Disclaimer: Ada ralat dari chapter 1, Persona 4 © ATLUS, bukan Persona 3. Salah tulis, maaf DX -padahal Ada tokoh P3 juga xP-
Rating: K+ (maybe lol)
Genre: Humor/Mystery
Summary: Naoto adalah seorang detektif ternama. Ia harus menyelesaikan kasus-kasus aneh nan gajebo yang ada di sekitarnya bersama partnernya, Souji. AU ngaco dan abal, R&R?
Warning: Sangat ngaco sekali, gaje, abal, alay, banyak karakter game lain yang numpang lewat, and so on. -digiles-
Mereka bertiga pun sampai di kebun, tempat Takaya nongkrong -digorok Takaya- maksud author tempat Takaya bekerja. Orang yang dimaksud tengah memotong--atau mungkin merapikan semak yang berbetuk seperti pisau kunai(?). Melihat kedatangan tuannya yaitu Yosuke, Takaya langsung ambil posisi hormat senjata(?).
"Siap, pak!!" teriak Takaya dengan penuh kelebayan.
"Aku belum ngomong apa-apa, lo..." kata Yosuke sweatdrop.
"Oh, belum ya?" tanya Takaya oon.
"Ehm, baiklah, Takaya-san, bisa kami menanyai anda beberapa hal?" Naoto berdeham. Wajah Takaya yang tadinya cerah bersinar(?) berubah jadi pucat dan tidak bersinar. -author langsung dilempar pake buntelan kain kafan-
"A—aku... aku... aku!!" tereak Takaya ngulang-ngulang. Semuanya langsung sweatdrop.
"Um, maaf, Takaya-san? Ada apa?" Naoto menanyai dengan penuh ketidakcemasan. -dilindes-
"Aku!! Aku!! AKU!!!" ia terus menerus berteriak. Naoto yang putus asa akhirnya memutuskan bahwa dia tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Kemudian mereka pun menemui sang pembantu, Yuko, namun tidak mendapatkan informasi apa-apa karena orang yang bersangkutan kerjanya cuma berbicara mengenai hal yang sama sekali tidak penting. -digiles-
Setelah lelah berkeliling rumah mencari bukti dan segala macam dan tidak menemukan apa-apa, Naoto memutuskan untuk 'berpindah' tempat.
"Yosuke-san, apakah di waktu perkiraan kejadian ada orang yang datang ke sini?" tanyanya pada Yosuke.
"Hmm... biar kuingat sebentar. Oh, ada! Temanku yang seorang count datang ke sini bersama dengan bodyguard-nya."
"Oh, di manakah dia tinggal?"
"Di jalan Viennetta Blackforest, RT 22 RW 55 kelurahan Sukamaju--maksud saya kelurahan Sukalari nomor XXIII."
Apaan tuh kelurahan Sukalari? Pikir Naoto. Tau juga Sukamaju.
"Nama jalan yang kedengarannya enak, ya. Setauku Viennetta Blackforest itu nama es krim, deh," ujar Souji. "Apa kita ke sana sekarang, Naoto?"
"Tentu saja ya. Akan kuselesaikan kasus ini secepat mungkin biar bisa cepat pulang dan tidur," kata Naoto bersemangat.
Bilang aja males, pikir Yosuke sarkastis. Ia kemudian melambai dan mengucapkan 'selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan' kepada dua orang yang kini tengah dalam perjalanan mereka menuju rumah sang count.
Naoto dan Souji melongo begitu sampai di rumah yang dimaksud karena rumahnya besaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar dan luaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaas. *apaan sih, author lebay banget*
"Maaf, mencari siapa, ya?" tanya seorang pelayan yang kebetulan lewat atau memang bertugas nungguin di depan pintu author juga nggak tau.
"Oh, maaf, bisa kami bertemu dengan pemilik... ehm, 'rumah' ini?" tanya Naoto sopan. Aku pengen nyebut ini sebagai kastil...
"Baiklah, sebentar akan saya panggilkan." Kemudian sang pelayan menghilang ke dalam rumah... maksud author kastil itu. Tak berapa lama kemudian, muncul seorang pemuda berambut emas--atau blond mungkin--dengan mengenakan pakaian yang berwarna abu-abu kayak orang mau kawinan. -author langsung di-Moonlight Tempest ama Guy-
"Ada perlu apa?" katanya sopan kepada kedua orang yang ada di hadapannya.
"Ehm, kami ke sini dalam rangka penyelidikan kami mengenai terbunuhnya Teddie di kediaman Hanamura. Saya Naoto Shirogane, detektif. Ini 'partner' saya Souji Seta. Bisa kami tahu nama anda?"
"Nama? Gailardia Galan Gardios Cecil."
Buseet, nama apa nama, tuh? Panjang banget, pikir Naoto. Souji menyalami Gailardia dengan mulus(?) dan ketika Naoto hendak melakukan hal yang sama, orangnya malah mundur 5 langkah.
