Akhirnya, setelah menghabiskan waktu yang teramat panjang di jalan sampai bisa ngerayain ulang tahun tiga kali, dua kali naik angkutan umum yang berbeda, disambung muter-muter bareng ojek, disambung lagi dengan jalan kaki ke dalam sebuah perkampungan, MC pun tiba menuju alamat yang diberikan oleh si orang aneh yang mengiriminya foto Leminho. Untung Leminho ada manis-manisnya.

…Ga nyambung, sih~

Pesan yang didapat MC dari Leminho jejadian itu kali ini adalah: [Udah nyampe? Lihat keset di bawah pintu coba.]

MC tertegun. Di perkampungan terpencil begini masa ada rumah bergaya modern minimalis juga ada keset di dekat pintunya? Sambil bertanya dalam hati sanubarinya, MC mengangkat ujung keset dan menemukan sebuah kunci di baliknya.

[Ada kuncinya, Bang.]

[Ya udah buka aja.]

"Songong banget nih orang. Gue aja ga tahu ini rumah siapa… Main masuk-masuk aja… Nggak beretika banget…" dumel MC sambil memasukkan kunci tersebut dan memutarnya perlahan.

[Kebuka, Bang. Masuk, nih?]

[Iya. Masuk saja. Anggap saja rumah sendiri.

Jangan lupa

cuci

k ki

s bel m

t d r,

y .]

Saat MC akan menggerakkan jarinya untuk membalas pesan aneh tersebut, tiba-tiba layar smartphone-nya mendadak gelap. Padahal masih belum lowbatt. MC menepuk-nepuk punggung smartphone-nya perlahan dengan panik.

"Aduh… ini hape kok malah begini, sih? Rusakkah?" gumamnya.

Beberapa saat kemudian, muncul cahaya dari layar smartphone tersebut. setelah itu, ia menyadari bahwa dirinya telah masuk ke dalam sebuah chatroom


PEMBAWA PESAN GAIB

Sebuah parodi gaje dari Mystic Messenger

Mystic Messenger dan semua karakternya masih milik Cheritz. Humornya digoreng dua kali biar makin krispi.


Mata MC hanya bisa berkedip saat mengamati chatroom yang telah penuh dengan barisan percakapan. Ia ingin mengirimkan satu pesan untuk bertanya, namun percakapan itu seakan tiada hentinya. Kasihan MC…

[Yoosung

Huweeee UTS ancuuuur]

[707

Males belajar sih wkwk]

[Han Jumin

Kalau mau bekerja di perusahaan saya, IPK harus di atas 3,7.]

[Yoosung

Lah, saya masih masuk list, nih? Lagian itu tinggi amat, Bang… Itu IPK apa tiang listrik tinggi bener dah…]

[707

Ciaaaa habis kuliah langsung kerja~ Kayak promosi universitas aja!]

[ZEN

Itu nepotisme. Tegakkan keadilan! Hidup masyarakat!]

[Han Jumin

Kau tidak tahu bedanya nepotisme dan perekrutan?]

[707

Bukankah tiada beda, ya?]

[Han Jumin

Nepotisme adalah suatu keadaan di mana perusahaan mempekerjakan kerabat dekat yang tidak punya kemampuan dalam pekerjaannya.]

[ZEN

Tolong, saya tenggelam. Dalem benar kata-kata.]

[707

Eh, tunggu bentar.]

[Yoosung

Napa, Bang?]

[707

Kayak ada orang yang bukan kita deh di sini...]

Jantung MC seakan berhenti berdetak sekali karena terkejut. Entah mengapa.

[Yoosung

EH IYA! BUSYUBUJET! TONGKOLIN KITA, BANG!]

[ZEN

Etdah typo-nya hancur banget.]

[Han Jumin

Username MC, tunjukkan dirimu. Jangan ragu pancarkan kilaumu.

Hei, Asisten Kang. Mengapa bisa ada orang asing di chatroom ini?]

[Kang Jaehee

Orang asing tidak bisa masuk ke dalam chatroom kita kalau tidak mengunduh aplikasi privat ini. Saya rasa seseorang telah mengunduh aplikasi ini.]

[ZEN

Eh, ada Eneng. Kok tadi nggak nongol?]

[Kang Jaehee

Topik pembicaraannya biasa saja, jadi saya hanya baca-baca chat saja.]

[ZEN

Ngomong-ngomong, nama MC ada kepanjangannya? Manis Cantik?]

[Yoosung

Makan Coklat?]

[707

Master Code?]

[Han Jumin

Apa-apaan kalian?

…Bukankah artinya Mabuk Cinta?]

