Maylene's Love Story

Disclaimer :

Yana Toboso – sensei

Pairing :

Maylene x Edward, Maylene x Agni

Genre :

Romance, Drama

Warning : TYPO, OOC, gaje, lebay, dan sejenisnya. Alur kecepetan dan segudang kelemahan lainnya.

DON'T LIKE DON'T READ!

CHAPTER 2 :

Sebelumnya...

"Bagaimana kalau kau bertingkah melayaniku di depan keluarga Midford saja? Saat kita berdua saja, baru tidak ada perbedaan derajat di antara kita! Dengan kata lain, Edward akan kuanggap sebagai sahabatku! Ma.. mau tidak? " Tanya Maylene dengan antusias di awal, dan ragu di akhir. Edward tersenyum mendengar tawaran Maylene. Tak disangka anak ini tidak menjadi lady yang angkuh dan suka memerintah. Edwar pikir Maylene akan menjadi lady menyebalkan yang hobi menyuruh-nyuruh Edward nantinya, mengingat perlakuan kepadanya di masa lalu.

"Oke." Edward pun menyetujui dan lahirlah kesepakatan di antara mereka. *undangan aqiqah siap disebar* lho?

"Oh iya, berhubung ini dulunya adalah kamar Edward, bagaimana kalau kau juga tidur di kamar ini? Tempat tidurmu juga kan nyaman sekali,lho. King size. Tidak mungkin kau ingin meninggalkannya kan?" Tawaran Maylene yang kedua ini mengagetkan Edward. Tidur sekamar dengannya? Apa cewek ini gila? Di kamar ini hanya ada satu ranjang! Dengan memintanya tidur sekamar tentu itu sama pula artinya dengan meminta tidur satu ranjang! Batin Edward yang blushing sekaligus awkward di tempat.


"Hei, Maylene! Kayaknya kamu udah gila, ya? Kita ini berbeda gender? Kau ingin kita tidur satu ranjang, hah? Kau mau melakukan apa terhadapku? " Sahut Edward yang masih bertahan dengan blushingnya. Edward berteriak-teriak marah seolah ia akan diperkosa oleh Maylene.

"Uph... Ma.. maafkan saya, tuan... Ternyata reaksi anda di luar dugaan saya... Uph.. Bo.. bolehkah saya tertawa? " Tanya Maylene yang ternyata hanya mengerjai Edward sambil mati-matian menahan tawa.

"ENGGAK! SIALAN! TERNYATA DARI TADI KAU MENGERJAIKU! " Teriak Edward lagi, kali ini mukanya merah karena marah. Harga dirinya masih nggak terima dikerjain sama mantan pelayan itu. Edward lalu pergi meninggalkan Maylene yang sedang merasa tidak enak hati itu sendirian di bekas kamarnya sambil membanting pintu.

Kini, Edward tengah berbaring di atas kasurnya yang baru, di kamar yang baru pula. Tepatnya, kamar pelayan yang berada TEPAT di samping kamar majikan barunya itu. Ia masih merasa sangat kesal karena mantan pelayan itu berani mengerjainya sekaligus mempermalukannya. Untung nggak di depan ibu, batin Edward.

KRUYUK KRUYUK...

Suara perut Edward yang menandakan bahwa waktu jam makan siang telah tiba itu berbunyi dengan keras. Dengan malas, Edward bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Tepat saat Edward membuka pintu kamarnya, Maylene tengah berdiri tepat di hadapannya dengan wajah tersenyum. Edward blushing seketika. Ia tak pernah melihat senyum semanis dan setulus itu dari seorang wanita sebelumnya (kecuali dari Lizzie, secara, Lizzie kan MANTAN ADEKNYA *ditebas Ed*).

"Saatnya makan siang, E.. Ed.. Edw..ward..." Sapa Maylene dengan agak ragu karena belum terbiasa memanggil nama Edward secara langsung. Ekspresi Edward pun kembali seperti semula. Datar dan kesal.

