Haiii~

Update chapter lebih cepat, nih. Rencananya sih minggu depan buat update chapter keduanya Cancer, tepi berhubung pikiran lagi bersahabat, aku memutuskan untuk update chapter hari ini.

Dan untuk fanfic "Change" mungkin akan di update minggu depan.

Dan, langsung saja, aku mau mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada orang-orang yang memberikan review positif.

Aku akan membalas reviewnya!^^

Yuunaru Harukaze (Guest): Aaaah~ terima kasih banyak. kebetulan ya nama zodiak midorima itu "Cancer" dan ini judul fanfictionnya itu "Cancer" bahasa inggrisnya Kanker. Haha. Terima kasih atas review positifnya, nanodayo!

AoiKitahara: Weeeh~ Aku mau juga dong^^ Terima kasih sudah mereview!^^

SuhoAquatics22: Terima kasih atas koreksiannya ya. haha. maklum anak fandom baru. terima kasih reviewnya! dan, iya memang rada kurang tsundere gitu ya. tapi ini sebuah keharusan bagi Midorin untuk menghilangkan Tsundere akutnya. Haha. /plak/

Ah, sudah langsung saja ya^^


Cancer: Chapter 2

Aku berjalan menuju ruang yang dimaksud oleh Otosanku, tak lupa sambil menggenggam lucky itemku sesuai dengan yang diberitahukan oleh acara ramalan yang selalu rutin kudengar dan tidak pernah aku lewatkan, Oha Asa. Menurut Oha Asa, lucky itemku hari ini adalah jepit rambut berhiaskan hewan panda disana. Mungkin, lucky itemku hari ini sedikit merepotkan hingga aku harus izin Otosanku untuk meminta waktu keluar sebentar dan terlambat sampai kerumah sakit karena harus mencari lucky itemku itu.

Aku meletakkan lucky itemku ke dalam saku jas dokterku. Kalau tidak, bisa-bisa orang salah paham dan mengira bahwa aku membutuhkan jepit tadi untuk menjepit poniku yang hampir menutupi jarak pandangku yang tentu saja membuatku terlihat seperti anak perempuan.

Berkali-kali aku kena tegur dari Otosan dan Okasanku untuk memotong poniku.

"Itu akan mengganggu dan merusak jarang pandangmu, Shintarou! Bisa-bisa minus matamu bertambah! Kau ini seorang dokter kenapa bodoh sekali masalah itu" kata Otosanku yang sudah berapi-api jika itu mnyangkut poniku yang sudah kepanjangan.

"Benar kata Otosanmu, Shintarou. Cobalah sesekali memperbaiki penampilanmu. Poni itu tampak mengganggu sekali, menurut Okasan." Kata Okasanku lebih lembut.

Huh. Aku menyibakkan poniku kebelakang untuk memberikan pandangan yang lebih bagus. Tetapi nyatanya, hasilnya tetap saja. Poni itu kembali mengganggu pandanganku.

Heeh, sepertinya aku harus memotongnya.


Aku memasukkan telapak tanganku kedalam saku jas dokter disaat aku berjalan menuju keruanganmu sambil sesekali menaikkan kacamataku. Jujur saja, aku masih sedikit grogi karena ini baru pertama kali aku harus bekerja mengatasi pasien lain sambil merawat seorang pasien berkebutuhan khusus.

Aku mengetuk pintu ruanganmu dan langsung memutar knop pintunya.

Aku langsung memasuki ruanganmu dan tak lupa menutup pintu yang masih terbuka dibelakang punggungku.

Dan berjalan mendekati ranjangmu.

Kamu terkulai lemah, lengkungan hitam di bawah matamu itu sudah menafsirkan bahwa kamu memang memiliki masalah susah tidur, pipimu yang terlihat tirus itu, dan tak lupa bibirmu yang berwarna pucat yang sekarang hampir senada dengan warna kulitmu itu. Bibirmu yang pucat itu berusaha untuk memasangkan sebuah senyum terbaik disaat aku mendekati ranjangmu dan berdiri beberapa centi dari ranjang rumah sakitmu.

Hapus sifat Tsunderemu untuk saat ini Midorima Shintarou!

Kali ini aku menatapmu dengan penuh perhatian yang jarang sekali aku tunjukkan ke orang lain.

"Ohayou. Aku doktor Midorima Shintarou yang ditugaskan untuk merawatmu, [Your Name]. Jika ada sesuatu yang terjadi, tekan ini," kataku sambil menginstruksimu cara menggunakan alat komunikasi untuk memanggil perawat yang sedang melakukan tugas jaganya pada hari itu. Tetapi, khusus untukmu, perawat itu adalah aku. Mungkin aku akan memanggil perawat lain jika aku tidak bisa menangani masalah yang akan terjadi kepadamu.

