STALINGRAD (Tore Niederlage)
Meanie Couple
Mingyu & Wonwoo
Presented by Crypt14
! Please don't spread without permission
! Mencoba untuk menghargai karya orang lain dengan meninggalkan kritik serta saran pada kolom review setelah membaca adalah perbuatan terpuji
! Please don't try to steal my fiction and modify it without permission, I hate it tbh.
! Kemungkinan akan terdapat beberapa kejadian yang membuat pembaca sedikit kebingungan, mohon untuk memperhatikan dengan baik waktu berlangsungnya suatu kejadian
! Rated M untuk beberapa adegan disturb serta kata-kata kasar.
Enjoy this fiction
.
.
Ledakkan kesekian kalinya kembali terdengar menggema, desingan pesawat Luftwaffe masih menghiasi langit Kota Stalingrad. Wonwoo merunduk, membekap senjata dalam genggamannya. Ledakkan yang begitu menyakiti telinga hanya berada beberapa meter darinya kini. Wonwoo bersumpah seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Ia tidak terlahir untuk menjadi salah satu dari begitu banyak pria Soviet yang akan mengangkat senjata milik mereka setinggi-tingginya dalam perang ataupun membidik dahi lawan hanya untuk mengantar ajal mereka mendekat. Ia terlahir sebagai satu dari ratusan pemuda Soviet yang hanya tahu untuk duduk di balik bangku universitas, setelahnya bekerja bersama dengan tumpukan buku maupun deadline.
Wonwoo tidak pernah terlatih untuk menghindari timah panas yang berlari mengejarnya jauh lebih cepat daripada seekor cheeta maupun ledakkan-ledakkan dari bom yang berusaha untuk memecah belah tubuhnya.
Ia masih berada disana, meringkuk mengikuti apa yang dilakukan oleh rekan-rekannya guna menghindari serangan udara dari pihak sekutu. "Bergerak 'lah! Kalian tidak perlu takut!" Ia beranjak saat seorang dari tentara menarik paksa lengannya, mendorong tubuhnya guna mendekat pada perbatasan territorial untuk berkumpul bersama para rekannya. "Aku bersumpah hal seperti ini benar-benar tidak pernah terbesit bahkan dalam ruang tidak sadar dalam otakku." Ia menoleh, mendapati pemuda yang sebelumnya memberikan semangat untuknya itu mengeluh.
"Hey Wonwoo, setelah ini mereka akan menyuruh kita untuk berperang dalam jarak dekat. Cobalah untuk mengindari setiap tembakkan dan bersembunyi. Itu akan lebih baik." Wonwoo masih terdiam, belum memahami betul maksud perkataan Seungcheol. Setelahnya mereka kembali di paksa. Beranjak menghantarkan ajal mereka sendiri dengan pekikkan kuat serta moncong senjata yang mengarah pada sekutu di seberang sana.
Wonwoo berani bersumpah itu adalah waktu terpahit dalam hidupnya. Menyaksikan begitu banyak rekannya terkapar tak bernyawa setelah timah-timah panas yang di muntahkan dari balik moncong senjata api tentara sekutu melubangi tubuh mereka. Menjadikan genangan darah beserta serakkan mayat berada disekitarnya.
Ia dan beberapa tentara 'paksa' lainnya kembali bergerak mundur, bermaksud untuk menyelamatkan nyawa mereka. Kembali pada perbatasan territorial, namun yang diterima hanyalah hal yang tak jauh berbeda.
Pihak mereka pun memuntahkan timah panas pada setiap prajurit yang berusaha lari dari pertempuran. Dan Wonwoo disana, merekam dengan jelas detik dimana sebuah timah panas yang di muntahkan oleh prajurit negaranya melubangi kepala Seungcheol. Mengantarkan tubuh pemuda itu tersungkur pada tanah lumpur yang di pijakinya. Wonwoo terdiam, merunduk bersama para tubuh tak bernyawa itu. Masih memeluk erat senapan miliknya. Ia tidak menampik hal apapun, terutama mengenai rasa takut yang begitu menggerayangi dirinya saat ini.
