnya. Winwin yang terbebas dari pengaruh kekuatan Jeno menatap tak percaya kejadian itu. "Taekwoon ge?"
Taekwoon berjalan ke arah Jeno yang tampak berusaha melempar pedang itu. Dia melirik Winwin. "Apa kau tidak bisa menangani ini?" tanyanya datar. Dalam sekejab, Taekwoon berhasil menahan Jeno dengan kemampuannya.
"Jangan bergerak." Suara halus itu membuat Doyoung menengok dan menemukan seorang yeoja yang tampak cantik dengan dress hitamnya. "Aku akan menyembuhkanmu, adik ipar."
Kun menatap pemandangan itu dengan sedikit tersenyum, banyak sekali hal yang tak bisa kita simpulkan dengan satu kali pengamatan. Buktinya para pangeran dan putri kembali untuk menolong si bungsu.
"Ada apa ini?"
Taeyong tampak membatu saat melihat kejadian di hadapannya. Dia baru saja sampai, dan hal pertama yang dia lakukan adalah ke ruangan kerajaan. Oh, ada apa dengan reuni keluarga ini?
"Sepertinya banyak yang harus dibicarakan"
Stay With Me
"Begitukah?" tanya Jaehyun tampak termenung. "Pantas saja, seperti ada yang kurang."
Jeno berhasil ditahan sampai keinginan darahnya dikalahkan -dengan cara yang tidak diketahui, Taekwoon yang melihatnya akan mengerutkan kening- dan dikurung di kamar. Doyoung sendiri masih tertidur dan Jaehyun yang belum pulih mengadakan reuni dengan saudara-saudarinya.
Changmin menyerigai menaggapinya. "Jaehyun-ah, kau bahkan masih lemah menghadapi hal seperti ini. Jika kami tidak datang, mungkin kau dan ratumu sudah menghilang," katanya. Jaehyun mengangguk pasrah, toh dia juga lengah karena lebih memilih mati. "Changmin hyung menghilangkan memoriku, apalagi yang kau hilangkan selain janji 'kalian akan membantuku apapun yang terjadi'?" tanya Jaehyun menuntut. Changmin mengangkat bahunya acuh. "Kau terlalu berburuk sangka padaku, dongsaeng."
Jaehyun menatap Changmin tak yakin, dia yakin ada memori lain yang menghilang. "Siapa saja yang kau kendalikan, hyung?" tanya Jaehyun berusaha memancing Changmin. Changmin lagi-lagi menjawab, "kau terlalu waspada. Jika aku berniat menjadi raja di kerajaan ini, mengapa aku memilih pergi dari sini?"
Cklek
Suasana tegang masih menguar saat Taekwoon memasuki kamar rawat Jaehyun. Taekwoon menyernyit, kelihatannya dia kehilangan pertunjukan yang bagus. "Jaehyunie, kau tidak akan meminta kami tinggal di sini kan?"
Tebakan Taekwoon tidak membuat Jaehyun kaget, sebaliknya dia tenang. "Anni, kalian pun sudah memiliki koloni sendiri kan?" tanya Jaehyun kali ini memancing Taekwoon. Wajah Taekwoon masih tetap datar saat menjawab, "hal seperti itu pun perlu kau tanyakan?"
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas masalah kerajaan sekarang," kata Changmin memainkan pisaunya. "Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" katanya tenang yang membuat Jaehyun menatapnya tak percaya. "Secepat itu?"
Changmin berjalan ke arah jendela kamar itu. Hembusan angin yang mengingatkannya kepada seseorang di belahan bumi lain membuatnya tersenyum kecil. "Kita akan bertemu lagi."
"Kita mungkin akan melakukan reuni dalam keadaan yang tidak kondusif," kata Taekwoon menepuk kepala Jaehyun. "Sampai saat itu, jaga dirimu dan kerajaan ini, Yang Mulia," sambung Taekwoon sedikit menyindir posisi Jaehyun.
Cklek
"Ah, Jaehyunie!"
Eunji sedikit berlari dan memeluk singkat dongsaengnya itu. "Doyoung sudah pulih, dan masalah waktu sampai Jeno bangun. Baik-baiklah!" kata Eunji sambil tersenyum cerah. Yeoja itu berjalan ke arah Taekwoon lalu mengalungkan tangannya ke tangan sang 'oppa'. Jaehyun menatap ketiga orang itu dengan rasa kehilangan, dia belum rela.
"Sampai nanti, uri dongsaeng"
Stay With Me
Kerajaan bersuka ria, kini segala hal yang ditakutan sudah sirna. Ketakutan kehilangan ratu dan putra mahkota lenyap, ancaman para hunter bisa teratasi dengan baik, para pangeran dan putri terdahulu tampak tidak berniat menyerang kerajaan yang kini makin besar.
Jaehyun, sang raja masih menjadi raja yang dicintai dengan segala kekeraskepalaannya dan kebijaksanaan -atau kelicikan- raja terdahulu. Doyoung masih menjadi ratu bersahaja, kemampuannya makin tereksplorasi dengan baik. Bahkan jika Jaehyun tidak melarangnya, mungkin dia sudah menjadi salah satu prajurit handal. Jeno tumbuh menjadi putra mahkota tampan, kemampuannya tidak berkurang hanya karena dia gagal membunuh Doyoung, sebaliknya dia makin termotivasi menjadi yang terkuat.