"Huh! Ya sudah! Ayo ke ruang makan! Kuharap George memasak makanan kesukaanku siang ini. Agar kekesalanku ini cepat lenyap. Ah.. kayaknya sama Tropical Juice boleh juga, panas banget siang ini... " Gumam Edward yang diikuti Maylene dari belakang. Pemandangan ini cukup aneh sebenarnya. Sang majikan yang lemah lembut mengikuti sang butler sombong seakan-akan dialah pelayannya. Beradaptasi itu memang tidak mudah. Apalagi untuk Edward.

Tetapi, Marchioness terkaget (singkatan dari terlonjak kaget) melihat pemandangan itu. Seketika, meledaklah amarahnya. Ia mendatangi Edward dan menghalangi jalan masuknya ke ruang makan. Edward ikutan terkaget karena tindakan ibunya, eh.. MANTAN IBUNYA tersebut. (Author dicincang Edward)

"Edward! Kenapa kau berjalan dengan angkuh di depan Maylene! Maylene itu majikanmu! Minta maaf padanya! " Bentak Marchioness kepada Edward. Edward meringis kesal dan segera menyadari posisi barunya di rumah itu, BUTLER MAYLENE. Dengan berat hati, Edward pun meminta maaf kepada Maylene dan tentu saja Maylene memaafkannya. Karena pada dasarnya Maylene tidak merasa dirugikan atau tersakiti oleh Edward. Tapi, Marchioness belum menunjukkan senyum puasnya.

"Maylene! Kau juga! Edward ini adalah butlermu! Jadi, biasakanlah untuk menegurnya saat ia bersikap semacam ini lagi! " Tegas Marchioness kepada Maylene. Maylene hanya mengangguk pasrah.

"Ibu... Aku sudah lapar... tapi... mengapa tidak ada satu pun makanan terhidang di meja makan... ?" Rengek Elizabeth yang muncul dari ruang makan. Lalu, terlihatlah meja makan yang bersih tanpa ada benda apapun di atasnya.

"Lho? Memangnya si George tidak memasak? Kemana dia? Melalaikan tugas? Dasar butler nggak bener! " Edward mencaci maki George yang biasanya menghidangkan masakan (butler lama keluarga Midford). Marchioness menatap Edward tajam.

"Kau tidak sadar apa yang kau ucapkan Edward? Kau mencaci maki George!" Marchioness memarahi Edward, lagi.

"And then?" Tanya Edward nyolot dengan gaya anak sekarang. Edward mulai berani menantang Marchioness karena tau Marchioness bukan ibu kandungnya. Tapi, kayaknya dia lupa kalo dia turun kasta, dan menantang Marchioness yang sekarang jadi emak majikannya itu sama aja dengan melompat masuk ke mulut singa yang lapar.

"GEORGE ITU BAPAK LOE BEGOOOOO!" Jerit Marchioness marah DI DALAM HATINYA. Tentu saja semarah-marahnya Marchioness , ia tidak akan melontarkan kata-kata kasar seperti yang ia jeritkan dalam hatinya. Ia pun sedikit menenangkan dirinya dengan mengelus dada, dan berkata setegas mungkin.

"George itu ayah kandungmu, Edward. Jadi, kau tidak pantas mencaci maki dirinya." Kata-kata Marchioness barusan benar-benar membuat hati Edward JLEB (shocking maksudnya...). George yang selama ini gue suruh–suruh? George yang udah sering gue bentak-bentak? George yang selama ini ngelatih gue jadi pemain pedang handal? George yang selama ini jadi tempat curcol gue? George yang selama ini... (dan seterusnya... =v=) batin Edward shock. Entah dia merasa tidak enak pada George atas apa yang telah ia perbuat di masa lalu padanya, atau rasa kesal karena nggak mau disamain sama butler (padahal sekarang dia butler juga).

"Aa... karena George tidak ada, kau saja yang masak, Edward! Aku ingin mencoba masakanmu! Kau kan anaknya George, jadi kuharap rasa masakanmu tidak jauh berbeda dengan George. Masakan George enak sekali~!" Perintah Elizabeth dengan santainya. Sementara Edward melongo kaget. Adik perempuan satu-satunya itu (MANTAN ADEK, EDWARD, MANTAN! Author mengingatkan.) bersikap seakan sudah melupakan statusnya di masa lalu. Seakan Edward memang butler mereka sejak awal. Adik perempuannya yang manis itu... menganggapnya bukan siapapun...