.
.
Stalingrad, October 20th 1942 – Perbatasan Wilayah Jerman
Wanita itu masih melenguh hebat di bawah ekstensi seorang tentara muda. Mingyu, ia masih tampak mengerjai wanita di bawahnya. Menyalurkan hasrat menggebu yang begitu merengkuhnya saat ini. Setelahnya hanya terdengar helaan nafas memburu dari keduanya. Pemuda itu beranjak, kembali meletakkan posisi celananya dengan benar. Sesaat melirik pada wanita yang masih berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri, melemparkan raut datar sebelum beranjak pergi.
Kepulan asap nikotin dari balik bibirnya menguar. Udara dingin begitu terasa menusuk sesaat setelah kedua kakinya berpijak pada tanah Kota Stalingrad. "Menikmati malam mu, Mingyu?" Ia kembali menyelipkan rokok yang semula terjepit pada jemarinya. Menghisap benda itu guna memenuhi rongga parunya dengan asap yang akan membunuhnya dengan pasti. Ia menggeleng, sebelum membuang kembali asap nikotin dari dalam mulutnya.
"Tidak sehebat yang sebelumnya." Dan tawa dari bibir Jisoo menguar. Ia selalu merasa begitu geli setiap kali mendapati balasan mengenai pertanyaan seperti tadi dari rekannya itu. "Jadi, masih ingin mencoba yang lainnya?" Mingyu mengangguk, terkekeh. Membuang putung rokok di tangannya. Pemuda disisinya itu membuang pandangan darinya. Menatap pada langit malam Kota Stalingrad yang tampak begitu hancur. Hanya puing serta mayat nyaris membusuk yang bergelimpangan sepanjang mata memandang. "Kau membuang benih mu dimana-mana. Setelah perang aku pastikan wanita-wanita yang sudah kau ajak bercinta itu akan mendatangai mu untuk meminta pertanggung jawaban."
"Itu bukan kesalahan ku, Hong Jisoo. Mereka yang datang dengan kaki terbuka, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, bukan?" Keduanya tertawa keras. Jisoo terlihat menepuk bahu Mingyu kuat, membuang nafasnya cepat. Masih menatap pada langit Kota. "Kau harus cepat bertaubat sebelum salah satu dari peluru Soviet menghancurkan otak mu." Ujarnya yang kembali membuahkan kekehan dari mulut Mingyu. "Soviet tidak akan bisa melakukannya. Tidak padaku."
"Ah, baiklah. Kau terlalu congkak." Jisoo memutar matanya malas. Ia selalu merasa bahwa Mingyu begitu mengucilkan kemampuan tentara tetangga. Meski keduanya sama-sama tahu bahwa kemampuan pemuda itu begitu di atas rata-rata namun bagi Jisoo tidak ada yang tidak mungkin ketika takdir yang sudah dituliskan dalam buku kehidupan setiap orang bekerja sesuai porosnya. "Bertaruh?"
"Tidak terima kasih. Tuhan akan menghukum ku atas itu." Ujar Jisoo menolak. Ia seseorang yang begitu religious, meski berada dalam keadaan seperti saat ini pun pemuda itu tetap teguh pada pendiriannya. Mingyu membuang nafasnya panjang, pandangannya menyendu sesaat menatap pada hamparan langit yang tampak begitu pekat. Sebuah garis samar tertarik pada sudut bibirnya. Begitu samar, hingga rekannya itu tidak menyadari bahwa senyum itu melintang disana. "Tuhan sudah meninggalkan kita, Jisoo."
.
.