"Arigatou, Midorima-kun." Katamu sambil menyelipkan ponimu yang panjangnya sudah melebihi dagu dan menutupi matamu perlahan lahan ke belakang telingamu.

Eh, aku bawa jepit rambutkan? Tapi, ini lucky item Oha Asa ku hari ini, nanodayo! Aku tidak akan memberikannya. Jika aku memberikannya, aku akan tertimpa sial. Tetapi disatu sisi, zodiak Cancer hari ini sedang berada di urutan kedua.

Berhentilah bersikap Tsundere bodoh! Dia itu pasien yang HARUS diberi perhatian lebih. Sebagian diriku memaki diriku sendiri agar berhenti bersikap Tsundere. Hanya untuk dirimu saja. Atau hanya untuk menjadi anak yang baik di mata Otosanku.

Setelah menimang beberapa pemikiranku, akhirnya aku mengeluarkan jepit rambut berhiaskan kepala panda, lucky item Cancer menurut Oha Asa hari ini.

Aku memberikan jepit rambut itu kepadamu dengan sedikit berat hati.

Kau yang melihatku memberikannya hanya tersenyum manis.

Lalu aku tersadar, tangan kananmu itu sudah dipasangkan infus untuk memberikan asupan sari makanan.

"Ah, gomen. Aku tidak sadar jika tanganmu sedang dipasang infus sekarang, nanodayo-" Setelah mengatakannya, aku berjalan kearahmu dan memasangkan jepit rambut ini ke poni yang sekarang meunutupi pandanganmu lagi. Rambutmu yang mimiliki helaian yang banyak dan berwarna hitam itu kelihatan rapuh saat aku memasangkan jepit rambut lucky itemku.

"Arigatou." Katamu lemah. Tak lupa senyummu yang semakin mengembang.

Aku hanya menganggukkan kepalaku.

Heeeh. Apa yang akan aku lakukan sekarang?

Masa aku diam saja?

"..Hanya saja, hilangkan sikap tsunderemu jika sudah menghadap pasien. Pasien itu membutuhkan perhatian." Kata-kata Otosanku kembali terngiang.

Aku harus memulai darimana?

Aku memutuskan berjalan mendekatimu dan mendudukkanku di kursi sebelah ranjangmu.

"Apa kamu sudah makan, nanodayo? Jika belum aku akan mengambilkanmu makan dan meminta perawat untuk menjagamu selagi aku pergi mengambil makananmu." Aku menatapnya. Tidak biasanya aku menyusahkan diriku sendiri.

"Ah, tidak usah dokter. Aku—" selagi kamu berusaha untuk melanjutkan kata-katam yang terputus itu, kamu tiba-tiba saja batuk.

Kamu menutupi mulutmu dengan kedua telapak tanganmu selagi terbatuk-batuk, setelah selesai, aku masih memperhatikanmu memandang telapak tanganmu dengan tatapan terkejut yang berusaha ditutupi dengan senyum lemah.

Kamu merogoh saku yang berada di baju pasien dan tidak menemukan apapun disana.

Sepertinya mencari tisu.

Ah, benar juga, aku membawa sapu tangan.

Dengan segera, aku merogoh saku jas ku dan mengambil sapu tangan putih disana.

"Ini, sepertinya kamu membutuhkannya." Selagi aku mendongakkan kepalaku untuk menghadapmu, aku terkejut saat melihat bibirmu yang pecah-pecah kini memperlihatkan darah yang menempel disekitar mulutmu.

"Arigatou dokter. Tetapi, aku akan—"

"Untukmu saja, nanodayo." Kataku, memotong pembicaraannya. Aku tahu itu tidak sopan. Tapi, aku merasa bahwa aku harus memberikan sapu tangan ini. tanpa ada pemikiran bahwa kamu akan menyusahkanku.

Tunggu, beberapa waktu lalu aku mengatakan bahwa kamu akan menyusahkanku. Tapi sekarang?

Ah sudahlah—

"Aku sudah makan. Terima kasih sudah menanyakannya." Katamu disela-sela kamu sedang membersihkan darah dibibirmu.

Kamu menghapus bercak darah yang mengotori bibir pucatmu itu dan tak lupa membersihkan darah yang berada ditelapak tanganmu.

"Sudah berapa lama—"

"Sudah berapa lama aku tahu aku mengidap Leukimia, dokter?" kali ini dia yang memotong pembicaraanku. Aku bergerak tak nyaman, takut jika pertanyaan ini akan menyinggung perasaannmu.