" Ah, kuharap begitu juga. Ayo Lizzie, Maylene, kembali duduk ke meja makan. Biarkan Edward bekerja di dapur sendirian. Alex sedang dinas keluar, sekarang." Titah Marchioness sambil mendorong Lizzie dan Maylene ke meja makan. Maylene merasa iba melihat Edward yang panik karena tidak pernah memasak sebelumnya.

" Ma.. maaf.. Ibu.. a.. kurasa.. gaun yang kupakai ini agak panas. Mungkin aku sedikit berkeringat sehabis jalan-jalan tadi... Bolehkah aku mengganti gaunku dahulu seraya menunggu makan siang siap?" Maylene meminta izin dengan sesopan mungkin kepada Marchioness. Sebenarnya ia ingin membantu Edward memasak biarpun ia tidak terlalu handal.

"Wah, tentu boleh!" Jawab Marchioness antusias. Ia merasa senang karena Maylene memanggilnya ibu, sekarang. Rupanya Maylene sudah bisa sedikit beradaptasi dan mengakuiku sebagai ibu kandungnya, batin Marchioness, agak terharu. Tetapi Elizabeth memandang Maylene dengan tatapan tidak suka. Elizabeth curiga kalau Maylene ternyata akan membantu Edward, bukan mengganti gaunnya. Apalagi ia juga masih merasa sedikit tidak rela jika Maylene memanggil Marchioness dengan ibu. Elizabeth masih belum terbiasa dengan hadirnya Maylene sebagai saudarinya.

"Ibu.. kurasa Maylene akan membantu Edward di dapur, dan bukan mengganti gaunnya!" Bisik Elizabeth di dekat telinga Marchioness. Tiba-tiba Marchioness tersenyum lembut. Senyum yang sangat jarang Elizabeth lihat, senyum yang menyiratkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

"Biarlah Maylene membantu Edward. Sekali ini kumaafkan. Lagipula, anak itu sama sekali tidak bisa memasak. Entah apa yang akan dia buat untuk kita makan, siang ini, jika tidak dibantu Maylene " Marchioness menanggapinya dengan santai. Elizabeth pun merengut. Lagi-lagi ibu membela Maylene! Batin Elizabeth kesal. Padahal, Marchioness sebenarnya masih merasa sayang kepada Edward yang merupakan mantan anaknya, dan bukan bermaksud membela Maylene.

Mencium gelagat tidak baik dari batin Elizabeth, Marchioness pun mengusap-usap rambut Elizabeth, dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Semua ke-iri-an Elizabeth pun luntur. Elizabeth memeluk balik ibunya itu dengan penuh kasih juga.

"Lizzie, kau tetap lady terbaik ibu! Ibu sangat menyayangimu, bahkan melebihi Maylene!" Ucap Marchioness lembut. Elizabeth pun tersenyum malu-malu, karena ternyata ibunya telah mengetahui isi hatinya.

"Baik, ibu. Aku mengerti.. Lagipula, aku sudah berumur enam belas tahun, sekarang. Sudah tidak pantas bersikap manja seperti ini. Aduh.. aku sangat memalukan... " Elizabeth menutupi wajahnya yang memerah karena malu.

"Sesekali tidak ada salahnya, kan? Hal ini menandakan bahwa kau masih menyayangi keluargamu, Lizzie. Jadilah lady yang baik dan mandiri, Lizzie. Ciel sangat beruntung memilikimu sebagai tunangannya." Marchioness sedikit menggoda Elizabeth, dan wajah Elizabeth semakin memerah karenanya!


Dapur kediaman keluarga Midford

"Edward..." Panggil Maylene lembut seraya membuka pintu dapur dengan perlahan. Tampak sosok Edward yang tengah merenung di depan kompor. Ia menyadari kehadiran Maylene dan menatapnya sendu.