Stalingrad – Perbatas Soviet
Wonwoo beranjak, menatap pada sekelilingnya setelahnya berusaha bangkit dari posisinya. Ia melangkah perlahan, mencoba kembali pada kelompoknya. Bekas lumpur tampak memenuhi seluruh tubuhnya. Ia salah satu dari beberapa prajurit yang masih bertahan.
Sesaat pemuda itu terhenti, terdiam pada posisinya saat moncong senjata dari tentara negaranya mengarah padanya. Seorang tentara perbatasan tampak memperhatikannya sejenak. "Kau salah satu dari kelompok Red Army?" Wonwoo mengangguk cepat. Detik selanjutnya yang ia tahu hanya dirinya di bawa kembali ke barak penampungan bersama para prajurit lainnya. Dan Wonwoo berani bersumpah, dirinya begitu merasa tertohok mendapati kondisi dari beberapa tentara yang terlihat begitu menyedihkan dengan beberapa bagian tubuh yang hilang ataupun robek. Ia beranjak, mengambil tempat pada bangku kosong di sudut barak yang kini merangkap sebagai tempat medis dadakan. Masih memeluk erat senapan miliknya.
"Kau baik-baik saja?" Seorang wanita muda mendekat, menyentuh bahunya yang sukses membuatnya terlonjak kaget. "Maaf aku membuat mu terkejut. Bisa aku memeriksa mu sebentar?" Ia hanya terdiam, membiarkan wanita medis itu memeriksa keadaanya meskipun ia tahu betul bahwa dirinya begitu baik sangat baik secara fisik, tidak secara mental.
"Kau tidak terluka, syukurlah. Aku akan mengambilkan air untuk membasuh wajah mu, tunggulah disini." Pemuda itu masih terdiam, ia enggan untuk kembali berucap. Kedua manik sipitnya hanya berkeliling memperhatikan kekacauan yang terjadi dalam barak itu. Wonwoo tidak lagi dapat memahami perasaanya yang begitu berkecamuk. Baginya, peperangan yang kembali pecah ini adalah neraka dunia.
Ia terhenyak, menatap kembali pada wanita muda yang meletakkan sebaskom air jernih dihadapannya. "Ini, basuh 'lah wajah mu dulu. Nanti akan ada yang mengantarkan makanan untuk mu. Meskipun tidak terasa enak tapi cobalah untuk memakannya karena hanya itu yang kami miliki untuk menjaga kalian tetap bertahan." Ia meraih handuk yang di sodorkan padanya, membawa wanita muda itu beranjak kembali setelahnya.
Pemuda itu meletakkan senapannya begitu pelan, sesaat menatap pada pantulan dirinya dari balik air. Wonwoo menarik senyumnya paksa saat merasa ia begitu tidak mengenali dirinya sendiri. Tumpukkan lumpur yang memenuhi wajahnya membuat ia nyaris berbisik pada dirinya sendiri siapa orang ini.
Wonwoo terkekeh sesaat, meraih air dihadapannya dengan tangkupan kedua telapak tangannya. Membawanya menuju wajahnya. Dingin, hanya hal itu yang dapat dirasakannya. Setelahnya kembali membasuh hingga tumpukkan lumpur yang memenuhi wajahnya menghilang. Mengusap permukaan wajahnya dengan haduk kecil yang sebelumnya diberikan wanita muda yang tidak dikenalnya itu.
.
"Jeon Wonwoo?" Ia mengdongak, menghentikan suapan yang hendak mendarat masuk ke dalam mulutnya. Kembali meletakkan sendok yang berada dalam genggamannya pada permukaan mangkuk berisi bubur itu. Pemuda itu mengangguk, membenarkan panggilan dengan nada tanya dari seorang tentara dihadapannya.
Wonwoo mengetahui betul prajurit yang berada dihadapannya saat ini bukanlah prajurit biasa, itu terlihat dari beberapa tanda kehormatan yang menggantung pada seragamnya yang tampak berbanding terbalik dengan miliknya, begitu bersih. "Ikut dengan ku."