MC keselek. Empat emot bermunculan. Yang satu emot 'Bang kenape lu', satunya emot kacamata pecah, satunya lagi emot terkejut dan satunya lagi emot mulut nganga ditemani burung gagak.

Ia pun memberanikan diri untuk mengirimkan dua kata di chatroom tersebut.

[MC

Salah semua…]

[Yoosung

DIA BERBICARA! PUJA KERANG AJAIB!]

[ZEN

Hei, kayaknya sekarang bukan kesempatan bagus untuk menyembah Kerang Ajaib…]

[Han Jumin

Anda siapa?]

[Kang Jaehee

Dari mana Anda mengetahui tentang chatroom ini? Di mana Anda mengunduh aplikasi ini? Selain Messenger, aplikasi percakapan apa lagi yang Anda gunakan? Apa yang Anda inginkan dari sebuah aplikasi percakapan?]

[707

Kok kayak pertanyaan survei, ya…

Eh tapi, daku kayaknya nemuin sesuatu yang aneh.]

Kening MC berkerut, ikutan bingung. Bingung antara mau memikirkan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini atau ingin menjawab survei yang diberikan.

[707

Pas ngelacak alamat IP-nya, asalnya dari kos-kosannya Rika.]

[Yoosung

KOS-KOSAN RIKA?!]

LHO?!

MC menjadi semakin bingung. Jadi rumah bergaya minimalis di tengah daerah terpencil ini adalah sebuah kos-kosan? Siapa Rika?

[Han Jumin

Di mana tempat itu berada?]

[Kang Jaehee

Setahu saya, Pak, alamatnya dirahasiakan. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu.]

Kerutan di kening MC makin terpampang nyata. Lalu, mengapa Leminho jadi-jadian itu tahu mengenai tempat ini? Haruskah dia memberitahukan mereka mengenai kos-kosan ini?

[Yoosung

Hei, MC! Cepat beritahu aku! Kamu di mana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?]

[Kang Jaehee

Username MC, sebaiknya Anda segera memberitahukan kami segalanya.]

[707

KAULAH SEGALANYAAAAA~ UNTUKKUUUUUUU~]

[Yoosung

Bang, jangan nysnyi di chatroom, plis. Situasi lagu mencdkam, nih.]

[ZEN

Typo, tuh. Lagian tadi elu juga nyanyi di chatroom.]

[Han Jumin

Kalian diam dulu! Biarkan MC menjawab pertanyaan kita!]

…Susah ya kalau masuk group chat begini. Ribet, euy.

[MC

Namaku MC. Kalian siapa dan apa sebenarnya tempat ini?]

[707

Lah, malah ditanya balik. Jawab dulu, Mbak. Entar 'tak bongkar ini datanya.]

[ZEN

Elu dikit-dikit main hack data orang.]

[707

Tuntutan pekerjaan, Brader~]

[Yoosung

Kalau begitu, kita perkenalkan diri kita dulu aja, deh.]

[Han Jumin

Yang benar saja. Orang ini saja kita tidak tahu siapa…]

[ZEN

Salam sejahtera! Nama saya ZEN, umur 24 tahun. Pekerjaan saya adalah aktor musikal paling tampan sedunia. Boleh dilirik, dipegang jangan.]

MC terbatuk-batuk saat melihat pesan yang disertai dengan emot kedip-kedip tersebut. Tak lama kemudian, ia menerima sebuah foto selca. Sebentuk wajah rupawan dengan rambut panjang putih mengilap yang dikuncir kuda. Yang aneh, kedua matanya berwarna merah. Ini orang matanya kena asap dry ice di panggung terus kali, ya.

…Tapi ganteng, sih.

[Kang Jaehee

Ah, mata saya telah dicerahkan.

Eh, maaf. Saya tidak bermaksud…]

[707

Giliran daku! Panggil aja 707. Umur daku 22 tahun, hacker profesional! Semua yang ada di dalam diriku adalah rahasia kecuali yang nggak dirahasiain!

Btw, nama aslinya ZEN itu Hyun Ryu, lho.]

[ZEN

Bener-bener nih anak satu…]

[Yoosung

Hai! 'Lam kenal, ya! Saya Kim Yoosung, umur 21! Masih mahasiswa, sih… hehehe.]

Kembali MC menerima sebuah foto selca, kali ini dari Yoosung. Rambutnya yang pirang alay begitu menggugah perhatian, disisir jabrik dengan jepitan rambut di poninya.

Hm… boleh jugalah…

[ZEN

Sev, mana selca elu?]

[707

Belum buat baru, Brader.

Oh iya, Jumin itu anak holang kaya dan Jaehee asistennya dia. Jumin umurnya 27 tahun, Jaehee 26. Tua, ya?]

[Han Jumin

Saya tidak setua itu. Lagi pula, mengapa jadi kamu yang memperkenalkan saya dan asisten saya?]