"Maylene.. Aku...aku... sekarang sudah menyadari siapa diriku... Selama ini aku selalu dibalut kesombongan sehingga tidak mau mengakui takdirku. Aku.. minta maaf atas semua kesombonganku, Maylene. Aku bertekad akan beradaptasi secepatnya dengan nasibku ini, dan sungguh-sungguh melayani dirimu..." Ucap Edward lirih. Maylene pun menatapnya dengan lembut dan berjalan pelan ke hadapan Edward. Ia duduk di samping Edward sambil menepuk punggungnya pelan.

"Ya sudah, yang penting sekarang bagaimana dengan makan siang Marchioness dan Elizabeth? Apa kau bisa memasak?" Tanya Maylene lembut. Edward menggeleng lemah. Ia tidak pernah memasak apapun sebelumnya.

"Hmm.. Susah juga.. Bagaimanapun aku ini mantan maid, bukan chef.. Apa yang sederhana tapi cocok untuk makan siang bangsawan, ya? " Gumam Maylene sambil mondar mandir kayak setrikaan. Lagi-lagi Edward menggeleng lemah karena ia yang mantan bangsawan itu belum pernah makan sesuatu yang sederhana di waktu makan siangnya.

"Maaf aku tidak dapat membantumu, Maylene.. " Ucap Edward lirih. Maylene hanya tersenyum mendengarnya, lalu memikirkan menu makan siang Marchioness lagi.

"Oh iya, bagaimana kalau menu makan siang jepang? Bento! Aku bisa membuatnya! Dulu, Tanaka pernah mengajariku!" Ujar Maylene kesenangan. Edward cengo di tempat mendengar kata 'bento'. kata itu terasa asing di telinganya. Tapi, itu menu jepang, kan? Terlalu sering makan masakan jepang, ibu takkan suka, mengingat kemarin ia baru saja melahap masakan jepang, batin Edward.

"Ano.. Maylene.. Kurasa kalau terlalu sering disajikan masakan jepang, ibu takkan suka..." Edward mencoba memberi saran. Tapi, Maylene menatapnya tajam. Tanpa kacamata. Sejak menjadi lady memang Maylene tidak memakai kacamata, melainkan contact lens.

"Edward, waktu makan siang sudah lewat setengah jam yang lalu. Kalau terlalu banyak berpikir takkan menghasilkan apapun! Yang bisa kubuat hanya bento yang cocok untuk makan siang dan ... Ahhhh! Udangnya tidak ada! Berarti tanpa ebi furai! " Maylene membantah saran Edward seraya mengacak-acak kulkas.

KRIET..

Tiba-tiba pintu terbuka dan..

Jreeengg...

Muncullah sosok Agni dari balik pintu dapur...

"Halo.. May..lene? Kok kau ada disini dan.. Anda tuan Edward bukan? Untuk apa anda berada di dapur? Berdua dengan Maylene pula.." Tatapan Agni yang semula ramah tiba-tiba berubah sinis ketika mengucap kalimat 'berdua dengan Maylene' itu. Lalu Maylene yang sudah kenal dengan Agni pun menceritakan alasan mengapa mereka bisa ada di dapur kediaman keluarga Midford tersebut. Dari awal sekali. Lalu Agni memberi respon dengan mengangguk-anggukan kepalanya. Sementara Edward yang sedari tadi hanya bengong melihat keakraban Maylene dan Agni itu mulai merasa ada sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hatinya. Ia merasa tidak senang akan kedekatan Maylene dengan Agni. Jantungnya berdetak semakin lama semakin cepat melihat Maylene yang tersenyum manis saat berinteraksi dengan Agni. Antara kesal, dan terpesona melihat senyum manis gadis berambut merah tersebut.