Dan pemuda itu hanya dapat mematuhi perintahnya. Ia hanya tidak ingin mendapat lubang menganga pada dahinya hanya karena menolak ajakan seorang perwira tinggi. Kembali meraih senapan miliknya, mengikuti prajurit itu dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
.
.
"Mingyu, aku dengar Soviet sedang membuat rencana penyerangan. Kau sudah mendapat beritanya?" Pemuda berkulit tan itu menggeleng, masih menjatuhkan pandangannya pada rokok yang tengah terselip dalam jemarinya. "Menurut mu, rencana seperti apa yang akan mereka lakukan?" Ia masih terdiam, sibuk dengan kepulan asap nikotin yang menguar dari dalam mulutnya.
"Ah, ya Tuhan. Berhentilah merokok sebelum kau mati karena benda itu." Mingyu terkekeh, menatap sekilas pemuda yang berdiri di sampingnya itu dari ekor matanya setelahnya kembali menghisap dalam rokok yang berada dalam mulutnya. "Aku tidak peduli dengan rencana penyerangan sampah-sampah Soviet itu."
Chan, tentara yang baru berusia 19 tahun itu mencibir. Ia begitu mengenal dengan baik sosok Kim Mingyu. Seseorang yang menjadi panutannya. "Memang kau tidak takut dengan rencana mereka?" Ujar Chan, meletakkan senapan miliknya pada sisi keduanya.
"Apa yang harus aku takut 'kan?" Balasnya dengan intonasi bertanya. Batangan rokok yang mulai menyempit itu tampak masih terselip pada garis bibirnya. Langit Kota Stalingrad masih tampak pekat di atas sana. "Ya, mungkin saja rencana mereka kali ini sangat besar dan tersusun. Apa kau tidak takut mati?"
"Mati?" Ujarnya pelan. Sejenak pemuda itu terdiam, setelahnya sebuah kurva kembali melintang samar pada bibirnya. Ia terkekeh, membuang putung rokok yang sudah nyaris habis itu. Membuang salivanya sembarang sebelum menjatuhkan pandangannya pada pemuda yang berjarak 2 tahun darinya. "Kematian itu hal pasti, untuk apa mengkhawatirkan hal seperti itu?"
.
Wonwoo terdiam pada posisinya. Ia bersumpah seluruh saraf dalam tubuhnya menegang. Masih menatap dengan pandangan tak percaya pada seorang pria paruh baya yang tengah terduduk pada bangkunya. Pemuda itu menggenggam erat senapan dalam pelukkannya. "Maaf, tapi kenapa harus aku yang melakukannya?"
"Lalu kau pikir siapa lagi? Aku? Atau pemimpin kita, tuan Stalin?" Wonwoo terdiam, merasa seluruh kata-katanya tertahan. Ia masih menatap penuh iba pada pria itu berharap sepercik rasa kasihan menyentuhnya. "Kau hanya tinggal memilih, nak. Mengikuti perintah atau menjadi pecundang." Ujarnya. Iris mata Wonwoo berpindah, menatap pada senjata api yang di sodorkan oleh pria itu padanya.
Wonwoo memahami betul maksud dari hal itu. Ia terjebak dalam dua pilihan untuk menjemput ajalnya, mengikuti perintah lalu mati di tangan tentara sekutu atau mengambil pistol yang di sodorkan padanya dan menembak kepalanya sendiri saat ini juga.
Pemuda itu menelan salivanya sulit, peluh tampak mengalir dari balik poninya. Ia menarik nafasnya dalam, mencoba mencari pilihan yang tepat untuk hidupnya. Dan dengan begitu berat hati Wonwoo mengambil pilihan pertama, setidaknya ia akan mati terhormat untuk negaranya meskipun kisahnya nanti tidak akan diketahui oleh generasi selanjutnya.
"Esok malam, sesuai rencana kau hanya perlu mengikuti perintah komandan mu." Ia hanya terdiam, memandang penuh rasa benci pada pemimpin peletonnya.