"Eeh, Gailardia-san?"
"M-maaf, aku... punya phobia terhadap wanita..."
Wih, hebat juga dia bisa tau kalo Naoto itu cewek, pikir Souji takjub(?). Mungkin perasaan takut yang amat sangat terhadap wanita membuat orang ini bisa mengenali cowok jadi-jadian seperti Naoto... jahat sekali.
"Oh, baiklah kalau begitu, saya akan menjaga jarak," kata Naoto sambil sweatdrop. "Ehm, menurut informasi yang saya terima, di waktu perkiraan kejadian anda datang ke kediaman Hanamura bersama dengan bodyguard anda. Apakah itu benar?" Gailarda tampak berpikir sejenak dan kemudian mengangguk.
"Hmm. Aku memang datang ke sana."
"Apa saja yang anda lakukan di sana?"
"Aku cuma mengantarkan buku yang kupinjam minggu lalu."
"Bagaimana dengan bodyguard anda? Apakah dia terus menerus bersama anda?"
"Tidak, kami sempat terpisah selama sekitar 10 menitan."
Naoto terdiam sebentar dan kemudian menunjukkan senyum kemenangan.
"Kurasa aku tau kenyataannya... bisa kami menemui bodyguard anda?"
"Tentu saja."
Gailardia kemudian mengajak mereka ke belakang rumah dan setelah melewati perjalanan panjang(?) itu mereka pun bertemu dengan sang bodyguard.
"Vahn, ada yang ingin bertemu denganmu," Gailardia menepuk pundak bodyguard-nya. Kemudian Naoto mendekati sang bodyguard berambut biru tersebut.
"Vahn-san, apa yang anda lakukan ketika anda terpisah selama sekitar 10 menit dari Gailardia-san?"
"Saya diam saja."
"Boong. Ngaku aja deh." itu Souji. Tampaknya dia juga sudah mengetahuinya. Vahn langsung berkeringat dingin.
"Ngaku apaan?"
"Bahwa kaulah pelaku yang membunuh Teddie-san."
Vahn terdiam, dan kemudian jatuh berlutut dengan super mendramatisir alias lebay.
"Darimana.... kau mengetahuinya?"
"Dari barang bukti yang tertinggal di dekat lokasi kejadian."
Sekali lagi Vahn speechless. Dia tidak bisa mengelak ketika Naoto menunjukkan barang bukti berupa besi berbercak darah yang ia dan Souji temukan waktu itu. Ya, itu memang bagian dari senjata yang dipakainya untuk membunuh Teddie.
"Kalau sidik jari yang ada di sini diperiksa, pasti terbukti."
Vahn meninju lantai tempatnya berpijak, menunjukkan bahwa ia kesal.
"Mengapa kau membunuhnya?" tanya Gailardia bingung. "Dia kan... erm, 'teman'mu?"
"Dia bukan temanku," kata Vahn sinis. (halah) "Dia cuma maskot tidak berguna, dan dia... DIA MENCURI RA-SERU-KU!!" Vahn ngamuk. Gailardia kaget. (ngaco euy)
"Hah?! Bagaimana bisa?!"
"Ketika aku lengah, dia mengambilnya. Entah bagaimana dia bisa mencopotnya dari tanganku... jadi ketika kau mengajakku ke tempatnya, aku langsung merencanakan pembunuhan ini."
Souji eswete. Gitu aja kok dibunuh?
"Tapi... mengapa dia mati dengan posisi seperti itu?" tanya Naoto sambil menunjukkan foto mayat.
"Huh. Dia dengan polosnya percaya ketika aku berkata aku hendak memotretnya."
Souji dan Gailardia eswete. Terlalu polos, pikir keduanya. Akhirnya Vahn pun ditangkap atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana.
"Terimakasih atas bantuannya, Gailardia-san," kata Naoto pada Gailardia.
"Hm? Tidak masalah, lagipula... aku merasa aku tidak melakukan apa-apa..." sambil sweatdrop.
"Pokoknya, terimakasih banyak," Naoto membungkuk hormat ke arahnya, dan kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tapi tentu saja Gailardia-nya lari.
"Ups, aku lupa..."
~TBC?~
Huahahahahahahaha!! Satu kasus selesaai!! Saya menerima request kasus dari anda para readers sekalian untuk dituliskan ke dalam cerita ini~! -digorok- Oh, btw, Guy ama Vahn-nya OOC yak? :D (semuanya juga) Guy adalah char fav saya xDD *gapenting, oh yeah*
Disclaimer~
Naoto, Souji, Yosuke, Teddie, Takaya, and Yuko from Persona 3 & 4 are belong to ATLUS
Gailardia a.k.a Guy from Tales of the Abyss is belongs to BANDAI NAMCO
Vahn and his Ra-Seru from Legend of Legaia are belong to Contrail
Viennetta Blackforest is belongs to Walls :P -dilindes-
The maid who called Gailardia is mine -dibunuh-
Ja, see ya next time! xD -digusur-