"Baiklah aku akan bantu kalian. Semoga ada bumbu dapur untuk meracik kare ayam. Untuk menyesuaikan dengan selera orang inggris, kurasa lebih baik dicampur coklat dari perusahaan tuan Ciel kali, ya.. Seperti cara Sebastian waktu itu (lihat black butler vol.5)." Agni bergumam sambil memikirkan campuran bumbu yang pas untuk selera Marchioness. Maylene pun berusaha mencari-cari bumbu kare di tempat penyimpanan bumbu. Tapi, tempatnya terlampau tinggi untuk dijangkau Maylene. Maylene berjinjit-jinjit untuk mencoba memeriksa isi bumbunya, tetapi ia tidak dapat meraihnya juga.

Edward yang melihatnya baru saja akan bangkit untuk menolong Maylene, tapi ia keduluan oleh Agni. Agni mengangkat tubuh Maylene sedikit ke atas agar ia dapat menjangkau tempat bumbu tersebut dengan cara mengangkat pinggul Maylene. Maylene yang saat itu sudah mengambil tempat bumbu, merasa geli karena sentuhan Agni di pinggulnya. Karena Maylene sudah tidak tahan geli, ia pun menggeliat dan menghasilkan ketidakseimbangan tubuhnya yang akhirnya jatuh bersama Agni. Tentu saja dengan pose tubuh Maylene di atas Agni. Entah kenapa, wajah Agni yang hanya berjarak beberapa centimeter dari bibir pink Maylene langsung blushing. Sementara Maylene sendiri masih dalam keadaan kaget karena tiba-tiba jatuh. Dan entah kenapa lagi, Agni merasa sangat ingin mengecup bibir pink Maylene yang sungguh menggoda imannya itu. Ia tidak pernah berhubungan dengan wanita sebelumnya, tetapi ia pernah penasaran dengan 'french kiss' ciuman ala prancis yang sangat bergairah. Ciuman itu tentu hanya bisa dilakukan dengan orang yang di cintai, kan? Agni berpikir orang tersebut adalah Maylene, dan detik itu juga Agni mendekatkan bibirnya untuk melumat habis bibir lembut Maylene.

"Kau tidak apa-apa, Maylene? Kubantu kau berdiri..." Edward yang tiba-tiba datang dan mengulurkan tangannya untuk membantu Maylene berdiri. Maylene menyambut tangan Edward dengan senang hati.

"Terima kasih, Edward..." Maylene berterima kasih pada Edward sambil tersenyum manis. Dan bibir Maylene pun menjauh digantikan dengan tatapan sinis Edward pada Agni.

"Ma.. Maafkan aku, Agni.. A.. Aku.. Tadi tidak sengaja menggeliat soalnya aku tidak tahan geli... Saat Agni mengangkat pinggulku.." Maylene meminta maaf sambil blushing mengingat Agni tadi memegang pinggulnya. Agni tersenyum ramah lagi saat melihat wajah blushing Maylene yang kawaii.

"Harusnya aku yang meminta maaf... Dengan lancang aku menyentih dirimu padahal status anda sekarang adalah lady, bukan? Nona Maylene? " Agni pun meminta maaf kembali pada Maylene.

"Ya.. Ya.. Ya.. Cukup lebarannya! Ayo cepetan masak deh!" Tegur Edward yang jealous melihat mereka berdua. Agni pun mengambil bumbu kare (bukan bubuk lho) dari tangan Maylene dan mulai mengatur komposisinya untuk membuat kare 6 porsi. Untuk Marchioness, Elizabeth, Majikannya, Pangeran Soma, Maylene, dirinya sendiri dan Edward. Maylene sudah siap siaga di samping Agni untuk membantunya memasak. Edward yang sudah bertekad tak akan membiarkan Agni dekat dengan Maylene lagi setelah kejadian 'hampir' berciuman itu pun langsung mengambil alih posisi Maylene.

"Maylene, kau kan lady, bagaimana kalau kau istirahat saja di kursi? Atau kembali saja ke ruang makan?" Edward menawarkan dengan nada yang menjanjikan seolah ia profesional di bidang itu.