.
.
Stalingrad, October 26th 1942 – Wilayah Kekuasaan Jerman
Langit masih tampak begitu pekat diatas sana. Pemuda itu mengendap dengan begitu pelan. Tubuhnya bergetar hebat. Ini adalah kegilaan, seakan mengantar dengan cuma-cuma nyawanya pada malaikat pencabut nyawa.
Wonwoo masih mengendap, berusaha untuk tidak mengganggu puluhan tentara Jerman yang tengah terlelap begitu pulasnya. Jarum jam menunjukkan detiknya yang terus bergerak maju, 02:30. Dan langkahnya terhenti, tepat di hadapan puluhan tentara Jerman yang terlelap.
Pemuda itu menarik nafasnya dalam, sejenak memejamkan kedua matanya. Meraih sebuah bom rakitan yang sebelumnya di serahkan oleh komandannya. Ia nyaris menarik tuas pemicu sebelum moncong dari senjata menempel erat pada kepala belakangnya.
"Letakkan benda itu." Wonwoo terdiam pada posisinya. Masih menggenggam tuas pemicu pada bom di tangannya. "Letakkan atau ku hancurkan kepala mu sekarang juga." Ia menelan salivanya berat. Memutuskan untuk mengikuti perintah seseorang yang mengacungkan moncong senjatanya. "Berbalik perlahan dan angkat kedua tangan mu ke udara."
"Tolong jangan bunuh aku." Ia mencicit, mengangkat tangannya ke udara. Wonwoo masih berdiri pada posisinya dengan tubuh bergetar hebat. "Berputar 'lah." Ujar pemuda yang tengah menodongkan senjat padanya. Perlahan, Wonwoo berbalik mengikuti perintah yang diberikan.
Dan detik selanjutnya yang diketahui pemuda itu hanya kedua iris matanya bertemu pandang dengan sepasang iris mata jernih milik tentara dibelakang tubuhnya. Menguncinya disana, seakan hanya kedua pasang benda itu yang tampak begitu menarik perhatiannya. Ia membuang nafanya perlahan, masih mengangkat kedua tangannya ke udara. "Ku mohon jangan bun.."
Ia terhenyak, nyaris tersungkur akibat tarikan paksa pada pergelangan lengannya. Memaksa langkahnya untuk sejajar dengan pemuda yang berada di depannya. Sesaat memandang bingung pada pemuda itu setelah sepasang kaki jenjangnya berhenti melangkah.
Mingyu, pemuda itu melongok pada sisi bangunan kosong yang berada tak jauh dari barak tempat dimana kelompoknya tengah beristirahat. Setelahnya kembali mengalihkan pandangannya menuju seorang tentara Soviet yang baginya begitu memiliki nyali besar. Menatapnya dari balik tatapan tajamnya. "Kau berniat membunuh?"
Wonwoo tercekat, membuang pandangannya dari Mingyu. Mempererat genggamannya pada bom rakitan yang masih berada dalam tangannya. "Siapa yang memerintah mu?" Nafasnya terasa semakin sulit saat sebelah tangan Mingyu menarik kuat kerah seragamnya. Membuat tatapannya kembali jatuh pada kedua iris mata yang menatapnya tajam.
Ia masih bungkam, hanya menunjukkan raut datar dari garis wajah tegasnya. "Kau ingin bermain dengan ku rupanya." Garis bibir Mingyu terangkat satu sudut, membentuk sebuah seringaian yang begitu tampak angkuh. Pemuda itu melepas kembali cengkramannya, terkekeh sejenak sebelum mengangkat moncong senjatanya kembali. Membidik tepat pada dahi Wonwoo yang masih mematung dengan ekspresi datar di wajahnya.