Aku hanya menaikkan posisi kacamataku yang sama sekali tidak melorot.

"Aku baru mengalami gejala awal sekitar 1 bulan yang lalu. Kemarin setelah aku dibawa oleh Okasanku ke dokter spesialis setelah aku beberapa kali mengeluh mengalami pusing berat dan mimisan terus menerus. Dan, kedua orang tuaku terkejut bukan main ketika mengetahui aku mengidap Leukima stadium awal." Kamu mulai bercerita. Suaramu yang terlalu kecil itu menyebabkanku harus berkonsentrasi keras untuk mendengarmu.

"Lalu, sekarang kemana Okasan dan Otosanmu?" aku bertanya sambil memandang wajahmu.

"Ah, mereka sibuk di Kyoto. Rumah kami sangat berjauhan, 3 bulan sekali mereka beruda berkunjung kerumahku." Jawabmu, kali ini wajahmu berubah murung.

"Maaf."

"Ah, tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak sendirian. Aku memiliki anak laki-laki berumur 5 tahun yang tampan sepertimu, dokter." Katamu berbinar-binar.

Menikah?

Tunggu, aku...

Tampan?

Heeeh.

Aku menyeringai bangga, semburat merah perlahan-lahan menghiasi pipiku.

Aku berdehem, "Ah, jadi kamu sudah memiliki seorang suami?"

Kamu menggeleng pelan, "Aku mengadopsinya. 3 tahun lalu. Dan sekarang dia masih belajar bersama teman-temannya di TKnya."

"Ah.. Maaf jika kesannya aku terlalu ikut campur dan terlalu mau tahu." Aku melemparkan senyum sungkan kearahmu. Dan kamu hanya membalasnya dengan gelengan kepalamu yang pelan itu.

"Tidak juga. Aku merasa tenang jika sedang membicarakan lelaki kebanggaanku yang satu itu." Kali ini kamu tertawa. Walaupun nyaris tidak terdengar, tetapi aura kebahagiaan itu seakan keluar dari tubuhmu.

"Dia membuatku merasa, masih ada sesuatu yang harus diperjuangkan dihidpuku yang diujung tanduk ini." kamu mulai meneteskan satu-dua air mata dari bola matamu yang berwarna hitam pekat, senada dengan rambutmu.

Aku spontan berdiri dan membungkuk menghapus air matamu yang pelan pelan berjatuhan.

Aree, jika Otosanku melihat, dia akan bersalah paham, nanodayo!

Masa bodoh. Katanya disuruh tidak bertsundere ria dan harus memberi perhatian lebih kepada pasien. Tetapi, detak jantungku ini— kenapa begini, nanodayo?!

"Jangan bersedih, jika lelaki kebanggaanmu melihatmu meneteskan air matamu, apa yang nanti akan dipikirkannya? Tentunya dia akan sedih, nanodayo." Aku membelai pipimu yang tirus dan mulus itu. Berusaha untuk menenangkanmu yang mulai terguncang.

Sepertinya, kamu jarang menunujukkan emosimu keorang lain ya?

Kamu mulai berhenti menangis dan pelan pelan mentapaku sambil mendangakkan kepalamu karena postur tubuhku yang tinggi tidak cukup menjadi pendek ketika aku menundukkan badanku untuk menghapus air matamu tadi.

"Terima kasih, dokter Midorima." Katamu tersenyum kecil.

"Bagaimana kalau kamu memanggilku, Shintarou?" aku memberikanmu senyum langka yang tidak pernah aku berikan ke siapapun.

Tak terasa, semburat merah muncul di pipiku. Begitu pula kamu.

Eh, benarkah?

Apa aku melihat semburat merah dipipimu barusan?


Beberapa detik kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu kamarmu.

"Shintarou, tangani pasien." Ah, suara Otosanku.

"Haai!" aku segera membalas panggilannya.

Aku menghadap ke arahmu lagi.

"Ah, gomen. Ada pasien yang harus aku tangani. Sesudahnya, aku akan langsung kemari, nanodayo. Jangan lupa, jika membutuhkanku—"

"Tekan saja tombol yang warnanya senada seperti suraimu. Yap." Belum sempat aku menyelesaikan, kamu sudah mengintrupsi yang membuatku tertawa kecil.

"Ya. Betul. Sebentar ya." Aku berdiri dan membalikkan badan dan berjalan kearah pintu kamarmu.

"Hai" balasmu samar-samar.


TBC

Mind to RnR?

Terima kasih sudah membaca^^