"Ah, ya! Tadi aku.. Eh.. Saya datang bersama Pangeran ke sini, jadi Pangeran Soma sedang bersama Nyonya Francis dan Nona Elizabeth di ruang makan. Silakan anda bergabung dengan mereka, Nona Maylene..." Timpal Agni dengan nada seorang butler profesional. Kalau begini, Maylene kayak kelihatan punya 2 butler ya? Edward terlihat seperti seorang butler yang nyolotnya nauzubilah, tukang ngeyel, belagu lagi! Sementara Agni terlihat seperti seorang butler profesional yang pantas melayani Maylene. (Dimutilasi Edward FC).

Tapi Edward kan emang pada dasarnya bukan butler, ya kan readers? (Dibetulin lagi sama Edward FC)

"Baiklah. Selamat bekerja ya, Agni, Edward. Maaf aku tidak dapat membantu kalian, karena kalau terlalu lama nanti ibu akan tau soal kebohonganku " setelah itu Maylene pun melambaikan tangan sambil tersenyum. Tak lama kemudian, sosoknya pun hilang dari dapur.

Setelah Agni merasa Maylene sudah cukup jauh dari dapur, ia pun menghampiri Edward yang sedang menyiapkan perabotan makan. Edward tersentak kaget karena Agni menepuk bahunya cukup keras secara tiba-tiba.

"Kau menyukainya, Edward?" Tanya Agni dengan nada tajam. Edward hanya menatapnya dengan sedikit kesal karena butler itu berani menepuknya sekeras itu (rupanya harga dirinya sebagai bangsawan belum ia hilangkan!), tapi ia, dengan segera, terkekeh ringan.

"Maksudmu Maylene? Tentu saja tidak! Apalagi sekarang dia majikanku, kan? Meski berat aku mengakuinya, huh! Kalau mendengar nada bicaramu sepertinya kau menyukainya, Agni." Jawab Edward se-santai mungkin. Sebenarnya ia kadang agak deg-degan juga melihat tampilan baru Maylene dan sikap Maylene yang baik terhadapnya, mengingat sekarang tak seorang pun memedulikannya kecuali Maylene. Ia baru pertama kali melihat Maylene membuka kacamatanya dengan rambut yang terurai itu. Apalagi gaun lady pilihan Elizabeth membuatnya tak tampak suram lagi. Senyum manisnya juga, sering membuat Edward akhir-akhir ini merasa jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Namun, Edward terus memberilan sugesti kepada otaknya bahwa perasaannya kepada Maylene itu bukan cinta. Dengan kata lain, Edward tak ingin dirinya jatuh cinta kepada Maylene. Entah kenapa. Mungkin karena statusnya yang sekarang menjadi majikan Edward, begitu pikir Edward.

"Wah berarti gangguan-gangguanmu tadi itu hanya sebatas 'pengaman' terhadap majikanmu, ya?" Tanya Agni yang berpikiran positif lagi untuk memastikan.

"Sebenarnya bukan pengaman, tapi lebih ke menjunjung aturan kali, ya? Kau sadar diri sedikit! Kau ini hanya seorang butler! Biarpun Maylene bukan majikanmu, tetap saja cinta antara seorang lady dan butler itu tidak satu kasta. Tidak pantas! Kau jangan harap Nyonya Francis akan merestui cintamu kepada Maylene! Ibu itu orang yang sangat menjunjung aturan!" Tegas Edward dengan berapi-api. Agni tersentak mendengar kata 'ibu' di ucapkan.

"Kau masih belum bisa lepas dengan sapaan 'ibu' kepada Nyonya Francis, ya? Yah, kumaklumi hal itu memang cukup berat. Turun kasta itu memang sangat mengecewakan. Aku tidak bisa membayangkan aku bakal jadi apa kalau turun kasta. Memang apa yang lebih rendah dari butler?" Mendengar argumen Agni barusan, Edward tergelak. Tertawanya lepas. Ternyata Agni itu orangnya asik juga, pikir Edward.

"Hahaha.. Kau benar, Agni..! Yosh! Kayaknya kare ayamnya sudah matang! Biar aku yang angkat! Sekalian latihan!" Seru Edward seraya mematikan api dan mengangkat panci besar yang berisi kare itu sendirian.