[707

Biar sekalian. Oh iya, Jumin punya kucing cantik, lho.]

[Han Jumin

Jangan perkenalkan Elizabeth 3rd pada orang asing!]

[707

Namanya Elizabeth Bab III. Udah kayak makalah aja itu nama.]

[Han Jumin

Jangan perlihatkan fotonya! Namanya cukup Elizabeth 3rd saja, tidak usah pakai bab segala!]

MC terkikik geli. Orang yang kelihatannya dingin ini ternyata memiliki sisi lain yang menggemaskan.

[Kang Jaehee

Tolong jangan perlihatkan foto seperti itu lagi di dalam chatroom. Saya merinding.]

[ZEN

Sama, nih. Saya meriang, malah.]

Muncul emot monyong dari si rambut merah.

[707

Sekarang giliran dikau, deh, sebelum daku makin penasaran.]

[Kang Jaehee

Saya tidak akan segan-segan untuk menghubungi polisi jika Anda tidak bersedia bekerja sama dengan kami.]

MC menggigil ketakutan. Sudah berapa emosi berbeda yang telah ia rasakan selama ia masuk di dalam chatroom ini?

Mungkin, ini adalah saat yang tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi menurut versinya.

[MC

Gini, nih.

Jadi sebenarnya aku tuh ngelihat aplikasi ini di Toko Bermain. Aku cuma pengen ngobrol sama cowok-cowok ganteng, itu aja. Setelah nge-download ini aku di-SMS orang aneh gitu, nyuruh datang ke sini. Terus ya… Udah masuk chatroom aja.

Serius, aku nggak tahu apa-apa.]

[ZEN

Ganteng? Saya lebih dari itu. Saya tampan dan mempesona!]

[Yoosung

Oi narsisnya kumat, oi.]

[Han Jumin

Kalian ini…]

[707

Ahaha, bentar-bentar.]

[Kang Jaehee

Intinya, kami harus pastikan bahwa Anda bukan merupakan ancaman bagi kami.]

[MC

Iya, tidak apa-apa. Saya minta maaf juga…]

[ZEN

Yang sudah terjadi, terjadilah. Nggak apa-apa, kok.]

[707

Wooooohserunihseru]

[Yoosung

Spasi, Bang.]

[707

Lagitelponansambilngetikbentarwkwk

Wahserubenerannihudahketahuansiapasimcwkwk]

[Yoosung

Bagi fotonya dong]

[MC

Foto yang di mana dulu, nih?!]

[ZEN

Mungkin yang di Buku Muka, kali?

Udah, menyerah aja. Udah ketahuan sama Seven semua.]

"Mampus gue! Apakah foto-foto alay gue akan terungkap ke media massa?!" batin MC nelangsa. Ia menatap layar smartphone-nya dengan pasrah.

[707

Nihfotoorangsyantiik]

MC terkejut bukan kepalang…

…Saat menatap foto Syahroni lagi tiduran di padang bunga yang dikirimkan Seven.

[Yoosung

Ada bunga-bunga.]

[ZEN

Ini serius, Sev?]

[Han Jumin

Sungguh sebuah upaya pengrusakan alam.]

[Kang Jaehee

…Ini foto Syahroni. Kalian tertipu.]

[MC

Iya, nih. Padahal hati aku udah cenat-cenut tadi. Foto aku alay semua, soalnya.]

[ZEN

Benarkah?!

Nggak apa-apa. Yang penting kamu cantik dari hatimu.]

[Han Jumin

Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?]

[707

Kita diam saja dan menunggu Kerang Ajaib berbicara lagi…

Canda, ding.

Udah nelepon V tadi. Bentar lagi dia masuk.]

V? Siapa lagi orang ini? Tadi ada Rika, sekarang ada V…

[V

Permisi. Maaf mengganggu.]

[707

Oh, ada V! Iya masuk aja, nggak dikunci.

Yoosung, ambilin air putih!]

[Yoosung

Ini chatroom, woy! Nggak bisa ngambilin air putih!]

[V

Kalian semua apa kabar? Pastinya luar biasa…

Jadi sekarang masalahnya adalah username MC masuk ke dalam rumah kosnya Rika karena disuruh oleh seseorang setelah mengunduh aplikasi ini… Benar begitu?]

[Han Jumin

Mengapa bisa ada orang yang masuk? Apakah tidak ada penjaga?]

[V

Tidak ada penjaga, karena tempatnya di lingkungan terpencil yang tidak semua orang tahu letaknya.]

[Han Jumin

Kunci?]