"Tiga detik, jika kau masih bungkam aku akan menjadi malaikat maut yang mengantar ajal mu." Ujarnya tegas. Menarik kunci pada senapannya, setelahnya meletakkan jari telunjuknya pada pedal senapan. Berbisik hanya untuk menghitung timing yang diberikannya untuk Wonwoo.
"Aku hanya dipaksa, tolong jangan bunuh aku." Itu adalah suara terberat yang pernah singgah dalam indera pendengaran Mingyu. Pemuda itu terdiam sejenak, air wajahnya tampak berubah sesaat. Seakan menemukan sebuah hal langka, Mingyu hanya menatap lurus pada sosok Wonwoo.
"Ku mohon." Bisik Wonwoo kembali yang membuahkan helaan nafas dari balik bibir Mingyu. Pemuda itu menurunkan moncong senjatanya, kembali menyampirkan benda itu pada bahunya. Meraih pergelangan tangan kanan Wonwoo hanya untuk mengambil sebuah bom rakitan yang tergenggam disana.
"Diam lah disini dan jangan melakukan apapun. Aku akan segera kembali." Setelahnya Mingyu beranjak, meninggalkan pemuda itu sendiri. Wonwoo hanya tetap terdiam pada posisinya, merekam tubuh Mingyu yang perlahan menghilang dari jangkauan pandangannya.
.
.
"Aku rasa anak itu tertangkap komandan." Ujar salah seorang prajurit. Ia tampak berdiri dengan begitu tegap dihadapan seorang pria paruh baya yang masih menatap pada peta wilayah Stalingrad. "Apakah kita perlu untuk menyelamatkannya?"
"Tidak, biarkan saja. Anak itu bukan asset berharga." Ujar pria itu tegas. Masih menatap pada peta wilayah yang berada dihadapannya. Ia membuang nafasnya panjang, menyandarkan punggungnya pada bantalan bangku di belakang punggungnya. "Siapkan satu peleton pasukkan, kita akan menyerang Jerman dalam waktu dekat."
.
.
"Berikan seragam mu pada ku." Wonwoo terulur, menyerahkan seragam tentara miliknya yang sudah di lepaskannya pada Mingyu. "Kau adalah Jerman mulai saat ini. Dan jangan pernah menunjukkan bahwa kau adalah seorang Soviet, itu akan menyeret mu pada masalah besar. Kau mengerti?" Ia mengangguk, menunjukkan maksud paham akan ucapan yang dilontarkan oleh Mingyu.
Pemuda tinggi itu beranjak, hendak membakar seragam milik Wonwoo sebelum ucapan dari dalam mulut Wonwoo menghentikan langkahnya. "Terima kasih sudah menyelamatkan ku."
Reply Review :
Nyanyanyanya : hehe kamu sih udah aku bales via pm yak, thanks for review dear :*
Ourwonu : wkwkw, jadai gimana hasil eksplorasi soal Stalingrad-nya dear? keren yak bikin deg-degan gitu. Tp aku justru lebih kearah sedih dibanding ngeri liatnya. Bayangin deh mereka yg hidup jaman itu gimana rasa takut yg mereka alamin :'( soal keajaiban apa yg bakal pertemuin mereka udah keliatan yak di chapter ini xD. keep review dear, and thanks a lot untuk review membangun km :)
Wonuumingyu : haiiii, aku nyapa dulu nih kynya readers baru diff aku xD wah ternyata ada yg tau juga tanpa harus googling dulu yak. Duh seneng dengarnya kalo km ngerasa tertarik buat tau soal Stalingrad sehabis baca ff ini, setidaknya aku udh bawa generasi muda utk tau sejarah xD. thanks utk review sama supportnya yaaa ganbatte!
Aku si jodoh mingyu : haiiii my new readers xD duh km susah nyerna krn bahasanya atau krn jalan ceritanya atau krn pendescribe-an aku dear? mari" biar aku bantu km buat mahamin jln cerita ff aku. anyway thanks udah mau ninggalin jejak yaaa,
Salam,
Crypt14