"Biar kubantu, Edward! Ini pasti berat! Jika kita angkat berdua akan lebih baik!" Agni pun membantu Edward mengangkat panci dan meletakkannya di meja makanan.

#

Edward yang terpana karena mendapat perlakuan ramah dari Agni pun menatap pria tampan berkulit coklat itu dengan penuh harapan.

"Agni.. Tidak kusangka.. Kau begitu ramah dan baik.." Ucap Edward yang sekarang berwajah kemerahan karena malu.

"Ah.. Tidak juga.. Kau juga baik kok Edward.. Apalagi.. Kau itu.. Ternyata cukup tampan ya.. " Balas Agni dengan wajah yang mulai kemerahan juga karena malu. Edward tersentak dan wajahnya semakin merah saja karena pujian Agni. Ia memberanikan diri untuk menatap Agni lebih dekat.

"K..kau juga tampan.. Dan.. Kau atletis sekali, Agni. Kulit coklatmu itu membuatmu tampak terlihat jantan.. Lalu.. Ah.. Di mulutmu ada kare! " Seru Edward tiba-tiba sambil menunjuk ke arah bibir Agni. Agni baru saja akan mengelap kare di dekat bibirnya, sesuai yang ditunjuk Edward, tapi sebelum itu terjadi, Edward sudah berjinjit (mengingat Agni bahkan lebih tinggi dari Sebastian) dan menjilati kare di bibir Agni. Agni yang terangsang akan perlakuan Edward lalu...

#

Eh?

Ups.. Kok Author tiba-tiba jadi menulis cerita yaoi, ya? #sengaja

Oke, bagi yang gasuka yaoi atau nggak kuat baca yaoi (padahal sendirinya enggak) silakan abaikan tulisan yang dikasi tanda pager yah... *pasti udah pada keburu baca, deh*

Kekekeke... *evil laugh a la Akuma Yoichi*

Readers : "ih sumpah ini author ganggu banget ya, lagi seru-serunya baca yaoi, eh, lagi seru-serunya malah dikasi yang main-main kayak yaoi. Kan cerita ini nggak ada unsur yaoi-nya!"

Author : nah itu ada selingan yaoi-nya.. (Dipukulin readers)

Lanjut..

Nah sementara kedua cowok ganteng author itu (dicabik-cabik Ed FC sama Agni FC) sibuk menyiapkan kare, kita intip apa yang dilakukan Maylene, yuk!

Readers : ngintip-ngintip entar bintitan lho, yuki..

Author : ih readers ganggu, ye! Tadi ribut minta lanjutin!

Readers : yang nulis komen beginian kan elu, yuki..! Udah cepetan lanjut!

Author : segitu kepinginnya aku lanjutin? *terharu*

Readers : *bersiap ngelempar asbak yang gatau dapetnya darimana*

Lanjut.. (Beneran)

Maylene pun mengikuti saran Agni dan Edward untuk kembali ke ruang makan. Tak lupa ia melaksanakan alasannya kepada Marchioness tadi untuk mengganti gaunnya, agar Marchioness tak mengetahui apa yang sebenarnya barusan ia lakukan. Dalam hitungan lima belas menit saja, Maylene sudah berada di ruang makan dan ia melihat Marchioness, Elizabeth, dan Pangeran Soma yang sedang tertawa riang gembira.

"Ah! Ini tokoh utamanya datang! Maylene!" Pekik Marchioness dengan antusias. Maylene memandangnya dengan heran. Tokoh utama? aku? apa ada hubungannya dengan kedatangan Pangeran Soma? tanya Maylene dalam hatinya.

Maylene pun mendekati Pangeran Soma dan memberi salam dengan gaya lady yang diajarkan ibu barunya semalam. Maylene jadi manis, ya, kalau berdandan ala lady inggris! batin Soma yang sempat terpesona dengan Maylene. Soma pun membalasnya dengan gayanya sendiri, gaya India (nggak tau deh gimana). Setelah sesi salam-salaman itu selesai, Maylene duduk di antara Marchioness dan Elizabeth. Sementara Soma sendiri duduk di hadapan Maylene.