[V

Yang saya tahu, kunci rumah tersebut ada di tangan Rika. Tidak ada yang tahu di mana letak persis kunci itu berada…]

MC hendak ingin mengirimkan pesan bahwa ia mendapatkan kunci tersebut dari balik keset di depan rumah, namun karena tidak ingin memberikan spoiler maka ia mengurungkan niatnya.

[Yoosung

Kalau nggak ada yang jaga dan kuncinya nggak tahu ada di mana, harusnya nggak ada orang yang bisa masuk!

Udah deh, aku aja yang ke sana! Bang Seven, minta alamatnya!]

[707

Nggak bisa. Nggak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam dan nggak ada seorang pun yang boleh tahu tentang kos-kosan itu.]

[Yoosung

Kenapa? Aku keluarganya Rika, Bang!]

[707

Termasuk keluarganya.

Kos-kosannya sendiri bukan atas nama, Rika, sih.]

[V

Rumah itu dibeli atas nama saya, namun Rika yang memegang kendali penuh atasnya. Yang saya dengar, saat ini rumah itu bahkan sudah bukan merupakan kos-kosan lagi.

Soal kunci, saya tidak tahu di mana master key rumah itu disimpannya. Ini semua dilakukannya demi menjaga keamanan dokumen-dokumen yang tersimpan di dalam rumah itu.]

Tunggu dulu. Makin lama jadi semakin aneh. Apa maksud semua ini?!

[ZEN

MC, kalau kamu bingung, jangan lupa pegangan. Nanti seiring cerita kamu bakal menangkap inti masalahnya.]

Satu pesan dari ZEN itu sedikit menguatkan hatinya. Akhirnya, ia hanya bisa menjadi silent reader untuk sementara waktu.

Selamat tinggal, mimpi mengobrol syantiik dengan cowok ganteng…

[Yoosung

Terus, gimana caranya MC bisa masuk ke dalam?! Nembus pintu?!]

[707

Kok mistis…]

Akhirnya MC pun merasakan kehendak untuk mengaku kepada keenam penghuni chatroom ini.

[MC

Aku nemu kunci di bawah keset di depan pintu…]

[707

Kok lawak…]

[V

Begitu, ya…

Kalau begitu, MC, tolong jangan beritahukan alamatnya kepada yang lain dan simpan kunci tersebut di tempat yang aman. Kalian, tolong jangan berusaha untuk mencari tahu di mana letak rumah itu berada.

Oh, kamu juga tidak boleh menyentuh apapun yang ada di dalam rumah tersebut. Di dalam telah dipasang alarm keamanan.]

[MC

Err… sofa ini juga termasuk?]

[V

Sofa?

Oh… Maksud saya, apapun yang sekiranya dapat menarik perhatian kamu seperti lemari penyimpanan.]

[MC

Lemari di dapur juga nggak boleh dipegang?]

[V

Kalau itu kayaknya boleh, sih.

Pokoknya, segala sesuatu yang ada di kamar utama kecuali tempat tidur tidak boleh dipegang.]

[ZEN

Nah, gini kan enak. Spesifik dan jelas.]

Mata MC menerawang ke seluruh penjuru ruang tamu, mencari-cari titik di mana alarm keamanan mungkin diletakkan.

[Yoosung

Kalau begitu, apa MC juga akan tinggal di sana?]

[Han Jumin

Kita belum tahu apakah dia akan bergabung dengan kita atau tidak. Kita bahkan belum begitu yakin apa dia benar-benar aman.]

[V

Percayalah padaku. Mungkin ini yang namanya takdir… MC telah dikirimkan untuk mengerjakan apa yang biasanya dikerjakan Rika…

Maaf, saya pamit dulu. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.]

V pun meninggalkan chatroom. Selain chatroom, ia juga meninggalkan tanda tanya besar dalam pikiran MC. Mengunduh aplikasi buat ngobrol sama cowok-cowok ganteng ternyata tak sesederhana yang ia bayangkan.

Menurut rangkuman percakapan yang ia ringkas setelahnya, kini ia (mau tak mau) telah bergabung dengan sebuah organisasi filantropi melalui aplikasi penuh misteri tersebut, yang diciptakan untuk kepentingan organisasi oleh seorang hacker muda berprestasi. Ia akan melanjutkan pekerjaan Rika, sang pendiri organisasi untuk mengundang tamu dalam rangka penggalangan dana bantuan kemanusiaan. Sungguh sebuah organisasi yang bertujuan baik demi menciptakan hari depan yang lebih cerah…

[MC

Eh, tunggu dulu! Saya tinggal di sini jadinya?!]

[707

Oh, iya juga, sih. Dikau datang nggak bawa baju ganti?]

MC menepuk jidatnya berkali-kali. Kini ia harus memikirkan bagaimana ia akan menjalani hari esoknya di lingkungan yang baru ini.