Winwin menjalankan tugasnya dengan baik, sementara Kun masih menjadi peramal dengan tingkat akurasi tinggi. Tapi ramalan itu tidak menjadi patokan lagi sekarang, dan beban di pundak Kun sedikit berkurang karenanya. Renjun sendiri -dengan beberapa alasan- menjadi seorang yang mencintai buku dan menjadi kepercayaan Jeno.
Taeyong masih menjadi panglima tertinggi dengan kemampuan yang sudah tidak diragukan lagi, Yuta kini menjadi komandan bagian pengintaian bersama dengan Kai. Usia Na Jaemin -atau lebih tepatnya Lee Jaemin- sudah membeku sejak lama, sehingga dia masih tampak seumuran Jeno dan Renjun. Pembekuan usia memang tergantung masing-masing vampire.
Joonmyun dan Yixing, kedua abdi kerajaan itu akhirnya satu rumah setelah sekian lamanya. Yixing memang tidak mau memiiki anak lagi, tapi menurut Joonmyun itu sudah lebih dari cukup.
Memikirkan hal yang terjadi, membuat Jaehyun tidak sadar Doyoung datang memeluknya dari belakang. "Mengingat masa lalu?" tanyanya. Jaehyun yang merasa janggal dengan posisi ini, melepas pelukan Doyoung dan memeluk mate-nya. "Kenapa kau jadi mellow begini, Jaehyun-ah?" tanya Doyoung aneh. Jaehyun tidak menjawab, dia malah mengeratkan pelukannya. "Jae.."
"Gomawo sudah berada di sisiku hyung." Doyoung terdiam mendengar kesungguhan dalam nada Jaehyun. "Mian sudah bersikap egois. Aku membawamu ke sini dengan paksa, menjadikanmu mate-ku dan memikul beban menjadi ratu dalam waktu singkat. Aku sungguh egois.."
Doyoung yang mendengar itu menepuk punggung Jaehyun. "Kau baru sadar kalau kau egois? Waw, ke mana saja kau selama ini?" sindir Doyoung. Jaehyun hanya menghela nafas. "Ne, ne. Aku menerimanya karena.. cinta eh? Dan kekuatanmu juga sih"
Jaehyun melepas pelukannya dan menatap dalam mata Doyoung. Doyoung membalasnya dengan tatapan lembut. Butuh beberapa lama untuk Jaehyun memilih mencium kening Doyoung, dilanjutkan dengan pelukan hangat yang selalu disukai Doyoung.
"Saranghae"
"Nado
.
.
.
END
Hai~ Panda sungguh bahagia karena ff ini kelar! Yey *tebar hati. Ini menjadi ff dengan penulisan terlama, dengan konflik yang dipikirkan cukup matang. Oh apa itu artinya?
1. Akan ada sequel untuk TaeYu, bagian ini akan menceritakan awal mula mereka bertemu dan beberapa hal yang tidak diceritakan di chap ini. Chap ini kan dari sudut pandang JaeDo
2. Ada req untuk membuat ff ini menjadi chapter. Utang Panda kan banyak, jadi itu masih dipikirkan XD tapi Panda sudah mendapat ide tentang apa saja yang patut diceritakan nanti
Lalu soal Lisa yang menjadi anak SuLay.. itu tidak disengaja, sungguh XD Panda tidak tahu tokoh mana yang cocok menajdi anak mereka. Apa ada yang menyadari marga Jaemin berubah menjadi Lee dan kata-kata Taeyong soal 'keluarga kecilnya'? Khu khu, bagian Taeyu akan menjawabnya. Jadi tunggulah setegar yang kalian bisa *evil laugh. Endingnya gak banget ya, maaf Panda kehabisan ide XD Lalu jika kalian lebih suka sad ending, Panda sudah memberi tanda di bagian Jeno bilang selamat tinggal. Imajinasikan saja hyung dan noona Jaehyun gak dateng dan.. kalian dapat sad end!
Sekali lagi Panda minta maaf karena baru apdet. Biarkanlah ff ini menjadi hadiah akhir tahun kalian, oke? XD
Waktunya balasan review~
Mifta Jannah: Doyoung gak akan mati XD Makasih buat reviewnya
Preidhisik: scene taeyu bakal lebih banyak di spesial chap XD makasih buat reviewnya
Yuviika: bunny still alive! Yeyy makasih buat reviewnya
Tyhoney: mereka udah bahagia tuh XD makasih uat reviewnya
Dhantieee: done XD makasih buat reviewnya
ichinisan1-3: renjun ga jahat, dia hanya dikuasai keinginannya XD dan bunny bener guardian, tapi gak darah murni. Makashi buat reviewnyaa
Guest: Taeyu emang mau kubuat part sendiri XD Makasih buat reviewnya
Yuyu arxlnn: Gak kok, ini hepi end XD dan taeyu emang ada part sendiri. Makasih buat reviewnya
.
Anyway, review please