"Sebenarnya apa maksud Marchioness mengundang saya ke kediaman keluarga Midford ini?" Tanya Soma yang langsung masuk kepada intinya.

"Begini, Pangeran Soma, saya mengundang pangeran ke sini untuk memberitahukan hasil perundingan saya dan keluarga pangeran di India tadi malam.." Ujar Marchioness lirih (oh iya anggap aja di zaman ini telepon udah jadi, ya, hehehe). Soma dan Maylene pun saling menatap kebingungan. Apalagi Soma. Dia baru tau kalau ternyata Marchioness mengenal ayah dan ibunya.

"Perundingan soal apa, ibu?" Tanya Maylene dengan nada yang sopan. Marchioness tersenyum mendengar sapaan 'ibu' yang keluar dari mulut Maylene itu.

"Soal perjodohanmu dengan Soma. Karena kalian berdua sudah cukup umur, sekarang, maka kalian tidak perlu tunangan segala. Langsung menikah saja." Jawab Marchioness santai. Tentu saja, baik Maylene maupun Soma "ber-HAH-ria" dengan heboh.

"APAAA? NIKAH? T..tapi aku baru dua puluh tahun dan.. Bukankah Maylene juga lebih tua dariku?" Soma berusaha mengajukan protes dengan sehalus mungkin.

"I..iya lagipula kami juga belum terlalu dekat, ibu.. Tidak ada rasa cinta di antara kami berdua.. " Bantah Maylene juga. Marchioness pun memaklumi ucapan Maylene. Yah.. Dia juga kan tidak ingin, ya tiba-tiba harus menikah dengan orang yang belum ia kenal benar.

"Hmm.. Baiklah.. Kalau begitu akrabkanlah diri kalian berdua.." Tepat setelah Marchioness menyelesaikan kalimatnya, Agni datang dengan membawa kare untuk makan siang keempat bangsawan yang tengah berunding di ruang makan itu, dengan Edward di belakangnya yang membawa empat gelas jus buah tropis.

"Hidangan telah siap, silakan di nikmati... " Edward mempersilakan keempat bangsawan tsb. menikmati hidangan yang telah dibuatnya bersama Agni.

Dan akhirnya kunjungan Soma pun berakhir dengan selesainya makan siang. Soma ingin secepatnya berdiskusi dengan Ciel akan pernikahannya dengan Maylene itu. Padahal Soma empat tahun lebih tua dari Ciel, tapi beginilah ia, childish.

#Manor House, kediaman keluarga Phantomhive

"Ciel!" Kata itulah kata sambutan pertama Soma begitu Sebastian membukakan pintu Manor House. Sebastian hanya menanggapi dengan senyum khasnya.

"Pangeran Soma, jika ada yang ingin di bicarakan dengan tuan muda, silakan ke halaman belakang. Mari di bicarakan sekalian afternoon tea. Sekarang sudah pukul empat, lho." Sebastian mengingatkan dengan ramah. Tanpa ba-bi-bu lagi, Soma dan Agni pun melesat ke halaman belakang tempat Ciel sedang ber-afternoon tea ria.

"Cieeellll! Aku butuh nasihatmuuuu!" Teriak Soma dari kejauhan begitu melihat Ciel yang mulai mirip ayahnya, Vincent, itu sedang menyeruput Assam-nya. Ciel pun tersentak dan untungnya ia tidak tersedak. Ciel menatap Soma kesal lalu menanggapi dengan kesal pula,

"Ada apa? Lebih baik kau duduk dulu, deh. Biar Sebastian saja yang menuangkan teh untuk Soma, Agni!" Titah Ciel yang melihat Agni yang ingin mengambil teko teh. Akhirnya Agni pun hanya mengantarkan kue-kue manis kesukaan majikannya itu dengan nampan.

"Masa, aku dijodohkan dengan Maylene yang sekarang sudah jadi anak Nyonya Francis Midford!" Teriak Soma histeris.

Mendengar itu, tiba-tiba saja Agni menjatuhkan nampannya.